Thomas N’Kono, Legenda Afrika yang Jadi Inspirasi Gianluigi Buffon

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pada suatu hari, seorang anak berusia 12 tahun sedang menonton laga pertama Piala Dunia 1990 antara Argentina vs Kamerun. Anak itu takjub dengan performa kiper Kamerun, Thomas N’Kono yang tampil luar biasa di laga itu. Anak itu adalah Gianluigi Buffon.

“Inilah mengapa Anda menjadi pesepakbola. Bukan karena uang atau ketenaran. Karena seni dan gaya pria ini, Thomas N’Kono. Karena jiwanya,” kata Buffon seperti dikutip The Players Tribune.

N’Kono adalah alasan mengapa Buffon terlahir di dunia ini. Aksinya di laga itu membuat Buffon ingin menjadi seorang kiper. Siapakah Thomas N’Kono?

Awal Karier Thomas N’Kono

Thomas N'Kono, Legenda Afrika Inspirasi Gianluigi Buffon (@FIFAcom)
@FIFAcom

Lahir pada 20 Juli 1956 di Dizangue, Kamerun. N’Kono menjadi terkenal di klub Canon Yaounde, dimana dia memulai kariernya di sana pada musim 1974-75, sempat pindah ke klub sekota, Tonnere Yaounde, lalu kembali ke Canon Yaounde, pada 1976-1982.

“Tidak ada sepak bola untuk remaja di sana, hanya turnamen liburan. Saya akan bermain sebagai penjaga gawang atau striker dan saya akan berganti posisi,” kata N’Kono.

“Setelah menjalani satu pertandingan yang sangat bagus melawan kota lain, saudara laki-laki saya mengatakan kepada saya bahwa saya harus selalu bermain sebagai penjaga gawang,” lanjut N’Kono saat menceritakan masa mudanya.

Nama klub Canon Younde mungkin terdengar sangat asing, tapi pada saat itu bersama N’Komo, Canon Younde bukan hanya menguasai Kamerun, mereka juga menguasai Afrika.

N’Kono berhasil memenangkan 5 gelar liga dan 2 gelar Liga Champions Afrika pada 1978 dan 1980. Tapi tentu saja, tak ada yang mengenalnya mengingat dia hanya bermain di Afrika, sampai akhirnya pada Piala Dunia 1982 di Spanyol.

N’Kono yang juga menjadi kapten Kamerun hanya kebobolan satu gol dari tiga laga babak grup. Tapi sayang, Les Lions Indomptables tetap gugur karena hanya kalah jumlah gol dari Italia, yang nantinya akan menjadi juara.

Tapi, performa N’Kono itu cukup untuk menarik perhatian klub Eropa, terutama Spanyol. Setelah Piala Dunia 1982 usai, N’Kono pindah ke Espanyol, memulai petualangannya di sepak bola Eropa.

Jadi Legenda di Espanyol

Thomas N'Kono, Legenda Afrika Inspirasi Gianluigi Buffon
Imago

N’Kono langsung mencatatkan clean sheet melawan Racing Santander di debutnya dan Espanyol menang 1-0 dan langsung menjadi kiper utama.

Refleksnya yang tajam, kelincahannya yang luar biasa, serta kepribadian dan kepemimpinan yang kuat membuatnya sangat diterima oleh para fans.

Penampilannya yang paling diingat ketika Espanyol bermain melawan rival sekota Barcelona pada Desember 1983, dimana N’Kono berhasil mencatatkan clean sheet dan Espanyol menang 1-0. Lalu melawan Real Madrid pada Maret 1985 dimana Espanyol berhasil menang 2-0. Pada 1984, N’Kono berhasil membawa Kamerun juara Piala Afrika.

Tapi performa puncaknya terjadi pada tahun 1986-1988. Musim 1986-87, Espanyol berhasil finis diposisi ketiga La Liga berada di bawah dua raksasa, Real Madrid dan Barcelona.

Gawang Espanyol di bawah N’Kono juga hanya kebobolan 30 gol di musim reguler, hanya Madrid dan Barca yang memiliki jumlah gol lebih sedikit. Hasl itu membuat Periquitos lolos ke UEFA Cup.

Pada musim 1987-88, Espanyol menjalani musim yang buruk di La Liga, dimana mereka hampir terdegradasi, mereka finis di posisi ke-15 dan hanya berjarak dua poin dari zona merah. Tapi, cerita berbeda terjadi di UEFA Cup.

Thomas N'Kono, Legenda Afrika Inspirasi Gianluigi Buffon (The Times)
The Times

N’Kono dan rekan-rekannya berhasil membawa Espanyol melaju sampai babak final, pertama kalinya dalam sejarah klub, dan tim yang mereka kalahkan bukan main-main. Mereka mengalahkan duo Milan dalam perjalanan mereka menuju babak final.

N’Kono mencatatkan dua cleansheet melawan Arrigo Sacchi-nya AC Milan, menang dengan aggregat 2-0. Lalu dia mencatatkan satu cleansheet melawan Inter yang dilatih oleh Giovanni Trappatoni dengan aggegat 2-1.

Tapi sayang, Espanyol harus kalah di babak final melawan Bayer Leverkusen dengan tragis. Espanyol berhasil menang 3-0 di leg pertama, tapi justru kalah 3-0 di leg kedua dan laga dilanjutkan sampai babak adu penalti.

N’Kono berhasil menepis penalti pertama dari Ralf Falkenmayer, tapi sayang rekan-rekan timnya gagal menuntaskan tugasnya sebagai eksekutor dengan tiga penendang terakhir gagal, Espanyol kalah 3-2 di babak adu penalti.

Rentetan buruk Espanyol di La Liga justru memburuk pada musim selanjutnya, dan pada musim 1988-89, Espanyol terdegradasi, satu tahun setelah mereka bermain di final UEFA Cup.

Piala Dunia 1990 dan Akhir Karier

Thomas N'Kono, Legenda Afrika Inspirasi Gianluigi Buffon (@AllezLesLions)
@AllezLesLions

Saat orang mengira karier Thomas N’Kono sudah tamat, Piala Dunia 1990 menjadi ajang terakhir untuk membuktikan dirinya. Dan dia berhasil, bersama generasi emas Kamerun, N’Kono berhasil mengantarkan timnya mencapai babak perempat final.

Di laga pembuka, mereka mengejutkan dunia dengan mengalahkan juara bertahan, Argentina 1-0, N’Kono mencatatkan cleansheet, dan performanya di laga itu menginspirasi Gianluigi Buffon untuk menjadi kiper.

Setelah Piala Dunia, N’Kono masih bermain di Catalan dengan CE Sabadell dan CE L’Hospitalet sampai 1994 sebelum akhirnya pindah ke klub Bolivia, Club Bolivar sampai 1997 dan memenangkan dua gelar liga, dia memutuskan pensiun pada usia 41 tahun. N’Kono masih memperkuat Kamerun pada Piala Dunia 1994, namun sebagai kiper pelapis JoJo Bell.

Thomas N’Kono mencatatkan 241 laga La Liga bersama Espanyol selama 8 musim dan diklaim sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang sejarah La Liga. Dia juga mendapatkan 112 caps bersama Kamerun.

Federasi Sepak Bola Internasional Sejarah dan Statistik (IFFHS) menempatkannya di posisi kedua “African Goalkeeper of the Century” di bawah rekan senegaranya, JoJo Bell.

Paulino Alcantara, Legenda Barcelona Pendukung Fasisme

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Paulino Alcantara sosok besar di sejarah Barcelona. Tak hanya publik Catalan yang bangga dengan pemain satu ini, orang Asia, Filipina khususnya menganggap Paulino Alcantara sebagai pesepak bola terbesar sepanjang sejarah. Di balik kehebatannya sebagai seorang striker, sisi lain Paulino Alcantara sebenarnya cukup mengejutkan.

Paulino Alcantara lahir di Concepcion, sebuah kota kecil yang masuk ke dalam provinsi Iloio. Ayahnya adalah orang Spanyol yang menjadi seorang perwira militer sedangkan ibunya, orang asli Filipina. Saat itu, Filipina menjadi daerah kekuasaan Spanyol.

Paulino Alcantara, Legenda Barcelona Pendukung Fasisme

Pada 1899, ayahnya dipanggil pulang ke Spanyol. Bersama ibunya, Alcantara yang masih bayi tiba di Catalan. Di waktu yang bersamaan, Joan Gamper juga tengah mendirikan klub sepak bola bernama Futbol Club Barcelona. Takdir menyatukan keduanya beberapa tahun kemudian.

Paulino Alcantara masuk ke tim akademi Barcelona. Ia dikabarkan memulai debutnya pada 1912. Hebatnya di debut pertamanya bersama Blaugrana, Alcantara mencetak hat-trick di kemenangan 9-0 atas klub bernama Catal. Usia 15 tahun, namanya tercatat menjadi pemain muda yang mencetak gol untuk tim utama Barcelona.

Tujuh tahun setelah ia berkarier di Nou Camp, Alcantara bersama orang tuanya kembali ke Filipina. Dalam hati, Alcantara menolak untuk pulang ke kampung halaman ibunya tersebut. Di Filipina, ayah Alcantara lebih memilih anaknya itu untuk tidak berkarier di sepak bola.

Paulino Alcantara, Legenda Barcelona Pendukung Fasisme

Alcantara kemudian belajar kedokteran di Filipina. Meski begitu, ia tak bisa melepaskan sepak bola dari hidupnya. Di Filipina, Alcantara diketahui ikut mendirikan klub sepak bola bernama Filipina Bohemian Sporting Club.

Di usia 21 tahun, Alcantara diminta untuk membela timnas Filipina untuk pertandingan yang berlangsung di Tokyo. Sebelumnya, ia juga sudah tampil untuk timnas Catalan. Sayangnya penampilan Alcantara bersama timnas Filipina tak berakhir bagus.

Paulino Alcantara, Penyakit Malaria dan Ketua Partai Fasis

Di Filipina, Alcantara sempat terserang penyakit Malaria. Kondisinya membuat khawatir orang tuanya. Apalagi Alcantara memilih untuk tidak meminum obat terkecuali dirinya diizinkan untuk kembali ke Catalan, Spanyol.

Kondisi ini tentu saja membuat Barcelona semringah. Tarik menarik kepentingan pun terjadi antara pihak Blaugrana dengan orang tua Alcantara. Bagi orang tua Alcantara mereka lebih ingin anaknya menyelesaikan studi kedokterannya di Filipina.

Ujungnya, orang tua Alcantara mengalah. Anak mereka kembali ke Barcelona. Kembai ke Nou Camp, Alcantara mendapati fakta pahit bahwa klub yang ia tinggalkan itu tak mampu berbicara banyak di kompetisi Spanyol. Tak ada trofi yang diraih Barcelona sejak ditinggal Alcantara.

Paulino Alcantara, Legenda Barcelona Pendukung Fasisme

Alcantara kembali menjadi mesin gol Blaugrana. Fisiknya yang pendek dan ramping membuatnya semakin lincah saat bermain. Kedua kakinya begitu kuat dan membuat pemain bertahan lawan kesulitan untuk menghalaunya. Cerita mengenai Alcantara kebanyakan dianggap orang Catalan sebagai mitos yang banyak dibumbui framing berlebihan seperti menyebut Alcantara sebagai seorang manusia super.

Pemain yang mendapat julukan Trencaxarxes itu tercatat telah mencetak 369 gol untuk Blaugrana. FIFA pada 2007 mengakuinya sebagai pemain Asia terbesar sepanjang masa. Dibalik kehebatan dirinya di lapangan hijau, pemain yang gantung sepatu pada 31 tahun ini ternyata memiliki kedekatan dengan kekuasaan fasis.

Pada 1936 saat berkecamuk perang saudara di Spanyol, Alcantara berpihak pada kelompok fasis yang dipimpin, Francisco Franco. Usaha kelompok fasis untuk mendongkel kekuasaan awalnya gagal. Alcantara pun diasingkan ke Prancis dan Andorra.

Saat Franco berhasil menang di perang saudara, Alcantara kembali ke Barcelona bersama Jenderal Juan Yague y Blanco pada 1939. Kembali ke Barcelona, ia mengemban misi dari Franco untuk membersihkan klub dari mereka yang antifasis.

Bahkan ia sempat bekerja untuk pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Ia menjadi letnan di korps sukarelawan fasis bernama Black Arrows. Franco juga sempat mengangkat Alcantara menjadi ketua partai fasis Spanyol, FET y de las JONS.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Nolberto Solano, Legenda Newcastle United, Pujaan Maradona

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Nolberto Solano adalah perjudian besar Newcastle United. Tapi dalam sekejap ia membuktikan perjudian itu membawa berkah.

Sepanjang sejarahnya, Newcastle United hanya tiga kali turut serta di Liga Champions. Dua kali dirasakan saat ada Nolberto Solano di sana.

Ya, itulah yang dimaksud perjudian manajemen membawa berkah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh fan The Magpies melihat timnya bersaing di papan atas.

nolberto solano chroniclelive
chroniclelive.co.uk

Memang, mereka dianugerahi skuat jempolan seperti Shay Given, Craig Bellamy, hingga salah satu legenda terbesar Inggris, Alan Shearer. Namun, tetap saja, sulit menandingi kedigdayaan Manchester United dan Arsenal pada milenium baru yang silih berganti juara.

Newcastle United memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi selama tiga musim mereka jadi pengganggu setia hegemoni klub asal Manchester dan London.

Nolberto Solano, bagaimana pun, bukan siapa-siapa ketika itu. Namanya asing di telinga pecinta sepak bola Inggris.

Anggapan orang-orang tentang dirinya makin tak karuan ketika tahu ia berasal dari Peru. Ya, Peru tidak punya budaya apik di kancah sepak bola internasional.

Bahkan di tingkat regional saja mereka lebih sering jatuh bangun daripada konsisten jadi kuda hitam. Kendati begitu, sepak bola selalu punya cara untuk menemukan permata terbaiknya dari tempat tak terduga.

nolberto solano geordibootboys
geordibootboys

Sejak awal, Solano sudah menancapkan cerita bahwa dia akan jadi sosok besar. Dia tidak butuh waktu lama untuk mengasah kemampuan di negara sendiri.

Walau begitu bukan berarti dia tidak memberikan apa-apa. Sang legenda mempersembahkan tiga gelar Liga Peru secara beruntun untuk Sporting Cristal. Dan bersamanya pula klub tersebut ke final Copa Libertadores.

Lima tahun menjejakkan kaki di kompetisi profesional Peru dengan memperkuat Sporting Cristal dan Deportivo Municipal, ia merantau ke Argentina 1997.

Memang masih di kawasan Amerika Selatan. Tapi kompetisi Argentina jauh lebih mapan dibandingkan Peru. Terlebih klub yang diperkuat adalah Boca Juniors.

Masih belia, Solano belajar banyak hal di sana. Mulai dari permainan, wawasan sepak bola, serta mental. Tidak cuma itu, ia jadi satu dari sedikit orang Peru yang berkesempatan menjadi rekan setim Diego Maradona.

Tak Berpikir Main untuk Boca, Apalagi Disanjung Maradona

Boca Juniors mendapatkan Nolberto Solano secara cuma-cuma. Sang gelandang memang sudah bersiap hengkang dari Peru.

Pilihannya banyak, terutama di Amerika Selatan. Ada klub Brasil dan Argentina yang menginginkannya. Sampai akhirnya Boca yang berhasil mengamankan jasanya.

Memperkuat Boca Juniors sebuah kebanggaan besar untuk pemain mana pun di Amerika Latin. Begitu juga dengan Solano. Apalagi ia berasal dari Peru.

Kendati menjadi komoditas panas di pasar transfer Amerika Latin, pemain yang akrab disapa Nobby tak pernah berpikir Boca meminatinya.

nolberto solano diego maradona 90sFootball
@90sFootball

“Adalah memimpi bagi pemain Amerika Selatan untuk bergabung dengan salah satu klub paling terkenal di dunia. Ini seperti pemain Eropa pindah ke Real Madrid, Barcelona, atau Manchester United,” kata Solano seperti dikutip Football5star dari Planet Football.

“Menurut saya ini tidak bisa dipercaya. Saya tidak pernah berpikir mereka akan tertarik pada saya,” sambung sang legenda.

Nobby mungkin jadi pemain Peru paling beruntung sepanjang masa. Dia bukan hanya berseragam Boca Juniors, tapi juga bermain bersama talenta-talenta jempolan Argentina.

Pada 1997 silam Boca bermaterikan gabungan pemain muda dan pengalaman. Darah muda klub ibu kota diwakili oleh Juan Roman Riquelme, Martin Palermo, dan Walter Samuel. Mereka-mereka ini dipimpin langsung oleh sosok sekaliber Claudio Caniggia dan, siapa lagi kalau bukan Diego Maradona.

Nolberto Solano dan Diego Maradona berada di era berbeda. Legenda Peru belum genap 20 tahun ketika itu. Sedangkan salah satu legenda terbesar dunia sudah berumur 37 tahun.

Menang segalanya, Maradona tetap melihat talenta luar biasa yang dimiliki Nolberto Solano. Ada satu momen di mana ia memuji rekannya itu setinggi langit.

Semua orang terkejut dengan ucapan El Diego. Maklum saja,hari itu Nobby baru melakoni debut.

“Sebagai pemain muda saya akan senang bermain melawan Diego Maradona. Tapi saya tidak pernah berpikir dalam hidup saya bahwa saya bermain dengannya sebagai rekan setim. Itu pengalaman yang hebat,” ungkap legenda Peru.

“Dia sudah sudah berusia 36 tahun dan di akhir kariernya. Tapi tetap saja itu mimpi yang tak pernah saya bayangkan,” ia menambahkan.

“Setelah debut saya, dia menjalani konferensi pers dan ketika mereka bertanya tentang saya, dia memanggil saya ‘Maestrito’. Dia terkesan dengan kemampuan teknis saya sehingga dia memberi saya beberapa pernyataan yang bagus,” tegas Solano.

Dar Boca Nobby akhirnya hijrah ke Eropa. Ada Newcastle United yang rela menggelontorkan dana 4 juta euro. Pada 1999 angka tersebut cukup besar, apalagi untuk pemain yang berasal dari Peru.

Cinta Inggris, Dicintai Newcastle United

Pilihannya ke Inggris bisa dibilang mencengangkan. Pada masa itu Premier League bukan liga populer, terlebih bagi mereka yang berasal dari Amerika Latin.

Pemain asal Amerika Latin, atau penikmat bola di sana lebih mengenal LaLiga Spanyol, Serie A Italia, bahkan Liga Portugal. Ini tak lepas dari miripnya budaya di negara-negara tersebut dengan Amerika Latin.

Akan tetapi, Solano berani keluar dari zona nyaman. Pilihannya terbukti jitu. Ia langsung jadi pilar utama Newcastle United. Siapa pun pelatihnya mereka selalu memainkan Nobby.

Ya, Newcastle kerap gonta-ganti pelatih. Mulai dari Kenny Dalglish, Ruud Gullit, hingga pelatih legendaris sekaliber Sir Bobby Robson.

Pada awal kedatangannya Nobby memang gagal memberikan prestasi untuk The Magpies. Klub hanya berada di papan tengah pada musim 2000-2001. Tapi setelah itu mereka menjelma jadi tim mengerikan.

Skema 4-4-2 ala Sir Bobby Robson benar-benar pas dengan karakter Nobby. Ditempatkan di lini tengah sebelah kanan, ia kerap melakukan tusukan ke dalam kotak penalti lawan. Ketika gagal menembus lini pertahanan dia juga tidak kehabisan akal.

nolberto solano fourfourtwo
fourfourtwo

Nobby punya banyak kelebihan. Selain kecepatan, dia memiliki akurasi umpan yang akurat. Dirinya juga mampu menyelesaikan tugasnya sendiri melalui tendangan geledek.

Semusim kemudian Newcastle United langsung merangsek ke empat besar. Mereka pun berhak lolos ke Liga Champions untuk kedua kalinya sepanjang sejarah klub.

Sepanjang kariernya, Newcastle adalah klub yang paling lama dia bela. Pemain kelahiran Callao, Peru, bertahan di St James Park selama enam tahun dengan koleksi 48 gol dan 72 assist dari 315 pertandingan.

Memang, The Magpies tidak selalu di atas saat masih ada Solano. Mereka juga kerap jatuh ke papan tengah hingga terjun bebas di papan bawah. Namun, Nobby tetap setia.

Fan jadi salah satu alasan mengapa dia tidak mau ke Real Madrid saat itu. Menurutnya pendukung Newcastle United mendukungnya penuh cinta. Ia juga merasa nyaman dengan kultur fan Inggris yang selalu bersemangat dalam mendukung klub kesayangan.

“Orang-orang Inggris sangat bersemangat tentang sepak bola. Saya selalu menghormati mereka. Fan akan berteriak dan memaki jika Anda tidak melakukannya dengan baik,” kata sang legenda seperti dilansir BBC.

“Pindah ke Inggris terasa seperti berada di teater. Itu sangat bagus, begitu sempurna,” ia menegaskan. Pria yang juga mahir memainkan alat musik terompet adalah simbol kehebatan sesaat Newcastle United.

Dua kali menempati empat besar Premier League dan sekali menembus final Piala FA sudah cukup untuk membuktikan status tersebut. Bahkan pada 2012 lalu FourFourTwo melabeli pria 47 tahun sebagai legiun terbaik dalam sejarah The Magpies.

Ronny Wabia, Kenangan Manis Piala Asia 1996 dan Melegenda di Tanah Papua

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Ronny Wabia, nama itu tampaknya tak asih buat publik sepak bola Indonesia dan masyarakat Papua, khususnya. Dia seakan lahir dengan diberkati bakat hebat dengan kaki kiri yang menakutkan sebagai pesepak bola.

Nama Ronny sendiri mulai dikenal usai lulus dari PPLP Papua bersama Aples Tecuari, Chris Yarangga hingga Ritham Madubun. Bahkan, dia sukses membawa harum nama Papua di Indonesia usai membawa timnya juarai PON 1993 silam.

Bakat Ronny pun dicium oleh Persipura Jayapura setahun berselang. Dia lantas diikutsertakan dalam skuat yang berhasil promosi ke Divisi Utama saat itu. Ternyata, penampilan sosok kelahiran 23 Juni 1970 itu terus melesat. Ronny lantas menjadi tulang punggung Mutiara Hitam yang melaju hingga semifinal Liga Indonesia 1995-1996, pencapaian tertinggi bagi tim kala itu.

Sayangnya memang, di semifinal Persipura kala itu harus mengakui kemenangan PSM Makassar yang menang 4-3. Namun begitu, meski gagal mengantarkan Mutiara Hitam ke partai puncak, Ronny Wabia tetap bisa tersenyum sebab dirinya kala itu dinobatkan menjadi pemain terbaik Liga Indonesia edisi kedua.

“Waktu itu saya tak meyangka. Saya merasa banyak kekurangan, tapi semua itu anugerah dari Tuhan. Saat itu, saya ingin buktikan kepada masyarakat yang ragu,” ungkap Ronny Wabia saat diwawancarai ANTV.

Ronny Wabia, Kenangan Manis Piala Asia 1996 dan Melegenda di Tanah Papua
Papua Goal WordPress

Penampilan istimewanya itu jelas mengantarkan Ronny Wabia dipanggil ke timnas Indonesia. Dia kala itu dipanggil oleh pelatih Danurwindo ke skuat yang dipersiapkan ke Piala Asia 1996.

Ronny Wabia Bentuk Duet Maut

Tak dinyana, Ronny langsung nyetel bersama skuat Garuda kala itu. Dia bahkan berhasil membentuk duet maut bersama Widodo Cahyono Putro dalam keikutersertaan perdana Indonesia di Piala Asia.

Publik Indonesia jelas tak akan mengaitkan Piala Asia 1996 dengan aksi istimewa Widodo Cahyono Putro yang melakukan gol salto yang indah. Namun, mereka tampaknya sedikit lupa kalau ada sosok Ronny Wabia di balik itu.

Ronny Wabia, Kenangan Manis Piala Asia 1996 dan Melegenda di Tanah Papua
Tabloid BOLA

Saat gol WCP tercipta melawan Kuwait, legenda Persipura inilah yang jadi kreatornya. Dia dengan jeli melepaskan umpan silang dari sisi kiri pertahanan Kuwait setelah menggiring bola melewati beberapa pemain lawan.

Bahkan, menit ke-40 Ronny pun ikut mencatatkan skor dalam laga yang sama. Tak kalah indah, dia pun mencetak gol dengan tendangan voli first time sangat keras dari luar kotak penalti yang memanfaatkan bola muntah tepisan kiper Kuwait.

Meski cuma main imbang 2-2 melawan Kuwait, duet striker Indonesia itu mencuri perhatian. Usai laga, Widodo pun tak segan memuji tandemnya itu. “Ronny bisa menutupi kekurangan saya. Dia bisa cepat turun ke tengah,” kata Widodo dikutip dari Tabloid BOLA Edisi 664.

Sayangnya memang, duet maut itu gagal mempersembahkan kemenangan bagi Indonesia sepanjang laga. Ronny Wabia dan Widodo tetap mengisi lini depan Indonesia saat kalah 2-4 dari Korsel, dan 0-2 dari Arab Saudi. Kedua pemain itu sempat menambah pundi-pundi golnya saat takluk dari Korsel. Meski Indonesia tersingkir, nama Ronny dan Widodo tetap selalu diingat karena sejauh ini hanya mereka berdua yang mampu mencetak dua gol buat Indonesia dalam satu edisi Piala Asia.

Usai Piala Asia, Ronny pun lantas dipanggil lagi ke timnas dalam PraPiala Dunia 1998. Dia sempat mencetak dua gol lagi saat membantai Kamboja delapan gol tak berbalas.

Total, Ronny tercatat memiliki 15 caps bersama skuat Garuda. Dia pun menjadi salah satu pemain dengan sematan one man one club karena cuma membela Persipura Jayapura sepanjang karier sepak bola sejak 1995 hingga pensiun 2003.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Rigobert Song: Pemegang Banyak Rekor yang Nyawanya Diselamatkan Anjing

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Usianya baru 17 tahun. Tapi Rigobert Song sudah dibawa Kamerun ke Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Karier profesionalnya belum juga dimulai. Sebelum Piala Dunia 1994 Rigobert Song masih jadi bagian dari tim akademi Tonnerre, salah satu klub di Kamerun.

Piala Dunia 1994 berakhir, jalan Song menuju profesional baru dimulai. Ia pindah ke Prancis untuk memperkuat FC Metz. Kariernya pun terbentang panjang, baik di tingkat klub, maupun tim nasional.

Song punya karier gemilang dalam sepak bola. Ia memang termotivasi oleh sepak bola. Selain mendapatkan kesenangan dia bisa melupakan rasanya kehilangan ayah tercinta.

Rigobert Song lahir Juli 1976 di Nkenglicock, sebuat kota kecil di selatan Kamerun. Ibunya bernama Bernadette Song yang merawatnya penuh kasih sayang. Ayahnya Paul Song, sudah meninggal dunia saat Rigobert masih bayi.

rigobert song newsakmi
newsakmi

Dia tidak benar-benar mengenal sosok Paul. Tapi lewat sepak bola dia mendikasikan semua capaiannya untuk ayah tercinta.

Maka tak heran jika Song selalu termotivasi di lapangan. itu menjadi kekuatan utamanya dalam bermain.

Motivasi tinggi, ditambah dengan keberanian dan kepemimpinan di lapangan membuat Henry Michel, pelatih Kamerun 1994 silam membawanya ke Piala Dunia.

Keberadaan Rigobert Song ditambah Roger Mila di sana membuat Kamerun punya rekor tersendiri. Sampai saat ini mereka jadi tim dengan jarak umur paling jauh di Piala Dunia. Saat itu Song baru 17 tahun dan Mila sudah 42 tahun.

Berada di Grup B bersama Swedia, Brasil, dan Rusia, Kamerun mengalami banyak kesulitan. Song disimpan pada laga pembuka kala dihantam Rusia 1-6.

Pertandingan kedua, Henry Michel langsung menjadikan sang wonderkid sebagai starter. Tak ada pengalaman di ajang internasional, Song jadi bulan-bulanan. Kamerun kalah lagi 0-3.

Nahas bagi sang bek, debutnya di Piala Dunia berbuah kartu merah. Tekel kerasnya pada Bebeto membuatnya tak bisa melanjutkan laga.

Debut, usia 17 tahun, dan langsung kartu merah, Song jadi pemain termuda dalam sejarah Piala Dunia yang mendapat kartu merah.

Abadi Bersama Negara, Kerap Gagal di Klub

Nama Rigobert Song selalu abadi di timnas Kamerun. Ia mencatatkan 137 penampilan dan menjadikannya sebagai pemilik caps terbanyak sepanjang masa.

Angka ini sulit disamakan oleh generasi penerus. Apalagi di lima besar daftar caps terbanyak seperti Geremi Njitap, Samuel Eto’o, Roger Mila, dan Francois Omam-Biyik telah pensiun.

Nicolas N’Koulou yang masih bermain baru mengoleksi 72 laga. Usianya kini telah 31 tahun, hampir mustahil bisa mengejar rekor sang legenda.

rigobert song metz republicain lorrain
republicain-lorrain.fr

Sayang, kehebatan Song tidak berlaku di tingkat klub. Ia kerap menemui kegagalan. Padahal ayah empat anak ini mampu mengawali debut profesional yang mengesankan bersama Metz.

Empat musim di sana Song selalu jadi pilihan utama. Pengabdiannya di Metz juga membuahkan satu trofi Piala Prancis musim 1995-1996.

Bersinar di Prancis, ia mencoba peruntungan ke Serie A. Salernitana yang baru promosi menggaetnya dengan mahar 4 juta euro. Angka yang cukup tinggi pada 1998.

Akan tetapi performanya menukik tajam. Song hanya main enam kali dan langsung dilego ke Liverpool musim berikutnya.

rigobert song mirror
mirror

Penampilannya di Liverpool tidak begitu mengecewakan. Ia mampu mengoleksi 38 penampilan di semua ajang dan memenangkan Piala UEFA. Namun, manajemen justru melegonya ke West Ham United.

Di Upton Park dia gagal lagi. Dibebani label sebagai pengganti Rio Ferdinand, Song gagal memenuhi ekspektasi sampai akhirnya dipinjamkan ke FC Koeln.

Menjalani musim kurang menyenangkan di Italia, Inggris, dan Jerman, sang bek tengah kembali ke Prancis bersama RC Lens.

Setelah bangkit lagi di Ligue 1, Song akhirnya sukses besar bersama raksasa Turki, Galatasaray. Mencatatkan 138 penampilan dengan torehan enam gol selama empat musim, dia turut memenangkan dua Liga Turki dan satu Piala Turki.

Pemegang Rekor Internasional yang Nyaris Meninggal

Rigobert Song adalah pencetak rekor, baik yang bersifat positif hingga negatif. Selain pemegang kartu merah termuda dalam sejarah Piala Dunia, dia juga jadi pemain pertama yang menerima kartu merah di dua Piala Dunia.

Pertama dia dapat pada fase grup Piala Dunia 1994 melawan Brasil. Kedua ketika kakinya menghantam pemain Cile empat tahun berselang di Prancis.

Selebihnya, rekor-rekor yang dibuat Rigobert Song mencengangkan. Dia merupakan satu dari lima pemain yang mampu tampil dalam empat edisi Piala Dunia. Yakni 1994, 1998, 2002, dan 2010.

Apa yang dibuat di Piala Afrika lebih tak masuk akal lagi. Bayangkan saja, sang legenda tampil di delapan turnamen, lima di antaranya bahkan sebagai kapten.

Walau begitu, pada fase tersebut ia pernah terguncang oleh keputusan Paul Le Guen, pelatih Kamerun 2009 silam. Ban kapten Song dicopot oleh Le Guen.

Nakhoda asal Prancis secara perlahan juga menyingkirkannya dari tim utama. Padahal selama 11 tahun beruntun Song tak pernah duduk di bangku cadangan. Namanya juga masuk dalam buku sejarah dengan memainkan 35 laga berturut-turut Piala Afrika lintas edisi.

Kisruh keputusan Paul Le Guen menjadi titik awal kehancuran Kamerun. Mereka gagal total di Piala Afrika 2010 di Angol. Serta jadi pecundang pada Piala Dunia 2010.

Piala Dunia Afrika Selatan usai, Rigobert Song pun mengakhiri karier sepak bolanya. Ia memutuskan pensiun 2010 silam.

Masa pensiun paman dari Alex Song itu tidak berjalan sesuai harapan. Enam tahun berselang dia harus berjuang dengan maut. Sang legenda menderita stroke dan koma selama beberapa hari.

rigobert song foottheball
foottheball

Tidak bangun selama berhari-hari, beberapa media mengabarkan Song telah meninggal dunia. Tapi kemudian ia akhirnya sadarkan diri dengan kondisi yang mengkhawatirkan.

Song bercerita bahwa hidupnya saat itu diselamatkan oleh anjing kesayangan. Di rumahnya di Youande, dia mendengar anjingnya yang menggonggong tiada henti.

“Saya membiarkan pintu terbuka karena saya sedang menunggu pengunjung, jika saya membiarkannya tertutup saya akan mati. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya bahkan tidak tahu bahwa saya sedang berjuang antara hidup dan mati,” katanya kepada BBC 2017 lalu.

“Saat jatuh dan tidak berdaya saya melihat anjing saya menggonggong dengan keras yang mengingatkan pemilik rumah memanggil ambulans. Entah apa jadinya saya jika anjing Itu tidak menggongong. Itulah keajaiban. Ketika bangun dari koma berat saya hanya 60 kilogram, sangat aneh untuk pria sebesar saya,” imbuhnya.

Koma jadi masa-masa paling menakutkan bagi Rigobert Song. Dia bukan hanya berjuang untuk bertahan hidup, tapi harus menolak ajakan sang ayah untuk tinggal bersama di sana.

Song akhirnya bertemu Paul, sosok ayah yang selama hidupnya hanya secuil memberikan kasih sayang. Dan sekali lagi, dia tidak bisa bersama sang ayah.

“Kegelapan dimulai dan saat koma saya melihat ayah saya yang telah meninggal. Ketika melihat saya dia berkata ‘Rigobert, apa yang kamu lakukan di sana? Datang ke sini kita bersama-sama lagi’. itu situasi yang sangat sulit,” ungkapnya lagi.

Suami Gabrielle Esther Nnomo Mballa akhirnya pulih dari sakit. Semua biaya medis sang legenda ditanggung oleh Presiden Kamerun saat itu, Paul Biya.

Dan saat ini peraih dua trofi Piala Afrika telah kembali ke sepak bola. Pria 45 tahun sejak 2018 dipercaya sebagai pelatih timnas U-23 Kamerun.

Legenda Marco Etcheverry, Setan yang Menjadi Simbol Sepak Bola Bolivia

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Bolivia, salah satu negara di kawasan Amerika Selatan terbilang sebagai negara yang tidak memiliki kekuataan di sepak bola. Timnas Bolivia acapkali jadi bulan-bulanan negara tetangga jika bermain tandang. Meski begitu, negara ini memiliki legenda yang dianggap sebagai simbol sepak bola mereka. Ia adalah Marco Etcheverry.

Pemain bernama lengkap Marco Antonio Etcheverry Vargas lahir di Santa Cruz, Bolivia pada 26 September 1970. Sejak belia, Marco Etcheverry langsung suka dengan si kulit bundar, ciri khas anak-anak di kawasan Amerika Selatan.

Legenda Marco Etcheverry, Setan yang Menjadi Simbol Sepak Bola Bolivia

Pada 1984, ia masuk ke Tahuichi Academy dan bertahan dua tahun di sana. Pemain yang memiliki julukan El Diablo atau Si Setan ini mengawali karier profesionalnya di klub Destroyers pada 1986. Posisinya ialah playmaker.

Di klub pertamanya itu, Etcheverry bermain sebanyak 81 pertandingan dan mencetak 17 gol. Kemampuannya membuat banyak klub di Bolivia tertarik untuk meminangnya. Nama Etcheverry mulai menyita perhatian publik Bolivia di era 80-an.

Ia menjadi aktor utama saat mengalahkan Brasil di La Paz pada babak kualifikasi Piala Dunia 1994. Saat itu Bolivia menang 2-0 atas Brasil dan Etcheverry mencetak satu gol. Kekalahan itu menjadi yang pertama bagi Brasil di babak kualifikasi Piala Dunia.

Kemenangan ini juga yang membuat Bolivia untuk kali ketiga bermain di Piala Dunia. La Verde julukan timnas Bolivia pernah bermain di Piala Dunia 1930 dan 1950 di Brasil.

Sayangnya penampilan Etcheverry dkk di Amerika 1994 berantakan. Mereka hanya jadi penghuni dasar klasemen grup C dengan menelan dua kekalahan dari Jerman dan Spanyol serta hanya bermain imbang tanpa gol dengan Korea Selatan.

Kegagalan di Piala Dunia 1994 dibayar oleh Marco Etcheverry di Copa America 1997. Menjadi tuan rumah, Bolivia mampu melenggang sampai babak final sebelum dikalahkan oleh Brasil. Ini menjadi prestasi terbaik Bolivia di Copa America setelah menjadi juara pada 1963.

Didekati pemimpin Sosialis

Setelah pensiun dari sepak bola, Marco Etcheverry sempat melatih di klub Ekuador, Aucas pada 2009. Aucas menjadi satu-satunya klub yang pernah dilatih oleh Etcheverry.

Pada 2019 lalu, namanya sempat menjadi kandidat yang diusulkan oleh pemimpin Sosialis Bolivia, Evo Morales untuk masuk ke dalam parlemen. Dikutip Football5star.com dari bbc, Selasa (20/7/2021), Etcheverry bersama 10 mantan pemain Bolivia diusulkan Gerakan untuk Sosialisme Bolivia untuk menjadi wakil Santa Cruz di parlemen.

Legenda Marco Etcheverry, Setan yang Menjadi Simbol Sepak Bola Bolivia

“Sepuluh pemain Bolivia yang bermain di Piala Dunia 1994 akan menjadi kandidat sebagai anggota parlemen untuk distrik pusat ibukota Santa Cruz,” kata Adolfo Leon, pemimpin gerakan untuk Sosialsime Bolivia.

Pernyataan dari Adolfo Leon ini kemudian diperkuat oleh Menteri Pemerintahan Bolivia, Carlos Romero. Menurut Romero, Etcheverry ialah sosok yang layak untuk bisa masuk ke dalam parlemen Bolivia.

“Kami mengundangnya untuk menjadi calon deputi uninominal di Santa Cruz dan dia telah menerimanya. Saat ini tinggal menunggu berkas untuk pendaftarannya,” kata Romero.

Di sejumlah kesempatan, Etcheverry juga beberapa kali bermain sepak bola bersama presiden Bolivia, Evo Morales. Menurut Evo, Etcheverry ialah simbol sepak bola negaranya bersama dengan pemain lain seperti Erwin Sanchez, Milton Melgar dan Julio Baldivieso.

Meski sudah tak lagi bergelut di dunia sepak bola, Etcheverry acapkali menyampaikan kritik tajam terkait perkembangan timnas Bolivia. Etcheverry beberapa waktu lalu sempat mengatakan bahwa timnas Bolivia sangat memalukan.

“Sepak bola Bolivia benar-benar memalukan. Malu berbicara tentang sepak bola Bolivia dan itu bukan kesalahan para pemain. Para pejabat di federasi telah menghancurkan sepak bola Bolivia,” kata Etcheverry.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Emilio Butragueno, Si Burung Bangkai Penguasa La Liga

gamespool
Emilio Butragueno, Si Burung Bangkai Penguasa La Liga 37

Football5Star.com, Indonesia – Jauh sebelum Los Galacticos tepatnya di era 1980-an, Real Madrid memiliki sekelompok pemain yang juga mendapatkan sebuah julukan karena permainannya yang luar biasa. La Quinta del Buitre atau Lima Burung Bangkai yang merujuk pada lima pemain Real Madrid saat itu, dan yang paling menonjol adalah Emilio Butragueno.

Berbeda dengan Los Galacticos yang diisi oleh pemain-pemain yang direkrut dengan harga mahal, La Quinta del Buitre berisi 5 pemain yang merupakan produk asli akademi Real Madrid.

Kelima pemain itu adalah Manuel Sanchis (sweeper), Rafael Martin Vazquez (gelandang), Michel (gelandang), Miguel Pardeza (penyerang), dan pemain utamanya, Emilio Butragueno (penyerang).

Emilio Butragueno, Si Burung Bangkai Penguasa La Liga
Marca

Julukan itu berasal dari seorang jurnalis El Pais, Julio Cesar Iglesias. Sejatinya julukan itu merupakan judul artikel yang ingin dibuatnya, menyambut Real Madrid Castilla yang berkompetisi di Segunda Division pada musim 1983-84.

Butragueno jadi yang paling menonjol dan punya julukan El Buitre (Burung Bangkai). Jadilah, dengan saran editornya untuk meyertakan nama Amancio, pelatih Madrid Castilla saat itu, Iglesias kemudian menerbitkan artikel dengan judul “Amancio y La Quinta del Buitre” (Amancio dan Lima Burung Bangkai). Dan musim itu, Castilla berhasil menjadi juara dengan Butragueno berhasil menjadi top skorer.

“Gol beruntun Butragueno adalah demonstrasi kualitas individu yang dia miliki, tetapi juga kombinasi upaya,” tulis artikel itu.

Kuasai Spanyol

Musim 1984-85 merupakan musim pertama Butragueno menjadi pemain reguler. Tapi musim itu cukup mengecewakan di La Liga. Los Blancos hanya bisa finis di posisi kelima, 17 poin di bawah Barcelona. Tapi, Madrid berhasil memenangkan UEFA Cup dimana Butragueno berhasil mencetak 4 gol, dan Copa del Rey.

Titik balik musim Madrid ada di musim panas tahun 1985, ketika mereka merekrut Hugo Sanchez dari Atletico Madrid. Bersama penyerang Argentina, Jorge Valdano, trio penyerang Butragueno-Sanchez-Valdano menjadi trio paling menakutkan di Spanyol.

Emilio Butragueno, Si Burung Bangkai Penguasa La Liga
Pinterest

Musim 1985-86 bersama pelatih Luis Molowny, Madrid berhasil kembali mempertahankan gelar UEFA Cup dan kini berhasil meraih gelar La Liga untuk pertama kalinya dalam 6 tahun. Trio penyerang itu mencetak masing-masing dua digit angka gol.

Butragueno memperkenalkan dirinya pada dunia di Piala Dunia 1986 bersama Spanyol dimana dia mencetak 5 gol, torehan gol yang sama dengan Diego Maradona, dan 4 gol dia cetak melawan Denmark di babak 16 besar.

Musim 1986-87, Madrid kembali menjadi juara La Liga. Torehan gol Butragueno sendiri sebenarnya tak begitu banyak walaupun kembali menyentuh dua digit angka karena Hugo Sanchez yang menjadi ujung tombak utama, Tapi Butragueno sendiri mengakui bahwa selain mencetak gol, dia juga senang membuat peluang dan memberi assist.

“Salah satu cara menikmati permainan adalah dengan mencetak gol. Tetapi yang lain adalah dengan menghasilkan permainan yang bagus atau melalui menciptakan gol untuk rekan satu tim. Jika sebuah pertandingan selesai dan saya telah mencetak dua gol, tetapi tidak bermain dengan baik, maka saya tidak akan merasa senyaman itu,” katanya.

Butragueno bersama Sanchez akhirnya berhasil memenangkan La Liga di tiga musim selanjutnya sampai tahun 1990 sebelum akhirnya diberhentikan oleh Barcelona-nya Johan Cruyff.

Gagal di Eropa

La Quinta del Buitre memang menguasai Spanyol, tapi di Eropa mereka gagal total. Ya, Butragueno memang bisa membawa Madrid juara UEFA Cup dua kali, tapi dia selalu gagal di European Cup dan Madrid sering kandas di semifinal.

Pada musim 1986-87, mereka harus dibantai Bayern Munich 4-1 di leg pertama semifinal walaupun Butragueno mencetak satu-satunya gol Madrid dan hanya bisa membalas 1-0 di leg kedua.

Musim 1987-88 yang bisa dibilang paling menyakitkan. Butragueno bersama rekan timnya sudah mengalahkan Napoli-nya Maradona, juara bertahan Porto, dan tim yang mengalahkan mereka musim lalu, Bayern Munich. Di semifinal, mereka bertemu PSV Eindhoven yang hanya lolos karena hanya menang gol tandang melawan Bordeaux.

Emilio Butragueno, Si Burung Bangkai Penguasa La Liga
Squawka

Pada leg pertama, Madrid hanya bisa imbang 1-1 di Santiago Bernabeu. Walaupun begitu, mereka datang ke Belanda dengan penuh kepercayaan diri di leg kedua. Tapi yang terjadi, kiper PSV, Hans van Breukelen, melakukan penampilan luar biasa dan skor berakhir imbang 0-0. PSV lolos ke final dan akhirnya menjadi juara. Butragueno mengakui itu adalah malam terburuk dalam kariernya.

Pada musim 1988-89, mereka berhasil membalas dendam dengan mengalahkan PSV di perempat final dan Los Blancos kembali lolos ke semifinal. Tapi di semifinal, mereka akan melawan AC Milan-nya Arrigo Sacchi. Dan Butragueno cs kalah, telak, 6-1!

Musim 1989-90 merupakan musim terakhir Butragueno bermain di European Cup karena rentetan juara La Liga Madrid diberhentikan oleh Barcelona. Dan kini mereka kalah di perdelapan final, dengan lawan yang sama, AC Milan.

Emilio Butragueno akhirnya mulai tersingkirkan dari starting XI pada musim 1994-95. Dia hanya bermain 8 kali, tapi timnya berhasil meraih gelar La Liga dengan Ivan Zamorano sebagai ujung tombak. Butragueno akhirnya dijual ke klub Meksiko, Calaya pada musim depannya dan pensiun pada 1998.

Total Butragueno bermain 460 kali untuk Madrid dan mencetak 171 gol. Dia berhasil meraih 6 gelar La Liga, 2 Copa del Rey, 4 Piala Super Spanyol, dan 2 UEFA Cup. Butragueno juga berhasil menduduki peringkat ketiga di Ballon d’Or dua kali pada 1986, dan 1987.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Mokhtar Dahari, Legenda Malaysia yang Bikin Real Madrid Gigit Jari

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Mokhtar Dahari, namanya jelas masih tersimpan indah dalam benak para pencinta Timnas Malaysia dan tak akan lekang oleh waktu. Tintas emas yang diukirnya saat masih bermain sangat membekas buat sepak bola Negeri Jiran.

Mohd Mokhtar bin Dahari, lahir 13 November 1953 di Setapak, Selangor. Dia mengawali karier sepak blanya dengan mewakili tim muda Selangor dalam sebuah turnamen Piala Burnley di Sarawak. Kehebatannya bersama tim muda Selangor membuat Mokhtar dipanggil bermain untuk tim utama tim merah kuning itu.

Semenjak saat itu, Mokhtar kian membuat namanya harum di sepak bola Malaysia. Membela Selangor dari 1972 hingga 1987, Mokhtar Dahari sukses meraih Piala Malaysia sebanyak 10 kali, terbanyak yang pernah dimenangi oleh seorang pemain dalam turnamen itu. Tak cuma itu, Mokhtar jua sukses membawa Selangor juara Liga 1984.

Mokhtar Dahari, Legenda Malaysia yang Bikin Real Madrid Gigit Jari
Dok. Utusan

Apik bersama Selangor, Mokhtar Dahari lantas dipanggil memperkuat Timnas Malaysia. Dia melakoni debut untuk Malaysia saat menghadapi Sri Lanka pada 1972. Dalam debutnya, Mokhtar langsung mencetak satu gol dalam kemenangan 3-0 Malaysia atas Sri Lanka.

Golnya itu bak sebuah keran pembuka bagi sosok yang karib disapa SuperMokh itu. Setelah itu, dia lantas membantu Malaysia meraih perunggu Asian Games 1974, dan dua medali emas SEA Games 1977 serta 1979.

Selama masa baktinya untuk Harimau Malaya, SuperMokh sukses mencatatkan 89 gol. Dia kini berada di tempat ketiga dalam pencetak gol terbanyak dunia untuk negaranya. Catatan itu bahkan membuatnya mengungguli Lionel Messi yang baru kemas 76 gol untuk Argentina. Dari 89 golnya itu, delapan di antaranya tercipta ke gawang Indonesia.

Mokhtar Dahari Dibidik Real Madrid

Pada 11 Mei 1979, Malaysia dikunjungi oleh raksasa Inggris, Arsenal untuk pertandingan persahabatan. Arsenal yang dilatih oleh Berti Mie datang dengan skuat terbaiknya, seperti Peter Storey, John Radford, Sammy Nelson, George Armstrong, Peter Simpson dan Geoff Barnett.

Duet Mokhtar Dahari dan Isa Bakar saat itu sukses memberi kejutan kepada Arsenal. Main di hadapan 30 ribu penonton di Stadion merdeka, SuperMokh menggila. Dia sukses encetak dua gol dalam kemenangan 2-0 Malaysia atas Arsenal.

Selain Arsenal, SuperMokh juga bikin kaget skuat timnas Inggris B yang bertandang ke Kuala Lumpur. Inggris unggul lebih dulu pada menit ke-14 pada laga yang juga digelar di Stadion Merdeka.

Pada menit ke-32, Mokhtar Dahari kembali unjuk giggi. Mokhtar memulai lari dari lini tengah, mengalahkan dua bek Inggris, David Needham kemudian Alex Kennedy sebelum tembakannya memperdaya Joe Corrigan sekaligus mengunci hasil imbang 1-1.

Mokhtar Dahari, Legenda Malaysia yang Bikin Real Madrid Gigit Jari
Semuanya Bola

Aksinya itu ternyata bikin Real Madrid kesengsem. Kabar SuperMokh dibidik Madrid lantas jadi berita utama baik di media Malaysia maupun Eropa. Sayang, dia menolak tawaran Madrid dengan alasan ingin bertahan untuk negaranya dan Selangor.

Mokhtar lantas pensiun pada Mei 1986 setelah memenangi Piala Malaysia untuk Selangor FA. Namun, dia sempat batal pensiun dan main untuk Selangor setahun kemudian sebelum benar-benar pensiun pada 1987.

Namun, pada 11 Juli 1991 publik sepak bola Malaysia mendapat kabar buruk. Sang pahlawan itu meninggal dunia di Subang Jaya Medical Center setelah bertahan tiga tahun melawan penyakit sayaf motoriknya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Jose Altafini, Titisan Valentino Mazzola dari Brasil yang Sukses di Serie A

gamespool
Jose Altafini, Titisan Valentino Mazzola dari Brasil yang Sukses di Serie A 48

Football5Star.com, Indonesia – Di sebuah klub lokal bernama XV de Novembro, di kota Piraciciba, Sao Paolo, Brasil, seorang anak berusia 16 tahun, dipanggil oleh teman-temannya dengan nama “Mazzola”. Hal itu karena cara bermainnya dan fisiknya sangat mirip dengan legenda besar, Torino, Valentino Mazzola. Anak itu bernama Jose Altafini.

Jose Altafini lahir pada tanggal 24 Juli 1938 di Piraciciba, Sao Paolo. Dia lahir dari keluarga imigran Italia dan besar di lingkungan dengan komunitas imigran Italia. Setelah bermain untuk klub lokal, XV de Novembro, pada usia 17 tahun, Altafini masuk ke akademi klub Italia-Brasil, Palmeiras.

Palmeiras dan Piala Dunia 1958

Pada usia 17 tahun, dia langsung menjadi superstar. Cara bermainnya benar-benar sangat mirip dengan Valentino Mazzola. Bakat, kreativitas, dan ketajamannya untuk mencetak gol dilengkapi dengan kecepatan dan kekuatannya. Dia pertama bermain sebagai pemain sayap dan akhirnya sebagai striker.

Karena performanya bersama Palmeiras, Altafini langsung dipanggil oleh timnas Brasil pada usia 18 tahun di tahun 1957 dan dipanggil pada Piala Dunia 1958.

Jose Altafini, Titisan Valentino Mazzola dari Sao Paolo
Getty Images

Altafini memulai kompetisi dengan kuat. Dia mencetak dua gol di laga pertama melawan Austria dan Selecao menang 3-0. Tapi, pada laga kedua melawan Inggris dia mengalami cedera. Brasil lolos ke babak perempat final setelah mengalahkan Uni Soviet 2-0 di laga terakhir.

Pada babak perempat final melawan Wales, Altafini kembali ke starting XI. Pelatih Vicente Feola juga memainkan remaja yang usianya dua tahun lebih muda dari Altafini, Pele.

Pele mencuri perhatian dengan mencetak satu-satunya gol dan membawa Brasil ke semifinal. Pada semifinal melawan Prancis, Feola menyingkirkan Altafini dan lebih memilih memainkan Vava. Keputusannya sangat jitu, Selecao menang 5-2 dengan Vava mencetak satu gol dan Pele mencetak hat-trick.

Altafini kembali dicadangkan pada babak final melawan tuan rumah Swedia. Pemain penggantinya, Vava mencetak dua gol dan Pele juga mencetak dua gol. Brasil menjadi juara Piala Dunia setelah mengalahkan Swedia 5-2, tapi Altafini hanya bermain tiga kali.

Pindah ke Eropa dan Berganti Negara

Jose Altafini, Titisan Valentino Mazzola dari Sao Paolo
Wikimedia

Sebelum Brasil bermain di Piala Dunia 1958, mereka melakukan pertandingan uji coba di Italia, melawan Inter dan Fiorentina. Altafini berhasil mencetak gol di kedua laga itu dan membuatnya dilirik oleh scout AC Milan yang melihat dua laga itu. Walaupun hanya bermain tiga kali di Piala Dunia 1958, AC Milan tetap merekrutnya dengan harga 135 juta lira. Pada usia 20 tahun, “Mazzola” pulang ke Italia.

Altafini menjelma menjadi striker yang menakutkan di Eropa. Pada musim pertamanya, 1958-59, dia mencetak 28 gol dari 32 pertandingan dan membawa Rossoneri meraih Scudetto.

Altafini terus konsisten mencetak minimal 20 gol selama tiga musim ke depan dan kembali meraih Scudetto pada 1961-62, tepat sebelum Piala Dunia 1962.

Namun satu tahun sebelum Piala Dunia 1962, Altafini membuat keputusan besar. Dia memilih untuk memperkuat Italia pada Piala Dunia 1962. Pada saat itu, Brasil hanya memanggil pemain-pemain lokal dan Altafini harus kembali ke klub Brasil jika ingin kembali bermain untuk Selecao, tapi dia menolak itu.

“Sangat sederhana, saat itu Brasil tidak pernah memanggil pemain yang berbasis di luar negeri. Saya baru berusia 23 atau 24 tahun dan saya akan hancur jika melewatkan Piala Dunia. Bukan saya yang meninggalkan Brasil. Brasil yang meninggalkan saya,” ucap Jose Altafini.

Jose Altafini, Titisan Valentino Mazzola dari Sao Paolo
Pinterest

Altafini bermain buruk di Piala Dunia 1962, Azzurri langsung tersingkir di babak grup setelah kalah melawan Jerman Barat dan tuan rumah Cile di dua laga pertama. Sedangkan Brasil, kembali menjadi juara.

Penampilan buruknya di Piala Dunia 1962 dan fakta bahwa Altafini merupakan Oriundi (pemain keturunan yang lahir di luar Italia) membuat dia tak pernah lagi dipanggil oleh timnas Italia.

Puncak Karier dan Penurunan Performa

Musim 1962-63 bisa dibilang merupakan musim terbaik Altafini dan mungkin musim terbaik terakhir baginya, Dia gagal membawa Milan mempertahankan gelar Scudetto, namun di European Cup, dia dengan luar biasa membawa Milan melaju ke final dan melawan juara bertahan Benfica.

Rossoneri berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Benfica 2-1 dan membuat mereka menjadi tim Italia pertama yang berhasil merengkuh trofi itu. Jose Altafini secara luar biasa mencetak 14 gol di European Cup hanya dalam 9 laga saja, rekor yang hanya bisa dikalahkan Cristiano Ronaldo pada musim 2013-14 dengan 17 gol.

Namun setelah ini, performa Altafini tak lagi sama. Pada dua musim terakhirnya, rival sekota Milan, Inter menguasai Italia dan Eropa. dan jumlah gol Altafini jauh menurun. Dia akhirnya dijual ke Napoli pada 1965. Total Jose Altafini mencetak 161 gol dari 246 penampilan bersama Rossoneri.

Jose Altafini, Titisan Valentino Mazzola dari Sao Paolo
Calciomercato

Bersama Napoli, Altafini masih rutin mencetak dua digit gol per musim, tapi tak pernah lebih dari 20 gol di Serie A, sesuatu yang dia sering lakukan di Milan. Dia bermain bersama Partenopei selama 7 musim dan membuat mereka menjadi tim papan atas, tapi dia sama sekali tak pernah meraih gelar juara. Walaupun begitu, Altafini tetap dicintai oleh para fans Napoli.

Pada usia 34 tahun, Juventus secara mengejutkan mau merekrutnya pada tahun 1972, tapi tentu saja Altafini tak akan menjadi starter. Namun, Altafini tetap sangat berguna menjadi super-sub dan akhirnya kembali meraih gelar Scudetto di musim pertamanya dan musim ketiganya.

Jose Altafini dilepas Juventus pada 1976, setelah ini dia masih bermain. Dia bermain di klub Kanada, Toronto Italia, lalu kembali ke Eropa untuk memperkuat klub divisi kedua Swiss, Chiasso dan Mendrisiostar. Dia akhirnya pensiun pada 1980 di usia 42 tahun.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lee Woon-jae: Raja Piala Dunia yang Temukan Jalan Menuju Islam

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Di stadion Gwangju, Korea Selatan, perempat final Piala Dunia 2002 berlangsung. Tak ada gol yang tercipta selama 120 menit pertandingan.

Laga yang mempertemukan Spanyol vs Korea Selatan harus diakhiri oleh adu penalti untuk menentukan pemenang. Juga memastikan siapa lawan Jerman di semifinal.

Spanyol yang unggul segalanya, berbekal pemain kelas dunia, gagal mencetak gol pada waktu normal. Padahal secara permainan tidak ada yang salah dari mereka.

korea theguardian
theguardian

La Furia Roja menguasai jalannya laga. Menguasai lebih dari 60 persen penguasaan bola dan mendapat beberapa peluang emas.

Akan tetapi kengototan Korea Selatan memaksa mereka melanjutkan laga hingga adu penalti. Sebagaimana hukum adu penalti, siapa pun yang bertanding, tidak ada yang diunggulkan.

Karena tak jarang mereka yang bukan unggulan kerap mengejutkan. Fakta ini pula yang dimanfaatkan Korea Selatan.

Tanpa beban Tim Taeguk melangkah ke kotak 16. Hwang Sun-hong, Park Ji-sung, Seol Ki-Hyeon, hingga Ahn Jung-hwan menjalankan tugas dengan sempurna.

Pun dengan tiga algojo Spanyol seperti Fernando Hierro, Ruben Baraja, hingga Xavi Fernandez. Hingga sampai pada eksekutor keempat yang menemui kegagalan.

Joaquin Sanchez yang kala itu berstatus wonderkid menjanjikan gagal menyelesaikan kewajiban. Tendangannya ditahan kiper tuan rumah, Lee Woon-jae.

Sekitar 43 ribu pasang mata di stadion Gwangju bersorak. Terlebih setelah Hong Myung-bo memastikan kemenangan 5-3 Tim Gingseng.

lee woon jae emirates247
emirates247.com

Hari itu para penggemar tidak hanya merayakan kemenangan atas Spanyol, raksasa Eropa yang selama ini para bintangnya sering mereka elu-elukan di layar kaca.

Para penggemar juga menyambut sejarah baru bahwa negaranya sebagai negara Asia pertama dan satu-satunya sampai sekarang yang melenggang ke semifinal Piala Dunia.

Atas kesuksesan itu, satu nama yang patut dielu-elukan adalah Lee Woon-jae. Tampil apik selama turnamen sang kiper pula yang memastikan langkah Korea Selatan ke semifinal.

Ya, sebelum menyingkirkan Spanyol, Lee Woon-jae juga bikin dua raksasa lain semisal Portugal dan italia gigit jari. Aksi memukaunya sukses menggagalkan peluang Rui Costa, Sergio Conceicao, Christian Vieri, hingga Francesco Totti.

Nama Lee mulai diperhitungkan. Dan tidak sedikit pula yang memprediksi dirinya akan diboyong Guus Hiddink, pelatih Korea Selatan kala itu, terbang ke Eropa.

Kunci Sukses Korea tapi Tak Pernah ke Eropa

Piala Dunia 2002 yang dihelat di Korea Selatan dan Jepang selesai digelar. Kedua tuan rumah sukses menyelenggarakan turnamen paling akbar sejagat.

Pun dengan pemain-pemain dari kedua negara. Banyak klub-klub Eropa yang menggaet bintang Jepang maupun Korea usai Piala Dunia 2002.

Terlebih lagi Korea Selatan. Dongeng yang mereka ciptakan berdampak positif pada banyak pemain. Ada Park Ji-sung dan Lee Young-pyo dipinang PSV Eindhoven, Cha Du-ri ya yang langsung dibawa Bayer Leverkusen, dan Kim Nam-Il di Excelsior.

Sayang, pahlawan lainnya, Lee Woon-jae tak ikut serta. Bukan berarti namanya tidak dilirik klub-klub Eropa. Memang dia yang tidak tertarik melanglang buana ke benua orang.

Dalam sebuah wawancara bersama BBC beberapa hampir sedekade lalu, Hiddink mengungkapkan bahwa beberapa klub di Belanda dan Jerman sudah menghubunginya untuk meminang Lee.

Akan tetapi Lee sendiri yang menolak pergi. Alasannya sederhana, keluarga. Dia ingin membesarkan kedua anaknya, Lee Yoon-ah dan Lee So-yoon di Korea. Apalagi dia tidak tahan harus berjauhan dengan mereka dan istri tercinta.

lee woon jae soccerphile
soccerphile

“Saya sudah berbicara padanya. Bahkan ketika saya sudah tidak lagi melatih di sana, saya bilang padanya jika di sini banyak klub yang menginginkannya,” kata Hiddink kepada BBC.

“Tapi dia tidak mau pergi. Dia pemain yang sangat mencintai keluarganya dan saya sangat menghargai itu. Maka dari itu saya sangat menyukainya,” sambung nakhoda asal Belanda.

Seluruh kariernya dihabiskan di Korea Selatan. Dia merupakan legenda Suwon Bluewings. Memperkuat klub raksasa itu pada dua periode berbeda, yakni 1996-2000 serta 2001-2011.

Kendati sempat berseragam Kyung Hee University, Sangmu FC, dan Chunnam Dragons, bersama Suwon Bluewings lah dia memanen gelar. Sembilan trofi berhasil dimenangkan.

Sebagai seorang penjaga gawang, tinggi Lee jelas tidak ideal, juga dengan tubuhnya yang sedikit tambun. Tapi dia punya kecepatan dan kestabilan. Perhitungannya juga sangat mumpuni.

Salah satu senjata andalannya adalah adu penalti. Tidak heran rasanya dia mampu menahan eksekuso Joaquin Sanchez di Piala Dunia 2002, sebab persentasi kemenangannya mencapai 91 persen. Ya, selama kariernya, Lee mencatatkan 11 kemenangan dari 12 adu penalti.

Raja Piala Dunia Korea Selatan

Pemilik caps terbanyak Taeguk masih dipegang legenda terbesarnya, Cha Bum-kun. Dia mencatatkan 136 penampilan. Sedangkan Lee Woon-jae mengemas 133 penampilan dan berada di urutan ketiga.

Akan tetapi, Lee patut berbangga dengan capaian lain yang tak bisa dikejar Cha Bum-kun. Kiper kelahiran Cheongju tampil di empat Piala Dunia berbeda.

Kesempatan pertamanya datang pada Piala Dunia 1994. Masih berusia 20 tahun dia memang bukan pilihan utama di Amerika Serikat. Namun, dia sempat dimainkan kala kiper utama, Choi In-yong mengalami cedera melawan Jerman.

Setelah itu posisi Lee tak tergantikan pada Piala Dunia 2002 dan 2006. Sementara di Afrika Selatan 2010 namanya harus puas berada di urutan kedua.

Kendati demikian tetap saja Lee Woon-jae mencatatkan sejarah. Dia jadi orang Korea Selatan pertama yang tampil di empat Piala Dunia berbeda.

lee woon jae worldcupinfo
world-cup-info.com

Sejatinya, kiper bertubuh gempal bisa saja main untuk lima Piala Dunia. Sayang, pada edisi 1998 ia tidak bisa ambil bagian.

Sejak 1995 sang kiper menderita sakit. Lee Woon-jae menderita TBC dan hepatitis akut. Kariernya benar-benar berhenti selama tiga tahun. Bahkan nyaris pensiun dini.

Berbagai cara dia lakukan untuk sembuh. Mulai dari pengobatan dan berbagai terapi. Sampai akhirnya dia dinyatakan pulih dan kembali ke sepak bola 1998 silam.

berlaga lagi usai istirahat selama tiga tahun membuat Lee kembali lebih kuat. Piala Dunia 2002 jadi bukti sahihnya.

“Piala Dunia 2002 memberi saya kesuksesan terbesar. Saya tidak akan pernah melupakan cinta dari para penggemar dan persahabatan yang kami miliki di tim selama tujuh pertandingan selama turnamen,” ungkap Lee seperti dikutip Football5star dari Reuters.

Kekuatannya membawa Korea Selatan ke babak semifinal, sebuah capaian yang tak mampu dilakukan para pendahulu sebelumnya.

Pengaruh Lee Woon-jae tak lekang oleh waktu. Piala Dunia 2010 namanya dipanggil lagi oleh pelatih Jung Sung-ryong.

Jelas usianya sudah tidak muda lagi. Sudah 37 tahun Lee memiliki tanggung jawab lebih di Afrika Selatan. Ia diminta Jung Sung-ryong untuk menempa Huh Jung-moo, sang kiper utama.

Tak jarang sang pelatih meminta Lee sendiri yang menangani Huh Jung-moo saat latihan. Kepercayaan penuh ini tak lepas dari pengalaman dan sosok sang legenda sebagai teladan yang baik.

Temukan Jalan Menuju Islam

Di luar lapangan, cerita pemilik 133 caps bersama timnas Korea Selatan selalu menarik. Dia tidak hanya pernah berjuang melawan TBC dan hepatitis selama tiga tahun.

Lebih dalam lagi, pria yang kini berusia 48 tahun pernah bergejolak dengan sesuatu yang sangat prinsipil. Bimbang akan keyakinan membuatnya berada di persimpangan jalan.

Untuk diketahui, Lee Woon-jae terlahir sebagai kristen yang taat. Tapi ternyata itu belum membuatnya berhenti mencari jati diri.

lee woon jae bigsoccer
bigsoccer

Berbagai laporan di Negeri Gingseng menyebut Lee mulai mempelajari islam 2004 silam. Semakin pesatnya perkembangan islam di sana membuat sanubari Lee terketuk.

Berselang setahun dia sah menjadi mualaf. Jalan hidup Lee Woon-jae memang minim untuk digali. Maklum saja, islam adalah agama minoritas di Korea Selatan. Selain itu sang legenda juga jarang mengumbar keislamannya.

Baginya, agama hanya antara dia dan tuhan. Dan memang, tidak ada yang berbeda dengan dirinya ketika sudah hijrah.

Peraih empat trofi K-League tetap sebagai orang yang sama. Baik di kehidupan sehari-hari maupun sebagai profesional.

“Setelah menjdi muslim saya merasa hidup saya lebih tenang dan punya tujuan yang jelas. Saya sangat beruntung berada di Korea karena toleransi di sini sangat tinggi,” katanya seperti dilansir Islamicmovement.

“Saya menjalani hidup seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dalam diri saya yang dulu dan sekarang. Semua orang tetap memperlakukan saya dengan cara yang sama, saya juga melihat mereka dengan cara yang sama,” sambungnya.

Sebagai orang yang benar-benar teguh memegang prinsip agama, Lee menjalankan semua kewajiban sebagai muslim. Baik itu salat lima waktu dan puasa saat ramadan.

Matt Le Tissier, Dewa Southampton yang Diabaikan Timnas Inggris

gamespool
Matt Le Tissier, Dewa Southampton yang Diabaikan Timnas Inggris 61

Football5star.com, Indonesia – Matt Le Tissier bisa dianggap sebagai pemain terbaik dalam sejarah Southampton. Status tersebut disandang Le Tissier berkat torehan 209 gol dari 504 penampilan di semua kompetisi.

Meski memiliki catatan gol yang luar biasa bersama Southampton, Le Tissier selalu kesulitan menembus skuat timnas Inggris. Selama 16 tahun berkarier sebagai pemain profesional. Le Tissier cuma mampu mengoleksi delapan caps.

Catatan tersebut tentu sangat disayangkan. Hingga saat ini, masih banyak pihak yang mengganggp Le Tissier sebagai salah satu pemain terhebat yang disia-siakan The Three Lions.

Matt Le Tissier - Inggris - The Sun
The Sun
AWAL KARIER MATT LE TISSIER

Le Tissier mengawali kariernya bersama Southampton. Ia sempat menimba ilmu selama satu tahun bersama akademi The Saints sebelum menandatangani kontrak profesional pada 1986.

Musim pertama Le Tissier berjalan dengan baik. Ia berhasil mencetak 10 gol dari 31 penampilannya di semua kompetisi. Momen paling membanggakan Le Tissier pada musim 1986-87 datang pada partai Liga Inggris melawan Leicester City. Dalam laga tersebut, Le Tissier berhasil mencetak hat-trick pertamanya untuk Southampton.

Sayangnya, Le Tissier gagal melanjutkan momentumnya pada musim 1987-88. Ia cuma mampu mencetak dua gol dari 22 penampilan di semua kompetisi.

Catatan buruk tersebut menjadi motivasi terbesar Le Tissier. Pasalnya, ia langsung tampil menggila dan berhasil mencetak 73 gol dari 174 penampilan dalam empat musim setelahnya.

Matt Le Tissier - Inggris - The Telegraph
The Telegraph
MEMATIKAN DI PREMIER LEAGUE

Premier League resmi didirikan pada musim panas 1992. Southampton menjadi salah satu dari 22 klub yang terpilih untuk bermain di musim pertama Premier League.

Kesempatan ini tak disia-siakan Le Tissier. Pada musim 1992-93, ia berhasil mencetak 15 gol dari 40 penampilan di Premier League. Catatan tersebut membuat Le Tissier menjadi salah satu pemain paling produktif di Inggris. Hanya ada enam pemain yang bisa melebihi torehan gol Le Tissier pada musim 1992-93.

Penampilan gemilang Le Tissier sayangnya gagal membuahkan hasil terbaik buat Southampton. Pasalnya, The Saints harus rela finis di urutan ke-18 dengan koleksi 50 poin. Hanya unggul satu angka dari Crystal Palace yang terdegradasi ke divisi dua.

Pada musim 1993-94, Le Tissier semakin menunjukkan kebolehannya menjebol gawang lawan. Ia berhasil menyumbang 25 gol dari 38 penampilan. Namun, Le Tissier gagal menyabet gelar top skorer. Gelar tersebut jatuh ke tangan Andy Cole yang mencetak 34 gol bersama Newcastle United.

Meski kembali tampil luar biasa, Le Tissier tetap tak bisa mengangkat prestasi Southampton. The Saints kembali finis di peringkat ke-18 dan cuma unggul satu angka dari Sheffield United yang mengakhiri musim di zona degradasi.

Le Tissier terus menjadi andalan Southampton hingga musim 1997-98. Total, ia berhasil mencetak 51 gol dari 132 penampilan pada periode 1994 hingga 1997. Penampilan Le Tissier mulai menurun pada musim 1998-99. Ketika itu, ia cuma mampu mencetak enam gol dari 30 penampilan.

Tiga musim terakhir Le Tissier bersama Southampton juga tidak berjalan baik. Ia hanya berhasil mencetak empat gol dari 30 penampilan. Le Tissier akhirnya memutuskan hengkang dari Southampton di akhir musim 2001-02. Ia memutuskan gantung sepatu karena mengalami cedera betis.

Matt Le Tissier - Inggris - The Malestrom
The Malestrom
DIABAIKAN TIMNAS INGGRIS

Kegemilangan Le Tissier bersama Southampton sempat mencuri perhatian timnas Inggris. Pada 1994, Le Tissier mendapat caps pertamanya untuk The Three Lions. Le Tissier dipercaya tampil sebagai starter pada partai persahabatan melawan Republik Irlandia.

Akan tetapi, penampilan pertama Le Tissier tak berjalan dengan baik. Pasalnya, laga Inggris vs Rep Irlandia tak bisa diselesaikan karena keributan suporter. Kericuhan ini terjadi tak lama setelah Rep Irlandia membuka keunggulan lewat gol David Kelly pada menit ke-22.

Sepanjang 1994, Le Tissier berhasil mengumpulkan lima caps. Selepas 1994, Le Tissier mulai kesulitan mendapat tempat di skuat timnas Inggris. Pada  periode 1995 hingga 1997, Le Tissier cuma mampu meraih tiga caps.

Nama Le Tissier sempat kembali diperbincangkan ketika ia mencetak hat-trick untuk timnas Inggris B pada laga persabahatan melawan tim cadangan Rusia. Tiga gol tersebut membuat Le Tissier digadang-gadang bakal diangkut The Three Lions ke ajang Piala Dunia 1998.

Akan tetapi, pelatih Inggris ketika itu, Glenn Hoddle, memutuskan untuk tidak menyertakan Le Tissier ke dalam skuatnya., Keputusan tersebut membuat Le Tissier sakit hati dan ia tak pernah lagi memperkuat timnas Inggris.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Legenda Taribo West, Si Nyentrik yang Jadi Pelayan Tuhan

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indoensia – Taribo West jadi salah satu sederet pesepak bola era 90-an yang dikenal memiliki gaya rambut nyentrik. Pemain kelahiran Nigeria pada 26 Maret 1974 ini mulai dikenal pencinta sepak bola saat ia bermain untuk Inter Milan.

Taribo West menjalani kariernya di klub Nigeria bernama Obanta United pada 1989. Empat tahun kemudian, skillnya menarik minat klub Prancis, Auxerre. Ia pun hijrah ke klub yang dilatih oleh Guy Roux. Di sana, West awalnya hanya jadi pemain cadangan.

Taribo West

Bergabung pada 1993, West melakoni debut di 1994 saat Auxerre bermain melawan Toulouse pada 5 Maret 1994. Setelah itu, Roux jatuh hati pada permainan West yang tangguh dalam hal bertahan dan menyerang. West pun di-plot sebagai full kiri.

Selain Taribo West, Auxerre musim 1993-94 dihuni sejumlah pemain Prancis kenamaan seperti Sabri Lamouchi, Laurent Blanc dan Lilian Laslandes. West pun turun membantu Auxerre merai gelar Coupe de France untuk pertama kali dalam sejarah klub ini.

Di Auxerre, penampilan West terus meningkat. Di level tim nasional, ia membantu Elang Afrika, Nigeria meraih medali emas pada Olimpiade 1996. Masih di musim yang sama, West juga mengantarkan Auxerre lolos hingga ke babak perempat final Liga Champions 1996-97.

Penampilan West membuat banyak klub besar Eropa tertarik kepadanya. Ada Real Madrid, Mancheter United hingga Serie A Italia, Inter Milan. West akhirnya resmi ke Inter dengan mahar sebesar 2 juta poundsterling.

Juni 1997, West resmi hijrah ke Inter dan mendapat kontrak selama empat musim. Pelatih Luigi Simoni menempatkan West sebagai full kiri dan Javier Zanetti di sebelah kanan. Meski di beberapa laga, West juga ditempatkan sebagai bek tengah berdampingan dengan Giuseppe Bergomi.

Mimpi buruk di San Siro

Setelah dua musim di Inter, West memutuskan untuk hijrah ke tim tetangga, AC Milan. West mengklaim bahwa saat itu manajemen Milan membutuhkan dirinnya karena Paolo Maldini sedang cedera. Sayangnya, sedari awal datang West merasa tak dihargai.

Januari 2000, West resmi menjadi pemain AC Milan. Rupanya penolakan terhadap West disebabkan mulut besarnya yang menganggap ia lebih baik dibanding Paolo Maldini.

Taribo West

“Pada 2000, saya bermain di Piala Afrika bersama Nigeria dan ketika saya kembali, Maldini alami cedera. Saya memainkan permainan di tempatnya tetapi saya diberitahu dengan jelas bahwa tidak ada yang bisa menggantikan sosok Maldini,”

“Saya kaget, Saat itu mereka mengatakan begitu banyak kebohongan tentang saya karena mereka ingin saya hengkang. Selama empat pertandingan yang saya mainkan, saya selalu menjadi pemain terbaik di lapangan, tapi kontrak saya tak diperpanjang,” ungkap West.

Bermain di Milan jadi mimpi buruk bagi Taribo West. Setelah empat laga yang dilakoni, manajemen Milan memutuskan untuk meminjamkan West ke Derby County. Semenjak saat itu, dirinya lekat dengan hal berbau kontroversial.

Pemalsuan umur dan jadi pelayan Tuhan

Karier West semenjak hengkang dari Milan tak pernah lagi berada di titik bagus. Pada 2012, namanya sempat jadi sorotan karena dituding melakukan pemalsuan umur kala bergabung ke klub Serbia, Partizan.

Tudingan pemalsuan umur itu diutarakan oleh petinggi klub Partizan, Zarko Zecevic. Ia menyebut West melakukan pemalsuan umur saat bergabung di 2002. Dengan demikian berarti West sudah berusia 35 tahun saat diboyong Inter di tahun 1997. Saat itu West mengaku berusia 23 tahun. Namun West mendapat pembelaan dari Luigi Simoni.

Legenda Taribo West, Si Nyentrik yang Jadi Pelayan Tuhan

“Bagaimana dia bisa menghapus empat atau lima tahun, apalagi 12? Saya hanya tidak percaya. Ia berlari, menendang dan menjatuhkan lawan seperti seorang pria berusia 20-an. Bersama Inter ia tampil 65 kali. Ia bagus dan dapat diandalkan,” ujar Simoni

Sempat bermain di klub kecil Inggris bernama Plymouth Argyle, pada 2008, West pensiun di klub Iran, Paykan FC. Pada 2014, terdengar kabar bahwa West setelah gantung sepatu memutuskan untuk jadi pelayan tuhan, pendeta.

Ia mendirikan pelayanan sendiri untuk umat Kristiani di Nigeria. Ia mendirikan Shelter in The Storm Miracle Ministries of All Nations. Menariknya, West sempat memang dianggap sebagai pemain yang religius.

Lantas apa yang membuat West menjadi seorang pendeta? Dikutip Football5star.com dari Goal, Selasa (8/6/2021), saat bermain di Serbia, ia sempat melihat kekasihnya berubah menjadi ular. Pengalaman ini yang membuat West memilih untuk jadi pelayan Tuhan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Sutan Harhara, Bek Kiri Keturunan Arab yang Bikin Bintang Ajax Mati Kutu

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pemain keturunan memang sudah lama menjadi salah satu andalan buat Timnas Indonesia, termasuk Sutan Harhara. Pada era 1970-an, publik sepak bola Indonesia memang dipenuhi sejumlah keturunan Arab Hadrami, dengan diisi nama-nama seperti Sutan, Rusdi Bahalwan, hingga Mohammad Zein Al-Haddad.

Berposisi sebagai bek kiri, Sutan mengawali karier sepak bolanya bersama Jayakara, klub internal Persija. Dia bahkan sempat berandil dalam keberhasilan Persija menjuarai Piala Soeratin 1972. Kariernya perlahan tapi pasti kian menaik tajam.

Setahun berselang, Sutan berhasil promosi ke tim senior Persija. Malahan, dia turut berhasil membawa Macan Kemayoran menjuarai Perserikatan. Dalam rentang waktu 1974 sampai 1975, beragam kesuksesan diterima oleh Sutan. Dia mampu mengantarkan tim DKI Jakarta juara PON 1974, lalu kembali juara di Perserikatan 1975.

Salah satu penampilan istimewanya di Persija tercipta saat melawan Ajax Amsterdam pada 1974. Beberapa media saat itu menyebut kalau Sutan memeragakan gaya bermain total football yang bikin bintang Ajax, Gerth van Zanten sampai mati kutu. Bahkan, Gerth disebut sampai harus pindah ke sisi kanan karena sukar melewati Sutan Harhara.

Sutan Harhara, Bek Kiri Keturunan Arab yang Bikin Bintang Ajax Mati Kutu
sepakbolajakarta.com

Hingga akhirnya, Gerth pun gagal tampil gemilang di Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Kedisiplinan Sutan pun membantu Persija menahan imbang 1-1 Ajax berkat gol Risdianto yang dibalas Johnny Rep.

Aksi gemilangnya itu membuat pelatih Timnas Indonesia kala itu, Djamiat Dhalhar memanggilnya. Sutan dipanggil dalam persiapan Timnas Indonesia menghadapi Uruguay pada sebuah partai uji coba.

Karier Timnasnya Tak Secemerlang di Persija

Partai melawan Uruguay sekaligus menjadi debut bagi Sutan Harhara di Timnas Indonesia. Dia juga tampil gemilang dalam partai itu setelah berhasil meredam sejumlah pemain bintang Uruguay, seperti Fernando Morena dan Juan Silva. Kala itu, dia membantu Indonesia menang 2-1 atas Uruguay yang notabene berperingkat empat dunia.

Sayang, meski memulainya dengan apik, Sutan gagal membawa Indonesia melahirkan sejumlah trofi internasional. Memutuskan pensiun pada 1980, Sutan gagal mempersembahkan satu gelar juara pun buat Indonesia.

Usai pensiun sebagai pemain, Sutan langsung mengembangkan dirinya untuk terjun di dunia kepelatihan. Sejumlah klub pernah dia tangani, mulai dari Persikota Tangerang, PSMS Medan, PSIS Semarang, hingga Persela Lamongan.

Sutan memang belum juara di dunia kepelatihannya. Namun, dia sukses mengorbitkan sejumlah pemain. Saat di Persikota, dia berhasil memberi panggung Nova Zarnal hingga Salim Alaydrus. Kala di PSMS nama-nama, seperti
Markus Horison, Saktiawan Sinaga, sampai Mahyadi Panggabean pun lahir lewat tangan dinginnya.

Tak cuma itu, Sutan Harhara juga sempat dipercaya menjadi Direktur Teknik PSSI pada 2010 lalu. Dia pun sempat menjadi salah satu kandidat calon pelatih Timnas U-19 Indonesia, 2016 lalu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Juan Arango: Guru Marco Reus, Legenda Luar Biasa dari Negara Biasa

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Dia lahir dan besar di Venezuela. Lalu pergi ke Meksiko untuk mengejar karier yang lebih menjanjikan. Dari sana dia berangkat ke Eropa untuk berkibar sendirian sebagai orang Venezuela.

Venezuela bukan negara sepak bola. Dan mungkin tidak ada olahraga yang benar-benar mereka kuasai.

Kita hampir tidak pernah mendengar olahragawan terkenal dari negara Amerika Latin itu. Nasib mereka hampir serupa dengan Bolivia, yang sama-sama berstatus sebagai negara terlemah di bidang sepak bola Amerika Latin.

Di balik fakta di atas, ditambah segala keterbatasan, baik itu fasilitas dan bakat alam yang dimiliki orang-orang Venezuela, terselip satu nama yang tak boleh dilupakan.

Satu nama yang membuat kita akan selalu ingat jika Venezuela pernah melahirkan legenda besar. Pemain luar biasa dari negara yang biasa-biasa saja. Dia adalah Juan Arango.

juan arango fifa
fifa.com

Juan Arango jelas bukan pemain Venezuela pertama yang berkarier di Eropa. Dia juga tidak pernah angkat trofi di benua biru. Dengan segala kehebatannya dia juga tidak mampu membawa negaranya ke Piala Dunia.

 Namun, dia telah melampaui batas orang-orang di negaranya. Seperti yang disebut di atas, dia berkibar sendirian.

Arango merupakan gelandang serba bisa. Ada kalanya dia ditempatkan di sisi kiri permainan. Tapi tak jarang namanya di percaya sebagai playmaker.

Selama bermain dia dikenal memiliki ketelitian tinggi. Akurasi tendangan yang tinggi dan presisi yang tepat dalam mengumpan maupun membobol jala lawan adalah kelebihan utamanya.

Kaki Arango juga lincah. Dia cepat dalam memindahkan bola dari kaki kanan ke kaki kiri. Melewati satu pemain hingga ke pemain lain.

Lahir dari orang tua Kolombia, Arango memulai karier sepak bola di Zulia, klub kampung halamannya di Venezuela. Setahun di sana, dia berhasil membuat klub besar negara itu, Caracas, merekrutnya.

Namanya mulai berkibar di seantero negeri. Tapi dia belum terbang juga ke Eropa. Pemain kelahiran 16 Mei butuh kompetisi yang lebih kompetitif sebelum membuktikan diri di panggung sebenarnya.

Selama empat tahun dia mengadu nasib di Liga Meksiko. Memperkuat tiga klub mapan seperti Monterrey, Pachuca, serta Puebla.

Performa si kaki kidal kian menjanjikan. Lebih dari 170 laga dia kumpulkan dalam kurun 2000 sampai 2004. Torehan 42 gol dan trofi Piala CONCACAF jadi bukti sahih bahwa Meksiko berhasil ditaklukkan.

Ketika mentalnya sudah siap, semesta pun mendukung petualangannya ke Eropa. Sebagaimana pemain Amerika Latin lainnya, Spanyol jadi persinggahan pertama sang gelandang.

Nyaris Kehilangan Nyawa Sebelum Jadi yang Terbaik

Real Mallorca yang 2004 silam jadi kuda hitam di LaLiga mendaratkan Juan Aranggo. Dia naik level, baik secara permainan maupun pemahaman soal taktik di lapangan.

Sayang, enam bulan berlalu, dia dihadapkan mimpi buruk. Arango pingsan kala menghadap Sevilla. Dia terjatuh usai berduel dengan pemain lawan hingga tak sadarkan diri selama beberapa menit.

Terlihat pula luka di tulang pipinya. Kondisinya sangat mengkhawatikan karena lidahnya tergigit selama tak sadarkan diri. Pemandangan ini memunculkan banyak prasangka. Yang paling banyak tentu saja masa depan panjang yang terancam.

juan arango prefutbol
prefutbol

Pemilik 132 caps bersama timnas pun istirahat total di sisa musim. Tapi memasuki musim berikutnya dia membuktikan kekuatannya.

Apa yang dia lakukan sukar dipercaya. Arango bermain luar biasa. Tidak terlihat jika dirinya baru pernah nyaris kehilangan nyawa dan menepi hingga enam bulan lamanya.

Terbukti pada musim kedua dia terpilih sebagai pemain terbaik Real Mallorca. Status ini didapat setelah mencetak 11 gol di LaLiga. Torehan yang impresif untuk seorang gelandang.

Kendati begitu, musim terbaiknya di Mallorca dibuat pada 2007-2008. Kala itu dia sukses memboyong 15 gol dan membawa klub kokoh di posisi ketujuh LaLiga.

Sukses di Spanyol rupanya belum membuat Juan Arango puas. Dia mengincar kesuksesan lain, dan tentu saja di kompetisi berbeda.

Juli 2009 dia memutuskan hijrah ke Bundesliga Jerman. Ada Borussia Moenchengladbach yang siap memberikan kebahagiaan.

Untuk diketahui, sepanjang kariernya, hanya Gladbach yang mengeluarkan uang untuk memboyong sang pemain. Selebihnya dia selalu pindah klub dengan status bebas transfer.

Gladbach mengeluarkan dana tak kurang dari 4 juta euro. Di Bundesliga, kaki kiri Arango yang mematikan benar-benar menemukan atmosfer yang pas.

juan arango zdge
zedge

Lima tahun Bundesliga dia menjadi salah satu pemain Amerika Latin tersukses. Kemampuan menggiring bolanya jadi salah satu yang terbaik. Akurasi tendangan jarak jauhnya juga kerap jadi pembeda.

Kehebatan top skorer sepanjang masa timnas Venezuela di Bundesliga kian menjadi-jadi saat Borussia Moenchengladbach ditukangi Lucien Favre. Karakter permainan Favre benar-benar mengakomodasi keinginan Arango yang ingin lebih bebas.

Favre memberinya kebebasan untuk berkreasi. Dia juga tidak keberatan sang gelandang bermain begitu dalam atau bahkan maju ke depan. Alhasil, 31 gol dan 57 assist dia buat dalam 175 penampilan untuk Die Fohlen.

Guru dan Idola Marco Reus

Kentalnya pengaruh Juan Arango di Gladbach juga merasuki seorang Marco Reus. Semua orang tahu kehebatan Reus saat ini. Dia kapten Borussia Dortmund dan anak kesayangan Joachim Loew di timnas Jerman.

Soal kepemimpinan, tidak ada yang meragukan Marco Reus. Dalam hal mengolah si kulit bundar apalagi. Aksi menawannya kerap menghipnotis penonton di lapangan.

Reus datang ke Borussia Park pada 2009 silam. Di usia yang baru 20 tahun dia diajarkan banyak oleh Juan Arango yang kala itu sudah menyentuh kepala tiga.

Baru ditunjuk sebagai kapten Borussia Moenchengladbach, Juan Arango jadi sosok pemimpin yang dicintai. Terutama oleh Marco Reus.

Arango lah yang mengajarkan banyak hal tentang sepak bola kepada Reus. Berkat jasanya ini penggawa timnas Jerman tidak hanya memandang seniornya itu sebagai idola. Tapi juga guru sepak bola.

juan arango invictos
invictos

“Juan Arango, bagi saya bukan hanya seorang idola, tapi juga seorang guru. Saya belajar banyak saat bermain bersamanya. Dia mengajarkan saya untuk mendendang bola dengan lebih baik lagi,” kata seperti dikutip Football5star dari La Pizarra.

Marco Reus benar-benar menaruh hormat tinggi pada pemain yang gantung sepatu 2017 lalu. Dia sempat berujar bahwa Piala Dunia tidak pernah sempurna tanpa sang guru.

“Dia selalu bermain dalam kondisi terbaik. Dan saya pikir dia harusnya bermain di Piala Dunia karena dia pantas mendapatkannya. Sangat sempurna melihat pemain seperti dia di Piala Dunia,” sambung kapten Dortmund.

Pada akhirnya, kebesaran Juan Arango tak mampu diikuti timnas Venezuela, yang memang negara biasa saja di sepak bola. Dan hanya pada era pemain kelahiran Maracay, Venezuela mampu menembus semifinal Copa America 2011 lalu, yang sampai saat ini jadi capaian terbaik mereka di ajang internasional.

Selama 20 tahun berkarier di lapangan hijau, Juan Arango memang mengumpulkan tiga gelar saja. Tapi bicara soal pemain bernama lengkap Juan Fernando Arango Saenz bukan perkara gelar.

Dia tidak melihat trofi juara sebagai segalanya. Lebih dari itu, dia mengajarkan kita bahwa dirinya sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi mungkin. Lalu menyulap khayalan menjadi kenyataan.

Godfrey Chitalu, Raja Gol dari Afrika yang Meninggal Secara Tragis

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Siapa raja gol di panggung sepak bola dunia? Pada 2012 lalu, Lionel Messi tahbisan menjadi pencetak gol terbanyak dalam satu musim melewati capaian legenda Jerman, Gerd Mueller. Namun beberapa hari kemudian, federasi sepak bola Zambia menggugat rekor tersebut.

Menurut federasi sepak bola Zambia, rekor gol Messi dalam satu tahun kalender tersebut masih kalah dibanding milik legenda mereka, Godfrey Chitalu. Menurut PSSI-nya Zambia, Chitalu memiliki catatan 107 gol pada 1972. Siapa Godfrey Chitalu?

Ia lahir di Luanshya, di Provinsi Copperbelt, Zambia. Ayahya sempat menjadi hakim di pengadilan lokal dan juga menjadi seorang penambang tembaga. Ibunya, Emeriah hanya seorang ibu rumah tangga. Zambia sendiri sejak dahulu dikenal sebagai negara di Afrika yang kaya dengan tembaga.

Legenda Godfrey Chitalu

Tinggal di wilayah tambang tembaga, Chitalu seperti anak pada seusianya menghabiskan waktu dengan bermain sepak bola tanpa alas kaki. Sejak kecil, Chitalu sudah memiliki bakat sepak bola secara alami. Buktinya di usia 10 tahun, bakatnya menarik perhatian pelatih tim lokal Fisansa Youth Club untuk bermain sebagai seorang striker.

Karier sepak bolanya berjalan seiring dengan tingkat pendidikannya. Pada 1959, ia pindah sekolah ke Kitwe, di tim sepak bola barunya itu, Chitalu pindah posisi sebagai seorang winger kiri. Singkat cerita, Chitalu memulai karier profesionalnya di tim Roan United pada 1966.

Roan United merupakan tim lokal tempat kelahirannya. Di tim ini, Chitalu mencatatkan 20 gol dari 15 pertandingan pada periode 1966 hingga 1967. Hanya semusim, ia bermain di tim lokal dan pada 1967 ditransfer ke Kitwe United.

Raja Gol yang Tak Diakui

Dalam kariernya baik di tingkat klub dan tim nasional Zambia, ia memang jadi striker sumbur. Dia mencetak satu dari dua gol Zambia pada Olimpiade Moskow 1980. Enam tahun sebelumya, Chitalu menjadi bagian penting untuk pelatih Copper Bullet saat membawa Zambia tampil di final Piala Afrika 1974.

Meski menyandang raja gol, torehan Chitalu tak pernah diakui dunia internasional. Dikutip Football5star.com dari zambianfootball, Rabu (19/5/2021), alasan rekor Chitalu tak pernah diakui disebabkan tidak ada catatan resmi yang dilakukan federasi sepak bola Zambia selama bertahun-tahun.

“Negara dengan asosiasi sepak bola yang terorganisir dengan baik akan memiliki catatan resmi siapa pemain mereka yang mencetak banyak gol. Sayangnya, tidak demikian halnya di Zambia,” kata peniliti sepak bola Zambia, Jerry Muchimba.

“Tidak ada catatan resmi dari semua pertandingan tim nasional yang pernah dipublikasikan sehingga orang hanya bisa menebak siapa pemegang rekor tersebut,” tambah Jerry.

Jerry Muchimba kemudian memaparkan soal artikel yang ia temui tertanggal 11 Desember 1972 yang mengulas kehebatan Chitalu untuk urusan mencetak gol. Di dalam artikel tersebut, Godfrey Chitalu mencetak gol dalam 17 pertandingan beruntun.

Di artikel temuan Muchimba itu juga dijelaskan bahwa Chitalu pada 1972 sudah melewati rekor 81 gol miliknya, yang dia capai pada 1968. Bagi publik Zambia, ketajaman Chitalu tak kalah hebatnya dengan Messi.

“Meskipun liga yang diikuti Chitalu mungkin tidak satu level dengan LaLiga dan juga pemain Zambia ini tidak memiliki teknologi modern untuk mempublikasikan kehebatannya,”

Meninggal secara tragis

Chitalu pensiun sebagai pemain pada 1982. Namun sepak bola tak pernah ia jauhi. Hidupnya tak pernah bisa jauh dari sepak bola. Setelah pensiun, ia menjadi pelatih di mantan timnya, Kabwe Warrios. Catatannya sebagi seorang pelatih juga cukup impresif.

Godfrey Chitalu, Raja Gol dari Afrika yang Meninggal Secara Tragis

Ia mampu membawa Kabwe menjadi juara Liga Zambia pada 1991, Piala Zambia 1984 dan sejumlah capaian lainnya. Hingga pada akhirnya pada 1993, ia ditunjuk menjadi pelatih tim nasional Zambia.

Nahas baginya. Pada 27 April 1993, saat mendampingi Zambia bertandang ke Senegal untuk pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 1994 zona Afrika, Chitalu dan seluruh pemain Zambia menjadi korban kecelakaan pesawat di Libreville, Gabon.

Tiga puluh orang di dalamnya termasuk Michael Mwape, presiden FAZ, Chitalu dan delapan belas pemain tewas dalam kecelakaan itu. Sepak bola Zambia pun berduka atas kepergian si raja gol yang tak pernah diakui kehebatannya oleh FIFA.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Iswadi Idris, Pemain Indonesia Pertama yang Mentas di Luar Negeri

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Iswadi Idris, namanya mungkin tak asing untuk pencinta sepak bola Indonesia, khususnya Jakarta. Lahir di Banda Aceh, Iswadi tumbuh besar di Cikini dan kini namanya masih dikenang sebagai salah satu legenda sepak bola tanah air.

Si Boncel, begitu sapaan karib Iswadi. Tubuhnya cuma 165 centimeter. Tapi, kelihaiannya melebihi ekspektasi. Boncel merupakan salah satu pemain yang terlibat dalam kesuksesan Indonesia pada akhir era 1960-an sampai 1970-an. Boncel mengawali karier sepak bolanya dengan bergabung dengan klub internal Persija Jakarta, Merdeka Boys Football Association (MBFA).

Berposisi sebagai gelandang, Iswadi mulai mencuri perhatian sejak masih belasan tahun. Kegemilangannya membawa dia direkrut Persija dan puncaknya pada 1966. Masih berusia 17 tahun kala itu, Iswadi Idris melakoni debut bersama Persija dengan finis di urutan keempat kompetisi perserikatan 1966.

Penampilan puncak Iswadi Idris bersama Persija ialah dengan mempersebahkan gelar juara Perserikatan pada 1973 dan 1975. Total, dalam masa baktinya bersama Persija, Iswadi menurut beberapa sumber sukses melesakkan 28 gol dalam rentang 1966 sampai 1980.

Iswadi Idris, Pemain Indonesia Pertama yang Mentas di Luar Negeri

Aksi impresifnya bersama Persija jelas membawa Boncel dipanggil ke Timnas Indonesia. Bahkan Iswadi membentuk kuartet menakutkan di timnas, bersama Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale. Kala itu, empat sekawan ini dinilai sebagai penyerang paling cepat di Asia.

Iswadi disebut sosok paling menonjol dan berkarakter. Tak heran, Boncel sempat. terpilih menjadi kapten timnas sejak awal 1970 sampai 1980. Iswadi Idris debut bersama Timnas Indonesia pada pada Piala Raja 1968 di Thailand. Dia mencetak 2 gol pada saat Indonesia menang 7-1 atas Singapura. Semenjak saat itu, namanya kian tenar.

Nostalgia Hari Ini: Iswadi Idris Cs Permalukan Malaysia di Kuala Lumpur
Harian kompas

Timnas Indonesia bahkan saat itu terkenal paling disegani di Asia. Apalagi, Indonesia sudah biasa melawan tim-tim besar, mulai dari PSV Eindhoven, Fiorentina, Uruguay, hingga Jerman. “Jepang, Korea Selatan dan tim Timur Tengah belum punya cerita. Kekuatan besar dimiliki Indonesia dan Burma,” jelas Iswadi dalam wawancara di PSSI via Kompas.

Pemain Pertama yang Direkrut Tim Luar Negeri

Berkat aksinya itu, Iswadi Idris menarik perhatian Western Suburbs Club (WSC). Klub itu berasal dari Sydney, Australia, yang berkompetisi semiprofesinal. Laporan majalah Tempo menyebut WSC tertarik memboyong Iswadi karena penampilan apiknya di Kualifikasi Piala Dunia 1974 di Australia.

Saat itu, Indonesia memang tak pernah menang dalam tiga laga. Namun, aksi Iswadi bersama tiga rekannya, Ronny Pasla, Widodo, dan Anwar Ujang mencuri perhatian. Pelatih WSC, Mike Laing, tadinya mau merekrut empat pemain itu sekaligus. Namun, karena beberapa hal akhirnya cuma Iswadi saja yang direkrut.

Iswadi Idris, Pemain Indonesia Pertama yang Mentas di Luar Negeri

“Kesukaran pertama yang akan saya hadapi di Australia nanti adalah soal pengukuran operan bola kepada kawan (jangkauan kaki pemain-pemain WSC berbeda dengan pemain Indonesia). Dengan operan yang kurang satu centimeter saja bisa merugikan suatu peluang pada tim,” kata Iswadi.

Sayang, Boncel tak bisa beradaptasi dengan baik. Dia cuma bertahan selama semusim, yakni dari 1974 sampai 1975. Namun tetap saja, nama Iswadi Idris dikenang sebagai pemain Indonesia pertama yang direkrut tim luar negeri.

Iswadi sendiri pensiun pada 1980 setelah membela PSPS Pekanbaru. Dia sempat terjun di dunia kepelatihan dengan menangani Perkesa Mataram dan Mataram Putra. Dia juga pernah melatih timnas pada PraOlimpiade 1988.

Selain pelatih, Iswadi juga sempat masuk jajaran pengurus PSSI. Dia sempat menjabat Komisi Disiplin dan Direktur Teknik. Iswadi kemudian meninggal dunia pada 2008 karena penyakit stroke.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Uwe Seeler, Penyerang Tajam yang Minim Gelar

gamespool
Uwe Seeler, Penyerang Tajam yang Minim Gelar 90

Football5Star.com, Indonesia – Jerman merupakan salah satu negara yang selalu mengorbitkan penyerang-penyerang kelas dunia. Sebut saja Gerd Mueller, Miroslav Klose, Rudi Voeller, Karl-Heinz Rummenigge dan masih banyak lagi. Semua nama itu, bukan hanya banyak memiliki prestasi individu, tapi juga prestasi tim. Tapi berbeda dengan Uwe Seeler.

Seeler lahir pada 5 November 1936 di Hamburg, Nazi Jerman. Seeler mengikuti jejak sang ayah yang juga pesepak bola dan masuk ke akademi klub kota kelahirannya, Hamburger SV, setelah perang dunia kedua.

Seeler berhasil masuk ke tim utama pada 1954 dan kemampuannya untuk mencetak gol sudah terlihat sejak awal-awal kariernya.

Uwe Seeler, Penyerang Tajam yang Minim Gelar
DFB

Bahkan di laga pertamanya, DFB-Pokal melawan Holstein Kiel, Seeler berhasil mencetak quatrick dan Hamburger menang 8-2. Usianya saat itu masih 17 tahun. Seeler menyelesaikan musim pertamanya dengan mencetak 28 gol. Catatan golnya itu membuat dia langsung dipanggil timnas Jerman.

Seeler dikenal sebagai penyerang yang powerful, enerjik, dan memiliki kemampuan leadership yang luar biasa. Dia juga dikenal memiliki kemampuan duel udara dan akrobatik sangat baik, terlepas dari tinggnya yang hanya 168 cm.

Catatan Gol yang Fantastis

Seeler berkarier tepat beberapa tahun sebelum Bundesliga didirikan pada 1963. Sebelum Bundesliga, sistem sepak bola Jerman dibagi menjadi beberapa wilayah: Oberliga Nord, Oberliga West, Oberliga Berlin, Oberliga Sudwest, dan Oberliga Sudwest.

Dari semua kompetisi itu terpilih 9 klub, satu liga wilayah mengirim 2 (juara dan runner-up) kecuali Oberliga Berlin yang hanya mengirim klub yang juara saja.

Hamburger SV merupakan penguasa Oberliga Nord. Dari 16 musim (1947-1963). Mereka menang 15 kali, hanya gagal pada musim 1953-54, musim sebelum Seeler masuk ke tim utama. Setelah itu, Seeler selalu mengantarkan timnya lolos ke putaran final dan selalu mencetak banyak gol.

Uwe Seeler, Penyerang Tajam yang Minim Gelar
Deutsches Fussballmuseum

Seeler mencetak lebih dari 250 gol di Oberliga. Namun, walaupun Seeler selalu mencetak gol dan selalu membawa Hamburger ke babak final, Die Rothosen hanya mampu juara satu kali, yakni pada musim 1959-60. Itu adalah satu-satunya gelar liga yang Seeler miliki.

Pada musim 1962-63, Seeler berhasil meraih gelar keduanya, yakin DFB-Pokal. Pada babak final melawan Borussia Dortmund, Seeler mencetak hat-trick dan membawa timnya menang 3-0. Ini juga merupakan gelar DFB-Pokal pertama untuk HSV.

Pada musim berikutnya, Persepakbolaan Jerman Barat melakukan perombakan besar-besaran. Ya, Bundesliga pertama kali didirikan pada musim 1963-64. 16 tim terpilih berdasarkan aspek kompetitif dan infrastruktur, salah satunya Hamburger SV.

Jelas ini adalah tantangan bagi Seeler, dimana dia biasanya lebih sering berhadapan melawan tim-tim regional, kali ini dia akan selalu bertemu tim-tim top dari seluruh penjuru Jerman Barat.

Dan dia membuktikan itu, Seeler berhasil menjadi top skorer pertama Bundesliga dengan torehan 30 gol, 10 gol lebih banyak dari peringkat kedua, penyerang Dortmund, Timo Konietzka. Tapi, HSV hanya mampu finis di posisi ke-7.

Cetak Banyak Gol, Minim Prestasi Tim

Tapi terlepas dari banyaknya gol yang Seeler cetak, dan prestasi individu yang dia dapatkan saat era Bundesliga, seperti satu gelar Top Skorer, dua gelar Pemain Terbaik Jerman (1964, 1970), dan masuk ke dalam skuat Tim Terbaik Bundesliga 1969-70, HSV hanya menjadi klub papan tengah. Seeler hanya bisa membawa timnya paling tinggi berada di posisi kelima (1970-71).

Seeler pensiun pada tahun 1972, dia total mencetak total 404 gol di liga (137 di Bundesliga). Itu menjadikannya pemain Jerman dengan gol terbanyak di liga, hanya kalah dari Gerd Mueller. Tapi Seeler hanya pernah juara liga satu kali.

Seeler sempat bermain kembali satu kali pada 1978 di pertandingan sponsor untuk tim Irlandia, Cork Celtic. Namun laga itu justru malah menjadi laga resmi dan Seeler mencetak 2 gol di laga itu.

Uwe Seeler, Penyerang Tajam yang Minim Gelar 2
Deutsches Fussballmuseum

Bagaimana kariernya di timnas? Uwe Seeler dipanggil timnas Jerman Barat setelah Piala Dunia 1954 dan dia memiliki karier yang sama seperti di klub. Sering mencetak gol, namun selalu gagal juara.

Seeler bermain di 4 Piala Dunia, (1958, 1962, 1966, 1970), sama seperti Pele. Namun dia selalu gagal membawa negaranya juara, walaupun Seeler menjadi pemain pertama yang mencetak minimal 2 gol di 4 Piala Dunia yang berbeda. Total Seeler mencetak 43 gol dari 72 caps (1954-1970).

Jika diperhatikan, karier Seeler mungkin sangat tidak beruntung. Ya, Seeler memulai karier di timnas setelah Jerman Barat juara Piala Dunia 1954 dan pensiun sebelum Jerman Barat juara Euro 1972 dan juara Piala Dunia 1974.

Di Hamburger SV, Uwe Seeler pensiun pada 1972. Bisa dibilang tahun selanjutnya adalah tahun dimana HSV memasuki masa keemasan. Mereka berhasil juara edisi pertama DFB-Ligapokal semusim setelah Seeler mengumumkan pensiun.

Lalu HSV menjadi juara DFB-Pokal pada musim 1975-75 dan Piala Winners musim 1976-77. Mereka juara Bundesliga untuk pertama kalinya pada musim 1978-79. Dan masuknya pelatih Ernest Happel pada 1981 membawa HSV mendominasi Bundesliga dua musim beruntun (1981-1983) dan ditutup dengan juara European Cup pada 1983.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Herry Kiswanto, Libero Satu Kartu Kuning yang Tercoreng Saat Jadi Pelatih

Herry Kiswanto, Libero Satu Kartu Kuning yang Tercoreng Saat Jadi Pelatih 96

Football5Star.com, Indonesia – Siapa yang tak tahu Herry Kiswanto? Sosok yang sangat sukses saat masih jadi pemain, bahkan disiplin meski berposisi sebagai libero. Pada masa emasnya, dia bahkan pernah menjuarai Galatama empat kali.

Herkis, sapaan karibnya, memulai karier sepak bola dengan klub Tornado dan PTPN XIII. Pria keturunan Sunda kelahiran Aceh itu awalnya berposisi sebagai gelandang. Dia lantas mencoba peruntungannya ke Bandung dengan bergabung bersama UNI Bandung saat masih berkuliah.

Ketika itu, almarhum TD Pardede melihat ada bakat terpendam dalam diri Herkis. Dia lantas memboyong Herkis ke Medan untuk bergabung bersama Pardedetex pada 1979. Bersama Pardedetex, permainan Herkis tampak kian matang. Dilatih oleh beberapa nama beken, seperti Frans van Balkom hingga Fred Khober, Herry lantas mengubah posisinya sebagai libero.

Herry Kiswanto, Libero Satu Kartu Kuning yang Tercoreng Saat Jadi Pelatih
Dok. Pribadi

Tampil istimewa dalam kurun empat tahun di Medan, Herkis hijrah ke Yanita Utama, Bogor. Nah, di sini lah pria yang kini berusia 65 tahun itu menikmati masa-masa suksesnya. Bahkan, bersama Yanita Utama, Herkis sukses menjadi juara Galatama 1983–1984 dan 1984. Semusim berselang, dia lantas hijrah ke Krama Yudha Tiga Berlian. Keistimewaannya tak pudar. Justru, bersama Krama Yudha, Herkis kembali meraih dua gelar Galatama 1985 dan 1986-1997.

Sontak, Herkis saat itu menjadi pemain yang paling banyak diburu oleh klub-klub Indonesia. Dia kemudian memutuskan bergabung ke Assyabaab Salim Grup sebelum berlabuh di Bandung Raya pada 1993. Sebenarnya 1993 sudah memasuki masa-masa pensiun buat Herkis. Namun, gairah sepak bolanya itu masih tinggi. Diasuh oleh Henk Wullems, Herkis bahkan sukses membawa Bandung Raya juara Liga Indonesia 1995-1996.

Penampilan-penampilan apiknya itu, jelas membawa Herry Kiswanto dipanggil ke Timnas Indonesia. Dia menjadi andalan Indonesia dari 1970an sampai awal 1990-an.

Herry Kiswanto, Libero Satu Kartu Kuning yang Tercoreng Saat Jadi Pelatih
Dok. Legendar10

Dalam rentang waktu tersebut, Herkis sukses menyumbang tiga gol untuk Indonesia dalam 40 caps. Tak cuma itu, pria kelahiran 25 April 1955 itu mampu mempersembahkan dua medali perunggu, satu perak, dan satu emas pada ajang SEA Games. Malahan, Herkis saat itu sempat membawa Timnas Indonesia mencapai semifinal Asian Games 1986.

Herkis pun pensiun pada usia 41 tahun. Selama karier jadi pemain, Herkis terbilang pemain yang disiplin. Meski posisinya sebagai libero atau pemain belakang, tapi nyatanya Herkis cuma mendapatkan satu kartu kuning saja dalam kariernya.

Tercoreng Sebagai Pelatih

Seperti kebanyakan pesepak bola yang memilih jadi pelatih setelah gantung sepatu, hal itu juga dilakukan oleh Herry Kiswanto. Bermodal prestasi segudangnya sebagai pemain, Herkis mencoba menerapkannya dalam dunia kepelatihan.

Beberapa klub pernah dijajalnya. Dari mulai PSBL Lampung, PSIS Semarang, PSS Sleman, Persmin Minahasa, Persiraja Banda Aceh, Persela Lamongan hingga terakhir Cilegon United. Namun, kariernya sebagai pelatih nyatanya tak secemerlang saat menjadi pemain.

Malah, karier kepelatihannya sempat tercoreng saat menakhodai PSS Sleman. Dia dituduh terlibat dalam pertandingan sepak bola gajah antara PSS vs PSIS Semarang, di Stadion Sasana Krida, Yogyakarta, 26 Oktober 2014. Kala itu, PSS sukses menang 3-2 atas PSIS yang kelima golnya tercipta via bunuh diri.

PSSI saat itu langsung menyelidiki. Sejumlah nama dianggap terlibat dalam peristiwa itu. Namun, hukuman buat Herkis sangat berat. Dia dihukum oleh Komdis PSSI larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia selama seumur hidup.

Herry Kiswanto, Libero Satu Kartu Kuning yang Tercoreng Saat Jadi Pelatih

Herkis sempat tiga tahun menjalani hukuman tersebut. Namun, pada 10 Januari 2017, PSSI membatalkan keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dengan nomor 203/DU/KD-PSSI/XI/2014. Itu berarti Herkis dibebaskan dari segala tuduhan. Dia dianggap hanya sebagai korban. Dia pun langsung mendapat pekerjaan sebagai pelatih Persela Lamongan.

Kini, Herry Kiswanto tampaknya belum mendapatkan klub anyar setelah kompetisi Indonesia berhenti. Terakhir kali, dia tercatat sebagai pelatih Cilegon United.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Salvatore Schillaci, Dongeng Piala Dunia, Menggebrak di Negeri Sakura

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Terkadang orang yang tak dianggap justru jadi pembeda di lapangan. Salvatore Schillaci pernah mengalaminya saat bersama Italia di Piala Dunia 1990.

Sampai sekarang pun Salvatore Schillaci tak benar-benar dianggap sebagai legenda Italia. Maklum saja, kontribusinya tidak besar. Mungkin bisa dibilang sangat minim untuk pemain berlabel legenda.

Akan tetapi, mengenang seseorang tidak perlu dilihat dari banyak pertandingan dan puluhan gol bukan? Lewat satu ajang, atau bahkan satu momen saja, seorang pemain bisa dikenang selamanya.

salvatore schillaci talksport
talksport

Anggapan ini cocok disematkan pada Schillaci. Secara keseluruhan karier profesionalnya hampir tidak ada tinta emas yang ditorehkan.

Soal gelar, hanya tiga kali dia mengangkat piala. Itu pun trofi “kelas dua” seperti Coppa Italia bersama Juventus dan Piala UEFA untuk Inter Milan dan Juve.

Di tingkat individu, sebelum Piala Dunia 1990, dia hanya sekali berpredikat top skorer. Itu pun terjadi di Serie B saat memperkuat Messina dengan 23 gol.

Ke Piala Dunia Bermodal 1 Pertandingan

Tidak seperti pemain lain, Schillaci tidak perlu derasan keringat yang keluar dari tubuhnya untuk terbang ke Piala Dunia. Dia hanya perlu satu pertandingan untuk meyakinkan Azeglio Vicini bahwa dia layak diberi kesempatan.

Ya, cuma satu pertandingan. Bomber kelahiran Palermo ketika itu sudah tidak muda lagi. Usianya sudah 25 tahun dan sebelum dipanggil timnas senior dia baru sekali dipanggil timnas U-21 Italia besutan Cesare Maldini.

Vicini langsung memanggilnya pada laga persahabatan melawan Swiss di Basel pada 31 Maret 1990. Pada pemanggilan pertama, Schillaci langsung dimainkan. Performanya tidak istimewa. Tidak ada gol maupun assist yang dibuat.

Akan tetapi penampilannya hari itu sudah cukup untuk meyakinkan Vicini membawa sang striker ke Piala Dunia. Memang, satu pertandingan melawan Swiss bukan satu-satunya faktor yang membuat sang nakhoda percaya penuh padanya.

Bersama Juventus musim 1989-1990, pemain yang akrab disapa Toto tampil memukau. Dia mengakhiri musim itu sebagai top skorer klub dengan 15 gol.

Di Piala Dunia yang berlangsung di Italia, Gli Azzurri cukup menjanjikan. Tapi tidak dengan Toto. Vicini punya lini depan bergelimang.

salvatore schillaci roberto baggio the42
the42

Ada Gianluca Vialli, Roberto Mancini, Roberto Baggio, hingga Andrea Carnevalle. Schillaci, dilihat dari sisi mana pun, kalah kelas dari mereka.

Dua pertandingan awal, Toto hanya berstatus sebagai pemain pengganti. Dua kali dia menggantikan Andrea Carnevale pada babak kedua.

Laga perdana melawan Austria hasilnya luar biasa. keputusan Vicini memasukkan Toto pada menit ke-75 sangatlah jitu. Sebab tiga menit kemudian dia jadi penentu kemenangan Italia.

Pertandingan kedua dia memang tidak mencetak gol. Tapi statusnya sebagai pemain pengganti saat itu telah membuka mata Vicini untuk memberinya tanggung jawab lebih.

Melawan Cekoslovakia, Toto akhirnya debut sebagai starter. Dia berduet dengan Roberto Baggio di depan. Hasilnya pun luar biasa. Duet mereka membuahkan dua gol untuk kemenangan Gli Azzurri.

Di sisa Piala Dunia, Schillaci jadi andalan utama bersama Baggio. Performa apiknya mengirim Carnevale ke bangku cadangan. Italia memang gagal di rumah sendiri. Mereka harus puas berada di tempat ketiga.

Tapi nama Schillaci berkibar. Dia menasbihkan diri sebagai top skorer Piala Dunia 1990 dengan torehan enam gol. Hingga saat ini, hanya dirinya dan Paolo Rossi, pemain Italia yang meraih gelar top skorer Piala Dunia.

Meredup Usai Piala Dunia, Terpuruk karena Cedera

Cerita Salvatore Schillaci di Piala Dunia 1990 laiknya dongeng. Hanya di situ namanya patut berkibar dan patut dikenang. Ia kesulitan bangkit kembali dan mengukir cerita serupa setelahnya.

Padahal dia memasuki usia emas untuk seorang pesepak bola profesional. Perjalanannya bersama Gli Azzurri masih panjang. Kesuksesan di masa depan juga sudah terbentang di hadapan.

Tapi apa daya, harapan itu tidak pernah jadi kenyataan. Tidak sampai dua tahun Toto berseragam tim nasional. Total, cuma 16 kali dia bermain dan hanya tujuh gol yang berhasil dipersembahkan.

Ya, tujuh gol. Artinya, satu gol saja yang berhasil dipersembahkan untuk Italia usai Piala Dunia. Pamor yang menukik tajam di timnas tak lepas dari cedera parah yang diderita pada musim 1990-1991.

salvatore schillaci calciopedia
calciopedia

Dia beberapa kali naik meja operasi. Hal ini pun berpengaruh pada insting mencetak golnya. Hanya delapan gol dia kemas pada musim kedua bersama Juventus.

Kondisi Toto kian memprihatinkan pada musim ketiga. Torehan enam golnya pun membuat Juventus kehilangan kesabaran. Mereka kemudian melego sang bomber ke Inter Milan.

Ternyata situasi di Inter Milan lebih buruk lagi. Dia bukan cuma gagal keluar dari cedera, tapi juga gagal mengembalikan kepercayaan diri di lapangan.

Dua tahun di Inter, dia lebih sering menghabiskan waktu untuk memulihkan cedera lutut dan cedera ligamen yang silih berganti datang. Dan ketika pulih pun kondisinya tidak memungkinkan untuk bermain.

Dia kesulitan mencapai kebugaran 100 persen. Tak heran jika hanya 12 gol yang mampu disumbangkan untuk I Nerazzurri dari 36 penampilan.

Tak kunjung membaik bersama Inter, Schillaci diprediksi akan kembali ke Serie B pada 1994. Turun kasta lagi memang bukan pilihan populer untuknya. Namun, itu baik untuk mengembalikan kepercayaan diri yang hilang.

Apalagi beberapa klub Serie B seperti Palermo, Venezia, hingga klub yang telah membesarkan namanya, Messina, teran-terangan tertarik pada Toto. Namun, sang bomber punya pemikiran sendiri.

Pemikiran yang tidak pernah diprediksi banyak orang. Alih-alih ke Serie B atau mungkin ke kompetisi Eropa lainnya, dia justru melanglang buana ke Asia. Dia memilih Jepang untuk bangkit dari keterpurukan.

Menggebrak Jepang, Mengharumkan J-League

Jepang tidak memiliki kompetisi yang mumpuni saat itu. Bahkan J-League, liga profesional Jepang baru terbentuk pada 1993, setahun sebelum kedatangan Schillaci.

Datang ke liga yang baru membuat pemain kelahiran Palermo dilupakan. Banyak yang menganggap dirinya sudah habis dan tak mampu bersaing di tingkat profesional.

Akan tetapi, Toto tahu apa yang terbaik untuknya. Dia juga siap terbang tinggi dan membawa J-League ke level berbeda dalam waktu singkat.

Jadi pemain Italia pertama di Liga Jepang jelas bukan perkara mudah. Segala hal di Italia dan Jepang saling bertolak-belakang. Namun, Toto berhasil mengatasinya.

Adaptasi kehidupan baru yang dijalani di Negeri Sakura terasa lebih mudah daripada berjuang untuk pulih dari cedera bersama Juventus dan Inter Milan.

Pelariannya ke Jepang menuai sukses bersama Jubilo Iwata. Pada musim perdana, dia berhasil menggelontorkan 14 gol dari 23 pertandingan.

salvatore schillaci getty
Getty Images

Musim berikutnya lebih gila lagi. Dalam 34 pertandingan, 31 gol berhasil dia lesakkan. Selama tiga musim beruntun dia mencetak dua digit gol untuk Jubilo Iwata.

Pengaruh Salvatore Schillaci di Jubilo Iwata memang tidak sampai membuat klub meraih gelar. Mereka selalu kalah bersaing dengan Yokohama Marinos maupun Kashima Antlers.

Tapi di luar itu, apa yang diberikan Schillaci melebihi perkiraan orang-orang. Dia membuat J-League yang masih berstatus sebagai liga baru menjadi magnet orang-orang untuk melihat sepak bola Asia.

Karier Toto pun berakhir di Negeri Sakura. Ia memutuskan pensiun 1996 silam karena cedera yang kembali datang.

Salvatore Schillaci, bagaimana pun tidak bisa disejajarkan dengan pemain-pemain seperti Gianluca Vialli, Roberto Baggio, hingga Alessandro Del Piero, hingga top skorer sepanjang masa timnas Italia, Luigi Riva.

Kendati demikian, pada perjalanan karier singkatnya bersama Italia, dia sukses melakukan apa yang tidak mampu dilakukan empat striker ganas Negeri Pizza.

Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier di Jakarta

gamespool
Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier di Jakarta 107

Football5star.com, Indonesia – Pada 29 Juli 2007 bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Jakarta, dua tim Timur Tengah bertemu di partai puncak Piala AFC. Irak melawan Arab Saudi. Melajunya Irak ke partai puncak tak lepas dari peran seorang Younis Mahmoud sang legenda Mesopotamia.

Pria bernama lengkap Younis Mahmoud Khalaf lahir di Kirkuk, Irak pada 3 Februari 1983. Ia mulai menekuni sepak bola saat bergabung di tim akademi Kahrabaa Al-Dibis pada 1996. Tiga tahun berkarier di sana, ia kemudian pindah ke klub kota kelahirannya.

Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier_di_Jakarta

Pindah ke tim terbesar di Kirkuk, Kirkuk FC, Mahmoud cukup cepat menunjukkan ketajamannya. Ia mampu mencetak gol pertamnya pada babak putaran ke-8 Liga Premier Irak musim 1999-2000. Saat itu Kirkuk FC menang 3-0 atas Al Kadhimiya.

Dari Kirkuk FC, ia lalu pindah ke Al-Talaba. Kariernya di level klub memang cukup mentereng namun untuk ukuran level Asia, nama Mahmoud justru bersinar saat negaranya, Irak berada di kondisi hancur lebur karena perang.

Ia mencapai reputasi sebagai striker paling mematikan di Asia di level usianya menginjak 29 tahun. Dalam rentang waktu 2004 hingga 2007, Mahmoud berhasil membawa tim nasional Irak mencapai prestasi di pentas internasional.

Pada 2004, ia berhasil membawa Irak mencapai babak semifinal Olimpiade 2004 dan tiga tahun kemudian tentu saja di Jakarta, ia membawa Irak mengangkat Piala AFC 2007.

Tak hanya mengantarkan Irak meraih gelar juara, legenda Mesopotamia ini juga berhasil menyabet gelar top skorer dengan koleksi 4 gol bersama pemain Jepang, Naohiro Takahara dan Yasser Al-Qahtani.

Hampir Bermain di Eropa

Setelah berhasil membawa Irak menjadi juara Piala AFC 2007, Mahmoud mulia dilirik sejumlah klub Eropa. Dikutip Football5star.com dari laman resmi AFC, diakui Mahmoud bahwa Marseille dan Lyon sempat ingin merekrutnya.

Marseille dan Lyon datang untuk mencoba membawa saya ke Eropa tetapi saya tidak pergi dan semua orang bertanya mengapa? Itu karena saya tidak mengerti dunia luar,” kata Mahmoud.

Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier di_Jakarta
the-afc.com

“Kami memiliki masalah di Irak dan salah satunya adalah kami hanya memiliki dua saluran televisi dan sekarang tentu saja berbeda kondisinya. Saya dapat tinggal di kamar saya dan saya tahu apa yang terjadi di Amerika dan negara lain,” ungkapnya.

Gagal berkarier di Eropa sempat disesali oleh Mahmoud. Ia menganggap andainya bisa bergabung ke klub Prancis, mungkin dirinya bisa mengikuti jejak idolanya, Juninho Pernambucano.

“Tapi sekarang sepanjang waktu saya berpikir, ya, Tuhan mengapa saya tidak pergi. Ketika saya bermain dengan Juninho, dia berkata bahwa saya bisa pergi ke sana dan merupakan hal normal,”

“Dia bilang saya bisa bermain di Eropa dengan mudah, tapi saya khawatir tidak bisa berbicara bahasa asing dan soal makanan. Nyatanya memang ini semua adalah masalahku,” sesal Mahmoud.

Pemain yang sudah menikah sebanyak tiga kali tersebut pada 2016 memutuskan untuk pensiun sebagai pesepak bola. Bagi publik Irak, Younis Mahmoud adalah legenda Mesopotamia yang sangat harum namanya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dwight Yorke, Pemain Gagal yang Sukses Juarai Liga Champions

gamespool
Dwight Yorke, Pemain Gagal yang Sukses Juarai Liga Champions 111

Football5star.com, Indonesia – Dwight Yorke merupakan salah satu sosok kunci di balik keberhasilan Manchester United menjuarai Liga Champions pada musim 1998-99. Namun, kontribusi maksimal Yorke tak membuat pelatih legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, terkesan.

Yorke merupakan penyerang yang cukup ditakuti di Inggris pada musim 1998-99 dan 1999-00. Total, pria berpaspor Trinidad dan Tobago itu berhasil menyumbang 52 gol di semua kompetisi.

Bagi pemain-pemain lain, catatan 52 gol dalam fua musim merupakan capaian yang cukup spesial. Namun, Ferguson memiliki pandangan lain dan tetap memberi label pemain gagal kepada Yorke.

Dwight Yorke Manchester United Liga Champions Talksport
Talksport

“Saya mencetak 29 gol pada musim pertama saya. Musim kedua, saya mencetak 26 gol. Tiba-tiba sang pelatih berkata kepada saya, ‘Anda gagal’,” kata Dwight Yorke dikutip football5star dari laman resmi Manchester United.

Label tersebut tentu membuat Yorke merasa cukup kaget. Pasalnya, ia merasa sudah memberikan kinerja maksimal di atas lapangan dan berhasil membawa Manchester United menyabet gelar Liga Champions, Premier League, Piala FA serta Piala Interkontinental.

“Saya pencetak gol terbanyak dan memenangkan Premier League. Tapi tapi Ferguson menyebut saya pemain gagal. Saya langsung melihat ke belakang dan mencari tahu alasan di balik sebutan tersebut. Di situ saya mendapat motivasi lebih besar untuk mencetak lebih dari 29 gol,” tutur Yorke.

“Ferguson mencoba mendorong saya agar bisa berada di level yang lebih tinggi lagi. Tapi, saya tidak melihatnya niat Ferguson ketika itu. Menyelesaikan kompetisi dengan torehan 26 gol merupakan catatan yang membanggakan buat saya. Tapi, nampaknya Ferguson tidak cukup puas dengan catatan tersebut,” sambung Yorke.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Samuel Kuffour, Melegenda Bersama 2 Tragedi Memilukan

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Benua Afrika, sekali pun tak pernah mampu berbicara banyak di pentas internasional selalu melahirkan talenta hebat sepak bola yang mendunia. Salah satunya Samuel Kuffour.

Namanya mungkin tidak segemerlap George Weah, Nwankwo Kanu, atau bahkan juniornya di timnas Ghana seperti Michael Essien. Tapi Samuel Kuffour layak diingat sebagai legenda besar dari Afrika yang sukses menaklukkan Eropa.

Lahir di Kumasi, Ghana, Kuffour memang diciptakan untuk sepak bola. Anggapan ini tidak berlebihan. Di usia yang masih sangat belia dia berani mengambil keputusan besar.

samuel kuffour AfricaFootballClassics
@AfricaFootballClassics

Keputusan yang pada akhirnya berbuah manis untuk dirinya sendiri dan negaranya. Tampil apik bersama akademi King Faisal, sang bek langsung menarik perhatian klub Italia, Torino.

Padahal usianya saat itu belum genap 15 tahun. Apalagi tidak banyak klub Italia yang berani berinvestasi untuk pemain asal Afrika, terlebih lagi Ghana.

Pada akhirnya, Juli 1991 Kuffour remaja menerima pinangan Torino. Tentu dia tidak langsung berada di tim utama. Sang bek kembali belajar di akademi klub Turin.

Dengan fasilitas yang lebih memadai dan pemahaman sepak bola yang semakin luas, dia ditempa selama dua tahun. Permainannya kian menjanjikan.

Lalu, peruntungan lain datang pada 1993. Raksasa Jerman, Bayern Munich, kepincut dengan pemain yang mengawali karier di Fantomas Kumasi. Dari akademi Torino dia pun hijrah ke akademi Bayern.

Di Jerman, jalannya menembus skuat utama The Bavarian tidaklah mudah. Sebelum benar-benar jadi andalan, Kuffour sempat “disekolahkan” ke tim Bundesliga lainnya, Nuremberg, pada paruh kedua musim 1995-1996.

Masa peminjaman ke Nuremberg pada akhirnya diakui sebagai keputusan tepat. Karena di sana dia benar-benar mengumpulkan jam terbang.

Ketika kembali ke Bayern, Samuel Kuffour menjelma jadi sosok andalan di jantung pertahanan. Duetnya dengan Markus Babbel atau Thomas Helmer yang lebih senior benar-benar jadi penghalang lawan dalam membobol jala Die Roten.

Sebagaimana bek pada umumnya, Kuffour mengandalkan kekuatan fisik. Tidak takut meladeni duel satu lawan satu dan tanpa kompromi dalam menghalau serangan lawan adalah kelebihannya.

Memang, dia harus berbagi tempat dengan Markus Babbel maupun Thomas Helmer. Tapi pelatih Die Roten seperti Giovanni Trapattoni hingga Ottmar Hitzfeld selalu memberinya kesempatan.

samuel kuffour footballmadeinghana
footballmadeinghana.com

Apalagi ketika tampuk kepemipinan di tangan Ottmar Hitzfield. Sang pelatih sangat menyukai karakter Kuffour yang selalu bekerja keras dan berani melakukan apa saja untuk menang.

“Dia anak yang baik, tapi di lapangan dia sangat kuat. Dia selalu memberikan lebih dari 100 persen untuk tim dan saya senang bisa melatihnya,” ungkap Hitzfield seperti dikutip Football5star dari Kicker.

Kepercayaan pelatih benar-benar dimanfaatkan pemain kelahiran 3 September 1976. Di Bayern Munich pula dia meraih segalanya. Mulai dari gelar Bundesliga sampai Liga Champions sukses didapatkan.

Secara total, Samuel Kuffour memainkan 277 pertandingan selama 13 tahun mengabdi untuk Die Roten. Koleksi 10 gol membuahkan 22 trofi yang dia persembahkan untuk raksasa Jerman.

Tangis di Camp Nou Belum Kering Hingga Sekarang

Sayang, cerita Samuel Kuffour selama berseragam Bayern tidak melulu indah. Selama di sana dia mengalami dua tragedi berbeda yang sama-sama menyisakan duka.

Tragedi pertama terjadi di arena sepak bola. Bisa dibilang ini merupakan salah satu momen melegenda di Liga Champions. Semua penggemar bola tahu betapa terkenalnya comeback Manchester United di final Liga Champions.

Menghadapi Bayern Munich di Camp Nou, United tertinggal 0-1 lewat gol Mario Basler pada awal laga. Skor ini bertahan hingga menit ke-90.

samuel kuffour modernghana
modernghana.com

Akan tetapi, kala para penggawa Die Roten sudah siap berpesta, Setan Merah menghentak lewat dua gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada masa injury time.

Bayern Munich kalah secara dramatis. Samuel Kuffour yang tampil penuh selama 90 menit tak kuasa menahan tangis. Terlihat jelas dia pemain yang sangat menyesal hari itu.

Kuffour menangis di tengah lapangan, mengepalkan tangan dan meninjunya ke tanah sebagai ungkapan penyesalan dan kekecewaan. Baginya, kekalahan hari itu merupakan tragedi besar.

Sampai hari ini penyesalan itu masih dirasakan. Hati dan pikirannya masih belum mau menerima apa yang terjadi di final Liga Champions 1998-1999.

Bahkan untuk sekadar melihat cuplikan pertandingan tersebut, pemain yang membawa Ghana juara Piala Dunia U-17 1991 silam tak sudi.

“Saya belum pernah menonton pertandingan itu. Saya tidak mau melihatnya. Jika ditayangkan di TV, teman saya akan menelepon dan berkata ‘hei, mereka menayangkan pertandinganmu’,” ujarnya kepada African Football.

“Saya bilang pada mereka bahwa saya tidak akan menontonnya. Itu masih membuat saya sakit. Saya harus melepaskan rasa ini tapi saya masih menyimpannya di dalam hati. Itu sangat sulit untuk dilakukan,” ia menegaskan.

samuel kuffour Bundesliga EN
@Bundesliga_EN

Luka di Camp Nou akhirnya terobati dua tahun kemudian. Bayern Munich kembali menatap final Liga Champions. Menghadapi Valencia, mereka tampil digdaya.

Bermain imbang 1-1 selama 120 menit memaksa laga berlanjut ke babak adu penalti. Bayern menang 5-4 dan memastikan gelar Si Kuping Besar keempat.

Bagi Kuffour, itu adalah trofi Liga Champions pertamanya. Dia sekaligus jadi pemain Ghana keempat yang mencicipi trofi paling bergengsi Eropa setelah Abedi Pele bersama Marseille, serta duo Borussia Dortmund, Yahaya Mallam serta Ibrahim Tanko.

Kehilangan Putri Tercinta yang Masih Balita

Puncak karier Kuffour ada di Bayern Munich. Dia berjaya sebagai salah satu bek terbaik pada masanya. Rentetan gelar yang diberikan untuk klub juga sejalan dengan gelar individu yang diraih.

Dia tiga kali terpilih sebagai pemain terbaik Ghana pada 1998, 1999, dan 2001. Tiga penghargaan itu dia gapai kala memperkuat Die Roten.

Sayang, seperti yang disinggung di atas, 13 tahun masa baktinya di sana tidak selalu bahagia. Pria yang kini berusia 44 tahun pernah mendapat ujian terberat dalam hidupnya kala berseragam raksasa Bundesliga.

samuel kuffour The Times
thetimes.co.uk

Setelah menangis pada final Liga Champions 1999, air matanya kembali jatuh empat tahun setelahnya. Kali ini cerita lebih mengenaskan. Ini bukan soal kegagalan di lapangan.

Ini soal Kuffour kehilangan orang terkasihnya. Putri tercinta yang baru berumur satu tahun meninggal dunia.

Anak bungsunya meninggal di kolam renang di kediamannya di Kumasi, Ghana. Dilaporkan jika putri kecil sang legenda dibunuh oleh perampok.

“Ini adalah pukulan takdir yang kejam bagi Samuel dan seluruh tim terkejut. Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk membantunya,” ujar Ottmar Hitzfeld kala itu.

Samuel Kuffour yang saat itu bersiap terbang ke Spanyol untuk pemusatan latihan menyambut musim baru langsung membatalkan kepergiannya. Ia pamit pulang ke Ghana menggunakan pesawat yang sudah disiapkan pihak klub.

Setelah tragedi itu, sang bek bermain dengan memendam rasa sakit. Hatinya marah melihat anaknya yang baru tumbuh harus menghadap tuhan lebih cepat.

“Momen itu sangat menyakitkan. Momen terberat dalam hidup saya sebagai seorang pria dan pemain sepak bola,” kenangnya seperti dilansir Ghana Soccernet.

Mengawali petualangan di Bayern Munich dengan harapan, Kuffour sukses menutup perjalanannya di sana dengan kesuksesan. Pada musim 2004-2005, musim terakhir di sana, ia berhasil mempersembahkan dua gelar, yakni Bundesliga dan DFB Pokal.

Keluar dari The Bavarian, jadi pertanda lemari trofinya sudah tertutup rapat. Tak ada lagi gelar yang dimenangkan saat berkostum AS Roma, Livorno, Ajax Amsterdam, hingga kembali ke Ghana bersama Asante Kotoko.

Fabio Cannavaro, Bek Terbaik Dunia yang Memiliki Postur Mungil

gamespool
Fabio Cannavaro, Bek Terbaik Dunia yang Memiliki Postur Mungil 124

Football5Star.com, Indonesia – Pada suatu hari di akademi Napoli, seorang pemain bertubuh kecil mendapatkan wejangan dari salah satu petinggi tim akademi, “Fabio, saya lebih suka Anda menjadi seorang bek,” ucapnya. Pernyataan itu ditujukan kepada Fabio Cannavaro muda, sebuah perkataan yang merubah hidup Cannavaro sebagai pemain sepak bola.

Siapa yang tidak kenal Fabio Cannavaro, salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola. Sampai artikel ini ditulis, Cannavaro masih menjadi bek terakhir yang mendapatkan gelar Ballon d’Or, tepatnya pada 2006. Namun jika Anda melihat postur tubuh Cannavaro, dia sama sekali tidak terlihat ideal untuk bermain di posisi bek tengah.

Awal Karier di Napoli dan Pertemuannya dengan Diego Maradona

Cannavaro lahir di Naples pada 1973 dan berhasil masuk ke akademi Napoli pada 1988 saat usianya 15 tahun. Pada saat itu, dia berposisi sebagai gelandang. Namun, salah satu direktur di akademi mendatanginya dan memintanya untuk bermain sebagai bek tengah.

Tentu saja, Cannavaro cukup terkejut karena permintaan itu, dia tak memiliki tinggi badan yang ideal untuk bermain sebagai bek tengah. Tinggi dia hanya 175 cm atau di bawah 6 kaki, yang mana itu terbilang pendek untuk ukuran bek tengah Eropa.

Fabio Cannavaro, Bek Terbaik Dunia yang Memiliki Postur Mungil
Wikipedia

Tapi benar saja, Cannavaro ternyata cukup apik bermain sebagai bek tengah. Antisipasi, tekel, distribusinya luar biasa. Dia juga mampu memulai serangan saat dia berhasil merebut bola dari lawan.

Salah satu momen yang merubah hidupnya datang saat dia pertama kali berlatih dengan tim utama Napoli, dimana dia bertemu dengan kapten Napoli, Diego Maradona. Saat masuk ke skuat utama, Cannavaro diminta oleh Ciro Ferrara untuk tidak menekel Maradona.

“Tidak, tidak, Anda tidak hanya pergi dan berlatih dengan Maradona. Anda tidak hanya pergi dan menjegal Maradona. Bola tidak pernah lepas dari kakinya,” kata Ferrara kepada Cannavaro muda.

Namun permintaan Ferrara tidak dituruti olehnya. Cannavaro melakukan tekel kepada sang legenda dan seluruh pemain dan pelatih langsung marah kepadanya, namun Maradona hanya tersenyum dan akhirnya memberi sepatunya kepada Cannavaro.

Cannavaro berhasil promosi pada tahun 1992 dan menjadi pemain reguler pada musim 1993-94 dan berduet dengan Ciro Ferrara. Dia mencetak gol perdananya pada Januari 1995 melawan AC Milan.

Namun keadaan finansial Napoli sejak ditinggal Diego Maradona pada 1991 terus memburuk. Dan itu memaksa Il Partenopei harus menjual beberapa pemain hebatnya, salah satunya Cannavaro.

Bersinar di Parma, Tenggelam di Inter

Pemilik Baru Parma Ingin Temukan Fabio Cannavaro Baru
calcioweb

Cannavaro pindah ke Parma pada 1995 dan dia langsung menjadi pemain reguler dan menjadi kapten tim. Bersama I Gialloblu, Cannavaro membawa timnya mencapai prestasi terbaik sepanjang sejarah klub.

Duetnya bersama Lilian Thuram dan adanya Gianluigi Buffon di belakangnya membuat Parma menjadi tim yang disegani di Italia dan Eropa. Bersama mereka, Cannavaro mampu membawa Parma juara UEFA Cup, Piala Super Italia, dan dua Coppa Italia.

Namun lagi-lagi, Cannavaro dijual karena alasan finansial. Bangkrutnya Parmalat membuat Parma harus menjual banyak pemainnya. Salah satunya Cannavaro, yang dijual ke Inter dengan harga 23 juta euro pada 2002.

“Tinggi badan bukan menjadi masalah karena saya selalu menjaga penyerang tinggi dan saya tak melakukannya dengan buruk,” kata Cannavaro di konferensi pers saat berkostum Inter.

Pernyataan itu membuat publik percaya diri bahwa Cannavaro bisa menjadi pemain hebat di Inter. Tapi sayangnya performanya bersama Nerazzurri tak sebagus sebelumnya saat di Parma. Dia bermasalah dengan cedera dan sering dimainkan di luar posisinya oleh pelatih Hector Cuper. Dia akhirnya hanya bermain dua tahun di sana.

Calciopoli dan Piala Dunia

Cannavaro dijual ke Juventus pada 2004 lewat salah satu pertukaran pemain paling membingungkan dalam sejarah sepak bola. Cannavaro dijual dengan harga 10 juta euro plus kiper cadangan Juventus, Fabian Carini, yang akhirnya hanya menjadi kiper ketiga di bawah Julio Cesar dan Francesco Toldo.

Cannavaro kembali bermain dengan Lilian Thuram dan Gianluigi Buffon dan langsung kembali ke performa terbaiknya. Pada momen ini, Cannavaro berada di puncak kariernya dengan memenangkan beberapa penghargaan individu dan klub.

Dan kehebatannya terlihat saat menjadi kapten Italia di Piala Dunia 2006. Ya, Cannavaro memimpin Azzurri menjadi juara untuk pertama kalinya sejak 1982. Penampilan terhebatnya datang pada laga semi final melawan Jerman, yang mana itu mungkin menjadi salah satu penampilan bek tengah paling fantastis dalam sejarah Piala Dunia. Performa hebatnya bersama Juventus dan timnas Italia membuatnya mendapatkan penghargaan Ballon d’Or.

Setelah Piala Dunia, Juventus dinyatakan bersalah atas kasus Calciopoli dan itu membuat mereka turun ke Serie B. Cannavaro menjadi salah satu pemain bintang yang pergi dari Juventus setelah itu.

“Bahkan jika saya tahu ini mungkin sulit dipercaya, saya akan tetap di Juventus seandainya mereka tetap di Serie A, bahkan dengan pengurangan 30 poin,” ucap Fabio Cannavaro.

Real Madrid dan Penurunan Performa

Luka Modric - Fabio Cannavaro - Florentino Perez - Real Madrid - Sportskeeda
Sportskeeda

Cannavaro pindah ke Real Madrid dan dia masih menampilkan performa terbaiknya di sana dalam dua musim pertamanya, dimana dia membawa Los Blancos juara La Liga dua musim beruntun. Namun performanya menurun saat bermain di musim ketiganya.

Dia kembali ke Juventus pada 2009, tapi performa Cannavaro tak lagi sama. Dia juga memiliki hubungan yang buruk dengan para fans Juventus karena dianggap berkhianat saat memutuskan untuk pergi ke Madrid setelah Juventus turun ke Serie B.

Bianconeri akhirnya hanya bisa finis di posisi ke-7 klasemen dan tersingkir secara memalukan oleh Fulham di Liga Europa. Cannavaro akhirnya hanya bermain satu musim di periode keduanya di Juventus dan pindah ke Al-Ahli sebelum memutuskan pensiun pada 2011.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ronny Pasla, dari Juara Tenis Hingga Bikin Pele Terkejut

Ronny Pasla, dari Juara Tenis Hingga Bikin Pele Terkejut 130

Football5Star.com, Indonesia – Ronny Pasla, namanya mungkin agak asing buat pencinta sepak bola Indonesia saat ini. Namun Om Ronny, begitu dirinya disapa, sebenarnya sudah menggoreskan banyak tinta emas buat Indonesia lewat tangan cekatannya.

Saat masih aktif bermain, Om Ronny merupakan salah satu kiper yang diperhitungkan. Sosok kelahiran Medan, 15 April 1947 itu sudah berhasil mempersembahkan banyak gelar buat Indonesia. Beberapa di antaranya ialah membawa Indonesia juara di Bangladesh, Merdeka Games, hingga kampiun Pesta Sukan Singapura 1972.

Bahkan, Om Ronny pernah dianugerahi sebagai atlet terbaik Indonesia pada 1972 dan penjaga gawang terbaik, dua tahun kemudian. Malahan pada masa emasnya, Ronny sempat disandingkan dengan kiper legendaris Uni Soviet, Lev Yashin.

Namun demikian, ternyata sepak bola bukan olahraga pertama yang digeluti oleh Ronny Pasla. Dikutip dari berbagai sumber, Om Ronny pertama kali terjun di dunia tenis. Dia bahkan pernah meraih gelar juara pada Kejuaraan Tenis Nasional di Malang pada 1967 silam. Namun sang ayah, Felix Pasla, melihat ada bakat lain yang dimiliki Ronny. Dengan postur menjulang 183 cm, Ronny disarankan ayahnya terjun di dunia sepak bola.

Ronny Pasla: Pemain Indonesia di Luar Negeri Jangan Pencitraan Saja Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Kiper Legendaris Persija Sebelum Andritany Ardhiyasa

Petuah sang ayah, ternyata bak azimat buat Ronny Pasla. Dia memulai kariernya sebgai pemain Dinamo. Lalu, setahun keudian hijrah ke Bintang Utara, hingga mengorbit bersama PSMS Medan hingga bergabung bersama Persija Jakarta.

Bikin Pele Terkejut

Penampilan-penampilan apiknya itu jelas membawa Ronny ke Timnas Indonesia. Puncaknya, sat dia dipercaya mengawal gawang Timnas Indonesia yang kedatangan Timnas Brasil. Pada 1972, tim Samba datang ke Indonesia dalam rangka tur Asia.

Tentu laga itu sangat dinantikan oleh publik Indonesia karena Brasil turut membawa bintangnya, Pele. Dalam laga yang dihelat di Stadion Senayan (kini bernama SUGBK), Brasil sempat mendapatkan hadiah penalti. Pele yang jadi eksekutor nyatanya gagal karena tendangannya ditepis oleh Ronny Pasla. Aksi impresif Ronny itu masih sangat teringat hingga kini meski Indonesia takluk 1-2 dari Brasil.

Ronny Pasla: Pemain Indonesia di Luar Negeri Jangan Pencitraan Saja

“Oh iya saya masih ingat betul. Selain Pele, saya pernah melawan Argentina, Tottenham Hotspur. Malah, Uruguay, tim Piala Dunia kita kalahkan 2-1 saat itu. Sao Paolo kita tahan 1-1. Semuanya itu adalah latihan, tidak ada yang lain,” cerita om Ronny kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Ronny Paslah sendiri menjadi kiper tak tergantikan di Timnas Indonesia sejak 1966 hingga pensiun 1985 pada usia 38 tahun. Ronny baru benr-benar pensiun total dua tahun kemudian saat usianya 40 tahun. Klub terakhir yang dibelanya ialah Indonesia Muda.

Ronny Pasla, dari Juara Tenis Hingga Bikin Pele Terkejut
Dok. Bolacom

Usai pensiun, Ronny justru kembali ke dunia lamanya, yakni tenis. Bahkan, dia memiliki sekolah tenis lapangan bernama Velodrom Tennis School di Jakarta.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Cafu, Dari Kawasan Kumuh Hingga Menjadi Legenda Brasil

gamespool
Cafu, Dari Kawasan Kumuh Hingga Menjadi Legenda Brasil 135

Football5star.com, Indonesia – Lahir dengan nama Marcos Evangelista de Morais pada 7 Juni 1970 di sebuah kawasan kumuh atau Favela, ia kemudian dikenal dunia dengan panggilan Cafu. Ia adalah legenda Brasil di lapangan hijau. Cafu lahir di tahun yang sama saat negaranya meraih gelar Piala Dunia untuk kali ketiga.

Selang dua minggu setelah kelahirannya, Carlos Alberto mencetak salah satu gol terbaik sepanjang masa di ajang Piala Dunia 1970. Nama Cafu sendiri melekat pada dirinya tak lepas dari seorang mantan pemain Fluminense dan Botafogo, Cafuringa. Full back kanan terbaik yang menjadi inspirasinya.

Legenda Brasil, Cafu Tidak Mau Disamakan dengan Marcelo

Masa kecil Cafu dihabiskan di jalan Jardim Irene, salah satu kawasan paling miskin di Brasil. Berasal dari keluarga tak mampu menempa dirinya untuk tidak menyerah pada nasib. Sepak bola jadi jalan yang ia pilih untuk keluar dari nasib buruk.

Menariknya di awal karier, Cafu pernah mendapat penolakan dari dua klub besar Brasil, Palmeiras dan Santos. Sao Paulo akhirnya mau menerima kemampuannya, itupun dengan sejumlah rintangan cukup berliku. Pelatih akademi Sao Paulo saat itu, Carlinhos Neves bahkan sampai harus memintanya untuk tampil melawan tim lokal, Itaquaquecetuba.

Dari pertandingan itu, ia resmi bergabung ke Sao Paulo. Munculnya Cafu di panggung sepak bola dunia memang menjadi ‘mukzijat’ bagi negeri Samba, Brasil. Sebagai bek sayap, Cafu adalah full back kanan paling lengkap di era sepak bola modern.

Penulis buku sekaligus pundit asal Inggris, Jonathan Wilson pernah mengatakan bahwa bek sayap memiliki peran sangat penting di sepak bola.

“Anehnya, Jack Charlton yang pertama kali menyuarakan pemikiran tersebut. Pada awalnya, kedengaran tidak masuk akal sampai Anda melihat sendiri setiap pentas Piala Dunia, tim yang menang selalu memiliki sepasang bek sayap hebat,”

“Jorginho dan Branco untuk Brasil 1994, Lilian Thuram dan Bixente Lizarazu untuk Prancis 1998, Cafu dan Roberto Carlos untuk Brasil 2002, dan Gianluca Zambrotta serta Fabio Grosso untuk Italia,” kata Wilson.

Buah Tangan Dingin Telê Santana

Kehebatan Cafu sebagai seorang bek sayap tak bisa dilepaskan dari sosok Telê Santana. Ia pernah mengatakan memiliki banyak hutang kepada pelatih revolusioner Brasil tersebut. Dari Santana, ia berani untuk mengubah posisi dari seorang gelandang kanan menjadi bek kanan.

Meski memang pada awal kepindahanya sebagai bek kanan lebih disebabkan Santana tak memiliki banyak opsi pemain lain. Posisi bek kanan Sao Paolo saat itu biasanya diisi oleh Ze Teodoro. Pilihan Santana menempatkannya sebagai bek kanan berbuah hasil manis.

Ia menjadi bek kanan yang mampu menyerang dengan sangat baik dan efektif. Meski begitu, diakui dirinya pada awalnya ia merasa tak suka menjadi bek kanan.

Cafu, Dari Kawasan Kumuh Hingga Menjadi Legenda Brasil

“Saya tidak terlalu menikmati menjadi bek kanan pada awalnya. Saya harus belajar cara menyerang dengan metode berbeda dan itu membutuhkan waktu,” ucapnya.

Kariernya terus melambung tinggi. Pada usia 24 tahun, ia sudah memiliki gelar juara Copa Libertadores sebanyak 2 kali dan gelar juara Liga Brasil bersama Sao Pauolo.

Kariernya usai Piala Dunia 1994 tak terlalu bagus. Tiba pertama kali ke Eropa pada 1995, ia bergabung ke Real Zaragoza. Di sana, ia hanya melakoni 16 laga. Kondisi ini membuatnya memutuskan kembali ke Brasil dan bergabung ke Juventude lalu ke Palmeiras.

Namanya kembali jadi sorotan saat bermain di pentas Serie A Italia. Bersama AS Roma, Cafu jadi bek sayap paling disegani. 163 caps ia jalani bersama Roma dari 1997 hingga 2003. 1 gelar scudetto berhasil ia dapatkan.

“Ia adalah full back yang luar biasa dalam menyerang tetapi juga sangat kuat dalam bertahan,” begitu pandangan pelatih Juventus, Andrea Pirlo kepada pemain yang pensiun pada 2008 tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Dennis Law, Rekan George Best yang Kirim Man United ke Divisi II

gamespool
Dennis Law, Rekan George Best yang Kirim Man United ke Divisi II 140

Football5star.com, Indonesia – Dennis Law merupakan nama yang mendapat tempat spesial di dalam hati para pemain Man United. Pasalnya, Law bersama George Best dan Bobby Charlton dikenal sebagai trio yang cukup mematikan pada dekade 1960-an.

Law, Best dan Charlton merupakan tiga pemain yang membawa Man United meraih gelar Piala Champions pada musim 1967-68. Keberhasilan tersebut membuat The Red Devils berhak menyandang status sebagai tim Inggris pertama yang menjadi jawara Eropa.

Selain membawa Man United menjadi juara Eropa, ketiganya juga berhasil merengkuh gelar Ballon d’Or. Law menjadi nama pertama yang berhasil meraih gelar Ballon d’Or. Gelar bergengsi ini ia dapatkan pada 1964.

Satu dekade setelah memenangkan Ballon d’Or, Law harus menanggung kesedihan mendalam. Pasalnya, ia merupakan sosok yang membuat Man United terdegradasi ke divisi II pada musim 1973-74.

Dennis Law - Man United - George Best - manutd. com
manutd.com
AWAL KARIER DENNIS LAW

Dennis Law lahir di Aberdeen, Skotlandia, pada 24 Februari 1940. Ia mengawali karier profesionalnya bersama Huddersfield Town pada musim 1956-57. Law baru berusia 16 tahun ketika menjalani debut profesionalnya.

Bakat besar Law membuat banyak klub-klub Inggris tertarik mendatangkannya. Pada akhirnya, Law memilih pindah ke Man City pada 1960 dengan banderol 55 ribu Poundsterling. Angka tersebut membuat Law menjadi Inggris termahal ketika itu.

Setahun berselang, Law memutuskan pindah dari Man City. Ia merantau ke Italia dan bergabung dengan Torino. Ketika itu, Law ditebus Torino dengan banderol 110 ribu Poundsterling.

Petualangan Law di Italia tidak berjalan dengan mulus. Ia kesulitan beradaptasi dengan gaya bermain ultra defensif di Italia. Selain itu, ia juga sempat terlibat kecelakaan lalu lintas pada Februari 1962.

Kedua hal itu membuat Law tidak betah dan memutuskan hengkang dari Torino pada musim panas 1962. Law kembali ke Inggris dan memperkuat Man United setelah ditebus dengan harga 115 ribu Euro.

UNITED TRINITY BERSAMA GEORGE BEST DAN BOBBY CHARLTON

Dennis Law menjalani masa-masa terbaik dalam kariernya ketika memperkuat Man United pada periode 1962 hingga 1973. Kombinasinya bersama George Best dan Bobby Charlton membuat The Red Devils menjadi tim yang sangat ditakuti di Eropa ketika itu.

Kedatangan Law ke Old Trafford langsung mengubah nasib Man United. Pasalnya, The Red Devils kesulitan tampil konsisten pasca insiden kecelakaan pesawat di Munich pada 1958 dan kerap bersaing di papan bawah klasemen.

Dua tahun setelah kedatangan Law, Man United berhasil merengkuh gelar juara Liga Inggris. Ia berhasil mencetak 28 gol dan dinobatkan sebagai top skorer Liga Inggris. Tak cuma itu, Law juga berhasil meraih gelar Ballon d’Or.

Dennis Law - Man United - George Best - @manutd
twitter.com/manutd

Empat tahun setelahnya, Law, Best dan Charlton berhasil membawa Man United meraih gelar juara Piala Champions. Mereka menjadi juara Eropa setelah mengalahkan Benfica di partai puncak.

Ketika itu, Law harus gigit jari karena tidak tampil pada partai semifinal dan final Piala Eropa. Ia mengalami cedera lutut yang membuatnya harus absen selama beberapa bulan.

Cedera lutut ini menjadi salah satu penyebab penurunan performa Law di tahun-tahun selanjutnya. Pasalnya, ia menyembunyikan hasil diagnosa dokter spesialis dan terus berlatih secara normal.

Pada 1973, Law dilepas Man United secara cuma-cuma ke Man City. Selama 11 tahun memperkuat The Red Devils, Law berhasil mencetak 237 gol dari 404 penampilannya di semua kompetisi.

MENGIRIM MAN UNITED KE DIVISI II

Ketika melepas Law, Man United sudah tak lagi menjadi tim yang ditakuti di Inggris. Mereka kesulitan tampil konsisten dan kerap finis di papan tengah klasemen Liga Inggris.

Man City yang ketika itu diasuh Johnny Hart memutuskan untuk menawarkan Law kontrak. Tawaran ini langsung diterima Law. Ia pun berhasil menjalani debut gemilang dan mencetak dua gol pada pertandingan pembuka musim 1973-74 melawan Birmingham City.

Momen Law yang paling dikenal bersama Man City hadir pada partai terakhir musim 1973-74. Ia mencetak gol ke gawang Man United dan membawa The Cityzens meraih kemenangan dengan skor 1-0. Kekalahan tersebut membuat Man United terdegradasi ke divisi II Liga Inggris. 

Pada musim 1973-74, Man City mengganti pelatih dan menunjuk Tony Book sebagai pengganti Hart. Pergantian pelatih dari Hart ke Book menjadi akhir kisah Law sebagai pemain profesional. Ia memutuskan gantung sepatu pada musim panas 1974.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Legenda Alexi Lalas, Rocker Pertama di Pentas Serie A Italia

gamespool
Legenda Alexi Lalas, Rocker Pertama di Pentas Serie A Italia 145

Football5star.com, Indonesia – Jika membicarakan sepak bola Amerika Serikat kurang pas rasanya jika tak menyebut sosok satu ini, Alexi Lalas. Bagi sepak bola Negeri Paman Sam, Alexi Lalas adalah legenda. Ia jadi generasi ketiga Amerika Serikat yang berkarier di pentas Serie A Italia.

Amerika Serikat dikenal sebagai negara yang tidak memiliki akar sepak bola yang kuat. Jika di era saat ini, publik mengenal nama-nama seperti Weston McKennie atau Christian Pulisic, maka di zaman dahulu sangat sedikit pesepak bola AS yang muncul ke panggung sepak bola dunia.

Alexi Lalas
Twitter @AlexiLalas

Jika mengesampingkan, Alfonso Negro dan Armando Frigo yang memiliki darah Italia dan tercatat menjadi pemain Amerika Serikat di Serie A, maka nama Alexi Lalas boleh saja dinasbihkan sebagai pesepak bola profesional pertama AS yang mentas di sana.

Pada 1994, klub Padova merekrut pemain andalan Amerika Serikat di Piala Dunia 1994, Alexi Lalas. Padova rekrut pemain nyentrik satu ini dari tim kecil, Rutgers.

Penampilan legenda sepak bola AS ini di pentas Serie A cukup apik. Di musim pertamanya, ia tercatat mencetak 3 gol dari eksekusi bola mati. Dua gol ia sarangkan ke gawang Inter dan AC Milan.

Ia mampu membawa Padova lolos dari jurang degradasi pada musim pertamanya. Sayang di musim berikutnya, Lalas tak mampu hindarkan Padova dari jerat degradasi. Ia pun memutuskan kembali ke Amerika Serikat dan membela New England Revolution pada musim 1996-97.

Rocker yang Nyentrik di lapangan hijau

Penampilan Alexi Lalas di era 90-an tentu sangat mudah dikenali. Ia memilki rambut tak seperti biasanya pesepak bola. Rambut-rambutnya gondrong, urakan, bak musisi rock. Kebetulan memang, Alexi Lalas memiliki kegemaran pada musik metal.

Ia bisa dibilang sebagai pioner rocker yang mentas di Serie A Italia. Sebenarnya tak terlalu mengherankan jika Lalas jatuh cinta pada musk rock. Generasi pada eranya memang memiliki kecintaan pada jenis musik satu itu.

Legenda Alexi Lalas, Rocker Pertama di Pentas Serie A Italia
Daily Mail

Pemain yang lahir era 70-an seperti Dan Eggen juga memiliki kesamaan dengan Lalas. Eks pemain Celta Vigo itu tampil di belakang layar aksi Satyricon dalam DVD Roadkill Extravaganza pada 2001 dan menampakkan dirinya sebagai penggemar musik heavy metal.

Ia juga bergabung dengan Pantera di atas panggung saat beraksi di Spanyol, melakukan headbang dan bermain gitar selama 30 detik. Namun Alexi Lalas tak sekedar penyuka musik metal. Ia terjun langsung dan menjadi seorang rocker.

Ia memiliki band bernama The Gypsies. Band Lalas pernah tampil sebagai pembuka konser Hootie & The Blowfish saat tur di Eropa pada 1998. Band indie tersebut dia dirikan ketika masih kuliah di Rutgers. Mereka merekamnya sendiri, menjualanya sendiri, dan tanpa disadari menarik perhatian banyak pencinta musim di AS, Amerika Utara, dan sebagian Eropa.

“The Gypsies adalah band yang saya dirikan saat saya kuliah, ketika saya mulai rekaman, saya masih menggunakan nama saya sendiri. Musik sebenarnya bukan hobi saya, tapi saya serius di bidang itu. Ketika saya sukses di sepakbola memberikan saya peluang di musik, saya tahu saya harus membuktikan tidak menekuni musik hanya karena aji mumpung.” katanya.

“Kenyataannnya, banyak orang masih memandang skeptis atlet yang merangkap pemusik, tapi saya tidak membiarkan itu menghentikan saya. Saya sudah merilis beberapa album selama saya bermusik.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Sinyo Aliandoe, Putra Flores yang Melegenda di Jakarta

Sinyo Aliandoe, Putra Flores yang Melegenda di Jakarta 149

Football5Star.com, Indonesia – Sinyo Aliandoe, putra terbaik Indonesia yang lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1938, namanya seakan melegenda di ibu kota, Jakarta. Sampai saat ini, dia memiliki tempat tersendiri di hati pencinta sepak bola Indonesia, khususnya Jakarta.

Dalam perjalanan kariernya, Sinyo sebenarnya sempat memperkuat klub besar selain Persija Jakarta, yakni Persebaya Surabaya. Namun, penampilan terbaiknya tercipta saat dia memperkuat Persija. Sinyo menjadi bagian dari skuat Macan Kemayoran yan menjuarai Perserikatan 1964.

Bahkan, saat itu Persija yang dinakhodai Endang Witarsa menjadi juara tanpa menyentuh satu kekalahan pun. Saat itu tim yang diperkuat Sinyo Aliandoe mencatatkan rekor tujuh kemenangan dan sekali imbang.

Sinyo Aliandoe, Putra Flores yang Melegenda di Jakarta
Istimewa

Performa apik Om Sinyo, begitu sapaan karibnya, membuatnya masuk pantauan Timnas Indonesia. Berposisi sebagai gelandang serang, Om Sinyo mampu membuat Timnas Indonesia juarai Aga Khan Gold Cup 1966, juara King’s Cup 1968, Bangkok, Thailand dan juara Merdeka Games 1969 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sayang, cedera parah menghentikan kariernya sebagai pesepak bola. Om Sinyo menderita patah kaki dan akhirnya pensiun pada 1969. Usai pensiun, babak baru dalam kariernya di sepak bola dimulai.

Juara Sebagai Pemain dan Pelatih

Sinyo Aliandoe mendapatkan banyak ilmu kepelatihan dari Endang Witarsa dan Tony Pogacnik. Dia lantas mendapatkan kesempatan menjadi pelatih klub internal Persija, Jayakarta.

Manajemen Persija Jakarta lantas tertarik menggunakan jasa Sinyo yang mampu membawa Jayakara juara di internal. Sinyo lantas ditunjuk menjadi nakhoda Macan Kemayoran untuk mengarungi Perserikatan musim 1973.

Tak disangka, prestasi 1964 diulangi lagi oleh beliau saat menjadi pelatih Persija. Dia membawa Persija kembali juara dengan status tak terkalahkan dengan mencatat 6 kemenangan dan 1 hasil seri. Catatan itu sekaligus membuat Sinyo Aliandoe menjadi pelatih termuda yang membawa Persija menjadi juara. Kala itu usianya baru 33 tahun.

Tak cuma itu, Om Sinyo juga berhasil mengantarkan Persija kembali juara pada 1975. Meski, kala itu Persija Jakarta harus berbagi juara dengan PSMS Medan karena kejadian dalam partai final.

Nyaris Bawa Indonesia ke Piala Dunia

Untuk memperbanyak ilmu kepelatihannya, Sinyo Aliandoe sempat berguru di Kuala Lumpur. Dia belajar di Sekolah Pelatih IFA selama 3 bulan pada 1974. Diajuga sempoat berguru ke Inggris dan Jerman Barat. Bahkan pada 1984, dia memegang ijazah FIFA Coaching Academy setelah belajar 3 bulan di Brasil.

Usai menimba ilmu di negeri orang, Sinyo lantas ditunjuk oleh PSSI menangani Timnas INdonesia untuk PraPiala Dunia 1986. Timnas asuhannya terbilang sedikit lagi mentas di Piala Dunia.

Kala itu, Timnas Indonesia bergabung di Grup B Zona Asia bersama India, Thailand, dan Bangladesh. Pada putaran pertama, Sinyo membawa Indonesia menang 1-0 atas Thailand, kalahkan 2-0 Bangladesh, dan kandaskan 2-1 India.

Lalu, pada putaran kedua, Indonesia mampu menahan 1-1 India. Dua laga lain juga berhasil dimenangkan, yakni 2-1 atas Bangladesh, dan 1-0 versus Thailand. Hasil itu membuat timnas maju ke babak kedua sebagai juara grup.

Nah, pada babak kedua Zona B Asia PraPiala Dunia 1986 menjadi penentuan buat Timnas Indonesia besutan Sinyo Aliandoe. Kala itu, Indonesia bersua Korea Selatan dan kalah 0-2 pada pertemuan pertama di Seoul. Lalu, pada pertandingan di Jakarta, Timnas pun harus kalah 1-4 dari Korsel sekaligus mengubur impian main di Piala Dunia.

Timnas Indonesia asuhan Sinyo Aliandoe memang kala itu gagal. Namun, pencapaian itu dikenang karena jadi aksi Timnas Indonesia paling baik. Indonesia memang pernah main di Piala Dunia 1938, tapi saat itu bernama Hindia-Belanda.

Sinyo Aliandoe sendiri akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada 18 November 2011. Almarhum meninggal pada usia 80 tahun di kediamannya, di kawasan Jakarta Selatan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Harry Kewel, Cinta Jadi Benci di Leeds United dan Misteri Istanbul

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Harry Kewell merupakan salah satu bintang paling terang dari Australia. Seperti sudah menjadi suratan takdir, Inggris menjadi tempat di mana ia menggapai impian.

Dia paling lama memperkuat Leeds United. Tapi baru bisa memenangkan gelar kala berkostum Liverpool.

Walau begitu, sampai sekarang ceritanya bersama Leeds United tidak pernah usai. Di sana dia menemukan cinta dari para suporter. Dan di sana juga dia menanam benih kebencian.

Sejak 1995, Kewell sudah mengadu nasib ke Inggris. Tujuannya pun langsung ke Leeds United, klub yang sudah mendekatinya sejak setahun sebelumnya.

harry kewell pinterest
pinterest

Datang tanpa biaya transfer sepeserpun, sang wonderkid lebih banyak menonton daripada beraksi di lapangan. Maklum saja, usianya kala itu baru menyentuh 17 tahun. Dua kali bermain, tanpa gol dan tanpa assist, dia belum jadi apa-apa.

Perjuangan belum berakhir. Tapi penderitaannya juga terus berlanjut. Musim berikutnya bisa dibilang lebih buruk karena hanya sekali dia dimainkan oleh Howard Wilkinson.

Memasuki tahun ketiga, peruntungannya berubah drastis. Makin mengenal lingkungan di Yorkshire, ditambah kedewasaan dalam bermain membuat Kewell mulai diperhitungkan.

Akan tetapi, dua hal tersebut mungkin tidak berarti apa-apa jika Howard Wilkinson yang masih menjadi nakhoda. Ya, dewi fortuna mendekati Kewell ketika George Graham mengambil alih tim.

Kepimpinan George Graham seakan jadi angin surga untuk winger kelahiran Sidney, Australia. Musim 1997-1998 dia langsung diturunkan 29 kali dan mencatatkan lima gol.

Hanya berstatus sebagai pemain pengganti pada tiga pertandingan awal, Kewell melahap 26 laga lainnya sebagai starter. Gol pertama ia bukukan ke gawang Newcastle United di pekan ke-11 Premier League.

Kewell tidak sukses sendirian musim itu. Dia turut melambungkan The Whites di papan klasemen. Setelah berada di luar 10 besar dua musim sebelumnya, musim 1997-1998 klub asal Yorkshire menembus lima besar.

harry kewell kyrosports
kyrosports

Usaha Kewell tidak sia-sia. Setelah berjuang tanpa kepastian selama dua tahun, dia akhirnya meraih apa yang dicita-citakan. Performa apiknya musim tersebut pun mendapat balasan setimpal dari penghuni tribun Elland Road.

Harry Kewell jadi salah satu pemain yang dicintai suporter. Akselerasi di lapangan, kecepatan berlari dan akurasi tendangan kaki kiri membuat fan selalu mengelu-elukan namanya.  

Terlepas dari nihilnya trofi yang dipersembahkan untuk Leeds United, Kewell selalu menghadirkan daya magis di lapangan. Liukan maut dari sisi kiri, hentakan keras dengan kaki kidal sudah lebih dari cukup untuk fan mencintainya.

Setelah musim 1997-1998, Kewell jadi sosok tak tergantikan di sisi sayap. Pun ketika kursi pelatih berpindah ke tangan David O’Leary. Dia justru makin liar karena dimainkan di beberapa posisi seperti sayap kiri, second striker, hingga gelandang serang.

Total mencatatkan 225 penampilan bersama Leeds dan mengoleksi 57 gol serta 10 assist. Bersama Leeds dia mencapai apa yang sukar dilakukan pemain Australia kebanyakan ketika itu. Dan bersamanya pula The Whites kembali manggung di Liga Champions.

Hantu Cedera dan Misteri Keajaiban di Istanbul

Tampil mempesona selama delapan tahun di Leeds United, nama pemain kelahiran 22 September 1978 mulai dibicarakan di bursa transfer. Liverpool yang butuh pelari kencang di sektor sayap untuk menerjemahkan keinginan Gerard Houllier datang memberi tawaran.

The Whites tak mampu menahan mahar 10 juta pounds dari The Reds. Mereka butuh uang tersebut untuk menutupi utang yang mulai menggerogoti.

Kewell juga tak punya alasan untuk tidak menerima pinangan Liverpool. Bukan apa-apa. Sejak kecil dia adalah Kopites. Pahlawannya di sepak bola tidak lain dan tidak bukan Kenny Dalglish.

Dari sisi profesionalitas, dia butuh Liverpool untuk mencapai level tertinggi. Sayang, apa yang dialami di Anfield berbanding terbalik dengan masa-masanya di Elland Road.

Ketika pada dua musim perdana di Leeds ia lebih sering menghangati bangku cadangan, tiga musim pertama di Liverpool dirinya langsung tampil memukau. Sisanya, namanya lebih sering tak terdaftar dalam tim.

Bukan karena kedatangan Luis Garcia atau pemain baru lainnya. Melainkan cedera hamstring yang mulai menjadi kebiasaan baru selama berada di Anfield.

Cedera ini pula yang membuat trofi Liga Champions yang dia raih terasa hambar. Di stadion Attaturk, 2005 silam Kewell tampil sebagai starter. Harapan Rafael Benitez cukup besar padanya saat itu.

Rafael Benitez ingin pria asli Sidney memanfaatkan lubang di sisi kanan pertahanan AC Milan yang kerap ditinggal Cafu untuk membantu serangan. Sayang, harapan tidak sesuai kenyataan.

harry kewell liverpoolecho
liverpoolecho

Kewell tampil di bawah performa terbaik. Disebutkan bahwa dia bermain membawa rasa sakit karena hamstring yang belum pulih total.

Benitez kemudian menariknya keluar sebelum babak pertama berakhir. Tapi belakangan diketahui bahwa Kewell tidak cedera. Seperti dikutip Football5star dari Joe, pemain kidal minta diganti karena merasa dirinya sudah kehilangan gairah bermain.

Bagi Kewell, malam di Istanbul yang dirayakan gegap gempita oleh seluruh skuat dan fan tidak pernah dia rasakan. Menurutnya, itu adalah malam yang mengerikan. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang dirasakan selama 23 menit berada di lapangan.

“Secara pribadi itu adalah mimpi buruk, malam yang mengerikan. Anda mencoba bahagia untuk tim. tapi ketika Anda kembali ke hotel, semua selesai. Tidak ada perasaan apa-apa,” ungkapnya sepertid dikutip Football5star dari Joe.

Sejak keanehannya di Istanbul, Harry Kewell tak pernah benar-benar kembali. Cedera serta kepercayaan diri yang mulai pudar membuatnya makin terpuruk.

Selama di Liverpool sudah lebih dari satu kali dia memikirkan gantung sepatu. “Saya hampir berhenti bermain sepak bola beberapa kali saat masih di Liverpool. Hanya istri, manajer, dan sahabat dekat saya yang tahu itu,” imbuh sang winger.

Jatuh bangun melawan cedera, sang pemain terus didukung Rafa Benitez. Ketika ia pulih sang pelatih selalu memainkannya. Sayang, mental Kewell sudah kepalang jatuh. Ia gagal bangkit di tahun-tahun terakhirnya membela klub idola.

Menyulut Kebencian Fan Leeds United

Setelah 13 tahun di Inggris, pemain jebolan akademi Marconi Stallions pindah ke Turki. Ia mencoba bangkit dengan Galatasaray.

Upanya berhasil. Bersama Galatasaray Kewell menemukan kebahagiaan baru. Torehan golnya selama dua musim di sana lebih banyak dari yang ia buat saat berada di Liverpool selama lima musim.

Dari 91 penampilan Kewell membukukan 34 gol dan 17 assist. Bandingkan engan 16 gol dan 11 assist yang dibikin dalam 139 laga di Anfield.

Akan tetapi, di sudut Istanbul yang lain itu Harry Kewell menebar benih kebencian untuk orang-orang yang mencintainya. Pindah ke Galatasaray menjadikannya musuh nomor satu fan Leeds United.

harry kewell
express

Fan punya alasan kuat mengapa mereka sangat membenci Galatasaray. Cerita bermula pada 2000 silam kala kedua klub bertemu di semifinal Piala UEFA.

Leg pertama yang berlangsung di Istanbul diakhiri cerita muram. The Whites bukan hanya kalah 0-2, mereka juga harus menerima kenyataan ada dua suporternya yang tak pernah pulang.

Pada pertandingan di stadion Ali Sami Yen itu, fan Galatasaray dan Leeds terlibat bentrokan hebat. Bentrok yang sudah terjadi sebelum laga berlangsung kian memanas saat pertandingan telah berakhir.

Di luar stadion, keadaan makin diluar kendali. Nahas, kerusuhan memakan korban. Dua pendukung Leeds United tewas karena ditikam suporter The Aslan.

Dan pada malam mengerikan itu, Harry Kewell dimainkan David O’Leary selama 90 menit. Dia merasakan kesedihan itu, dia tahu kemarahan suporter dan sudah khatam betapa bencinya mereka pada Galatasaray.

Lalu, delapan tahun setelah itu, dia malah menandatangani kontrak dua tahun di Galatasaray. Fan Leeds jelas tidak terima. Mereka mengecam keras Kewell.

Satu keputusan fatal sang legenda telah mengubah cinta yang dijaga fan Leeds United selama 13 tahun menjadi benci yang masih terasa sampai sekarang.

Terlepas dari kesialan yang kerap membelenggunya, pemain yang pensiun pada 2014 di Melbourne City tetaplah legenda besar Australia. Bersama Mark Viduka, Lucas Neil, Mark Schwarzer, serta Marc Bresciano, dia adalah generasi emas Australia.

Hitam Putih Perjalanan Hidup Legenda Vietnam, Le Cong Vinh

gamespool
Hitam Putih Perjalanan Hidup Legenda Vietnam, Le Cong Vinh 160

Football5star.com, Indonesia – Sepak bola Asia Tenggara sampai saat ini masih dipandang sebelah mata. Negara-negara kawasan ASEAN ini dianggap masih tertinggal dibanding negara Asia lainnya. Meski belum mampu tunjukkan kehebatan di panggung dunia, bukan berarti negara di ASEAN tak memiliki pemain berbakat. Vietnam pernah mempunyai striker jempolan bernama Le Cong Vinh.

Bagi orang Vietnam, nama Le Cong Vinh tidak sekedar striker hebat yang persembahkan gelara Piala AFF 2008. Le dianggap sebagai sosok pesepak bola yang perjalanan hidupnya begitu menginspirasi banyak pemuda di Vietnam. Le lahir 10 Desember 1985 di Quỳnh Luu, salah satu distrik di provinsi Nghe An, Vietnam.

Le Cong Vinh
Laodong.vn

Le berasal dari keluarga yang tak biasa. Kehidupan miris dijalani Le sejak kecil. Saat masih sangat kecil, ayah Le, Cong Vinh dipenjara karena terlibat peredaran narkoba. Ayah Le diduga terlibat dalam jaringan kartel narkotika. Vietnam memang dikenal sebagai pintu masuk dan keluar kartel narkotika di kawasan Golden Triangle.

Delapan tahun Cong Vinh harus mendekam di penjara. Ibu Le, dikenal sangat cantik bekerja sebagai petugas operator di Distrik 4, korps tentara Republik Vietnam pada saat pecah perang Vietnam. Sang suami masuk penjara sementara anaknya masih sangat kecil membuat ibu Le hijrah ke kota Quy Chau untuk menjadi pegadang batu merah.

Dikutip Football5star.com dari Laodong.vn, Rabu (27/1/2021) pada satu momen, ibu Le sempat sangat putus asa. Ia sempat ingin menenggak racun tikus untuk mengakhiri nyawanya. Berasal dari keluarga tak mampu dan banyak mengalami pahitnya hidup tak lantas membuat Le menyerah.

Tak ingin seperti sang ayah yang harus terjerembab ke lembah hitam dengan menjadi pengedar narkoba, Le mencoba mengubah nasibnya dengan bermain sepak bola. Di lapagan hijau, bakat Le terlihat dan menjadi perhatian dari banyak pihak.

Legenda sepak bola Vietnam yang Pikat Penyanyi Cantik

Beberapa waktu lalu, Federasi sepak bola Asia, AFC memberikan penghargaan kepada 5 legenda sepak bola asal Asia Tenggara, selain Bambang Pamungkas dari Indonesia, Le Cong Vinh juga satu diantaranya. Le pertama kali memukau publik Vietnam saat membela negaranya di Piala Tigers 2004.

Di penampilan pertamanya bersama Vietnam, Le mampu mencetak 4 gol dan semenjak saat itu, tim nasional Vietnam selalu membutuhkan tenaganya. Saat sepak bola Vietnam diguncang skandal negatif di Bacolod, Le langsung menjadi harapan nomor satu di tim nasional Vietnam.

Le Cong Vinh
Laodong.vn

Setelah merebut gelar pemain muda terbaik di 2005, ia juga meraih gelar yang sama di 2008. Di tahun itu juga, kariernya di tim nasional Vietnam begitu berkesan. Satu tahun sebelumnya, di Piala Asia 2007, Le mampu membawa Vietnam ke babak perempatfinal namun sayang dikalahkan Irak yang kemudian menjadi juara.

Dua gol kemudian ditorehkan Le saat menghadapi Thailand di babak final Piala AFF 2008. Golnya di final leg kedua yang berlangsung di Stadion My Dinh membuat jutaan orang Vietnam bersorak gembira karena memastikan untuk pertama kalinya negara tersebut meraih gelar Piala AFF.

Pada Piala AFF 2010, Le absen karena cedera. Dua tahun setelah, Le gagal membawa Vietnam lolos dari babak fase grup. Pada Piala AFF 2016, Le memutuskan pensiun muda. Tersingkirnya Vietnam di babak fase grup jadi alasan terbesar Le mengakhiri karier sepak bolanya.

Yang juga menarik dari seorang Le Cong Vinh ialah soal kehidupan pribadinya saat sudah menjadi bintang. Ia diketahui memikat hati penyanyi cantik Vietnam, Thuy Tien. Saat ini kedua pasangan ini dianggap sebagai keluarga yang bahagia.

Dalam otobiografi berjudul 89 menit, Le diketahui sempat mengalami masalah dengan klubnya, Hanoi T&T. Thuy Tien sempat dituding sebagai perusak konsentrasi Le saat bermain. Di saat yang bersamaan Hanoi T&T memang tengah menurun penampilannya.

“Kadang-kadang Thuy Tien pergi ke Hanoi untuk mengunjungi saya dan pergi ke lapangan. Sayangnya tim kami kalah dan itu menjadi sorotan dari banyak pihak.” kata Le.

Le mengaku sempat ditegur oleh pelatih Hanoi T&T. Ia meminta Le untuk bisa mengontrol Thuy Tien dan tiak membuat perhatian lebih dari banyak pihak.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]