Italia vs Spanyol: Wasit Memihak Gli Azzurri

Football5star.com Indonesia – Jelang laga Italia vs Spanyol pada semifinal EURO 2020, ada fakta menarik terkait wasit Felix Brych yang akan memimpin laga. Keberuntungan yang dihadirkan pengadil asal Jerman tersebut terbukti lebih sering memihak kubu Gli Azzurri.

Bagi Brych, ini kali kelima dirinya akan memimpin laga pada EURO 2020. Pada babak grup, dia sempat menjadi wasit laga Belanda vs Ukraina serta Finlandia vs Belgia. Lalu pada 16 besar, dia mengadili duel Belgia vs Portugal.

Felix Brych Belgia vs Portugal EURO 2020 - Zimbio
Zimbio

Sebelum ditunjuk memimpin laga Italia vs Spanyol, dia juga menjadi wasit utama ketika Inggris menghajar Ukraina pada babak perempat final. Total, Brych sudah 8 kali memimpin pertandingan EURO sejak 2016 dan sudah mengeluarkan 16 kartu kuning.

Menariknya, pria bergelar Doktor tersebut sudah pernah 7 kali mewasiti timnas Italia. Keberuntungan Gli Azzurri bersama Brych pun terbilang cukup bagus. Hasil terburuk adalah dua kali imbang, dan sisanya 5 kemenangan.

Italia vs Spanyol Cukup Akrab dengan Brych

Lebih menarik lagi, di antara kemenangan dan hasil imbang timnas Italia bersama Brych, termasuk dua pertandingan melawan Spanyol. Dalam dua laga tersebut, Italia meraih satu kemenangan dan sekali imbang.

Kemenangan 2-1 diraih ketika Italia menjamu Spanyol di Stadion San Nicola, Bari, pada laga persahabatan (10/8/2011). Kala itu, tim asuhan Cesare Prandelli menang berkat gol Riccardo Montolivo dan Alberto Aquilani. Sementara satu gol balasan La Furia Roja dilesakkan Xabi Alonso.

Setelahnya, Brych kembali mengadili partai Italia vs Spanyol pada kualifikasi Piala Dunia 2018 d JUventus Stadium (6/10/2016). Hasil imbang 1-1 mewarnai duel tersebut. Gol pembuka Spanyol melalui Vitolo mampi dibalas Daniele De Rossi delapan menit jelang laga bubar.

Italia vs Spanyol Felix Brych - Zimbio
Zimbio

Berdasarkan rekam jejak tersebut, timnas Italia patut optimistis menyambut laga semifinal pada Rabu (7/7) WIB. Rekor tanpa kekalahan bersama Brych bukan mustahil berlanjut.

Sementara, tren negatif La Furia Roja pun bisa bertambah. Bersama Brych, Spanyol tak pernah menang dalam tiga pertandingan (dua imbang dan satu kekalahan). Selain dua kali melawan Italia, satu laga lain mereka bersama Brych adalah ketika imbang 1-1 lawan Prancis pada Oktober 2012.

Apakah tuah Brych akan berlanjut? Patut dinantikan pada pertandingan nanti malam.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dijamin Ketat, Ini 5 Fakta Menarik Semifinal EURO 2020 Italia vs Spanyol

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Semifinal EURO 2020 yang mempertandingan Italia vs Spanyol di Stadion Wembley, Rabu (7/7/2021) dini hari WIB dijamin akan ketat. Berbekal rekor pertemuan beberapa laga terakhir kedua tim, rasanya laga akan berjalan panas.

Kedua tim terakhir kali bersua di ajang EURO pada edisi 2016. Kala itu, Italia sukses menang 2-0 berkat gol Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle pada babak 16 besar yang dihelat di Stade de France. Tetapi, baru-baru ini Spanyol menujukkan kualitasnya kepada Italia.

Pada pertemuan di Kualifikasi Piala Dunia 2018, mereka sukses menahan imbang Italia di Turin. Bahkan, La Furia Roja sukses menang tiga gol tanpa balas di Santiago Bernabeu pada leg kedua. Itu merupakan salah satu contoh yang bisa memprediksi laga Italia vs Spanyol akan menarik.

Italia vs Spanyol

Berikut 5 Fakta Menarik Lainnya pada Laga Italia vs Spanyol:

  • Laga nanti akan jadi pertemuan ketujuh Italia vs Spanyol pada ajang EURO. Rekornya pun berimbang, Italia memenangi dua laga, pun Spanyol 2 kemenangan, dan dua lainnya imbang.
  • Kekalahan pada EURO 2016 adalah satu-satunya kekalahan Spanyol dari Italia dalam tujuh pertandingan terakhir antara kedua tim (W2 D4).
    Spanyol adalah tim ketiga yang sering dihadapi Italia, yakni 38 kali, setelah Swiss (59) dan Prancis (39)
  • Italia punya rekor baik tiap kali lolos ke empat besar EURO, yakni tiga menang dan sekali kalah. Satu-satunya kekalahan Italia di semifinal terjadi pada 1988 saat takluk 0-2 dari Uni Soviet.
  • Spanyol selalu meraih kemenangan dalam empat kesempatan mentas di semifinal pada ajang tersebut.
  • Spanyol dan Jerman/Jerman Barat adalah tim paling sukses di EURO setelah memenangkan tiga edisi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Veratti: Perasaan Saya Hancur Melawan Isco

Football5Star.com, Indonesia – Dua gol yang dicetak Isco saat Spanyol mengalahkan Italia 3-0 tidak hanya membuat langkah negaranya menuju Rusia semakin mulus. Di balik itu, ia telah membuat perasaan Marco Veratti hancur. Penyebabnya tentu saja aksi pemain Real Madrid di menit 67 saat melewati pemain Gli Azzurri itu diantara dua kakinya, atau yang biasa disebut nutmeg.

“Saya sangat menderita melawan Isco. Ia berhasil menghancurkan perasaan saya sepanjang pertandingan. performanya membuat semua terkesima, bahkan selevel Lionel Messi pun tidak seperti itu. Jujur saja, setelah aksinya itu saya ingin berdiri dan tepuk tangan kepadanya,” ujar veratti pada Mundo Deportivo, Minggu (3/9/2017).

Meski begitu, Andreas Iniesta tetap memuji penampilan Veratti di laga tersebut. “Veratti pemain tengah yang hebat, lihatlah bagaimana permainannya tadi. Ia sangat menonjol di lapangan dan memiliki visi bermain yang menakjubkan. Semua tim harus berhati-hati menghadapi dia,” ujar bintang Barcelona itu.

Bukan hanya Veratti yang sedih. Italia juga merana dengan hasil tersebut. Mereka kalah telak dan memberatkan langkah tim asuhan Gian Piero Ventura menuju Piala Dunia tahun depan. Tidak hanya hasil akhir, permainan mereka sepanjang laga juga tidak efektif karena kalah kelas dengan kualitas para pemain Tim Matador.

Tertinggal tiga angka dari Spanyol di puncak klasemen, Italia masih memiliki peluang lolos ke Rusia. Terlebih Andrea Belotti dkk hanya akan melawan Israel, Albania, dan Makedonia di laga sisa.

Berita Bola: Buffon Tak Bakal Lupakan Blunder Kontra Spanyol

Kiper sekaligus kapten timnas Italia, Gianluigi Buffon, angkat bicara mengenai blunder yang dilakukannya saat menghadapi Spanyol dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa, Jumat (7/10) dini hari tadi.

Italia harus puas dengan membawa pulang satu poin setelah ditahan imbang 1-1 oleh Spanyol di Stadion Juventus. Satu-satunya gol yang dicetak Spanyol lahir akibat kecerobohan Buffon dalam melakukan clearance yang membuat Vitolo leluasa untuk menceploskan bola ke gawang yang kosong.

“Dalam 18 bulan ke depan, saya mungkin akan mengingat kembali momen ini dan tertawa. Jika ini terjadi lagi dalam dua atau 20 hari ke depan, maka saya akan tertawa lebih sedikit. Masalahnya adalah, saya memiliki banyak ide mengenai bagaimana cara saya menendang bola. Saya takut tendangan saya mengarah langsung ke Vitolo, jadi saya berinisiatif untuk mengopernya ke bek dan ancang-ancang yang saya ambil terlalu banyak sehingga berakibat blunder,” beber Buffon, dilansir Football Italia.

Terlepas dari blunder tersebut, Buffon mengapresiasi perjuangan rekan-rekan setimnya yang tak pantang menyerah meski tertinggal lebih dahulu.

“Kami berhasil bangkit dan rekan-rekan setim sungguh luar biasa. Karena setelah ketinggalan satu gol kami justru menemukan kembali motivasi untuk meningkatkan level permainan,” sebut Buffon.

“Sulit untuk membayang apa yang terjadi dalam 60 menit pertama. Laga ini mengajarkan kami pengalaman berharga, karena kami terlalu ragu-ragu dalam membangun serangan.”

Berita Bola: Immobile: Saya Selalu Bermain Total Untuk Italia

Striker Lazio, Ciro Immobile, mengaku puas bisa memberikan kontribusi lebih bagi timnas Italia saat menjamu Spanyol dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa, Jumat (7/10) dini hari tadi.

Pelatih timnas Italia, Giampiero Ventura, lebih memilih menurunkan Graziano Pelle dan Eder sebagai ujung tombak serangan. Akan tetapi, setelah tertinggal satu gol, Ventura akhirnya mengganti Pelle dengan Immobile pada menit ke-60.

Masuknya Immobile memberikan warna baru bagi serangan Gli Azzurri. Meski berposisi sebagai striker, Immobile mampu menekan bek-bek Spanyol dengan baik.

“Saya tahu tim membutuhkan tenaga baru dan kecepatan di lini depan, jadi saya berusaha menjadi jalan keluar bagi tim. Kami bermain sedikit ragu-ragu pada awal laga dan kesulitan meladeni tiki-taka yang diperagakan Spanyol. Tetapi yang terpenting adalah respons kami, karena itu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh,” sebut Immobile kepada Rai Sport.

Striker berusia 26 tahun ini pun berterimakasih kepada Ventura yang selalu memberikan kesempatan untuk turun di laga krusial ini.

“Kami berhasil bangkit dan layak meraih satu poin dari laga ini. Saya senang bisa memberikan imbas positif kepada tim, dan saya tahu pelatih selalu menaruh kepercayaan besar pada saya dan itu membuat saya semangat,”tegasnya.

“Gol di Israel juga mendongkrak kepercayaan diri saya dan saya berada di tim ini untuk memberikan kontribusi maksimal bagi Italia.”

Berita Bola: Ventura Klaim Costa Dan Ramos Harusnya Diberi Kartu Merah

Pelatih tim nasional Italia, Giampiero Ventura, meyakini bahwa dua penggawa Spanyol, Diego Costa dan Sergio Ramos, pantas mendapatkan kartu merah ketika dua tim bertanding pada Jumat (7/10).

Dalam laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018 yang digelar di Stadion Juventus tersebut, performa wasit Felix Brych mendapatkan sorotan atas dua insiden.

Yang pertama, adalah ketika Costa tidak mendapatkan kartu kuning kedua karena menendang bola setelah peluit tanda offside dibunyikan. Sementara, yang kedua adalah kala Ramos melakukan pelanggaran kepada Eder. Menurut Ventura, wasit seharusnya mengusir kedua pemain tersebut.

“Tidak diberikannya dua kartu merah (oleh wasit) adalah hal yang mengejutkan,” ujar Ventura seperti yang dikutip Football Italia.

“Seharusnya mustahil (wasit) tidak memberikan kartu kuning kedua, baik untuk Costa maupun Ramos. Bahkan, satu dari dua kartu merah tersebut dapat mengubah jalannya pertandingan,” tambah dirinya.

Pertandingan sendiri berakhir dengan skor imbang 1-1. Gli Azzurri sempat tertinggal terlebih dahulu akibat gol Vitolo, sebelum mengamankan satu poin lewat penalti Daniele De Rossi. Penerus Antonio Conte tersebut meyakini timnya akan belajar banyak hal dari hasil imbang melawan La Furia Roja ini.

“Sikap Spanyol, dan kekhawatiran kami sendiri, memaksa kami mengubah pendekatan kami. Perubahan pada paruh waktu memang dibutuhkan dan kami melakukannya. Ini akan menambah pengalaman kami, termasuk saya, karena saya mungkin akan memulai laga dengan cara yang berbeda jika bisa kembali,” jelas dirinya.

Berita Bola: Belotti Ingin Terus Berduet Dengan Immobile Di Timnas Italia

Penyerang tim nasional Italia, Andrea Belotti, mengungkapkan harapannya untuk bisa terus berduet bersama Ciro Immobile di lini depan.

Dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Spanyol yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Juventus, Jumat (7/10), Immobile dan Belotti tampil sebagai pemain pengganti. Namun, performa keduanya mendapatkan pujian dari banyak pihak karena mampu mengubah permainan Italia menjadi lebih baik.

Belotti mengaku bahwa dirinya akan selalu siap kapanpun tenanga dibutuhkan oleh pelatih Gli Azzurri, Giampiero Ventura. Namun, secara pribadi, ia berharap dapat terus dimainkan bersama Immobile

“Ketika Ciro dan aku masuk, kami ingin mengubah jalannya pertandingan dengan cara apapun. Kami mencoba memberikan segalanya, bahkan meski hanya beberapa menit di atas lapangan, dan untungnya kami mampu mencetak gol penyeimbang,” ujar Belotti seperti yang dikutip oleh Football Italia.

“Aku sudah pernah bermain bersama Ciro selama setengah musim, jadi kami berhubungan sangat baik. Aku pikir sangat jelas, seperti yang kami tampilkan hari ini, bahwa kami bermain baik bersama-sama.”

“Pelatih yang mengambil keputusan. Aku hanya perlu siap ketika dipanggil, entah itu sebagai starter atau pemain pengganti. Setiap pemain tentu berharap menjadi starter, maka jika kesempatan itu datang, tentu itu adalah perasaan yang menyenangkankan,” tambah dirinya.

Saat ini, Italia menempati peringkat kedua Grup G. Selanjutnya, mereka dijadwalkan menghadapi Republik Makedonia pada Minggu (10/10) mendatang.

Berita Bola: Vitolo Kaget Buffon Lakukan Blunder

Bintang tim nasional Spanyol, Vitolo, mengaku terkejut dengan blunder yang dilakukan oleh kiper Italia, Gianluigi Buffon, ketika kedua tim bertemu pada Jumat (7/10).

Dalam laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Italia, Vitolo berhasil membuka keunggulan Spanyol pada menit ke-55 setelah memaksimalkan kesalahan Buffon. Namun, gol penalti Daniele De Rossi delapan menit menjelang waktu normal berakhir membuat laga berakhir imbang 1-1.

Pemain berusia 26 tahun mengaku senang karena dapat menyumbangkan gol bagi Spanyol, tetapi ia tetap mengaku tak menyangka Buffon akan melakukan blunder.

“Sejujurnya, kami merasa bermain cukup nyaman di babak pertama,” ujar Vitolo seperti yang dikutip oleh Football Italia.

“Buffon adalah penjaga gawang yang luar biasa. Aku tidak menyangka ia akan melakukan kesalahan dan ia juga tidak menyangka aku bisa lolos (dari penjagaan),” tambah dirinya.

Kendati La Furia Roja hanya mampu meraih satu angka, penggawa Sevilla tersebut tetap mengaku puas dengan hasil yang didapatkan.

“Aku juga memiliki peluang untuk mencetak gol kedua, tetapi tidak berjalan dengan baik. Ini tetaplah poin yang sangat penting, terutama karena kami bermain tandang. Jadi, kami merasa puas,” jelas Vitolo.

Skuat asuhan pelatih Julen Lopetegui saat ini berada di peringkat kedua klasemen sementara Grup G dengan total raihan empat poin. Mereka akan menghadapi Albania pada Minggu (10/10) mendatang.

Berita Bola: Ditahan 1-1 Oleh Spanyol, Ventura Akui Italia Tampil Sedikit Gugup

Pelatih timnas Italia, Giampiero Ventura, mengakui timnya sedikit gugup saat menjamu Spanyol dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa, Jumat (7/10) dini hari tadi.

Bermain di Stadion Juventus, Italia cukup kesulitan untuk membongkar pertahanan Spanyol pada babak pertama. Pada babak kedua, Italia justru kecolongan lebih dahulu lewat gol Vitolo.

Namun gelombangan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Italia membuahkan pelanggaran di kotak penalti Spanyol. Eksekusi Daniele De Rossi sukses membawa Gli Azzurri memetik satu poin dari laga ini.

“Kami harus membayar kesalahan kami sendiri, karena setiap kami berhasil merebut penguasaan bola, dua detik setelahnya kami kembali kehilangan bola. Kami berhasil menghilangkan rasa gugup, mulai memberikan tekanan, dan memiliki peluang untuk memenangi laga ini pada menit-menit akhir,” ujar Ventura kepada Rai Sport.

Ventura sedikit kurang puas dengan gol Spanyol. Pasalnya, menurut Ventura, Italia tak seharusnya kebobolan andai Buffon tak membuat keputusan untuk keluar dari sarangnya.

Terlepas dari hal itu, Ventura memberikan pujian pada dua pemain pengganti, Ciro Immobile dan Andrea Belotti.

“Kami sadar Spanyol akan mengontrol penguasaan bola, tetapi tentu saja gol yang mereka ciptakan berasal dari kesalahan kami sendiri dan Buffon tak seharusnya membuat penyelamatan seperti itu.”

“Saya pikir ini hasil yang bagus, terlebih jika melihat kondisi Spanyol saat ini dan banyaknya pemain kami yang mengalami cedera. Andrea Belotti dan Ciro Immobile tampil impresif usai masuk pada babak kedua.”

Berita Bola: Lopetegui Puji Spirit Bermain Italia

Pelatih timnas Spanyol, Julen Lopetegui, memuji penampilan Italia usai bermain imbang 1-1 dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa, Jumat (7/10) dini hari tadi.

Menurut Lopetegui, Italia memang layak untuk meraih satu poin di laga ini. Meski tertinggal satu gol, skuat Gli Azzurri terus berusaha bangkit dan memberikan tekanan bertubi-tubi kepada Spanyol hingga akhirnya membuahkan penalti pada menit-menit akhir.

“Saya tak terkejut kami gagal menang, karena kami menghadapi Italia dan mereka selalu tangguh. Di atas segalanya, mereka selalu punya kemampuan untuk bangkit dan menunjukkan determinasi yang besar,” sebut Lopetegui kepada Rai Sport.

“Pada babak kedua mereka bermain lebih direct. Kami lebih kuat pada babak pertama dan tiga pemain kami juga mendapatkan kartu kuning, jadi itu sedikit membuat kami bermain lebih ke dalam,” ujarnya.

Spanyol unggul lebih dahulu pada menit ke-55. Kesalahan Gianluigi Buffon dalam melakukan clearance membuat Vitolo leluasa mencetak gol ke gawang yang kosong.

Akan tetapi, Italia terus menekan bertubi-tubi hingga akhirnya Eder dijatuhkan Sergio Ramos di kotak terlarang. Eksekusi Daniele De Rossi pun berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-82.

Lopetegui berharap timnya bisa segera bangkit dari hasil ini. Pada laga berikutnya, Spanyol akan menghadapi Albania.

“Kami harus segera bangkit dan menyiapkan diri untuk laga berikutnya. Hasil imbang di laga ini bukan sebuah keuntungan bagi Spanyol, karena perjalanan masih sangat panjang.”

Berita Bola: Penalti De Rossi Gagalkan Kemenangan Spanyol Di Kandang Italia

Italia berhasil memetik satu poin saat menjamu Spanyol dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa yang berlangsung Jumat (7/10) dini hari. Eksekusi penalti Daniele De Rossi pada menit-menit akhir laga menyelamatkan Italia dari kekalahan setelah sebelumnya tertinggal 0-1 terlebih dahulu.

Spanyol memberikan ancaman terlebih dahulu lewat aksi Gerard Pique. Sebuah crossing yang dilepaskan Andres Iniesta dari sisi kiri pertahanan Italia disambut dengan tandukan Pique yang masih membentur punggung Leonardo Bonucci.

Pada menit ke-24, Spanyol kembali mendapatkan peluang emas melalui skema serangan yang serupa. Diawali crossing Iniesta yang mengarah ke tiang jauh, Sergio Ramos memberikan assist matang kepada Pique yang berdiri di mulut gawang. Akan tetapi, sundulan Pique masih bisa ditangkap dengan sempurna oleh Gianluigi Buffon.

Babak pertama pun berakhir dengan skor imbang 0-0.

Selepas turun minum, Spanyol berhasil mencuri gol terlebih dahulu. Pada menit ke-55, Sergio Busquets mengirimkan umpan terobosan kepada Vitolo yang bergerak ke sisi kanan pertahanan Italia. Upaya clearance yang tidak sempurna oleh Buffon membuat Vitolo dengan leluasa menceploskan bola ke gawang yang kosong.

Gol tersebut seperti membangkitkan semangat bermain Gli Azzurri. Tekanan bertubi-tubi ke jantung pertahanan Spanyol sempat membuat Ramos cs keteteran.

Sembilan menit jelang akhir waktu normal, Italia mendapatkan hadiah penalti setelah Eder dijatuhkan Ramos di kotak terlarang. Eksekusi yang tenang dari De Rossi berhasil membuat kedudukan kembali imbang 1-1.

Berkat hasil imbang ini, Spanyol turun ke posisi kedua klasemen sementara grup G dengan perolehan empat poin. Sementara Italia juga turun ke posisi ketiga dengan poin yang sama dengan Spanyol.

Susunan Pemain

Italia: Buffon; Barzagli, Bonucci, De Sciglio, Romagnoli, De Rossi, Montolivo (Bonaventura 30’), Parolo (Belotti 76’), Florenzi, Pelle (Immobile 60’), Martins.

Spanyol: De Gea; Sergio Ramos, Pique, Alba (Nacho 22’), Carvajal, Iniesta, David Silva, Busquets, Vitolo (Thiago Alcantara 84’), Koke, Diego Costa (Morata 67’).

Berita Terkini: Busquets Suarakan Misi Balas Dendam Saat Spanyol Hadapi Italia

Timnas Spanyol agaknya masih menyimpan dendam akibat dikalahkan Italia pada babak 16-besar Piala Eropa 2016. Karenanya, kesempatan berteu lagi pada Kualifikasi Piala Dunia 2018, Jumat (7/10) dini hari WIB dijadikan momen pembalasan dendam.

Seperti diketahui, Spanyol kalah 0-2 dari Italia di babak 16-besar Piala Eropa 2016. Gelandang Sergio Busquets mengaku, kekalahan itulah yang ingin dibalaskan pada pertemuan kali ini. Laga kedua tim dihelat di Juventus Stadium, kandang dari Juventus.

“Di Piala Eropa 2016 saat kalah dari Italia, kami melakukan sejumlah kesalahan. Kini saatnya membalas dendam,” sebut Busquets seperti dilansir Football Italia.

Meski begitu, Busquets menilai laga nanti tak menentukan bagi kedua tim dalam meraih tiket ke Piala Dunia 2018. Maklum saja, jalan ke arah sana masih panjang.

“Ini bukan laga menentukan bagi kedua tim, tapi pentung untuk membuktikan siapa tim terkuat di grup ini,” imbuh Busquets.

Dalam duel kali ini, baik Spanyol maupun Italia sama-sama diarsiteki pelatih anyar. La Furia Roja – julukan timnas Spanyol, dipimpin Julen Lopetegui. Sementara itu, Gli Azzurri – julukan timnas Italia, dilatih Giampiero Ventura.

Busquests sendiri meyakini Italia akan memainkan pola sama seperti di Piala Eropa 2016. Ventura disebutnya hanya meneruskan apa yang telah diterapkan Antonio Conte.

“Italia akan memainkan gaya yang sama seperti di Piala Eropa 2016. Mereka bermain dengan tiga bek, tiga gelandang yang dibantu dua gelandang sayap, dan dua penyerang. Kami sudah mempelajari gaya tersebut,” imbuh Busquets.

Sementara itu, terkait gaya permainan yang diterapkan Lopetegui, menurutnya ada sedikit perbedaan. La Furia Roja saat ini lebih mengedepankan taktik dan sangat fokus dalam hal tersebut.

Berita Euro 2016: Efek Pidato Giaccherini di Ruang Ganti Italia Sebelum Melawan Spanyol

giItalia berhasil mengalahkan Spanyol dalam babak 16-besar Piala Eropa 2016, Senin (27/6). Keberhasilan itu tidak lepas dari efek pidato Emanuele Giaccherini di dalam ruang ganti Gli Azzurri.

Giaccherini menundukkan Spanyol dengan skor 2-0 lewat sebuah permainan solid. Link tengah dan pertahanan Italia sulit ditembus, sedangkan barisan depannya begitu berbahaya.

Semua itu dinilai tidak lepas dari kesuksesan taktik yang dirancang oleh pelatih Antonio Conte. Dengan disiplin tinggi, Gianluigi Buffon dkk dapat menerapkannya di atas lapangan.

Giaccherini membenarkan hal tersebut. Dia memuji Conte yang dinilainya melakukan persiapan melawan Spanyol dengan sangat detail. Hal itu terbukti berdampak positif.

Akan tetapi, Giaccherini juga mengaku bahwa pidatonya di kamar ganti Gli Azzurri juga berpengaruh. Dia menilai hal itu berhasil membuat skuat Italia bermain dengan sepenuh hari.

Perlu diketahui, di dalam skuat Italia selama Piala Eropa 2016 terdapat kebiasaan menarik. Para pemain diminta oleh Conte untuk berbicara di depan rekan-rekannya sebelum laga secara bergantian. Hal itu dilakukan oleh pemain berbeda untuk setiap laga berbeda pula.

“Pemain yang berbeda membuat pidato sebelum laga setiap waktu, karena kami adalah kesatuan dan setiap orang memainkan peranannya,” kata Giaccherini.

Saat melawan Spanyol, Giaccherini yang mendapat giliran untuk berpidato. Dia pun mengajak rekan setim untuk tampil total karena sadar kalah kualitas dibanding Spanyol.

“Hari ini, saya berbicara kepada para pemain sebelum pertandingan. Saya mengatakan kepada mereka bahwa kami membutuhkan hati karena taktik hanya bisa membawa kami sejauh ini. Kami memerlukan hati,” ucap Giaccherini.

Ajakan Giaccherini tampaknya disambut baik oleh rekan setimnya. Mereka tampil sepenuh hati kala menundukkan Spanyol. Hal itu pula yang menjadi faktor penentu kemenangan mereka.

UEFA Euro 2016: Eliminasi Spanyol, Italia Bungkam Keraguan

Pelatih Italia, Antonio Conte, menyatakan kemenangan atas Jerman di babak 16-Besar Euro 2016 telah membungkam keraguan banyak pihak terhadap timnya. Selain menunjukkan kualitas skuat yang dibawanya, Conte menegaskan bahwa Gli Azzurri tidak hanya mengandalkan pertahanan.

Italia melangkah ke babak 16-Besar Euro 2016 usai menjuarai Grup E dengan catatan dua kali menang dan satu kali kalah. Italia harus bertemu Spanyol yang menjadi runner-up Grup D.

Sebelum Euro 2016 dimulai, tidak sedikit kalangan yang meragukan kualitas 23 pemain Italia yang dipilih oleh Conte. Pasalnya, aroma bintang tidak terpancar dari skuat Gli Azzurri.

Namun, Italia sukses membungkam segala pesimisme. Gianluigi Buffon dkk bahkan mampu mengalahkan juara bertahan, Spanyol, dua gol tanpa balas yang masing-masing dicetak oleh Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle.

“Saya sudah mengetahui bahwa para pemain saya memiliki sesuatu yang hebat dan luar biasa dalam diri masing-masing. Kami menunjukkan kepada semua orang bahwa Italia bukan hanya Catenaccio hari ini,” ujar Conte, seperti dikutip dari laman resmi UEFA.

“Ini bukan era terbaik dalam pesepakbolaan Italia, jadi kami tidak bisa bergantung dari para pemain hebat. Saya harus berjuang untuk membuat orang menyadari ini. Sepakbola Spanyol ada dalam kondisi yang sehat, jadi kami mendapat kebanggan lebih dengan mengalahkan mereka,” imbuh mantan pelatih Juventus tersebut.

Usai memastikan diri lolos ke perempat final Euro 2016, Italia bakal bertemu juara dunia, Jerman.

Berita Euro 2016: Bertemu Jerman, Italia Hadapi Tim Terkuat

Pelatih Italia, Antonio Conte, menyatakan bahwa timnya bakal menghadapi tantangan berat dalam perempat final Euro 2016. Pasalnya, Conte menilai, Jerman merupakan salah satu tim terbaik Eropa saat ini.

Italia berhasil melaju ke perempat final Euro 2016. Gli Azzurri sukses membalas dendam kepada Spanyol atas kekalahan empat gol tanpa balas dalam partai puncak Euro 2012 lalu.

Giorgio Chiellini membawa Italia unggul atas Spanyol pada menit ke-33. Graziano Pelle melengkapi kemenangan 2-0 Gli Azzurri atas Spanyol melalui golnya pada injury time.

Lawan tangguh kembali harus dihadapi Italia setelah memastikan diri lolos ke perempat final Euro 2016. Jerman yang berhasil menyingkirkan Slovakia berkat kemenangan 3-0 bakal menjadi lawan Gianluigi Buffon dkk selanjutnya.

Conte mengatakan, Italia bakal mendapatkan ujian sulit lantaran harus menghadapi Jerman tanpa Thiago Motta. Belum lagi, Daniele De Rossi berpotensi absen menyusul cedera yang dialaminya ketika melawan Spanyol.

“Kami akan membutuhkan performa yang sangat luar biasa untuk laga itu, luar biasa saja tidak cukup. Mulai besok, kami akan mulai memikirkan laga kontra Jerman. Seperti yang saya katakan, bagi saya, level Jerman berada di atas tim-tim lainnya,” ujar Conte, seperti dilansir laman resmi UEFA.

“Kami kini menghadapi tim terbaik di Piala Eropa pada Sabtu (2/7)  mendatang. Itu akan menjadi laga yang sangat sulit dalam berbagai aspek,” lanjut calon manajer Chelsea musim depan.

“Kami harus memulihkan kondisi dengan baik dan melakukan persiapan dengan cara yang terbaik semampu kami,” seru Conte.

“Kami tidak bisa memainkan Thiago Motta dan itu kerugian besar, juga karena De Rossi mengalami pembengkakan di bagian panggul, namun kami tahu bahwa dalam kesulitan, kami bisa memberikan usaha yang sedikit lebih besar,” tandasnya.

Berita Euro 2016: Dendam Spanyol ke Italia Bisa Dibalas di Pra-Piala Dunia 2018

Spanyol baru saja tersingkir usai kalah 0-2 dari Italia di babak 16-besar dari Piala Eropa 2016, Senin (27/). Meski begitu, Pelatih Vicente Del Bosque sudah siap menatap momen balas dendam pada pertemuan di Pra-Piala Dunia 2018 zona Eropa.

Kebetulan, pada kualifikai Piala Dunia 2018 di Rusia itu, Italia dan Spanyol tergabung dalam Grup G bersama Albania, Israel, Macedonia, dan Liechtenstein.

“Kami akan kembali bertemu Italia pada Kualifikasi Piala Dunia dan kami harus mempersiapkan diri untuk itu,” bilang Del Bosque usai kekalahan dari Italia seperti dilansir Sky Sports.

Momen itu akan menjadi pelampiasan dendam bagi Spanyol. Padahal, kekalahan pada Piala Eropa tahun ini pun merupajan ajang balas dendam Italia atas setelah dihajar dengan skor 0-4 pada final Piala Eropa 2012.

Dengan kegagalan di Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016, muncul beberapa pendapat yang menyebut jika era emas sepak bola Spanyol sudah berakhir setelah sebelumnya secara beruntun menjuarai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012.

Akan tetapi, Del Bosque tidak sepakat dengan pernyataan tersebut. Menurutnya, masa depan sepak bola Spanyol masih cerah. “Ini adalah sebuah era yang luar biasa bagi sepak bola Spanyol,” kata Del Bosque.

“Saya pikir era sepak bola Spanyol tidak berakhir. Kami memiliki dunia sepak bola yang sangat terstruktur, ada banyak akademi yang bagus, pemain serta klub yang sangat bagus,” pungkasnya.

UEFA Euro 2016: Disingkirkan Italia Bukan Akhir Era Kejayaan Spanyol

Pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque, mengakui bahwa Italia tampil lebih superior dibanding timnya saat bertemu di babak 16-Besar Euro 2016, Senin (27/6). Meski akhirnya tersingkir, Del Bosque tidak menganggap era kejayaan Spanyol telah berakhir.

Sebagai juara bertahan, langkah Spanyol terhenti di babak 16-Besar Euro 2016. La Furia Roja harus mengakui keunggulan dua gol tanpa balas dari Italia di Stadion de France.

Giorgio Chiellini membuat Spanyol tertinggal pada menit ke-33 sebelum Graziano Pelle mempersembahkan gol kedua bagi Italia pada injury time. Menurut Del Bosque, Spanyol telah menunjukkan respons yang bagus saat melawan Italia.

Sebelum gagal di Euro 2016, Spanyol juga tidak mampu mempertahankan predikat juara dunia. Iker Casillas dkk tersingkir di fase grup Piala Dunia 2014 lalu.

Spanyol boleh saja takluk dari Italia dalam babak 16-Besar Euro 2016. Akan tetapi, Del Bosque tetap menyatakan optimismenya terhadap masa depan La Furia Roja.

“Saya tidak berpikir era Spanyol telah berakhir, ada banyak pemain hebat, struktur tim junior yang kuat, begitu pula dengan klub-klub kami,” kata Del Bosque, seperti dikutip dari laman resmi UEFA.

“Saya akui bahwa Italia lebih superior dibanding kami, namun untuk mengatakan mereka memberikan kami pukulan adalah hal yang berlebihan. Anda tidak bisa meragukan niat baik kami. Kami memiliki gairah untuk melakoni pertandingan, tetapi kadang lawan lebih baik,” imbuhnya.

“Italia tampil lebih baik dan saya mengharapkan yang terbaik untuk mereka. Kami sedikit gugup pada babak pertama. Kami sedikit berkembang, tetapi tidak bisa mencetak gol karena Italia jelas lebih superior,” tandas Del Bosque.

Berita Euro 2016: Iniesta: Italia Lebih Efisien Dibanding Spanyol

Gelandang Spanyol, Andres Iniesta, merasa terpukul setelah timnya takluk di tangan Italia dalam babak 16-Besar Euro 2016. Meski begitu, Iniesta mengakui bahwa Italia tampil lebih efisien dalam memaksimalkan peluang dibanding Spanyol.

Spanyol tampil di Euro 2016 selaku juara bertahan. Anak asuh Vicente Del Bosque berhasil membungkam Italia empat gol tanpa balas dalam partai final empat tahun lalu.

Spanyol melaju ke babak 16-Besar Euro 2015 setelah finis sebagai runner-up Grup D. Berbeda dengan Italia yang lolos usai memuncaki klasemen akhir Grup E.

Italia unggul atas Spanyol melalui gol Giorgio Chiellini pada menit ke-33. Gawang Spanyol kembali dibobol oleh Italia setelah Graziano Pelle menyambar umpan silang Matteo Darmian hingga berujung kekalahan 0-2 bagi Spanyol pada injury time.

“Aku kehilangan kata-kata. Kami harus mengatasi kekecewaan,” ungkap Iniesta, seperti dikutip dari laman resmi UEFA.

“Mereka (Italia) lebih efisien ketika dibutuhkan dan lebih superior,” aku kapten Barcelona tersebut.

“Kami terlalu banyak menunggu dengan apa yang mereka lakukan. Terkadang, situasi seperti ini bisa membuat Anda terluka,” sambung Iniesta.

“Sepanjang babak kedua, kami menunjukkan perjuangan yang lebih dan pertandingan menjadi berbeda. Tentu saja, Anda tetap bisa menjadi tim yang kalah,” paparnya.

“Harapan kami sangat tinggi, tetapi kami harus mengatasi kekecewaan. Tidak ada yang lain lagi, mari berpikir mengenai masa depan,” tandas gelandang berusia 32 tahun tersebut.

Berita Euro 2016: Bangga Singkirkan Spanyol, Italia Persiapkan Diri Jelang Lawan Jerman

Bek Italia, Leonardo Bonucci, merasa bangga dengan performa timnya saat menyingkirkan Spanyol di babak 16-Besar Euro 2016. Akan tetapi, Bonucci menegaskan, Italia bakal langsung fokus untuk mempersiapkan diri jelang laga kontra Jerman di babak perempat final.

Italia berhasil membalas dendam kepada Spanyol usai kalah 0-4 di final Euro 2012 lalu. Anak asuh Antonio Conte menghentikan laju sang juara bertahan dengan kemenangan dua gol tanpa balas yang masing-masing dicetak oleh Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle.

Tantangan berat kembali dihadapi oleh Italia. Gli Azzurri harus berhadapan dengan juara dunia, Jerman.

“Aku sangat bangga. Kami bangga dengan apa yang kami tampilkan di lapangan,” ungkap Bonucci, seperti dikutip dari laman resmi UEFA.

“Kami tahu bahwa hanya dengan banyak berlari, memiliki keinginan untuk menang dan bekerja keras, kami bisa mengalahkan salah satu tim terbaik di dunia (Spanyol),” sambung palang pintu Juventus tersebut.

“Sekarang kami harus memikirkan tentang babak 8-Besar yang akan lebih menuntut kami ketika melawan juara dunia (Jerman),” kata Bonucci.

“Jadi kami akan menikmati kemenangan ini, tetapi akan fokus dan mengumpulkan kekuatan mulai besok karena akan ada pertarungan berikutnya,” papar Bonucci.

“Aku pikir, kami menampilkan performa yang bagus dalam segala aspek di laga ini. Mengalirkan bola dengan baik, kerja sama tim, dalam bertahan dan menyerang. Kami menciptakan banyak peluang dan sedikit memberikan kesempatan kepada Spanyol,” ulasnya.

UEFA Euro 2016: Sejak Awal Italia Menargetkan Jadi Juara Piala Eropa 2016

Meski sempat diragukan bisa melaju jauh, Italia membuktikan diri mampu tampil apik hingga lolos ke babak perempat final Piala Eropa 2016. Presiden Asosiasi Sepak Bola Italia, FIGC, Carlo Tavecchio menegaskan bahwa target Gli Azzurri sejak awal memang menjadi juara.

Tavecchio yakin negaranya bisa juara. Bahkan calon lawan di babak perempat final, Jerman, diyakini sudah mulai ketakutan menghadapi kekuatan Italia.

“Kami ingin melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang. Saya pikir, sejauh ini berhasil. Kami bermain sangat hebat dan memiliki pelatih yang fantastis,” kata Tavecchio seperti dikutip oleh Football Italia.

Imbuhnya, “Saya mengatakan, kami ke Euro untuk juara, jadi sekarang mari berharap kalau Italia bisa.”

Gli Azzurri memang menjalani rute cukup berat untuk ke final. Setelah mengalahkan Spanyol dengan skor 2-0 pada babak 16-besar, mereka sudah ditunggu oleh Jerman di perempat final.

Tavecchio yakin Italia bisa mengatasi Jerman. Keyakinan ini tentu beralasan, melihat permainan Gianluigi Buffon dkk kala melawan Spanyol.

“Sekarang ada Jerman. Seperti Spanyol, mereka akan menekan. Namun, saya yakin mereka tengah ketakutan menunggu kami. Kami akan ke Bordeaux (tempat pertandingan) untuk bermain dengan jiwa Italia,” tutur dia.

“Apa yang kami harus lakukan selanjutnya? Kami harus pergi ke pertandingan dan melewati rintangan itu, kami harus menganggap ini sesuatu yang menyenangkan,” ucapnya.

Berita Euro 2016: Pola Tiga Bek yang Diusung Italia Tak Membuat Spanyol Ciut

Sebelumnya, Andrea Pirlo sempat mengatakan bahwa formasi 3-5-2 yang diusung Italia akan membuat Spanyol kesulitan. Akan tetapi, pelatih Spanyol Vicente Del Bosque justru mengaku tak cemas menghadapi pola bermain Italia yang mengandalkan tiga bek itu.

Bahkan, bisa dibilang Del Bosque cukup percaya diri menjelang duel menghadapi Italia pada babak 16-besar Piala Eropa 2016, Senin (27/6). Meski begitu, Spanyol bisa dikatakan cukup kesulitan saat harus menghadapi tim yang menggunakan tiga pemain bertahan.

Contohnya, Spanyol harus rela tersingkir di fase grup Piala Dunia 2014 setelah kalah dari Belanda dan Cile. Saat itu, kedua tim tersebut menggunakan pola tiga pemain bertahan. Serupa kala laga perdana Grup D, saat Republik Cheska mengubah strategi di tengah permainan dengan memakai tiga bek.

“Kami memiliki satu atau dua masalah saat bermain melawan tim yang memiliki pola permainan serupa,” kata Del Bosque pada sesi jumpa pers jelang laga.

“Namun kami berharap mampu memainkan permainan kami, jadi mereka akan khawatir dengan kami, sebaliknya, kami tidak khawatir dengan mereka,” imbuhnya.

La Furia Roja punya sedikit bayangan soal gaya permainan Italia. Pasalnya, kedua tim melakoni sebuah laga uji coba jelang Piala Eropa 2016. Kala itu, kedua tim bermain imbang 1-1.

“Pada pertemuan terakhir kontra Italia di Udinese, mereka bermain seperti apa yang mereka tunjukkan di Euro kali ini,” bilangnya memungkasi.

Berita Terkini: Fabregas Menganggap Conte Telah Berbohong Soal Status Italia

Dalam laga melawan Spanyol pada babak 16-besar Piala Eropa 2016, Senin (27/6), pelatih Italia Antonio Conte menyebut timnya tak dianggap sebagai favorit. Komentar itu mengundang respons gelandang Spanyol, Cesc Fabregas, yang menganggap Conte berbohong.

Sebelumnya, Conte memang sempat mengaku bahwa timnya memang tak lebih dijagokan ketimbang Spanyol. Pria yang akan menangani Chelsea mulai musim depan tersebut mengatakan Spanyol adalah favorit untuk menjadi juara.

Pernyataan Conte itu mengundang komentar dari Fabregas yang akan menjadi calon anak asuhnya di Chelsea. Menurut Fabregas, Conte berbohong dengan ucapan seperti itu. Dia tak percaya merasa masih tidak difavoritkan menjadi salah satu calon kuat juara Piala Eropa 2016.

“Conte bilang mereka tidak berpikir sebagai salah satu favorit juara? Saya tidak percaya,” kata Fabregas seperti dilansir Soccerway.

Meski begitu, Fabregas tetap tak ragu memuji Conte. Eks pemain Barcelona itu mengatakan Conte adalah sosok yang hebat soal mempelajari permainan lawan. Hanya saja, dia berharap La Furia Roja tetap akan keluar sebagai pemenang pada laga malam nanti dan berhak meraih tiket ke babak perempat final Piala Eropa 2016 dalam upaya mempertahankan gelar juara untuk tiga edisi beruntun.

“Italia memiliki seorang pelatih yang hebat. Dari apa yang saya tahu, Conte adalah sosok yang banyak mempelajari calon lawannya dengan baik. Kita akan lihat di lapangan, dan berharap Spanyol akan tampil lebih baik,” tandasnya.

Berita Euro 2016: Beckenbauer Lebih Suka Jerman Melawan Spanyol Ketimbang Italia

Jerman sudah memastikan langkah ke babak perempat final usai kemenangan 3-0 atas Slovakia pada Minggu (26/6). Skuat asuhan Joachim Loew itu kini tinggal menunggu pemenang antara Italia melawan Spanyol. Legenda Jerman, Franz Beckenbauer, punya pilihan terkait dua calon lawan itu.

Dia merasa, jika boleh memilih, akan lebih suka Jerman menghadapi Spanyol. Menurutnya, Italia lawan yang lebih sulit dihadapi pada Piala Eropa 2016 ketimbang La Furia Roja yang berstatus juara bertahan.

“Pujian besar untuk kemenangan melawan Slovakia. Pada babak perempat final, kami akan melawan Spanyol atau Italia,” kata Bekenbauer kepada Bild.

“Melawan Spanyol akan lebih fleksibel, tapi saya lebih suka memilih mereka sebagai lawan. Italia terlalu sering menyingkirkan kami tanpa menjadi tim yang lebih baik,” sambungnya.

Meski demikian, Benckenbauer tetap tak memusingkan siapa yang akhirnya menjadi lawan Die Mannschaft di babak perempat final. “Namun, tidak peduli siapa itu, kami tidak perlu takut,” tegasnya.

Prancis, sebagai tuan rumah Euro 2016, memang dijagokan bisa menjadi juara. Namun, Beckenbauer melihat anak asuh Didier Deschamps itu masih sering melakukan kecerobohan.

“Mereka memiliki pemain yang bisa berlari saling silang. Tapi pada pertandingan babak 16-besar, untuk tim calon juara mereka terlihat ceroboh,” pungkasnya.

Prancis sendiri berpeluang menjadi calon lawan Jerman di babak semifinal. Syaratnya, Jerman harus bisa menyingkirkan antara Spanyol atau Italia, dan Prancis juga menang dari Inggris atau Islandia.

UEFA Euro 2016: Depak Spanyol, Italia Jumpa Jerman

Italia menuntaskan misi balas dendam atas Spanyol. Gli Azzurri berhasil menyingkirkan anak asuh Vicente Del Bosque dan melaju ke perempat final Euro 2016 di Stadion de France, Senin (27/6).

Setelah kick-off babak pertama dimulai, Italia lebih dulu menggempur pertahanan Spanyol. Tembakan Graziano Pelle dan Eder Citadin Martins belum mengancam gawang David De Gea.

De Gea melakukan penyelamatan gemilang pada menit kedelapan. Kiper Manchester United itu menghalau sundulan Pelle yang memanfaatkan umpan rekannya dari situasi bola mati.

Peluang emas pertama Spanyol tercipta pada menit ke-28. Andres Iniesta melepaskan tembakan mendatar dari luar kotak penalti Italia yang mampu dibendung oleh penjaga gawang Gianluigi Buffon.

Italia unggul atas Spanyol pada menit ke-33. Eder mengambil tendangan bebas dan tembakannya diblok oleh De Gea, namun meski dikawal, Giorgio Chiellini mampu menyambar bola liar.

Emanuele Giaccherini nyaris menambah perolehan gol Italia, tetapi tembakannya ke pojok atas gawang Spanyol dapat dihalau oleh De Gea. Skor 1-0 bagi keunggulan Italia atas Spanyol bertahan hingga babak pertama usai.

Alvaro Morata melepaskan tembakan terarah empat menit selepas kick-off babak kedua. Namun, upayanya untuk mencetak gol penyeimbang Spanyol digagalkan oleh Buffon.

Italia mendapat peluang berikutnya pada menit ke-55. Eder kembali gagal mencatatkan nama di papan skor setelah upayanya dihalau oleh De Gea.

Spanyol yang memburu gol untuk menyamakan kedudukan berinisiatif mengurung pertahanan rapat Italia. Peluang yang didapatkan oleh Iniesta dan Gerard Pique pada pertengahan babak kedua belum mampu menembus jala Buffon.

Belum lama masuk ke lapangan menggantikan Eder, Lorenzo Insigne langsung melepaskan tembakan yang mengarah tepat ke gawang Spanyol. Namun, laju bola bisa dibaca oleh De Gea.

Pique turut membantu serangan. Palang pintu Barcelona itu melepaskan tembakan jarak jauh yang tidak berhasil menaklukkan Buffon.

Italia justru mencatatkan gol kedua pada injury time. Lewat serangan balik, Matteo Darmian mengirim umpan silang ke kotak penalti Spanyol yang dimaksimalkan oleh Pelle.

Italia akhirnya menang 2-0 setelah pernah kalah empat gol tanpa balas dari Spanyol di final Euro 2012. Tim asuhan Antonio Conte melaju ke perempat final dan bakal bertemu Jerman.

SUSUNAN PEMAIN

Italia: Buffon; Barzagli, Bonucci, Chiellini; Florenzi (Darmian 84), Parolo, De Rossi (Thiago Motta 53), Giaccherini, De Sciglio; Pellè, Eder (Insigne 82)
Spanyol: De Gea; Juanfran, Piqué, Ramos, Alba; Busquets; Silva, Fabregas, Iniesta, Nolito (Aduriz 46) (Pedro Rodriguez 81); Morata (Lucas Vazquez 70)

Berita Euro 2016: Conte Tak Mau Angkat Koper Setelah Melawan Spanyol

Pelatih tim nasional Italia, Antonio Conte, menyadari kekuatan Spanyol yang akan menjadi calon lawan mereka di babak 16-besar Piala Eropa 2016, Senin (27/6). Meski begitu, dia tak mau sudah harus angkat koper setelah laga melawan Spanyol.

Dengan kata lain, Conte tak mau laga melawan Spanyol menjadi pmberhentian terakhir langkah Italia di Piala Eropa 2016. Dia bertekad memetik kemenangan sekaligus membayar kekalahan Italia dari lawan yang sama pada final Piala Eropa empat tahun lalu.

“Tidak ada yang tidak mungkin. Saya tidak ingin pulang. Kami tidak ingin pulang. Kami tidak akan menjadi korban Spanyol selanjutnya,” tutur Conte.

Conte juga meminta seluruh anak asuhnya memberikan satu penampilan yang luar biasa pada pertandingan tersebut.

“Kami harus melangkah lebih jauh dan menemukan cara untuk bisa tampil luar biasa, karena penampilan yang biasa tak cukup untuk mengalahkan Spanyol,” tegas Conte.

“Kami harus bekerja keras. Ini adalah partai 16-besar, tak ada lagi hari esok untuk kedua tim,” sambung eks pelatih Juventus tersebut.

Meski berharap bisa menang, dia juga tak ragu untuk memuji kualitas yang dimiliki oleh La Furia Roja. Conte mengatakan Spanyol adalah salah satu tim favorit juara.

“Kami sangat menghargai Spanyol karena kami tahu akan menghadapi salah satu tim terbaik di dunia dan salah satu favorit juara di Euro 2016,” tandasnya.

UEFA Euro 2016: Jelang Italia vs Spanyol, Chiellini Sanjung Morata

Bek tim nasional Italia, Giorgio Chiellini, mengaku sudah berbicara dengan Alvaro Morata jelang laga melawan Spanyol di Stade de France pada Senin (27/6).

Italia mengakhiri perjalanan mereka di fase penyisihan grup Piala Eropa 2016 sebagai juara Grup E. Mereka harus menghadapi Spanyol yang finis sebagai runner-up Grup D.

Hal ini berarti Chiellini akan menghadapi mantan rekannya di Juventus, Alvaro Morata, yang dipastikan akan bergabung dengan Real Madrid setelah gelaran Piala Eropa.

Chiellini mengaku siap untuk menjegal Morata demi meloloskan Gli Azzurri ke babak perempatfinal.

“Kami sudah saling berbicara dalam beberapa hari terakhir, setelah pertandingan melawan Republik Irlandia,” terang Chiellini kepada laman resmi UEFA.

“Ia adalah sosok yang baik dan kami memiliki banyak kenangan tentang dirinya di Turin. Aku berharap ia bisa bertahan di Real Madrid. Itu adalah mimpinya sejak ia masih berada di tim muda mereka. Dengan kemampuan dan kepribadiannya, ia pantas menjadi striker utama Real Madrid dan Spanyol untuk bertahun-tahun mendatang.”

“Dengan kata lain, ia akan menjadi lawan yang tangguh pada hari Senin (27/6). Kami menghormati dirinya, tetapi ketika bertanding anda harus menepikan persahabatan sejenak. Itu adalah hal yang normal,” tambah bek berusia 31 tahun tersebut.

Sebagai informasi tambahan, pemenang antara Spanyol melawan Italia akan menghadapi Jerman di Stade de Bordeaux pada tanggal 3 Juli mendatang.

Berita Euro 2016: Pirlo: Seharusnya Dendam Italia atas Spanyol Dibayar di Final

Mantan gelandang tim nasional Italia, Andrea Pirlo, menyesali status Spanyol yang hanya lolos ke babak 16-besar Piala Eropa sebagai runner-up Grup D. Pasalnya, jika Spanyol lolos sebagai juara grup, Italia berpeluang menuntaskan dendam di laga puncak.

Jelang menghadapi Spanyol pada babak 16-besar Piala Eropa, Senin (27/6), Italia memang datang membawa dendam. Mereka masih geram dengan kekalahan 0-4 pada final Piala Eropa empat tahun lalu dari La Furia Roja.

Setidaknya hal itu yang dirasakan Pirlo. Meski tak dibawa ke Prancis, Pirlo yakin betul Gli Azzurri masih membawa dendam atas Spanyol hingga Piala Eropa 2016.

“Ini terlalu cepat. Spanyol seharusnya menjuarai mereka dan berpeluang menghadirkan final yang hebat. Akan tetapi, mereka memberi kami kesempatan untuk membalas dendam (lebih cepat),” ujar Pirlo kepada La Gazzetta dello Sport.

Pirlo yakin betul Spanyol di Piala Eropa 2016 sudah tak sekuat empat tahun lalu. Sementara, permainan Italia justru semakin solid pada tahun ini.

“Saya pikir Spanyol akan khawatir menghadapi pertandingan. Tidak mudah untuk bermain melawan tim Italia yang ini,” bilang Pirlo lagi.

Pirlo sadar Spanyol masih lebih difavoritkan karena mengusung sepak bola atraktif laiknya beberapa tahun terakhir. Namun, dia juga yakin lebih sulit mengalahkan Spanyol empat tahun lalu ketimbang sekarang.

“Mereka adalah favorit karena masih memainkan sepak bola terbaik, tapi kami juga mencoba untuk memainkan gaya kami sekarang. Sementara, hampir mustahil bagi kami menang pada Piala Eropa 2012,” tutur pemain yang kini membela New York City FC di Major League Soccer itu.

“Tidak ada yang bisa mengambil kendali pertandingan seperti Spanyol, tapi kemudian itu menjadi penafsiran Anda mengenai sepak bola yang baik. Apakah lebih baik untuk menjadi tim yang solid atau yang menghibur?” tukas Pirlo.

UEFA Euro 2016: Formasi 3-5-2 Milik Italia Diyakini Akan Menyulitkan Spanyol

Andrea Pirlo meyakini bahwa formasi 3-5-2 yang diterapkan pelatih tim nasional Italia, Antonio Conte, akan membuat Spanyol kesulitan. Pirlo pun yakin Gli Azzurri punya keuntungan untuk memetik kemenangan.

Italia akan menghadapi Spanyol pada babak 16-besar di Parc Des Princes pada Senin (27/6). Pirlo merasa ada beberapa faktor yang membuat Italia bisa menang pada laga tersebut.

Meski tak ikut dalam skuat yang ke Piala Eropa 2016 di Prancis, tapi gelandang berusia 37 tahun itu terus mengikuti perkembangan Gli Azzurri dan juga lawan-lawannya.

Dia pun menganalisis, ada beberapa hal yang bisa membuat Spanyol akan kesulitan menghadapi Italia. Selain itu, titik lemah La Furia Roja juga dianggap akan mampu dieksploitasi para penggawa Italia.

“Mereka tidak terbiasa bermain tanpa bola. Mereka tidak terorganisasi dalam pertahanan dan itu yang membuat mereka rentan,” bilang Pirlo kepada La Gazzetta dello Sport seperti dikutip Soccerway.

Pemain asal klub New York City FC yang telah mengoleksi 116 caps bersama Italia itu juga menyebut, formasi 3-5 2 yang diterapkan Conte akan membuat Spanyol kesulitan.

Pirlo memberi contoh kala Spanyol hanya bisa menang 1-0 pada laga pertama Grup D melawan Republik Ceko. Kala itu, Ceko yang memulai laga dengan formasi 4-2-3-1, sempat mengubah formasi menjadi tiga bek.

“Formasi 3-5-2 membantu Anda menutupi seluruh area lapangan dan memberikan tekanan kepada operator bola lawan. Pertandingan pertama mereka (Spanyol) di Euro 2012 menunjukkan bahwa mereka kesusahan melawan formasi itu,” pungkasnya.

UEFA Euro 2016: Xavi: Spanyol Selalu Takut Bertemu Italia

Mantan gelandang Spanyol, Xavi Hernandez, mengakui ketangguhan Italia. Menurut Xavi, La Furia Roja selalu menyegani Italia.

Xavi pernah membela Spanyol saat berhadapan dengan Italia. Pemain yang kini berusia 36 tahun itu membantu tim asuhan Vicente Del Bosque menang empat gol tanpa balas atas Italia di final Euro 2012.

Spanyol kembali bertemu Italia dalam babak 16-Besar Euro 2016. Xavi menyatakan, La Furia Roja bakal menemui kesulitan saat menghadapi anak asuh Antonio Conte.

“Itu akan menjadi pertandingan yang sangat atraktif. Spanyol akan mendominasi permainan, paling tidak karena Italia nyaman meski tanpa bola,” ujar Xavi, seperti dikutip dari La Gazzetta dello Sport.

“Ketika mendapatkan bola kembali, mereka akan memainkannya dengan perhitungan. Akan tetapi, penguasaan bola bukan prioritas mereka. Spanyol kesulitan ketika tidak menguasai bola, Italia tidak demikian. Mereka tetap tenang. Ada perbedaan yang besar antara dua tim,” imbuhnya.

“Sejujurnya, dari segi filosofi, karakter dan daya saing, aku pikir Italia adalah lawan yang paling bisa membuat Spanyol tidak nyaman,” tandas Xavi.

“Sejarah di Italia dibuat dengan kesulitan atletik dan itu sebabnya Spanyol selalu takut dengan Italia. Secara historis dan juga saat ini, ketika melawan Italia, kami selalu menerima kabar tersebut dengan sedikit ketidaknyamanan,” kata Xavi.

“Belakangan kami cukup sering menang, tetapi itu selalu dengan perasaan bahwa kami bisa kalah. Itu sebabnya aku menegaskan pada Senin lalu bahwa akan sangat sulit bagi Spanyol,” beber mantan gelandang Barcelona tersebut.

UEFA Euro 2016: Xavi Sayangkan Final Dini Antara Spanyol & Italia

Laga antara Spanyol dan Italia seharusnya pantas mewarnai final Euro 2016. Pandangan itu diutarakan oleh gelandang legendaris La Furia Roja, Xavi Hernandez.

Spanyol lolos ke babak 16-Besar Euro 2016 usai menjadi runner-up Grup D. Anak asuh Vicente Del Bosque langsung bertemu dengan Italia yang menjuarai Grup E.

Pertemuan kedua tim raksasa itu pernah terjadi dalam final Euro 2012. Spanyol akhirnya mengukuhkan diri sebagai juara Eropa berkat kemenangan empat gol tanpa balas asal Italia.

Menurut Xavi, Spanyol dan Italia sama-sama menunjukkan filosofi bermain yang bagus. Oleh sebab itu, dia merasa pertemuan keduanya di babak 16-Besar Euro 2016 terlalu dini.

“Itu seperti takdir bagi kami (Spanyol dan Italia) untuk selalu bertemu. Itu sebuah ketidak beruntungan bagi kami. Itu sangat disayangkan karena laga ini terjadi terlalu dini,” ujar Xavi, seperti dikutip dari La Gazzetta dello Sport.

“Itu bisa menjadi laga semifinal atau bahkan final karena Italia dan Spanyol menunjukkan level yang cukup sejauh ini untuk membuat mereka menjadi kandidat finalis,” imbuh pemain berusia 36 tahun tersebut.

“Mereka menampilkan performa yang bagus dengan gaya bermain masing-masing. Spanyol menikmati dua laga yang luar biasa, Italia tampil bagus dengan formasi 3-5-2 yang telah diterapkan selama beberapa lama,” tandas Xavi.

“Mungkin mereka mendapat keberuntungan dengan hasil pertandingan, tetapi filosofinya luar biasa. Tim Conte sangat bagus dalam bertahan,” imbuh mantan kapten Barcelona tersebut.