“Bandingkan Klopp dengan Rodgers Tiga Tahun Lagi”

Liverpool saat ini duduk di peringat kedelapan Liga Inggris dan terpaut sebelas poin dari zona Liga Champions. Situasi ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan Juergen Klopp.

Sejak ditangani Klopp, The Reds sudah menderita lima kekalahan di Liga Inggris. Orang-orang mulai menganggap Klopp tak berbeda jauh dengan manajer sebelumnya, Brendan Rodgers.

Namun, hal itu dibantah oleh Jamie Carragher. Mantan bek Liverpool itu meminta orang-orang membandingkan Klopp dengan Rodgers tiga tahun lagi. Menurutnya, perbandingan itu tak adil karena tim yang diasuh Klopp sekarang adalah tim yang dibangun Rodgers selama tiga tahun.

“Orang-orang menghakimi Klopp dan membandingkan dia dengan Rodgers serta poin yang mereka berdua raih dalam jumlah laga tertentu. Padahal, tim saat ini adalah tim yang dibandung Rodgers selama tiga tahun. Ini bukan tim yang dibentuk Klopp. Dia belum membeli satu pemain pun,” kata Carragher.

“Bandingkanlah Klopp dengan Rodgers sesuka anda tiga tahun lagi. Saat ini dia memiliki tim bikinan orang lain. Dia mendapatkan beberapa hasil fantastis yang memberikan harapan untuk masa depan. Dia sudah menunjukkan apa yang bisa dia lakukan untuk tim ini,” tambah pria 38 tahun itu.

“Saya rasa Klopp mengira dia memiliki tim yang lebih baik dari kenyataannya. Tapi sekarang, dia tahu ada banyak hal yang mesti dikerjakan untuk membenahi tim ini,” ujar Carragher.

Klopp Sempat Diberi Wejangan oleh Rodgers

Brendan Rodgers memang sudah dipecat oleh Liverpool, namun dia tidak bisa begitu saja lepas dari mantan klubnya itu. Bahkan saat pengangkatan Juergen Klopp, Rodgers sempat memberi sedikit wejangan untuk penerusnya itu.

Masa 2,5 tahun kepemimpinan Rodgers harus tuntas pada awal Oktober 2015 lalu, setelah Liverpool memecatnya karena serangkaian hasil buruk tim di awal musim. Klopp lantas datang menggantikannya setelah rehat beberapa bulan usai pergi dari Borussia Dortmund.

Datang ke kompetisi baru di pertengahan musim memang tidak mudah untuk Klopp. Setelah sempat tancap gas di awal masa kepelatihannya, dalam dua bulan terakhir, penampilan Liverpool justru naik-turun, termasuk saat dikalahkan 0-2 oleh Leicester City, Rabu (3/2) dini hari WIB tadi.

Soal bagaimana kerasnya persaingan di Premier League, Klopp sendiri sudah diwanti-wanti oleh Rodgers di awal kedatangannya. Keduanya bahkan mengadakan pertemuan empat mata di rumah Rodgers.

“Saya ingat ketika pertama kali Klopp mengambil pekerjaan ini dan kami duduk bersama serta saling berbicara,” ujar Rodgers seperti dikutip Mirror.

“Kami saling berbincang bareng di rumah saya. Dia orangnya ramah. Apa pun yang dia butuhkan untuk memudahkan pekerjaannya, saya siap membantu,” sambungya.

Dari 27 pertandingan yang sudah dilaluinya, Klopp meraih 12 kemenangan, delapan seri, dan tujuh kekalahan.

Rodgers: Bersabarlah dengan Benteke

Sebagai orang yang membeli Christian Benteke, Brendan Rodgers tahu bahwa si pemain punya potensi untuk jadi striker top. Namun, Rodgers meminta kepada Liverpool bersabar dan memberi Benteke waktu.

Benteke dibeli dari Aston Villa dengan banderol 32,5 juta poundsterling untuk memperkuat lini depan Liverpool yang tampil melempem musim lalu. Produktivitasnya bersama Villa jadi alasan Liverpool mendatangkannya.

Namun, sejauh ini, Benteke justru tampil mengecewakan dan dianggap tidak cocok dengan permainan Liverpool saat ini, baik itu saat masih dilatih Rodgers maupun kini Juergen Klopp.

Pemain berpaspor Belgia itu baru bikin tujuh gol dan lima assist dari 29 penampilannya di seluruh kompetisi. Belakangan Klopp malah sering mencadangkannya dan memilih memainkan Roberto Firmino sebagai penyerang tunggal.

Hal ini lantas membuat Benteke disebut-sebut akan dilego musim panas nanti. Apalagi Liverpool juga butuh dana segar demi mendatangkan pemain depan baru yang lebih oke.

Namun, Rodgers menyarankan agar hal tersebut tidak dilakukan mengingat Benteke punya potensi untuk menjadi sehebat Robert Lewandowski, mantan anak didik Klopp yang kini jadi striker Bayern Munich.

“Kami rasa saat itu Christian adalah striker yang produktif. Kami merasa di adalah pemain yang tidak kami punya dalam skuat. Masalahnya adalah soal kesabaran. Harusnya itu tidak boleh ada batasnya,” tutur Rodgers di Mirror.

“Kita bicara soal kesabaran. Contoh saja Robert Lewandowski di Bayern Munich dan dia mungkin tidak akan mendapat kesabaran yang sama di Premier League, seperti yang didapat di Bundesliga, dan coba lihat dia saat ini,” lanjutnya

“Seiring berjalannya waktu, Christian akan menunjukkan bahwa dia adalah pemain top,” tutupnya.

Dilatih Klopp, Masa Depan Benteke Aman

Striker Liverpool, Christian Benteke, menjadi salah satu sorotan tajam di Liga Inggris musim ini. Pada awalnya, pemain asal Belgia itu diharapkan bisa menjadi sumber gol Liverpool di lini depan. Namun, kenyataannya Benteke baru menghasilkan enam gol dari 20 laga di Liga Inggris musim ini.

Kendati begitu, mantan manajer Liverpool, Brendan Rodgers, meyakini masa depan Benteke di Anfield akan tetap aman. Pasalnya Liverpool dilatih oleh Juergen Klopp yang sejak di Borussia Dortmund sudah meminati mantan striker Aston Villa itu. Keduanya bahkan pernah bertemu di Jerman pada 2013 silam.

Saat itu, usaha Klopp untuk mendatangkan Benteke ke Dortmund gagal terwujud. Namun pada akhirnya, mereka saling bertemu di Liverpool. Jadi, Klopp diyakini tak akan menyia-nyiakan Benteke apalagi melepas ke klub lain. Rodgers menilai Benteke dan Klopp hanya butuh waktu untuk saling klop.

“Di negara ini, segalanya sangat bersifat jangka pendek. Bukan begitu? Orang memandang bahwa anda datang dan harus mencetak 20 gol di musim pertama. Jika tidak, anda dicap gagal. Saya rasa Klopp tak akan melihat seperti itu. Dia berusaha mendatangkan Benteke ketika masih di Dortmund,” kata Rodgers.

“Dia tahu Benteke pemain bagus. Dia pernah bertemu Benteke dan agennya di Jerman. Klopp datang ke Liveropol dan tahu dia ingin menggunakan jasa Benteke. Namun, Benteke perlu sedikit waktu untuk memahami bagaimana tim ingin bermain dan bagaimana Klopp ingin dia menekan lawan,” sambungnya.

Suarez Menuju Gelar Pemain Terbaik Dunia

Luis Suarez sedang tampil bagus bersama Barcelona di musim ini. Pemain asal Uruguay itu dinilai sedang menuju gelar sebagai pemain terbaik dunia.

Suarez saat ini menjadi top skorer sementara Barca. Dia sudah mencatatkan sebanyak 29 gol dalam 29 penampilan bersama Los Cules di semua ajang yang dilakoni di musim ini.

Bersama Barca musim lalu, sebenanrnya Suarez sudah masuk ke dalam kandidat peraih FIFA Ballon d’Or. Tapi dia tak masuk ke dalam tiga kandidat akhir. Dia kalah bersaing dengan Cristiano Ronado.

Eks manajer Liverpool, Brendan Rodgers mempunyai keyakinan tinggi bahwa Suarez akan mampu menggapai Ballon d’Or di masa mendatang. Dia juga menyoroti kegagalna Suaez masuk ke dalam tiga kandidat final Ballon d’Or bersama Lionel Messi dan Neymar.

“Dia sedang dalam perjalanan (untuk menjadi pemain terbaik dunia). Untuk dia, tak berada di tiga besar Ballon d’Or (2015) sungguh luar biasa,” kata Rodgers di Sky Sports.

“Ada politik di belakang putusan tak dimasukkannya dua ke dalam golongan itu. Dia meninggalkan Liverpool sebagai pemain berkelas dunia dan dia masuk ke tim Barcelona yang sudah berada di papan atas dan dia membuat mereka menjadi lebih baik.”

“Bermain di level itu sudah membuat dia menjadi pemain yang lebih baik. Dia masih cukup muda untuk memenangi Ballon d’Or,” imbuh manajer yang pernah menangani Swansea City itu.

Rodgers Tak Menolak Bila Ditawari Melatih Timnas Inggris

Mantan manajer Liverpool, Brendan Rodgers, menepis isu mengenai tawaran melatih timnas Inggris usai gelaran Piala Eropa 2016 mendatang. Rodgers mengaku belum mendapatkan kontak dari Federasi Sepak bola Inggris, FA, perihal itu.

Saat ini timnas Inggris masih ditangani oleh manajer Roy Hodgson. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda perpanjangan kontrak Hodgson hingga saat ini.

Situasi inilah yang membuat Rodgers digadang-gadang menjadi manajer timnas Inggris berikutnya. Namun Rodgers mengaku masih menikmati masa-masa istirahatnya usai dipecat Liverpool beberapa waktu lalu.

“Anda harus mendapatkan tawaran terlebih dahulu baru bisa mempertimbangkannya,”

“Bagi saya, harapan saya adalah bisa terus melatih hingga 20 tahun ke depan. Saat ini saya menikmati momen-momen tak melatih. Tetapi pada musim panas nanti saya sudah siap untuk kembali melatih, baik itu di Inggris maupun di belahan dunia lain.”

Selain timnas Inggris, nama Rodgers sebelumnya juga sempat dihubung-hubungkan dengan Chelsea. Pria berusia 42 tahun ini disebut bakal menjadi manajer Chelsea selanjutnya. Akan tetapi, pemilik Chelsea, Roman Abramovic menjatuhkan pilihannya pada Guus Hiddink sebagai manajer interim hingga akhir musim.

Rodgers: MU Masih Bisa Jadi Juara

Eks manajer Liverpool, Brendan Rodgers, masih yakin Manchester United bisa juara Premier League musim ini. Pasalnya, Setan Merah bakal bangkit di paruh kedua musim nanti dan merangsek ke papan atas.

Penilaian Rodgers ini diutarakan usai melihat kemenangan MU 1-0 atas Liverpool di Anfield hari Minggu lalu. Saat itu MU mampu melewati laga dengan tiga poin meski didominasi The Reds sepanjang 90 menit.

Kemenangan itu memperpanjang juga catatan tak terkalahkan MU di empat laga terakhirnya. MU pun kini ada di posisi kelima klasemen dengan 37 poin, selisih dua angka dari Tottenham Hotspur di posisi keempat.

Dengan musim masih menyisakan 16 pekan lagi, peluang MU tak hanya untuk bisa finis empat besar melainkan bisa bersaing memperebutkan gelar juara. Sebab mereka cuma berjarak tujuh angka dari Arsenal dan Leicester City di posisi dua teratas.

“Saya pikir kalau ada sebuah tim yang bisa merangkai sebuah laju bagus di paruh kedua musim maka mereka (MU) punya kemampuan melakukan hal tersebut,” tutur Rodgers yang dikutip Eurosport.

“Persaingan Liga musim ini amatlah terbuka dan mengalahkan Liverpool di Anfield merupakan sebuah kemenangan besar buat mereka. Saya pernah terlibat dalam laga-laga melawan Manchester United dan anda tahu betapa besarnya arti kemenangan macam itu buat semua orang,” sambungnya.

“Mereka membuat clean sheet, meraup tiga poin, dan takkan terlalu ambil pusing dengan cara mainnya. Mereka akan senang dengan kemenangan itu, melirik posisinya di liga, dan merasa kalau mampu merangkai delapan, sembilan, atau sepuluh kemenangan maka mereka akan punya peluang bagus menjuarai liga.”

“Louis van Gaal sarat pengalaman dan sudah pernah menangani klub-klub besar. Tapi ketika Anda berada di klub besar, urusannya bukan cuma menang melainkan juga cara bermain dan itulah yang dikritik dari dirinya. Ia kelas atas untuk perkara manajemen dan sudah seperti itu selama bertahun-tahun,” tutupnya.

Rodgers Kecam Kebijakan Transfer Liverpool

Mantan manajer Liverpool, Brendan Rodgers, mengungkapkan bahwa bintang masa depan tim nasional Inggris, Dele Alli, sebenarnya hampir bergabung ke Anfield saat masih menimba ilmu di MK Dons.

Namun negosiasi kedua klub gagal ditengah jalan, akibat ditolak direksi The Reds.

“Kami berpikir kami akan memilikinnya, saat itu manajer MK Dons yang merekomendasikannya kepada kami” ungkap Rodgers kepada The Sun.

“Kami sudah menjalin kontak sangat intensif dengan Dele (Alli). Saya bahkan telah berbicara dengan orang tua angkatnya. Saya mengabiskan beberapa jam bersama dia (Dele Alli) di kamar hotel, dan sudah jelas dia sangat ingin bermain bersama Liverpool,” tambahnya.

“Transfer Dele memang sudah hampir saja terjadi. Namun sangat disayangkan itu semua tidak pernah terealisasi. Sebenarnya dia memilih Tottenham karena merasa putus asa akibat transfernya dengan Liverpool tidak kunjung terjadi. Sekarang dia benar-benar bermain dengan baik bersama Tottenham,” jelas pria berusia 42 tahun ini.

Rodgers menilai kalau permasalahan transfer gagal seperti kasus Alli dikarenakan kebijakan yang dimiliki oleh petinggi Liverpool, Fenway Sports Group, yang lebih memilih pemain-pemain bintang.

Salah contoh kebijakan Fenway Sports Group adalah pembelian Mario Balloteli dari Milan, yang jelas bukan merupakan rekomendasi dari Rodgers. Mantan manajer Swansea ini sebenarnya juga menginginkan pemain-pemain muda berbakat seperti Ryan Bertrand dan Ashley Williams, namun selalu mendapat penolakan dari dewan direksi.

“Pemilik klub (Liverpool) adalah orang-orang yang luar biasa. Namun mereka jelas memiliki kebijakan yang berbeda dengan yang saya inginkan,” keluh Rodgers.

Rodgers Klaim Suarez Nyaris Gabung Juventus

Mantan manajer Liverpool, Brendan Rodgers mengungkapkan bahwa Luis Suarez pernah memiliki peluang bergabung dengan Juventus.

Pada 2011 lalu, Suarez terlibat perselisihan dengan bek kiri Manchester United, Patrice Evra. Atas perbuatannya, FA pun menjatuhkan hukuman kepada Suarez yakni larangan bertanding sebanyak delapan laga serta denda 40 ribu pounds.

Suarez berulang kali mengatakan dirinya tidak bersalah. Namun, sorotan media-media di Inggris begitu tajam dan membuat bomber asal Uruguay itu gerah dan mulai mempertimbangkan untuk hengkang dari Liverpool.

Juventus mencoba memanfaatkan situasi tersebut dan berniat memboyong Suarez ke Serie A. Akan tetapi, dia akhirnya memilih bertahan bersama Liverpool dan bahkan memperpanjang kontraknya selama dua tahun ke depan.

“Luis (Suarez) melalui musim panas yang panjang dan sulit mempertimbangkan untuk hengkang. Segala sesuatunya tampak sulit bagi dia,” beber Rodgers, seperti dilansir Sky Sports’ Goals.

“Saya sedang melakukan persiapan untuk tahun pertama sejak saya bergabung dengan Liverpool. Juventus menginginkan dia dan dia ingin pindah, tetapi saya meyakinkan dia untuk bertahan,” tandas Rodgers.

Selama memperkuat Liverpool, Suarez mencatatkan 82 gol dan 53 assist dari 133 penampilan sebelum hengkang ke Barcelona pada musim panas 2014 lalu.

Dele Alli Nyaris ke Liverpool

Mantan manajer Liverpool, Brendan Rodgers, membeberkan bahwa Dele Alli nyaris pindah ke Anfield. Hal itu terjadi sebelum Alli menerima pinangan Tottenham Hotspurs pada Februari 2015.

Saat itu, Alli masih bermain di MK Dons dan sudah dikenal sebagai penggemar The Reds. Rodgers mengisahkan bahwa manajer MK Dons, Karl Robinson, yang menawarkan Alli pada dirinya. Dia pun telah berbicara empat mata dan bersepakat dengan Alli. Namun, Liverpool dan MK Dons gagal bersepakat.

Akhirnya, Alli malah hijrah ke Tottenham dan bersinar terang pada musim ini.

“Kami berpikir sudah memiliki dia di Liverpool. Manajer MK Dons mengantar dia kepada kami. Mereka bermain pada Sabtu, kami bermain melawan West Ham pada Minggu. Kami menjalin kontak dengan Alli. Saya berbicara dengan Karl Robinson, Alli, dan orang tua yang mengadopsinya,” kenang Rodgers.

“Karl melakukan sesuatu yang hebat pada pemain itu. Dia datang pada saya dan bilang, ‘Saya punya pemain yang sangat menarik dan saya ingin melihatnya bermain di Liverpool’. Saya menghabiskan beberapa jam di ruang hotel bersamanya dan dia ingin pergi ke Liverpool,” lanjut manajer asal Irlandia Utara itu.

“Kami tinggal menunggu kesepakatan terjadi antara kedua klub, tapi hal itu sama sekali tidak terjadi. Pada Sabtu sore, kami berpikir sudah ada kesepakatan, tapi dia malah pergi ke Tottenham. Itu sangat mengecewakan dan membikin frustrasi. Namun, saat ini dia bermain sangat bagus di sana,” bilang Rodgers.

Rodgers Tak Mau Buru-Buru Melatih Lagi

Brendan Rodgers mengaku banyak mendapat tawaran melatih dari Inggris maupun luar Inggris. Meski demikian, Rodgers ingin memanfaatkan waktu liburannya lebih dulu sebelum memutuskan akan melatih di mana.

Sejak dipecat Liverpool pada awal Oktober lalu, Rodgers memang tengah menganggur. Waktu luangnya lebih banyak dihabiskan bersama pacar, teman, dan keluarga.

Meski sudah empat bulan tak ada pekerjaan, bukannya Rodgers tidak laku karena dia mengklaim dirinya masih mendapat banyak tawaran melatih. Namanya sempat dihubung-hubungkan untuk melatih Newcastle United dan Chelsea beberapa waktu lalu.

Namun, setelah tiga tahun yang penuh lika-liku bersama Liverpool, Rodgers mengaku butuh butuh istirahat sebelum melatih lagi musim depan. Manajer asal Irlandia Utara itu bakal berpikir masak-masak dulu sebelum membuat keputusan akhir terkait kelanjutan kariernya.

“Saya banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, bepergian. Menjadi manajer itu memang menyenangkan, tapi saya ingin memastikan bahwa saya punya sedikit berpikir lalu melihat tantangan yang ada di depan nantinya,” ujar Rodgers seperti dikutip Soccerway.

“Semoga saja saya bisa kembali melatih pada musim panas nanti,” sambungnya.

“Saya tengah mempertimbangkannya. Saya mendapat banyak tawaran sejak saya dipecat, baik itu dari luar negeri maupun di Inggris, tapi saya ingin beristirahat dulu dan mengembalikan lagi motivasi saya.”

“Tak masalah melatih di mana setelah ini selama tantangan yang menarik dan klub ingin bekerja dengan saya serta bekerja bareng. Ke manapun Anda melatih, Anda harus menang. Di negara mana pun anda bekerja, anda harus bisa memiliki peluang untuk juara.”

“Nyaris menjadi juara bersama Liverpool itu sesuatu yang membuat Anda bersemangat,” tutupnya.

Incar Sanchez, Rodgers Mendapatkan Balotelli

Brendan Rodgers mengungkapkan penyesalannya mendapatkan Alexis Sanchez. Pada akhirnya Rodgers harus rela mendapatkan Mario Balotelli yang merupakan keinginan pemilik Liverpool.

Sanchez jadi incaran utama The Reds usai melepas Luis Suarez ke Barcelona dengan banderol 75 juta poundsterling. Kebetulan Sanchez saat itu juga tengah menuju pintu keluar dari Camp Nou.

Segala pendekatan sudah dilakukan oleh Rodgers saat itu, namun pada akhirnya Sanchez gagal gabung dan malah berbelok ke London Utara untuk gabung ke Arsenal. Penyesalan yang dirasakan Rodgers hingga saat ini melihat penampilan pesepakbola Cile tersebut.

“Saya hanya menangani tim yang memang saya ingin tangani, tapi ada kondisi di mana kami tidak bisa mendapatkan pemain yang saya inginkan,” ujar Rodgers seperti dikutip Soccernet.

“Pukulan telak untuk kami karena kami merasa sudah mendapatkan Alexis Sanchez. Kami sudah merasa Luis Suarez bakal pergi dan dia bakal menjadi pengganti sepadan,” sambungnya.

“Dia akan sangat sempurna untuk kami, bagaimana agresifnya dia dan menekan dalam permainan. Jika kami mendapatkan Alexis setelah Luis pergi, maka proses transisi akan berjalan mulus. Lalu kami membeli Rickie Lambert untuk mendampinginya.”

Gagal mendapatkan Sanchez, Liverpool malah mengalihkan buruan kepada Balotelli, yang sebenarnya tidak diinginkan Rodgers. Benar saja ketika kelanjutan cerita tak seperti yang diharapkan, Balotelli gagal bersinar dan Liverpool terpuruk.

“Jika pemilik klub menginginkan seperti itu dan tidak ada pilihan lain, maka anda harus bisa menerimanya,” tuntasnya.

Tidak Ada Gunanya Liverpool Mengganti Rodgers Dengan Klopp

Kalau melihat pencapaian di Premier League sejauh ini, Liverpool bisa jadi berpikir bahwa mereka salah memecat Brendan Rodgers dari posisi manajer. Pasalnya, pencapaiannya di Premier League malah lebih baik dibanding manajer anyar, Juergen Klopp.

Rodgers kehilangan jabatannya usai Liverpool bermain seri dengan Everton pada pekan kedelapan Premier League. Sebelumya, dia membawa The Reds meraih tiga kemenangan, tiga hasil seri, dan tiga kekalahan di Premier League musim ini. Alhasil, di bawah arahannya, Liverpool mengumpulkan 12 poin dari delapan laga.

The Reds akhirnya memilih Klopp sebagai pengganti Rodgers. Kehadiran manajer asal Jerman itu sempat memicu euforia di Anfield. Semua pihak membicarakan dan memandang Klopp sebagai sosok yang akan mengangkat prestasi Liverpool.

Akan tetapi, jika ukurannya di Premier League musim ini, prediksi publik salah besar. Klopp tidak lebih baik dari Rodgers. Bahkan, pencapaian The Reds di Premier League malah lebih buruk.

Lihat saja catatan hasil pertandingan Liverpool di Premier League ketika Klopp sudah berkuasa. Sejak melakukan debut melawan Tottenham Hotspur, Klopp telah mendampingi The Reds dalam sembilan laga di Premier League. Hasilnya, tim didikannya meraup tiga kemenangan, tiga hasil seri, dan tiga kekalahan. Pencapaian itu membuat poin yang dikumpulkan Liverpool pada masa Klopp di Premier League musim ini adalah 12.

Fakta itu menunjukkan bahwa sejauh ini, kinerja Liverpool di Premier League belum terangkat sejak Klopp berkuasa. Bahkan, pencapaian lebih buruk dibanding masa Rodgers. Bayangkan, karena meraih 12 poin dalam delapan laga, Rodgers mengantar timnya mengumpulkan rata-rata 1,5 poin per pertandingan di Premier League.

Raihan Liverpool di bawah arahan Klopp lebih buruk. Mendapat 12 poin dari sembilan pekan di Premier League berarti Klopp hanya mengantar The Reds meraup 1,33 poin per laga.

Rodgers Kehilangan Pekerjaan Gara-Gara Pemain Ini

Brendan Rodgers harus kehilangan pekerjaannya sebagai manajer Liverpool usai serangkaian hasil buruk tim itu. Mungkin beda ceritanya jika Luis Suarez masih bertahan di sana.

Rodgers dipecat pada akhir September lalu usai Liverpool diimbangi Everton 1-1. Saat itu The Reds tengah hampa kemenangan di beberapa laga terakhirnya, yang membuat mereka keluar  dari 10-besar klasemen Premier League.

Start buruk musim ini seakan meneruskan musim 2014-15 yang buruk untuk Si Merah. Waktu itu, mereka hanya finis posisi keenam, setelah di musim sebelumnya finis posisi runner-up.

Perbedaan drastis di antara dua musim Liverpool tersebut adalah keberadaan Suarez di dalam tim itu. Suarez yang jadi alasan Liverpool bisa menggila di musim 2013-14.

Sayangnya, itu jadi musim terakhir untuk pemain asal Uruguay itu bersama Liverpool sebelum dijual ke Barcelona. Jika saja Suarez bertahan hingga saat ini, maka bukan Juergen Klopp-lah yang menjadi manajer Liverpool sekarang, melainkan tetap Rodgers.

“Dia tampil bagus di musim pertamanya merumput di Inggris, tapi di musim keduanya, dia sungguh unik. Beberapa orang menyalahartikan kata-kata saya ketika saya bilang bahwa Liverpool nyaris jadi juara Premier League karena Luis Suarez. Saya hanya menunjukkan kepada masyarakat Inggris soal arti signifikan Luis Suarez di atas lapangan. Saya bukannya mencela Liverpool,” ujar eks pesepakbola Uruguay yang pernah memperkuat Chelsea dan Tottenham Hotspur, Gustavo Poyet, seperti dikutip Soccerway.

“Itu terjadi di belahan dunia mana pun. Napoli memenangi liga ketika Maradona berada di sana. Itu bukan berarti saya bilang bahwa Napoli bukan apa-apa tanpa Maradona. Napoli masih tim yang hebat. Tapi sudah ditunjukkan bahwa Suarez bikin Liverpool jadi tim yang lebih tangguh,” sambungnya.

“Orang-orang salah jika menganggap saya berbicara buruk soal Liverpool, saya hanya memberikan opini saya soal pemain spesial. Kepergiannya sangat merugikan Liverpool. Merugikan banyak hal, mungkin juga soal pekerjaan Brendan Rodgers. Mungkin jika Suarez masih bermain untuk Liverpool, Brendan Rodgers masih jadi manajer hingga saat ini,” tutup Poyet.

Bertemu Rodgers, Klopp Tak Bahas Liverpool

Manajer Liverpool, Juergen Klopp mengakui beberapa waktu lalu pernah bertemu pendahulunya, Brendan Rodgers. Selain menangkap kesan baik, Klopp menegaskan pertemuannya dengan Rodgers bukan untuk membahas Liverpool.

Klopp mengambil alih kursi manajer di Stadion Anfield setelah Rodgers dipecat bulan lalu menyusul sejumlah hasil kurang memuaskan yang dialami Liverpool. Kedatangan Klopp mengundang optimisme para suporter dan membawa semangat baru dalam skuat The Reds.

Akhir pekan lalu, Liverpool terbukti tidak salah memilih Klopp sebagai suksesor Rodgers. Manajer asal Jerman itu membantu James Milner dan rekan-rekan menang 4-1 atas Manchester City setelah sebelumnya pernah mengalahkan Chelsea 3-1.

Rodgers hingga kini masih menganggur setelah menghabiskan waktu tiga tahun terakhir bak “rollercoaster” bersama Liverpool. Setelah bertemu beberapa waktu lalu, Klopp mengisyaratkan bahwa Rodgers tidak menyimpan dendam terhadapnya atau pun Liverpool.

“Itu sebuah perbincangan yang sangat menarik, dia (Rodgers) pria yang baik,” beber Klopp, seperti dilansir FourFourTwo.

“Saya sudah mengatakan itu sebelum bertemu dengan dia dan kami berbincang dengan baik. Tidak ada obrolan mengenai sepak bola, kami membahas tentang dunia hingga hal-hal privat. Itu tidak untuk Anda ketahui,” sambung mantan pelatih Borussia Dortmund itu.

“Saya pernah melakukan hal itu dengan Thomas Tuchel (yang menggantikan posisinya di kursi pelatih Dortmund) dan mengapa tidak?” ungkap Klopp.

“Jika ingin mengetahui sesuatu tentang Liverpool, saya bisa membacanya di Marco Polo. Saya tahu letak Albert Docks. Anda selalu beradaptasi dengan banyak hal ketika menjadi manajer baru. Jika ingin menanyakan sesuatu tentang klub, saya akan bertemu dengannya lebih awal, bukan setelah enam pekan,” pungkasnya.

Terima Kasih Ibe untuk Rodgers

Jordon Ibe jadi salah satu pemain yang sedih dengan kepergian Brendan Rodgers dari Liverpool. Sebab, karena jasa Rodgers, Ibe bisa seperti sekarang.

Ibe tampil impresif di bawah asuhan Juergen Klopp. Dia menjadi salah satu pemain favorit manajer asal Jerman itu. Pemain 19 tahun itu juga baru saja mencetak gol pertamanya untuk Liverpool saat menang 1-0 di kandang Rubin Kazan pekan lalu.

Total Ibe sudah main selama 14 pertandingan di seluruh kompetisi dan jumlah itu terhitung relatif banyak terkait umur Ibe saat ini. Maka dari itu, Ibe pun tak lupa mengucapkan terima kasih atas jasa Rodgers.

Rodgers-lah yang memberi kesempatannya untuk lebih banyak main di tim senior, di mana Ibe ditarik dari masa peminjamannya di Derby County pada pertengahan musim lalu.Total selama setahun ini, Ibe sudah main 27 kali di seluruh kompetisi.

“Brendan menempatkanku di tim utama dan memberiku sebuah debut ketika aku masih berusia 17 tahun,” ucap Ibe yang dikutip Liverpool Echo.

“Tidak banyak manajer di Premier League yang akan melakukan hal seperti itu. Dia membantuku untuk menembus tim utama dan dia begitu kepada para pemain lain,” sambungnya.

“Salah satu area yang dia kembangkan dalam permainanku adalah bagaimana saat aku berlari maju ke depan. Sebelum Brendan mulai bekerja denganku, aku mungkin tidak pernah benar saat melakukannya. Hal yang lain adalah kebebasan yang dia berikan kepadaku, sebagai pemain muda itu adalah hal yang hebat untuk dipunyai.”

“Cukup mengejutkan ketika mendengar dia dipecat. Mengingat hal itu terjadi beberapa jam setelah derby maka tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal yang layak. Tapi aku mengirimi dia sebuah pesan.”

“Kupikir banyak manajer dan pemain meninggalkan klub mereka adalah bagian dari permainan ini sekarang. Sayangnya, sepakbola tidak menjanjikan apa pun untuk siapa pun. Tidak pernah ada jaminan,” tutup Ibe.

Terima Kasih Klopp untuk Rodgers

Manajer Juergen Klopp berterima kasih atas kerja Brendan Rodgers selama di Liverpool. Pasalnya, Rodgers sudah meninggalkan tim yang bagus sehingga Klopp mudah saja memolesnya untuk tampil lebih oke lagi.

Selama tiga tahun menangani Liverpool sedari 2012, Rodgers mengantarkan Liverpool jadi runner-up Premier League musim 2013-14 sebagai prestasi tertingginya.

Sayang, dua musim terakhir Rodgers berjalan tidak menyenangkan. Kehilangan Luis Suarez menyulitkan kerja Rodgers musim lalu yang menyebabkan Liverpool finis posisi ketujuh, yang berlanjut dengan start buruk musim ini dan lantas membuatnya didepak.

Lalu datang Klopp sebagai pengganti Rodgers awal bulan lalu. Sejauh ini manajer asal Jerman itu terbilang sukses mengembalikan moril para pemain yang sempat jatuh. Liverpool dianggap sebagian kalangan sudah tampil berbeda di tangan Klopp. Terbukti mereka belum terkalahkan di enam laga terakhir sejak dipegang eks pelatih Borussia Dortmund itu.

Bagi Klopp, apa yang didapatnya saat ini tak lepas dari kerja keras Rodgers selama tiga tahun berada di klub tersebut. Kini Klopp tinggal menyempurnakan apa yang sudah dibangun Rodgers di sana.

“Apa yang saya bilang di awal adalah Anda hanya harus memperbaiki sedikit kekurangan di sini, dan itulah yang yang saya sedang lakukan saat ini. Brendan sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik di sini dan tim ini punya pondasi yang bagus berkat kerja Brendan,” ujar Klopp di Soccernet.

“Saya tidak harus mengajar kepada para pemain bagaimana caranya bermain. Brendan sudah melakukannya,” sambungnya.

Kesalnya Alberto Moreno pada Rodgers

Kepergian Brendan Rodgers boleh jadi disyukuri oleh bek kiri Liverpool Alberto Moreno. Sebab Moreno mengaku kesal pada Rodgers yang tak pernah penuh mempercayainya main sebagai starter.

Bek kiri Spanyol itu tidak pernah diturunkan sebagai starter di pekan-pekan awal Premier League oleh Rodgers. Moreno sudah membuat 10 penampilan di semua kompetisi, namun sebagian besar dimulai dari bangkucadangan dan kalah bersaing dengan Joe Gomez, yang sejatinya berposisi bek tengah.

Sampai pada akhirnya, Moreno tampil sebagai starter untuk pertama kalinya di musim ini saat Liverpool diimbangi Norwich City 1-1 di mana dia sukses menciptakan sebuah assist. Sejak saat itu, pesepakbola berusia 23 tahun itu selalu dimainkan sejak awal.

Padahal Rodgers-lah yang menginginkan Moreno musim lalu, di mana dia butuh sosok bek kiri mumpuni dan didatangkanlah si pemain dari Sevilla. Moreno pun rajin mengisi posisi tersebut sebelum penampilannya menurun di sepertiga akhir musim dan kehilangan tempatnya di tim inti.

Moreno pun lantas berupaya untuk memperbaiki penampilannya lewat latihan keras dan tampil oke sepanjang pramusim lalu. Maka dari itu Moreno pun kesal ketika Rodgers tak kunjung menepati janjinya untuk memberinya tempat di posisi bek kiri, meski dia sudah tampil oke.

“Mungkin aku merasa dia tidak cukup percaya denganku, jelas di awal musim ini,” kata Moreno di ESPNFC.

“Dia pernah bilang, aku sudah berlatih keras tapi aku tidak tampil sejak awal di lima atau enam pertandingan pertama. Dia bilang kepadaku kalau itu masih awal musim dan kesempatan untukku akan datang tapi setelah pertandingan pertama lawan Stoke, saat kami mencetak clean sheet, dia bilang tidak akan mengubah apapun di lini belakang,” sambungnya.

“Memang benar ketika aku sama sekali tidak dimainkan aku marah. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk pergi karena aku ingin di sini selamanya, tapi aku punya kemarahan terpendam, hampir murka,” ungkap dia. “Aku merasa aku bermain dengan baik, berlatih dengan baik. Tapi aku tidak paham mengapa aku tak diberi kesempatan di awal.”

Gagal di Liverpool, Markovic Salahkan Rodgers

Lazar Markovic menyalahkan Brendan Rodgers atas kegagalannya menampilkan performa terbaik bersama Liverpool musim lalu. Menurutnya, mantan manajer Liverpool tersebut tidak memainkannya di posisi terbaik.

Markovic diboyong oleh Liverpool dari Benfica pada bursa transfer musim panas tahun 2014 dengan nilai transfer sebesar 20 juta Poundsterling.

Ketika datang ke Anfield, Markovic digadang-gadang bakal menjadi salah satu pemain sayap muda terbaik. Apalagi uang yang dikeluarkan oleh Liverpool juga tidak sedikit.

Tetapi, pemain asal Serbia tersebut justru gagal menemukan performa terbaiknya selama berada di bawah asuhan Brendan Rodgers.

Menurut Markovic, salah satu alasan mengapa Ia tidak bermain baik musim lalu adalah karena Rodgers sering memainkannya bukan di posisi utamanya.

“Aku tidak memiliki hubungan yang baik dengan manajer. Itulah masalahnya,” ujar Markovic kepada A Bola.

“Aku bermain di banyak posisi, tapi tidak bermain di posisi utamaku. Aku tidak ingin melihat ke masa lalu dan Liverpool sekarang memiliki manajer baru,” tambah dirinya.

Di musim lalu, pemain berusia 21 tahun tersebut hanya bermain sebanyak 11 kali di Liga Inggris dan mencetak dua gol di seluruh kompetisi.

Markovic tentu berharap akan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kualitasnya kepada manajer anyar Liverpool, Jurgen Klopp. Tapi, Ia kini tengah berada dalam masa peminjaman di Fenerbache selama satu musim. Dikabarkan tidak ada klausa pemanggilan kembali dalam kesepakatan kontrak peminjamannya. Jadi, Ia akan tetap berada di Turki setidaknya hingga musim berakhir.

Klopp Larang Pasangan Pemain Hadir Di Latihan

Manajer Juergen Klopp membuat aturan tegas tentang pasangan pemain di Liverpool. Dia melarang mereka untuk hadir markas latihan The Reds di Melwood.

Klopp menegaskan bahwa Melwood adalah “markas sepak bola”. Alhasil, dia ingin pemain fokus dan total dalam berlatih di sana. Itu membuat “gangguan” dari para pasangan pemain tidak diizinkan oleh Klopp. Maka, dia memutuskan melarang pasangan pemain baik yang berstatus istri maupun kekasih untuk datang ke Melwood.

Sebelum Klopp hadir, pasangan pemain The Reds kerap hilir mudik di Melwood. Mereka diperbolehkan datang untuk menemui para pemain ketika waktu senggang. Namun, kini, situasi sudah berubah.

Klopp memang ingin mengubah beberapa kebiasaan di Liverpool yang ada pada masa manajer Brendan Rodgers. Klopp hendak mengurangi masa libur dan istirahat pemain. Dia juga menambah intensitas latihan menjadi tiga kali dalam sehari.

Hal itu dilakukan Klopp karena menyadari bahwa hanya kerja keras yang akan bisa membuat Liverpool bangkit. Klopp tahu bahwa dirinya bukan penyihir yang bisa menyulap The Reds menjadi lebih baik hanya dalam sekali kibas. Maka, agar meraih sukses, semua pihak di The Reds diminta Klopp harus mau menyingsingkan lengan untuk bekerja.

“Ide saya tidak lebih baik dari milik Rodgers. Memang berbeda, itu pasti. Jadi akan butuh waktu. Tantangan terbesar adalah melakukan langkah pertama dan jika semua bisa melihat bahwa semuanya akan menjadi lebih baik, maka hal itu bagus. Kami harus mampu tampil lebih baik di atas lapangan,” kata Klopp.

Wenger Kecam Liverpool Terkait Pemecatan Rodgers

Putusan Liverpool untuk memecat Brendan Rodgers tidak disukai oleh beberapa pihak. Salah satu yang menentang adalah manajer Arsenal, Arsene Wenger.

Menurut Wenger, Rodgers seharusnya tidak dipecat. Di mata Wenger, Rodgers tidak sepenuhnya gagal dalam menangani Liverpool. Wenger menilai semestinya The Reds memberi waktu kepada eks Manajer Swansea City tersebut untuk meraih sukses.

Poin keberhasilan Rodgers menurut Wenger adalah keberhasilannya menjadikan Liverpool sebagai salah satu calon juara dua musim lalu. “Saya terkejut karena bagi saya putusan itu menyedihkan. Jangan lupa bahwa Liverpool tidak menjuarai liga sejak 1990. Mereka memang memenanginya 18 kali, namun, sejak 1990, mereka belum pernah meraihnya lagi,” tutur Wenger.

Dua tahun lalu, Liverpool nyaris memutus kegagalan juara di liga di bawah arahan Rodgers. Namun, akhirnya Manchester City yang berhasil merebut trofi juara .

 

Atas dasar inilah, Wenger tidak habis pikir Rodgers bisa dipecat oleh The Reds. ” Saya tidak memahami alasan rasional di balik putusan tersebut. Saya benar-benar tidak mengerti,” ucap Wenger.

 

Akan tetapi, Wenger menyadari posisi Rodgers memang sulit. Pasalnya, pada musim ini, start Liverpool tidak baik. The Reds hanya meraih 12 poin dari tiga kali kemenangan, tiga kali seri, dan dua kali kalah di . Siapa pun manajernya pasti akan terpojok jika situasinya seperti itu.

“Kehilangan pekerjaan bagi siapa pun tidak akan mudah. Di atas semua itu, dalam delapan pekan pertama memang sangat sulit, betul-betul sukar. Jika melakukan start baik dan pada tengah musim mengalami momen buruk, orang akan melupakannya. Namun, jika segalanya salah sejak awal, posisi Anda bakal dipertanyakan. Itulah yang menimpa Rodgers,” kata Wenger.

Klopp Manajer Asal Jerman Pertama Bagi Liverpool

Kehadiran Juergen Klopp di Liverpool menghadirkan beberapa catatan menarik. Salah satunya adalah untuk pertama kalinya The Reds merekrut manajer yang berasal dari Jerman.

Menurut catatan LFC History, sampai saat ini sudah ada 20 orang yang pernah menangani Liverpool sebagai manajer sebelum Klopp datang. Beberapa orang seperti Kenny Dalglish dan George Patterson pernah memanajeri The Reds dalam dua kesempatan berbeda. Namun, kebanyakan para manajer Liverpool berasal dari United Kingdom.

Selain Klopp, manajer The Reds yang berasal dari luar United Kingdom hanya Gerrard Houllier dan Rafael Benitez. Houllier merupakan manajer asal Prancis, sedangkan Benitez berkebangsaan Spanyol.

Negara asal manajer Liverpool kebanyakan berasal dari dalam negeri. Sampai saat ini, sudah ada sebelas orang Inggris yang menangani The Reds sebagai manajer. Roy Hodgson yang bekerja pada 2010 hingga 2011 merupakan orang Inggris terakhir yang memanajeri The Reds.

Momen perekrutan Klopp oleh The Reds juga spesial. Liverpool paling sering mengganti manajer pada akhir musim atau menjelang musim baru seperti bukan Juni, Juli, dan Agustus. Secara khusus, bukan Juli paling sering dipilih The Reds sebagai momen pelantikan manajer anyar. Sampai saat ini, Liverpool telah melantik manajer baru pada Juli sebanyak empat kali.

Klopp menjadi manajer pertama yang direkrut oleh Liverpool pada bulan Oktober. Namun, The Reds juga sering mengganti manajer pada pertengahan musim. Februari kerap dipilih oleh Liverpool untuk mengganti manajer. Mereka pernah melantik manajer anyar pada bulan tersebut sebanyak tiga kali. yakni saat merekrut William Edward Barclay, Mat McQueen, dan Ronnie Moran.

Kedatangan manajer pada tengah musim pernah memberikan cerita manis bagi Liverpool. Salah satunya ialah kesuksesan di bawah manajer Bill Shankly. Dia direkrut pada 1 Desember 1959 dan mempersembahkan sembilan trofi bagi The Reds. Tentu saja Klopp diharapkan oleh para pendukung Liverpool mampu mengikuti jejak para manajer sukses The Reds seperti Shankly.

Hummels Yakin Klopp Cocok Untuk Liverpool

Bek Borussia Dortmund, Mats Hummels, yakin Jurgen Klopp cocok untuk memanajeri Liverpool. Hummels percaya Klopp akan mampu membawa tim manapun yang dilatihnya meraih kesuksesan.

Setelah Brendan Rodgers dipastikan terdepak dari Anfield, nama Klopp memang langsung menjadi perbincangan hangat sebagai calon nomor satu pengganti Rodgers. Banyak pihak memprediksi bahwa dalam waktu dekat Liverpool dan Klopp akan segera merampungkan negosiasi kontrak.

Hummels, yang pernah dilatih Klopp selama tujuh tahun, tidak ragu menyebut Klopp sebagai pelatih hebat dan akan memberikan dampak positif kepada Liverpool.

“Jelas Klopp adalah pelatih yang fantastis dan ketika orang-orang bertanya apa yang akan Ia lakukan setelah keluar dari Dortmund, wajar apabila klub seperti Liverpool juga tertarik kepadanya,” ucap Hummels kepada Guardian.

“Ia makan, hidup, bernafas, dan memikirkan sepak bola setiap hari. Ia akan menjadi tambahan kekuatan yang fantastis bagi tim manapun,” tambah dirinya.

Lebih lanjut, Hummels mengatakan bahwa Ia akan selalu mendoakan yang terbaik bagi Klopp.

“Aku mengharapkan yang terbaik untuk dirinya dalam petualangan barunya,” tuntasnya.

Selain Hummels, pelatih tim nasional Jerman, Joachim Low, juga tidak ketinggalan memuji Klopp.

“Klopp menjalani waktu yang luar biasa di Dortmund dan mencipatakan ikatan emosional dengan para suporter,” ujar Low.

“Jika kita lihat, ada beberapa kesamaan antara Dortmund dan Liverpool jika melihat sisi kultur yang dimiliki suporter dari kedua klub. Jika hal tersebut berjalan lancar, Ia akan sangat berguna bagi tim manapun,” tutupnya.

Semasa menangani Dortmund, nama Klopp memang melambung berkat keberhasilannya dua kali menjuarai Bundesliga, serta membawa Dortmund melaju hingga babak final Liga Champions 2013.

Bersama Liverpool, diperkirakan Klopp bakal menandatangi kontrak berjangka tiga tahun dengan nilai kontrak mencapai lima juta Pounds per tahunnya.

Liverpool Resmi Kontrak Klopp

Teka-teki mengenai sosok pengganti Brendan Rodgers di kursi manajer Liverpool akhirnya terjawab. The Reds mengkonfirmasi telah resmi mendatangkan pelatih asal Jerman, Jurgen Klopp.

Arsitek berusia 48 tahun itu berangkat dari Dortmund menuju bandara John Lennon dengan jet pribadi sebelum mendandatangani kontrak berdurasi tiga tahun dengan Liverpool pada Kamis (8/10).

Disinyalir, Klopp mendapat bayaran tujuh juta pounds per musim dan bakal tampil di depan media sebagai manajer Liverpool pertama kali di Anfield, Jumat (9/10). Zeljko Buvac dan Peter Krawietz hampir dipastikan menjadi tangan kanan Klopp menyusul kepergian beberapa staf pelatih Liverpool, yakni Sean O’Driscoll, Glen Driscoll dan Chris Davies.

Gary McAllister yang sempat masuk jajaran staf kepelatihan Liverpool tidak akan lagi menjalankan tugasnnya. Akan tetapi, mantan gelandang Liverpool itu bakal ditugaskan sebagai duta bagi klub yang bermarkas di Stadion Anfield tersebut.

Klopp merupakan incaran utama Liverpool setelah memecat Rodgers. Selain mantan arsitek Borussia Dortmund itu, muncul pula nama Carlo Ancelotti dan Walter Mazzarri sebagai kandidat suksesor Rodgers.

Liverpool mengakhiri kebersamaan dengan Rodgers menyusul rentetan hasil negatif musim ini. Dari delapan laga awal , James Milner dan rekan-rekan hanya mampu mengemas tiga kemenangan. Selain ditahan imbang Girondins Bordeaux dan FC Sion di ajang Europa League, mereka juga perlu bersusah payah mengalahkan klub kasta keempat, Carlisle lewat adu penalti di ajang Piala Liga.

Spekulasi pemecatan Rodgers sebetulnya telah merebak sejak musim lalu. Finis di urutan keenam klasemen dan disingkirkan Aston Villa di semifinal Piala FA membuat pemilih Liverpool, Fenway Sports Group (FSG) mulai melirik Klopp.

Klopp tengah menganggur setelah meninggalkan Dortmund musim panas lalu. Pelatih berusia 48 tahun itu dianggap sosok yang tepat bagi Liverpool lantaran pernah menolong Dortmund keluar dari keterpurukan bahkan menjuarai Bundesliga hanya dalam tempo tiga musim.

Dikurung Bak Singa, Sakho Sindir Rodgers

Bek Liverpool, Mamadou Sakho melayangkang sindiran kepada Brendan Rodgers lantaran jarang memberinya kesempatan bermain. Sakho menggambarkan dirinya diperlakukan Rodgers seperti singa yang berada dalam kurungan.

Pada musim panas 2013 lalu, Sakho bergabung dengan Liverpool setelah dibeli dari Paris Saint-Germain dengan banderol 13.3 juta euro. Nahasnya, pemain berusia 25 tahun tersebut kesulitan menembus skuat inti The Reds di bawah kendali Rodgers.

Sakho hanya mencatatkan 28 penampilan dalam berbagai ajang musim lalu, sedangkan musim ini hanya lima penampilan. Dia masih kalah bersaing dengan Martin Skrtel dan bek anyar Liverpool musim ini yang dibeli dari Southampton, Dejan Lovren. Kepergian Rodgers yang dipecat oleh manajemen The Reds usai ditahan Everton dalam duel bertajuk Derby Merseyside dengan skor 1-1 akhir pekan lalu tampaknya membawa angin segar bagi Sakho.

“Bisa dikatakan dalam periode singkat ketika tidak dimainkan, saya seperti singa kecil yang terkurung dan beberapa saat tidak diberi makan. Saat pintu kurungan dibuka, dia beraksi,” ujar Sakho, seperti dilansir L’Equipe.

Sakho dipercaya menjadi starter untuk pertama kali musim ini dan diberi ban kapten Liverpool saat berhadapan dengan Girondins Bordeaux di ajang Europa League pada September lalu. Mantan kapten Liverpool yang kini merumput bersama LA Galaxy, Steven Gerrard, langsung mengirim ucapan selamat kepada Sakho usai pertandingan.

“Dia (Gerrard) mengirimkan pesan untuk mengucapkan selamat kepada saya. Dia mengatakan bahwa saya harus terus berjuang seperti itu dan dia bangga terhadap saya,” beber Sakho.

“Selalu menyenangkan menerima pesan dari seorang pemain hebat seperti dia,” pungkas bek asal Prancis tersebut.