Nostalgia Hari Ini: Pembantaian Pasukan Biru di Rotterdam

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Sepanjang sejarah perhelatan EURO banyak terjadi kisah menarik yang tercipta. Salah satunya ialah pembantaian pasukan biru di Rotterdam oleh tim Orange. Momen ini terjadi di babak perempat final EURO 2000 yang mempertemukan Belanda kontra Yugoslavia pada 25 Juni 2000.

Saat itu, pertandingan berakhir dengan kemenangan telak Belanda atas Plavi yang berarti Pasukan Biru, julukan untuk timnas Yugoslavia. Skor akhir di Feijenoord Stadion, Rotterdam cukup mengangetkan banyak pihak. Hal ini lantaran Yugoslavia bukan tim lemah.

Nostalgia Hari Ini: Pembantaian Pasukan Biru di Rotterdam

Pasukan Biru diisi sejumlah pemain yang matang dengan pengalaman bermain di kompetisi top Eropa. Di lini belakang mereka memiliki bek tangguh seperti Siniša Mihajlović serta Miroslav Đukić, dua pemain yang sukses bermain di Serie A Italia dan LaLiga.

Sepak terjang Siniša Mihajlović di Serie A Italia tentu tak asing. Ia mengantarkan Lazio menjadi peraih gelar scudetto di musim 1999-00. Sebelumnya ia menjadi bagian dari tim Red Star Belgrade yang meraih gelar Liga Champions 1990-91.

Sementara Dukic jadi bek tangguh untuk Deportivo La Coruna dan Valencia. Ia turut andil mempersembahkan gelar juara LaLiga untuk Valencia di musim 2001-02. Di lini tengah, Yugoslavia memiliki gelandang tangguh seperti Niša Saveljić, Dragan Stojković hingga Dejan Stankovic serta Vladimir Jugović.

Di lini depan tak kalah menterang. Savo Milosevic dan Predrag Mijatović jadi jaminan Yugoslavia layak ditakuti tim lawan di EURO 2000. Dan si Pasukan Biru ini dilatih oleh salah satu pelatih beken, Vujadin Boskov.

Tim Orange Bikin Pasukan Biru Tak Berkutik

Yugoslavia datang ke EURO 2000 dengan keyakinan bisa menjadi kuda hitam yang cukup merepotkan. Pasukan Biru tergabung di grup D bersama Spanyol, Norwegia dan Slovenia. Di partai pertama, Yugoslavia hanya mampu meraih hasil imbang melawan mantan wilayah mereka yang memerdekakan diri, Slovenia.

Pada laga ini, Slovenia yang diperkuat Zlatko Zahovic mampu unggul 3-0 hingga pertengahan babak kedua. Namun dua gol Savo Milošević di menit ke-67 dan 73, serta satu gol lagi dari Ljubinko Drulović membuat Yugoslavia terhindar dari hasil memalukan.

Nostalgia Hari Ini_Pembantaian Pasukan Biru di Rotterdam__

Di partai kedua, mereka mampu menang 1-0 atas Norwegia lewat gol Savo Milosevic. Namun di partai terakhir, Yugoslavia takluk dari Spanyol dengan skor tipis 4-3. Meski begitu, Yugoslavia beruntung lolos dari babak fase grup.

Poin Yugoslavia sama dengan Norwegia yakni 4, namun Savo Milosevic dkk unggul head to head. Di babak perempat final, mereka ditunggu tim tuan rumah Belanda yang lolos dari babak fase grup dengan nilai sempurna.

Sudah kebobolan 7 gol di babak fase grup membuat Yugoslavia memang tak diunggulkan bisa mengalahkan Belanda. Namun publik pun tak menyangka bahwa Yugoslavia dengan mudahnya hancur lebur di Rotterdam.

Patrick Kluivert jadi bintang pada laga ini dengan mencetak hat-trick. Dua gol lainnya dicetak oleh Marc Overmars serta satu gol lainnya tercipta karena gol bunuh diri Dejan Govedarica. Sedangkan satu gol balasan pasukan biru ditorehkan oleh Savo Milosevic yang diakhir kompetisi menyabet gelar top scorer bersama Patrick Kluivert.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Kemenangan Wales di Euro Lampaui 2 Tetangga Britania

Wales akhirnya meraih kemenangan pertama di Euro 2020. Menghadapi Turki, Rabu (16/6/2021) Gareth Bale dkk menang 2-0.

Dua gol Wales tercipta pada masing-masing babak. Pertama dibukukan gelandang Juventus, Aaron Ramsey. Lalu Conor Roberts menyempurnakan kemenangan pada masa injury time.

Tambahan tiga poin membuat anak asuh Robert Page berada di urutan kedua Grup A dengan empat angka. Mereka hanya butuh satu poin lagi untuk memastikan lolos ke fase knockout.

Di sisi lain, kemenangan di stadion Baku Olympic, Azerbaijan, juga menggoreskan sejarah baru. Mereka kini sudah mencatatkan lima kemenangan dalam sejarah Euro.

Sekilas, angka tersebut memang tidak mentereng. Namun, jumlah kemenangan ini sudah mampu membuat Wales mengungguli dua tetangga Britania-nya. Yakni Skotlandia dan Irlandia Utara.

Bahkan lima kemenangan Aaron Ramsey dkk juga lebih banyak dibanding tetangga lain, Republik Irlandia. Jika kemenangan ketiga negara digabungkan, jumlahnya masih kalah dari Wales.

Torehan ini jelas membanggakan mengingat mereka baru tampil delapan kali dalam sejarah Euro. Di sepak bola saja, Wales bisa dibilang sebagai negara Britania Raya terlemah. Termasuk kompetisi sepak bola di sana yang kalah jauh, bahkan dari Irlandia Utara.

Liga Wales bisa dikatakan semi profesional dan hanya diikuti 12 klub saja dan tanpa degradasi. Tak heran dengan level kompetisi seperti ini Swansea City dan Cardiff City lebih memilih mengadu nasib ke Inggris.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Kabar Terbaru Karel Poborsky, Raja Assist di Pentas EURO

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Berbicara soal Karel Poborsky di pentas EURO, memori kebanyakan orang pasti tertuju pada gol tendangan lobnya saat Rep. Cheska melawan Portugal pada perempat final EURO 1996. Berkat gol itu, tim asuhan Dusan Uhrin lolos ke semifinal.

Poborsky tak menampik gol itu sangat identik dengan dirinya. Dalam banyak kesempatan, selalu saja orang-orang bertanya kepadanya soal gol indah tersebut. “Saya tak tahu lagi sudah berapa kali menggambarkan gol itu karena pada dasarnya itu jadi bagian dari setiap pembicaraan,” ujar dia seperti dikutip Football5Star.com dari ProcNe.

Kepada laman resmi UEFA, Karel Poborsky menjelaskan gol itu. “Vitor Baia maju terlalu jauh dari gawangnya. Bola melesat tinggi dan agak memantul di rumput, jadi saya tak harus menendangnya. Itu lebih mirip lemparan. Saya mengambilnya dari bawah. Saya memilih penyelesaian yang sudah biasa dilakukan. Saya sudah mencetak dua atau tiga gol seperti itu sebelumnya,” urai dia.

Gol itu memang yang paling diingat orang dari sosok Poborsky di pentas EURO. Sampai-sampai, itu menutupi prestasi terbesarnya di ajang antarnegara terakbar di Eropa tersebut. Hingga saat ini, dia tercatat sebagai raja assist di Piala Eropa. Total, dia membuat 8 assist. Pengancam terdekatnya adalah Cristiano Ronaldo dengan 6 assist.

https://www.youtube.com/watch?v=M4MjBpCUhiE&ab_channel=BenitoGonz%C3%A1lezBenitoGonz%C3%A1lez

Karel Poborsky tampil pada tiga edisi beruntun Piala Eropa. Selain di EURO 1996, dia juga tampil di EURO 2000 dan 2004. Pada tiga gelaran itu, dia tak pernah absen membuat assist. Tiga assist dibuat pada EURO 1996, satu assist pada EURO 2000, dan empat assist pada EURO 2004.

Kiprah apik di Piala Eropa pula yang membuat karier Karel Poborsky kian meroket. Setelah membawa Rep. Cheska ke final EURO 1996, dia direkrut raksasa Inggris, Manchester United. Setelah itu, dia melanglang buana bersama Benfica dan Lazio sebelum pulang kampung ke Sparta Praha pada 2002 dan pensiun di klub pertamanya, SK Dynamo Ceske Budejovice, pada 2007.

Karel Poborsky Tetap Berkutat di Sepak Bola

Setelah gantung sepatu, Karel Poborsky tak lantas meninggalkan sepak bola. Bahkan, enam bulan terakhir kariernya sebagai pemain diisi pula dengan tugas lain di manajemen klub. Dia menjadi pemilik sekaligus direktur umum di SK Dynamo Ceske Budejovice.

“Pada musim terakhir, saya sudah jadi pemilik bersama SK Dynamo. Saya juga menjabat direktur umum dalam 6 bulan terakhir. Itu sebetulnya kehidupan ganda yang tak bermakna. Namun, itu adalah fase transisi dan berjalan baik. Saya mengakhiri musim dan alih fungsi dengan mulus. Saya tak lagi duduk di kantor dengan celana training,” urai Poborsky.

Kiprahnya sekarang adalah Direktur Akademi Sepak Bola FACR, Asoasiasi Sepak Bola Rep. Cheska. Raja assist EURO itu mengaku sangat menikmati perannya yang sekilas terkesan membosankan karena buahnya tak segera terlihat dan dirasakan. Menurut dia, proses itulah yang jadi kenikmatan tersendiri.

Karel Poborsky sudah masuk manajemen SK Dynamo Ceske Budejovice pada 6 bulan terakhir kariernya sebagai pemain.
dynamocb.cz

“Di akademi, kerja kami bukan soal hari ini, tapi berakhir ketika anak berumur 14 tahun bermain sebagai murid. Ada ruang untuk berpikir lebih santai karena tak terbebani lagi pertandingan setiap minggu, setiap musim,” ujar Poborsky menjelaskan kerjanya sebagai Direktur Akademi Sepak Bola FACR.

Lebih jauh, Poborsky menguraikan proses perekrutan murid di akademi. Hal itu, kata dia, diawali pemantauan bakat di semua wilayah setiap dua tahun. Mereka mengumpulkan 250 anak-anak dan melatihnya di regional masing-masing. Dari situ, dilakukan seleksi hingga terpilih 25 anak-anak untuk masuk akademi.

“Namun, mereka tak bergabung dengan kami. Mereka tetap bersama klub masing-masing. Mereka datang pada Senin dan pulang pada Jumat, Mereka akan berlatih di klub dan bermain pada akhir pekan. Setelah itu, mereka kembali lagi ke akademi pada Senin,” kata Karel Poborsky lagi.

Kalah di Pemilihan Presiden FACR

Meskipun menikmati perannya itu, Karel Poborsky tak lantas berpuas diri. Dia pun ikut dalam pemilihan Presiden FACR yang digelar pada awal Juni lalu. Namun, dia gagal menjadi orang nomor satu karena kalah dari Petr Fousek. Dia meraih 91 suara, sedangkan Fousek memperoleh 106 suara.

Meskipun demikian, Poborsky tak sakit hati. Dia justru menunjukkan sportivitas dan kebesaran hati. Begitu dinyatakan kalah, dia langsung mengucapkan selamat kepada sang rival. “Dari awal hingga akhir, itu pertarungan yang adil. Saya menghormati opsi yang dipilih,” kata dia kepada Idnes.

Lebih jauh, Poborsky mengungkapkan, “Sepertinya ini buruk bagi saya. Saya dibesarkan untuk menang, tapi sekarang kalah. Walaupun begitu, secara keseluruhan , ini adalah tantangan dan pengalaman luar biasa bagi saya. Saya bertemu banyak orang baik di pelosok dan wilayah. Saya mendapatkan informasi dan punya pandangan berbeda soal sepak bola.”

Karel Poborsky kalah dalam pemilihan Presiden FACR.
seznamzpravy.cz

Kekalahan itu pun tak membuat Karel Poborsky terbebani. “Saya tak menjanjikan apa pun kepada siapa pun sepanjang kampanye. Jadi, saya tak punya utang sama sekali. Saya tak malu dan dapat menatap mata setiap orang. Hidup terus berjalan,” ujar dia lagi.

Poborsky pun tak mutung. Dia akan tetap loyal dan menghormati kontraknya dengan FACR. Kalah pada pemilihan Presiden FACR tak lantas membuat dia kecewa dan memutus kontrak begitu saja. Dia akan tetap amanah sepanjang diberi kepercayaan.

“Saya akan kembali bekerja seperti biasa. Saat ini, saya punya kontrak dengan FACR, dengan akademi, dengan stakeholder sepak bola usia muda. Jika tak ada perubahan dari pemimpin, saya siap melanjutkannya,” ucap Karel Poborsky.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Hadiah Yugoslavia untuk Denmark

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – EURO 1992 menghadirkan banyak cerita. Mulai dari Yugoslavia, dukungan suporter Swedia selaku tuan rumah, hingga ledakan timnas Denmark.

Cerita diawali oleh Yugoslavia yang saat itu jadi kuda hitam Eropa. Maklum saja, mereka baru melahirkan generasi emas baru dalam diri Sinisa Mihajlovic, Slavisa Jokanovic, dan Predrag Mijatovic.

Yugoslavia berhasil masuk ke putaran final Euro 1992. Sayang, mereka tak pernah main di Swedia. Perang saudara yang berkecamuk di negaranya membuat anak asuh Ilija Petkovic pulang sebelum bertanding.

denmark thesfootballtimes
thesfootballtimes

Ketika itu, Yugoslavia diguncang Perang Balkan, yang mana membuat kondisi seluruh negeri mencekam. Situasi dalam negeri ini pula yang akhirnya membuat mereka mengundurkan diri dari ajang prestisius.

Akibat dari Perang Balkan itu, Yugoslavia sekarang kita kenal menjadi beberapa negara. Seperti Serbia, Bosnia, Kroasia, Montenegro, Albania, dan Kosovo yang paling muda.

Lalu, apa yang terjadi di Piala Eropa 1992 atas mundurnya Yugoslavia? Pada akhirnya induk sepak bola Eropa (UEFA) mencari tim pengganti.

Pilihan jatuh kepada Denmark. Dipilihnya Denmark bukan tanpa alasan. Mereka merupakan runner up di babak kualifikasi Grup 4 di bawah Yugoslavia. Dan sebagai runner up, sudah sepantasnya mereka yang menggantikan.

Pengumuman ini hanya berjarak 10 hari jelang kick off. Tidak banyak waktu yang dimiliki Tim Dinamit menuju Swedia. Semua serba mepet untuk tim besutan Richard Moller Nielsen.

Jalan Terjal Nielsen Raih Kepercayaan

Jauh sebelum Piala Erop 1992 dimulai, terjadi ketegangan di skuat Denmark. Ini melibatkan beberapa pemain bintang dengan pelatihnya, Richard Moller Nielsen.

Tidak mudah bagi Nielsen untuk mengambil hati generasi emas Denmark. Apalagi sebelumnya mereka dilatih nakhoda kharismatik asal Jerman, Sepp Piontek.

Bersama Piontek, Denmark berhasil menembus Piala Dunia 1986. Tapi ia mengundurkan diri empat tahun berselang.

Sementara Nielsen bukanlah orang asing dalam tim. selama Sepp Piontek memimpin, dia berperan sebagai asisten. Jadi, sudah sepatutnya dia mengerti karakter pemain dan apa yang dibutuhkan tim.

richard moller nielsen dr
dr

Sayang, pengalaman tersebut tidak serta merta membuatnya diterima. Bahkan Federasi Sepak Bola Denmark (DBU) juga tidak percaya sepenuhnya.

Akan tetapi, nama-nama yang diincar DBU tak satu pun menerima pinangan mereka. Tanpa pilihan lain, Richard Moller Nielsen akhirnya terpilih sebagai nakhoda anyar.

Drama nyatanya belum berakhir. Para bintang Tim Dinamit tak sedikit yang meragukan Nielsen. Mulai dari Jan Molby, Preben Elkjaer, Michael Laudrup, Brian Laudrup, hingga Peter Schmeichel secara terang-terangan bersitegang dengan sang nakhoda.

Singkat cerita, ia secara perlahan mampu menenangkan tim. Beberapa pemain berhasil diluluhkan. Tapi tidak untuk Michael Laudrup, salah satu bintang berpengaruh waktu itu.

Keengganannya bermain di bawah kendali Nielsen akhirnya membuat Laudrup tak ikut ke Euro 1992. Dan mungkin itu akan jadi penyesalan terbesar dalam karier Michael Laudrup.

Timnas Denmark Didukung Suporter Swedia

Denmark akhirnya mentas di Euro edisi kesembilan. Tanpa Michael Laudrup, hampir semua orang memprediksi laju mereka akan langsung terhenti di fase grup.

Sebab Peter Schmeichel dan kolega tergabung di grup maut. Mereka harus bersaing dengan dua tim hebat, Inggris dan Prancis, serta tuan rumah Swedia.

Pada akhirnya apa yang diprediksi banyak orang, dan mungkin fan Denmark sendiri, jauh dari kenyataan. Catatan di fase grup memang tidak spesial. Imbang pada laga pembuka melawan Inggris, Tim Dinamit kemudian ditaklukkan tuan rumah 0-1.

Nasib mereka ditentukan pada laga terakhir melawan Prancis. Pasukan Richard Moller Nielsen sukses membekuk Les Blues 2-1 lewat gol Henrik Larsen dan Lars Elstrup.

Negara Skandinavia pun melaju ke semifinal sebagai runner up. Mereka menemani Swedia, tuan rumah yang sekaligus tetangganya. Tapi nasib mereka lebih mujur dibanding sang tetangga.

Tim Dinamit sukses menembus final setelah mengalahkan Belanda di semifinal lewat adu penalti. Sedangkan Swedia tak kuasa menahan gempuran Jerman dengan skor 2-3.

Final yang dianggap kurang ideal pun tercipta di stadion Rasunda. Namun, sinar bintang-bintang Jerman seperti Juergen Klinsmann, Juergen Kohler, Stefan Effenberg, Matthias Sammer, hingga Andreas Brehme tak sedikit pun menyilaukan generasi emas Denmark.

denmark 1992 imgur
imgur

Apalagi di stadion Rasunda mereka tidak hanya mendapat dukungan dari warga negaranya sendiri. Pendukung Swedia juga datang untuk memberi dukungan penuh.

Ada dua faktor yang membuat warga Swedia mendukung Denmark hari itu. Pertama karena mereka bertetangga dan berdarah Skandinavia. Kedua karena faktor Jerman yang mengalahkan negara mereka di semifinal.

Baru 18 menit pertandingan berjalan, John Jensen sudah mengawali mimpi Tim Dinamit. Kendati sepanjang laga terus ditekan, Dinamit Denmark kembali memberi ledakan ke Panser Jerman lewat sontekan Kim Vilfort pada babak kedua.

Denmark akhirnya menang 2-0 dan memastikan gelar pertamanya dalam sejarah. Sampai saat ini Euro 1992 jadi satu-satunya trofi mayor yang berhasil dimenangkan.

Apa yang Brian Laudrup capai di Swedia memang unik, dan mungkin takkan pernah terjadi lagi. Mereka juara setelah tak lolos ke putaran final sebelum akhirnya menemukan jalan pintas lewat pengunduran diri Yugoslavia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Nostalgia Hari Ini: Lemparan Koin Pastikan Langkah Italia ke Final Euro

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Setiap pertandingan selalu bicara tentang kemenangan dan kekalahan. Begitu juga di sepak bola. Namun, tidak semua kemenangan dan kekalahan ditunjukkan dari skor pertandingan.

Momen yang paling mencengangkan pernah terjadi di kompetisi sekelas Euro. Ketika skor akhir tidak bisa menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Euro 1968 yang berlangsung di Italia hanya diikuti empat tim saja. Pada edisi ketiga kompetisi antarnegara Eropa diikuti Italia, Yugoslavia, Inggris, serta Uni Soviet.

italia soccer nostalgia
Soccer Nostalgia

Gli Azzurri menghadapi Uni Soviet di Firenze. Sedangkan Yugoslavia bersua Inggris di Napoli. Yugoslavia berhasil menang 1-0 lewat gol penyerang andalan asal Crvena Zvezda, Dragan Dzalic.

Hasil tersebut memastikan langkah Yugoslavia ke final. Mereka tinggal menunggu lawan antara Italia atau Uni Soviet.

Siapa yang menjadi lawan Yugoslavia pun ditentukan pada hari ini 53 silam. Italia menjamu Uni Soviet di stadion San Paolo.

Bermaterikan pemain-pemain bintang seperti Dino Zoff, Giacinto Facchetti, Sandro Mazzola, hingga Luigi Riva, pasukan Ferrucio Valcareggi tampil dominan. Sementara tim tamu yang baru ditinggal Lev Yashin hanya sesekali membangun serangan.

Tak Ada Lemparan Koin Lagi di Final

Akan tetapi, sampai laga berakhir 90 menit tidak ada gol yang tercipta. Kebingungan sempat muncul kala itu untuk menentukan siapa yang menang.

Sebab dahulu belum dikenal sistem pertandingan ulang, babak tambahan, atau pun adu penalti. Setelah berdiskusi dengan kedua tim, wasit akhirnya memutuskan melakukan lemparan koin.

Lemparan koin, atau yang lebih dikenal dengan sebutan coin toss, akhirnya membawa Gli Azzurri menembus final. Pilihan kapten Giacinto Facchetti saat memilih koin terbukti jitu.

italia athlet
athlet.org

Di final, Italia kembali harus bermain imbang kala bersua Yugoslavia. Bertanding di stadion Olimpico, tuan rumah tertinggal lebih dulu oleh gol Dragan Dzalic. Mereka kemudian menyamakan kedudukan berkat Angelo Domenghini.

Skor 1-1 bertahan hingga akhir pertandingan. Tidak ingin pemenang kembali ditentukan lemparan koin lagi, UEFA sehari sebelumnya sudah mengeluarkan peraturan baru.

Jika laga berkesudahan imbang, maka pertandingan harus diulang untuk menentukan pemenang. Dua hari setelah final pertama, final kedua dilangsungkan di tempat yang sama.

Di hadapan 40 ribu tifosi, Gli Azzurri menang 2-0. Dua gol kemenangan dipersembahkan Luigi Riva dan Pietro Anastasi di babak pertama. Sampai sekarang itu jadi satu-satunya gelar Euro yang dimenangkan Italia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Hooligan Ganggu Laga Inggris vs Belgia

Gamespool new banner

Football5Star.com, Indonesia – Kamis, 12 Juni 1980, tak akan dilupakan oleh para pencinta sepak bola, khususnya di Eropa. Hari itulah laga Inggris vs Belgia tersaji pada perhelatan Piala Eropa 1980. Laga itu dikenang karena ulah hooligan yang membuat kerivuhan dan memaksa pertandingan ditunda.

Jauh sebelum pertandingan, memang sudah tercium suasana panas. Pelatih Belgia saat itu, Guy Thys merasa diremehkan oleh Timnas Inggris saat keduanya bergabung di grup berat bersama Italia dan Spanyol. Dia merasa anak asuhnya sama sekali tak dianggap. Sementara itu, polisi menangkap 36 hooligan Inggris pada malam jelang laga.

“Anda akan sangat konyol meremehkan kami. Orang-orang berbicara seolah-olah Italia dan Inggris adalah satu-satunya tim di grup kami. Tentu saja, saya prihatin dengan mereka. Tapi mereka tidak terlalu mengkhawatirkan saya daripada Jerman Barat atau Belanda,” kata Guy Thys dikutip dari The Guardian.

Para pemain timnas Inggris membasuh muka dengan air untuk menghilangkan efek gas air mata saat laga lawan Belgia di Piala Eropa 1980.
Getty Images

Saat pertandingan Inggris vs Belgia dihelat di Stadio Comunale, Turin, suasana kian panas. Sebab, pendukung tuan rumah, Italia, berpihak kepada Belgia. Awalnya, semua terkendali. Apalagi, skuat The Three Lions sukses mencetak gol via Ray Wilkins usai melewati bek Belgia dan melesakkan bola ke gawang Jean-Marie Pfaff.

Akan tetapi, keunggulan Inggris tak bertahan lama setelah striker Belgia, Jan Ceulemens mencatatkan namanya di papan skor hanya dua menit setelah gol Wilkins. Dari sini, semuanya berubah. Beberapa laporan, seperti dikutip dari The Times, menyebut kerusuhan dipicu dari suporter Italia yang merayakan gol Belgia. Hooligan Inggris pun berulah.

Tembakan Dibalas Lemparan

Polisi Italia langsung menembakkan gas air mata ke tengah kerumunan. Namun, upaya polisi mengurai kerusuhan, justru dibalas dengan lemparan bom asap oleh hooligan Inggris ke arah lapangan. Kiper Inggris, Ray Clemence jadi korban karena sempat pingsan di tengah kericuhan itu.

MOMEN EURO: Inggris vs Belgia Ditunda karena Insiden Bom Asap
fourfourtwo.com

“Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, mata saya mulai berair. Perasaan mengerikan menyelimuti saya dan saya tidak bisa melihat apa-apa. Lalu saya menyadari ada masalah di belakang saya,” kata Ray Clemence.

Pelatih Timnas Inggris, Ron Greenwood, lantas berbincang dengan wasit dan pejabat UEFA agar pertandingan ditunda. Laga pun kemudian sempat ditunda lima menit sambil melihat situasi aman terkendali kembali.

Pertandingan lantas kembali digelar lima menit kemudian. Namun, partai Inggris vs Belgia tetap tak menghasilkan gol tambahan. Inggris sempat mencetak gol via Tony Woodcock. Namun, gol itu dianulir karena sebelumnya Woodcock berada dalam posisi offside.

Akan tetapi, hasil memang bukan jadi pembicaraan utama partai Inggris vs Belgia itu. Semuanya tertuju kepada aksi kurang sepuji sejumlah oknum suporter Inggris. Bahkan, Greenwood mengaku malu dengan ulah oknum suporternya.

MOMEN EURO: Inggris vs Belgia Ditunda karena Insiden Bom Asap
theguardian.com

“Kami malu dengan orang-orang seperti ini. Kami telah melakukan segalanya untuk menciptakan kesan yang benar di sini. Mereka idiot dan kami tidak ingin berurusan dengan mereka. Saya berharap mereka semua akan dimasukkan ke dalam perahu dan dijatuhkan ke laut,” ujar Greenwood geram dikutip dari The Guardian.

UEFA lantas menghukum FA dengan dendam 8 ribu euro karena gangguan suporter. Ketua FA kala itu, Sir Harold Thompson, mengutarakan kekesalan yang sama dengan Greenwood.

“Sungguh memalukan bahwa pekerjaan yang dilakukan Ron Greenwood dapat terancam oleh beberapa orang konyol. Mereka sama sekali bukan penggemar,” kata dia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Para Pencetak Assist di Ajang Euro: Dari yang Tertua hingga Terbanyak

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Kick off ajang Euro 2020 dalam hitungan hari akan segera dimulai. Ajang empat tahunan terbesar di benua biru ini akan jadi panggung untuk para pemain top unjuk skill, tidak hanya soal mencetak gol tapi juga memberikan asisst.

Dikutip Football5star.com dari uefa.com, Senin (31/5/2021), tercipta 687 gol yang dicetak dalam 286 pertandingan di 15 edisi Euro sebelumnya. Yang menjadi menarik soal deretan gol itu ialah bagaimana proses terjadinya gol dan siapa yang memberikan asisst.

Berikut sejumlah fakta menarik dari para pencetak assist di ajang Euro, dari yang tertua hingga yang terbanyak

Pencetak assist tertua

Pencetak assist tertua di ajang Euro tercatat atas nama pemain Belanda, Arnold Mühren. Eks pemain Ajax ini menciptakan asisst di Euro 1988 pada laga melawan Uni Soviet. Muhren mencetak assist di usia 37 tahun 23 hari.

Arnold Mühren

Di bawah Muhren ada pemain Swedia, Henrik Larson yang mencetak assist di usia 36 tahun 264 hari pada laga Swedia vs Yunani di ajang Euro 2008. Lalu ada nama Tomáš Rosický di usia 35 tahun 257 hari di laga Republik Ceska vs Krossia di Euro 2006.

Pencetak assist termuda

Sedangkan untuk pencetak assist termuda di ajang Euro atas nama pemain Belgia, Enzo Scifo. Eks pemain Inter Milan itu mencetak asisst di usia 18 tahun 115 hari di laga Belgia vs Yugoslavia pada ajang Euro 1984.

Para Pencetak Assist di Ajang Euro: Dari yang Tertua hingga Terbanyak

Dua nama eks pemain Manchester United, Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo juga masuk dalam daftar pencetak assist termuda di ajang Euro. Rooney di usia 18 tahun 241 hari di Euro 2004 sedangkan Ronaldo di usia 19 tahun 132 hari di Euro 2004 saat laga Portugal vs Republik Ceska.

Hat-trick Assist

Pemain Turki yang pernah merumput di LaLiga bersama Real Madrid, Hamit Altıntop menjadi satu-satunya pemain hingga saat ini yang mampu mencetak assist terbanyak di satu pertandingan.

Para Pencetak Assist di Ajang Euro: Dari yang Tertua hingga Terbanyak

Tiga asisst ditorehkan Altintop saat pertandingan Turki vs Republik Ceska pada ajang Euro 2008. Hebatnya lagi, tiga assist itu ditorehkan Altintop dalam waktu 15 menit saja.

Pencetak assist terbanyak di babak fase grup

Ada enam pemain yang tercatat menjadi Pencetak assist terbanyak di babak fase grup. Mereka adalah pemain Jerman Barat, Rainer Bonhof, lalu ada legenda Belanda, Marco van Basten.

Xavi Kritik Gaya Permaian Atletico Madrid

Dua pemain Spanyol, Xavi dan Cesc Fabregas, Karel Poborsky dari Republik Ceska dan Cristiano Ronaldo juga masuk sebagai pencetak assist terbanyak di babak fase grup. Keenam pemain ini mencetak assist sebanyak 3 kali di babak fase grup Euro.

Top skorer Assist

Secara keseluruhan pencetak assist terbanyak sepanjang sejarah Euro masih dipegang oleh mantan pemain Manchester United, Karel Poborsky. Pemain Republik Ceska ini menorehkan 8 assist di ajang Euro. Di bawahnya ada bintang Juventus, Cristinao Ronaldo dengan 6 assist.

Poborsky 2

Di bawah mereka ada lima nama yang mencetak 5 assist yakni David Beckham, Arjen Robben, Luis Figo, Cesc Fabregas, dan Bastian Schweinstiger. Lalu ada 12 nama yang menorehkan 4 assist. Diantara keduabelas nama itu ialah Aaron Ramsey, Eden Hazard serta Mesut Oezil.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Francesco Toldo: Belanda Tersesat Saat Hadapi Italia

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Mantan kiper Italia, Francesco Toldo mengatakan bahwa memori Euro 2020 selalu ia ingat. Apalagi kata Toldo babak semifinal menghadapi tim tuan rumah, Belanda. Toldo memiliki kenangan tersendiri melawan tim Orange tersebut.

Menurut eks kiper Inter Milan tersebut, dirinya memang mengharapkan Italia bisa menyelesaikan pertandingan lewat babak adu penalti. Toldo memiliki kepercayaan diri sejak awal babak adu penalti.

“Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka benar-benar tersesat saat melawan kami,” kata Toldo seperti dikutip Football5star.com dari Football Italia, Minggu (5/4/2020).

Francesco Toldo: Belanda Tersesat Saat Hadapi Italia
uefa.com

“Selain itu, wasit sepertinya menyukai mereka sebagai tim tuan rumah. Kami juga sebenarnya masuk perangkap pada babak semifinal itu,” tambah Toldo.

Toldo pun mengungkap rahasia bahwa malam sebelum babak semifinal, dirinya menonton video sepakan penalti para pemain Belanda. Hal itu sangat berguna, dua penendang penalti Belanda saat itu, Frank de Boer dan Paul Bosvelt berhasil ia gagalkan.

“Saya berpikir pada malam sebelumnya harus menonton video tentang mereka. Saya duduk dan menonton video mereka serta mempelajari spot kick yang dilakukan saat menendang penalti,” ujar Toldo.

Meski membuat Belanda meringis, langkah Italia di Euro 2000 pun berakhir pahit. Mampu melaju sampai babak final, Italia secara dramatis dikalahkan Prancis di partai puncak.

Melawan tim Ayam Jantan, Italia yang saat itu dilatih oleh Dino Zoff dikalahkan 2-1. Sempat unggul 1-0 lewat gol Marco Delvecchio, gawang Toldo dibobol di menit akhir pertandingan oleh Sylvain Wiltord dan golden goal, David Trezeguet.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

FIGC Targetkan Italia Helat Euro 2028

Banner Football Live StarFootball5star.com, Indonesia – Presiden baru FIGC, Gabriele Gravina, akan membuat gebrakan baru. Ia menargetkan Italia bisa menjadi tuan rumah Euro 2028 mendatang.

Demi mewujudkan ambisi besarnya itu, Gravina pun berencana akan merenovasi beberapa stadion di Italia. Apalagi banyak stadion di sana sudah usang dan belum direnovasi sejak Negeri Pizza menghelat Piala Dunia 1990 silam.

Gravina menyebutkan bahwa keinginannya menjadikan Italia sebagai tuan rumah Piala Eropa akan segera dibicarakan dengan UEFA. Ia pun cukup yakin dengan peluang Negeri Pizza kembali menjadi tuan rumah kompetisi terakbar Eropa tersebut.

lawan amerika, italia akan andalkan pemain muda
@azzurri

“Mengembalikan gelaran Piala Eropa ke Italia sangat objektif, tapi kami tidak bisa melakukan itu sampai 2022. Kami akan bertanya pada UEFA soal kemungkinan di masa depan, tapi saya tidak tahu apakah itu memungkinkan,” kata Gravina kepada Radio Kiss Kiss, Kamis (20/12/2018).

“Negara kami harus melakukan segalanya demi kemungkinan menjadi tuan rumah Euro 2020. Untuk itu kami akan membangun stadion dan merenovasi beberapa stadion yang sudah kami punya sekarang,” ia menambahkan.

Sepanjang sejarahnya, Italia sudah dua kali menghelat turnamen antarnegara Eropa ini, yaitu pada tahun 1968 dan 1980. Ketika menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya mereka berhasil keluar sebagai juara setelah menaklukkan Yugslavia 2-0.

Sedangkan pada kesempatan kedua mereka gagal menembus final setelah dikalahkan Jerman di semifinal. Adapun Der Panzer keluar sebagai kampiun Euro 1980 tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Berita Bola: Rashford Bisa Tendang Sturridge Dari Timnas Inggris

Manajer tim nasional Inggris, Roy Hodgson, diyakini tengah mempertimbangkan untuk memberikan tempat di skuat Euro 2016 kepada penyerang muda milik Manchester United, Marcus Rashford.

Menjelang laga uji coba melawan Australia di Stadium of Lights pada hari Sabtu (28/2), Inggris mendapatkan kabar buruk. Mereka kemungkinan besar tidak dapat menurunkan penyerang Daniel Sturridge yang menderita cedera betis dalam sesi latihan tim.

Awalnya, Sturridge siap diturunkan oleh Hodgson sebagai starter ketika melawan Australia. Tetapi, setelah pemain berumur 26 tahun tersebut mendapatkan cedera, diprediksi sang manajer akan memberikan debut kepada Rashford, yang berhasil mengantarkan Man. United menjuarai Piala FA pekan lalu.

Menariknya, Guardian juga melaporkan bahwa Hodgson tidak hanya berencana membawa Rashford selama masa persiapan, tetapi juga ke Prancis pada bulan depan.

Mantan manajer Fulham tersebut dinilai tidak percaya dengan kondisi Sturridge yang sepanjang musim berkali-kali masuk ruang perawatan Liverpool. Ia takut Sturridge tidak dapat tetap bugar selama The Three Lions berkompetisi di Euro.

Di musim ini, Rashford telah mencetak 8 gol dari 16 pertandingan bersama Man. United, sementara Sturridge mencatatkan 23 gol dari 25 laga dengan The Reds di seluruh kompetisi.

23 nama pemain yang bakal dibawa oleh Hodgson ke Euro 2016 rencananya akan diumumkan pada hari Selasa (31/5) mendatang. Saat itulah akan terkuak apakah benar Rashford akan menjadi andalan The Three Lions untuk berlaga di Piala Eropa 2016.

Berita Bola: Wales Ingin Buktikan Diri Di Piala Eropa

Gelandang tim nasional Wales, Aaron Ramsey, meyakini bahwa timnya tidak hanya akan menjadi penggembira di ajang Piala Eropa 2016.

Wales berhasil memastikan diri ikut bersaing di Piala Eropa 2016 setelah menempati peringkat kedua di klasemen Grup B babak penyisihan.

Mengingat bahwa ini merupakan kali pertama Wales lolos ke putaran final sebuah turnamen besar sejak Piala Dunia 1958, banyak yang memprediksi mereka tidak akan bisa berbuat banyak di Prancis karena kurang pengalaman.

Kendati menyadari bahwa Wales jarang bermain di turnamen besar, Ramsey menegaskan bahwa mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk membuktikan diri.

“Kami sudah tidak sabar untuk menjalani Piala Eropa. Sekarang, kami sudah berada di sini dan kami tidak ingin hanya menjadi tim pelengkap. Kami ingin membuat pernyataan besar dalam setiap pertandingan yang kami mainkan,” ujar pemain berusia 25 tahun tersebut seperti yang dikutip oleh Mirror.

“Kami yakin kami mampu melakukannya. Kami telah bekerja sangat keras untuk bisa lolos dan kami ingin membuktikan bahwa kami mampu melebihi pencapaian tim-tim besar,” tambah dirinya.

Dalam kesempatan yang sama, Ramsey juga menyatakan bahwa ia ingin menunjukkan kemampuan terbaik di Piala Eropa.

“Mata semua orang akan tertuju pada turnamen ini. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa lebih baik lagi dan dapat bermain di level seperti ini. Membantu Wales lolos ke kompetisi besar adalah salah satu target besar dalam karierku,” jelas Ramsey.

Di putaran final, Wales tergabung dengan Inggris, Rusia, dan Slovakia di Grup B.

Berita Bola: Trio BBC Jadi Andalan Conte Di Piala Eropa

Barisan belakang menjadi fokus utama Antonio Conte dalam membangun timnas Italia. Sang allenatore berharap lini belakang bisa menjadi pilar utama dalam membangun serangan.

Menariknya, empat dari sembilan bek yang masuk dalam skuat provinsional Italia untuk Piala Eropa 2016 nanti merupakan bek-bek Juventus, yang notabene merupakan klub yang Conte latih beberapa lalu.

Selain itu, tiga bek utama Juventus (Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini) merupakan trio lini belakang Italia sejak Piala Eropa 2012 lalu. Ketiganya berhasil mengantarkan Gli Azzurri melangkah ke babak final.

“Tentu saja, bagi kami pertahanan adalah sektor utama di mana kami memulai serangan. Saya telah bekerja sama dengan para pemain ini selama bertahun-tahun (bek-bek Juventus), dan saya harap mereka bisa mengalirkan bola dengan baik ke depan. Kami berharap mereka semua akan memberikan manfaat besar,” ujar Conte, dilansir Football Italia.

“Saya harap mereka bisa mengulangi kesuksesan di timnas.”

Mengenai persiapan tim, Conte selalu menekankan kepada para pemainnya untuk selalu menjaga optimisme, terlepas dari masalah apapun yang tengah dihadapi sepanjang persiapan menuju Piala Eropa.

“Saya sangat fokus, karena kekhawatiran hanya akan mendatangkan kegagalan. Seorang pelatih tak boleh memiliki kegelisahan atau perasaan buruk terhadap timnya. Saya ingin menekankan kepada mereka untuk terus berkonsentrasi, bermain dengan sepenuh hati dan yakin,” sambung Conte.

“Saya ingin bekerja keras untuk mempersiapkan sebuah hasil yang indah dan penting sehingga kami tak memiiliki penyesalan usai turnamen ini.”