Inter Kehilangan Romelu Lukaku Tak Bagus untuk Serie A

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Mantan pelatih Inter, Claudio Ranieri, mengatakan bahwa dijualnya Romelu Lukaku ke Chelsea tidak bagus untuk Serie A secara keseluruhan. Ranieri berharap Inter khususnya bisa memiliki reaksi yang bagus setelah kehilangan pemain bintangnya.

Nerazzurri terpaksa harus menjual dua pemain bintangnya setelah meraih Scudetto musim lalu. Achraf Hakimi menjadi pemain pertama yang dijual. Pemain timnas Maroko itu dijual dengan harga 60 juta euro ke Paris Saint-Germain.

Edin Dzeko - Inter Milan - Romelu Lukaku - The Times
The Times

Lalu, topskorer dan pemain terbaik mereka, Romelu Lukaku, yang mencetak 64 gol dari 95 laga dijual ke Chelsea dengan harga 115 juta euro. Ranieri kecewa hal itu terjadi.

“Dalam dua bulan, Nerazzurri membongkar tim Scudetto. Lukaku sangat penting untuk permainan Inter,” ucap Ranieri seperti dikutip Football5Star.com dari La Gazetta dello Sport.

Ranieri melanjutkan, “Untuk (pelatih Inter, Simone) Inzaghi, ini adalah awal yang sulit, tetapi Simone sangat bagus. Saya mengharapkan reaksi yang bagus. Jelas ini tidak bagus bagi Liga kami untuk kehilangan striker Belgia itu.”

Pengganti Romelu Lukaku

Edin Dzeko tetap fokus untuk AS Roma meskipun dirumorkan akan pindah ke klub lain.
calcionews24.com

Inter hampir dipastikan akan mendapatkan Edin Dzeko dari AS Roma secara gratis dengan bonus sekitar 1,9 juta euro jika Inter lolos ke Liga Champions musim depan.

Pemain timnas Bosnia itu kini sudah melakukan tes medis, tapi masih harus menyelesaikan permasalahan kecil dengan AS Roma.

Namun Dzeko tidak akan menjadi satu-satunya penyerang yang Nerazzurri datangkan. Kini mereka mengincar tiga nama, Duvan Zapata dari Atalanta, Joaquin Correa dari Lazio dan Dusan Vlahovic dari Fiorentina.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri: Pep Guardiola Bakal Latih Tim Italia Suatu Saat Nanti

gamespool
Claudio Ranieri: Pep Guardiola Bakal Latih Tim Italia Suatu Saat Nanti 8

Football5Star.com, Indonesia – Eks pelatih Leicester dan Chelsea, Claudio Ranieri, percaya bahwa cepat atau lambat Pep Guardiola akan melatih klub Serie A. Ranieri yakin karena Guardiola akan selalu mencari tantangan baru setelah sebelumnya melatih di Premier League, La Liga dan Bundesliga.

Pep Guardiola masih memiliki kontrak sampai 2023 bersama Manchester City. Tapi Ranieri percaya bahwa mantan pelatih Barcelona itu pasti akan melatih klub Serie A suatu saat nanti. Ranieri juga sangat senang melihat beberapa pelatih top akan melatih klub Serie A musim depan. Namun kecewa Antonio Conte meninggalkan Inter.

Bermain Tanpa Gelandang Bertahan, Ini Alasan Pep Guardiola
Marca

“Kami akan bangkit, karena saya melihat tanda-tanda pertumbuhan yang tidak bisa disamarkan dengan tersingkirnya tim-tim Italia secara dini (di Liga Champions). Melihat kembalinya (Jose) Mourinho, (Massimiliano) Allegri dan mungkin juga (Maurizio) Sarri, pasti akan meningkatkan visibilitas seluruh pergerakan kami,” ucap Ranieri seperti dilansir Football5Star.com dari La Gazetta dello Sport.

Ranieri melanjutkan, “Sayang sekali untuk (Antonio) Conte meninggalkan Inter, tetapi saya yakin Guardiola cepat atau lambat akan datang untuk melatih di Italia juga. Namun, ada satu hal yang harus kami lakukan secepat mungkin. Kami harus meningkatkan kecepatan permainan. Jika kami tidak melakukannya, sulit untuk menjadi kompetitif.”

Pep Guardiola sendiri tak asing dengan sepak bola Italia. Dia pernah tiga musim bersama Brescia dan AS Roma pada 2001-2003 saat menjadi pemain dan fasih berbicara bahasa Italia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Inter Milan Dapatkan Guard of Honour Berkat Claudio Ranieri

Gamespool new banner

Football5Star.com, Indonesia – Inter Milan sebagai juara baru Serie A mendapatkan guard of honour saat menghadapi Sampdoria, Sabtu (8/5/2021). Hal itu ternyata tak lepas dari peran pelatih I Blucerchiati, Claudio Ranieri.

Bertandang ke Stadion Giuseppe Meazza, Sampdoria sepakat memberikan penghormatan kepada Inter yang memastikan diri merebut Scudetto ke-19 pada pekan lalu. Mereka melakukannya dengan memberikan guard of honour yang diusulkan oleh Ranieri.

“Ide guard of honour itu memang dari saya,” urai Claudio Ranieri selepas pertandingan seperti dikutip Football5Star.com dari La Gazzetta dello Sport. “Di Inggris, ini hal yang lumrah. Saya katakan kepada para pemain dan mereka menyetujuinya.”

Bagi Ranieri, memberikan guard of honour kepada Inter adaah hal yang terbilang penting dalam menjunjung marwah olahraga. “Di olahraga, pemenang harus dihormati. Saya juga mendapatkannya saat bersama Leicester (City),” ujar dia lagi.

Seluruh pemain Sampdoria dan Claudio Ranieri berbaris membentuk sebuah lorong. Para pemain Inter kemudian melangkah di sana sambil menerima tepuk tangan dan pelukan. Penghormatan itu sangat diapresiasi oleh kubu I Neazzurri. Antara lain dengan unggahan di akun media sosial.

Ranieri Gagal Putus Rekor Buruk

Claudio Ranieri kini gagal menang dalam 8 lawatan terakhir ke markas Inter Milan.
sampdoria.it

Pertandingan di Giuseppe Meazza itu pada akhirnya dimenangi Inter Milan dengan skor 5-1. Tentu saja Claudio Ranieri kecewa. Apalagi, hal itu membuat dia gagal memutus rekor buruk dalam lawatan ke markas Inter Milan.

“Kami datang untuk tampil baik dan tak ingin mereka berpesta. Namun, kami ternyata tidak siap. Dalam 30 menit awal, kami sudah kebobolan dua gol. Mereka tampil penuh antusiasme, sementara kami bermain tak seperti biasanya,” ucap Ranieri.

Kekalahan 1-5 bersama Sampdoria membuat Ranieri kini tak menang di markas Inter dalam 8 lawatan beruntun. Sebanyak dua lawatan bersama I Blucerchiati, lima lawatan bersama AS Roma, dan satu lawatan bersama Juventus.

Kemenangan terakhir Claudio Ranieri di Giuseppe Meazza diraih bersama Juventus pada 22 Maret 2008. Ketika itu, I Bianconeri menang 2-1 atas I Nerazzurri berkat gol Mauro Camoranesi dan David Trezeguet yang hanya berbalas gol Maniche.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ranieri Pertanyakan Ketertarikan Juventus pada Quagliarella

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Juventus membutuhkan striker baru pada bursa transfer Januari. Satu nama yang gencar diberitakan adalah bomber gaek Sampdoria, Fabio Quagliarella.

Juventus memang tidak asing dengan Fabio Quagliarella. Bomber 38 tahun pernah berseragam putih-hitam pada 2010 hingga 2014.

Tapi kali ini ketertarikan Si Nyonya Tua dipertanyakan Claudio Ranieri, pelatih Sampdoria. Pasalnya sang bomber akan berusia 38 tahun Februari mendatang.

Fabio Quagliarella - Napoli - Aurelio de Laurentiis - Squawka
@Squawka

“Saya sudah membaca soal itu. Saya tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak. Hanya saja ini sepertinya akan menjadi hadiah yang bagus mengingat Fabio akan berusia 38 tahun akhir bulan ini,” kata Claudio Ranieri kepada Sky Sport Italia, Rabu (6/1/2021).

“Kami akan menunggu acaranya dan melihat apa yang akan terjadi,” sambung pelatih kawakan tersebut.

Si Nyonya Tua membutuhkan striker pelapis di lini depan. Mereka hanya memiliki Alvaro Morata sebagai penyerang murni. Sementara Cristiano Ronaldo dan Paulo Dybala bisa bermain melebar.

Terkait Quagliarella, peluang Juve menggaetnya cukup terbuka. Kontraknya bersama Sampdoria akan berakhir Juni mendatang.  Mereka tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk menggaetnya musim dingin ini.

Bomber jebolan akademi Torino bukan satu-satunya nama yang ada di daftar transfer Juventus. Juara bertahan Serie A juga mengincar striker gaek lainnya. Yakni Graziano Pelle yang baru saja mengakhiri kontrak bersama raksasa Cina, Shandong Luneng, Desember lalu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri Anggap AC Milan Tetap Menyeramkan Meski Tanpa Zlatan

gamespool
Claudio Ranieri Anggap AC Milan Tetap Menyeramkan Meski Tanpa Zlatan 18

Football5star.com, Indonesia – Pelatih Sampdoria, Claudio Ranieri menganggap AC Milan tetap jadi tim yang menyeramkan pada musim ini meski tak diperkuat oleh Zlatan Ibrahimovic. Sampdoria takluk 1-2 dari Milan di Stadion Luigi Ferraris, Senin (7/12/2020).

“Milan memiliki pergerakan yang sinkron, mereka memainkan sepak bola yang bagus dan berada di dalam kondisi luar baisa mengingat mereka juga akan tampil di Liga Europa,” ucap Ranieri seperti dikutip Football5star.com dari Sky Sports.

frank kessie-sampdoria vs ac milan-iF2is

“Mugkin para pemain Milan didorong oleh semangat masa muda dan melewati semua rintangan. Lalu ada sosok Zlatan Ibrahimovic membuat mereka benar-benar seimbang. Mereka adalah tim yang sangat bagus,” tambah Ranieri.

Pada laga melawan Milan, Sampdoria mendapat hadiah penalti pada menit ke-45. Franck Kessie yang jadi algojo sukses membawa Milan unggul. Milan menambah keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-77 lewat Samu Castillejo. Il Samp baru bisa memperkecil ketertinggalan pada menit ke-82 lewat aksi Albin Ekdal.

Menurut Ranieri, penalti yang diterima Milan di masa injury time babak pertama layak diberikan oleh wasit. Ranieri tak mempermasalahkan penalti tersebut.

“Musim lalu ada terlalu banyak penalti dan saya tidak suka itu. Saya pikir pada penalti Milan, Jakub Jankto mendorong, jadi itu adalah penalti yang adil,” ucap Ranieri.

“Saya sebenarnya ingin menghambat laju Milan, kami tidak melakukannya cukup baik di babak pertama. Kami telah melakukannya di akhir babak kedua. Kami sudah mencoba untuk memulai lebih kuat lagi di lain pertandingan. Kami tidak bisa terus bermain seperti ini,” jelas eks pelatih Leicester tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Jelang Juventus vs Sampdoria: Ranieri Masih Buta Skema Pirlo

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Sampdoria akan mengawali Serie A musim 2020-2021 dengan tandang ke markas Juventus, Senin (21/9/2020) dinihari WIB. Ini jadi pertama kalinya Claudio Ranieri menghadapi Andrea Pirlo.

Seperti diketahui, Andrea Pirlo belum punya pengalaman apa pun di dunia kepelatihan. Hal ini pun membuat Claudio Ranieri sulit menebak apa yang akan dilakukan pelatih Juventus itu pada laga dinihari nanti.

“Kami siap bertarung melawan Juve dan saya berharap Andrea Pirlo sukses dalma kariernya di masa depan. Juve tetap menjadi tim yang harus dikalahkan karena mereka telah memenangkan scudetto selama sembilan tahun beruntun dan sedang mencari yang ke-10,” kata pelatih kawakan itu seperti dilansir Football Italia, Minggu (20/9/2020).

Lisensi Andrea Pirlo sebagai pelatih Juventus dipertanyakan oleh Aldo Agroppi.
sporteva.it

“Tapi saat ini apa yang akan mereka lakukan tidak diketahui karena Pirlo adalah pelatih baru. Ada beberapa klub berbeda yang menantang untuk meraih gelar dan saya yakin jarak antara Juve dan yang lain perlahan semakin berkurang,” ia menambahkan.

Di sisi lain, pelatih yang membawa Leicester City juara Premier League itu senang bisa melatih sejak awal musim. Maklum saja, dua musim terakhir ia selalu jadi pengganti pada paruh musim.

“Ini selayaknya debut bagi saya mengingat saya berada di sini ketika musim sudah dimulai.  Itu selalu membuat saya bangga bisa memulai musim dari awal. Jelas ini tidak akan sama,” tutup Claudio Ranieri.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Psywar Ranieri kepada Andrea Pirlo Jelang Pekan Pertama Serie A

gamespool
Psywar Ranieri kepada Andrea Pirlo Jelang Pekan Pertama Serie A 25

Football5star.com, Indonesia – Pelatih Sampdoria, Claudio Ranieri mengaku bahwa ia merasa aneh melihat Andrea Pirlo menjadi pelatih Juventus. Menurut Ranieri, ia merasa Pirlo baru saja pensiun sebagai pemain beberapa waktu lalu.

“Sungguh aneh untuk melihat Pirlo sebagai pelatih, rasanya seperti dia baru saja pensiun sebagai pemain, kemarin,” ucap Ranieri seperti dikutip Football5star.com dari halaman klub Sampdoria, Kamis (2/9/2020).

Andrea Pirlo tak membutuhkan Gonzalo Higuain di Juventus.

Meski merasa aneh, Ranieri tetap mendukung dan memberikan masukan Pirlo sebagai pelatih anyar di Serie A.

“Pirlo memiliki tanggung jawab besar di pundaknya, tetapi juga menyenangkan melihat pemain dengan gelar juara memimpin pemain lainnya. Saya dia akan melakukan dengan baik,” tambah mantan pelatih Leicester City tersebut.

Andrea Pirlo sendiri akan menghadapi laga berat di debut pertamanya bersama Si Nyonya Tua. Di pekan pertama Serie A 2020-21, Cristiano Ronaldo dkk akan anak asuh Ranieri, Sampdoria.

Menurut Ranieri, ia cukup yakin bisa memberikan hasil maksimal di laga melawan Juventus di pekan pertama Serie A.

“Ini akan menjadi pertandingan pertama yang sulit bagi kami, tetapi kami akan berusaha melakukan yang terbaik dan berharap untuk melanjutkan apa yang kami tinggalkan di musim lalu,” ucap Ranieri.

Berikut jadwal pekan pertama Serie A 2020-21

Benevento Vs Inter Milan
Fiorentina Vs Torino
Genoa Vs Crotone
Juventus Vs Sampdoria
Lazio Vs Atalanta
AC Milan Vs Bologna
Parma Vs Napoli
Sassuolo Vs Cagliari
Udinese Vs Spezia
Hellas Verona Vs AS Roma

Claudio Ranieri: N’Golo Kante akan Cocok untuk Inter Milan

gamespool
Claudio Ranieri: N'Golo Kante akan Cocok untuk Inter Milan 29

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih Sampdoria, Claudio Ranieri, mengungkapkan bahwa mantan anak asuhnya, N’Golo Kante, akan cocok bermain di Inter Milan. Komentar ini tak lepas dari adanya rumor Inter akan membeli pemain Chelsea itu.

Sebelumnya diberitakan bahwa Inter rela melepas Sandro Tonali ke AC Milan karena pelatih Antonio Conte ingin mengincar Kante. Jika itu benar terjadi, Ranieri yakin Kante merupakan pemain yang ideal untuk Inter. Seperti yang diketahui, Kante merupakan sosok penting saat Ranieri berhasil membawa Leicester juara Premier League 2015-16.

Antonio Conte N'Golo Kante Salah Satu Pemain Terbaik yang Pernah Saya Latih
Eurosport

“Dia akan menjadi pembelian yang bagus terutama bagi Inter dan klub-klub Italia secara umum. Kante seperti mesin, dia tidak pernah berhenti berlari. Dia juga sosok yang murah hati, sangat baik dalam merebut kembali bola dan juga memiliki kualitas meskipun dia bukan gelandang kreatif,” ucap Ranieri seperti dilansir Football5Star.com dari La Gazetta dello Sport.

Ranieri melanjutkan, “jarang melihat dirinya salah memberi umpan dan salah satu faktor kenapa dia bisa melakukan itu adalah kemampuannya yang sangat baik dalam menjaga level konsentrasinya sepanjang pertandingan.”

Menurut Tuttomercatoweb, Inter menawarkan transaksi peminjaman dengan opsi atau wajib beli sebesar 50 juta euro. Namun Chelsea dilaporkan menginginkan 70-80 juta euro.

Musim lalu bersama Chelsea, N’Golo Kante beberapa kali menderita cedera. Dia bermain 28 kali di semua kompetisi dan mencetak 3 gol. Kante sudah menjadi bagian penting di lini tengah Chelsea sejak 2016 dimana dia sudah mencatkan 170 penampilan dan 11 gol.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ada Peran Anak Ian Wright Saat Leicester City Juara Premier League

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah fakta menarik diungkap bek Danny Simpson terkait kesuksesan Leicester City juara Premier League 2015-16. Menurut dia, ada perann Shaun Wright-Phillips di sana. Secara khusus, dia mengungkapkan peran anak Ian Wright itu terkait dirinya.

Danny Simpson berada dalam situasi sulit di Leicester City pada musim 2015-16. Masa depannya tak terjamin di sana. Dia pun dipersilakan pergi. Namun, keteguhan hati dan dukungan dari Shaun Wright-Phillips mengubah semuanya. Dia justru kemudian jadi bagian penting kesuksesan The Foxes.

“Musim itu sungguh aneh bagiku. Musim panas itu, sebelum dia (Claudio Ranieri) datang, klub mengatakan kepadaku bahwa aku tak sering bermain dan (Ritchie) De Laet masihlah bek kanan utama. Klub mengatakan, ini mungkin saatnya bagiku untuk pindah,” urai Simpson membuka kisahnya dalan Podcast The Beautiful Game seperti dikutip Football5Star.com dari Leicester Mercury.

Bek yang kini memperkuat Huddersfield Town itu melanjutkan kisahnya. “Akan tetapi, tak seperti saat QPR mengatakan hal itu, kali ini aku bergeming. ‘Tidak, aku tak akan pergi. Aku tak akan melakukan hal itu lagi. Aku mungkin hanya main 15 kali musim itu. Namun, saat tak main, aku sudah bekerja baik. Aku akan terus berjuang dan tak akan pergi,'” kata dia.

Seperti diramalkan Shaun Wright-Phillips, Danny Simpson jadi andalan Claudio Ranieri di Leicester City.
leicestermercury.co.uk

Simpson lantas mengungkapkan peran Shaun Wright-Phillips. Menurut dia, eks pemain Chelsea dan Manchester City tersebutlah yang memberi keyakinan lebih kuat untuk bertahan di Leicester. Hal itu terkait kedatangan Ranieri.

“Aku berkawan akrab dengan Shaun Wright-Phillips. Dia meneleponku dan mengatakan dirinya mendengar aku akan pergi. Dia memintaku bertahan setidaknya hingga Januari. Jika tak berubah, ada bursa transfer Januari dan aku bisa pindah,” ujar Simpson.

Dia menambahkan, “Shaun (berdasar pengalamannya ditangani Raineri di Chelsea) mengatakan kepadaku, ‘Claudio akan menyukaimu. Dia menyukai para bek. Ini serius. Tundukkan kepalamu dan kamu pada akhirnya akan bermain.'”

Panggilan Tak Terduga Ranieri

Danny Simpson menuruti kata-kata Swight-Phillips. Namun, dia tak menyangka ucapan sahabatnya itu benar-benar akan jadi kenyataan. Pasalnya, pada awal musim itu, dia didemosi ke tim U-23 Leicester. Di sana pun, dia tak mendapatkan kesempatan bermain.

Dalam situasi yang membuat putus asa itu, sebuah kejutan datang. “(Asisten manajer) Steve Walsh memanggilku dan berkata bahwa Claudio ingin bicara denganku. Aku terkejut, ‘Apa yang sudah kulakukan sekarang?’ Aku diikutkan dalam latihan tim utama Leicester dan aku berlari seperti orang gila, coba meraih perhatian. Aku merasa seperti anak-anak yang coba masuk tim Manchester United,” urai pemain didikan akademi MU itu.

Danny Simpson jadi bagian penting Leicester saat juara Premier League 2015-16 berkat saran Shaun Wright-Phillips.
espn.com

Itu jadi sebuah awal baru bagi Danny Simpson sekaligus momen krusial yang membuat Leicester City lantas juara Premier League. “Dia (Ranieri) memanggilku. Dia menyukai sikapku dan berkata, ‘Mungkin saya sudah membuat kesalahan. Saya kira kamu bisa membantu. Teruslah lakukan yang telah kamu lakukan dan mungkin kamu akan bermain.'”

Kesempatan itu datang setelah Leicester kalah dari Arsenal dengan skor 2-5. “Pekan berikutnya, aku berada di tim. Kami menyerang dari fullback dengan aku dan Christian Fuchs. Aku tak pernah menoleh ke belakang lagi sejak itu,” kata Simpson.

Hal yang dialami bek yang kini berumur 33 tahun itu kemudian sungguh tak terbayangkan. Dia tiba-tiba saja jadi andalan Leicester City. Dia berujar, “Setelah itu, aku bermain pada semua laga, kecuali sekali saja. Aku harus berjuang untuk masuk tim dan syukurlah aku memutuskan bertahan karena itu adalah masa terbaik dalam hidupku.”

Tentu saja, di balik putusan penting itu, ada peran yang tak kecil dari Shaun Wrgiht-Phillips. Tanpa saran dari anak Ian Wright itu, sangat mungkin Danny Simpson tetap tak terlalu yakin soal masa depannya di Leicester City.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Eks AS Roma: Daniele de Rossi Akan Jadi Pelatih Hebat

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Mantan pelatih AS Roma, Claudio Ranieri, mendukung rencana mantan anak asuhnya, Daniele de Rossi untuk berkarier sebagai pelatih. Ranieri pun yakin De Rossi akan menjadi pelatih yang sukses.

“Selama aktif bermain, Daniele de Rossi sudah menjalani peran layaknya seorang pelatih di atas lapangan,” ungkap Claudio Ranieri seperti dikutip www.old.football5star.com dari laman Football Italia.

“Melakukan peran serupa dari bangku cadangan merupakan sebuah hal yang berbeda. Tapi, saya tetap yakin kalau De Rossi akan menjadi sosok pelatih hebat yang dihargai oleh para pemainnya,” sambung Ranieri menambahkan.

Daniele de Rossi - AS Roma - Claudio Ranieri - Zimbio
Zimbio

Lebih lanjut, Ranieri juga mengatakan kalau De Rossi akan bisa mengambil beberapa ilmu sebagai pelatih dari sang ayah, Alberto. Saat ini, Alberto de Rossi masih menjabat sebagai salah satu pelatih di tim muda AS Roma.

“Ayah dari De Rossi juga akan memberikan saran-saran yang sangat bagus. Karena, dia merupakan sosok profesional yang sudah sangat mengenal bagaimana cara menjadi pelatih yang hebat,” kata Ranieri.

De Rossi saat ini sudah tak lagi aktif bermain sepak bola. Pria 36 tahun itu resmo gantung sepatu pada awal tahun 2020 lalu setelah bermain untuk raksasa Argentina, Boca Juniors selama beberapa bulan.

Selepas pensiun, De Rossi memang ingin mengikuti jejak sang ayah dan menjadi seorang pelatih. Ia pun berambisi untuk menjadi pelatih AS Roma di masa depan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Gennaro Gattuso Takut Dengan Kemampuan Claudio Ranieri

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih Napoli, Gennaro Gattuso, mengaku cukup takut dengan kemampuan Sampdoria yang kini diasuh oleh juru taktik kawakan, Claudio Ranieri. Menurut Gattuso, Sampdoria menjadi tim yang bisa menyulitkan lawan-lawannya semenjak kehadiran Ranieri.

Semenjak diasuh oleh Ranieri, Sampdoria memang mampu menunjukkan peningkatan performa meski masih berkutat di papan bawah klasemen Serie A. Saat ini, Fabio Quagliarella cs masih terjebak di posisi 16 klasemen dengan koleksi 20 poin.

Meskipun sudah mulai membaik, Sampdoria sedang berada dalam tren yang tak cukup baik. Pasalnya, mereka hanya mampu meraih satu kemenangan dari lima partai terakhirnya.

Gennaro Gattuso - Claudio Ranieri - Napoli - Sampdoria - @sampdoria
instagram.com/sampdoria

“Semenjak kehadiran Claudio Ranieri, Sampdoria menjadi salah satu tim dengan lini pertahanan terbaik di Serie A,” ujar Gennaro Gattuso seperto dikutip www.old.football5star.com dari laman Football Italia.

“Mereka bertahan dengan sangat baik dan tak meninggalkan banyak celah yang bisa kami eksploitasi. Saya takut karena kami akan menghadapi pelatih hebat,” sambung Gattuso menambahkan.

Lebih lanjut, Gattuso juga meyakini laga nanti akan menjadi sebuah pertarungan di atas lapangan. Ia tentunya berharap akan bisa membawa Napoli kembali meraih kemenangan dan memperbaiki posisinya di tabel klasemen.

“Jika kami berhasil meraih kemenangan, maka hal itu menjadi sebuah hal yang teramat penting untuk kami. Tapi, saya yakin partai nanti akan menjadi sebuah pertarungan sengit karena Sampdoria tak mudah dikalahkan ketika bermain di kandang,” tandas Gattuso.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri Bawa Dampak Positif Bagi Sampdoria

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Bek asal Kolombia Jeison Murillo mengatakan kehadiran allenatore anyar Claudio Ranieri membawa dampak positif bagi Sampdoria.

Menurut pemain yang direkrut dari Valencia tersebut, Ranieri membuat para pemain Sampdoria sangat bahagia di tiap sesi latihan.

Murillo juga menyebut bahwa semenjak Ranieri melatih, ia mendapat banyak kesempatan bermain.

Claudio Ranieri
football italia

“Sangat menyenangkan bermain secara reguler di liga yang telah saya mainkan,” kata Murillo seperti dikutip Football5star.com dari Football Italia, Kamis (14/11/2019).

“Saya sudah bermain di hampir semua pertandingan. Segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kita inginkan, tetapi perubahan pelatih membawa dampak bagus untuk kami,” tambahnya.

Semenjak melatih Sampdoria, Ranieri telah meraih 7 poin meskipun posisi tim berjuluk Il Samp masih belum aman dari zona merah degradasi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri: Sinisa Mihajlovic Pelatih Terbaik Serie A

Banner live dan podcast baru

Football5Star.com, Indonesia – Kekalahan tak lantas membuat Claudio Ranieri, pelatih Sampdoria, tak mampu berpikir objektif. Setelah tim asuhannya kalah 1-2 di kandang Bologna, Minggu (27/10/2019), dia menyanjung koleganya, Sinisa Mihajlovic. Menurut dia, pria sal Serbia itu patut mendapatkan Panchina d’Oro, lambang supremasi pelatih terbaik Serie A.

Panchina d’Oro adalah anugerah untuk pelatih yang dinilai menunjukkan kemampuan terbaik dalam semusim Serie A. Anugerah ini digelar Asosiasi Pelatih Sepak Bola Italia dengan melibatkan para pelatih sebagai pemberi suara. Untuk musim 2018-19, Sinisa Mihajlovic dinilai Claudio Ranieri pantas mendapatkan anugerah tersebut.

“Saya akan memilih Mihajlovic untuk Panchina d’Oro,” kata Claudio Ranieri selepas pertandingan Bologna vs Sampdoria seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sport Italia.

Para tifosi Sampdoria ikut memberikan dukungan semangat kepada Sinisa Mihajlovic.
tuttomercatoweb.com

Mantan pelatih AS Roma itu menegaskan, pilihannya kepada Sinisa Mihajlovic bukan didasarkan keprihatinan terhadap leukemia yang menggerogoti sang kolega. “Saya memilih Sinisa bukan karena sakit yang dideritanya. Namun, atas keteladanan yang telah diberikan kepada kami semua,” urai dia.

Claudio Ranieri bukan satu-satunya pelatih yang mendukung Sinisa Mihajlovic ditahbiskan sebagai pelatih terbaik Serie A. Hal serupa diungkapkan beberapa pelatih lain. Marco Di Vaio dan Massimo Carrera telah lebih dulu mendukung pemberian Panchina d’Oro kepada pelatih Bologna itu.

Ide tersebut pun mendapat sambutan positif dari Ketua Asosiasi pelatih Sepak Bola Italia, Renzo Ulivieri. “Ya, saya sudah baca pernyataan Marco (Di Vaio). Itu sepertinya ide bagus dan dapat diterima. Memang faktor teknis biasanya sangat ditonjolkan, tapi mengapa tidak?” ujar dia kepada La Gazzetta dello Sport.

Pada dua kesempatan terakhir, Panchina d’Oro diraih Massimiliano Allegeri yang membawa Juventus juara Serie A. Akankah dukungan dari Claudio Ranieri cs. akan membuat anugerah itu diterima Sinisa Mihajlovic yang hanya membawa Bologna finis di posisi ke-10 musim lalu? Kita tunggu saja.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri: Saya Bukan Lagi Rubah Tua yang Cerdik

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih Sampdoria Claudio Ranieri mengatakan bahwa dirinya sudah tak pantas lagi berjuluk rubah tua yang cerdik. Hal ini disebabkan usianya yang hampir menginjak kepala tujuh.

“Saya lebih suka disebut rubah tua yang cerdik ketika masih muda. Karena sekarang usia saya sudah sangat tua,” kata Ranieri yang baru merayakan ulang tahun ke-68 saat timnya di tahan imbang AS Roma, Minggu (20/10/2019).

Klasemen Serie A dan Hasil Pertandingan Pekan ke-8 - @sampdoria_en
twitter.com/sampdoria_en

Terkait hasil imbang melawan mantan klubnya tersebut, Ranieri mengatakan sudah cukup puas dengan capaian anak asuhnya.

“Para pemain bererja dengan sangat baik dalam latihan. Roma adalah tim yang baik meski kami sudah berusaha untuk bisa memenangkan pertandingan,” tambah Ranieri seperti dikutip Football5star.com dari Sky Sport, Senin (21/10/2019).

Dikatakan oleh mantan pelatih Leicester tersebut, bahwa komposisi pemain Sampdoria saat ini sudah cukup membuatnya puas. Secara taktis, Fabio Quagliarella dan kawan-kawan mampu menerjemahkan keinginannya di tengah lapangan.

“Saya puas dengan lini tengah, mereka adalah pemain berpengalaman dan kumpulan pemuda. Saya melihat Bertolacci (dalam laga lawan AS Roma) harusnya bisa lebih dekat dengan Quagliarella, namun ada celah dan itu harus ia tutup,” tutup Ranieri.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Bek AS Roma Berharap Claudio Ranieri Belum Bisa Bangkitkan Sampdoria

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Bek AS Roma, Federico Fazio, mengaku ingin memberikan kekalahan bagi Claudio Ranieri pada pertandingan pertamanya bersama Sampdoria. Ia pun yakin partai akhir pekan nanti akan berjalan dengan sengit.

Ranieri akan menjalani ujian pertamanya bersama Sampdoria pada partai melawan mantan klubnya, AS Roma, akhir pekan nanti. Partai tersebut rencananya akan digelar di Minggu (20/10) mendatang di markas Il Samp, Stadio Luigi Ferraris.

“Saya akan menyapa Claudio Ranieri sebelum pertandingan akhir pekan nanti. Tentu saja kami ingin meraih kemenangan. Meskipun kami tahu partai melawan Samodoria nanti akan berjalan dengan sulit,” ujar Federico Fazio dikutip dari laman Football Italia.

Federico Fazio - Claudio Ranieri - Fox Sports - AS Roma - Sampdoria
Fox Sports

Ranieri sendiri resmi ditunjuk sebagai juru selamat Sampdoria yang saat ini sedang duduk di dasar klasemen Serie A dengan koleksi tiga poin dari tujuh partai. Pelatih 67 tahun itu ditunjuk untuk menggantikan posisi Eusebio di Francesco yang dipecat lantaran gagal membawa Il Samp tampil maksimal musim ini.

Menurut Fazio, Ranieri adalah sosok yang tepat untuk menangani Sampdoria. Menurutnya, Ranieri memiliki segudang pengalaman di dunia sepak bola dalam hal mengangkat prestasi tim yang sedang terpuruk.

“Ranieri adalah pelatih yang memiliki sangat banyak pengalaman di dunia sepak bola. Dia sudah terbiasa melatih tim-tim yang sedang terpuruk dan memberikan dorongan dan motivasi yang sangat besar untuk meningkatkan prestasi mereka,” kata Fazio.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri Ogah Samakan Sampdoria dengan Fulham

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih anyar Sampdoria, Claudio Ranieri, yakin akan bisa membawa timnya keluar dari zona degradasi dalam waktu dekat. Ia pun tak ingin menyamakan Sampdoria dengan klub yang ia asuh musim lalu, Fulham.

Seperti yang sudah diketahui, musim lalu Ranieri sempat mendapat tugas untuk mengangkat prestasi Fulham yang terpuruk di Premier League. Namun, ia gagal menjalankan misi tersebut dan harus kehilangan pekerjaannya setelah hanya mampu meraih tiga kemenangan dari 17 laga.

“Sampdoria bukanlah Fulham. Jangan lupa, kalau status Fulham musim lalu adalah tim promosi. Mereka punya banyak sekali pemain yang baru mencicipi atmoster Premier League,” ujar Claudio Ranieri dikutip dari Goal.

Claudio Ranieri - Fulham - Sampdoria - Clubcall
Clubcall

“Di bursa transfer musim dingin, Fulham tidak memiliki strategi yang jelas. Di ini situasinya tentu berbeda. Karena, Sampdoria adalah tim yang bermain bagus tapi belum bisa meraih hasil maksimal. Mereka saat ini hanya butuh lecutan semangat untuk bisa tampil maksimal,” ujar Ranieri menambahkan.

Semenjak ditinggal Marco Giampaolo, Sampdoria memang gagal meraih hasil maksimal di Serie A musim ini. Fabio Quagliarella dkk hanya mampu meraih satu kemenangan dan sudah enam kali kalah dari tujuh partai Serie A musim ini.

Catatan negatif tersebut membuat mereka saat ini harus menempati posisi buncit klasemen Serie A. Pelatih pengganti Giampaolo, Eusebio di Francesco pun harus kehilangan pekerjaannya. Kini, Ranieri mendapatkan tugas berat untuk mengeluarkan Sampdoria dari zona degradasi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ranieri Sepakat Tangani Sampdoria 2 Tahun

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Claudio Ranieri dikabarkan setuju untuk mengambil alih kursi pelatih Sampdoria. Mantan pelatih sukses Leicester City ini diyakini sepakat dengan ikatan kontrak berdurasi dua tahun.

Seperti dilansir Football5star.com dari Sky Sports dan Ansa, proses negosiasi telah mencapai kesepakatan, Kamis (11/10/2019). Claudio Ranieri dipercaya akan mendapatkan gaji sebesar 2 juta euro atau sekitar Rp31 miliar.

Ranieri disebut-sebut sebagai pelatih yang menjadi pilihan alternatif Sampdoria. Ya, sebelumnya klub berjulukan I Blucerchiati diketahui mengincar mantan pelatih Gennaro Gattusso. Namun, mereka mendapat penolakan dari mantan pelatih AC Milan itu.

claudio ranieri
Reuters.com

Di Sampdoria, Ranieri akan menjadi suksesor pelatih sebelumnya, yakni Eusebio Di Francesco.

Ranieri merupakan pelatih yang sebelumnya menangani AS Roma. Uniknya, pertandingan pertama pelatih berusia 67 tahun ini akan langsung melawan tim berjulukan I Giallorossi pada 20 Oktober nanti.

Ranieri merupakan pelatih yang sarat pengalaman di Serie A. I Blucerchiati merupakan klub ke-10 asal Italia yang telah ditanganinya.

Sebelumnya, ia pernah menukangi klub semisal Napoli, Fiorentina, Juventus, Parma, Roma, hingga Inter Milan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Bantah Menangis, Claudio Ranieri Doakan Penerusnya di AS Roma

Banner live dan podcast baru

Football5Star.com, Indonesia – Suasana emosional mewarnai akhir laga AS Roma vs Parma, Senin (27/5/2019) dini hari WIB. Para fan tuan rumah memberikan penghormatan kepada pelatih Claudio Ranieri dan kapten Daniele De Rossi yang dipastikan pergi.

Claudio Ranieri mengaku sangat terharu, tapi tak menangis saat menerima tepuk tangan dan namanya dilantunkan para tifosi. Hal itu diungkapkan saat diwawancara Sky Sport Italia dan konferensi pers selepas pertandingan yang berakhir 2-1 bagi I Giallorossi tersebut.

“Air mata? Itu hanya air hujan,” kata Claudio Ranieri sambil tertawa seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sport Italia. “Itu sungguh hal menyentuh bagi mereka yang merasa menjadi fan. Saya harus mengucapkan terima kasih kepada mereka. Ini sungguh menyenangkan.”

Claudio Ranieri dan Daniele De Rossi tak bisa menahan haru seteah menjalani laga terakhir bersama AS Roma.
tuttomercatoweb.com

Sementara itu, mengenai rangkulan eratnya dengan Daniele De Rossi, pria yang mengantar Leicester City juara Premier League 2015-16 itu berujar, “Kami adaah dua orang yang akan menutup kiprah di sini. Dia sebagai pemain, saya sebagai pelatih di Roma. Ada perasaan yang luar biasa.”

Meskipun terharu, Claudio Ranieri tak mau terlarut. Dia lantas mendoakan siapa pun yang nanti menggantikan posisinya sebagai pelatih AS Roma. “Saya mendoakan yang terbaik bagi pelatih Roma berikutnya. Saya harap dia bekerja dengan baik karena saya adalah fan,” ucap dia.

Pelatih berumur 67 tahun itu yakin AS Roma punya masa depan cerah. Menurut dia, modal sudah ada, tinggal bagaimana pelatih baru meraciknya. Selain itu, dalam pandangannya, manajemen jangan terburu-buru melakukan pergantian.

“Saya yakin, tim ini solid dan punya kemampuan. Pelatih baru nanti harus punya iede yang jelas dan diberi waktu untuk bekerja. Biarkan dia bekerja dengan baik dan saya yakin dia akan membawa tim ini bermain baik di Serie A. Jika luar biasa, dia bahkan dapat membawa klub ini bersaing menjadi juara,” kata Claudio Ranieri lagi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri Ingin Daniele de Rossi Dapat Perpisahan Sempurna

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih AS Roma, Claudio Ranieri, berharap publik Stadio Olimpico akan memberikan salam perpisahan terbaik untuk Daniele de Rossi pada Minggu (26/5) malam waktu setempat. Ia pun menjamin posisi Daniele de Rossi di starting XI pada partai melawan Parma nanti.

Daniele de Rossi akan pergi meninggalkan Roma setelah 19 tahun bermain di Stadio Olimpico. Pemain 35 tahun itu pergi meninggalkan ibu kota Italia dengan catatan 63 gol dan 54 assist dari 615 penampilan di semua kompetisi.

“Saya tentunya berharap para suporter akan menciptakan atmosfer yang sesuai dengan keinginan De Rossi. Saya ingin melihat Stadio Olimpico yang dipenuhi dengan rasa cinta,” ungkap Claudio Ranieri dikutip dari laman resmi Giallorossi.

Claudio Ranieri - Daniele de Rossi - AS Roma - La Provence
La Provence

“Dia akan tampil sebagai starter dan mengenakan ban kapten. Dia berhak mendapatkan tepuk tangan serta perpisahan terbaik dari para suporter. Partai nanti akan menjadi sebuah pesta dan saya tentu berharap De Rossi akan menunjukkan penampilan terbaiknya,” imbuhnya menambahkan.

Selain menjadi ajang perpisahan untuk Daniele de Rossi, partai melawan Parma juga memiliki arti khusus. Pasalnya, Giallorossi wajib memetik tiga poin apabila ingin finis di zona Liga Champions pada klasemen akhir Serie A.

Selain wajib meraih kemenangan, AS Roma juga wajib beraharap Inter Milan dan AC Milan menelan kekalahan dari lawan-lawannya di partai pamungkas Serie A musim ini. Saat ini, AS Roma masih berada di peringkat 6 dan terpaut tiga angka dari Atalanta yang ada di posisi 3.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

AS Roma Terlalu Sering Lepas Pemain Penting

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Kebijakan penjualan pemain AS Roma di beberapa bursa transfer terakhir ternyata membuat sang pelatih, Claudio Ranieri merasa resah. Menurutnya, AS Roma terlalu sering melepas pemain penting ke klub lain.

Di bursa transfer musim panas tahun 2018, Giallorossi menjual Alisson Becker ke Liverpool dan Radja Nainggolan ke Inter Milan. Setahun berselang, giliran Daniele de Rossi yang dilepas setelah kontraknya tak lagi diperpanjang.

Roma bermain dengan sangat baik di musim 2017-18. Tapi, mereka kemudian mulai menjual pemain-pemain yang menjadi tulang belakang tim. Padahal, pemain-pemain itu bisa menjadi gerbang menuju era yang baru dalam sejarah Roma,” tutur Claudio Ranieri dikutip dari laman Football Italia.

Claudio Ranieri - AS Roma - @DonRanieri 2
twitter.com/DonRanieri

“Memang kami berhasil mendatangkan pemain bagus. Tapi, mereka butuh waktu waktu untuk berkembang. Ada sedikit kerugian karena para pemain berpengalaman tak membantu para pemain baru untuk merasa nyaman di sini,” imbuhnya.

Kegagalan AS Roma untuk mengulangi prestasi gemilang di musim 2017-18 membuat Eusebio di Francesco harus kehilangan posisinya sebagai pelatih. Claudio Ranieri pun ditunjuk untuk menajdi nahkoda sementara hingga akhir musim 2018-19. Ia pun merasa sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

“Ketika saya tiba, para pemain kesulitan untuk bangkit di level psikologis. Eusebio meninggalkan tim yang hebat. Tapi, tugas utama saya adalah, mengembalikan kepercayaan diri dari para pemain yang sedang terpuruk,” tandasnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ranieri Kecewa Usaha Keras Roma Tidak Membuahkan Hasil

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – AS Roma gagal meraih poin penuh di kandang Sassuolo. Anak asuh Claudio Ranieri itu hanya mampu bermain imbang tanpa gol di Stadion Mapei dalam lanjutan Serie A, Minggu (19/5/2019) dinihari WIB.

Hasil imbang ini pun sangat disesalkan Claudio Ranieri. Ia menganggap anak asuhnya sudah berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertandingan. Namun, beberapa peluang emas yang didapat gagal menghasilkan gol.

“Kami sudah mencoba semuanya sampai akhir, sangat disayangkan hasilnya tidak menggambarkan performa kami. Saya tidak bisa meminta lebih banyak dari para pemain karena mereka sudah bermain sangat baik,” ujar pelatih kawakan itu kepada DAZN, Minggu (19/5/2019).

ranieri puas roma imbangi inter
@ASRomaEN

“Penyesalan selalu karena tiga poin. Roma adalah tim yang sangat bagus, tapi ada musim di mana segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan. Anda kehilangan banyak peluang dan akibatnya Anda gagal menang,” sambungnya.

Pada laga pekan ke-37 ini pelatih yang sukses membawa Leicester City juara Premier League itu tidak menurunkan Daniele De Rossi yang dipastikan pindah musim depan. Ia pun membeberkan alasan di balik keputusannya mencadangkan sang kapten.

“Saya memang tidak mempertimbangkannya untuk bermain malam ini. Saya ingin De Rossi siap untuk hari Minggu. Saya mengundang semua fan ke pestanya akhir pekan depan. Wajar melihat dia tidak bahagia saat ini tapi saya mencoba mendorong para pemain untuk fokus dan mempertahankan kepercayaan diri mereka,” tutupnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ranieri Bandingkan James Pallotta dengan Roman Abramovich

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih AS Roma, Claudio Ranieri, membandingkan cara kerja presiden Roma, James Pallotta, dan pemilik Chelsea, Roman Abramovich. Menurutnya banyak perbedaan mencolok yang terjadi antara kedua pemilik tersebut.

Kendati tidak mengatakan Pallotta lebih baik dari Abramovich, Ranieri mengaku bahwa presiden Roma itu lebih memiliki kedekatan emosional dengan para pemain dan pelatih. Hal inilah yang tidak dimiliki pemilik Chelsea.

Ia pun mengaku dari deretan pelatih Chelsea selama ini hanya dirinya yang sering bertemu dengan Roman Abramovich ketika masih menangani The Blues. Bahkan ia meyakini bahwa Maurizio Sarri sampai sekarang belum pernah bertemu dengan pria asal Rusia tersebut.

james pallotta
romapress.us

“Saya harus katakan ini, saya tahu para pendukung dan jurnalis mengatakan pemilik kami berada jauh di Amerika Serikat, tapi dia selalu ada untuk tim. Saya tidak menemukan banyak pemilik klub yang dekat dengan klubnya sepanjang karier saya. Maksudnya yang selalu ada bersama tim setiap saat,” kata Ranieri seperti dilansir AS, Jumat (17/5/2019).

“Mungkin saya orang yang lebih sering bertemu dengan Abramovich lebih sering dari pelatih Chelsea lainnya. Saya rasa Carlo Ancelotti hanya bertemu dengannya beberapa kali. Sedangkan Sarri, saya tidak yakin dia sudah bertemu dengannya,” imbuhnya.

Tidak ketinggalan, pelatih yang akan meletakkan jabatannya di Roma akhir musim ini mengatakan hanya pemilik Leicester City yang benar-benar peduli dengan para pemain.“Saya lebih sering bertemu pemilik Leicester City selama karier saya. Mereka benar-benar memikirkan klub, pemain, dan fansnya,” tutupnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ranieri Harapkan Perpisahan Ideal Untuk De Rossi

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Kepergian Daniele De Rossi dari AS Roma membuat pelatih kepala Giallorossi, Claudio Ranieri sedih. Ia pun berharap dua pertandingan sisa musim ini menjadi momen bagi fans untuk memberikan persembahan terbaik bagi sang pemain.

Sebelumya, De Rossi memastikan musim ini adalah yang terakhir baginya membela tim ibu kota. Negosiasi kontrak dengan pihak klub tidak mendapatkan titik temu. Permintaan perpanjangan dua musim tidak dikabulkan oleh manajemen yang justru berbalik memaksanya hengkang.

Ranieri menganggap, momen ini tidak bagus untuk kondusitivas internal tim. Ia pun mengakui De Rossi merupakan pemain penting bagi Roma setelah Francesco Totti selama satu dekade terakhir.

Daniele de Rossi - AS Roma - @ASRomaEN
twitter: @ASRomaEN

“Aku berharap pertandingan terakhir akan menjadi momen perpisahan yang ideal untuk Danielle. Para fans akan punya waktu untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir. Mereka bisa mengungkapkan rasa cinta baginya dan klub,” kata Ranieri kepada situs resmi klub.

“Sejauh ini, Daniele tetap tampil dengan penuh motivasi seperti yang ia lakukan selama ini. Mungkin sekarang dia tidak bisa tidur. Itu wajar karena kabar ini memang terbilang mengejutkan. Pasalanya, ia sudah memberikan segalanya untuk tim yang ia cintai,” katanya melanjutkan.

Manajemen AS Roma menawarkan posisi wakil CEO di klub. Namun, tawaran itu ditolak sang pemain yang berharap masih dipertahankan sebagai pemain. Hingga pada akhirnya beberapa hari lalu pemain yang sudah 18 musim membela Roma itu pun mengumumkan pamit musim depan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri Angkat Koper dari AS Roma Musim Depan

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih AS Roma, Claudio Ranieri, mengkonfirmasi bahwa dirinya tidak akan bertahan di Stadion Olimpico pada musim depan.

Ranieri mengaku sangat senang mendapat kesempatan untuk bisa melatih mantan timnya tersebut meski hanya sesaat.

“Saya datang ke AS Roma karena panggilan dari klub. Saya sangat gembira dan senang bisa membantu klub ini,” kata Ranieri seperti dikutip Football5Star.com dari Football Italia, Jumat (10/5/2019).

Ranieri datang ke Stadion Olimpico pada Maret 2019 lalu. Dia menggantikan posisi Eusebio Di Francesco yang dipecat pada 7 Maret 2019.

Claudio Ranieri - AS Roma - Empoli - @ASRomaEN
Twitter @ASRomaEN

Pada debut pertamanya di AS Roma, Claudio Ranieri sukses mengalahkan Empoli dengan skor 2-1 di markas sendiri. Namun setelah melawan Empoli, Roma menderita kekalahan beruntun, dari SPAL dan Napoli.

Dari lima pertandigan terakhir Serigala Ibu Kota, Ranieri sebenarnya catatkan torehan cukup baik. Stephan El Shaarawy cs mampu menorehkan dua imbang dan tiga kali meraih kemenangan.

Pada laga akhir pekan nanti, Minggu 12 Mei 2019, AS Roma akan berhadapan dengan juara Liga Italia musim ini, Juventus di Stadion Olimpico. Tiga poin wajib di raih jika mereka ingin menembus zona Liga Champions musim depan.

Saat ini AS Roma berada di peringkat ke-6 dengan koleksi 59 poin, sama dengan peringkat ke-5, AC Milan. Posisi AS Roma masih dibayangi oleh Torini di peringkat ke-7 dengan koleksi 57 poin.

Selain melawan Juventus, AS Roma di dua pertandingan terakhir akan melawan Sassuolo (18/5) dan Parma (26/5). Di dua laga tersebut, klub asuhan Claudio Ranieri wajib menang dan berharap Atalanta serta AC Milan terpeleset.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Pastore Beberkan Perbedaan Di Francesco dan Ranieri

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Javier Pastore membeberkan perbedaan antara Eusebio Di Francesco dan Claudio Ranieri. Gelandang AS Roma itu merasa dirinya lebih nyaman dilatih oleh karteker Il Gialorossi, Ranieri.

Pastore didatangkan Roma dari Paris Saint-Germain dengan status permanen. Kedatangan mantan gelandang Palermo itu diharapkan mampu memperkuat lini tengah Roma yang ditinggalkan Radja Nainggolan dan Kevin Strootman. Sayangnya, cedera membuatnya kariernya sempat terhenti di klub yang bermarkas di Stadion Olimpico tersebut.

“Saya tak beruntung mendapat cedera tepat di awal musim, kemudian setelah itu saya tidak dianggap sebagai opsi untuk Pelatih sebelumnya (Di Francesco),” ujar Pastore dilansir Football5star dari Sky Sport Italia.

Tak hanya itu, ia juga mengaku mantan pelatih Sassuolo itu tak mengajaknya berbicara. Kondisi itulah yang membuat Pastore lebih mengagumi sosok Ranieri.

claudio ranieri - as roma - twitter CalcioASRoma
Twitter @CalcioASRoma

“Saya pikir Ranieri memahami situasi kami saat ini, yang sedang tidak bai. Dia berbicara kepada setiap pemain, bertanya kepada kami tentang sepak bola kami. Lalu ia menggabungkan semuanya untuk membantu kami memperkuat kepercayaan diri kami.”

Cedera yang ia alami sempat membuat kariernya mandek. Namun saat ini kondisi itu tengah ia hapus. Ia ingin lebih berkontribusi terhadap tim.

“Saya kehilangan banyak bulan, tetapi saya siap sekarang dan dalam kondisi yang baik, ingin memberikan kontribusi saya.”

AS Roma sukses menggulung Cagliari dengan skor 3-0. Satu dari tiga gol itu dicetak oleh Javier Pastore. Hasil itu membuat ia semakin yakin bisa lolos ke Liga Champions musim depan.

“Kami memainkan permainan yang bagus (melawan Cagliari). Yang penting adalah menang, mengambil tiga poin dan terus menantang untuk tempat Liga Champions,” beber Javier Pastore.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Inginkan Conte, Totti Minta Semua Dukung Ranieri

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Desas-desus kedatangan Antonio Conte ke dalam tubuh AS Roma semakin kencang berembus. Direktur AS Roma, Francesco Totti mengakui jika Conte adalah pelatih berkualitas, namun ia minta semua pihak memberikan dukungan sepenuhnya untuk Claudio Ranieri.

Ranieri didatangkan oleh Il Gialorossi pada Maret 2019 yang lalu. Statusnya pun hanyalah karteker dan pada akhir musim nanti, kemungkinan besar Ranieri tidak akan lagi menjadi pelatih AS Roma.

“Beberapa minggu terakhir semua membicarakan Antonio Conte, tapi kami memiliki Ranieri sebagai pelatih. Semuanya harus menghormati dia sampai akhir. Dia saat ini adalah pelatih kami, lalu pada akhir musim kami akan mengevaluasi lagi. Apakah tetap dia, Conte atau nama lain (sebagai pelatih AS Roma),” ujar Totti dilansir Football5star dari Sky Sport Italia.

Demi AS Roma, Claudio Ranieri Rela Conte Gantikan Posisinya - Football5star - Diario AS
Diario AS

Bagi Totti, tak layak membicarakan pelatih baru ketika mereka tengah fokus mencapai tujuan. Tujuan mereka saat ini adalah lolos ke Liga Champions musim depan. Kemenangan 3-0 atas Cagliari membuka peluang Il Gialorossi lolos ke Liga Champions musim depan.

“Kami memiliki tujuan yang sangat penting, yakni lolos ke Liga Champions. Tak seharusnya untuk membahas pelatih lain saat ini. Pilihan manajemen tak tergantung dengan hasil di akhir musim. Saya menjamin itu,” beber Totti.

Francesco Totti mengakui kemampuan Conte sebagai pelatih. Menurut dia, Conte adalah pelatih yang sukses di Eropa dan memenangkan banyak gelar. Wajar ketika banyak klub yang menginginkan jasanya.

“Conte salah satu pelatih sukses di Eropa yang memenangkan gelar di mana pun ia berada. Jadi, wajar ketika banyak klub yang ingin mendatangkannya. Ada yang menyebut Inter Milan, Bayer Munich, dan AS Roma. Jadi, banyak klub tertarik,” puji Totti.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Demi Roma, Ranieri Rela Conte Gantikan Posisinya

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – AS Roma dikabarkan tengah mencari pelatih baru. Yang terkini, Antonio Conte menjadi salah satu buruan Il Gialorossi. Menanggapi kabar tersebut. karteker Roma, Claudio Ranieri mengaku siap posisinya digantikan Conte karena ia cinta dengan AS Roma.

Dilansir dari Sky Sports Italia, pernyataaan itu keluar setelah AS Roma mengalahkan Cagliari dengan skor 3-0. Kemenangan itu untuk sementara mengatrol posisis Alessandro Florenzi cs ke peringkat keempat sementara.

“Sebagai pendukung AS Roma, saya akan sangat suka ketika melihat Conte sebagai pelatih. Hal itu akan membuatku sangat senang. Namun, jangan pernah bertanya padaku apakah dia akan datang, karena saya orang terakhir yang akan mengetahui hal itu,” ujar Ranieri dilansir Football5star dari Football-Italia.

ranieri puas roma imbangi inter
@ASRomaEN

AS Rome menjalani musim yang buruk saat ini. Setelah sempat tampil mengejutkan musim lalu dengan lolos ke babak semifinal Liga Champions, Il Lupi justru melempem musim ini. Mereka bahkan terancam gagal lolos ke Liga Champions.

Menanggapi buruknya penampilan Roma, Ranieri memiliki alasan tersendiri. Salah satu yang ia soroti adalah terkait kesalahan kebijakan transfer Roma yang dulunya diatur sepenuhnya oleh Monchi. Monchi kini telah kembali ke Sevilla.

“Beberapa pemain penting pergi saat bursa transfer. Dan saat itu terjadi, pemain yang bertahan tidak suka. Buktinya, ada kekecewaan yang muncul. Tak hanya itu, para pemain yang didatangkan tak mampu menyelesaikan masalah itu,” keluh Ranieri.

Alasan lain adalah karena para pemain Roma masih terjebak nostalgia kesuksesan musim lalu di Liga Champions. Hal itu diperparah dengan adanya fakta bahwa beberapa mantan pemain Roma sejatinya tak pernah ingin pergi

“Mereka tak melakukannya dengan sengaja, tapi terlihat jelasa bahwa kami masih memikirkan kesuksesan musim lalu. Selain itu, kami menjual pemain yang tak ingin pergi seperti Kevin Strootman,” ujar Claudio Ranieri.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Claudio Ranieri Senang Bisa Mengasuh Stephan El Shaarawy

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pelatih AS Roma, Claudio Ranieri, mengatakan bahwa dirinya merupakan sosok yang beruntung karena memiliki kesempatan untuk melatih Stephan El Shaarawy. Menurut Ranieri, penampilan gemilang dari El Shaarawy bisa menentukan nasib AS Roma di akhir musim nanti.

Musim ini, Stephan El Shaarawy berhasil menunjukkan penampilan yang luar biasa bersama Giallorossi. Penyerang berdarah Mesir itu menjadi top skorer AS Roma di ajang Serie A dengan koleksi 10 gol dari 23 partai. Selain itu, ia juga mampu menyumbangkan lima assist.

“Stephan adalah pemain yang sangat teliti. Dia mampu menunjukkan penampilan yang baik ketika menyerang ataupun bertahan. Selain itu, ia juga berhasil mencetak cukup banyak gol musim ini dan memberi banyak kontribusi untuk Roma,” kata Claudio Ranieri dikutip dari laman Football Italia.

Stephan El Shaarawy - Claudio Ranieri - AS Roma - @ASRomaData
twitter.com/ASRomaData

“Di pertandingan melawan Inter, ia harus ditarik keluar karena kondisi fisiknya yang sudah tak memungkinkan. Selain itu, kami juga memutuskan untuk melakukan perubahan taktik. Saya tentu berharap dia bisa tampil lebih baik lagi di pertandingan selanjutnya,” imbuhnya menambahkan.

Kontrak dari Claudio Ranieri di Stadio Olimpico akan habis pada musim panas mendatang. Meskipun belum mendapatkan perpanjangan kontrak dari manajemen klub, Ranieri mengaku akan memberikan performa terbaiknya hingga akhir musim nanti.

“Saya akan memberikan yang terbaik untuk Roma hingga akhir musim nanti. Setelah itu, barulah kami bisa membicarakan soal masa depan.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ranieri Puas Roma Imbangi Inter di Giuseppe Meazza

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Hasil 1-1 yang didapat AS Roma saat menghadapi Inter Milan di Stadion Giuseppe Meazza, Minggu (21/4/2019) dinihari WIB disyukuri sang pelatih, Claudio Ranieri. Ia mengatakan timnya sudah bermain baik sepanjang 90 menit.

Walau pada awalnya menargetkan kemenangan, Ranieri tetap puas dengan hasil imbang ini. Menurutnya, anak asuhnya sudah bermain baik dan mampu merepotkan Inter sepanjang pertandingan.

“Kami datang ke sini untuk menang. Kami bisa melakukan serangan balik dengan lebih baik di babak kedua. Inter beberapa kali melakukan pelanggaran dan itu menghentikan laju kami untuk mencetak gol tambahan,” kata Ranieri kepada Sky Sport Italia, Minggu (21/4/2019).

roma imbangi inter
@ASRomaEN

“Tapi pada akhirnya hasil imbang ini sangat adil. Kami tahu pertandingan akan lebih sulit di babak kedua karena Inter biasanya mencetak lebih banyak gol di babak kedua daripada tim lain musim ini. Tapi kami mampu bertahan dengan baik dan mampu menciptakan peluang sendiri,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pelatih yang berjasa membawa Leicester City juara Premier League itu menegaskan keberhasilan timnya mematikan pergerakan Radja Nainggolan dan Matias Vecino jadi faktor utama timnya mencuri poin di Giuseppe Meazza.

“Radja Nainggolan dan Matias Vecino adalah pemain yang harus kami ikuti terus menerus. Mengehentikan mereka maka Anda bisa menghadirkan kesulitan untuk Inter,” ia menambahkan.

“Saya senang Bryan Cristante berhasil membuat mereka tidak bisa menyerang ke depan. Dia ditakdirkan untuk menghentikan Radja dan Vecino,” tutup Ranieri.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

AS Roma Putus Rantai Kekalahan, Ranieri Puji De Rossi

Football5star.com, Indonesia – AS Roma meraih kemenangan penting atas Sampdoria pada Minggu (7/4). Anak asuh Claudio Ranieri akhirnya bisa memutus catatan kekalahan di tiga laga terakhir Serie A.

Kemenangan ini membuat AS Roma kembali memepet empat besar. Saat ini, Giallorossi menepati peringkat keenam klasemen sementara. Kendati demikian, jaraknya ke peringkat keempat yang ditempati AC Milan hanya terpaut satu angka.

Gol kemenangan tim ibu kota dicatatkan oleh sang kapten, Danielle De Rossi. Usai pertandingan, Ranieri tak ragu memuji sang pemain. Menurutnya, kehadiran sosok pemain berusia 35 tahun tersebut sangat penting untuk menjaga mental para pemain.

“Daniele adalah nyawa penting bagi permainan tim ini. Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah pemimpin kami. Kemenangan ini tentu tak kalah penting. Tidak hanya bagi kami namun juga bagi para pendukung dan orang sekitar,” ucapnya kepada Tuttosport.

“Kehadirannya di dalam tim turut menyalurkan energi positif kepada para pemain lain. Dia mengajarkan arti dari perjuangan dan pengorbanan untuk tim ini. Para pemain lain pun tidak sedikit mengaguminya,” katanya melanjutkan.

Bagi Ranieri, ini adalah kemenangan kedua selama menangani AS Roma. Menurutnya, butuh waktu untuk membuat Roma kembali konsisten. Apalagi, manajemen klub baru saja mendepak dua orang penting yakni Eusebio di Francesco (pelatih) dan Monchi (direktur olahraga).

“Kami tidak memikirkan terlalu jauh ke arah Liga Champions. Aku lebih tertarik membawa klub ini fokus dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Dalam waku dekat ada Udinese dan itu yang akan kami lakukan,” tutupnya.