Antonio Di Natale Resmi Jalani Peran Baru sebagai Pelatih

gamespool
Antonio Di Natale Resmi Jalani Peran Baru sebagai Pelatih 4

Football5star.com, Indonesia – Mantan striker Udinese dan timnas Italia, Antonio Di Natale menjalani peran baru sebagai pelatih. Di Natale resmi ditunjuk sebagai pelatih tim Serie C, Carrarese.

“Setelah mengadakan pembicaraan dengan beberapa pelatih, Carrarese memilih untuk menunjuk Antonio Di Natale sebagai pelatih baru kami,” bunyi pernyataan resmi klub seperti dikutip Football5star.com dari Football Italia, Senin (12/4/2021),

antonio di natale panorama
panorama.it

Di Natale menjadi pelatih Carrarese menggantikan posisi Silvio Baldini. Saat ini, Carrarese berada di posisi ke-15 klasemen Serie C Italia.

“Seseorang dengan ketenaran sepak bola yang tak terbantahkan dan kemampuan serta keterampilan teknis yang tidak diragukan,” lanjut pernyataan Carrarese.

Di Natatle diketahui telah menjalani kursus kepelatihan FIGC pada September lalu dan masih menjalani pelatihan demi mendapatkan sertifikat kepelatihan.

“Permintaan yang sesuai akan diajukan ke Departemen teknis FIGC untuk mengizinkan Di Natale sepenuhnya untuk menjadi pelatih kepala Carrarese,”

Di Natale mengawali kariernya bersama Empoli itu tercatat membela Le Zebrette selama 12 musim, terhitung sejak musim 2004-05 hingga 2015-16. Ia mencetak 228 gol dan 65 assist dari total 445 laga di semua kompetisi bersama Udinese.

Menjadi bomber ganas di Serie A, banyak klub yang ingin datangkan Di Natale. Sejak 2010, Juventus, mencoba untuk menggoda. Namun, Di Natale dengan tegas menolaknya.

“Juventus? Tidak, terima kasih. Itu saja kata dariku. Aku suka mengatakan bahwa aku seperti (Francesco) Totti dan (Alessandro) Del Piero, aku menjadi sebuah bendera,” kata Di Natale.

Quagliarella: Di Natale Monster Suci dan Rekan Terbaik Saya

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Striker gaek Sampdoria, Fabio Quagliarella, mengungkapkan sosok yang jadi tandem terbaik dalam kariernya. Orang itu adalah legenda Udinese, Antonio Di Natale.

Fabio Quagliarella pernah bermain bersama Antonio Di Natale saat masih meperkuat Udinese maupun timnas Italia. Menurutnya, pemain yang akrab disapa Toto itu seorang striker ulung yang bisa mencetak gol kapan saja.

Eks pemain Juventus bahkan sempat khawatir setiap Di Natale mengunggah video golnya di media sosial. Ia takut para pemain muda akan pensiun jika melihat gol sang rekan.

quagliarella di natale gazzetta
gazzetta.it

“Rekan setim terbaik adalah Di Natale. Dia luar biasa. Dia bisa mencetak gol kapan saja dia mau. Terkadang dia mengunggah beberapa video golnya di Facebook,” ungkap sang bomber kepada Gazzetta dello Sport, Sabtu (28/3/2021).

“Saya lalu bilang padanya ‘jangan lakukan itu atau kamu akan menghentikan perkembangan pemain muda yang berpikir bahwa mereka bisa melakukannya dengan satu tembakan. Ketika mereka melihat golmu, mereka akan pensiun’,” terangnya.

Sanjungan Fabio Quagliarella pada Antonio Di Natale tidak sampai di situ. Tanpa ragu dia menyebut pria yang kini menukangi Spezia U-17 sebagai monster yang suci.

“Sekarang saya cukup mencetak satu gol untuk membicarakan tentang panggilan ke tim nasional. Dulu saya bermain dengan monster suci yang mencetak 30 gol permusim,” tutup bomber 38 tahun.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Antonio Di Natale Ungkap Alasan Tak Tinggal di Kota Markas Udinese

Banner LFS Baru

Football5Star.com, Indonesia – Antonio Di Natale adalah legenda Udinese. Membahasa Udinese, tak mungkin tanpa membahas Di Natale. Dialah pemain tertajam dalam sejarah klub itu. Namun, setelah pensiun pada 2016, dia malah pergi dari kota tempat klub itu bermarkas, Udine.

Mengenai hal itu, Antonio Di Natale memiliki alasan khusus. Sebenarnya, setelah 12 tahun membela Udinese, dia sangat berat hati meninggalkan Udine. Namun, faktor keluarga jadi pertimbangan lain. Jadilah dia akhirnya memutuskan pergi dari Udine.

“Aku telah membuat sejarah. Aku telah menuliskannya. Aku telah melakukan segalanya untuk tetap tinggal di Udine. Aku ingin berterima kasih kepada keluarga Posso dan Kota Udine,” ujar Antonio Di Natale kepada Sky Sport Italia seperti dikutip Football5Star.com dari Tuttomercatoweb.

Antonio Di Natale memutuskan tak tinggal di kota markas Udinese setelah gantung sepatu pada 2016.
salernopost24.it

Akan tetapi, harapan itu ternyata tak sejalan dengan keinginan sang istri, Ilenia Betti. “Istri saya ingin kami kembali ke Empoli. Anak-anak saya juga mulai tumbuh besar. Jadilah kami akahirnya pulang ke rumah,” urai Di Natale.

Empoli adalah klub pertama yang diperkuat Di Natale. Dia bergaung dengan tim junior klub itu pada 1994. Dua tahun kemudian, dia dipromosikan ke tim utama. Sempat menjalani masa pinjaman di tiga klub, dia kembali ke klub itu pada 1999 dan bertahan hingga 2004.

Satu hal yang menarik, meskipun tinggal di Empoli dan terpaksa meninggalkan Udinese, Antonio Di Natale malah bekerja di klub kota lain. Sejak Juli tahun lalu, dia dipercaya menangani tim U-17 Spezia. Sebelumnya, selama semusim, dia jadi asisten Pasquale Marino di tim senior klub tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Ini Telat Buktikan Kehebatannya

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Tidak terhitung jumlahnya para pemain yang membuktikan kehebatannya ketika masih belia. Pele, Kaka, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Jadon Sancho, hingga Erling Haaland, adalah segelintir pemain yang menunjukkan talenta luar biasa saat usianya belum genap 20 tahun.

Pele, Kaka, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo bahkan tampil konsisten ketika sudah berusia di atas kepala tiga. Namun, tidak semua pemain bisa seberuntung mereka.

Tidak sedikit pula pemain-pemain yang baru membuktikan kehebatannya ketika sudah memasuki usia matang. Mereka pun terbukti mampu meraih trofi baik atas namanya sendiri atau pun untuk klub.

Football5star telah merangkum lima pemain yang baru membuktikan kehebatannya saat memasuki usia senja:

  • Luca Toni
LucaToniBayernMuenchenGermanChampionship1VznpOmYpM8l
zimbio.com

Italia adalah rumah bagi striker-striker hebat. Mulai dari Alessandro Altobelli, Paolo Rossi, Christian Vieri, Alessandro Del Piero, hingga Filippo Inzaghi. Setelah era mereka berlalu, Gli Azzurri kembali memiliki striker ganas dalam diri Luca Toni.

Kendati begitu, usia Luca Toni sejatinya tak jauh berbeda dari Alessandro Del Piero maupun Inzaghi. Bahkan ia sempat satu tim dengan mereka ketika membawa timnas Italia juara Piala Dunia 2006.

Bedanya, Luca Toni baru bersinar ketika sudah menginjak usia 27 tahun. Padahal ia telah menjadi pemain profesional sejak berumur 17 tahun dengan memperkuat Modena. Tapi, baru ketika berseragam Fiorentina namanya mencuat.

Bersama Fiorentina ia dua kali menjadi top skorer Serie A. Torehan tersebut akhirnya membawanya memperkuat raksasa Jerman, Bayern Munich. Banyak yang meragukan kehebatannya 2007 silam. Maklum saja, usianya saat itu sudah menginjak 30 tahun.

Tapi lagi-lagi, Toni membuktikan kualitasnya. Pada tahun pertama di Bundesliga ia langsung menjadi top skorer dengan torehan 24 gol.

  • Dado Prso
dado prso-pesmitidelcalcio
pesmitidelcalcio

Kroasia adalah salah satu negara Balkan yang tak pernah berhenti menerbitkan talenta luar biasa. Di balik nama-nama beken seperti Zvonimir Boban, Davor Suker, hingga era Luca Modric kini, ada satu nama lain yang tak boleh dilupakan. Dia adalah Dado Prso.

Tidak seperti Boban, Suker, atau pun Modric yang memperkuat klub besar, Dado Prso lebih sering bermain di klub biasa-biasa saja. Tidak pernah pula ia merasakan kompetisi top Eropa seperti Premier League, Serie A, atau pun LaLiga.

Prso lebih banyak menghabiskan kariernya di Ligue 1 Prancis. Tapi bukan berarti ia menemui kemudahan di sana. Sudah memperkuat AS Monaco sejak 1997, kariernya cukup fluktuatif karena kerap dipinjamkan ke klub lain seperti Stade Raphaelois dan Ajaccio.

Dado Prso baru unjuk gigi pada musim 2002-2003. Padahal usianya sudah menginjak 30 tahun. Tapi jangan ragukan kehebatan pemain Kroasia tersebut. Duetnya dengan Fernando Morientes membuat dia sukses membawa AS Monaco menembus final Liga Champions untuk pertama kalinya.

Tampil luar biasa bersama Monaco, pemain yang sempat menjadi montir itu akhirnya pindah ke Glasgow Rangers setahun kemudian. Dia pun mengakhiri kariernya di raksasa Skotlandia pada 2007 silam.

  • Ian Wright
ianwright shoot com
shoot.com

Siapa yang menyangka jika legenda Arsenal, Ian Wright, harus melalui jalan panjang menuju kesuksesan. Bagaimana tidak, ia sempat ditolak dua klub medioker Inggris, Southend dan Brighton. Padahal usianya ketika itu sudah 21 tahun.

Keputusan Crystal Palace mendatangkannya 1985 silam juga mendapat penolakan dari suporter. Mereka menganggap Wright tidak punya sesuatu yang membanggakan sebelumnya.

Cerita akhirnya berubah ketika paman dari Shaun-Wright Philips bergabung dengan Arsenal  1991 silam. Namun, saat itu dirinya sudah berusia 28 tahun. Walau begitu, di sinilah ia membuktikan talenta sesungguhnya. Tujuh musim bersama The Gunners, ia sukses membukukan 129 gol dan meraih satu trofi Premier League, dua Piala FA, dan satu gelar Piala Liga.

  • Jamie Vardy
Pep Guardiola - Jamie Vardy - Manchester City - @Vardy7
@Vardy7

Jamie Vardy bisa dibilang sebagai pesepak bola paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, ia nyaris putus asa saat berusia 23 tahun. Dia hanya bermain di klub semi pro Inggris seperti Stocksbridge dan Halifax Town, dan disaat bersamaan ia harus bekerja sebagai buruh pabrik untuk menopang hidupnya.

Nasib Vardy kemudian berubah 180 derajat dua tahun kemudian. Ia dibeli Leicester City dari Fleetwood 2012 lalu. Performanya memang tidak langsung mengilap di Stadion King Power. Namun, secara perlahan ia mulai menapaki kesuksesan.

Jamie Vardy baru benar-benar sukses ketika berusia 29 tahun. Saat itu ia sukses mempersembahkan trofi Premier League untuk Leicester City. Pada tahun itu pula dirinya terpilih sebagai pemain terbaik Liga Inggris.

Sempat mengalami naik turun performa, Vardy kembali membuktikan diri sebagai salah satu striker terbaik Inggris sepanjang masa. Musim ini, saat usianya sudah menginjak 33 tahun dia memimpin daftar top skorer Premier League dengan torehan 19 gol.

  • Antonio Di Natale
Di Natale
getty images

Nama terakhir yang telat bersinar adalah Antonio Di Natale. Berbeda dari nama-nama di atas, Di Natale punya pertimbangan sendiri dalam memilih klub. Memang, selama ini ia hanya memperkuat klub-klub semenjana semisal Empoli, Iperzola, Varese, hingga Udinese.

Kendati begitu, bukan berarti sang bomber tidak laku di bursa transfer. Beberapa klub besar seperti AS Roma, Inter Milan, dan Juventus, pernah ingin mendatangkannya. Namun, tawaran menggiurkan tersebut dia tolak.

Pilihan ini tak pelak membuat namanya terus meredup. Tapi Di Natale tidak seperti pemain lain. Ketika kolega yang lain seperti Filippo Inzaghi dan Alessandro Del Piero mulai tenggelam, legenda Udinese justru baru memulai kebintangannya.

Dia menasbihkan diri sebagai top skorer Liga Italia sebanyak dua kali. Lebih hebat lagi, gelar itu didapat ketika dirinya telah berusia 33 dan 35 tahun. Namanya juga masih dipanggil timnas Italia pada Euro 2012 lalu. Padahal saat itu dia telah berumur 35 tahun.  

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Di Natale: Gaya Main Alexis Sanchez Cocok dengan Skema Inter

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Alexis Sanchez makin dekat ke Inter Milan. Kabar ini juga disambut baik oleh legenda Udinese, yang juga mantan rekan Sanchez, Antonio Di Natale.

Pemain asal Cile diyakini akan mendarat di Inter Milan pada Selasa waktu setempat. Bahkan spesialis transfer Italia, Gianluca Di Marzio, memprediksi dia akan langsung menandatangani kontrak dengan klub besutan Antonio Conte dengan status pinjaman.

Bagi Antonio Di Natale, kepindahan sang mantan rekan bisa menjadi titik balik kariernya yang sudah lama tenggelam selama berseragam Manchester United. Ia berkeyakinan skema 3-5-2 yang akan diandalkan Conte akan sangat cocok pada Sanchez.

toto di natale-alexis sanchez (FedeNerazzurra
Fede Nerazzurra

“Alexis ke Inter? Ini akan menjadi pembelian luar biasa. Keberadaan Antonio Conte sebagai pelatih menjadi sinyal bahwa klub punya ambisi yang jelas. Alexis dan klub bisa menang bersama. Dia seorang profesional yang selalu memberikan segalanya di lapangan,” kata Di Natale kepada Gazzetta dello Sport, Senin (19/8/2019).

“Dia akan menjadi pemain yang menentukan dalam skema Inter selama dilatih Conte. Apalagi nanti dirinya akan ditopang pemain kuat seperti Romelu Lukaku. Kepiawaiannya sebagai striker lubang akan menciptakan kekuatan dan kecepatan dalam permainan tim,” ia menambahkan.

Keyakinan pria yang sudah pensiun sejak 2017 ini cukup mendasar. Ia sangat mengenal sosok Alexis Sanchez karena pernah bermain bersama di Udinese dari 2008 hingga 2011 lalu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Di Natale Kembali ke Sepak Bola Bersama Spezia

Banner Footbal Live Star-Football5star

Football5star.com, Indonesia – Selepas memutuskan pensiun di 2016 lalu, Antonio Di Natale kembali berkiprah di dunia sepak bola. Mantan penyerang legendaris Udinese ini direkrut oleh klub Serie B, Spezia. Bersama Spezia, dia akan menjadi konsultan dengan tugas ‘technical collaborator’ bersama tim utama.

Di Spezia sendiri, penyerang yang akrab dipanggil Toto ini akan berkolaborasi dengan Pasquale Marino, pelatih yang menanganinya di musim terakhir bersama Udinese. Bersama klub yang bermarkas di Stadion Friulli tersebut, ia menjadi pemain ikonik yang tak tergantikan. Total, ia mencetak 191 gol di Serie A bersama Udinese.

Di Natale
Foto: Socialfc.it

Karier Di Natale sendiri lekat dengan dua hal: loyalitas dan papan tengah. Sejak memulai karier bersama Empoli, mantan penyerang timnas Italia ini lalu hijrah ke Udinese sejak 2004. Selama 12 tahun di kota Udine, penyerang kelahiran Naples ini sudah koleksi 385 penampilan di Serie A.

Walau menghabiskan karier bersama tim-tim papan tengah, Di Natale termasuk salah satu nama penyerang yang tertajam di Serie A. Ia ada di peringkat 6 jajaran top skor sepanjang masa Serie A dengan koleksi 209 gol di kasta tertinggi Liga Italia tersebut. Hal ini pula yang membuat pria berusia 40 tahun ini begitu disegani dan kerap mendapat panggilan membela timnas.

Walau tak memiliki koleksi trofi juara, Di Natale memiliki medali runner-up Piala Eropa 2012 bersama Italia. Selain itu, ia juga pernah dua musim beruntun menjadi cappocanonieri Serie A di musim 2009/2010 dan 2010/2011.

Spezia, klub yang kini mempekerjakan Di Natale sebagai staf, bertengger di peringkat 6 Serie B. Dari dua laga awal, Spezia koleksi 3 poin hasil dari sekali menang dan sekali kalah.

Kesibukan Baru Di Natale Di Dunia Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Lembaran baru dalam catatan kehidupan eks Penyerang Udinese, Antonio di Natale agaknya akan segera dimulai. Pria yang kini berusia 40 tahun tersebut kabarnya akan segera memulai karier kepelatihannya bersama klub Serie B, Spezia.

antoniodinatale-udinese-seriea-football5star-zimbio
zimbio.com

Akan tetapi di Natale tak langsung menjadi pelatih kepala klub yang bermarkas di Stadion Alberto Picco tersebut. Menurut Gazzetta dello sport,  Ia nantinya akan menemani bekas pelatihnya di Udinese, Pasquale Marino untuk menjadi pelatih striker Spezia.

Selama menjadi pemain di Natale merupakan bomber yang ditakuti lawan. Sebanyak 227 gol dia buat selama 444 penampilan bersama Udinese di seluruh ajang kompetisi. Angka tersebut menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub berjuluk La Zebrette itu.

Tak hanya itu, selama 12 musim memperkuat Udinese tujuh kali diantaranya ia menjadi pencetak gol terbanyak dalam satu musim bagi klub yang bermarkas di Stadion Friuli itu.  Bahkan pada musim 2009-2010 dan 2010-2011 ia sukses jadi top skorer di Serie A.

Pengalamannya tersebut diharapkan mampu membantu mendongkrak performa dari lima penyerang Spezia, Sveinn Aron Gudjohnsen, Irakli Shekiladze, Pablo Granoche, David Okereke, dan Andrej Galabinov.

Di sisi lain Serie B bakal memulaii kompetisinya pada akhir pekan ini. Spezia dijadwalkan bertandang ke Stadion Pierluigi Penzo untuk menghadapi Venezia, Sabtu (25/8/2018).

Di Natale: Spalletti Pasti Bawa Inter ke Liga Champions

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Udinese, Antonio Di Natale, yakin Luciano Spalletti bisa membawa Inter Milan ke Liga Champions musim depan. Menurutnya, juru taktik I Nerazzuri itu adalah seorang pemenangan yang tak akan menyerah dengan keadaan klub saat ini.

Spalletti memang sedang menjalani ujian berat bersama Inter. Sepanjang 2018 ia hanya membawa timnya menang sekali saat menjamu Bologna. Bahkan pekan lalu, Antonio Candreva dkk harus takluk dari Genoa dengan skor 2-0.

Sebagai seorang yang mengenal betul karakter Spalletti, Di Natale pun sesumbar cepat atau lambat mantan pelatihnya di Udinese itu bisa membuat La Beneamata bangkit. Kendati demikian, Di Natale kecewa dengan manajemen Inter yang tidak mendatangkan pemain yang diinginkan sang pelatih.

antonio di natale panorama
panorama.it

“Ia adalah nomor satu. Ia datang ke Inter dan berharap didatangkan pemain yang akan berguna dalam skema permainan yang ingin ia terapkan, namun pemain yang ia harapkan tak kunjung datang,” kata Di Natale kepada RMC Sport, Kamis (22/2/2018).

“Sekarang tim berada diposisi di luar target mereka, tapi saya yakin pada akhirnya Spalletti akan mampu membawa Inter ke Liga Champions,” ia menambahkan.

Sempat menempati pemuncak Serie A, klub kota mode itu kini terlempar dari zona Liga Champions. Mereka kini hanya berada di peringkat lima klasemen dan terpaut satu angka dari AS Roma yang berada di urutan keempat.

Antonio Di Natale Lebih Bagus dari Andrea Pirlo

Football5Star.com, Indonesia – Andrea Pirlo adalah salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Italia. Hal itu pula yang dikatakan Mauro Camoranesi. Namun, jika harus memilih, mantan pemain Juventus itu akan menunjuk Antonio Di Natale yang memiliki teknik lebih bagus ketimbang pemain yang baru menyatakan pensiun tersebut.

Pekan ini, Pirlo baru saja mengumumkan gantung sepatu dari sepak bola setelah memainkan laga pamungkasnya bersama New York City FC. Ia bersama Camoranesi sebelumnya pernah berada satu tim saat keduanya membawa Italia menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.

Berbeda dari kebanyakan pesepak bola lainnya, pria berdarah Argentina itu justru mengatakan bahwa sang maestro bukan yang terbaik di zamannya. Kendati demikian, ia merasa beruntung pernah bermain satu tim dengan sang maestro.

MauroCamoranesiAntonioDiNataleItalyvf pJAd2Lfsol
zimbio.com

“Pirlo adalah pemain tangguh dan saya beruntung pernah berada satu tim saat memenangi Piala Dunia bersama. Apakah dia pemain berbakat yang memiliki teknik terbaik? Bukan. Toto Di Natale lebih hebat darinya,” ungkap Camoranesi seperti dikutip Football Italia, Kamis (9/11/2017).

Walaupun posisi kedua pemain tersebut berbeda, Pirlo dan Di Natale dinilai mempunyai kesamaan dalam tipe permainan. Namun, dari segi teknik dan akurasi, Camoranesi menganggap baha legenda Udinese itu lebih unggul daripada pemain berusia 38 tahun tersebut.

Kendati tidak pernah membela klub besar, Kiprah Di Natale sangat dihormati dan disegani kawan dan lawannya. Ia memutuskan pensiun pada 2016 lalu di Udinese, klub yang dibela sejak 2004 silam.

Di Natale Favoritkan Juventus Raih Scudetto

Football5star.com, Indonesia – Mantan penyerang tim nasional Italia, Antonio Di Natale tetap menjagokan Juventus untuk meraih scudetto musim ini. Meski saat ini, Bianconeri hanya menempati peringkat kedua di papan klasemen. Tim asuhan Massimilliano Allegri tersebut tertinggal dua poin dari Napoli yang kini nyaman duduki tempat teratas. Di Natale menambahkan, kedua tim tersebut paling memiliki peluang menjadi juara sejauh ini.

“Juaranya? Tentu saja Juventus. Mereka masih kuat hingga saat ini. Namun, Napoli sudah mulai melawan dominasi tersebut. Mereka menjelma menjadi tim kuat musim ini. Maurizio Sarri telah melakukan hal hebat sebagai seorang pelatih,” ungkap Di Natale.

Pencetak gol terbanyak Udinese sepanjang sejarah tersebut juga bercerita mengenai kehidupannya usai memutuskan gantung sepatu. Ia menganggap, 20 tahun ia anggap cukup untuk bergelut dengan si kulit bundar dan tidak terbesit keinginan untuk menjadi pelatih. Kini, ia banyak menyibukkan diri dengan berbagai hal di luar lapangan.

“Aku berbisnis sekarang. Bergelut di bidang properti, kopi, dan juga mendirikan semacam sekolah sepak bola di sini. Sekarang waktunya beristirahat. Aku sudah melakukannya lebih dari 20 tahun dan kini, aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk bermain. Mungkin sedikit untuk laga amal,” lanjutnya.

“Totti melakukan hal yang sama. Mungkin ia masih memendam hasrat menjadi direktur di Roma,” tutupnya.

Di Natale: Masa Depan Inter Cerah di Tangan Spalletti

Football5star.com, Indonesia – Inter Milan langsung tancap gas di awal musim ini. Mauro Icardi dkk menjadi sedikit dari tm yang belum pernah menelan kekalahan di Serie A. Hingga memasuki pekan kedelapan, mereka masih bersaing di papan atas dengan menduduki peringkat ketiga dan hanya terpaut dua angka dari sang capolista, Napoli.

Penampilan gemilang musim tersebut tidak lepas dari racikan tangan dingin seorang Luciano Spalletti. Kepiawaian pelatih berkepala plontos tersebut ikut menuai pujian dari mantan anak asuhnya, Antonio Di Natale. Mantan pemain Udinese tersebut menganggap, masa depan Inter sangat cerah karena berada di tangan yang tepat.

“DIa (Spalletti) telah menularkan ide dan mentalitasnya ke Inter. Sekarang, Inter telah berubah menjadi tim yang butuh perjuangan untuk ditaklukan. Mereka bisa finis di peringkat ketigak seperti tempat mereka sekarang. Dia membuatmu mengerti apa yang harud dilakukan Minggu nanti, menang!,” kata Di Natale.

Spalletti pernah terlibat kerja sama sebanyak dua kali bersama Di Natale. Hal itu terjadi pada Maret hingga Juni 2001 dan Juli 2002 hingga Juni 2002 ketika menangani Udinese. Spalletti pernah secara mengejutkan membawa Udinese finis di peringkat keempat pada musim 2004-05. Mereka pun berhak atas jatah di Liga Champions di musim berikutnya. Akan tetapi, pelatih yang kini berusia 58 tahun tersebut memutuskan pindah ke AS Roma pada musim 2005-06.

Menurut Di Natale, Spalletti memiliki metode unik ketika menangani sebuah tim. Ia mengandalkan komunikasi interpersonal untuk membangun ikatan di dalam klub. Dengan kemampuan motivasi yang ia miliki, para pemain jadi lebih percaya diri di atas lapangan.

“Dia adalah pribadi yang senang sekali mendatangi satu per satu pemain untuk berdiskusi. Ia bisa membuat para pemain memiliki pandangan yang sama dengan dirinya. Hampir sama seperti Mourinho. Kalau aku yang dilatihnya, aku bisa mencetak lebih dari 20 gol semusim,” tutup Di Natale

Di Natale Anggap Insigne Tumpuan Italia di Masa Depan

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain Udinese, Antonio Di Natale genap berusia 40 tahun hari ini. Ia tergabung ke dalam generasi emas penyerang tim nasional yang berisi nama-nama beken seperti Alessandro Del Piero, Christian Vieri, serta Christian Vieri yang mencuat di era yang sama. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, ia mengaku sudah menemukan sosok tepat sebagai pengganti dirinya di masa depan.

Pilihannya jatuh kepada pemain Napoli, Lorenzo Insigne. Di Natale menilai, pemain berusia 26 tahun memiliki kriteria tepat untuk menjadi legenda tim nasional.

“Dia adalah pemain berbakat. Kini ia telah menjelma menjadi pemain papan atas. Saat masih bermain, aku bilang padanya untuk mencetak gol lebih banyak lagi. Kini, ia telah melakukannya dengan baik,” papar Di Natale.

Selain Inzigne, ia juga memuji dua penyerang potensial lainnya yang bisa menjadi andalan di masa depan. Di Natale menyebutkan dua nama yang bisa menemani Insigne meneruskan estafet menjadi tulang punggung sepak bola di Negeri Pizza tersebut.

“Andrea Belotti, dan Ciro Immobile juga bagus. Namun, mereka berdua punya karakter berbeda. Sebagai penyerang, Belotti bermain seperti binatang dengan penampilannya musim lalu. Sementara Immobile lebih berperan sebagai penyerang bayangan,” jelasnya lagi.

“Zamanku dulu, kami punya Christian Vieri, Filipo Inzaghi, Luca Toni, Totti, Del Piero, Maldini, Nesta, Cannavaro. Sekarang, semuanya telah banyak berubah,” lanjutnya.

Selama berkarier sebagai pemain, Di Natale tercatat hanya membela dua tim yakni Udinese dan Empoli. Saat masih berseragam Udinese, ia telah mencetak 227 gol dari 445 penampilan. Kemudian di Empoli, dirinya mengemas 55 gol dari 179 laga.

 

Liga Italia: Alasan Di Natale Tolak Juventus

Eks striker Udinese dan tim nasional Italia, Antonio Di Natale, mengklaim bahwa dirinya sempat diminati oleh Juventus.

Juventus melancarkan pendekatan pada 2010, ketika Giuseppe Marotta baru menjabat sebagai direktur. Saat itu, tim berjulukan I Bianconeri tengah mencari pengganti David Trezeguet yang pergi secara gratis.

Ketertarikan Juventus turut dilatarbelakangi atas dasar prestasi. Bersama Udinese, Di Natale mengakhiri musim 2010-2011 dengan predikat pencetak gol terbanyak Serie A.

Hanya, nama besar Juventus tidak lantas membuat Di Natale tergiur.

“Saya menolak Juventus karena merasa senang dengan kehidupan keluarga di Udine,” kata Di Natale kepada Incontro Olympia.

“Ada ikatan antara saya dengan seragam dan suporter klub. Saya menyadari bisa berperan penting di Udinese.

“Pilihan ini diambil dengan hati dan pikiran. Jadi, saya tidak merasakan penyesalan apa pun dalam karier,” ucap sosok berusia 38 tahun itu.

Di Natale akhirnya terus membela Udinese hingga musim 2015-2016. Setelah itu, dia memutuskan gantung sepatu.

“Tangisan Bayi” Di Natale di Laga Terakhirnya Bareng Udinese

Laga Udinese kontra Carpi jadi pertandingan terakhir Antonio Di Natale bersama Il Zebrette. Di Natale pun tak kuasa menahan air mata yang deras mengucur.

Laga pekan ke-38 di Friuli, Minggu (15/5) malam WIB kemarin, jadi laga spesial untuk Udinese. Sebab kapten sekaligus striker andalannya Di Natale memutuskan untuk meninggalkan klub tersebut.

Sayangya perpisahan Di Natale ternodai kekalahan 1-2 dari Carpi. Namun, satu gol bisa dibuat olehnya dari titik penalti.

Segalanya berjalan biasa-biasa saja untuk Di Natale sampai dia memasuki ruang ganti tim. Diakui oleh Di Natale, dia tak bisa menahan air mata yang mengucur deras. Haru biru mewarnai kepergian Di Natale yang menghabiskan 12 tahun kariernya bersama Udinese.

Meski tawaran kerap datang dari tim-tim besar Italia dan juga Eropa, Di Natale tetap setiap berseragam hitam-putih. Dia tak pernah sekali pun berpikir untuk pergi.

Dia membuat hampir 450 penampilan di seluruh kompetisi sejak gabung 2004 dari Empoli. Ada total 227 gol dibuatnya sebelum memutuskan pergi akhir musim ini ketika kontraknya habis.

“Saya rasa pada akhirnya perjalanan bersama selama 12 tahun ini begitu hebat. Saya ingin berterima kasih kepada klub, semua orang yang bersama saya selama ini,” ujar Di Natale di Sky Sports.

“Saya membuat diri sendiri cedera saat latihan, tapi saya ingin bermain di 20 menit terakhir dan dokter tim mengizinkannya,” sambungnya.

“Saya tenang-tenang saja sampai kemarin, tapi ketika saya duduk di ruang ganti malam ini, saya menangis seperti bayi. Bayangan selama 12 tahun itu terlintas.”

“Saya menciptakan 227 gol. Saya memberikan banyak hal untuk klub ini, mencetak banyak gol, jadi saya berharap tetap jadi bagian sejarah klub ini,” tutupnya.

Di Natale Lebih Berpeluang ke AS Dibanding ke Tiongkok

Karier Antonio Di Natale bersama Udinese diperkirakan akan tuntas pada akhir musim 2015-16. Ke depannya, mantan striker timna Italia itu siap berpetualang ke luar Italia. Destinasinya favoritnya adalah Amerika Serikat, bukan Tiongkok.

Setelah 12 tahun mengabdi untuk Udinese, Di Natale tampaknya sudah siap pergi pada musim panas mendatang. Meski demikian, striker berusia 38 tahun itu tak mau langsung pensiun dari sepak bola. Dia masih ingin merasakan karier di luar Italia.

“Saya rasa petualangannya bersama Udinese sudah berakhir, setidaknya hal itu yang saya yakini. Namun, saya yakin juga Toto -sapaan Di Natale- masih ingin bermain sepak bola. Memang, ada opsi memperbarui kontrak dengan Udinese, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk mengaktifkan klausul itu,” jelas agen Di Natale, Bruno Carpeggiani kepada TMW Radio.

Seiring masa depannya yang kian samar di Udinese, beragam rumor lantas bermunculan. Ada pula yang menawari Di Natale pekerjaan sebagai asisten pelatih. Namun, opsi bermain di luar negeri agaknya menjadi pilihan. Namun, akan sangat sulit melihat Di Natale bermain di Tiongkok, yang kini ramai dipenuhi pemain kelas dunia.

Belakangan memang cukup marak pesepak bola dunia yang menerima tawaran bermain di Liga Super Tiongkok karena iming-iming bayaran besar. Akan tetapi, hal itu agaknya tak membuat Di Natale kepincut.

Ada kontak dengan klub. Istrinya dari Empoli, tapi kami tak pernah berkesempatan negosiasi. Ada banyak rumor pula, dari mulai menjadi asisten pelatih Vincenzo Montella (di Sampdoria, Red), atau Luciano Spalletti (di AS Roma, Red), hingga bermain di Fiorentina. Saya lebih melihat peluangnya adalah menyeberang, entah itu ke AS atau Dubai. Namun, akan sulit dia ke Tiongkok karena alasan keluarga,” pungkas sang agen.

Lawan Juventus, Udinese Andalkan Di Natale

Pelatih Udinese, Stefano Colantuono, mengkomfirmasi bahwa ia akan mengandalkan Antonio Di Natale pada laga melawan Juventus, Minggu (17/1).

Menjelang laga lanjutan Serie A antara Udinese menghadapi Juventus di Friuli, Colantuono mengakui bahwa sang lawan memang sedang berada dalam performa yang gemilang. Anak-anak asuhan pelatih Massimiliano Allegri tengah meraih sembilan kemenangan beruntun di liga.

Meski demikian, Colantuono tetap optimistis timnya dapat membuat Bianconeri kesulitan.

“Kami harus mencoba untuk menghentikan Juventus memainkan sepak bola mereka, karena mereka menunjukkan kualitas hebat dan memiliki performa terbaik di Serie A saat ini. Cara untuk melakukannya adalah dengan bermain agresif dan menyerang,” terang Colantuono seperti yang dikutip oleh Football Italia.

“Perbedaan antara Juventus dengan klub lainnya adalah mentalitas. Mereka menghadapi tim papan atas dan papan bawah dengan cara yang sama,” tambah dirinya.

Untuk menghentikan kemenangan beruntun La Vecchia Signora, Colantuono siap untuk memainkan Di Natale sejak menit pertama.

“Di Natale akan bermain lawan Juve. Ini adalah pertandingan untuknya, laga yang dapat mengeluarkan kemampuan terbaik dari seorang juara,” ujar Colantuono.

“Ia berada dalam kondisi yang baik, calon lawan yang dihadapi membuatnya termotivasi dan saya yakin ini akan menjadi partai untuknya,” lanjutnya.

Di Natale: Pensiun? Omong Kosong

Striker gaek Udinese, Antonio Di Natale membantah kabar yang menyebutkan dirinya akan segera pensiun. Menurut Di Natale, kabar itu hanya omong kosong.

Di Natale sempat dilaporkan bakal pensiun pada akhir tahun ini. Dia disebut gerah karena menjadi cadangan di Udinese. Maklum, sebagai kapten, pemain berumur 38 tahun ini dikabarkan ingin selalu bermain.

Akan tetapi, berita itu dibantah oleh Di Natale. Dia berkata, “Saya sedih mengetahui hal yang ditulis mengenai saya akhir-akhir ini. Pelatih dan rekan setim saya tetap menghormati saya meskipun tidak bermain. Semua yang saya baca omong kosong.”

Sebelumnya La Gazzetta dello Sport melaporkan laga melawan Torino pada 20 Desember nanti akan menjadi pertandingan terakhir bagi Di Natale. Dia sempat disebutkan bakal gantung sepatu karena kalah bersaing dengan Rodrigo Aguirre yang baru berumur 21 tahun.

“Keadaan kami di Udinese sangat baik. Hal terpenting adalah meraih hasil. Apa yang dikatakan tentang saya dan Aguirre tidak masuk akal. Saya tidak pernah berkata tidak mau menjadi cadangannya. Dia masih muda dan membutuhkan kesempatan bermain,” ujar Di Natale.

Di Natale merupakan salah satu pemain legendaris di Serie A. Dalam usia yang tidak lagi muda, ketajamannya di depan gawang masih apik. Musim lalu Di Natale sanggup membuat 14 gol di Serie A. Bahkan, sekarang dia sudah membuat 208 gol di Serie A.