Di Canio: Cristiano Ronaldo Lebih Cocok Main sebagai Winger

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Cristiano Ronaldo menurut mantan striker West Ham United, Paolo di Canio lebih cocok ditempatkan pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer di sektor sayap kiri permainan.

Menjadi winger kiri ialah peran yang dimainkan Cristiano Ronaldo di musim pertamanya bersama Manchester United. Menurut Di Canio, jika Ronaldo kembali bermain di winger kiri, pemain Portugal itu akan mampu memberikan kontribusi besar untuk United musim ini.

Model Natacha Rodriguez Masih Sakit Hati dengan Cristiano Ronaldo

“Ronaldo akan meningkatkan level teknisnya, tetapi dia bergabung dengan tim yang memiliki banyak striker dan pemain sayap,” ucap Di Canio di podcast The Box seperti dikutip Football5star.com dari La Gazzetta dello Sport, Selasa (7/9/2021).

“Solskjaer mengatakan dia ingin menempatkan Ronaldo sebagai penyerang tengah, tetapi Ronaldo tidak melakukannya dengan maksimal di Juventus,”

Penjualan Jersi Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor Klub (The Sport Review)

“Saya masih melihatnya bermain di sisi kiri, tetapi United memiliki pemain lain di posisi sama, termasuk Sancho, yang dibayar 85 juta euro, tetapi sejauh ini kesulitan untuk berapatasi,”

Cristiano Ronaldo Ingin Ditempatkan sebagai Penyerang Tengah

Sebelumnya, pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer mengaku ingin menempatkan Cristiano Ronaldo sebagai penyerang tengah.

“Dia dulu bermain melebar ke kanan, melebar ke kiri, di depan. Tapi dia lebih seperti penyerang tengah bagi saya saat ini,” ucap pelatih asal Norwegia tersebut.

Cristiano Ronaldo Lebih Cocok di Manchester United Dibanding di Juventus - Edinson Cavani

“Tapi akan ada pertandingan di mana kami bermain dua di depan dan tiga di depan. Tapi saya ingin dia di dalam kotak penalti. Saya ingin dia mencetak gol.” tambah Solskjaer.

Jika mengacu pada data statistik, Ronaldo faktanya memang lebih banyak mencetak gol saat ditempatkan sebagai winger kiri. Dari 394 laga sebagai winger kiri, Ronaldo mencetak 365 gol dan 122 assist.

Sedangkan saat ditempatkan sebagai penyerang tengah, Ronaldo mencetak 172 gol dan 54 assist dari 194 pertandingan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Manchester United Sebenarnya Tak Butuh Ronaldo

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Manchester United menjadikan Cristiano Ronaldo sebagai rekrutan terakhir musim panas ini. Kembalinya sang mega bintang memunculkan banyak reaksi.

Salah satunya dari mantan pemain timnas Italia, Paolo Di Canio. Ia melihat kedatangan kapten timnas Portugal hanya bagus dari sisi ekonomi saja.

Manchester United
@ManUtd

Paolo Di Canio meyakini Manchester United sejatinya tidak terlalu membutuhkan Ronaldo. Tapi dari semua sisi ia melihat transfer ini bagus untuk klub dan pemain.

“Saya harus mempertimbangkan semuanya. Ini langkah yang bagus untuk ekonomi, untuk visibilitas Ronaldo dan klub. Tapi mereka tidak benar-benar membutuhkannya. Musim terakhirnya di Juventus sangat bagus, tapi seorang juara perlu trofi,” ungkap Di Canio kepada Gazzetta dello Sport, Jumat (3/9/2021).

Manchester United 


Paolo di Canio - West Ham - The Laziali
The Laziali

“United adalah tim terbaik baginya karena semua orang mencintainya di klub. Fan tidak melihat usianya, dia adalah ikon. Ini investasi jangka pendek dan saya lihat Solskjaer sangat bahagia,” ia menambahkan.

Manchester United Jadikan Ronaldo Striker Utama?

Cristiano Ronaldo telah resmi jadi pemilik nomor tujuh yang sebelumnya dipakai Edinson Cavani. Kini yang menjadi pertanyaan adalah di mana ia akan ditempatkan.

Selama ini posisi  CR7 terus berubah. Pada awal kariernya ia diandalkan sebagai winger. Peran tersebut diemban sampai memakai seragam Real Madrid.

Akan tetapi sejak membela Juventus ia bertransformasi sebagai striker utama. Hal tersebut sepertinya akan dilanjutkan Ole Gunnar Solskjaer.

manchester united


Carlo ancelotti - Cristiano ronaldo - Axios
Axios

Paolo Di Canio menilai rencana Solskjaer yang ingin menempatkannya sebagai striker tengah kurang efektif. Dia percaya Ronaldo tidak akan setuju dengan rencana tersebut.

“Dia akan meningkatkan level teknis United. Tapi dia bergabung dengan tim yang sudah punya banyak striker dan pemain sayap,” tegasnya.

“Solskjer mengatakan dia melihatnya sebagai penyerang tengah. Tapi Ronald tidak ingin melakukannya. Saya masih melihatnya sebagai sayap kiri yang menginginkan gol,” tutup Di Canio.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Paolo Di Canio: Pemain Inter Harus Mau Gajinya Dipotong

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Krisis finansial yang dialami Inter Milan memaksa manajemen akan memotong gaji para pemainnya. Keputusan ini rupanya mendapat dukungan dari eks Lazio, Paolo Di Canio.

Keberhasilan Inter Milan memenangkan scudetto musim ini menyisakan sedikit ironi. Suning selaku pemilik klub mengalami masalah keuangan. Mereka bahkan sampai membubarkan klubnya di Cina, Jiangsu Suning.

Bagi Paolo Di Canio keputusan pemotongan gaji harus dilakukan. Dan pemain harus menerimnya sebagai bentuk bantuan untuk klub yang telah membayar mereka selama ini.

polo di canio-pri
PRI

“Saya pasti akan menerima pemotongan gaji jika klub sedang kesulitan. Itu sangat adil untuk kita saling membantu,” ungkap Paolo Di Canio kepada Sky Sport Italia seperti dikutip Football5star dari Football Italia, Selasa (11/5/2021).

“Pesepak bola miliki keistimewaan dan menghasilkan banyak uang. Memang sangat disayangkan pemotongan gaji dilakukan setelah Anda memenangkan gelar, tapi itu harus diterima pemain. kita harus memakai akal sehat,” sambung Paolo Di Canio.

Menurut laporan Gazzetta dello Sport, I Nerazzurri akan menekan beban operasional klub sekitar 15 persen hingga 20 persen. Bukan hanya gaji pemain yang akan dipotong. Kebijakan transfer untuk mengarungi musim depan juga akan berpengaruh.

Selain itu, pemain yang minim kontribusi dan bergaji besar akan dilepas Inter akhir musim ini. Nama-nama yang hampir pasti jadi korban adalah Arturo Vidal, Aleksandar Kolarov, serta Ashley Young.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Real Madrid vs Chelsea: Sindiran Keras untuk Timo Werner

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Timo Werner kembali menjadi buah bibir pada laga Real Madrid vs Chelsea, Rabu (28/4/2021) dinihari WIB. Di stadion Alfredo Di Stefano dia kembali gagal cetak gol.

Padahal Timo Werner memperoleh peluang emas di awal pertandingan. Sudah berdiri tanpa kawalan di mulut gawang Real Madrid, ia gagal mencetak gol.

Sontekan sang bomber masih tepat mengarah ke Thibaut Courtois. Kegagalannya ini pun membuat eks West Ham United, Paolo Di Canio, kesal. Dia menyebut eks RB Leipzig seperti sedang bermain dengan teman-temannya.

Paolo di Canio - West Ham - Manchester United - Getty Images
Getty Images

“Sikapnya salah. Ini bukan penyelesaian yang Anda harapkan dari pemain penting. sepertinya dia sedang bermain game dengan teman-temannya,” tegas Di Canio seperti dikutip Football5star dari Sky Sport Italia, Rabu (28/4/2021).

“Terkadang rekan satu timnya bisa melayaninya sedikit lebih baik. tapi pergerakannya tidak meyakinkan dan seringkali dia tidak berada di posisi yang tepat. Werner pemain yang sangat cepat tapi dia terlalu heboh sendiri,” ia menambahkan.

Kembali membuang peluang emas menyisakan catatan negatif untuk bomber Chelsea. Dia jadi pemain Premier League yang paling banyak membuang peluang di liga dan Liga Champions musim ini.

Seperti dikutip Football5star dari Squawka, Timo Werner mencatatkan 29 peluang emas untuk mencetak gol. Tapi apa mau di kata, 21 di antaranya gagal berbuah gol.

[better-ads type=’banner’ banner=’156436′ ]

Paolo Di Canio: Christian Eriksen Pemain Malas

terassd
Paolo Di Canio: Christian Eriksen Pemain Malas 20

Football5Star.com, Indonesia – Mantan pemain Lazio, Paolo Di Canio menyebut bahwa pemain baru Inter Milan, Christian Eriksen, adalah pemain pemalas. Ini untuk kesekian kalinya Di Canio mengkritisi pemain asal Denmark itu.

Walaupun begitu, Di Canio percaya bahwa jika Antonio Conte memakai Eriksen dengan tepat, dia akan menjadi pemain yang bagus untuk Inter.

“Aku akan memberitahumu, Inter mengambil pemain yang malas. Eriksen adalah pemalas, bagi yang belum tahu. Dia suka berlari dengan bola, dia kembali ke posisi hanya untuk menghormati instruksi dari pelatih. Jika sekarang Conte tidak menggunakannya di laga dengan ritme yang sangat rendah, dia tidak akan melakukannya lagi,” ucap Di Canio seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

Borja Valero Christian Eriksen Masih Butuh Waktu
FedeNerrazzurra

Mantan pemain West Ham itu mengatakan bahwa Eriksen lebih berguna jika dimainkan sebagai super-sub.

“Sebagai pemain yang bermain di belakang penyerang, dia bisa membuat perbedaan, dia punya skill yang pemain Inter lainnya tidak punya. Shooting, assist, dribble. Dia lebih baik bermain pada babak kedua,” kata Di Canio.

Pada Maret lalu, Di Canio juga sempat menyebut bahwa Eriksen bukan pemain yang cocok dengan gaya main Conte.

“Antonio ingin Vidal, tapi dia mendapatkan pemain yang berbeda (Eriksen). Dia bukan pemain buruk, Eriksen pemain elegan, Tapi dia lebih cocok bermain bersama (Mauricio) Pochettino. Di Inter, setelah dua laga melawan Ludogorets sebagai starter, Conte mencadangkannya saat melawan Juve. Saya mengatakan bahwa dia tidak cocok, walaupun saya berharap saya salah,” kata Di Canio.

Christian Eriksen total bermain 8 kali untuk Nerazzurri dan hanya mencatatkan 1 gol dan 1 assist.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya

terassd
Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya 28

Football5Star.com, Indonesia – Pemain yang bersinar bersama klubnya biasanya pasti akan dipanggil untuk memperkuat timnas atau negaranya. Tapi tidak dengan pemain-pemain ini.

Banyak alasan kenapa pemain-pemain itu tidak dipanggil. Entah karena tidak cocok dengan taktik pelatih timnasnya, banyaknya pemain yang lebih bagus darinya, atau melakukan hal yang kontroversial. Berikut daftar pesepak bola hebat yang tidak pernah memperkuat timnas.

Aymeric Laporte (Prancis)

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya
Bleacher Report

Laporte merupakan salah satu bek termahal di dunia saat ini. Manchester City membelinya dari Athletic Bolbao dengan harga 57 juta pounds, dan dia selalu menjadi andalan Pep Guardiola di lini belakang The Cityzens. Dia bahkan masuk ke dalam PFA Team Of The Year musim 2018-19.

Dia sebenarnya sempat dipanggil pada bulan Agustus untuk melakoni kualifikasi Euro 2020 bersama Prancis, tetapi sayangnya dia menderita cedera lutut. Tapi toh, panggilan timnas Laporte juga dinilai cukup telat karena dia sudah menjadi pilar utama City sejak 2018.

Steve Bruce (Inggris)

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya
Pinterest

Legenda dan mantan kapten Manchester United, Steve Bruce, memenangkan total 12 gelar bersama The Red Devils. Tapi dia tidak pernah sekalipun memperkuat timnas Inggris. Dia sebenarnya pernah sekali memperkuat The Three Lions, tapi itu adalah tim Inggris B.

Alasan pastinya pun tidak diketahui. Yang pasti Bruce memang bisa dibilang telat untuk bersinar di karier klubnya. Dia baru bermain di klub besar (Manchester United) saat usianya 27. Dan dia baru bersinar di usia 31 saat berduet dengan Garry Pallister dan memenangkan Piala Winners.

Paolo Di Canio (Italia)

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya
The Sun

Sama seperti Steve Bruce, Di Canio sebenarnya pernah memperkuat Italia, tapi itu adalah Italia B. Di Canio memulai kariernya dari Lazio, lalu ke Juventus, dan ke AC Milan. Tapi kariernya dia mulai benar-benar bersinar saat memperkuat West Ham United.

Alasan karena dia tidak pernah dipanggil timnas Italia, karena pandangan politiknya. Di Canio merupakan seorang fasisme dan pendukung diktator Benito Mussolini. Dia pernah menggunakan Roman Salute saat dia memperkuat Lazio. Dia bahkan pernah dipecat dari pekerjaan pundit di Sky Sports Italia karena memperlihatkan tato ‘DUX’ yang berarti Il Duce suatu bentuk dukungan kepada Benito Mussolini.

Gabi (Spanyol)

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya
Bleacher Report

Gabi dijuluki eterno capitan atau kapten abadi oleh fans Atletico Madrid. Walaupun performa Gabi bisa dibilang cukup telat untuk bersinar. Saat Euro 2008, 2012 dan Piala Dunia 2010, tidak ada harapan bagi Gabi karena saat itu lini tengah timnas Spanyol diisi oleh Xavi, Iniesta, Cesc Fabregas, Sergio Busquets dll. Dia baru benar-benar dipandang setelah era Diego Simeone.

Banyak yang bilang bahwa dia seharusnya dipanggil ke Piala Dunia 2014, karena performanya yang bisa membawa Los Rojiblancos juara La Liga dan runner-up Liga Champions. Tapi pelatih Vicente Del Bosque masih memanggil nama-nama lama dan lebih memilih Koke dari Atletico karena usianya yang jauh lebih muda.

Stefan Klos (Jerman)

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Membela Timnasnya
Daily Record

Stefan Klos merupakan salah satu kiper terbaik pada masanya. Dia menjadi kiper utama Borussia Dortmund sejak 1990-1998. Dia memenangkan 4 gelar, 2 Bundesliga, 1 Liga Champions, dan 1 Piala Interkontinental. Bahkan setelah pindah ke Rangers di tahun 1998 dia masih menjadi kiper utama dan memenangkan 8 gelar domestik.

Tapi di timnas Jerman, dia harus bersaing dengan tiga kiper. Bodo Illgner yang merupakan kiper utama Jerman saat menang Piala Dunia 1990. Andreas Kopke, kiper terbaik Eropa 1996 dan pemenang Euro 1996. Saat kedua kiper itu sudah termakan usia. Jerman malah menemukan kiper baru bernama Oliver Kahn.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Selebrasi Kontroversial yang Berujung Hukuman

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Berselebrasi saat mencetak gol adalah bentuk kegembiraan bagi semua pesepak bola. Hampir tidak ada dari mereka yang tidak meluapkan kegembiraan ketika berhasil membobol gawang lawan.

Bagi seorang pemain, mencetak gol adalah puncak dari kegembiraan selama 90 menit berada di lapangan. Tidak peduli di posisi apa mereka bermain, gol tetaplah menjadi tujuan utama dan penentu sebuah laga.

Banyak pula cara pelaku si kulit bundar meluapkan kegembiraan saat mencetak gol. Ada yang merayakannya bersama rekan setim, para penggemar, atau dengan cara salto seperti Obafemi Martins maupun Pierre-Emerick Aubameyang.

Namun, tidak sedikit pemain yang berselebrasi secara berlebihan yang menuai kontroversi. Hasilnya, hukuman pun sudah menunggu mereka.

Football5star telah merangkum lima selebrasi kontroversial yang berujung hukuman:

  • Salam Ala Nazi Paolo Di Canio
polo di canio-pri
PRI

Mungkin pemain pertama yang melakukan selebrasi kontroversi adalah Paulo Di Canio. Bagaimana tidak, secara mengejutkan ia berselebrasi salam ala Nazi ketika masih memperkuat Lazio.

Momen tersebut terjadi 2005 silam saat laga Lazio melawan Juventus di Stadion Olimpico. Paulo Di Canio yang memiliki tempramental tinggi sukses membobol gawang Gianluigi Buffon.

Ia pun secara emosional berlari ke arah ultras Lazio sembari membentangkan tangan kanan ke atas yang belakangan diketahui sebagai salam hormat ala Nazi. Akibat aksinya itu, Di Canio pun dihukum larangan satu pertandingan dan denda sebesar 10 ribu euro.

  • Giorgos Katidis
katidis nazi
spectacor.co.uk

Pemain asal Yunani, Giorgos Katidis sepertinya tidak belajar dari kasus Paulo Di Canio. Bayangkan saja, ia melakukan hal yang sama saat mencetak gol. Salam ala Nazi Katidis dilakukan saat mencetak gol untuk timnya, AEK Athena, saat menjamu PAOK Saloniki 2012 lalu.

Kesialan pun langsung menimpa Giorgios Katidis. Ia bukan hanya dilarang bermain dalam lima pertandingan bersama AEK Athena, tapi juga dilarang membela timnas Yunani seumur hidup.

Sejatinya sang gelandang sudah meminta maaf terkait perilakunya tersebut. Namun, tetap saja federasi sepak bola Yunani tidak memaafkannya.

  • Menghisap Kokain Ala Robbie Fowler
robbie fowler-the telegraph
The Telegraph

Legenda Liverpool, Robbie Fowler, dikenal sebagai pemain santun dan jarang membuat masalah. Namun, apa yang dilakukan 1999 silam mengejutkan banyak pihak. Ia melakukan selebrasi seolah-olah sedang menghisap kokain di pinggir lapangan.

Ketika itu ia sukses membobol gawang Everton dan langsung berlari ke pinggir lapangan. Di atas garis putih sebagai pembatas lapangan, Robbie Fowler menghunuskan hidungnya seolah-olah sedang menghisap kokain.

Bukan tanpa alasan ia melakukan aksinya itu. Beberapa hari sebelum pertandingan ia dituduh sebagai pengguna kokain. Kendati begitu, alasan tersebut tidak mampu menghindarkannya dari hukuman. Dirinya pun dihukum larangan bermain di empat pertandingan dan harus membayar denda sebesar 60 ribu pounds.

  • Selebrasi Politis Xherdan Shaqiri dan Granit Xhaka
Xherdan Shaqiri, Granit Xhaka, football5star
Zimbio

Laga kedua Piala Dunia 2018 di Grup E mendadak ramai di media sosial. Tensi pertandingan Serbia vs Swiss memanas saat Granit Xhaka mencetak gol. Bagaimana tidak, Xhaka melakukan selebrasi berbau politis yang bisa membuat hubungan dua negara tetangga, Serbia dan Albania memanas.

Ia berselebrasi dengan menyilangkan dua tangan di dada. Belakangan diketahui bahwa itu merupakan simbol negara Albania, yang merupakan tanah leluruh Xhaka. Kejadian itu ternyata tidak terjadi sekali. Saat Xherdan Shaqiri mencetak gol kemenangan di penghujung laga ia pun melakukan hal yang sama.

Selebrasi keduanya sempat membuat para pemain Serbia melakukan protes. Mereka sadar dengan apa yang dilakukan dua bintang Swiss tersebut. Berselang beberapa hari, FIFA pun mengeluarkan hukuman larangan bertanding dalam tiga pertandingan untuk keduanya.

  • Gestur Quenelle Anelka yang Mengundang Tanda Tanya
nicolas anelka fourfourtwo
FourFourTwo

Nicolas Anelka dikenal sebagai pemain yang mempunya ciri khas saat melakukan selebrasi. Ia selalu menyilangkan kedua tangannya di dada. Namun, ada satu laga yang membuat dia meninggalkan kebiasaannya tersebut.

Momen itu tejadi saat ia berseragam West Bromwich Albion 2013 lalu. Ketika mencetak gol melawan West Ham, ia merayakannya dengan menyilangkan tangan kiri ke tangan tangan kanannya. Bagi sebagian orang itu diyakini sebagai gestur quenelle yang berbau anti-semit.

Akibatnya, pemain yang telah membela 13 klub berbeda mendapat hukuman berat. FA menghukumnya larangan tiga pertandingan dan denda 40 ribu pounds. Hukuman ini pun ditolak mentah-mentah oleh Anelka. Ia menegaskan bahwa selebrasi itu bukan gestur anti-semit, melainkan dipersembahkan untuk sang sahabat, Dieudonna M’Bala.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Terungkap! Legenda Lazio Pernah Tolak Pinangan Manchester United

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Legenda Lazio, Paolo Di Canio, ternyata sempat menolak tawaran untuk membela Manchester United pada tahun 2001 silam. Ketika itu, Di Canio masih bermain untuk West Ham United dan menyandang status sebagai kapten.

Di Canio menolak tawaran yang diajukan Manchester United karena tak kuasa meninggalkan The Hammers. Atas penolakan tersebut, Di Canio malah mendapatkan respek yang cukup tinggi dari Sir Alex Ferguson.

“Rasanya aneh karena saya berani menolak tawaran dari Sir Alex. Ketika itu, saya mengatakan terima kasih banyak karena sudah memberikan tawaran. Tapi, West Ham sudah seperti keluarga untuk saya. Selain itu, saya juga menjadi kapten tim,” ujar Paolo Di Canio seperti kepada Sky Sports.

Paolo di Canio - West Ham - Manchester United - Getty Images
Getty Images

“Setelah itu, Sir Alex mengatakan ‘Saya sangat menghargai keputusanmu dan menyukai cara berpikirmu. Kamu adalah benar-benar orang seperti yang saya sudah kira,” sambung Di Canio menambahkan.

Di Canio sendiri mengaku tak menyesal sudah menolak tawaran dari Manchester United. Ia bahkan mengatakan kalau pengalamannya bersama The Hammers takkan bisa digantikan dengan meraih gelar juara bersama The Red Devils.

“Pada akhirnya, saya tetap bertahan di West Ham dan tak menyesal sudah menolak tawaran itu. Pengalaman selama empat setengah tahun bermain di West Ham takkan bisa digantikan oleh gelar juara liga,” tandas pria berumur 51 tahun itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Paolo Di Canio: PSG dan Mauro Icardi Jodoh yang Sangat Tepat

Banner live dan podcast baru

Football5Star.com, Indonesia – Putusan Mauro Icardi bergabung dengan Paris Saint-Germain (PSG) sebagai pemain pinjaman masih mendapat perhatian dari tokoh-tokoh sepak bola Italia. Terbaru, Paolo Di Canio menyebut hal itu sebagai perjodohan yang sangat tepat.

Pria berumur 51 tahun tersebut mengungkapkan hal itu bukan dalam rangka memuji. Sebaliknya, dia mencibir Mauro Icardi yang dinilai sebagai contoh pemain buruk. Dia sangat tak menyukai sikap pemain timnas Argentina itu.

“Dia di PSG? Saya tak terkejut sama sekali. Klub Prancis itu memang tempat bagi para juara yang tak memiliki disiplin,” ungkap Paolo Di Canio kepada Il Mattino seperti dikutip Football5Star.com dari Ita Sport Press.

Mauro Icardi disebut Paolo Di Canio cocok bergabung dengan PSG.
calciotoday.it

Mantan bintang West Ham United itu lantas membahas rumor yang sempat mengaitkan Mauro Icardi dengan Napoli. Dia yakin hal itu hanya isapan jempol karena merasa mustahil pelatih Carlo Ancelotti menginginkan pemain Inter Milan itu.

“Apakah benar Carlo menginginkan seseorang seperti dia yang tak mau meminta maaf kepada teman-temanya karena menuruti omongan istri yang juga manajernya?” kata Paolo Di Canio dengan ketus.

Pria yang juga sempat menjulang bersama Lazio itu menambahkan, “Dari sudut pandang teknis, Ancelotti butuh striker imajinatif seperti (Dries) Mertens. Icardi hanya mencetak gol ketika bola diberikan dari belakang. Sisanya, dia tak dapat melakukan hal yang dituntut dari setriker modern. Jika tak mencetak gol, dia tak dapat membantu timnya.”

Paolo Di Canio justru senang Napoli mendatangkan Fernando Llorente secara gratis dari Tottenham Hotspur. “Dia lebih baik dari Icardi,” kata pria berumur 51 tahun itu. “Llorente menunjukkan karakter ketika mengambil alih peran Harry Kane yang cedera. Dia menunjukkan kerendahan hati dan determinasi tinggi meski begitu lama menjadi pemain cadangan.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Di Canio Peringatkan Sarri untuk Waspada terhadap Hazard

Banner Footbal Live Star-Football5star

Football5Star.com, Indonesia – Mantan pesepak bola, Paolo Di Canio, mengomentari penunjukkan Maurizio Sarri sebagai manajer baru Chelsea. Menurut Di Canio, Sarri harus meningkatkan jiwa kepemimpinannya dan berhati-hati kepada Eden Hazard.

Chelsea telah resmi mengumumkan Maurizio Sarri sebagai manajer baru. Sarri mendapat kontrak tiga tahun di Chelsea atau berakhir pada 2021. Eks pelatih Napoli itu mengambil alih posisi nakhoda Chelsea yang ditinggalkan oleh Antonio Conte.

Mantan pemain Napoli, Paolo Di Canio, angkat bicara soal penunjukan Sarri sebagai pelatih baru Chelsea. Di mata Di Canio, Sarri harus meningkatkan kemampuannya melatih tim besar Eropa seperti Chelsea. Pasalnya, Sarri tak memiliki pengalaman melatih tim elite sebelum Napoli.

“Saya penasaran bagaimana Sarri akan mentransmisikan idenya ke Chelsea. Dia masih harus mengembangkan ilmu manajemen untuk menangani tim besar seperti Chelsea,” kata Di Canio seperti dilansir Football5Star.com dari OmniSport.

Maurizio Sarri chelseafc.com
chelseafc.com

Selain itu, Di Canio juga melihat Eden Hazard sebagai pemain yang berpotensi mengganggu kinerja Sarri di Chelsea. Pria 50 tahun itu menilai Hazard lebih suka bermain multiposisi, sementara Sarri ingin pemainnya mendapat peran spesifik.

“Pemain seperti Eden Hazard gemar bermain bebas di seluruh area pertandingan, tapi yang kita tahu Sarri ingin para pemain memiliki peran masing-masing di tim. Sarri harus memecahkan masalah itu,” tutur Di Canio.

Sebelum menghadapi persoalan itu, Sarri dihadapkan pada bursa transfer di mana Hazard dikaitkan dengan tim raksasa Spanyol, Real Madrid. Hazard dikabarkan menjadi buruan Los Blancos untuk menggantikan peran Cristiano Ronaldo yang hengkang ke Juventus.

Sang pemain sendiri tak menutup kemungkinan untuk hengkang dari The Blues. Setelah mengantarkan timnas Belgia merebut posisi ketiga di Piala Dunia 2018, Hazard mengirimkan sinyal bakal angkat kaki.

Di Canio Nilai Sarri Mirip Dengan Guardiola

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain Lazio, Paolo di Canio, mengatakan bahwa pelatih Napoli, Maurizio Sarri sama seperti manajer Manchester City, Pep Guardiola. Hal itu ia katakan jelang pertemuan kedua klub tersebut pada matchday keempat Liga Champions, Kamis (2/11/2017).

Paolo di Canio, West Ham United (zimbio.com)
zimbio.com

Menurut di Canio, Sarri memiliki kesamaan dengan Guardiola terkait cara menyajikan permainan dalam sepak bola. permainan cepat dan indah. Bahkan kedua tim yang mereka besut juga punya catatan gol yang tinggi di liga domestik masing-masing.

Napoli memuncaki klasemen sementara Liga Italia dengan meraih 31 poin dengan mencetak sebanyak 32 gol dari sepuluh pertandingan. Sedangkan Man. City, yang juga kokoh di puncak klasemen Liga Inggris, mengoleksi 35 gol dan 28 poin.

“Apakah Maurizio Sarri sama seperti Guardiola? Tentu, iya. Dari segi cara mereka berpikir tentang sepak bola,” ujar di Canio dikutip dari Football Italia, Selasa (31/10/2017).

“Dengan permainan seperti itu dan intensitas dan kualitas tinggi. Lalu juga ketepatan dalam bagaimana mereka bergerak. Disiplin besar para pemain dalam bekerja sama satu sama lain,” imbuh pria yang gantung sepatu pada 2008 lalu itu.

Berada di satu grup yang sama, The Citizens memuncaki klasemen sementara grup F Liga Champions dengan membukukan sembilan poin. Sedangkan Napoli yang memiliki poin tiga bercokol di posisi ketiga.

Di Canio: Manchester City Punya Permainan Terbaik di Eropa

Football5star.com, Indonesia – Eks penyerang West Ham United, Paolo di Canio, memuji penampilan Manchester City dan menganggap klub tersebut memiliki permainan terbaik di Eropa saat ini. Apresiasi itu ia lontarkan karena kagum akan permainan indah nan produktif yang Sergio Aguero dkk sajikan.

Paolo di Canio, West Ham United (zimbio.com)
zimbio.com

Pujian di Canio itu nampaknya tak berlebihan, The Citizens musim ini jadi tim yang paling banyak membuat gol di antara lima liga top Eropa. Total hingga pekan kesepuluh, tim besutan Pep Guardiola itu membukukan 35 gol. Hal itu membuat mereka kokoh di puncak klasemen Liga Inggris.

Menurut di Canio, Guardiola sanggup memanfaatkan potensi pemain dalam timnya. Mantan pelatih Bayern Munich itu dinilai mampu menggabungkan segala kombinasi dalam tim dan membentuknya sebagai sebuah permainan yang indah.

“Manchester City memiliki permainan terbaik di sepak bola Eropa,” puji di Canio kepada koran Il Mattino, Selasa (31/10/2017).

“Mereka memindahkan bola dengan cepat. Dengan kualitas hebat dan bakat hebat pemain yang menginginkan bola di celah yang kosang, bukan hanya di kaki mereka. Itu berarti mereka sangat memiliki intensitas tinggi, seperti yang harus anda lakukan di Inggris,” imbuhnya.

Man. City selanjutnya akan bertandang ke Stadion San Paolo menghadapi Napoli pada matchday keempat Liga Champions, Kamis (2/11/2017).

Ronaldo Ikuti Jejak Barton, Suarez, dan Di Canio

Football5Star.com, Indonesia – Megabintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, resmi dijatuhi hukuman larangan bermain lima laga. Hukuman itu didapatkan sebagai konsekuensi dari kartu merah dan ulahnya mendorong wasit Ricardo de Burgos Bengoetxea.

Hukuman ini sekaligus menyejajarkan Ronaldo dengan pemain bola lainnya seperti Joe Barton, Luis Suarez, dan Paolo Di Canio yang pernah dijatuhi sanksi lama akibat berbagai kasus di dalam lapangan.

Joe Barton

Barton pernah dijatuhi hukuman 12 pertandingan saat pemain Inggris tersebut terlibat keributan dengan pemain Man City, Carlos Tevez dan Sergio Aguero, saat dirinya masih memperkuat Queens Park Rangers.

Luis Suarez

Selain Barton, nama Luis Suarez cukup dekat dengan hukuman. Saat membela Liverpool, ia beberapa kali menerima perlakuan tersebut. Salah satunya adalah larangan 10 pertandingan saat pemain Uruguay ini ketahuan menggigit pemain Chelsea, Branislav Ivanovic, pada 2013.

Paolo Di Canio

Nama Paolo Di Canio sangat terkenal pada masanya. Selain memiliki talenta luar biasa, perilaku pemain Italia tersebut tak jarang menjadi pusat perhatian. Seperti yang pernah ia tunjukkan saat masih membela Sheffield Wednesday.

Hampir sama dengan yang dialami Ronaldo, Di Canio mendapat kartu merah ketika mendorong wasit, Paul Alcock, yang ketika itu memimpin laga Sheffield melawan Arsenal. Ia pun dihukum 11 pertandingan.

Sejatinya, Larangan lima pertandingan membela Madrid yang diterima Ronaldo lebih ringan dari tuntutan tertinggi terhadap pelanggaran tersebut yang mencapai 12 laga. selain itu, pemain 32 tahun itu pun diberi kesempatan untuk banding selama 10 hari ke depan.

Berita Bola: “Kiper Seperti Donnarumma Hanya Lahir 50 Tahun Sekali”

Legenda sepak bola Italia, Paolo Di Canio, memberikan sanjungan kepada kiper muda AC Milan, Gianluigi Donnarumma, yang diyakininya akan menjadi penerus Gianluigi Buffon di tim nasional.

Sejak menjalani debut bersama Milan musim lalu, nama Donnarumma memang terus menjadi bahan perbincangan oleh publik Italia. Di umurnya yang baru 17 tahun, kemampuannya sudah diakui oleh banyak pihak. Ia bahkan telah menjalani debut bersama Gli Azzurri ketika menghadapi Prancis dalam laga uji coba pada Jumat (2/9).

Di Canio mengaku terkesan dengan potensi yang dimiliki oleh sang penjaga gawang. Ia meyakini Donnarumma memiliki masa depan yang cerah, termasuk menggantikan Buffon sebagai kiper andalan timnas Italia.

Legenda Lazio tersebut juga tidak lupa memberikan pujian kepada mantan pelatih Il Diavolo, Sinisa Mihajlovic, yang bertanggung jawab memberikan debut kepada Donnarumma di tim senior.

“Ia terlihat pintar dan dapat menjaga emosi. Ia memiliki kualitas yang luar biasa,” ujar Di Canio seperti yang dikutip oleh Football Italia.

“Mihajlovic melalukan pekerjaan yang sangat baik dengan segera memainkannya di sepak bola ‘dewasa’. Ia seperti titisan dewa. Jika ia terus seperti ini, maka ia akan menjadi penerus yang alami dari Gigi Buffon.”

“Kiper seperti Donnarumma hanya lahir setiap 50 tahun sekali. Milan memiliki kiper yang tangguh di dalam dirinya,” tambah mantan penggawa West Ham United tersebut.

Hasil pertandingan melawan Prancis sendiri tidak berakhir memuaskan. Skuat asuhan pelatih Giampiero Ventura kalah 3-1 dari sang finalis Piala Eropa 2016.

Berita Bola: Di Canio Yakin Montella Bawa AC Milan Bangkit

Pelatih Vincenzo Montella diklaim merupakan sosok yang tepat untuk membuat AC Milan bangkit. Hal ini diungkapkan oleh legenda Lazio, Paolo Di Canio.

Montella ditunjuk sebagai pelatih Milan untuk menggantikan Sinisa Mihajlovic yang dipecat pada pengujung musim lalu.

Menurut Di Canio, pria berumur 42 tahun tersebut memiliki kapasitas untuk membawa Rossoneri kembali ditakuti. Salah satu contohnya adalah ketika Milan menghadapi Napoli dalam laga lanjutan Serie A akhir pekan lalu.

Kendati pertandingan berakhir berakhir dengan skor 4-2 untuk kemenangan Napoli, Di Canio melihat Milan telah berkembang di tangan Montella.

“Anda bisa melihat dampak dari Montella. Tim ini sekarang memiliki gaya bermain yang lebih positif dan menyerang. Meski terkadang hanya terlihat selama 20 menit, tetapi Milan bisa mengembangkannya dari hal tersebut,” ujar Di Canio seperti yang dikutip oleh Football Italia.

“Dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada tim yang mampu mendominasi Napoli di San Paolo seperti yang Milan lakukan akhir pekan lalu. Tentu saja, mereka masih harus bekerja untuk menemukan keseimbangan. Kemasukan enam gol dalam dua pertandingan terlalu banyak.”

“Aku yakin Montella juga mengetahui hal tersebut karena anda tidak selalu bisa menang dengan keunggulan satu gol. Ia adalah seseorang yang pintar dan anda bisa melihat identitasnya di tim ini,” tambah dirinya.

Selepas jeda internasional, Milan akan menjamu Udinese di Giuseppe Meazza pada 11 September mendatang.

“Payet Termasuk Pembelian Terbaik Premier League Musim Ini”

Legenda West Ham United, Paolo Di Canio, menilai bahwa Dimitri Payet adalah salah satu pembelian terbaik klub Premier League musim ini.

Payet didatangkan oleh West Ham dari Olympique Marseille pada bursa transfer musim panas dengan nilai transfer sekitar 11,5 juta Poundsterling.

Pada musim pertamanya bersama The Hammers, Payet langsung berhasil mencuri perhatian publik Boleyn Ground dengan 11 gol dan 11 assist dari 30 laga di seluruh kompetisi.

Khusus di Premier League, pemain berumur 29 tahun tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan West Ham bersaing di papan atas dengan delapan gol dan delapan assist dari 23 pertandingan.

Di Canio, yang menyumbangkan 47 gol di Premier League ketika membela West Ham dari tahun 1999 hingga 2003, mengklaim bahwa Payet memiliki masa depan cerah di sepak bola Inggris.

“Payet adalah pemain yang fantastis. Ia bisa menjadi bintang untuk beberapa tahun ke depan,” ujar pria asal Italia tersebut seperti yang dikutip oleh Sky Sports.

“Lihatlah para pemain top yang bermain bagi Arsenal atau Manchester United. Mereka tidak bermain sebaik Payet.”

“Hal itu membuktikan bahwa ia adalah pemain yang sangat bertalenta. Tentu saja, anda juga harus berterima kasih kepada rekan-rekan satu timnya yang membantu dirinya.”

“Secara individu, Payet adalah salah satu pembelian terbaik Premier League musim ini,” tambah Di Canio.

Di Canio Kritik Permainan Man. United Dan Rooney

Legenda West Ham United, Paolo Di Canio, menilai Manchester United sudah kehilangan identitas sebagai tim Inggris.

Dalam beberapa pekan terakhir, Man. United memang belum juga mampu menemukan performa terbaik. Meski berhasil menghentikan empat kekalahan beruntun setelah meraih hasil imbang 0-0 melawan Chelsea pada hari Senin (28/12), mereka tetap belum meraih kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir di seluruh kompetisi.

Menurut Di Canio, taktik yang diterapkan manajer Louis van Gaal adalah salah satu alasan utama atas buruknya penampilan Setan Merah.

“Tim Man. United milik Van Gaal tidak menyenangkan untuk ditonton. Mereka bermain dengan tempo yang rendah dan mempertahankan penguasaan bola,” ujar Di Canio seperti yang dikutip oleh Gazzetta dello Sport.

“Pada titik tertentu, mereka bisa menemukan keseimbangan minimum berkat Bastian Schweinsteiger. Sekarang, mereka sedang berada dalam kesulitan dan seperti membuang-buang seluruh uang yang telah mereka gunakan dalam 18 bulan terakhir,” tambah dirinya.

“Man. United telah kehilangan semangat Inggris yang dahulu mereka miliki dan tidak dapat menemukan dimensi permainan internasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, pria asal Italia tersebut juga mengomentari performa Wayne Rooney. Sang kapten baru baru mencetak dua gol dan satu assist dari 15 pertandingan di Premier League bagi Man. United.

“Rooney sepertinya sedang mengalami penurunan performa. Ia telah kehilangan energi yang dahulu membuatnya dirinya hebat,” ujar Di Canio.

Man. United saat ini berada di peringkat keenam klasemen sementara dengan total raihan 30 poin.

“Inter Tidak Masuk Dalam Calon Peraih Scudetto”

Inter Milan masih berada di puncak klasemen sementara Serie A. Hingga pekan ke-17, I Nerazzurri unggul satu poin di atas Fiorentina dan Napoli yang ada di bawahnya. Namun, hal itu tetap tidak membuat eks pemain Lazio, Paolo Di Canio, menjagokan Inter untuk meraih scudetto pada musim ini.

Di Canio tidak memandang Inter akan mampu bersaing dengan calon kuat lain. Tim lain yang tidak berada di puncak klasemen justru yang dijagokannya bakal bersaing ketat memperebutkan titel juara Serie A hingga akhir musim. Siapkah mereka?

“Ini akan menjadi pertarungan antara Juventus dan Napoli,” kata Di Canio kepada La Gazzetta dello Sport.

Prediksi Di Canio sangat bertentangan denga pendapat publik. Musim ini, I Nerazzurri dianggap sebagai salah satu calon terkuat peraih juara. Hal itu muncul sesudah melihat permainan solid tim didikan Roberto Mancini ini.

Selain itu, Inter memang sering berada di papan atas pada musim ini. Dalam tiga pekan terakhir, mereka menjadi capolista. Total, sudah tujuh pekan mereka sempat merasakan posisi puncak klasemen sementara Serie A. Namun, Di Canio memiliki alasan khusus sehingga mencoret I Nerazzurri dari bursa juara.

“Inter memang meyakinkan, namun kekalahan dari Lazio tidak bisa dijelaskan,” ujar Di Canio tentang alasan dirinya tidak menjagokan Inter dalam perebutan scudetto.

Hal yang hampir sama dijadikan Di Canio untuk memprediksi kans juara AS Roma. Dia tidak menjagokan I Giallorossi karena penampilannya labil naik turun pada musim ini.