Jamal Musiala Disamakan dengan Neymar oleh Legenda Jerman

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Jamal Musiala tak henti memesona. Sabtu (11/9/2021), dia mencetak 1 gol dan 1 assist saat Bayern Munich menang 4-1 di kandang RB Leipzig dalam lanjutan Bundesliga 2021-22. Penampilannya pun dipuji legenda Jerman, Lothar Mattheus.

Pada lawatan ke Red Bull Arena, Musiala hanya diplot sebagai pemain cadangan oleh pelatih Bayern, Julian Nagelsmann. Namun, dia harus masuk lebih awal, tepatnya pada pengujung babak pertama setelah Serge Gnabry cedera dan tak dapat melanjutkan pertandingan. Saat itu, Die Roten sedang unggul 1-0.

Skill individual Jamal Musiala mengingatkan Lothar Matthaeus kepada Neymar.
Getty Images

Memauski babak kedua, Musiala langsung memberikan dampak instan nan signifikan. Baru 2 menit laga berjalan, dia menjebol gawang Peter Gulacsi setelah menerima sodoran umpan Alphonso Davies. Tujuh Menit kemudian, giliran dia yang membuat assist untuk gol ketiga Die Roten melalui tap-in Leroy Sane.

“Dia melakukan hal-hal yang istimewa. Dia bisa menjadi Neymar kedua,” ujar Lothar Matthaeus kepada Sky Sports seperti dikutip Football5Star.com dari Sportbuzzer. Tentu saja, hal itu semata menyangkut teknik dan permainan Musiala di atas lapangan, bukan soal gaya hidupnya.

Jamal Musiala Selalu Membuka Telinga

Pujian serupa juga mengalir dari dalam tim Bayern Munich. Pelatih Julian Nagelsmann menyebut Jamal Musiala bukan cuma punya skill bagus, melainkan juga sikap terpuji. Sebelumnya, soal kemampuan individu, eks pelatih RB Leipzig tersebut sempat menyebut sang pemain seperti punya magnet di kakinya.

Soal sikap terpuji, pengakuan meluncur dari Thomas Mueller, salah satu figur kunci yang juga wakil kapten Bayern. Secara khusus, peraih sepatu emas Piala Dunia 2010 itu menyoroti sikap jebolan akademi Chelsea itu. Menurut dia, sang junior selalu rendah hati dan mendengarkan setiap masukan.

Jamal Musiala mencetak 1 gol dan 1 assist saat Bayern Munich menang 4-1 atas RB Leipzig.
Getty Images

“Hal istimewa adalah, di samping semua talentanya, dia juga punya karakter dan kepercayaan diri. Dia tidak banyak omong, tapi selalu bekerja keras dan mau mendengar,” ujar Mueller soal Musiala yang dalam waktu singkat melesat dan kini jadi anggota tetap skuat timnas Jerman.

Rabu (15/9/2021) dini hari WIB, Jamal Musiala sangat mungkin akan diandalkan Nagelsmann dalam lawatan ke markas Barcelona pada matchday I Liga Champions. Pasalnya, kondisi Gnabry masih tanda tanya. Waktu yang mepet bisa saja membuat winger timnas Jerman itu tak bisa turun sebagai starter.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Legenda Bayern: RB Leipzig Punya Skuat Terbaik di Jerman

gamespool
Legenda Bayern: RB Leipzig Punya Skuat Terbaik di Jerman 9

Football5star.com, Indonesia – Legenda Bayern Munich, Lothar Matthaeus, sangat mengagumi kedalaman skuat yang dimiliki RB Leipzig. Bahkan, Matthaeus mengatakan bahwa Die Roten Bullen memiliki skuat paling komplet di antara tim-tim peserta Bundesliga.

Sepanjang bursa transfer musim panas, RB Leipzig memang sudah mendatangkan cukup banyak pemain untuk menambah kedalaman skuatnya. Beberapa nama yang sukses didaratkan Die Roten Bullen antara lain adalah Andre Silva, Brian Brobbey dan Mohamed Simakan.

RB Leipzig - Bayern Munich - Lothar Matthaeus - @dierotenbullen 2
instagram.com/dierotenbullen

“Jika hanya melihat dari komposisi tim utama, Bayern adalah yang terbaik di Jerman. Tapi, secara keseluruhan, Leipzig memiliki kedalaman skuat yang jauh lebih bagus,” ujar Lothar Matthaeus kepada Sport Bild.

“Saya yakin Leipzig akan bisa menunjukkan reaksi yang bagus di tengah krisis pemain karena cedera atau hukuman akumulasi kartu. Tapi, hal itu tidak menjamin mereka akan keluar sebagai juara musim ini.”

“Selain Leipzig, ada beberapa tim lain yang memiliki skuat lebih dalam ketimbang Bayern. Yakni Borussia Dortmund, Gladbach, Bayer Leverkusen dan Wolfsburg. Tapi, tim utama Bayern memiliki level yang jauh lebih tinggi ketimbang klub lain,” imbuh Matthaeus.

LOTHAR MATTHAEUS TAK YAKIN BAYERN MUNICH AKAN KEMBALI MENDOMINASI

Lebih lanjut, Matthaeus merasa Bayern tak akan terlalu mendominasi jalannya Liga Jerman 2021-22. Ia juga tidak yakin Thomas Mueller dan Robert Lewandowski akan kembali menunjukkan performa terbaiknya.

“Saya yakin Thomas Mueller akan menjadi salah satu pemain kunci timnas Jerman tahun ini. Dia akan memainkan banyak pertandingan dan mungkin akan merasa sangat kelelahan. Saya juga tidak yakin Robert Lewandowski akan bisa kembali mencetak 41 gol.”

RB Leipzig - Bayern Munich - Lothar Matthaeus - SB Nation
SB Nation

“Hal-hal kecil seperti itu bisanya bisa memiliki dampak besar dalam perburuan gelar juara. Menurut saya, sudah saatnya Bayern melakukan perombakan skuat agar bisa terus mendominasi,” tuntas Matthaeus.

Bayern akan mengawali Bundesliga 2021-22 di markas Borussia Moenchengladbach pada Sabtu (14/8) mendatang. Tiga hari setelahnya, mereka akan menantang Borussia Dortmund dalam laga bertajuk Piala Super Jerman.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Legenda Jerman Minta Bayern Munich Boyong Franck Ribery

gamespool
Legenda Jerman Minta Bayern Munich Boyong Franck Ribery 14

Football5star.com, Indonesia – Legenda timnas Jerman, Lothar Matthaeus, mengatakan bahwa Franck Ribery bisa menjadi solusi Bayern Munich pada musim 2021-22. Ia pun meminta manajemen Die Roten untuk memulangkan Ribery ke Allianz Arena.

Dalam beberapa hari terakhir, spekulasi mengenai masa depan Ribery memang menjadi topik perbincangan yang cukup hangat. Pemain berpaspor Prancis itu belum menentukan klub yang akan ia bela pada musim 2021-22 setelah resmi angkat kaki dari Fiorentina.

“Jika Bayern Munich gagal mendatangkan winger baru yang mereka inginkan, maka saya menyarankan mereka untuk memulangkan Franck Ribery,” tegas Lothar Matthaeus kepada Sky Sport.

Franck Ribery - Bayern Munich - Archysport
Archysport

“Tentu saja Ribery tak akan bisa bermain 90 menit di seluruh pertandingan. Tapi, dia bisa menjadi sosok pemimpin di dalam ruang ganti. Selain itu, Ribery juga berada dalam kondisi fit.”

“Saya sangat yakin pemain yang bermain 29 kali di Serie A musim lalu akan bisa memberi dampak positif di Bundesliga,” imbuh pria berumur 60 tahun itu.

FRANCK RIBERY BELUM KEHILANGAN TAJINYA

Ribery merayakan ulang tahunnya yang ke-38 pada April 2021 lalu. Di usianya yang kian uzur, Ribery mulai sulit mendapat jam terbang reguler karena kerap menderita cedera.

Selama dua musim membela panji Fiorentina, Ribery melewatkan 24 pertandingan karena mengalami berbagai cedera. Meski kerap menderita cedera, Ribery masih belum kehilangan tajinya dan masih bisa memberi kontribusi maksimal di atas lapangan.

Franck Ribery - Bayern Munich - SB Nation
SB Nation

Pada musim 2020-21 lalu, Ribery berhasil menunjukkan performa terbaiknya. Ia sukses menyumbang dua gol serta tujuh assist dari 29 penampilan di Serie A.

Akan tetapi, performa gemilang Ribery gagal membawa La Viola finis di papan atas klasemen Serie A. Mereka harus puas mengakhiri musim di urutan ke-13 dengan perolehan 40 poin, hanya unggul empat angka dari Benevento yang finis di zona degradasi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Matthaeus: Bayern Munich Wajib Pertahankan Joshua Kimmich!

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus, eks kapten Bayern Munich, punya satu saran khusus soal skuat Die Roten. Dia memperingatkan manajemen Bayern untuk mempertahankan pemain-pemain yang akan jadi bagian hierarki tim ke depan. Salah satunya gelandang Joshua Kimmich.

Matthaeus menilai Kimmich sebagai sosok yang akan sangat penting bagi Bayern. Untuk itu, Die Roten wajib memperpanjang kontrak sang gelandang yang akan berakhir pada 2023. Untuk itu, mereka juga tak boleh pelit, harus berani memberikan gaji berapa pun.

“Kimmich adalah wajah Bayern pada masa depan. Dia seorang pemimpin dan kapten masa depan,” urai Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1. “Suatu hari ini, dia akan mengambil alih peran yang saat ini diisi Manuel Neuer dan Thomas Mueller.”

Matthaeus menilai Kimmich punya semua syarat untuk jadi penerus Neuer dan Mueller sebagai pemimpin di Bayern. “Dia akan menjadi pemain yang menentukan dalam permainan di lapangan, juga sebagai pemimpin. Dia punya segalanya, baik dalam karakter maupun permainan,” ucap eks kapten timnas Jerman itu.

Gaji Joshua Kimmich di Posisi ke-6

Saat ini, Bayern Munich tengah berusaha memperpanjang kontrak Joshua Kimmich. Tak seperti duetnya di lini tengah, Leon Goretzka, negosiasi kontraknya dikabarkan berjalan mulus. Salah satunya, manajemen Die Roten tak keberatan dengan permintaan gaji sang gelandang.

Langkah itu dianggap bagus oleh Lothar Matthaeus. “Bayern harus melakukan apa pun untuk mempertahankan Kimmich dalam jangka panjang. Itu tentu saja berarti harus merogoh lebih dalam ke dalam dompet,” ujar pria yang sempat dua periode membela Bayern tersebut.

Joshua Kimmich dan Leon Goretzka dianggap Lothar Matthaeus bisa jadi penerus Thomas Mueller.
tz.de

Tak diketahui pasti gaji yang akan diterima Kimmich bila menandatangani kontrak baru. Satu hal yang pasti, dia tak masuk pemain bergaji tertinggi di Bayern. Berdasarkan kontrak lamanya, dia hanya berada di posisi ke-6 dengan gaji 9,1 juta pounds per tahun. Gajinya bahkan kalah besar dari Lucas Hernandez dan Leroy Sane.

Selain Joshua Kimmich, ada pemain lain yang diminta Lothar Matthaeus dipertahankan Bayern Munich. Dia adalah Leon Goretzka. Seperti Kimmich, pemain yang satu ini dinilai sang eks kapten sebagai deretan pemimpin masa depan di skuat Die Roten.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Lothar Matthaeus Belum Puas Serang Toni Kroos

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus, eks kapten timnas Jerman tidak puas dengan kritikan pertamanya kepada pemain Real Madrid, Toni Kroos. Beberapa pekan lalu, Lothar Matthaeus sempat menyampaikan kritik pedas kepada penampilan Kroos di EURO 2020.

Di kritik pertamanya pada awal Juli ini, Lothar Matthaeus menyebut Toni Kross bukan pemain yang bisa memimpin tim di lapangan. Eks pemain Bayern Munich itu juga mengatakan bahwa Kross tidak memiliki gairah saat bela Jerman di EURO 2020.

Toni Kroos Sudah Tak Punya Tempat di Sepak Bola

Tak puas dengan kritikan pertamanya, Matthaeus kembali sampaikan kritik pedas kepada Kroos. Matthaeus menyebut bahwa pemain Real Madrid itu bukan lagi kelas internasional.

“Secara pribadi, saya tidak memiliki permasalahan dengan Kroos tetapi saya tidak suka dengan gaya permainannya,” kata Matthaeus seperti dikutip Football5star.com dari Kicker, Selasa (20/7/2021).

“Kita bisa lihat di EURO 2020 bahwa ini bukan hanya tentang kecepatan bermain tetapi juga bagaimana mengontrol bola. Dia melakukannya dengan cukup baik dengan satu atau dua kontak, tetapi ketika dia mengoper bola, dia kehilangan kecepatan”

“Toni Kross bukan lagi pemain kelas internasional,” tegas Lothar Matthaeus.

Semenjak gagal membawa Jerman meraih gelar EURO 2020 dan memutuskan pensiun di level timnas, kritik pedas selalu diterima Kross dari mantan pemain. Selain Matthaeus, Kroos juga mendapat kritik dari Uli Hoeness.

Menurut Hoeness, gaya main Toni Kroos sudah ketinggalan zaman. “Saya sangat menyukai Kroos, dia menampilkan beberapa penampilan kelas dunia dan hebat saat di Bayern, tetapi gaya permainannnya sudah ketinggalan zaman,” kata Hoenes

“Harus dikatakan bahwa Toni Kroos sudah tidak cocok dalam permainan modern dengan umpan horizontalnya,” tambah Hoeness. “Permainan sekarang dimainkan secara vertikal. Pemain mengambil bola dan membawanya ke depan dengan kecepatanya,”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Inggris Pantas Dapat Trauma Penalti karena Kelakuan Suporternya

gamespool
Inggris Pantas Dapat Trauma Penalti karena Kelakuan Suporternya 24

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Jerman, Lothar Matthaeus, mengatakan bahwa Inggris dan fansnya pantas mendapatkan trauma dari kekalahan adu penalti di final Euro 2020. Matthaeus sangat kesal dengan kelakuan fans Inggris sepanjang turnamen.

The Three Lions berhasil lolos ke final Euro 2020 dan ini untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka berhasil lolos ke final Euro. Namun, mereka harus kalah di partai final melawan Italia lewat babak adu penalti setelah laga berakhir imbang 1-1 selama 120 menit.

Lothar Matthaeus terlihat bugar dan tanpa uban meskipun sudah berumur 60 tahun.
fcbinside.com

Walaupun berhasil masuk final, Matthaeus sama sekali tak suka dengan beberapa aksi yang dikeluarkan fans nya bahkan juga dikeluarkan oleh para pemain Inggris sendiri, seperti Raheem Sterling yang dianggap melakukan diving di laga melawan Denmark.

“Fans Inggris mencela gadis kecil berbaju Jerman (di media sosial setelah laga lawan Jerman). Mereka tak menghormati lagu kebangsaan lawan. Kiper Denmark Kasper Schmeichel dibutakan oleh laser saat penalti yang didapatkan berkat Raheem Sterling melakukan diving untuk masuk ke semifinal,” ucap Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Bild.

Legenda Bayern Munich itu melanjutkan, “Tambahkan juga perilaku rasis terhadap pemain mereka sendiri setelah final. Orang Inggris yang terhormat, itu adalah perilaku tidak sportif yang tidak kami ketahui dari Anda dan tidak pernah ingin melihat lagi. Jadi, maaf untuk para pemain tetapi Anda pantas mendapatkan trauma setelah final kalah dalam adu penalti.”

Beberapa aksi yang disebutkan oleh Lothar Matthaeus itu sudah diurus berbagai pihak. Seperti laser ke wajah Schmeichel, UEFA sudah mendenda FA sebesar 26 ribu pounds akan hal itu. Sedangkan kasus rasialis terhadap para pemain Inggris, kepolisian setempat sudah menangkap beberapa orang yang menjadi pelaku aksi itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus Serang Toni Kroos: Dia Tak Punya Gairah

Banner Gamespool Baru Football5Star

Footbaal5star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus kecewa dengan capaian Jerman di Euro 2020. Dan satu pemain yang jadi sasaran sang legenda adalah Toni Kroos.

Toni Kroos jadi salah satu pemain senior yang masih dipertahankan Joachim Loew. Namun, walau unggul pengalaman, performanya mengecewakan. Bagi Lothar Matthaeus, sang gelandang sudah kehilangan gairah.

“Penampilannya di Euro sangat mengecewakan. Dia tidak bisa memimpin tim. Tidak ada lagi gairah, api, dan umpan vertikal yang jadi keunggulannya. Semua kontaknya dengan bola tidak membantu,” tulis legenda Jerman di Bild, Rabu (7/7/2021).

Lothar Matthaeus terlihat bugar dan tanpa uban meskipun sudah berumur 60 tahun.
fcbinside

“Menyenangkan memang melihat dia, tapi tidak efektif. Umpan pendek dan panjangnya seperti gaya rambutnya. Indah dan bersih. Tapi itu butuk waktu dan semangat dari permainan terlalu banyak umpan horizontal dalam permaian tiga bek, itu tidak masuk akal,” ia menambahkan.

Gagal membawa Jerman melaju lebih jauh di Euro, Toni Kroos memutuskan pensiun dari timnas. Kendati koda perpisahannya kurang menyenangkan, kontribusi gelandang Real Madrid untuk Der Panzer selama ini tetap dihargai Lothar Mathhaeus.

“Saya mengucapkan selamat kepadanya untuk semua yang telah dia capai di Real Madrid dan timnas. Angkat topi untuk kariernya dan penampilannya secara keseluruhan,” sambungnya.

“Toni adalah seorang pemain hebat dan elegan. Dia punya kontribusi besar untuk kesuksesan Jerman era sekarang,” tutup Lothar Matthaeus.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Matthaeus: Jerman Bakal Kalahkan Inggris Jika Laga Sampai Adu Penalti

gamespool
Matthaeus: Jerman Bakal Kalahkan Inggris Jika Laga Sampai Adu Penalti 31

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Jerman, Lothar Matthaeus, mengatakan bahwa Inggris punya peluang untuk bisa kalahkan Jerman di babak 16 besar Euro 2020. Namun, jika laga berlanjut sampai adu penalti, Matthaeus yakin Jerman bisa menang.

Inggris akan berhadapan dengan Jerman di Wembley, Selasa (29/6/21). The Three Lions memang memiliki rekor buruk saat bermain adu penalti di turnamen resmi, dan Jerman mengalahkan mereka dua kali lewat adu penalti, di Piala Dunia 1990 dan Euro 1996 dimana Gareth Southgate gagal mengeksekusi penalti saat itu.

Lothar Matthaeus yakin jika laga berjalan sampai adu penalti, Die Mannschaft bisa menang dengan mudah.

“Inggris memiliki peluang untuk menang, tetapi tidak dengan adu penalti. Dengan adu penalti saya yakin Jerman akan menang, mereka harus menang sebelum 120 menit. Kami selalu sangat bagus dalam adu penalti, ini sedikit lelucon antara Jerman dan Inggris.” ucap Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Mirror.

Lothar Matthaeus Jerman Bakal Kalahkan Inggris Jika Laga Sampai Adu Penalti
Sky Sports

Legenda Inter itu melanjutkan, “Jika kita harus pergi ke adu penalti saya pikir Jerman adalah favorit karena kemudian Anda mulai berpikir apa yang terjadi dalam 30, 40 tahun terakhir, 1996 dan adu penalti lainnya. Ini adalah tekanan besar bagi para pemain Inggris, Inggris memiliki peluang untuk memenangkan pertandingan dalam 90 menit atau 120 menit tetapi ketika Anda pergi ke adu penalti, saya pikir Jerman adalah favorit.”

Lothar Matthaeus sendiri mengakui bahwa Inggris memiliki pemain-pemain hebat dan sedang dalam kepercayaan tinggi lebih.

“Ketika Anda melihat tim Inggris, mereka memiliki pemain fantastis yang bermain di Premier League dan klub terbaik di seluruh dunia. Mereka telah memenangkan gelar dengan tim klub mereka. Mereka harus penuh percaya diri dan inilah yang harus mereka tunjukkan. Saya sangat menghormati tim ini, saya melihat para pemain ini sepanjang tahun dan apa yang mereka lakukan untuk klub mereka,” ujarnya.

Peraih Piala Dunia 1990 itu melanjutkan “Inggris tampil bagus di Piala Dunia tiga tahun lalu, lebih baik dari Jerman, Jerman tidak mendapatkan hasil yang baik dalam tiga tahun terakhir antara turnamen dan saya pikir Inggris memiliki peluang.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus: Kai Havertz Bisa Seperti Zinedine Zidane

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Performa impresif Kai Havertz saat timnas Jerman menang 4-2 atas Portugal dipuji habis-habisan oleh Lothar Matthaeus. Pemain Chelsea itu bahkan dinilai salah satu kapten kehormatan Die Mannschaft tersebut bisa menjelma seperti Zinedine Zidane pada masa jayanya.

Saat masih aktif bermain, Zinedine Zidane diakui banyak pihak sebagai salah satu pesepak bola terbaik dan tercerdas di lapangan. Dia selalu jadi sosok vital bagi tim yang dibelanya, baik Girondins Bordeaux, Juventus, Real Madrid, maupun timnas Prancis. Kini, Lothar Matthaeus melihat sosok tersebut pada diri Havertz.

https://www.youtube.com/watch?v=ApqkXn3qyhc

“Saya membandingkan dia dengan Zinedine Zidane dalam hal skill, teknik, visi, dan antisipasi terhadap situasi. Zidane tak terlihat cepat, tapi begitu cepat saat menembak bola. Havertz juga dapat melakukan hal yang sama,” urai Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Kicker.

Tentu saja, perlu kerja keras dan kesungguhan untuk dapat mencapai level permainan Zidane tersebut. “Dia dapat mencetak lebih banyak gol dan meningkatkan diri dalam pergerakan-pergerakan pendek dengan latihan khusus. Dia punya pandangan, kontrol bola, penempatan posisi, dan teknik yang bagus. Havertz dalam proses ke sana. Namun, hal-hal kecil akan menentukan dia akan jadi pemain hebat atau hanya sangat bagus,” ujar dia.

Kai Havertz Terhambat Thomas Mueller

Di timnas Jerman, Kai Havertz juga diyakini Lothar Matthaeus akan jadi sosok penting pada masa mendatang. Bahkan, saat ini, dia menilai eks pemain Bayer Leverkusen itu sudah jadi salah satu pilar di lini serang Die Mannschaft. Hal itu sudah terlihat pada dua laga di EURO 2020.

“Havertz akan jadi salah satu pemain utama di timnas daam enam atau delapan tahun ke depan ketika karier (Toni) Kroos, (Thomas) Mueller, dan (Ilkay) Guendogan sudah berakhir di sana,” ujar Matthaeus lagi. “Berdasarkan talentanya, saya yakin dia akan jadi pilar. Tinggal pelatih harus mengatakan, ‘Havertz akan selalu bermain meskipun tampil buruk.’ Kai punya segalanya, tapi butuh kepercayaan pelatih.”

Kai Havertz menurut Lothar Matthaeus seharusnya bermain di posisi yang ditempati Thomas Mueller.
besoccer.com

Akan tetapi, Matthaeus merasa Kai Havertz saat ini belum bermain pada posisi yang tepat. Dalam dua laga timnas Jerman di EURO 2020, dia beroperasi sebagai penyerang sayap. Berdasarkan pengamatannya, Havertz seharusnya bermain di posisi yang ditempati Thomas Mueller.

Untuk saat ini, seiring putusan Joachim Loew memanggil kembali Thomas Mueller, ada kendala yang dihadapi Kai Havertz. “Satu tempat di lini depan sudah dikuasai Thomas Mueller. Sayangnya, di posisi itulah saya melihat Havertz seharusnya berada,” kata eks bintang Bayern Munich tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus Anggap Pemain Sekarang Manja dan Cengeng

Football5star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus tampak muak dengan pemain sekarang yang kerap mengeluh terkait jadwal pertandingan. Legenda Jerman menganggap pemain-pemain saat ini terlalu cengeng.

Banyak pemain yang mengeluh soal jadwalnya pertandingan. Apalagi selama pandemi covid-19 yang membuat kompetisi 2020-2021 terasa sangat padat.

Akan tetapi bagi Lothar Matthaeus hal itu tidak bisa dijadikan alasan. Ia pun membandingkan eranya dulu di mana setiap tim hanya memiliki 14 pemain.

Lothar Matthaeus membela Borussia Moenchengladbach hingga 1984.
fussballmuseum.de

“Saya tidak pernah bisa mengerti ketika pemain saat ini selalu mengatakan stres tinggi, panas, dan lainnya. Kami dulu melakukan semuanya sendiri,” ujar Matthaeus kepada Zeit Magazin, Kamis (17/6/2021).

“Padahal mereka sekarang punya skuat lebih dari 20 orang dan kami dulu hanya punya 13 atau 14 pemain reguler di Gladbach pada awal 1980-an. Ini sepak bola. Anda selalu ingin bermain bahkan ketika Anda cedera Anda tetap ingin bermain. Jangan cengeng,” ia menambahkan.

Tidak hanya itu, dia juga menyayangkan sikap sensitif para pesepak bola jika permainannya dikritisi pelatih. “Kami diperlakukan lebih keras oleh mereka yang bertanggung jawab. Hari ini para pemain dilindungi,” imbuhnya.

“Dulu kalian saat berada di ruang ganti setelah kalah, dan di luar Uli Hoeness atau Udo Lattek sedang diwawancara. Anda sebagai pemain akan disebut-sebut betapa buruk dan betapa bodohnya Anda. Kata-kata itu lumrah keluar,” tutup Lothar Matthaeus.

Tiga Legenda Yakin Timnas Jerman Tak Jeblok di EURO 2020

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Pada perhelatan EURO 2020, timnas Jerman tak termasuk favorit juara. Performa sejak Piala Dunia 2018 dan keberadaan di grup neraka jadi dua faktornya. Namun, Lothar Matthaeus, Per Mertesacker, dan Fredi Bobic yakin Die Mannschaft tak akan jeblok. Ketiga pemain legendaris itu bahkan yakin Manuel Neuer cs. bisa masuk 4 besar.

Matthaeus yakin Jerman masih termasuk salah satu tim terkuat di EURO 2020 nanti. Soal komposisi pemain di tim asuhan Joachim Loew, dia juga menilai banyak orang yang terlalu pesimistis. Dia yakin para pemain yang dipanggil oleh Loew akan mampu membuat Die Mannschaft berbuat banyak di grup neraka nanti.

Lothar Matthaeus yakin timnas Jerman masih berada 5 besar tim terkuat pada gelaran EURO 2020.
thenewpost.online

“Kami tak boleh mengecilkan diri sendiri. Portugal memang lebih kuat dari saat juara lima tahun lalu. Prancis juga ditaburi para pemain juara dunia,” urai Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Sportbuzzer. “Namun, soal kekuatan skuat, kami masih ada di 4 besar atau 5 besar di turnamen ini. Target haruslah masuk semifinal.”

Kapten timnas Jerman saat juara Piala Dunia 1990 itu juga melihat satu faktor lain. Itu adalah kekompakan dan energi positif di tim. “Ada kegembiraan dan kebersamaan. Pada dasarnya, saya yakin mereka akan mampu mencapai semifinal,” ujar Matthaeus yang juga jadi bagian saat Die Mannschaft juara Piala Eropa 1980.

Bobic Yakin Timnas Jerman Bisa ke Final

Keyakinan yang sama diungkapkan Per Mertesacker. Bek timnas Jerman saat juara Piala Dunia 2014 itu tak ragu menyebut semifinal seharusnya jadi target minimal. Eks pemain Arsenal itu menilai Die Mannschaft punya kombinasi bagus yang bisa membuat kejutan.

“Mereka punya pemain-pemain berpengalaman macam Manuel Neuer, Toni Kroos atau Thomas Mueller. Lalu ada banyak pemain muda yang lapar dan on fire. Sangat mungkin meledak. Memang ada ekspektasi tinggi, tapi itu sudah biasa. Semifinal selalu jadi target minimal,” kata Mertesacker. “Mereka juga tentu akan coba memberikan perpisahan sebagus mungkin bagi Jogi Loew.”

Perpaduan pemain berpengalaman dan pemain muda dinilai Per Mertesacker bisa jadi modal timnas Jerman di EURO 2020.
tribune.com.pk

Sementara itu, Fredi Bobic bahkan punya keyakinan lebih tinggi. Eks striker juara EURO 1996 itu mengatakan, “Jika mampu melewati grup neraka, mereka bisa melaju sampai final. Timnas Jerman selalu harus memburu dan menginginkan gelar juara.”

Tentu saja, harapan besar ketiga legenda itu sangat tergantung suasana tim. Seperti dikatakan Mertesacker, hal terpenting bagi timnas Jerman adalah terus berkembang sebagai tim setahap demi setahap dan berharap mencapai puncaknya saat gelaran EURO 2020 berlangsung.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus Sebut Satu Pemain yang Bisa Sempurnakan Timnas Jerman

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Jerman menutup persiapan jelang EURO 2020 dengan kemenangan 7-1 atas Latvia. Komposisi Die Mannschaft yang diturunkan pada pertandingan itu dipandang positif oleh Lothar Matthaeus. Namun, menurut kapten saat Jerman juara Piala Dunia 1990 itu, komposisi akan sempurna bila ada Ridle Baku.

Matthaeus menilai Baku yang baru saja menjuarai EURO U-21 sebagai sosok yang bisa jadi jawaban masalah utama pelatih Joachim Loew di sisi kanan. Secara implisit, dia kurang sreg dengan penempatan Joshua Kimmich di gelandang kanan saat lawan Latvia.

“Saya sudah 99 persen puas dengan skuad yang ada. Saya hanya merindukan satu pemain: Baku dari VfL Wolfsburg yang tampil bagus di sisi kanan. Kami punya masalah di sana yang membuat Kimmich sekarang berada di posisi itu,” urai Lothar Matthaeus soal komposisi timnas Jerman seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1.

Ridle Baku jadi bagian penting kesuksesan timnas U-21 Jerman menjuarai EURO U-21.
Getty Images

Baku memang jadi salah satu pemain muda paling menonjol di Bundesliga pada musim 2020-21. Sepanjang musim, dia mampu memberikan 8 assist. Di Wolfsburg, dia hanya kalah dari striker Wout Weghorst dengan 9 assist. Bersama timnas U-21 Jerman di EURO U-21 2021, dia pun mencorong dengan 2 gol dan 3 assist.

Torehan 3 assist selama fase grup hingga final membuat Ridle Baku jadi pembuat assist terbanyak. Salah satu assist-nya adalah untuk gol tunggal Lukas Nmecha yang membawa Jerman menang atas Portugal pada partai final. Tak heran pula bila dia masuk deretan 23 pemain di skuad terbaik EURO U-21 2021 yang dipilih oleh UEFA.

Baku Sempat Dipanggil ke Timnas Jerman

Ridle Baku sudah menjalani debut saat timnas Jerman menghadapi Rep. Cheska.
sueddeutsche.de

Lothar Matthaeus menilai putusan Joachim Loew menggeser Joshua Kimmich ke sisi kanan sudah tepat. Itu karena performa Lukas Klostermann yang tak memuaskan dalam beberapa pertandingan. Terakhir saat lawan Denmark. Adapun di gelandang tengah, timnas Jerman sudah punya banyak opsi. Ada Toni Kroos, Ilkay Guendogan, Leon Goretzka, hingga Florian Neuhaus. Bahkan, bek Robin Koch pun bisa main di sana.

Akan tetapi, menurut Matthaeus, Ridle Baku tetaplah sosok paling tepat untuk mengisi pos di sisi kanan timnas Jerman dalam pola 3 bek yang diusung Loew belakangan ini. Tak seperti Kimmich, pemain berumur 23 tahun itu punya kecepatan yang dibutuhkan untuk beroperasi di sektor sayap.

Baku pun sebenarnya sudah ada dalam radar Loew. Pemain bernama asli Bote Baku itu bahkan pernah dicoba saat timnas Jerman melawan Rep. Cheska pada 11 November 2020. Dia tampil penuh selama 90 menit dalam laga yang dimenangi Die Mannschaft berkat gol tunggal Luca Waldschmidt tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus Ungkap Efek Domino Pengunduran Diri Hansi Flick

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Hansi Flick sudah secara resmi mengumumkan niat meninggalkan kursi pelatih Bayern Munich pada akhir musim nanti. Putusan itu, menurut Lothar Matthaeus, akan menimbulkan sebuah efek domino dalam perputaran pelatih musim depan.

Setelah sekian lama dirumorkan tak nyaman berada di Bayern Munich karena merasa tak mendapatkan dukungan penuh, Flick akhirnya memberikan pernyataan tegas. Selepas laga lawan VfL Wolfsburg, dia mengatakan sudah menyampaikan keinginan mundur kepada para petinggi Bayern.

Matthaeus yang sebelumnya sudah memberikan sinyal mengenai hal itu menilai hal tersebut akan memicu perubahan berantai yang melibatkan beberapa klub. Secara khusus, dia menyebut dua klub, yakni RB Leipzig dan RB Salzburg.

Julian Nagelsmann sudah mulai didekati Bayern Munich untuk mengisi pos yang ditinggalkan Hansi Flick.
bavarianfootballworks.com

“Opini saya adalah Flick ke timnas Jerman, (Julian) Nagelsmann ke Bayern, dan Jesse Marsch ke Leipzig,” kata Lothar Matthaeus kepada Sky seperti dikutip Football5Star.com dari Sportbuzzer.

Meskipun mendapatkan sangkalan, Matthaeus tetap meyakini Nagelsmann yang akan menjadi pengganti Flick di Bayern. “Tentu saja Bayern tak bicara secara langsung dengan Julian Nagelsmann. Namun, mereka sudah memulai pembicaraan dengan kubu Nagelsmann. Saya masih meyakini hal itu hingga hari ini,” kata Matthaeus.

Lebih jauh, Matthaeus mengungkapkan, “Saya yakin Julian Nagelsmann akan menggantikan Hansi Flick. Dia ingin mengambil langkah berikut dalam kariernya.”

Matthaeus Yakin Flick Gantikan Loew

Hansi Flick ditengarai akan kembali ke timnas Jerman untuk menggantikan Joachim Loew.
libertaddigital.com

Lalu, siapa yang akan menggantikan Julian Nagelsmann di RB Leipzig? Matthaeus meyakini sosok itu adalah Jesse Marsch, pelatih yang kini menangani RB Salzburg. Kepindahan itu akan mudah karena kedua klub pada dasarnya berada di bawah satu panji.

“Dia akan jadi pelatih yang bagus untuk Bundesliga. Nagelsmann akan puas, Marsch pun begitu. Saya dapat membayangkan hal ini terjadi pada musim depan,” ucap Matthaeus lagi.

Sementara itu, soal keyakinan Flick ke timnas Jerman, Matthaeus mengungkapkan sebuah fakta baru. Menurut dia, pembicaraan kedua belah pihak sudah intensif dalam sepekan terakhir.

“Saat ini, pembicaraan mengenai hal itu sudah berlangsung lebih serius. Kecenderungannya, dia akan menggantikan Joachim Loew. Semua orang di DFB tahu dia dan mereka pun menyukai dia,” ujar Lothar Matthaeus.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Lothar Matthaeus Tak Bangga Jadi Orang Jerman Gara-Gara Hal Ini

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus adalah salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola Jerman. Dialah kapten timnas Jerman saat juara Piala Dunia 1990 dengan mengalahkan Argentina 1-0. Belakangan, namanya bahkan digaungkan beberapa pihak sebagai kandidat pelatih Die Mannschaft menggantikan Joachim Loew.

Akan tetapi, tak dinyana, Matthaeus tak bangga jadi orang Jerman. Hal itu diungkapkan dalam wawancara jelang ulang tahunnya yang ke-60. Dia sangat kesal karena seperti selalu didoakan mengalami kegagalan, terutama dalam urusan pribadi, oleh orang orang-orang Jerman.

Tak seperti di lapangan, Matthaeus tak mulus dalam membina rumah tangga. Empat kali sudah dia mengalami perceraian. Kini, dia menjalani pernikahan kelima bersama Anastasia Klimko, wanita yang seumuran dengan dua anak tertuanya, Alisa dan Viola. Kegagalan rumah tangga ini kerap jadi sorotan.

Lothar Matthaeus bersama anak dari pernikahan dengan Lolita Morena.
bild.de

“Saya merasa banyak orang di Jerman menunggu dan mengharapkan kegagalan rumah tangga saya berikutnya. Jujur saja, saya tak bangga jadi orang Jerman,” urai Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Blick.

Secara pribadi, Matthaeus tak nyaman dengan kisah kegagalan rumah tangga itu. Dia ingin seperti orang tuanya yang membina rumah tangga hingga 67 tahun dan dipisahkan oleh maut. “Setiap kali menjalani lima perbikahan, saya selalu berharap dapat hidup dengan istri saya sepanjang hayat,” kata dia.

Matthaeus Nyaman di Luar Negeri

Menurut Lothar Matthaeus, perlakuan itu bukan hanya terjadi pada dirinya. Berdasarkan pengamatannya, orang-orang sukses lainnya pun mengalami hal serupa. Dia lantas menyebut Franz Beckenbauer dan Boris Becker sebagai contohnya.

“Orang-orang dengan pencapaian tertentu biasanya diperlakukan secara tidak hormat. Ada yang begitu dengki dan senang ketika seseorang terjatuh. Bila SIM Anda dicabut, ketika kisah dengan wanita tersebar, Anda akan dibanjiri kebencian,” ujar Matthaeus.

Lothar Matthaeus dengan Wali Kota Netanya Miriam Feirberg pada 2008.
Getty Images

Lebih jauh, Matthaeus mengungkapkan, “Banyak yang senang atas apa yang terjadi pada Franz Beckenbauer dalam lima tahun terakhir. Mereka bilang, ‘Dia akhirnya kena juga!’ Lalu, lihat juga Boris Becker dengan masalah pajaknya.”

Lothar Matthaeus tak merasakan hal itu saat tinggal di luar Jerman. Dia merasa lebih nyaman dan dihargai di sana. Dia pun lantas mengungkapkan kisah menarik saat menjadi pelatih Maccabi Netanya di Liga Israel pada 2008-09.

“Sungguh berbeda. Contohnya saat di Israel ketika saya jadi pelatih. Saya melihat ada Aperol di restoran dan bertanya apakah mereka punya Aperol Spritz. Mereka tak tahu itu. Saya lantas pergi ke belakang meja bar, membuat dan menjelaskan kepada mereka. Beberapa tahun kemudian, saat saya datang lagi, ada menu Matthaeus-Spritz,” urai Lothar Matthaeus lagi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dua Brace dalam Sehari Lothar Matthaeus yang Pikat Jupp Heynckes

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus yang berulang tahun ke-60 pada Minggu (21/3/2021) termasuk salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah. Dia meraih prestasi dan rekor bersama Bayern Munich, Inter Milan, dan timnas Jerman. Di balik kebesaran yang diperolehnya ada jasa besar Jupp Heynckes.

Suatu Minggu pagi pada musim semi 1979, seorang pria tergesa-gesa menuju Nuernberg. Pagi-pagi sekali, dia sudah berangkat dari Moenchengladbach. Tujuannya hanya satu, yaitu menyaksikan laga kompetisi Junior A.

Pria yang pagi-pagi terbang dari Moenchengladbach ke Nuernberg itu tiada lain dari Jupp Heynckes, pelatih baru Borussia Moenchengladbach. Adapun hal yang membuat dia tertarik melihat laga di kompetisi Junior A adalah seorang pemain bernama Lothar Matthaeus.

Lothar Matthaeus langsung disodori kontrak setelah menjalani satu trial bersama Borussia Moenchengladbach.
zdf.de

“Saya masih betul-betul ingat. Saya terbang ke Nuernberg pagi-pagi sekali pada Minggu itu agar bisa melihat dia main pada laga Junior A yang dilangsungkan pukul 10.30. Lothar pemain terbaik di lapangan. Dia mencetak dua gol,” urai Jupp Heynckes mengenang kisahnya memantau Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Sportbuzzer.

Heynckes jatuh cinta oleh permainan Matthaeus dan brace yang dicetak untuk tim junior Herzogenaurach. Dia pun diliputi kecemasan. Jangan-jangan ada perwakilan klub Bundesliga lain yang ada di sana. Untungnya, tak ada sama sekali. Dia pun bisa menarik napas lega.

Selepas pertandingan, Heynckes yang tadinya akan pulang memutuskan bertahan. Gara-garanya, Matthaeus kembali bermain pada pukul 03.00 sore. Kali ini bersama tim senior FC Herzogenaurach.

“Hal yang menarik, Lothar bermain lain pada pukul 03.00 sore bersama tim senior di liga nasional melawan Vohenstrauss. Lagi-lagi, dia jadi pemain terbaik di lapangan. Lagi-lagi pula dia mencetak dua gol,” kata Heynckes melanjutkan ceritanya.

Tak ingin kehilangan permata yang baru ditemukannya, Heynckes mengambil langkah cepat. “Saya membatalkan penerbangan pulang pada malam itu dan menginformasikan manajer kami, Helmut Grasshoff, melalui telepon bahwa saya ingin mengontrak anak itu untuk Moenchengladbach,” urai eks striker ulung era 1970-an itu.

Matthaeus Ditemukan Berkat Puma

Jupp Heynckes lantas mengungkapkan satu fakta menarik. Menurut dia, Lothar Matthaeus ditemukan berkat andil Puma. Perusahaan apparel itulah yang jadi jembatan pertemuan mereka dan lantas bekerja sama di Borussia Moenchengladbach.

“Saat itu belum ada sistem pemanduan bakat. Hanya ada cerita lewat telepon atau surat. Namun, kami punya banyak orang di mana-mana, para pemandu bakat. Sebuah kebetulan, ayah Lothar bekerja untuk pabrik Puma di Herzogenaurach. Karena saat bermain punya kontrak dengan perusahaan ini, saya kenal Hans Nowak,” kata Heynckes.

Lothar Matthaeus membela Borussia Moenchengladbach hingga 1984.
fussballmuseum.de

Pelatih yang memulai debutnya pada musim 1979-80 itu menambahkan, “Saya kenal baik Hans Nowak yang kala itu jadi direktur pemasaran untuk Puma. Nowak yang juga eks pemain timnas Jerman menelepon saya dan mengatakan tentang seorang talenta luar biasa.”

Nowak tak berbohong. Heynckes langsung jatuh hati saat kali pertama melihat Matthaeus bermain. Ketika dua brace dibuat sang pemain pada suatu Minggu musim semi 1979 itu, dia pun memutuskan talenta ini harus jadi milik Moenchengladbach.

Tiba di markas Die Fohlen, Lothar Matthaeus dijadwalkan menjalani empat kali trial. Namun, baru satu sesi dijalani, kontrak berdurasi tiga musim langsung disodorkan kepada pemain yang kala itu berumur 18 tahun tersebut.

“Helmut Grashoff ingin menyelesaikan secepatnya. Lothar lantas menyelesaikan studi desain interiornya dan menjalani debut pada 2 September 1979 saat kami kalah 2-4 di Betzenberg melawan Kaiserslautern,” kata Jupp Heynckes menuntaskan kisah awalnya mendatangkan Lothar Matthaeus ke Borussia Moenchengladbach.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Ultah ke-60, Ini Resep Lothar Matthaeus Tetap Bugar dan Tanpa Uban

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Hari ini, Minggu (21/3/2021), Lothar Matthaeus berulang tahun yang ke-60. Dalam umurnya yang sudah terbilang senja, kapten timnas Jerman saat juara Piala Dunia 1990 itu masih terlihat bugar. Rambutnya pun masih hitam, tak terlihat ada uban di sana.

Mengenai rambut, Matthaeus mengaku tak melakukan perawatan khusus. Alamiah saja. “Saya tak mengecatnya. Semuanya asli. Saya mewarisi gen ayah saya. Dia tak punya uban dalam waktu lama,” urai Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Blick.

Berbeda dengan rambutnya yang memang alami dari pengaruh gen, soal tubuh yang bugar, Matthaeus punya resep tersendiri. Intinya, menurut dia, adalah kedisiplinan untuk berolahraga. Itu mengimbangi gaya hidup yang tak dapat diubah drastis.

Lothar Matthaeus mengimbangi gaya hidup dengan olahraga teratur.
focus.de

“Saya disiplin. Saya memang minum bir dan anggur. Saya juga tak bisa meninggalkan babi panggang begitu saja. Namun, saya juga lari lima hingga enam kali seminggu selama 90 menit. Total, saya berlari 50 km. Selain itu, saya juga melakukan latihan stabilisasi,” urai Matthaeus lagi.

Matthaeus menggarisbawahi, semua itu dilakukan secara serius, disiplin, dan penuh komitmen. Halangan apa pun tak boleh menyurutkan langkah untuk berolahraga. “Bahkan jika cuaca tak bersahabat pun, saya tetap melakukan itu semua,” kata dia.

Matthaeus Terkenang Maradona

Soal kondisi tubuhnya yang masih oke karena terjaga dengan baik, Matthaeus lantas terkenang sahabat sekaligus rivalnya di lapangan, Diego Maradona. Seperti diketahui, El Diez meninggal dunia pada tahun lalu dalam usia Matthaeus saat ini.

Lothar Matthaeus merasa prihatin terhadap mendiang Maradona yang dinilai salah urus semasa hidupnya. Dia yakin sahabatnya itu akan tetap hidup andai kehidupannya lebih baik dan terkontrol.

Lothar Matthaeus dan Diego Maradona bersahabat dan saling respek meskipun jadi musuh di lapangan hijau.
Getty Images

“Kematiannya membuat saya sedih. Namun, saya sudah terkejut saat bertemu dia pada 2018. Di Piala Dunia Rusia, saya melihat dia sudah kehilangan semua kendali hidupnya. Dia menatap Anda, tapi tatapannya menerawang. Dia terlihat senang, tapi saya merasa dia tidak baik-baik saja,” ujar Matthaeus soal Maradona.

Sementara itu, mengenai dugaan Maradona meninggal karena dibunuh, Lothar Matthaeus tak meyakini hal itu. Namun, dia pun tak menutupi kecurigaan terhadap satu hal, yaitu kebiasaan El Diez mengonsumsi obat-obatan secara serampangan.

“Saya tak percaya soal teori itu. Namun, orang-orang di sekelilingnya pasti selalu memberikan semua obat yang diinginkannya. Saya prihatin kepada Diego. Andai saja merawat dirinya dengan baik, dia mungkin masih hidup pada saat ini,” kata Matthaeus.

Lothar Matthaeus dan Diego Maradona adalah ikon sepak bola pada dekade medio 1980-an hingga awal 1990-an. Mereka sempat dua kali bersua di final Piala Dunia. Pada 1986, Maradona membawa Argentina juara. Empat tahun kemudian, giliran Matthaeus yang mengantar Jerman Barat ke podium tertinggi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus Anggap Wajar Perselisihan Flick dengan Salihamidzic

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus, legenda Bayern Munich, menganggap wajar perselisihan pelatih Hansi Flick dengan Direktur Olahraga Hasan Salihamidzic. Menurut dia, itu bukan hal baru di Bayern dan jadi salah satu alasan kesuksesan mereka selama ini.

Matthaeus mengangkat perselisihan Flick dengan Salihamidzic dalam kolom rutinnya di Sky Sport Jerman. Kapten timnas Jerman saat juara Piala Dunia 1990 itu mengatakan, perselisihan yang ada saat ini sebetulnya tidaklah sedramatis yang digembor-gemborkan berbagai media.

“Jika (Franz) Beckenbauer, (Uli) Hoeness, (Karl-Heinz) Rummenigge, (Udo) Lattek, (Ottmar) Hitzfeld atau (Jupp) Heynckes selalu sepakat, Bayern mungkin tak akan mendapatkan setengah dari trofi yang diraih saat ini,” urai Lothar Matthaeus mengawali kolomnya seperti dikutip Football5Star.com.

Hasan Salihamidzic dan Hansi Flick diminta Lothar Matthaeus lebih kooperatif satu sama lain.
fcbinside.com

Lebih lanjut, Matthaeus mengatakan, “Dari masa ke masa selalu ada perselisihan internal. Namun, kemudian kembali membalik. Hal seperti inilah yang terjadi di antara Hansi Flick dan Direktur Olahraga Hasan Salihamidzic. Tak ada konflik, ini hanya soal ketidaksepakatan saja.”

Meskipun demikian, Matthaeus juga tak memandang remeh hal tersebut. Dia berharap Flick dan Salihamidzic dapat melakukan rekonsiliasi karena pada dasarnya mereka punya tujuan yang sama.

“Saya kira mereka perlu bekerja lebih erat lagi dalam transfer pemain dan lebih responsif terhadap kebutukan satu sama lain. Tentu saja, pelatih tidak dapat dan tidak seharusnya menentukan pemain-pemain yang harus direkrut,” ujar Matthaeus lagi.

Matthaeus Minta Dua Pihak Kooperatif

Hasan Salihamidzic diminta Matthaeus lebih mendengarkan kebutuhan Hansi Flick di skuat Bayern Munich.
spox.com

Lothar Matthaeus menegaskan, Hansi Flick dan Hasan Salihamidzic harus memahami posisi dan fungsi masing-masing di Bayern. Seorang pelatih tak dapat memaksakan pembelian pemain karena klublah yang bertanggung jawab soal kontraknya. Bila tiba-tiba pelatih teresbut pergi, akan timbul masalah.

Akan tetapi, kata Matthaeus, direktur olahraga juga harus memerhatikan kebutuhan pelatih. Andai sedari awal para pemain yang didatangkan tak cukup bagus atau tak sesuai kebutuhan pelatih, konflik bakal tak terhindarkan.

Dalam hal ini, Matthaeus secara implisit mengingatkan Salihamidzic untuk lebih mendengarkan perkataan Flick. Berdasarkan karakter dan kepribadiannya, Flick diyakini tak neko-neko dan tak akan meminta pembelian mahal. “Hansi mungkin punya kesukaan tertentu, tapi tak pernah berlebihan dalam hidupnya,” kata dia.

Lothar Matthaeus lebih lajuh menandaskan, Bayern Munich tak boleh kehilangan Hansi Flick. Dalam pandangannya, sosok ini sangat istimewa. “Dia punya pandangan 360 derajat soal pemain. Dia dapat mengenali talenta pemain berumur 17 tahun dan mengembangkannya. Dia juga bisa memimpin dengan baik seorang superstar,” ujar dia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Ramai-Ramai Dukung Lothar Matthaeus Tangani Timnas Jerman

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Dukungan bagi Lothar Matthaeus untuk menjadi pelatih timnas Jerman terus mengalir. Setelah Armin Veh dan Mehmet Scholl, kini empat sosok lain menyuarakan dukungan bagi kapten Die Mannschaft saat menjuarai Piala Dunia 1990 itu. Mereka adalah Franz Beckenbauer, Juergen Kohler, Olaf Thon, dan Thomas Doll.

Baik Beckenbauer, Kohler, Thon, maupun Doll menilai Matthaeus punya kemampuan untuk menangani timnas Jerman. Hal itu didasarkan pada rekam jejaknya selama ini, baik sebagai pemain, pelatih, maupun analis. Mereka pun tak mempermasalahkan Matthaeus yang sudah lama tak menangani sebuah tim.

“Lothar seharusnya ditakdirkan untuk itu. Dia punya begitu banyak pengalaman dan kepakaran lengkap. Anda sudah lihat itu selama bertahun-tahun. Kualitasnya 100 persen,” urai Thomas Doll seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1.

Franz Beckenbauer menilai Lothar Matthaeus pantas dipertimbangkan untuk jadi pelatih timnas Jerman.
prisma.de

Lebih lanjut, eks pelatih Borussia Dortmund saat melawat ke Indonesia itu mengungkapkan, “Tak masalah dia sudah begitu lama absen dari dunia kepelatihan. Matthaeus sudah cukup lama menjadi pelatih dan tahu persis dunia itu. Dia akan mampu mengatasinya dengan mudah.”

Pandangan serupa diungkapkan Thon. Eks kapten FC Schalke 04 itu kepada Kicker mengatakan, “Salah satu kandidat yang harus dipertimbangkan serius adalah Lothar Matthaeus. Dia seorang pakar sepak bola yang sudah terbukti pada level tinggi.”

Senada dengan Thon, Franz Beckenbauer juga menilai Matthaeus sebagi kandidat yang patut dipertimbangkan untuk menjadi penerus Joachim Loew di timnas Jerman. “Saya betul-betul yakin Lothar akan mampu memikul tugas itu. Dia sudah punya pengalaman mendunia dan telah berkembang pesat. Ya, kenapa bukan Lothar?” ucap Der Kaiser.

Kohler Ungkap Nilai Lebih Matthaeus

Lothar Matthaeus pernah membawa Partizan Belgrade juara liga pada 2003.
Imago Images

Sementara itu, di mata Juergen Kohler, Lothar Matthaeus punya beberapa nilai lebih jika jadi pelatih timnas Jerman. Salah satunya adalah nama besar sebagai pemain yang masih dikenal di seluruh penjuru dunia.

“Dia memiliki semua yang dibutuhkan. Dia seorang pesepak bola yang begitu dikenal dan seorang yang bekerja untuk media. Dia juga sudah bermain 150 laga internasional,” urai Kohler kepada Kicker. “Dia dapat menjadi figur pemersatu dan citra bagusnya akan positif bagi tim.”

Kohler lantas mengingatkan, Lothar Matthaeus pun sudah pernah membuktikan tangan dinginnya sebagai pelatih. “Dia pernah meraih sukses sebagai pelatih. Pada 2003, dia juara bersama Partizan Belgrade,” kata eks bek timnas Jerman itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus Minta DFB Tak Lirik Hansi Flick untuk Timnas Jerman

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Lothar Matthaeus, pemegang caps terbanyak timnas Jerman, memperingatkan DFB soal sosok yang akan menggantikan Joachim Loew. Dia secara khusus meminta mereka tak melirik Hansi Flick yang saat ini menangani Bayern Munich.

Seiring putusan Loew turun dari kursi pelatih timnas Jerman selepas Piala Eropa 2020 pada pertengahan tahun nanti, beberapa nama mencuat sebagai kandidat. Salah satunya adalah Flick yang sempat menjadi asisten Loew dari 2006 hingga 2014.

Hal itu mendapatkan sorotan dari Matthaeus. Dia tak meragukan kualitas dan kemampuan Flick. Namun, andai pelatih berumur 56 tahun itu dibidik DFB, ada potensi konflik dengan Bayern. Hal ini, menurut dia, sebaiknya dihindari demi kebaikan timnas Jerman juga.

Joachim Loew menyatakan akan mundur dari timnas Jerman selepas Piala Eropa 2020.
sporf.com

“Saya kira agak kurang masuk akal bila DFB mengontrak Hansi Flick karena hal itu akan merusak hubungan dengan Bayern. bagaimanapun, DFB agak bergantung pada Bayern,” urai Lothar Matthaeus kepada Sky Sports seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1.

Hal yang membuat Matthaeus khawatir, para petinggi Bayern sudah menegaskan tak ingin melepas Flick. Hal ini antara lain diungkapkan CEO Karl Heinz Rummenigge. Atas dasar itu, Matthaeus berharap DFB bisa bersikap bijak.

“Karl-Heinz Rummenigge sudah menegaskan posisi Flick. Meskipun ada yang menyampaikan Hansi tak merasa 100% nyaman dengan transfer dan beberapa hal lain, saya yakin dia masih akan jadi pelatih Bayern musim depan. Saya harap jangan sampai ada perselisihan antara DFB dan Bayern,” ujar Matthaeus lagi.

Flick Mungkin Tangani Timnas Jerman

Hansi Flick adalah asisten Joachim Loew di timnas Jerman dari 2006 hingga 2014.
dfb.de

Lothar Matthaeus bisa agak lebih lega karena DFB dikabarkan tak akan mengganggu pelatih-pelatih yang masih terikat kontrak. Namun, itu bukan berarti Hansi Flick tak mungkin menangani timnas Jerman sepeninggal Joachim Loew.

DFB masih membuka kemungkinan mendekati pelatih yang terikat kontrak di klub andai yang bersangkutan memang tertarik. Satu lagi, klub tempat sang pelatih bernaung pun mau melakukan negosiasi. Skenario ini sepertinya tertuju kepada Flick di Bayern Munich.

Sebagai sosok yang pernah menjadi asisten Loew dan menjabat direktur olahraga, Hansi Flick punya hubungan baik dengan DFB. Ini bisa jadi jalan masuk untuk membujuk dia melanjutkan kerja Loew. Ujung-ujungnya, Flick yang akan diminta menekan manajemen Bayern. Bila ini terjadi, potensi konflik yang dicemaskan Lothar Matthaeus tak akan terelekkan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Legenda Bayern Munich Dijagokan untuk Gantikan Joachim Loew

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Siapakah yang pantas menggantikan Joachim Loew sebagai pelatih timnas Jerman? Biasanya jawaban yang muncul adalah Juergen Klopp atau Hansi Flick. Namun, Mehmet Scholl, eks playmaker Bayern Munich, justru menunjuk Lothar Matthaeus.

Scholl menilai Matthaeus punya kapasitas dan kapabilitas untuk jadi pelatih timnas Jerman. Salah satu rujukannya adalah ulasan-ulasan tepat yang dibuat pemegang caps terbanyak Die Mannschaft yang juga legenda Bayern Munich itu sebagai analis di salah satu stasiun televisi.

“Anda bisa mendengarkan ulasan Lothar di televisi dan dia selalu benar. Dari yang saya dengar dari para mantan pemainnya, dia itu pelatih hebat. Dia tampil 150 kali di pertandingan internasional. Dia tahu segalanya tentang sepak bola,” urai Mehmet Scholl seperti dikutip Football5Star.com dari Sportbuzzer.

Mehmet Scholl menilai Lothar Matthaeus punya kapasitas dan kapabilitas untuk menggantikan Joachim Loew di timnas Jerman.
br.de

Scholl tahu persis Matthaeus tak punya rekor apik sebagai pelatih. Kapten timnas Jerman saat juara Piala Dunia 1990 itu pun sudah lama meninggalkan dunia kepelatihan. Namun, Scholl menilai seniornya saat di Bayern itu bisa sukses sebagai pengganti Loew.

“Setelah kariernya, beberapa hal memang tak berjalan baik. Namun, dia sudah mendapatkan ketenangan dalam hidupnya saat ini. Dia punya pengetahuan, ketenangan, dan pengalaman. Dia akan dapat menggunakan itu semua,” ujar Scholl.

Matthaeus Tak Incar Posisi Loew

Mehmet Scholl sebetulnya bukan orang pertama yang menjagokan Lothar Matthaeus untuk menggantikan Joachim Loew di timnas Jerman. Sebelumnya, Armin Veh yang membawa VfB Stuttgart juara Bundesliga 2006-07 juga terlebih dahulu mengangkat nama legenda Bayern tersebut.

Lalu, bagaimana tanggapan Mattaheus soal usulan Scholl dan Veh untuk menjadi pengganti Loew? Dia menegaskan tak berminat. Bukan hanya tak berminat menangani timnas Jerman. Dia bahkan tak berminat kembali menekuni pekerjaan sebagai pelatih.

Lothar Matthaeus lebih menikmati pekerjaannya saat ini ketimbang jadi pelatih timnas Jerman.
spox.com

“Saya betul-betul sudah punya rencana berbeda dan sudah memperpanjang kontrak dengan Sky hingga dua tahun ke depan,” kata Matthaeus menutup kemungkinan jadi pengganti Loew. “Tentu saja saya tertarik pada sepak bola dan timnas. Namun, saya bahagia dengan kehidupan saya saat ini.”

Lebih lanjut, Matthaeus mengatakan, “Tekanan yang ada lebih sedikit. Tentu saja, ada tuntutan menyangkut performa. Namun, sebagai pelatih timnas, Anda akan menghadapi 80 juta kritik. Saya tak mau itu.”

Lothar Matthaeus menilai ada sosok-sosok lain yang lebih pantas untuk jadi pengganti Joachim Loew pada saatnya nanti. “Biarkanlah Jogi bekerja. Setelah itu, akan ada orang lain yang mungkin dapat bekerja lebih baik lagi,” ujar dia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dua Legenda Jerman Favoritkan Bayern Pecundangi Dortmund

gamespool
Dua Legenda Jerman Favoritkan Bayern Pecundangi Dortmund 80

Football5star.com, Indonesia – Dua legenda Jerman, Juergen Klinsmann dan Lothar Mattheus memprediksi laga Der Klassiker antara Bayern Munich vs Borussia Dortmund di Allianz Arena, Minggu (7/3/2021) akan berjalani cukup sengit.

Namun dua legenda Jerman itu satu suara bahwa di hasil akhir, Bayern akan mampu pecundangi Dortmund. Mattheus menyebut bahwa Dortmund saat ini memang memiliki Erling Haaland yang bisa jadi ancaman untuk lini belakang Bayern. Namun Die Rotten masih memiliki Robert Lewandowksi.

Lothar Matthaeus menyebut Joachim Loew butuh banyak waktu untuk menganalisis laga Spanyol vs Jerman.

“Dortmund memang merindukan seseorang seperti Haaland yang bermain penuh semangat. Sekarang dia ada di sana dan menjadi matahari bagi tim itu. Tapi Lewandowksi bermain di tim yang lebih baik, jadi saya berharap dia bisa mencetak gol lebih banyak,” kata Mattheus seperti dikutip Football5star.com dari Sky Sport, Jumat (5/3/2021).

“Lewandowksi bukan pemain statis. Ia sering bergerak. Jadi bek Dortmund harus bekerja sangat keras untuk menghentikannya,” tambahnya.

Soal lini belakang mantan timnya itu, Mattheus mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan Dortmund, Bayern memiliki catatan gol lebih banyak daripada rekor kebobolannya musim ini. Mattheus juga percaya bahwa laga Der Klassiker musim ini jadi pertempuran antara pemain dari beda generasi.

Ia mencontohkan pemain veteran macam Lewandowski dan Thomas Mueller akan adu hebat dengan Jadon Sancho serta Erling Haaland. Sementara itu, Juergen Klinsmann melihat meski saat ini Dortmudn tertingal 13 poin dari Bayern, hal itu tak akan melemahkan permainan Die Borussen.

“Dortmund tidak akan memikirkan selisih poin itu. Dortmund di tempat kelima sekarang dan mereka memiliki misi untuk bisa berada di empat besar pada akhir musim,” ucap Klinsmann.

“Meski perebutan gelar Bundesliga bagi Dortmuns sudah selesai, mereka akan datang ke Munich dengan memikirkan bisa meraih tiga poin demi lolos ke Liga Champions musim depan,” tambahnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Presiden Bayern Jawab Pernyataan Matthaeus Soal Transfer Haaland

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Beberapa waktu lalu Lothar Matthaeus mengatakan bahwa Erling Haaland akan bermain untuk Bayern Munich. Pernyataan tersebut rupanya disambut positif oleh presiden klub, Herbert Hainer.

Lothar Matthaeus menyebut jika Haaland memutuskan tetap di Jerman, Bayern Munich adalah tujuan utamanya. Karena baginya hanya bomber Norwegia yang layak menggantikan peran Robert Lewandowski di lini depan.

Herbert Hainer memang tidak secara langsung mengungkapkan rencana transfer bintang Borussia Dortmund. Ia hanya memberi isyarat jika keuangan Bayern Munich memungkinkan mendatangkan siapa saja.

Erling Haaland - Dortmund - Bayern - Lothar Matthaeus - Daily Mail
Daily Mail

“Kami ingin melangkah lebih jauh dan lebih sukses dalam merekrut pemain muda dengan kehebatan luar biasa. Kami adalah klub secara ekonomi sangat kuat dan sehat,” kata sang presiden seperti dikutip Football5star dari Sport 1, Jumat (5/3/2021).

“Meskipun kami juga menderia karena pandemi secara besar-besaran kami sellau bisa mendatangkan pemain ketika kami yakin tentang mereka. Semua masih sangat memungkinkan, tapi saya tidak mua berbicara lebih jauh soal itu,” ia menambahkan.

Sebagai informasi, saat ini Erling Haaland memiliki klausul pelepasan sebesar 75 juta euro. Tapi dengan performanya yang terus meningkat bisa saja Borussia Dortmund meminta harga lebih tinggi untuk klub yang ingin meminangnya.

Di atas kertas harga 75 juta euro masih bisa dijangkau Bayern Munich. Tapi dengan kondisi klub yang terdampak covid-19, sepertinya mereka harus melepas beberapa pemain agar keuangan tidak goyah.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Matthaeus Kritik Tiga Pemain Senior yang Ciptakan Kekacauan di Schalke

gamespool
Matthaeus Kritik Tiga Pemain Senior yang Ciptakan Kekacauan di Schalke 87

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Jerman, Lothar Matthaeus, turut mengomentari kekacauan yang ada di Schalke 04 saat ini. Matthaeus mengkritisi tiga pemain senior yang malah menimbulkan kekacauan di sana.

Schalke baru saja memecat pelatihnya, Christian Gross, beberapa hari lalu dan Gross menjadi pelatih ketiga yang dipecat Die Knappen musim ini. Dikabarkan menurut Bild, penyebab hal itu terjadi karena Gross bersitegang dengan tiga pemain senior, Sead Kolasinac, Shkodran Mustafi, dan Klaas-Jan Huntelaar.

Lothar Matthaeus Kritik Tiga Pemain Senior yang Ciptakan Kekacauan di Schalke
Fussball Transfer

Tiga pemain itu didatangkan pada Januari lalu dengan tujuan menyelamatkan Die Knappen dari degradasi. Tapi alih-alih menyelamatkan, ketiga pemain itu malah membuat kekacauan di ruang ganti.

“Fakta bahwa tiga pendatang baru memimpin pemberontakan mencontohkan kekacauan di Schalke. Dari semua orang, ketiganya sangat diharapkan, ketiganya seharusnya meningkatkan pemain lainnya dan menanamkan beberapa kelas di klub. Sejauh ini benar-benar mengecewakan, atau, karena kurangnya kebugaran pertandingan, belum menghasilkan performa sama sekali,” kata Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Sky.

Lothar Matthaeus melanjutkan, “Kemungkinan besar, ketiganya akan pergi pada akhir musim dan bukannya mereka mati-matian untuk Schalke, mereka malah menciptakan lebih banyak kekacauan.”

Schalke 04 saat ini berada di posisi juru kunci dengan poin yang bahkan belum mencapai dua digit angka. Mereka hanya meraih satu kemenangan dan kini memiliki selisih 9 poin dari posisi aman. Mereka baru saja merekrut Dimitro Grammozis sebagai pengganti Gross. Mantan pelatih Darmstadt 98 itu menjadi pelatih kelima Schalke musim ini.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Lothar Matthaeus: Bayern Munich Sangat Mungkin Disalip RB Leipzig

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Setelah delapan musim selalu menjadi yang terbaik di Liga Jerman, Bayern Munich sangat mungkin gagal juara pada musim ini. Hal itu diyakini eks kapten Die Roten dan timnas Jerman, Lothar Matthaeus. Dia menilai tim asuhan Hansi Flick bisa disalip RB Leipzig.

Bayern Munich gagal menuai kemenangan dalam dua laga terakhir pada pentas Bundesliga. Manuel Neuer cs. ditahan 3-3 di kandang sendiri oleh Arminia Bielefeld, lalu kalah 1-2 saat melawat ke markas Eintracht Frankfurt. Hal itu membuat mereka kini hanya unggul 2 poin dari Leipzig yang berada di posisi kedua klasemen sementara.

Hasil buruk yang dituai pada dua spieltag terakhir itu jadi sorotan Matthaeus. Dalam pandangannya, Leipzig punya satu modal apik untuk menggusur Bayern dari puncak klasemen. Itu adalah kualitas para pemain cadangan yang bagus.

Bayern Munich dinilai Lothar Matthaeus bisa disalip RB Leipzig di Liga Jerman.
sport.de

“Menurut saya, Leipzig dapat berbuat lebih baik dengan pemain cadangan yang ada. Ini akan jadi tantangan jika Bayern tak ingin kalah lagi. Kita sudah lihat, ketika berada dalam situasi kritis, Hansi Flick berpaling ke bangku cadangan dan berpikir, ‘Siapa yang benar-benar bisa menolong saya sekarang?'” urai Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari kolomnya di Sky Sports.

Matthaeus lantas menunjuk situasi Bayern saat harus kehilangan Leon Goretzka dan Thomas Mueller karena COVID-19. Demikian pula dengan cedera yang membekap Corentin Tolisso. Kehilangan mereka, kata dia, sangat terlihat pengaruhnya karena tak ada back up mumpuni.

Matthaeus Teringat Finale Dahoam

Kualitas pemain cadangan Bayern Munich membuat Lothar Matthaeus pesimistis gelar kesembilan beruntun bisa diraih.
bavarianfootballworks.com

Faktanya, Hansi Flick memang kelimpungan ketika Goretzka, Javi Martinez dan Tolisso absen bersamaan. Jamal Musiala dan Marc Roca tak menunjukkan performa dan konsistensi apik. Hal serupa terjadi saat ini ketika Mueller harus menepi karena COVID-19. Tak ada pemain yang betul-betul mampu menggantikan Der Raumdeuter.

Situasi Bayern Munich saat ini mengingatkan Lothar Matthaeus pada finale dahoam pada musim 2011-12. Kala itu, dengan skuat pincang, tim asuhan Jupp Heynckes takluk dari Chelsea lewat adu penalti pada final Liga Champions.

Situasi saat ini bisa dikatakan sama dengan kala itu. Matthaeus pun lantas menyentil kebijakan transfer Bayern. Dia menilai hanya Roca yang masih bisa diharapkan. Itu berbeda dengan musim lalu ketika Die Roten mampu meminjam Philippe Coutinho dan Ivan Perisic.

Lothar Matthaeus memperingatkan, Bayern Munich akan makin terancam andai RB Leipzig terhenti pada ajang Liga Champions. Fokus penuh dengan kualitas skuat merata akan membuat tim asuhan Julian Nagelsmann berpeluang besar merebut gelar untuk kali pertama sepanjang sejarah.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Legenda Jerman Beberkan Penyebab Dua Kekalahan Bayern

gamespool
Legenda Jerman Beberkan Penyebab Dua Kekalahan Bayern 95

Football5star.com, Indonesia – Legenda timnas Jerman, Lothar Matthaeus, membeberkan salah satu penyebab dua kekalahan beruntun yang dialami Bayern Munich dalam sepekan terakhir. Menurut Matthaeus, Die Roten tak memiliki kedalaman skuat yang mumpuni.

Bayern saat ini memang sedang tak berada dalam performa terbaik setelah menelan kekalahan dari Borussia Moenchengladbach dan Holstein Kiel. Dua kekalahan ini membuat armada Hansi Flick mendapat kritikan tajam dari publik Jerman.

“Bayern saat ini tidak memiliki kedalaman skuat yang cukup berkualitas. Mereka tak bisa mempertahankan kualitas permainan ketika ada beberapa pemain kunci yang diistirahatkan,” ujar Lothar Matthaeus kepada Sky Germany.

Bayern - Lothar Matthaeus - Skuat - SB Nation
Der Spiegel

Lebih lanjut, Matthaeus juga melemparkan kritik terhadap strategi belanja Bayern pada bursa transfer musim panas lalu. Di mata Matthaeus, Die Roten gagal mendatangkan pemain untuk mengisi pos yang ditinggalkan ivan Perisic, Philippe Coutinho dan Thiago Alcantara.

“Saya juga ingin mengkritik kebijakan belanja Bayern. Pada musim panas lalu, mereka kehilangan tiga pemain penting dalam sosok Ivan Perisic, Philippe Coutinho dan Thiago. Mereka adalah pemain berkualitas yang selalu bisa diandalkan.”

“Banyaknya pemain baru memang tak bisa langsung membuahkan hasil. Tapi, para pemain baru Bayern tidak memiliki kualitas yang cukup mumpuni untuk membuat perbedaan. Semenjak awal, saya sudah mempredriksi musim ini bakal menjadi tantangan berat,” tutur Mattahaeus.

Akhir pekan ini, Die Roten akan berusaha kembali ke jalur kemenangan. Rencananya, mereka akan menjamu tim papan tengah, SC Freiburg, pada Minggu (17/1) malam WIB.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

19 Gol dalam 14 Pekan, Robert Lewandowski Ancam Rekor Mueller?

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Robert Lewandowski terus menunjukkan ketajamannya. Senin (4/1/2021), dia mencetak brace saat Bayern Munich secara sensasional membalikkan keadaan dari 0-2 pada babak pertama menjadi 5-2 saat menjamu 1.FSV Mainz 05.

Tambahan 2 gol pada laga Bayern vs Mainz membuat Lewandowski kini mengoleksi 19 gol dalam 14 spieltag awal Bundesliga 2020-21. Itu adalah rekor baru pada pentas Liga Jerman. Sebelumnya, tak ada pemain yang mampu mencetak 19 gol dalam 14 pekan awal.

Satu pertanyaan pun muncul. Mampukah Lewandowski mematahkan rekor 40 gol dalam semusim milik Gerd Mueller yang dibuat pada 1971-72? Satu pakar sudah mengungkapkan keyakinannya. Dia adalah Lothar Matthaeus.

“Rekor Gerd Mueller terancam,” kata Matthaeus kepada Sky seperti dikutip Football5Star.com dari Sport24. “Saya yakin Lewandowski, musim ini, dengan tim ini, akan memecahkan rekor Gerd Mueller.”

Keyakinan itu sangat berdasar. Belum setengah musim, Lewandowski sudah mengemas 19 gol. Adapun Mueller pada 1971-72 hanya mencetak 11 gol dalam 14 pekan awal.

Lewandowski Harus Cetak 1,05 Gol Per Laga

Meskipun demikian, tetap tak ada jaminan Robert Lewandowski mampu mengemas 40 gol dalam semusim. Musim lalu, dia juga sempat dijagokan untuk mematahkan rekor Mueller setelah mencetak 19 gol dalam 16 spieltag awal Bundesliga. Namun, pada akhirnya, dia hanya mampu mengemas 34 gol.

Berbekal 19 gol dalam 14 spieltag pada saat ini, tantangan yang dihadapi Lewandowski tidaklah ringan. Pasalnya, dia harus mencetak 21 gol dalam 20 laga sisa pada musim ini. Itu hanya untuk menyamai rekor 40 gol dalam semusim. Mencetak 1,05 gol per laga bukanlah hal mudah. Apalagi ada kemungkinan dia absen.

Menilik rekam jejak Lewandowski selama berkiprah di Liga Jerman, mencetak 21 gol dalam 20 spieltag akhir juga tantangan tersendiri. Di luar musim pertamanya yang minim gol, raihan gol terbanyak striker Polandia itu dalam 20 spieltag akhir Bundesliga adalah 19 gol. Itu dibukukan pada musim 2016-17.

Sejak membela Bayern Munich pun, Robert Lewandowski juga hanya mencetak rata-rata 0,85 gol per laga. Artinya, dalam 20 laga tersisa musim ini, kemungkinan terbesarnya, dia hanya mengemas 17 gol. Mengingat keharusan mendulang setidaknya 21 gol, butuh lebih dari kerja keras untuk menumbangkan rekor Gerd Mueller.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Lothar Matthaeus: Erling Haaland Sudah Siap Pindah dari Dortmund

gamespool
Lothar Matthaeus: Erling Haaland Sudah Siap Pindah dari Dortmund 101

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Jerman, Lothar Matthaeus, mengklaim bahwa Erling Haaland sudah siap untuk meninggalkan Borussia Dortmund walaupun baru setahun berada di sana. Matthaeus juga menyamakan Haaland dengan Lewandowski.

Haaland bergabung pada Januari lalu dan langsung mencetak 33 gol dari 32 penampilannya untuk klub. Matthaeus merasa Haaland sudah menjadi pemimpin klub walaupun usianya masih 20 tahun.

Mino Raiola - Erling Haaland - Dortmund - Bein Sports 2
Bein Sports

“Erling Haaland adalah kemenangan tidak hanya untuk Dortmund tetapi juga untuk seluruh Bundesliga. Pada usia 20 tahun, dia adalah mesin. Dia adalah seorang striker terbang. Ia membawa energi positif dalam tim sambil juga mencetak gol. Dia tidak tergantikan,” ucap Matthaeus seperti dilansir Football5Star.com dari laman resmi Bundesliga.

Legenda Inter itu melanjutkan, “Erling Haaland dianggap di Dortmund seperti Robert Lewandowski di Bayern, pemain di lini depan yang tidak hanya bertanggung jawab atas gol tetapi juga bertanggung jawab menyeret tim bersamanya. Dia adalah pemimpin di usia 20 tahun. Dia bekerja secara defensif juga, sesuatu yang sangat saya nikmati melihat Robert Lewandowski melakukannya juga. Dia bukan orang yang hanya terus menyerang.”

Matthaeus mengatakan bahwa Haaland pasti akan mengambil langkah yang lebih besar dan kini sudah saatnya walaupun baru setahun di Bundesliga.

“Kepositifan yang dia pancarkan, terpancar di tim itulah sebabnya saya pikir suatu hari nanti, Haaland tidak akan bermain di Dortmund lagi dan akan mengambil langkah selanjutnya. Dia sudah siap dan kami bangga memilikinya di Bundesliga. Dortmund harus senang mendapatkannya karena dia adalah striker yang cocok untuk klub dengan emosi seperti itu,” ujar mantan pelatih timnas Bulgaria itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Dua Kali Lawan Maradona, Ini yang Dirasakan Lothar Matthaeus

gamespool
Dua Kali Lawan Maradona, Ini yang Dirasakan Lothar Matthaeus 105

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain tim nasional Jerman, Lothar Matthaeus mengaku bahwa ia akan selau menyimpan dalam hati kenangan saat melawan Diego Maradona di lapangan hijau. Matthaus pernah dua kali menghadapi Maradona, di Piala Dunia 1986 dan Piala Dunia 1990.

“Itu sangat besar, duel yang hebat. Ini adalah momen yang akan selalu saya bawa di dalam hati saya. Selalu merupakan tantangan saat menghadapinya. Dia telah bersama saya selama separuh hidup saya, dia adalah saingan terbaik saya. Dia meninggal dunia terlalu dini pada usia 60 tahun,” ucap Matthaeus seperti dikutip Football5star.com dari Bild, Senin (30/11/2020).

diego maradona-FansTrobeHQ
@FansTribeHQ

Menurut Matthaeus, Maradona dan bola tidak bisa dipisahkan. Bola menurut Matthaeus seperti mematuhi ke mana Maradona akan berlari. Ia memiliki segalanya sebagai legenda dan pemain hebat.

“Bola akan selalu patuh kepadanya, bahkan saat ia berlari dengan kecepatan tinggi. Sesuatu yang hanya bisa Anda lihat hari ini bersama Messi,”

“Hal terbaik yang bisa Anda lakukan saat melawannya adalah tidak membiarkan dia menguasai bola.”

“Dia memiliki hati yang besar, murah hati. Anda akan merasa seperti dia selalu ada untuk Anda. Ini bukan persahabatan biasa. Hubungan kami didasarkan pada rasa hormat yang besar yang kami miliki satu sama lain,” ucap Matthaus.

“Kami terakhir bertemu di Piala Dunia 2018 di Rusia. Kesan soal dia bagi saya adalah tidak peduli dengan bagaimana dia hidup, yang penting adalah warisannya dan apa yang dia lakukan untuk sepak bola,” tutup mantan pemain Bayern Munich tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Franz Beckenbauer: Maradona itu Menakjubkan dan Bikin Pusing

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Legenda sepak bola Jerman, Franz Beckenbauer, terkejut dan sangat bersedih atas kepergian Diego Maradona untuk selama-lamanya. Dia pun lantas mengenang perjumpaan dengan megabintang Argentina itu. Bagi Der Kaiser, El Diez adalah sosok luar biasa.

Beckenbauer berjumpa untuk kali pertama dengan Maradona pada 1978. Saat itu, Der Kaiser berada pada pengujung karier dengan membela New York Cosmos. Adapun El Diez baru meretas kebintangan dengan membela Argentinos Juniors.

“Setiap tahun, New York Cosmos melakukan perjalanan ke Amerika Selatan. Pada 1978, setelah Piala Dunia, kami melawan timnas U-21 Argentina. melawan Maradona. Itulah kali pertama saya berjumpa dengan dia,” kata Franz Beckenbauer seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1.

Franz Beckenbauer mengakui Diego Maradona sebagai pesepak bola hebat dengan kemampuan istimewa.
intouch.wunderweib.de

Beckenbauer mengaku sangat takjub. “Saya berkata, ini bukan pesepak bola. Ini sih seniman! Penari! Itulah kenyataannya. Saya sama sekali tak pernah melihat sosok seperti dia. Dia itu seorang genius sepanjang masa. Pada 1970-an dan 1980-an, dialah pesepak bola terbaik dunia.”

Pada pertandingan itu, menurut Beckenbauer, New York Cosmos hanya kalah 0-1. Namun, kata dia, seharusnya timnas U-21 Argentina bisa menang besar. “Para pemain Argentina itu terlalu bermurah hati,” ucap dia.

Beckenbauer Salah Taktik

Franz Beckenbauer tak lupa mengungkapkan kenangan menghadapi Diego Maradona saat dia menangani timnas Jerman Barat di Piala Dunia 1986 dan 1990. Pada dua edisi itu, tim asuhan Der Kaiser selalu berjumpa timnas Argentina yang dikapteni Maradona pada partai final. Dia mengaku pusing saat harus menghentikan aksi brilian El Diez.

Tahu persis kehebatan Maradona, Beckenbauer pun membuat taktik tersendiri dalam dua edisi Jerman Barat vs Argentina itu. Namun, pada final 1986, taktiknya itu ternyata salah.

Franz Beckenbauer hanya punya Lothar Matthaeus yang dapat diandalkan mengawal Diego Maradona pada final Piala Dunia 1986.
thesun.co.uk

“Anda tak akan bisa menghentikan dia. Satu-satunya cara adalah man marking. Harus ada yang membayangi dia selama 90 menit. Pemain itu tak perlu melakukan apa pun, cukup mengganggu Maradona,” urai Beckenbauer. “Itulah yang saya lakukan di final Piala Dunia 1986.”

Der Kaiser menambahkan, “Maradona adalah playmaker yang dapat menentukan nasib Argentina sendirian. Pada final, saya ingin ada pemain yang dapat menghadapi dia. Saya hanya punya satu, yaitu Lothar Matthaeus!”

Taktik itu ternyata gagal. Argentina menang 3-2 atas Jerman Barat. Namun, menurut Beckenbauer, itu bukan karena Matthaeus gagal menjalankan tugasnya mengawal Maradona.

“Matthaeus mengawal dia dengan sangat baik. Maradona benar-benar tak tampil seperti biasanya. Namun, di lain sisi, Lothar juga tentu saja tak seefektif biasanya. Itu karena dia terikat pada tugas khususnya tersebut,” ujar Der Kaiser lagi.

Maradona Mati Kutu pada 1990

Takdir kembali mempertemukan Beckenbauer dengan Maradona pada final Piala Dunia 1990. Lagi-lagi, Der Kaiser menerapkan taktik yang sama dengan empat tahun sebelumnya. Namun, belajar dari kesalahan, dia tak mau mengorbankan pemain terbaiknya.

Pada final di Stadion Olimpico, Roma, Beckenbauer tak lagi menugasi Matthaeus mengawal Maradona sepanjang pertandingan. Tugas itu dibebankan kepada Guido Buchwald.

Diego Maradona mampu dimatikan Guido Buchwald pada final Piala Dunia 1990.
stuttgarter-nachrichten.de

“Buchwald sudah disiapkan untuk tugas itu. Boleh dibilang, dia ditakdirkan untuk melakukannya. Saya kembali menerapkan man marking dan Guido Buchwald melakukan tugasnya dengan sangat baik, tentu dengan bantuan pemain-pemain lain,” urai Der Kaiser mengurai kenangannya.

Meskipun demikian, Beckenbauer mengakui kesuksesan mematikan Maradona pada final bukan semata karena kehebatan Buchwald dan timnas Jerman. “Pada 1990, maradona sudah hampir berumur 30 tahun. Jadi, dia tentu saja tak lagi seefektif empat tahun sebelumnya,” ucap dia.

Kini, El Diez sudah meninggal dunia. Franz Beckenbauer pun merasa sangat sedih. “Ini sungguh menyedihkan. Dia itu seorang pesepak bola yang diberkati bakat luar biasa,” ujar Der Kaiser.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Lothar Matthaeus: Loew Butuh 8 Jam Analisis Laga Spanyol vs Jerman

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Selepas kekalahan memalukan 0-6 dari timnas Spanyol, Joachim Loew berjanji akan melakukan analisis terhadap permainan timnas Jerman. Mengenai hal itu, sebuah sindiran dilontarkan pemegang caps terbanyak Die Mannschaft, Lothar Matthaeus.

Menurut Matthaeus, Loew akan membutuhkan banyak waktu untuk menganalisis video laga Spanyol vs Jerman. Pasalnya, permainan Manuel Neuer cs. benar-benar amburadul dan seperti diakui sang pelatih, semua yang dilakukan di lapangan tak ada yang benar.

Matthaeus mengaku belum pernah melihat permainan seburuk Jerman saat dihajar 0-6 oleh Spanyol itu. “Loew tak perlu melakukan analisis kesalahan. Sesi analisis video akan memakan waktu hingga 8 jam!” kata Lothar Matthaeus seperti dikutip Football5Star.com dari Bild.

Lothar Matthaeus menyebut Joachim Loew butuh banyak waktu untuk menganalisis laga Spanyol vs Jerman.
bild.de

Kapten timnas Jerman saat juara Piala Dunia 1990 itu pun memaklumi bila kian banyak tekanan kepada Loew untuk memanggil kembali Thomas Mueller, Jerome Boateng, dan Mats Hummels. Bagaimanapun, kata dia, ketiga pemain itu memang masih dibutuhkan Die Mannschaft.

“Saya tak pernah melihat kegagalan total seperti ini. Diskusi soal Hummels dan Boateng akan berlanjut. Anda butuh para pemain yang juga pemimpin setelah kekalahan seperti ini,” ucap Matthaeus.

Matthaeus Tak Yakin Loew Melunak

Soal Thomas Mueller, Lothar Matthaeus berujar, “Dalam hal kepemimpinan di tim, Mueller seharusnya dipanggil. Namun, saya tidak berpikir Jogi Loew akan mengubah pandangan tentang ketiga pemain itu.”

Timnas Jerman melakukan terlalu banyak kesalahan saat lawan Spanyol sehingga akan menyulitkan Joachim Loew.
Getty Images

Ucapan Matthaeus sangat beralasan. Berharap Joachim Loew mengubah putusan soal Mueller, Hummels, dan Boateng yang telah dipensiunkan secara resmi pada Maret tahun lalu memang hal yang tak terbayangkan. Dalam berbagai kesempatan, pelatih timnas Jerman itu tetap berkeras dengan putusannya.

Bagi Loew, putusan memensiunkan ketiga pemain itu telah final. Dia mengingatkan, putusan tersebut diambil karena dirinya ingin membangun timnas Jerman yang baru dengan para pemain muda. Hingga sebelum kekalahan telak 0-6 dari Spanyol, dia tetap yakin putusannya tidak keliru.

Lothar Matthaeus juga tentu menyimak kata-kata Loew selepas laga Spanyol vs Jerman. Sang pelatih menilai para pemain yang ada di skuat Die Mannschaft saat ini sudah bagus. “Ini bukan soal kualitas individual pemain. Kami punya tim yang mampu berbuat sesuatu,” kata dia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]