Gareth Southgate Kecewa Inggris Kebobolan di Pengujung Laga

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, kecewa timnya hanya bisa bermain imbang 1-1 melawan Polandia, (9/9/21). Tapi dia puas dengan performa tim secara keseluruhan di jeda internasional bulan ini.

Inggris tertahan imbang 1-1 setelah kebobolan pada tambahan waktu babak kedua lewat gol Damian Szymanski. Southgate menyebut Inggris bermain bagus sampai Harry Kane mencetak gol pada menit ke-72.

Memphis Depay - Erling Haaland - Kualifikasi Piala Dunia 2022 - The Independent
The Independent

“Secara keseluruhan, kami cukup senang. Dalam 15-20 menit pembukaan, sulit untuk mengendalikan permainan. Kami bermain tandang melawan negara yang bangga yang memiliki beberapa pemain bagus,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

Dia melanjutkan, “Saat paruh waktu berlalu, saya pikir kami mulai mendapatkan sedikit lebih banyak kontrol tanpa pernah terlihat seperti menciptakan peluang yang jelas. Tapi kemudian babak kedua saya pikir kami mengendalikan permainan. Gol yang luar biasa, serangan yang fantastis.”

Gareth Southgate: Momen Ceroboh Buat Inggris Kebobolan

Gareth Southgate Kecewa Inggris Kebobolan di Akhir Pertandingan (Goal.pl)
goal.pl

Setelah Kane mencetak gol, Inggris justru kewalahan dan sempat beberapa kali melakukan kesalahan, salah satunya dari kiper Jordan Pickford, sampai akhirnya kebobolan.

“Sekali lagi kami mungkin tidak menciptakan banyak peluang yang jelas, kami tidak mendapatkan banyak pemain di dalam kotak seperti yang kami inginkan pada waktu-waktu tertentu dan ada beberapa momen ceroboh di akhir di mana kami bisa saja kebobolan gol, dan kemudian kami akhirnya kebobolan,” kata Southgate.

Dia melanjutkan, “Kami benar kecewa hanya untuk meraih satu poin karena kami seharusnya tidak kebobolan. Tapi para pemain tampil fantastis minggu ini dan kami berada di posisi yang sangat kuat di grup.”

Inggris masih berada di puncak klasemen Grup I dengan raihan 12 poin. Selisih 4 poin dari Albania, dan 5 poin dari Polandia.

Southgate: Kami Memantau Perkembangan Abraham dan Tomori

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate menegaskan bahwa dirinya dan timnya masih memantau perkembangan dua pemain Serie A, Fikayo Tomori dan Tammy Abraham. Southgate mengatakan bahwa keduanya masih memiliki kesempatan untuk bermain bersama The Three Lions.

Tomori dipinjamkan ke AC Milan dari Chelsea pada bursa transfer Januari dan performanya selama setengah musim di Serie A sangat impresif sampai Milan mempermanenkannya pada musim panas ini.

Tapi, dia tak berhasil masuk ke dalam skuat untuk Euro 2020. Sedangkan Abraham baru saja dijual Chelsea ke AS Roma dan mendapatkan start yang baik, dimana dia mencatatkan 1 gol dan 2 assist dari dua laga pertama Serie A.

Gareth Southgate Kami Memantau Perkembangan Tammy Abraham dan Fikayo Tomori ( The AC Milan Offside)
The AC Milan Offside

Banyak yang mengklaim bahwa kedua pemain dari akademi Chelsea itu akan kesulitan masuk ke timnas Inggris karena bermain di Serie A. Tapi Southgate menepis kabar itu.

“Hanya karena mereka meninggalkan Premier League, itu tidak berarti mereka keluar dari pikiran kami,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari The Chelsea Chronicle.

“Fikayo, kami telah memantau dengan sangat cermat sepanjang waktunya di Milan dan kami akan melakukan hal yang sama dengan Tammy.

“Ini adalah tahap awal untuk Tammy di Roma dan liga (Italia) adalah jenis tantangan yang berbeda setelah menyaksikan sedikit dalam beberapa tahun terakhir. Tapi bagus untuknya, dia harus bermain. Berani untuk mengambil petualangan baru itu dan saya yakin itu adalah salah satu yang dia bisa berhasil. ”

Karier Tammy Abraham dan Fikayo Tomori di Timnas Inggris

Jose Mourinho akan Duetkan Tammy Abraham dengan Eldor Shomurodov
Chiesa Di Totti

Kedua pemain sudah mendapatkan caps bersama The Three Lions. Abraham sudah mendapatkan 6 caps dan mencetak 1 gol, dia debut pada November 2017 di laga persahabatan.

Namun setelah dua tahun tak pernah dipanggil, dia sempat memikirkan untuk pindah kewarganegaraan ke Nigeria. Tapi pada Oktober 2019, dia kembali dipanggil dan dimainkan di laga Kualifikasi Euro 2020.

Sementara Tomori, dia sempat memperkuat tim junior Kanada, yang mana merupakan tempat kelahirannya. Tapi dia memutuskan untuk bermain bersama Inggris dan mendapatkan debutnya pada November 2019 melawan Kosovo di Kualifikasi Euro 2020. Namun, itu satu-satunya caps yang Tomori dapatkan.

Bek Muda Liverpool Masih Masuk Rencana Timnas Inggris

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Lini belakang timnas Inggris sudah penuh sesak dengan talenta-talenta hebat. Tapi pelatih Gareth Southgate masih membuka pintu untuk semua pemain.

Salah satu nama yang diperhitungkan adalah bek Liverpool, Joe Gomez. Ia sejatinya selalu dipanggil Gareth Souhtgate ke timnas. Namun, cedera yang menghantamnya musim lalu membuat Gomez absen di Euro 2020.

inggris
liverpoolfc.com

Sampai saat ini kondisi Joe Gomez belum 100 persen fit. Kendati begitu Southgate memastikan pemain 22 tahun masih masuk dalam rencananya.

“Kami terus berhubungan selama rehabilitasi Joe berjalan. Kami sangat berhati-hati saat memasukkannya kembali ke skuat,” ungkap Southgate seperti dikutip Football5star dari Tribal Football, Selasa (7/9/2021).

Gareth Southgate - Inggris - Crawley Observer
Crawley Observer

“Rehabilitasi dari cedera itu sangat penting untuk diperbaiki. Dia perlu beradaptasi lagi di Liverpool dengan banyaknya menit bermain di lapangan. Itu sangat penting sebelum kami mulai berpikir untuk memilihnya lagi,” sambung sang nakhoda.

Inggris Masih Prioritaskan Joe Gomez

Hampir semusim penuh Joe Gomez menepi akibat cedera. Ia baru kembali merumput pada pramusim. Namanya juga sempat diduetkan dengan Virgil van Dijk, Joel Matip, serta Ibrahima Konate.

inggris 



Sukses Jalani Operasi, Begini Kondisi Joe Gomez

Akan tetapi untuk kompetisi resmi Juergen Klopp belum berani menurunkannya. Dalam tiga laga Liverpool di Premier League belum sekali pun ia dimainkan.

 Situasi ini nyatanya tidak membuat Southgate khawatir. Ia yakin jebolan akademi Charlton Athletic bisa bangkit dalam waktu dekat.

“Dia anak laki-alki yang kami pikirkan dan sangat bagus melihatnya semakin dekat untuk kembali dan tersedia lagi untuk seleksi tim nasional,” tutup nakhoda Inggris.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate: Polandia Bukan Hanya Robert Lewandowski

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, memperingatkan para pemainnya untuk tidak hanya fokus ke Robert Lewandowski di laga lawan Polandia, (9/9/21). Southgate merasa Polandia punya pemain berbahaya lainnya.

Inggris akan bertandang ke Polandia untuk melakoni laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup I. Laga ini sangat krusial mengingat kedua tim berada di posisi pertama dan kedua, Inggris berada di atas dengan selisih 5 poin.

Gareth Southgate - Inggris - The Times
The Times

Southgate merasa Polandia memang merupakan lawan tersulit Inggris di grup ini sejak awal, dan kemenangan bisa memuluskan mereka untuk lolos ke Qatar.

“Jelas dengan hasil yang berakhir dengan Hungaria (kalah 1-0 dari Albania), Polandia terlihat seperti penantang terdekat, yang mana kami juga berpikir seperti itu saat grup ini ditentukan,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari The Independent.

Dia melanjutkan, “Ini insentif besar bagi kami sekarang. Jika kami bisa pergi ke Warsawa dan menang, maka kami benar-benar mengendalikan grup.”

Gareth Southgate: Polandia Banyak Miliki Pemain Berbahaya Selain Robert Lewandowski
Gareth Southgate Polandia Bukan Hanya Robert Lewandowski (Eurosport)
Eurosport

Pada pertemuan pertama, Inggris menang 2-1 melawan Polandia, tapi Lewandowski tidak bermain karena cedera. Kini pemain Bayern Munich itu fit untuk bermain.

“Mereka bermain di Wembley tanpa dia (Lewandowski) dan mereka memberikan catatan yang sangat baik tentang diri mereka sendiri,” kata Southgate.

“Pemain top untuk tim mana pun di dunia akan merugi jika tidak memilikinya dan setiap pelatih akan merasakan hal yang sama. Tetapi ketika kami mempersiapkan tim untuk bermain melawan Polandia, kami tidak hanya melihat Lewandowski.

“Kami benar-benar menghormati apa yang dia bawa dan kami tahu ancaman apa yang dia miliki, tetapi mereka juga memiliki beberapa pemain lain yang sangat berbahaya.”

Southgate: Eksperimen Memainkan Alexander-Arnold di Tengah Tak Berhasil

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, mengakui eksperimennya memasang Trent Alexander-Arnold di posisi gelandang tengah tak bekerja. Southgate merasa Alexander-Arnold memang lebih nyaman bermain sebagai bek kanan.

Kemampuan Alexander-Arnold dalam mengumpan bola dan juga visi permainanya membuat banyak orang menginginkan dia bermain di posisi yang lebih maju.

Eksperimen Memainkan Trent Alexander-Arnold di Tengah Tak Berhasil
DailyiSports

Apalagi, timnas Inggris memiliki stok bek kanan yang melimpah, membuat ide itu menjadi salah satu opsi. Dan Southgate mencoba hal itu di laga melawan Andorra, (5/9/21).

Pemain Liverpool itu dipasang sebagai gelandang tengah sebelah kanan di formasi 4-3-3 dengan Reece James sebagai bek kanan. Namun hal itu hanya bertahan selama 45 menit babak pertama.

Southgate mengembalikan posisi Alexander-Arnold ke bek kanan pada babak kedua, dan James dipindahkan ke tengah sebelum akhirnya diganti oleh Jack Grealish.

Gareth Southgate: Alexander-Arnold Lebih Bahagia Bermain di Bek Kanan

Gareth Southgate - Inggris - The Times
The Times

Southgate mengakui eksperimen itu tidak berhasil walaupun The Three Lions berhasil menang 4-0. Dia merasa Alexander-Arnold memang seharusnya bermain di posisi bek kanan.

“Kami ingin melihat memainkan dia dalam peran yang lebih maju. Dia memiliki kualitas luar biasa dengan bola,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari inews.co.uk.

“Dia menemukan dirinya di posisi itu bersama Liverpool tetapi di babak pertama, tidak ada banyak ruang dan masuk ke posisi itu berbeda dengan memulai di posisi itu. Saya tidak berpikir kami kehilangan apa pun dengan melihatnya.

“Saya pikir itu tidak bisa dihindari, mengingat seberapa banyak sepak bola yang dia mainkan sebagai bek kanan dan seberapa banyak dia akan bermain. Dia terlihat lebih bahagia di posisi itu, itu jelas. Permainannya dengan bola menunjukkan kebahagiaan itu.”

Bellingham Dapatkan Pelecehan Rasial dari Fans Hungaria, Ini Kata Southgate

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Dua pemain timnas Inggris, Jude Bellingham dan Raheem Sterling mendapatkan aksi pelecehan rasial dari fans Hungaria di laga Kualifikasi Piala Dunia 2022, (3/9/21). Southgate memuji sikap kedua pemain itu atas aksi para fans Hungaria, khususnya Bellingham yang masih berusia 18 tahun.

Inggris berhasil menang dengan skor 4-0 berkat gol Sterling, Harry Kane, Harry Maguire, dan Declan Rice. Namun laga itu dirusak karena adanya pelecehan rasial yang diarahkan kepada Sterling dan Bellingham.

Sky Sports melaporkan bahwa ada chant suara monyet dari berbagai area penonton, terutama ditujukan kepada Raheem Sterling ketika dia menyentuh bola.

Jude Bellingham Dapatkan Pelecehan Rasial dari Fans Hungaria, Ini Kata Southgate
Sky News

“Saya hanya bisa melanjutkan apa yang Anda katakan kepada saya dan jika itu masalahnya maka itu tidak dapat diterima,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

“Kami tidak menyadarinya dari pinggir (lapangan) Saya tidak tahu apakah para pemain di lapangan begitu. Tetapi semua orang tahu apa yang telah kami bicarakan selama dua atau tiga tahun.

“Mereka tahu apa yang kami perjuangkan sebagai sebuah tim dan kita harus berharap kita dapat terus memberantas rasisme tidak hanya di sepakbola tetapi dari kehidupan secara umum.

Gareth Southgate: Jude Bellingham Menunjukkan Kedewasaan

Timnas Inggris - Gareth Southgate - uefa. com
uefa.com

Laporan yang sama menyebut bahwa chant itu juga ditujukan kepada Bellingam saat dirinya melakukan pemanasan, dan sang pemain hanya merespon aksi itu dengan senyuman. Southgate memuji reaksi Bellingham.

“(Bellingham) seharusnya tidak merasakan itu. Luar biasa dari dia bahwa dia menunjukkan kedewasaan itu dan saya tahu petugas keamanan kami telah berbicara dengannya sejak pertandingan untuk mendapatkan penjelasannya tentang itu,” kata Southgate.

Eks pelatih Middlesbrough itu melanjutkan, “Kami tidak ingin melihatnya. Semua orang tahu itu tidak dapat diterima. Dia menunjukkan kedewasaan yang luar biasa dalam permainan. bagaimana dia menghadapinya.”

Gareth Southgate: Inggris Hanya Perlu Enam Poin Lagi

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Kemenangan telak timnas Inggris atas Hungaria di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022 membuat Gareth Southgate merasa sangat bahagia. Southgate bahkan sesumbar The Three Lions hanya butuh dua kemenangan lagi unguk mengamankan tiket ke Piala Dunia 2022.

Inggris menunjukkan performa impresif sepanjang gelaran Kualifikasi Piala Dunia 2022. Harry Kane cs berhasil memetik empat kemenangan dalam empat laga dan berhak duduk di puncak klasemen grup I.

Timnas Inggris - Gareth Southgate - uefa. com
uefa.com

“Pertandingan melawan Polandia di Warsaw akan menjadi kunci. Jika berhasil mengalahkan Polandia, maka saya yakin kami akan lolos ke Piala Dunia 2022,” ungkap Gareth Southgate dalam sesi wawancara pasca pertandingan bersama Sky Sports.

“Tapi, kami tentu masih harus menghadapi Andorra akhir pekan ini. Kami harus bisa mempertahankan standar permainan serta mentalitas para pemain di setiap pertandingannya,” kata Southgate menambahkan.

SOUTHGATE PUAS DENGAN KEMENANGAN TELAK TIMNAS INGGRIS ATAS HUNGARIA

Inggris berhasil membawa pulang poin penuh dari markas Hungaria berkat kemenangan 4-0. Empat gol kemenangan The Three Lions diciptakan oleh Raheem Sterling (55′), Harry Kane (63′), Harry Maguire (69′) serta Declan Rice (87′).

Southgate merasa sangat puas dengan performa gemilang anak asuhnya di Puskas Arena. Ia memuji mentalitas Harry Kane cs yang berhasil tampil apik meski sempat kesulitan membongkar pertahanan rapat Hungaria.

Timnas Inggris - Gareth Southgate - uefa. com 3
uefa.com

“Kami berhasil membuat pertandingan rumit menjadi terlihat mudah. Meski gagal mencetak gol di babak pertama, saya sangat puas dengan performa para pemain.”

“Kami berhasil menempati area-area yang tepat dan memanfaatkan penguasaan bola dengan baik. Sayangnya, kami kurang tajam di sepertiga daerah pertahanan lawan. Kami terus memanfaatkan penguasaan bola dan berhasil membuat lawan kelelahan di babak kedua,” tuntas Southgate.

Gareth Southgate Tak Panggil Mason Greenwood ke Timnas Inggris

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, resmi memanggil 25 pemain ke skuat untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022. Yang mungkin paling mengejutkan tidak ada nama Mason Greenwood yang tampil luar biasa di Premier League sejauh ini.

Inggris akan berhadapan dengan Hungaria, Andorra dan Polandia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup I pada awal sampai pertengahan September mendatang.

Gareth Southgate Tak Panggil Mason Greenwood ke Timnas Inggris
Eurosport

Southgate tidak memanggil Mason Greenwood yang berhasil mencetak dua gol di dua laga pertama Premier League bersama Manchester United. Namun, Southgate memanggil penyerang Leeds, Patrick Bamford, yang secara kontroversial tersingkir dari skuat Euro 2020.

Selain Greenwood, nama lainnya yang tersingkir dari skuat adalah bek kiri Chelsea, Ben Chilwell. Sementara itu Jesse Lingard kembali ke dalam skuat setelah tersingkir dari skuat Euro 2020. Phil Foden dan Marcus Rashford masih cedera. Berikut daftar lengkapnya:

Daftar Skuat Timnas Inggris

Gareth Southgate Tak Panggil Mason Greenwood ke Timnas Inggris
Goal

Kiper: Sam Johnstone (West Brom), Jordan Pickford (Everton), Nick Pope (Burnley)

Belakang: Trent Alexander-Arnold (Liverpool), Conor Coady (Wolves), Reece James (Chelsea), Harry Maguire (Man United), Tyrone Mings (Aston Villa), Luke Shaw (Man United), John Stones (Man City), Kieran Trippier (Atletico Madrid), Kyle Walker (Man City)

Tengah: Jude Bellingham (Borussia Dortmund), Jordan Henderson (Liverpool), Jesse Lingard (Man United), Mason Mount (Chelsea), Kalvin Phillips (Leeds), Declan Rice (West Ham)

Depan: Patrick Bamford (Leeds), Dominic Calvert-Lewin (Everton), Jack Grealish (Man City), Harry Kane (Tottenham), Bukayo Saka (Arsenal), Jadon Sancho (Man United), Raheem Sterling (Man City).

Gareth Southgate Diserang Eks Man United

gamespool
Gareth Southgate Diserang Eks Man United 37

Football5star.com, Indonesia – Mantan bek Man United, Chris Smalling, mengaku putus asa karena kerap diabaikan pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate. Smalling merasa sudah menunjukkan performa gemilang selama dua musim terakhir.

Semenjak pindah ke AS Roma, Smalling berhasil menunjukkan performa konsisten. Akan tetapi, konsistensi Smalling tetap gagal mengambil hati Southgate yang lebih sering memanggil bek-bek yang bermain di Premier League.

“Tentu saja saya merasa cukup kesal, terutama karena saya berhasil menunjukkan performa gemilang dan konsisten dalam dua musim terakhir,” ujar Chris Smalling kepada The Telegraph.

Chris Smalling - Gareth Southgate - Sky Sports
Sportslens

“Sepertinya, apa pun yang saya lakukan tak akan bisa mencuri perhatian Gareth Southgate. Tapi, tentu saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” sambung Smalling.

Lebih lanjut, Smalling melempar pujian kepada Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci yang tampil gemilang di partai final Euro 2020. Menurut Smalling, kematangan Chiellini dan Bonucci membuat Inggris hanya bisa mencetak satu gol ke gawang Italia.

“Pada babak pertama final Euro 2020, saya merasa Inggris seharusnya bisa unggul dua atau tiga gol. Tapi, pengalaman serta kematangan Chiellini dan Bonucci membuat Inggris hanya mampu mencetak satu gol.”

“Keduanya sudah melewati banyak momen bersama-sama dan mampu berkali-kali menjadi juara bersama Juventus. Sejujurnya, saya kaget ketika melihat mereka tampil dominan selama 90 menit di final Euro 2020,” tutur Smalling.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Markus Babbel: Gareth Southgate Mimpi Punya Mario Basler di Timnya

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gareth Southgate, manajer timnas Inggris, masih dihujani kritik setelah kekalahan timnya dari timnas Italia dalam adu penalti pada final EURO 2020. Kali ini, giliran Markus Babbel. Eks bek Liverpool itu menyoroti putusan Southgate memasukkan Jadon Sancho dan Marcus Rashford pada menit ke-120.

Babbel menilai putusan memasukkan Sancho dan Rashford pada pengujung perpanjangan waktu sebagai sesuatu yang gegabah. Dia bahkan menyindir Southgate tengah bermimpi memiliki Mario Basler di timnas Inggris. Sayangnya, menurut dia, Sancho dan Rashford bukanlah Basler.

Gareth Southgate dinilai Markus Babbel telah melakukan kesalahan dengan memasukkan Jadon Sancho dan Marcus Rahsford hanya untuk adu penalti.
thetimes.co.uk

“Seseorang harus terlahir untuk jadi penendang penalti begitu masuk ke lapangan. Mario Basler? Ya, tak perlu ditanya, dia akan mampu melakukan itu bahkan dengan mata tertutup. Bagaimana dengan Rashford dan Sancho? Mereka tak bisa melakukannya. Ada yang salah di sini,” urai Markus Babbel seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1.

Lebih lanjut, Babbel menganggap Southgate meremehkan adu penalti. Dia mengatakan, mengambil penalti bukan hanya butuh kemampuan teknis dan latihan. “Saya tak menyalahkan Southgate. Dia tahu yang dilakukannya. Timnya sudah berlatih penalti selama berminggu-minggu. Tiga nama yang ditunjuk juga sudah membuktikan sebagai penendang yang bagus. Namun, pada akhirnya, mereka semua gagal,” ujar dia.

Babbel Sudah Baca Gelagat Buruk

Kesalahan Gareth Southgate, dalam pandangan Markus Babbel, adalah mengesampingkan aspek psikologis. Apalagi, adu penalti itu terjadi pada final EURO. Ada beban mahaberat yang mengganduli para eksekutor. Memasukkan pemain hanya untuk menjadi eksekutor bukanlah langkah tepat.

Babbel mengaku tak heran oleh kegagalan timnas Inggris yang diwarnai kegagalaan eksekusi Sancho dan Rashford. “Jujur saja, saya membaca gelagat buruk saat Southgate memasukkan Sancho dan Rashford pada menit ke-120. Ada ketakukan pada wajah mereka. Saya mampu melihat itu,” kata eks pemain Bayern Munich dan Hamburger SV itu.

Markus Babbel membaca ketakutan pada muka Jadon Sancho dan Marcus Rashford saat masuk pada menit ke-120 laga final EURO 2020.
bbc.co.uk

Meskipun tak menyalahkan, Babbel menilai kegagalan timnas Inggris pada adu penalti dalam final EURO 2020 jadi beban tambahan bagi Southgate. “Secara pribadi, itu jadi malapetaka bagi dia. Pasalnya, dia ternyata belum mampu mengatasi trauma dari 1996 dan bertambah dengan kegagalan kali ini,” ucap dia lagi.

Setelah imbang 1-1 dalam 120 menit, timnas Inggris harus mengakui keunggulan timnas Italia pada adu penalti dalam final EURO 2020. The Three Lions kalah 2-3 setelah Rashford, Sancho, dan Bukayo Saka gagal menaklukkan Gianluigi Donnarumma. Hal itu jadi akhir tragis perjalanan apik tim asuhan Southgate yang sempat diwarnai clean sheet dalam 5 laga awal.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Ini Kesalahan Southgate di Final Euro 2020 Menurut Legenda Man United

gamespool
Ini Kesalahan Southgate di Final Euro 2020 Menurut Legenda Man United 45

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Manchester United, Rio Ferdinand, memberi kritikan kepada pelatih Inggris, Gareth Southgate di final Euro 2020, melawan Italia, (12/7/21). Menurut Ferdinand, Southgate seharusnya sudah harus bereaksi ketika Italia melakukan pergantian pemain 10 menit setelah babak kedua dimulai.

Inggris berhasil unggul cepat pada menit kedua lewat gol Luke Shaw. Tapi Italia setelah itu mendominasi permainan walaupun gagal memberi ancaman ke gawang Jordan Pickford.

Tapi, setelah Roberto Mancini memainkan Domenico Berardi untuk menggantikan Ciro Immobile dan bermain tanpa penyerang. Italia langsung bermain lebih fluid dan membuat beberapa peluang sebelum akhirnya mencetak gol pada menit ke-67. Southgate baru bereaksi setelah kebobolan dengan memasukkan Bukayo Saka, dan menurut Ferdinand itu sudah terlambat.

Lawan Italia di Final, Ini yang Diwaspadai Gareth Southgate
Evening Standard

“Mancini, dia menggunakan 15 menit (di pergantian babak) itu lebih baik daripada yang dilakukan Gareth Southgate. Dia mengubah personel, dia membiarkan pemain sayapnya, Chiesa, untuk datang lebih sentral agar untuk bergabung dengan Insigne, mengeluarkan Immobile dan saat itulah Anda membutuhkan reaksi dari pelatih kami (Southgate),” ucap Ferdinand seperti dikutip Football5Star.com dari saluran Youtube FIVE.

Dia melanjutkan, “Itulah momen dalam permainan di mana Anda membutuhkan pelatih untuk berpikir, ‘Anda tahu? Saya sudah melihat ini sekarang, biarkan saya mengubah banyak hal.’ Bagi saya pribadi, dia mengubah formasi, tetap tidak mengubah banyak hal, tidak mengubah jalannya pertandingan, terutama di babak kedua.”

Ferdinand juga mengklaim bahwa Southgate terlihat memang sudah menginginkan adu penalti sejak kebobolan.

“Di pertandingan terbesar, Gareth Southgate tampak seperti membeku dan hanya berpikir: ‘Biarkan sampai adu penalti dan berharap yang terbaik’.” kata mantan pemain Leeds itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate Bidik Piala Dunia 2022

gamespool
Gareth Southgate Bidik Piala Dunia 2022 49

Football5star.com, Indonesia – Kekalahan Inggris di partai final Euro 2020 tidak membuat Gareth Southgate kehilangan semangat juangnya. Southgate merasa cukup optimistis dengan peluang The Three Lions di Piala Dunia 2022.

Inggris gagal membawa pulang trofi Henri Delaunay karena dikalahkan Italia di laga final Euro 2020 pada Senin (12/7) dinihari WIB. Gli Azzurri berhasil keluar sebagai juara berkat keunggulan 3-2 di babak adu penalti.

“Saya tentu ingin membawa tim ini melaju ke Piala Dunia 2022. Saya merasa kami sudah menunjukkan perkembangan luar biasa selama empat tahun terakhir,” ujar Gareth Southgate dalam sesi jumpa pers, Senin (12/7) petang WIB.

Gareth Southgate - Inggris - The Times
The Times

“Dalam tiga turnamen terakhir, kami berhasil finis di urutan keempat, ketiga dan kedua. Mungkin, kami sudah ada di level tim nasional lainnya yang selalu menargetkan juara di setiap kompetisi.”

“Kami juga berhasil menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Kami sudah melakukan banyak hal tepat dan saya yakin para pemain di tim nasional belum mencapai performa puncaknya,” sambung Southgate.

Meski merasa cukup optimistis, Southgate tak mau terlalu besar kepala dengan peluang timnya di Piala Dunia 2022. Pasalnya, The Three Lions harus kembali bekerja keras agar bisa lolos dan kembali menunjukkan performa terbaiknya.

“Konsistensi serta prestasi dalam empat tahun terakhir tidak menjadi jaminan kami akan keluar sebagai juara di Piala Dunia tahun depan. Karena, kami harus bekerja ekstra keras untuk menunjukkan level permainan seperti di Euro 2020. Hal tersebut membuat kekalahan tadi malam terasa sangat menyakitkan,” tandas Southgate.

Harry Kane cs akan melanjutkan kiprahnya di ajang Kualifikais Piala Dunia 2022 pada September 2021 mendatang. Rencananya, mereka akan menantang Hungaria (2/9) dan Andorra tiga hari setelahnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate: Jangan Salahkan Bukayo Saka!

gamespool
Gareth Southgate: Jangan Salahkan Bukayo Saka! 53

Football5star.com, Indonesia – Gareth Southgate enggan menyalahkan Bukayo Saka atas kegagalan Inggris menyabet gelar Piala Eropa 2020. Southgate mengatakan bahwa kegagalan Saka merupakan salah satu tanggung jawabnya.

Saka merupakan sosok yang gagal menyelamatkan nasib Inggris di final Piala Eropa 2020. Kegagalan Saka mengeksekusi penalti di babak tos-tosan membuat Italia berhasil keluar sebagai juara dengan keunggulan 3-2.

“Ini semua merupakan kesalahan saya. Saya menentukan urutan eksekutor penalti berdasarkan performa para pemain di sesi latihan,” ujar Gareth Southgate dikutip football5star dari laman resmi UEFA.

Bukayo Saka - Gareth Southgate - Goal
Goal

“Kami berhasil meraih kemenangan bersama-sama. Kini, kami semua gagal mengalahkan Italia. Untuk urusan eksekutor penalti, urutannya ditentukan oleh saya sendiri. Kegagalan ini merupakan kesalahan saya,” sambung Southgate.

Southgate bukanlah satu-satunya sosok yang enggan menyalahkan Saka atas kegagalan The Three Lions. Mantan bek Liverpool, Dejan Lovren, juga tak mau menyalahkan Saka. Lovren bahkan mengutarakan dukungannya kepada pemain 19 tahun itu.

“Saka, jangan khawatir. Kamu sudah menunjukkan keberanian yang luar biasa dan hal-hal seperti ini juga terjadi kepada pemain terbaik di dunia. Ini semua bukan salahmu. Kamu merupakan pemain hebat!” tulis Lovren di laman Twitter pribadinya.

Saka bukanlah satu-satunya eksekutor penalti Inggris yang gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Marcus Rashford dan Jadon Sancho juga gagal menjebol gawang kawalan Donnarumma dari titik penalti.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Eks Pelatih Timnas Inggris Sebut Gareth Southgate Beruntung

gamespool
Eks Pelatih Timnas Inggris Sebut Gareth Southgate Beruntung 57

Football5Star.com, Indonesia – Mantan pelatih timnas Inggris, Sven-Goran Eriksson, mengklaim bahwa Gareth Southgate beruntung punya banyak pemain muda yang bagus di Euro 2020. Tapi dia tetap mengapresiasi peran Southgate karena bisa membawa Inggris ke final.

Inggris akan bermain di final Euro 2020 melawan Italia, (12/7/21). Eriksson yang hanya mampu membawa Inggris mencapai perempat final di Euro 2004 memuji Southgate karena bisa membawa The Three Lions ke final.

Sven-Goran Eriksson kecewa dengan keputusan Wayne Rooney yang pensiun dari Timnas

“Dia telah melakukan pekerjaan yang hebat, itu pasti. Tetapi ada banyak pemain muda yang baik yang datang. Dia telah memberi mereka kesempatan, yang merupakan cara berani untuk melakukan sesuatu dan dia membiarkan mereka bermain. Southgate telah melakukan sesuatu yang hebat, dan Anda melihat hasilnya dalam mencapai final,” kata Eriksson seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

Tapi mantan pelatih Lazio itu juga menyebut bahwa Gareth Southgate beruntung karena memiliki banyak pemain bagus terutama untuk kedalaman bench.

“Dia memiliki begitu banyak pilihan. Anda memiliki Phil (Foden), (Jadon) Sancho, (Jack) Grealish, (Marcus) Rashford, itu hanya memilih siapa yang dalam kondisi terbaik. Southgate sangat beruntung, dia memiliki banyak pemain bagus, muda, lapar dengan kecepatan dan teknik di bangku cadangan dan itu bagus,” kata Eriksson.

Dia melanjutkan, “Grealish bisa membuat perbedaan, dia pemain hebat, saya sangat menyukainya. Dalam situasi satu lawan satu dia bisa membuka pertahanan Italia. Saya pikir Inggris memiliki bangku cadangan yang lebih baik daripada Italia.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Pelatih di Atas Umur 50 Tahun Miliki Kans Lebih Besar Antar Timnya Juara EURO

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Final EURO 2020 akan mempertemukan Italia vs Inggris di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dinihari WIB. Pertemuan kedua negara akan hadirkan adu taktik antara pelatih Roberto Mancini melawan Gareth Southgate.

Kedua pelatih muda ini sama-sama memiliki ciri khas dalam taktik yang diterapkan sepanjang EURO 2020. Southgate misalnya di sepanjang EURO 2020 lebih menekankan kepada ketangguhan pertahanan dan prioritas penguasaan bola.

Lawan Italia di Final, Ini yang Diwaspadai Gareth Southgate

Sedangkan untuk Italia, Roberto Mancini seperti diungkap banyak pihak telah melakukan revoluso di formasi Gli Azzuri. Tak ada lagi sepak bola bertahan yang selalu dicibir banyak pihak. Italia di EURO 2020 hadirkan permainan yang cepat, positif dan menghibur.

Ada satu catatan menarik dari pelatih yang pernah mengantarkan timnya meraih gelar EURO. Dari 15 pelatih yang menjadi kampium EURO, mayoritas ialah mereka yang sudah berumur di atas 50 tahun. Ada 11 pelatih dengan usia di atas 50 tahun saat antarkan timnya meraih gelar juara.

Dan hanya ada 4 pelatih di bawah 50 tahun saat antarkan timnya meraih gelar juara di kompetisi EURO. Saat ini, pelatih Inggris, Gareth Southgate berusia 50 tahun. Usia yang sama saat Berti Vogts mengantarkan Jerman meraih gelar juara EURO 1996 di tanah Inggris.

Roberto Mancini - Euro 2020 - beIN Sports 2
beIN Sports

Sedangkan pelatih Roberto Mancini saat ini sudah menginjak usia 56 tahun. Selisih satu tahun saat Richard Møller Nielsen mengantarkan Denmark menjadi juara EURO 1992 dan Helmut Schön ketika bawa Jerman menjadi kampium di EURO 1972.

Hingga saat ini, pelatih tertua yang antarkan tim menjadi juara EURO masih tercatat atas nama pelatih asal Spanyol, Luis Aragones. Pelatih yang mangkat pada 2014 lalu itu membawa tim Matador juara di EURO 2008.

Sedangkan untuk pelatih termuda tercatat atas nama José Villalonga asal Spanyol. Pada usia 45 tahun, Villalonga membawa tim Spanyol meraih gelar juara di EURO 1964.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jika Inggris Juara Euro 2020, Southgate Dapat Gelar Kestaria

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Prestasi Inggris di Euro 2020 luar biasa. Mereka menembus final dan akan berhadapan dengan Italia di Wembley, Senin (12/7/2021) dinihari WIB.

Bagi Inggris ini final pertama mereka di Euro. Sedangkan dalam turnamen besar ini merupakan kesempatan kedua setelah sebelumnya terjadi di Piala Dunia 1966 saat juara.

Tak pelak kesuksesan ini berdampak luar biasa untuk tim, terutama pelatih Gareth Southgate. Dia sudah ditunggu gelar lain dari kerajaan Inggris.

EURO 2020 Jadi Kompetisi Terburuk Jika Inggris Jadi Juara

Sang pelatih akan mendapat gelar kestaria. Menurut Sportsmail pihak kerajaan akan menganugerahinya gelar Kinght Commander of the Most Excellent Order of the British Empire (KBE).

KBE merupakan gelar tingkat kedua di kekaisaran Britania Raya. Nantinya Gareth Souhtgate akan memakai “Sir” di depan namanya sebagaimana para legenda seperti Sir Alf Ramsey, Sir Bobby Charlton, Sir Geoff Hurst, dan Sir Alex Ferguson.

Akan tetapi gelar kestaria KBE hanya bisa didapat andai Inggris keluar sebagai juara Euro 2020. Jika pada akhirnya kalah, sang nakhoda sepertinya tidak akan kecewa terlalu dalam.

Sebab pihak kerajaan sudah mempersiapkan gelar Commander of the Most Excellen order of the British Empire (CBE). Namun, gelar tingkat ketiga ini tidak akan menambahkan kata “Sir” di nama Gareth Souhtgate.

Belum diketahui apakah hanya sang pelatih saja atau seluruh pemain mendapat gelar serupa. Pihak kerajaan dilaporkan telah menghindari pemberian penghargaan untuk setiap tim.

Bagi Gareth Southgate, ini akan jadi gelar kedua yang diterima dari kerajaan Inggris. Saat membawa The Three Lions ke semifinal Piala Dunia 2018 dia diberi gelar tingkat keempat, yakni Officer of the Most Excellent Order the British Empire (OBE).

Inggris ke Final EURO 2020, Gareth Southgate Banjir Hadiah

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Melajunya Timnas Inggris ke Final EURO 2020 menjadi kebahagiaan untuk orang di Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Pujian diberikan orang Inggris untuk pelatih tim Tiga Singa, Gareth Southgate.

Tidak hanya pujian, Gareth Southgate juga mendapat banyak hadiah karena berhasil mengantarkan Inggris ke final EURO 2020. Sebuah perusahaan bus bernama Harrogate memberikan tiket gratis selama setahun kepada Gareth Southgate.

Inggris ke Final EURO 2020, Gareth Southgate Banjir Hadiah

Selain itu, perusahaan bus tersebut juga menamai salah satu bus mereka dengan nama ‘Gareth’. Menurut pihak perusahaan bus tersebut, tiket gratis ini akan diberikan kepada Southgate dengan rute perjalanan tak terbatas selama satu tahun.

“Selain menamai salah satu dari 36 bus kami dengan nama Gareth, kami berencana untuk menawarkan kebebasan Southgate bebas berpergian dengan bus kami selama satu tahun,” kata CEO Harrogate, Alex Hornby seperti dikutip Football5star.com dari Daily Mail, Jumat (9/7/2021).

“Kami selalu ingin merayakan salah satu capaian dari negara ini. Apa yang diberikan Gareth Southgate ialah pencapaian luar biasa setelah final turnamen besar pertama kami sejak 1966,”

Jika Inggris bisa meraih gelar EURO 2020, Southgate juga dipastikan mendapat banyak hadiah dari banyak pihak. Sejauh ini, Southgate sudah memmberikan Inggris 13-14 juta poundsterling selama EURO 2020.

Untuk rincian uang yang akan diterima para peserta tim EURO 2020 ialah kesemua tim mendapat biaya partisipasi sebesar 9,25 juta euro. Untuk babak fase grup, ada bonus penampilan yakni 1,5 juta euro untuk kemenangan dan 750ribu untuk hasil imbang.

Namun untuk fase knock out, UEFA tidak lagi memberikan bonus penampilan. Sebagai gantinya, tim yang lolos pada fase 16 besar mendapat uang 2 juta euro. Sedangkan untuk yang lolos ke perempat final mendapat 3,25 juta euro dan yang ke semifinal mendapat 5 juta euro.

Lantas berapa uang untuk tim yang menang di partai final EURO 2020? Tim yang berhasil juara mendapat uang sebesar 10 juta euro sedangkan untuk runner up dikurangi 3 juta euro.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gary Neville: Jack Grealish Dipermalukan Saat Ditarik Keluar

gamespool
Gary Neville: Jack Grealish Dipermalukan Saat Ditarik Keluar 71

Football5Star.com, Indonesia – Pemain timnas Inggris, Jack Grealish, ditarik keluar pada babak tambahan di laga lawan Denmark walaupun dia baru masuk pada babak kedua. Gary Nevillle menyebut bahwa itu momen memalukan untuk Grealish, tapi pelatih Gareth Southgate membeberkan alasannya melakukan itu.

Inggris berhasil menang dengan skor 2-1 melawan Denmark di semifinal Euro 2020, (8/7/21). Laga berjalan imbang 1-1 selama 90 menit sebelum Harry Kane mencetak gol lewat bola rebound hasil penalti yang ditepis.

Gary Neville Jack Grealish Dipermalukan Saat Ditarik Keluar
unlimitedviral.com

Tapi ada satu momen dimana para penonton mungkin bertanya-tanya. Tepatnya setelah gol Kane, Southgate menarik keluar Grealish dan digantikan oleh Kieran Tripper. Grealish padahal baru masuk pada menit ke-69 dan tidak ada tanda-tanda dia menderita cedera. Southgate membeberkan alasannya dia melakukan itu.

“Denmark mengeluarkan empat penyerang ke depan dan kami membutuhkan lima (bek) di belakang. Raheem (Sterling) adalah ancaman sehingga Phil (Foden) atau Jack akan mendapatkan soliditas tanpa bola. Kami masih perlu meningkatkan tekanan itu di lapangan. Kami bertahan sedikit terlalu dalam selama lima menit atau lebih,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari talkSport.

Gary Neville mengatakan bahwa momen itu merupakan momen memalukan bagi Grealish. Tapi Neville berharap pemain Aston Villa itu menerima keputusan itu.

“Jack malam ini telah menderita dan lihat itu adalah momen yang memalukan baginya dalam arti menjadi pemain pengganti, tidak ada yang menyukainya tetapi dia akan menyadari itu adalah hal yang benar untuk dilakukan untuk tim.” kata Neville.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lawan Italia di Final, Ini yang Diwaspadai Gareth Southgate

gamespool
Lawan Italia di Final, Ini yang Diwaspadai Gareth Southgate 75

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, semringah setelah timnya berhasil masuk ke final Euro 2020 untuk berhadapan dengan Italia. Southgate mewaspadai lini pertahanan Azzurri yang dipimpin oleh Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci.

Inggris berhasil menang 2-1 melawan Denmark di semifinal, (8/7/21). Gol dari Mikkel Damsgaard berhasil dibalas lewat gol bunuh diri Simon Kjaer dan penalti rebound Harry Kane. Ini pertama kalinya Inggris masuk ke final Euro dan pertama kalinya di turnamen besar sejak Piala Dunia 1966.

Lawan Italia di Final, Ini yang Diwaspadai Gareth Southgate
Evening Standard

“Saya pikir kami memiliki tiga pertandingan yang mengesankan saat ini. Kami telah mengatakan kami ingin membuat kenangan bagi negara ini. Hal yang paling menyenangkan adalah kami telah memberikan malam yang luar biasa kepada fans dan bangsa kami,” ucap Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari Mirror.

Southgate melanjutkan, “Final harus dimenangkan, kami harus berkumpul kembali, mempersiapkan diri dengan baik, malam ini telah menghabiskan banyak hal secara fisik dan emosional.”

The Three Lions akan berhadapan dengan Italia yang berhasil mengalahkan dua tim unggulan secara beruntun, Belgia dan Spanyol. Southgate mewaspadai lini pertahanan Italia.

“Mereka tim yang sangat bagus, saya sudah memikirkan itu selama beberapa tahun terakhir. Mereka telah menunjukkan performa yang fantastis, mereka memiliki pejuang di lini pertahanan yang telah melalui segalanya, ini adalah pertandingan yang hebat untuk dinanti-nantikan,” kata Southgate.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate Akui Sebagai Pendukung Denmark

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Gareth Southgate sudah tidak sabar menghadapi Denmark di semifinal Euro 2020, Kamis (8/7/2021) dinihari WIB. Baginya laga ini sangatlah penting.

Kendati di atas kertas Inggris lebih unggul, Gareth Southgate tidak akan meremehkan Denmark. Dia justru akan menaruh hormat pada lawannya itu.

Apalagi Tim Dinamit punya kenangan tersendiri dalam benak nakhoda The Three Lions. Menurut pengakuannya, ia adalah pendukung negara Skandinavia yang kerap menghasilkan pemain-pemain hebat.

Gareth Southgate Timnas Inggris Masih Dalam Proses
Yahoo Finance

“Kami sangat menghormati Denmark. Saya cukup tua untuk mengingat momen saat mereka memenangkan Euro dan menyaksikan turnamen itu,” kata Southgate seperti dikutip Football5star dari laman resmi UEFA, Rabu (7/7/2021).

“Tapi saya menyaksikan mereka kembali ke Piala Dunia 1986. Itu adalah tim Denmark pertama yang saya ingat. Mereka punya Preben Elkjaer, Michael Laudrup, Soren Lerby, dan Jesper Olsen. Saya selalu menjadi penggemar para pemain yang mereka miliki,” ia menambahkan.

Tidak hanya soal Tim Dinamit, mantan pelatih Middlesbrough juga punya memori tersendiri dengan Kasper Hjulmand. Ia mengaku tahu banyak soal Hjulmand.

“Saya tahu tentang Hjulmand sebelum dia melatih timnas karena pekerjaannya di Nordsjaelland. Tentu saja dia berteman baik dengan Thomas Frank yang melakukan tugas luar biasa bersama Brentford,” ungkapnya.

“Saya tahu timnya selalu mampu beradaptasi secara taktis dan mereka telah melakukannya di turnamen ini. Tidak hanya dari pertandingan ke pertandingan lain. Tapi juga selama pertandingan berlangsung,” tutup Gareth Southgate.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Southgate: Maguire Jadi Pemain Lebih Baik Sejak Jabat kapten MU

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Menjadi kapten Manchester United ternyata membawa dampak positif pada permainan Harry Maguire. Hal ini diungkapkan oleh pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate.

Performa Harry Maguire di Manchester United sempat mengecewakan. Tapi seiring berjalannya waktu dia mampu tampil dominan hingga ditunjuk sebagai kapten klub.

Dan bagi Gareth Southgate, keputusan Ole Gunnar Solskjaer berdampak luar biasa pada permainan sang bek. Hal ini pula yang dia bawa ke timnas Inggris di Euro 2020.

John Stones - Harry Maguire - Inggris - Bleacher Report
Bleacher Report

“Awal musim ini sangat sulit bagi Harry di sejumlah lini sehingga sangat brilian melihat bagaimana dia muncul dengan lebih percaya diri sebagai seorang pemimpin,” ungkap Southgate seperti dilansir Tribal Football, Senin (5/7/2021).

“Anda bisa melihatnya di skuat. Menjadi kapten Manchester United adalah tantangan besar, tanggung jawab besar, tapi itu membuat dia menjadi lebih baik,” ia menambahkan.

Bukan hanya gaya permainan yang jadi sorotan nakhoda Inggris. Tapi juga tingkat kepercayaan diri Harry Maguire yang meningkat drastis. Juga dalam pengambilan keputusan di lapangan yang semakin dewasa.

“Anda bisa melihat dia lebih percaya diri dan telah naik ke level berbeda. Dan itu tidak hanya dari segi permainan, tapi kedewasaannya di lapangan,” tutup Gareth Southgate.

Di Euro 2020 Harry Maguire sempat absen di dua laga awal karena cedera. Tapi setelah pulih sang bek terus dimainkan sebagai starter.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate Siap Hentikan Kutukan Inggris di Semifinal

gamespool
Gareth Southgate Siap Hentikan Kutukan Inggris di Semifinal 85

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, berjanji akan mengakhiri “kutukan” timnas Inggris di semifinal turnamen resmi. Southgate yakin karena dirinya sudah mengakhiri beberapa “kutukan” seperti bisa menang melawan Jerman di fase gugur.

Semenjak Inggris juara Piala Dunia 1966, mereka sama sekali tak pernah meraih trofi lagi. Jangankan sebuah trofi, The Three Lions bahkan tak pernah masuk ke babak final, baik di Euro maupun Piala Dunia, atau bahkan di kompetisi baru seperti UEFA Nations League.

Gareth Southgate dan Kane Tolak Singkirkan Botol Coca-Cola
Mirror

Inggris selalu hanya bisa mencapai semifinal saja. Seperti di Euro 1968, dan 1996. Di Piala Dunia 1990 dan 2018 dan di Nations League 2018-19. Tapi Southgate yakin kutukan itu akan beraakhir di laga semifinal Euro 2020 melawan Denmark, Kamis (8/7/21).

“Kami telah menghilangkan begitu banyak kutukan atau hambatan yang dirasakan dan saya merasa kelompok pemain ini akan merasa ini hanyalah tantangan berikutnya,” ucap Gareth Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari Mirror.

Mantan pelatih Middlesbrough itu melanjutkan, “Saya kira bagian yang menarik bagi kami adalah kami tidak akan merasa benar-benar puas jika itu hanya semifinal lagi, sedangkan mungkin tiga tahun lalu meskipun ada kekecewaan besar setelah semifinal, ada perasaan bahwa kami akan menempuh perjalanan yang lebih jauh. Sekarang kami telah mereplikasi apa yang kami lakukan di sana, tetapi itu tidak akan cukup untuk memenuhi grup. Itu pertanda positif.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lawan Ukraina, Southgate akan Duetkan Phil Foden dengan Jack Grealish?

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Inggris akan bertemu Ukraina di perempat final Euro 2020 Minggu (4/7/2021) dinihari WIB. Di stadion Olimpico pelatih Gareth Southgate belum menentukan starting 11.

Gareth Southgate dianugerahi skuat yang kompetitif. Terutama di depan dengan melimpahnya pemain-pemain jempolan Premier League.

Sejauh ini dia lebih sering mengandalkan Raheem Sterling. Tapi melawan Ukraina nanti dia membuka peluang untuk menduetkan Phil Foden dengan Jack Grealish.

Gareth Southgate dan Kane Tolak Singkirkan Botol Coca-Cola
Mirror

“Tentu saja mereka bisa bekerja sama. Mereka sudah bermain bersama kami sebelumnya bersama-sama. Kami punya sederet talenta bertipe menyerang yang kuat,” ujar sang pelatih seperti dikutip Football5star dari laman resmi UEFA, Sabtu (3/7/2021).

“Saya telah mengatakan selama ini bahwa tidak mungkin membuat semua orang senang. Tidak mungkin memilih tim yang akan disetujui semua orang. Tapi kami harus memilih pemain yang tepat untuk momen yang tepat,” ia menambahkan.

Peluang menduetkan Phil Foden dan Jack Grealish sebagai starter memang kecil. Sebab di sana ada Raheem Sterling yang telah mencetak tiga gol sepanjang turnamen.

Kendati demikian bukan berarti bintang Manchester City dan Aston Villa hanya duduk di bangku cadangan selama 90 menit.

“Raheem Sterling sedang on fire. Gol-gol yang dia buat bikin beberapa pemain lebih sulit untuk masuk di sana. Tapi saya punya banyak opsi untuk dimanfaatkan,” tutup Gareth Southgate.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate Diharapkan Latih Inggris hingga Piala Dunia 2022

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Gareth Southgate diharapkan bisa terus melatih timnas Inggris hingga perhelatan Piala Dunia 2022. Hal ini disampaikan oleh kepala eksekutif FA, Mark Bullingham. Menurut Bullingham, Gareth Southgate telah melakukan pekerjaan yang sangat baik.

“Apakah saya menikmati sepak bola? Ya, saya menikmatinya. Gareth telah melakukan pekerjaan yang brilian, finish di puncak fase grup. Pertahanan sangat solid dan dia melakukannya dengan sangat baik di dalam dan luar lapangan,” ucap Bullingham seperti dikutip Football5star.com dari The Guardian, Sabtu (26/6/2021).

Gareth Southgate Pasrah Dimaki Suporter

“Dukungan kami tak tergoyahkan. 100 persen tak tergoyahkan. Kami 100 persen di belakang Gareth Southgate. Dia tahu bagaimana perasaan kita tentang dia,” tambah Bullingham.

“Kami merasa dia brilian, baik di dalam maupun di luar lapangan. Kami ingin dia melanjutkan. Dia melakukan pekerjaan yang hebat. Terlepas nanti hasil di pertandingan melawan Jerman,”

“Terlepas dari babak fase grup turnamen, kami ingin dia melanjutkan tidak terhenti di turnamen ini. Dia melakukan pekerjaan dengan cemerlang sejauh ini,” ungkap Bullingham.

Gareth Southgate melatih Inggris menggantikan Sam Allardyce yang sebelumnya di-plot untuk gantikan Roy Hodgson. Ia mulai resmi melatih tim Tiga Singa pada 30 November 2016.

Dari November 2016, ia telah melakoni 53 pertandingan. Dari 53 laga, Inggris berhasil meraih 36 kemenangan, 7 hasil imbang dan 10 kekalahan. Prestasi terbaik mantan pemain Aston Villa ini ialah membawa Inggris ke babak semifinal Piala Dunia 2018, namun dihentikan oleh Kroasia dengan skor 0-1.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Nostalgia Hari Ini: Dosa Gareth Southgate di Stadion Wembley

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Gareth Southgate, 26 tahun silam, tepatnya 26 Juni 1996 lakukan dosa besar untuk timnas Inggris di Stadion Wembley. Ia menjadi satu-satunya algojo timnas Inggris yang gagal saat adu penalti dengan Jerman di babak semifinal EURO 1996.

Pada perhelatan EURO 1996, Inggris menjadi tuan rumah. Sama seperti di turnamen sebelumnya, publik Inggris tentu saja berharap timnas mereka bisa keluar sebagai juara. Jargon, football’s coming home berkumandang di EURO 1996.

Bahkan secara khusus lagu Three Lions (football’s coming home) dibuat khusus sebagai penanda bahwa Inggris (kelak) juara di EURO 1996. Lagu football’s coming home dinyanyikan komedian Inggris, Baddiel bersama Frank Skinner serta band asal Liverpool, The Lightning Seeds.

Nostalgia Hari Ini: Dosa Gareth Southgate di Stadion Wembley

Keyakinan membuncah di kalangan suporter Inggris. Seperti di lirik lagu football’s coming home, publik Inggris merasa skuat Tiga Singa di EURO 1996 sudah siap untuk bertempur dan meraih gelar juara.

“And now I see Ince ready for war/Gazza good as before/Shearer certain to score”

Penggalan lirik lagu football’s coming home terbukti nyata saat Inggris melakoni partai di babak fase grup EURO 1996. Meski di partai awal, anak asuh Terry Venables sempat ditahan imbang oleh Swiss, di pertandingan kedua dan ketiga mereka mengamuk.

Di laga kedua, mereka menghantam Skotlandia 2-0 dengan gol yang diciptakan oleh Alan Shearer dan Paul Gascoigne. Sedangkan saat melawan Belanda, mereka berpesta gol 4-1, dengan Shearer dan Teddy Sheringham mencetak dua gol.

Langit runtuh di Stadion Wembely

Gareth Southgate menjadi salah satu pilar lini belakang timnas Inggris di EURO 1996. Gareth Southgate menjadi satu-satunya pemain Aston Villa yang dipanggil Terry Venables. Ia menjadi duet di lini belakang bersama Tony Adams.

Bersama Stuart Pearce di posisi full back, Gareth Southgate sempat mengaku bahwa Inggris di EURO 1996 adalah tim dengan komposisi pemain berpengalaman yang seharusnya bisa menjadi juara.

“Kami memiliki beberapa pemain yang luar biasa di EURO 1996. Sejumlah kapten klub dipanggil, seperti saya, ada juga Tony Adams, Stuart Pearce, Paul Ince, Teddy Sheringham serta David Platt. Semua adalah kapten di tim,” ucap Southgate seperti dikutip Football5star.com dari Sky Sport, Sabtu (26/6/2021).

Nostalgia Hari Ini: Dosa Gareth Southgate di Stadion Wembley

Sebagai pemain muda di skuat Inggris saat itu, Gareth Southgate mengaku bahwa ia banyak mendapat wejangan dari Stuart Pearce, salah satu pemain senior di skuat Tiga Singa.

“Hal besar yang saya ingat sebagai pemain muda adalah Stuart Pearce mengatakan kepada saya, ‘ini sebaik yang bisa kita dapat’. Saya tidak tahu apakah itu memang menginspirasi saya atau membunuh karier saya bersama Inggris,” kenang Southgate.

Menjadi pemain andalan Venables di lini belakang, Southgate terus membawa Inggris hingga lolos ke babak semifinal. Sebelumnya di babak perempat final, mereka mengalahkan Spanyol lewat adu penalti dan Southgate beruntung tak jadi eksekutor.

Namun di babak semifinal, Southgate menjadi penyebab langit runtuh di Stadion Wembley. Melawan rival di markas sendiri, Inggris cukup percaya diri. Hasilnya baru menit ke-3, Alan Shearer membawa Inggris unggul 1-0.

Nostalgia Hari Ini: Dosa Gareth Southgate di Stadion Wembley

Menit ke-16, Stefan Kuntz mampu menyamakan kedudukan. Hasil imbang 1-1 terus bertahan di waktu normal serta menit tambahan waktu. Laga pun harus dilanjutkan dengan tendangan adu penalti.

Komposisi penendang penalti Inggris tak jauh berbeda saat mengalahkan Spanyol. Alan Shearer menjadi algojo pertama, diteruskan David Platt, Stuart Pearce, Paul Gascoigne dan penendang kelima, Teddy Sheringham. Kelima penendang Inggris berhasil mencetak poin, pun dengan kelima algojo Jerman.

Tiba saatnya Southgate jadi penendang keenam. Ia mengambil ancang-ancang yang cukup jauh kemudian berlari menyepak bola. Sayang seribu sayang, arah tendangannya dengan mudah dibaca oleh Andreas Kopke. Southgate tertunduk lesu dan Andreas Möller sebagai algojo terakhir Jerman mengakhirinya dengan sepakan keras tanpa bisa diantisipasi oleh David Seaman.

Inggris pun It’s coming home, it’s coming home tanpa meraih gelar juara dan Gareth Southgate jadi pemain yang berdosa.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate Akui Ketangguhan Republik Cheska

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Inggris berhasil mengalahkan Republik Cheska 1-0 pada laga terakhir Euro 2020 Grup D, Rabu (23/6/2021) dinihari WIB. Kemenangan ini sekaligus menjadikan anak asuh Gareth Southgate sebagai juara grup.

Walau hanya menang 1-0, Gareth Southgate tetap bangga dengan performa para pemainnnya. Menurut pengakuannya, Harry Kane dkk tampil stabil sepanjang 90 menit.

Di sisi lain dia juga menyanjung permainan Republik Cheska. Baginya sang lawan bermain bagus dan punya lini belakang kokoh.

inggris vs ceko MailSport
@MailSport

“Kami memulai dengan sangta baik. kami sangat stabil dengan bola dan menjadi penghargaan besar bagi para pemain bahwa kami bisa stabil tanpa bola karena kami harus mengubah banyak hal untuk pergantian pemain,” kata sang nakhoda di laman resmi UEFA, Rabu (23/6/2021).

“Republik Cheska adalah tim yang sangat bagus. Mereka memainkan bola dengan sangat baik dan mereka sulit untuk ditembus. Tapi masih ada lagi yang datang. Kami punya momen ketika melihat tim yang bagus,” ia menambahkan.

Menjadi juara grup juga melegakan untuk timnas Inggris. Apalagi sebelum laga melawan Republik Cheska mereka berada di peringkat kedua.

Kini, mereka hanya tinggal menunggu siapa lawan yang akan dihadapi di 16 besar. “Kami ingin memenangkan fase grup dan ingin bertahan di Wembley. Sekarang kami akan menunggu dan melihat siapa yang menjadi lawan selanjutnya,” tutup Gareth Southgate.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Foden Bingung Banyak Orang yang Mengkritik Southgate

gamespool
Foden Bingung Banyak Orang yang Mengkritik Southgate 103

Football5Star.com, Indonesia – Pemain timnas Inggris, Phil Foden, bingung mengapa banyak orang yang mengkritik pelatihnya, Gareth Southgate. Foden menekankan bahwa Southgate merupakan pelatih top.

Inggris mendapatkan 4 poin dari 2 laga Euro 2020 dan mencetak sebiji gol. Banyak orang mempertanyakan beberapa keputusan Southgate terutama dalam pemilihan pemain, seperti tak memainkan Jack Grealish atau memasang Kieran Trippier sebagai bek kiri. Tapi Foden tak setuju.

Phil Foden - Gareth Southgate - Inggris - Euro 2020 - News Dome
NewsDome

“Dia pelatih yang hebat dan bekerja dengannya setiap hari, saya bisa melihat seperti apa dia. Dia selalu mendukung para pemain dan saya percaya bahwa taktiknya hebat. Semua orang yang berpikir negatif ini tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena Gareth adalah pelatih yang hebat,” ucap Phil Foden seperti dikutip Football5Star.com dari talkSport.

Foden melanjutkan, “Dalam melatih semua pemain teknis seperti saya dan Jack, jadi jika saya mendapat kesempatan bermain dengannya, itu terserah Gareth. Semua orang berlatih dengan sangat baik setiap hari dan tim apa pun yang dia pilih, kami akan percaya dan mendukungnya. Semua orang bermain berbeda, itulah kedalaman yang kami miliki di skuat. Setiap orang memiliki kualitas yang berbeda.”

Salah satu keputusan Southgate yang dipertanyakan adalah belum memainkan Jadon Sancho sejauh ini. Tapi Foden percaya itu keputusan yang terbaik.

“Jadon, dia menyukai situasi satu lawan satu, saya lebih merupakan pemain yang masuk dan mencoba menghubungkan permainan dan Gareth mencoba memilih starting XI terbaik untuk tim. Apa pun yang kami butuhkan di pertandingan berikutnya, dia akan memilih pemain yang tepat,” kata Phil Foden

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Rep. Cheska vs Inggris: Harry Kane Tetap akan Bermain

gamespool
Rep. Cheska vs Inggris: Harry Kane Tetap akan Bermain 107

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, mengkonfirmasi bahwa Harry Kane tetap akan bermain melawan Rep. Cheska walaupun sedang tidak dalam performa terbaik. Southgate menyebut bahwa dia membutuhkan Kane bukan hanya untuk mencetak gol.

Harry Kane bermain buruk dalam dua laga pertama Inggris di Euro 2020. Dia bahkan tak mencatatkan satu pun tendangan ke arah gawang dan ditarik keluar di dua laga tersebut. Tapi, Southgate tetap akan memainkan kaptennya di laga terakhir grup melawan Rep. Cheska. (23/6/21).

“Anda dapat berasumsi bahwa, ya, tentu saja (Kane akan bermain). Dia fundamental tidak hanya untuk gol yang dia cetak tetapi juga permainan membangun dan semua hal lain yang dia bawa,” ucap Gareth Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

harry kane-inggris-football london
football.london

Gareth Southgate melanjutkan, “Saya tahu akan ada banyak pertanyaan yang diajukan tentang dia saat ini. Tetapi dia telah melalui itu 100 kali sebelumnya. Saya telah menjawabnya dalam peran ini beberapa kali di masa lalu dan dia telah menghasilkan gol yang memenangkan kami dan saya berharap hal yang sama akan terus berlanjut.”

Southgate juga menjelaskan mengapa dirinya menarik keluar Harry Kane di kedua laga jika, melawan Kroasia dan Skotlandia, jika menurutnya dia membutuhkan Kane di lapangan.

“Dalam salah satu pertandingan kami sudah unggul dan kami membutuhkan energi untuk menekan dan mempertahankan keunggulan, kami tidak membutuhkan gol tambahan. Harry, selama Piala Dunia, kami berakhir dengan dia bermain banyak laga dan kami merasa perlu mengatur beban itu sedikit kali ini. Kami punya opsi bagus di bangku cadangan untuk membawa pemain ke dalam permainan,” ujarnya.

Southgate melanjutkan, “Tapi dia adalah pemain terpenting kami, tidak ada keraguan tentang itu, Anda hanya perlu melihat rekor mencetak golnya bersama kami untuk melihat pentingnya dia bagi tim.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jadon Sancho Belum Juga Dimainkan, Ini Alasan Gareth Southgate

gamespool
Jadon Sancho Belum Juga Dimainkan, Ini Alasan Gareth Southgate 111

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate menjelaskan mengapa dia masih juga belum menurunkan Jadon Sancho. Southgate mengatakan bahwa dia memiliki terlalu banyak opsi di posisi Sancho.

Sancho bermain luar biasa bersama Borussia Dortmund dalam dua musim terakhir. Kini dia bahkan dilaporkan sedikit lagi akan bergabung ke Manchester United. Namun dalam dua laga Inggris di Euro 2020 melawan Kroasia dan Skotlandia dia sama sekali tak mendapatkan menit bermain. Southgate menjelaskan alasannya.

“Kami memiliki beberapa opsi eksplosif dan banyak dari mereka adalah pemain muda dan menjalani turnamen besar untuk pertama kalinya,” ucap Gareth Southgate seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

Gareth Southgate dan Kane Tolak Singkirkan Botol Coca-Cola
Mirror

Sancho melanjutkan, “Jadi sebagai staf pelatih, kami realistis tentang harapan kami terhadap mereka sebagai individu. Jadon ada dalam campuran itu. Dia berlatih dengan baik beberapa hari terakhir dan tentu saja kami memiliki opsi dan keputusan itu untuk dibuat.”

Southgate menyebutkan bahwa masalah pada pilihan 3 gelandang serang dalam formasinya adalah hampir semuanya bermain di klub yang berbeda. Sancho, Mason Mount, Marcus Rashford, dan Jack Grealish. Hanya Raheem Sterling dan Phil Foden yang bermain klub yang sama.

“Saya pikir banyak pemain yang tidak kami miliki untuk pertandingan uji coba, jadi chemistry adalah sesuatu yang kami tidak punya banyak kesempatan untuk dikerjakan,” kata Gareth Southgate.

Dia melanjutkan, “Kami harus terus bekerja untuk itu. Kami tahu ada beberapa pemain yang sangat bagus di sana, kami tahu mereka bisa tampil lebih baik daripada yang mereka lakukan (melawan Skotlandia) dan kami harus membantu mereka menemukan level itu. Yang penting adalah semua orang mendukung tim dan para pemain dan mereka perlu merasakan dukungan itu dan merasakan kehangatan itu.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gareth Southgate Pasrah Dimaki Suporter

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Gareth Southgate, pelatih Inggris mengaku bahwa suporter berhak meluapkan kekecewaannya karena hasil imbang tanpa gol anak asuhnya melawan Skotlandia di EURO 2020. Ia sangat paham dengan kekecewaan yang dirasakan publik Inggris.

“Saya pikir penggemar kami berhak untuk beraksi sesuka mereka. Kami kecewa dengan penampilan kami sendiri dsan saya sangat memahami reaksi mereka,” ungkap Gareth Southgate seperti dikutip Football5star.com dari Sky Sport, Sabtu (19/6/2021).

gareth southgate - inggris - uefa. com 2
uefa;.com

“Kami diharapkan bisa mengalahkan Skotlandia. Merekan akan frustasi dengan itu dan pada akhirnya kami harus menlanjutkan hidup dengan itu dan menghadapi semua kritikan,” tambahnya.

Gareth Southgate pun tak menampik jika permainan Harry Kane dkk di laga melawan Skotlandia yang berlangsung di Stadion Wembley sangat buruk. Southgate pun menyoroti soal kemampuan pemainnya mencetak gol.

“Saya pikir kami bisa sedikit lebih menentukan dalam pengambilan keputusan di area bertahan mereka. Tetapi saya pikir Skotlandia mempertahankan area mereka dengan sangat baik,”

“Bahkan menjelang akhir pertandingan, situasi satu lawan satu, mereka selalu memiliki pemain kedua atau ketiga di lini belakang,” ungkapnya.

“Dengar, ini adalah permainan yang kami tahu kami bermain di level yang tidak diinginkan. Tetapi hasil malam itu harus bisa kami terima dan fokus pada laga berikutnya,” kata Gareth Southgate.

Hasil imbang tanpa gol melawan Skotlandia, membuat Inggris saat ini berad di peringkat kedua grup D di bawah Republik Ceska. Inggris kalah agregat gol dari Patrick Schick dkk.

Di partai terakhir grup D, Inggris akan melawan Republik Ceska pada 21 Juni di Stadion Wembley.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]