Ada Peran Anak Ian Wright Saat Leicester City Juara Premier League

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah fakta menarik diungkap bek Danny Simpson terkait kesuksesan Leicester City juara Premier League 2015-16. Menurut dia, ada perann Shaun Wright-Phillips di sana. Secara khusus, dia mengungkapkan peran anak Ian Wright itu terkait dirinya.

Danny Simpson berada dalam situasi sulit di Leicester City pada musim 2015-16. Masa depannya tak terjamin di sana. Dia pun dipersilakan pergi. Namun, keteguhan hati dan dukungan dari Shaun Wright-Phillips mengubah semuanya. Dia justru kemudian jadi bagian penting kesuksesan The Foxes.

“Musim itu sungguh aneh bagiku. Musim panas itu, sebelum dia (Claudio Ranieri) datang, klub mengatakan kepadaku bahwa aku tak sering bermain dan (Ritchie) De Laet masihlah bek kanan utama. Klub mengatakan, ini mungkin saatnya bagiku untuk pindah,” urai Simpson membuka kisahnya dalan Podcast The Beautiful Game seperti dikutip Football5Star.com dari Leicester Mercury.

Bek yang kini memperkuat Huddersfield Town itu melanjutkan kisahnya. “Akan tetapi, tak seperti saat QPR mengatakan hal itu, kali ini aku bergeming. ‘Tidak, aku tak akan pergi. Aku tak akan melakukan hal itu lagi. Aku mungkin hanya main 15 kali musim itu. Namun, saat tak main, aku sudah bekerja baik. Aku akan terus berjuang dan tak akan pergi,'” kata dia.

Seperti diramalkan Shaun Wright-Phillips, Danny Simpson jadi andalan Claudio Ranieri di Leicester City.
leicestermercury.co.uk

Simpson lantas mengungkapkan peran Shaun Wright-Phillips. Menurut dia, eks pemain Chelsea dan Manchester City tersebutlah yang memberi keyakinan lebih kuat untuk bertahan di Leicester. Hal itu terkait kedatangan Ranieri.

“Aku berkawan akrab dengan Shaun Wright-Phillips. Dia meneleponku dan mengatakan dirinya mendengar aku akan pergi. Dia memintaku bertahan setidaknya hingga Januari. Jika tak berubah, ada bursa transfer Januari dan aku bisa pindah,” ujar Simpson.

Dia menambahkan, “Shaun (berdasar pengalamannya ditangani Raineri di Chelsea) mengatakan kepadaku, ‘Claudio akan menyukaimu. Dia menyukai para bek. Ini serius. Tundukkan kepalamu dan kamu pada akhirnya akan bermain.'”

Panggilan Tak Terduga Ranieri

Danny Simpson menuruti kata-kata Swight-Phillips. Namun, dia tak menyangka ucapan sahabatnya itu benar-benar akan jadi kenyataan. Pasalnya, pada awal musim itu, dia didemosi ke tim U-23 Leicester. Di sana pun, dia tak mendapatkan kesempatan bermain.

Dalam situasi yang membuat putus asa itu, sebuah kejutan datang. “(Asisten manajer) Steve Walsh memanggilku dan berkata bahwa Claudio ingin bicara denganku. Aku terkejut, ‘Apa yang sudah kulakukan sekarang?’ Aku diikutkan dalam latihan tim utama Leicester dan aku berlari seperti orang gila, coba meraih perhatian. Aku merasa seperti anak-anak yang coba masuk tim Manchester United,” urai pemain didikan akademi MU itu.

Danny Simpson jadi bagian penting Leicester saat juara Premier League 2015-16 berkat saran Shaun Wright-Phillips.
espn.com

Itu jadi sebuah awal baru bagi Danny Simpson sekaligus momen krusial yang membuat Leicester City lantas juara Premier League. “Dia (Ranieri) memanggilku. Dia menyukai sikapku dan berkata, ‘Mungkin saya sudah membuat kesalahan. Saya kira kamu bisa membantu. Teruslah lakukan yang telah kamu lakukan dan mungkin kamu akan bermain.'”

Kesempatan itu datang setelah Leicester kalah dari Arsenal dengan skor 2-5. “Pekan berikutnya, aku berada di tim. Kami menyerang dari fullback dengan aku dan Christian Fuchs. Aku tak pernah menoleh ke belakang lagi sejak itu,” kata Simpson.

Hal yang dialami bek yang kini berumur 33 tahun itu kemudian sungguh tak terbayangkan. Dia tiba-tiba saja jadi andalan Leicester City. Dia berujar, “Setelah itu, aku bermain pada semua laga, kecuali sekali saja. Aku harus berjuang untuk masuk tim dan syukurlah aku memutuskan bertahan karena itu adalah masa terbaik dalam hidupku.”

Tentu saja, di balik putusan penting itu, ada peran yang tak kecil dari Shaun Wrgiht-Phillips. Tanpa saran dari anak Ian Wright itu, sangat mungkin Danny Simpson tetap tak terlalu yakin soal masa depannya di Leicester City.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Kasper Schmeichel dan Riyad Mahrez Diminta Bertahan di Leicester City

Football5star, Indonesia – Bek Leicester City, Danny Simpson, meminta Kasper Schmeichel dan Riyad Mahrez untuk bertahan di klub tersebut setelah mengakhiri musim 2016-17 dengan finis di posisi ke-12.

Perjalanan indah Leicester City di Premier League hanya berlangsung selama satu musim. Setelah menjadi kampiun Premier League pada 2015-16, pencapaian The Foxes menukik tajam.

Meskipun mampu menembus babak perempat final Liga Champions, Leicester City dinilai gagal di Premier League karena sempat terseok-seok untuk menghindari zona degradasi.

Pencapaian yang buruk membuat beberapa pemain bintang dikabarkan akan hengkang dari klub tersebut, sebut saja Kasper Schmeichel dan Riyad Mahrez. Kedua pemain itu disebut ingin bergabung dengan klub yang tampil di Liga Champions musim mendatang.

Menyikapi kondisi timnya, Danny Simpson meminta rekan-rekannya tersebut untuk tetap tinggal di Leicester City dan kembali berjuang untuk mencetak sejarah pada masa mendatang.

“Klub ini adalah klub yang spesial, saya tahun akan ada banyak klub yang mengincar pemain kami. Hal tersebut membuktikan kalau kami memiliki potensi untuk berjalan lebih jauh di Premier League, asalkan para pemain bertahan.”

“Saya sangat berharap tidak ada yang meninggalkan Leicester City. Tentu akan menjadi hal yang menarik bagi skuat ini untuk berusaha menembus zona Eropa lagi pada musim depan.”

“Ini adalah Leicester City, tempat di mana impian bisa menjadi kenyataan. Kami telah membuktikannya ketika menjadi juara Premier League dan tampil positif di Liga Champions,” ujar Simpson.

Saat ini, Kasper Schmeichel kerap dihubungkan dengan dua klub Manchester. Manajer Manchester City, Pep Guardiola, telah mengindikasikan tertarik merekrut Kasper yang memiliki penampilan solid di bawah mistar gawang.

Sementara itu, Riyad Mahrez masih berharap bisa bergabung dengan klub idolanya, Barcelona. Namun, pemain Aljazair tersebut mungkin tidak bisa menampik ketertarikan Chelsea yang akan bersaing di Liga Champions musim mendatang.

Vardy Tak Boleh Disalahkan Atas Anjloknya Leicester

Football5star, Indonesia – Jamie Vardy kerap menjadi kambing hitam dari kegagalan Leicester musim ini. Setelah musim lalu keluar sebagai kampiun Premier League, prestasi The Foxes anjlok musim ini. Hingga pekan ke-24, mereka hanya mampu berada di peringkat ke-16.

Dengan poin 21, Leicester hanya unggul satu angka dari posisi 18 atau zona degradasi. Mereka pun baru menang enam kali dari 24 laga musim ini. Terlebih, sudah di empat laga terakhir mereka selalu menelan kekalahan.

Sang bomber, Vardy, pun kerap jadi sasaran. Apalagi setelah ia tak bisa sesubur musim lalu. Memang pada musim ini, pria Inggris itu baru mencetak lima gol. Berbanding terbalik dengan situasi musim lalu di mana ia tampil sangat subur dan mencetak 24 gol sepanjang musim.

Tak pelak, Vardy pun kerap menjadi sasaran kritik publik. Namun salah satu rekannya, Danny Simpson, membela Vardy. Menurut pemain belakang andalan Leicester itu, Vardy musim ini kerap tak mendapat peluang untuk mencetak gol. Karenanya kesuburan pun berkurang.

“Kami tidak banyak mendapat peluang bagus. Vardy tidak mendapat banyak peluang. Jika dia tidak mendapat kesempatan, apa yang Anda harapkan bisa dilakukannya?” ujar Simpson seperti dilansir Squawka.

“Kami harus terus berusaha. Kami butuh semangat, keberuntungan. Kami belum punya itu, tapi kami juga tidak boleh hanya terus bicara. Kami kebobolan gol lebih banyak, kami harus mengakui itu,” pungkasnya.

Berita Bola: Kalah Dari Burnley, Simpson Yakin Leicester Bangkit Lawan Man. United

Football5star.com, Indonesia – Bek Leicester City, Danny Simpson, meyakini timnya akan segera bangkit setelah kalah 1-0 dari Burnley pada Rabu (1/2).

Leicester menelan kekalahan ke-12 musim ini. Menghadapi Burnley di Stadion Turf Moor, mereka takluk akibat gol kontroversial Sam Vokes pada menit ke-87. Pemain asal Wales tersebut diklaim menyentuh bola dengan tangan sebelum menyarangkan bola ke gawang The Foxes.

Akibat kekalahan tersebut, skuat asuhan manajer Claudio Ranieri tak beranjak dari peringkat ke-16 klasemen sementara.

Simpson mengaku para penggawa Leicester merasa kecewa dengan hasil melawan Burnley. Kendati demikian, Ia yakin mereka akan belajar dari kesalahan.

“Aku merasa sangat kecewa, begitu juga semua yang berada di dalam ruang ganti, terutama setelah (Vokes) mengontrol bola dengan tangannya. Kami mengenal Burnley, kami tahu rencana mereka. Kami bertahan dengan baik dan mempertaruhkan segalanya,” ujar Simpson seperti yang dikutip laman resmi klub.

“Sebagai bagian dari barisan pertahanan, rasanya menyakitkan ketika kemasukan pada menit-menit akhir. Kami harus segera bangkit bersama-sama.”

“Aku pikir para pemain telah memberikan yang terbaik. Ini memang sulit untuk diterima dan kami membutuhkan para fans lebih dari sebelumnya. Kami harus tetap bersatu dan meraih poin,” tambah dirinya.

Pada Minggu (5/2) mendatang, sang juara bertahan bakal menjamu Manchester United di Stadion King Power. Simpson mengharapkan dukungan penuh dari para suporter.

“Kami memiliki pertandingan besar pada akhir pekan ini. Itu adalah laga yang sulit, tetapi kami akan bermain di kandang dan seluruh suporter kami akan berada di belakang kami,” tukasnya.

Berita Bola: “Tim Lawan Akan Mengerahkan Kemampuan Lebih Hadapi Leicester”

Leicester City kini tak bisa menyandang status underdog lagi di Liga Inggris. Banyak tim kini mengerahkan kemampuan lebih untuk bisa memetik hasil bagus melawan tim juara bertahan Liga Inggris.

Leicester tampil luar biasa di Liga Inggris musim lalu. Mereka menjadi juara mengalahkan tim-tim favorit seperti Arsenal, Manchester City, Manchester United, Chelsea, Manchester United, dan Liverpool.

Dengan status juara bertahan itu, kini kian banyak tim yang membidik kemenangan saat berduel melawan The Foxes. Status mereka kini sebagai team to beat, bukan lagi tim underdog.

bek Leicester, Danny Simpson bilang bahwa hal itu menjadi sebuah peringatan untuk tim besutan Claudio Ranieri itu. Mereka harus membiasakan diri dengan status itu.

Hasil pertandingan pertama Liga Inggris menjadi bukti nyatanya. Leicester menelan kekalahan saat berhadapan dengan Hull City dengan skor akhir 1-2 saat melawat ke Vitality Stadium.

“Tim-tim akan selalu berusaha mengerahkan kemampuan terbaik saat melawan kami, tapi mungkin mereka akan mengeluarkan lima persen ekstra karena semua orang ingin mengalahkan tim juara bertahan. Itu merupakan suatu hal yang harus kami biasakan,” kata Simpson di Soccerway.

“Kami akan melangkah. Kami akan melakukan apa yang biasa kami lakukan. Tahun lalu, kami memberikan reaksi yang bagus saat menelan kekalahan dan kami akan melakukan hal yang sama di pejan ini,” imbuhnya.

Ranieri Minta Leicester Tampil Seperti Juara

Bek kanan Leicester City, Danny Simpson, membeberkan instruksi yang diberikan manajer Claudio Ranieri jelang laga kontra Everton dalam lanjutan Premier League akhir pekan lalu. Simpson mengungkapkan, Ranieri meminta para pemain The Foxes tampil layaknya seorang juara.

Leicester telah memastikan diri tampil sebagai juara Premier League sebelum menghadapi Everton. Jamie Vardy dkk menggelar pesta juara usai membekap Everton dengan skor 3-1 di Stadion King Power, Sabtu (7/5).

“Manajer (Ranieri) mengatakan kepada kami, ‘Kalian adalah juara, jadi bermainlah seperti seorang juara’. Aku pikir, kami melakukan itu. Kami tahu apa yang harus dilakukan ketika laga dimulai. Kami telah membuktikan segala sesuatunya mungkin terjadi,” kata Simpson, seperti dilansir Soccerway.

“Kami semua datang ke Leicester, sebuah klub yang mirip dengan keluarga dan telah menyatu sebagai tim. Setiap pemain tampil dengan hebat,” imbuhnya.

“Tampil di lapangan (saat melawan Everton), usai dipastikan juara dan bermain seperti itu membuatku berpikir bahwa kami akan berkembang musim depan,” kata Simpson.

“Itu akan memberikan kami kepercayaan diri. Dengan pemain yang ada di tim, kekompakkan serta semangat, itu menjadi hal yang spesial. Aku telah bermain di banyak tim dan itu tidak mudah didapatm” jelasnya.

“Semoga semua orang ingin terus berkembang sebagai tim dan klub. Kami hanya berharap bisa mempertahan kebersamaan ini, karena bagiku, ada potensi yang sangat besar untuk tampil lebih baik. Itu tergantung kepada manajer dan manajemen klub,” tutup Simpson.

Tak Ada Vardy di Old Trafford, Leicester Tak Masalah

Leicester City bakal melakoni laga penting kontra Manchester United akhir pekan ini tanpa kehadiran Jamie Vardy. Namun, The Foxes tak gentar dan siap meraih tiga poin demi sejarah besar klub itu.

Laga penting di Old Trafford, Minggu (1/5/2016) malam WIB besok, karena jika Leicester menang maka gelar juar Premier League dipastikan bakal jadi milik mereka musim ini, terlepas apapun hasil duel Chelsea dan Tottenham Hotspur.

Melihat performa Leicester sejauh ini terbuka kemungkinan untuk bisa mengunci gelar juara lebih cepat. Namun, lawan yang dihadapi adalah MU yang berstatus klub terbaik di Inggris dengan 20 gelar juara liga.

Apalagi Leicester bakal bertanding tanpa kehadiran Vardy, sang top skorer musim ini dengan 22 gol, yang mendapat skorsing tambahan karen tindakan tak sportif saat melawan West Ham United dua pekan lalu.

Ketiadaan Vardy tentu dapat mengurangi ketajaman di lini depan ‘Si Rubah’ yang begitu tergantung pada pemain 29 tahun itu musim ini. Namun, kemenangan 4-0 atas Swansea City akhir pekan lalu setidaknya membuktikan bahwa Leicester pun tak masalah tanpa kehadiran Vardy.

Begitu pun dengan akhir pekan ini karena Leicester diyakini bisa mengalahkan MU dan mengunci gelar juara.

“Saya pikir kami sudah mengirim pesan pada semua orang yang sedikit negatif terhadap kami. Kami punya pemain yang bisa masuk lapangan dan melakukan pekerjaannya dengan baik. Leo (Ulloa) jadi man of the match dan Jeff (Schlupp) masuk sebagai pemain pengganti serta tampil oke,” ucap bek Danny Simpson seperti dikutip Soccerway.

“Demarai Gray bermain dan memainkan peran yang bagus pun begitu dengan Marc Albrighton. Semua soal skuat. Yeah, kami punya tim yang solid, dan kami tahu setiap pemain yang masuk ke dalam tim bisa menunjukkan kerja yang bagus,” lanjut dia.

Simpson: Leicester Bisa Atasi Absennya Vardy

Bek Leicester City, Danny Simpson, menegaskan bahwa mereka tetap bisa mempertahankan peringkat pertama klasemen meski tidak diperkuat oleh Jamie Vardy.

Vardy jelas merupakan salah satu figur penting keberhasilan Leicester menjadi penantang gelar juara Premier League. Ia telah mencetak 22 gol dan delapan assist dari 34 pertandingan.

Dalam laga terakhir melawan West Ham United akhir pekan lalu, yang berakhir imbang 2-2, Vardy diusir keluar lapangan setelah dinilai melakukan diving untuk mendapatkan hadiah penalti. Reaksinya yang berlebihan terhadap wasit membuat pemain berusia 29 tahun tersebut terancam diberi sanksi larangan bermain selama dua pertandingan.

Banyak pihak menilai absennya sang penyerang andalan akan sangat mengurangi kekuatan The Foxes, tetapi Simpson yakin mereka memiliki skuat yang mumpuni untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Vardy.

“Vardy adalah salah satu pemain terbaik di Premier League, tetapi Leonardo (Ulloa) masuk dan memberikan satu poin,” ujar Simpson seperti yang dikutip oleh Mirror.

“Ketika Vardy tidak mencetak gol dalam lima atau enam pekan, pemain lain mampu melakukan hal tersebut. Jadi, kami akan mampu mengatasi masalah ini.”

“Aku pikir kami telah menunjukkan kebersamaan dan semangat tim. Jadi, aku yakin kami akan mampu melewatinya. Kami memiliki pemain lain yang bisa menggantikan dirinya,” tambah mantan penggawa Manchester United tersebut.

Skuat asuhan manajer Claudio Ranieri saat ini berada di puncak klasemen sementara dengan total raihan 73 poin, unggul lima angka dari Tottenham Hotspur.

Imbang Lawan West Ham, Bukti Semangat Leicester

Bek Leicester City, Danny Simpson, merasa bangga dengan penampilan rekan-rekannya setelah bermain imbang 2-2 melawan West Ham United pada hari Minggu (17/4).

Dalam laga lanjutan Premier League yang digelar di Stadion King Power tersebut, Leicester unggul terlebih dahulu melalui Jamie Vardy. Namun, setelah sang pencetak gol mendapatkan kartu kuning kedua, West Ham mampu membalikkan situasi berkat Andy Carroll dan Aaron Creswell. Beruntung, Leonardo Ulloa berhasil menjadi penyelamat tuan rumah melalui titik penalti.

Kendati tidak meraih poin penuh, Simpson tetap bersyukur mereka mampu mengamankan satu angka.

“Hari ini, kami telah menunjukkan semangat dan kebersamaan tim,” ujar mantan pemain Manchester United tersebut seperti yang dikutip oleh BBC.

“Kami akan selalu berjuang hingga akhir. Kami tidak bisa mengontrol segalanya, tetapi kami bisa berjuang dan bekerja keras.”

“Jeff Schlupp bermain dengan baik untuk mendapatkan penalti dan Ulloa mampu menjalankan tugasnya dengan baik kendati ada banyak tekanan terhadap dirinya.”

“Aku pikir ini adalah poin yang sangat penting. Tidak banya tim yang bisa melakukan apa yang kami lakukan setelah tertinggal 2-1. Secara psikologis, ini memberikan kami dorongan besar,” tambah dirinya.

The Foxes saat ini masih berada di puncak klasemen sementara dengan keunggulan delapan poin atas Tottenham Hotspur. Skuat asuhan manajer Mauricio Pochettino baru akan bermain melawan stoke City pada hari Selasa (19/4).

Rasa Kekeluargaan, Kunci Sukses Leicester

Bek Leicester City, Danny Simpson, menjelaskan bahwa kuatnya rasa kekeluargaan di dalam skuat menjadi salah satu kunci kesuksesan mereka di musim ini.

Betapa drastisnya perubahan nasib Leicester. Musim lalu, mereka adalah klub yang harus bersusah payah untuk keluar dari zona degradasi. Tetapi, di musim ini mereka malah menjadi salah satu tim favorit untuk menjuarai Premier League.

Pada pekan ke-32 ini, skuat asuhan manajer Claudio Ranieri berada di puncak klasemen dengan total raihan 69 poin, unggul tujuh angka dari Tottenham Hotspur yang berada di peringkat kedua.

Dengan empat kemenangan lagi, The Foxes akan memastikan diri menjadi juara Premier League untuk yang pertama kalinya sepanjang sejarah klub.

“Kami semua memiliki hubungan yang sangat dekat, terasa seperti keluarga kedua,” ujar Simpson seperti yang dikutip oleh Mirror.

“Anda mungkin bisa melihat hal tersebut ketika pertandingan berakhir. Kami tahu ini adalah momen besar.”

“Setiap dari kami memberikan 100 persen kemampuan untuk tim dan fans. Kami hanya ingin terus berjuang dan berusaha meraih kemenangan di setiap laga.”

“Tidak dapat dipercaya jika melihat di mana kami berada tahun lalu, tetapi kami akan terus bekerja keras dan semoga saja kami bisa terus memenangi pertandingan,” tambah mantan penggawa Manchester United tersebut.

Selanjutnya, Leicester akan bertandang ke Stadium of Light untuk menghadapi tuan rumah Sunderland.

Leicester Juara Premier League dengan Skuat Termurah?

Masih ada enam pertandingan lagi menuju akhir musim Premier League. Jika akhirnya bisa mempertahankan puncak klasemen sampai pengujung musim, Leicester City, mungkin akan menjadi juara Premier League dengan skuat termurah.

Memang, klaim yang diapungkan Marca itu belum tentu seratus persen benar. Namun, jika dilihat harga total pemain yang ada di skuat Leicester saat ini, agaknya cukup masuk akal. Tak ada pemain The Foxes yang dibeli dengan harga tinggi. “Saya katakan kepada pemain bahwa saya mempercayai mereka dan hanya akan sedikit bicara soal taktik,” ujar Manajer Claudio Ranieri kepada Corriere della Sera, beberapa waktu silam.

Saat datang ke Leicester, Ranieri dibekali skuat yang sudah dibangun selama lima tahun dengan total harga hanya 55 juta euro. Dengan kata lain, total harga beli seluruh pemain Leicester hanya separuh dari nilai transfer Gareth Bale dari Tottenham Hotspur ke Real Madrid, dan lebih rendah dari saat Manchester City membeli seorang Raheem Sterling dari Liverpool seharga 68 juta euro, atau saat Manchester United mendatangkan Anthony Martial dari AS Monaco dengan 80 juta euro.

Angka 55 juta euro menjadi total belanja Leicester untuk mengumpulkan 18 pemain yang ada di skuat Ranieri pada musim ini. Pemain berharga tertinggi di Leicester adalah striker asal Jepang, Shinji Okazaki, yang dibeli 10,3 juta euro dari klub Jerman, FSV Mainz 05.

Salah satu kunci sukses Leicester musim ini adalah solidnya lini pertahanan. Kiper The Foxes, Kasper Schmeichel, sudah datang sejak empat tahun lalu dari Leeds United dan diboyong hanya dengan harga sekitar 1,5 juta euro. Pada musim ini, putra kiper legendaris Manchester United dan timnas Denmark, Peter Schmeichel ini sukses mencatat 12 clean-sheets.

Di depan Schmeichel, berdiri empat bek tangguh, Danny Simpson, Wes Morgan, Robert Huth, dan Christian Fuchs, yang secara keseluruhan hanya bernilai 7,3 juta euro. Sementara di sektor tengah, N’Golo Kante menjadi salah satu pemain yang memiliki perkembangan paling pesat. “Saya tak heran jika suatu saat saya melihat Kante melepas umpan silang dari sayap dan tiba-tiba sudah muncul di kotak penalti untuk menanduk sendiri bola itu,” puji Ranieri kepada gelandang pekerja keras yang dibeli hanya seharga 8,5 juta euro.

Di lini tengah, pekerjaan Kante terbantu solidnya permainan Danny Drinkwater, gelandang yang dibeli dari Manchester United senilai 850.000 euro. Ada pula Marc Albrighton yang didatangkan secara gratis dari Aston Villa. Namun, permata sesungguhnya ada di dalam diri Riyad Mahrez.

Pemain asal Aljazair itu dibeli Leicester seharga 500.000 euro dari klub Ligue 2, Le Havre, pada 11 Januari 2014. Satu lagi adalah striker Jamie Vardy, yang diboyong dari Fleetwood Town hanya dengan uang 1,1 juta euro. Peran kedua pemain sangat vital dalam perjalanan Leicester menuju takhta juara. Namun, kontribusi pemain lain yang secara total hanya bernilai 55 juta euro pun tak bisa dikesampingkan.

Di akhir musim nanti, apakah Leicester akan menyandang status juara Premier League dengan skuat termurah? Kita tunggu saja.

DAFTAR BELANJA SKUAT LEICESTER LIMA TAHUN TERAKHIR

2015-2016
Shinji Okazaki (Mainz 05) – 10,3 juta euro
N’Golo Kanté (Caen) – 8,4 juta euro
Gokhan Inler (Nápoli) – 5,5 juta euro
Daniel Amartey (Copenhagen) – 6 juta euro
Demarai Gray (Birmingham City) – 4,7 juta euro
Robert Huth (Stoke City) – 4 juta euro
Christian Fuchs (Schalke 04) – bebas transfer
Nathan Dyer (Swansea City) – pinjam

2014-2015
Leo Ulloa (Brighton & Hove Albion) – 9,5 juta euro
Danny Simpson (QPR) – 2,3 juta euro
Mark Schwarzer (Chelsea) – bebas transfer
Marc Albrighton (Aston Villa) – bebas transfer

2013-2014
Riyad Mahrez (Le Havre) – 500,000 euro
Marcin Wasilewski (Anderlecht) – bebas transfer

2012-2013
Jamie Vardy (Fleetwood Town) – 1,1 juta euro

2011-2012
Kasper Schmeichel (Leeds United) – 1,5 juta euro
Wes Morgan (Nottingham Forest) – 1 juta euro
Danny Drinkwater (Manchester United) – 850,000 euro
* Andy King (Chelsea) – dibeli saat umur 15 tahun
* Jefrrey Schlupp – dari akademi Leicester

Ranieri Membuat Skuat Leicester Santai

Bek Leicester City, Danny Simpson, menyebut timnya santai dalam perburuan gelar juara Liga Inggris. Sikap santai itu bisa terjadi karena apa yang ditularkan manajer Claudio Ranieri.

Saat ini, Leicester memuncaki klasemen Liga Inggris dan unggul lima poin dari rival terdekat Tottenham Hotspurs. Diprediksi tak lama bertahan di papan atas, nyatanya The Fox terus memimpin.

Kekuatan mental Leicester pun diacungi jempol oleh banyak orang. Padahal, Jamie Vardy dkk tak punya tradisi sebagai tim papan atas Liga Inggris. Dalam hal itu, peran Ranieri sangat besar. Manajer asal Italia itu membuat para pemain Leicester tetap santai dan tak tertekan. Imbasnya, Leicester selalu tampil hebat.

“Ini semua karena manajer. Dia sangat santai. Tidak ada tekanan dari dia. Dia tidak membuat kami stres, jadi kami begitu santai. Dia senang selama kami memberikan seratus persen dan bermain seperti yang dia mau. Ranieri ialah karakter yang baik. Dia sangat berpengalaman dan paham segalanya,” ujar Simpson.

“Dia tahu kapan harus tertawa bersama kami. Namun saat tiba waktunya untuk serius, dia akan mengumpulkan kami di ruangan dan menampilkan video pertandingan,” tambah dia.

Simpson menambahkan Ranieri selalu ingin lebih dari para pemain Leicester di setiap laganya.

“Bahkan saat menang, dia menyuruh kami berkembang. Dia membuat kami jadi lebih baik. Itulah kenapa setiap pemain memainkan sepak bola terbaik dalam karier mereka,” kata Simpson.

Pertarungan Hindari Degradasi Buat Leicester Biasa Hadapi Tekanan

Leicester City saat ini sedang menuju ke gelar juara Liga Inggris. Mereka merasa tak tertekan dengan situasi saat ini karena sudah merasakan tekanan saat menghindari degradasi.

Hal itu seperti diungkapkan oleh penggawa The Foxes, Danny Simpson. Dia yang menjadi bagian Leicester di musim lalu, tak ragu untuk bilang begitu.

Di musim lalu, Leicester akhirnya finis di posisi 14 klasemen dengan raihan 41 poin. Perolehan angka mereka saat selamat dari ancaman degradasi itu yang membuat mereka menetapkan target raihan angka di musim baru.

Leicester sudah jauh melampaui target 40 poin, bahkan mampu menjadi salah satu kandidat juara. Mereka ada di posisi pertama dengan raihan 60 poin, unggul lima poin dari Spurs yang ada di posisi kedua klasemen.

Kendati persaingan juara masih sengit, Simpson yakin bahwa mereka sudah terbiasa menghadapi tekanan.

“Saya pikir kami semua menikmati itu. Di masa-sama seperti ini di tahun lalu, Anda berada di saat yang sulit. Kami bisa melewatinya (pertarungan menghindari degradasi) dan itu membantu kami secara mental saat ini. Itu merupakan tekanan yang berbeda, tapi kami menikmatinya,” kata Simpson di situs resmi klub.

“Kami akan melakoni ini setiap hari selama berjuang di papan bawah. Kami semua sangat menikmati itu. Saya yakin baha para juga demikian, sama halnya dengan klub.”

“Kami mempunyai banyak pemain berpengalaman di tim dengan kemampuan intelegensia yang bagus. Mereka merupakan perpaduang yang bagus dari kami semua, lalu manajer dengan segala pengalamannya. Kolektif dari itu semua tampaknya bisa menyatu dengan bagus,” imbuhnya.

Ada Peran Ferguson Dalam Kesuksesan Leicester Musim Ini

Danny Simpson mengakui bahwa mental juara yang dia miliki bersama rekan-rekannya di Leicester City terinspirasi oleh mantan manajer Manchester United yakni Sir Alex Ferguson.

Simpson bersama pemain Leicester lainnya, Daniel Drinkwater dan Kasper Schmeichel, adalah alumnus dari akademi Manchester United. Mereka juga telah berseragam Red Devils selama empat musim sebelum resmi dilepas pada tahun 2010.

Sedangkan Drinkwater meninggalkan Old Trafford pada tahun 2012 bersama Schmeichel, yang merupakan putra kiper legendaris Man. United, Peter Schmeichel. Ketiga pemain tersebut sempat merasakan tangan dingin Alex Ferguson. Simpson yakin itu adalah salah satu sebab kini Leicester memiliki mental juara.

“Ada beberapa dari kami (pemain Leicester) yang mendapatkan mental juara dari Sir Alex (Ferguson),” bangga Simpson kepada The Guardian.

“Karena bermain bersama Man. United sejak usia dini telah membuat mental saya terasah untuk selalu bermain bagus dan menang di setiap pertandingan,” ungkapnya.

“Musim ini Danny (Drinkwater) menjadi salah satu pemain andalan kami, karena dia bermain dengan sangat baik musim ini. Sebenarnya hal tersebut sudah terlihat sejak dia masih berada di tim junior Man. United. Begitu juga dengan Kasper (Schmeichel), dia selalu berteriak kepada kami, dia selalu ingin tidak kemasukan, dan jika kebobolan dia merasa sangat sedih, dan itu adalah mental khas dari Man. United di bawah Sir Alex,” sambung bek bernomor punggung 17 di Leicester itu.

Musim ini dibawah asuhan Claudio Ranieri, Leicester City berhasil menembus dua besar Premier League dengan materi pemain tanpa bintang.

Punya Skuat Hebat, Leicester Yakin Akan Segera Bangkit

Leicester City menelan kekalahan saat melawat ke markas Liverpool di lanjutan Liga Inggris. The Foxes pun yakin akan segera bangkit karena mempunyai skuat yang diisi oleh para pemain hebat.

Saat melakoni pertandingan di Anfield, Sabtu (26/12) malam WIB, Leicester menelan kekalahan dengan skor akhir 0-1. Dalam pertandingan itu, Christian Benteke yang menjadi pencetak golnya.

Kekalahan itu merupakan yang kedua untuk Leicester di musim ini. Tim besutan Claudio Ranieri itu kalah lagi usai 10 laga tak pernah kalah dengan rincian delapan kemenangan dan dua hasil imbang.

Kekalahan pertama Leicester didapat saat berhadapan dengan Arsenal. Dalam pertandingan itu, mereka kalah dengan skor akhir 2-5.

Manchester City akan menjadi lawan Leicester berikutnya . Pertandingan itu akan berlangsung di King Power Stadium, Rabu (30/1) dinihari WIB.

Penggawa Leicester, Danny Simpson, yakin bahwa tim yang dibelanya akan bisa memetik hasil bagus sebagai momen kebangkitan. Semangat yang luar biasa dan tim yang hebat disebut menjadi kuncinya.

“Ini merupakan kekalahan 1-0 dan kami sangat hancur. Tapi, kami harus terus melangkah. Itu merupakan sebuah langkah mundur, tapi kami harus bangkit,” tegas Simpson di situs resmi klub.

“Kami mempunyai tim hebat dengan karakter dan semangat luar biasa. Kami akan menghadapi laga melawan City di kandang sekarang san bersama dengan para fans kami. Kami akan langsung fokus pada laga itu,” imbuhnya.

Kalah Dari Liverpool, Leicester Tetap Optimistis Lawan City

Bek Leicester City, Danny Simpson, mengaku bahwa kekalahan 1-0 dari Liverpool pada hari Sabtu (26/12) terasa menyakitkan. Tetapi, mereka ingin segera melupakan kekalahan ini dan menatap laga melawan Manchester City dengan Optimistis.

Pada laga Boxing Day yang digelar di Anfield Stadium tersebut, Leicester harus mengakui keunggulan Liverpool berkat gol tunggal dari Christian Benteke pada menit ke-63.

Kekalahan ini tidak hanya membuat Leicester terancam tergeser oleh Arsenal dari puncak klasemen, tetapi juga menghentikan catatan tak terkalahkan dalam 10 laga Premier League secara berturut-turut.

Simpson mengatakan bahwa hasil ini terasa sulit untuk diterima, tetapi Ia tetap berharap mereka dapat segera berkonsentrasi untuk laga menghadapi Man. City.

“Kami tahu hari ini akan menjadi hari yang sulit. Kami tahu mereka akan bereaksi setelah kekalahan pekan lalu (3-0 melawan Watford) dan kredit kepada mereka,” ujar mantan pemain Manchester United tersebut seperti yang ditulis oleh BBC.

“Kami harus tetap melangkah maju. Kami memiliki laga besar lainnya dalam tiga hari. Kami tidak suka kalah dan ini terasa menyakitkan, tetapi aku pikir kami akan mengubahnya menjadi enerji positif,” tambah dirinya.

“Kami akan kembali berlatih esok hari dan bersiap untuk menjamu Man. City,” lanjutnya.

Leicester saat ini masih berada di puncak klasemen sementara dengan total raihan 38 poin, tetapi jika Arsenal mampu mengalahkan Southampton maka Jamie Vardy dkk. akan turun ke peringkat kedua.