Wan-Bissaka Dinilai Lebih Hebat daripada Alexander-Arnold

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Aaron Wan-Bissaka menjalani debut mengesankan bersama Manchester United di Premier League. Performanya itu pun membuat dirinya dianggap lebih baik dibanding bek kanan Liverpool, Trent Alexander-Arnold.

Adalah mantan pemain Manchester United, Paul Parker, yang menilai demikian. Bahkan ia sudah tahu kehebatan sang bek kanan sejak memperkuat Crisyal Palace.

“Saya menganggapnya sebagai seorang bek. Dia bek terbaik yang ada di Premier League. Saya sudah mengatakan ini beberapa kali. Saya mnyaksikannya bermain tahun lalu, dan saya suka apa yang ia lakukan,” ujar Paul Parker seperti dikutip Football5star.com dari Sport Bible, Selasa (13/8/2019).

paul parker manchester united
Sport Bible

“Orang-orang berbicara soal Trent di Liverpool, tapi dia tidak bisa bertahan seperti Wan-Bissaka, seorang yang bisa bertahan dan menempatkan posisi dengan bagusnya. Dia ingin bertahan, dia menyukai itu. Saya berani katakan dia lebih hebat dan lebih komplet dibanding Trent,” sambung Parker.

Aaron Wan-BIssaka langsung diturunkan Ole Gunnar Solskjaer saat Manchester United menghadapi Chelsea di pekan pertama Premier League akhir pekan lalu. Pada laga yang berlangsung di Stadion Old Trafford tersebut MU menang besar 4-0.

Adapun pemain berusia 20 tahun bermain selama 90 menit. Ia sukses mengawal pertahanan Setan Merah hingga tidak kebobolan. Bahkan pergerakannya di sisi kanan mampu membuat beberapa pemain Chelsea seperti Pedro, Mason Mount, dan Ross Barkley tidak berkutik.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Shaw Diminta Untuk Tetap Bertahan Di Old Trafford

Football5star.com, Indonesia – Paul Parker, legenda Manchester United, berharap bek sayap Red Devils, Luke Shaw, untuk bertahan di Old Trafford. Kontrak pemain asal Inggris tersebut bersama klubnya saat ini akan berakhir Juni 2018 mendatang.

Nasib Shaw memang kian tak jelas. Sering mendapatkan cedera membuat eks pemain Southampton tersebut jarang diturunkan musim ini. Total dia hanya bermain dalam tujuh pertandingan di seluruh ajang kompetisi.

paul parker, manchester united (skysports.com)
skysports.com

“Dia bekerja keras, mengatakan dengan jujur bahwa dia ingin bermain untuk Manchester United. Saya benar-benar percaya dia ingin membuktikan dirinya sendiri. Jika tidak, dia akan berteriak dan menjerit tentang cara dia diperlakukan oleh manajer Jose Mourinho,” kata Parker dikutip dari ESPNFC, Selasa (12/12/2017).

“Ini bisa ditangani dengan lebih baik oleh Mourinho. Saya percaya seharusnya ada sedikit rasa sayang terhadap apa yang dia alami secara fisik dan mental, setelah kakinya parah di Eropa (melawan PSV pada bulan September 2015),” sambungnya.

Kendati diisukan pindah, beberapa media lain seperti Mirror.co.uk mengabarkan Shaw tetap bertahan di Old Trafford. Menurut pemberitaan tersebut, hubungan sang pemain dengan Jose Mourinho, manajer Man. United kian membaik.

Sejak didatangkan dari Southampton pada 2014, Shaw tampil dalam 50 pertandingan membela Red Devils di seluruh ajang kompetisi. Ia turut andil dalam mengantarkan Man. United memenangi tiga gelar.

 

Penampilan Ibra Versus Man. City Tuai Kritik

Football5star.com, Indonesia – Zlatan Ibrahimovic, penyerang Manchester United, mendapatkan kritik dari legenda timnya, Paul Parker. Menurut Parker, Ibrahimovic tampil melempem saat Derby Manchester pada pekan ke-16 Liga Inggris, di Stadion Old Trafford, akhir pekan lalu (10/12/2017).

paul parker, manchester united (skysports.com)
skysports.com

Ibrahimovic baru diturunkan oleh manajer Man. United, Jose Mourinho, pada menit ke-76 menggantikan Jesse Lingard. Namun, tak banyak peluang yang sanggup diciptakannya.

Menurut data dari Whoscored, Ibrahimovic tak mampu menciptkan satu tembakan pun ke gawang The Citizens yang dikawal Ederson. Alhasil, Man. United gagal ciptakan gol penyama kedudukan serta kalah 1-2 dari rival sekota mereka.

“Zlatan masuk pada akhir pekan melawan City dan tidak membuat kesan sama sekali. Dia tidak benar-benar melompat, kalah dalam duel udara, dan kalah dalam perebutan bola,” kritik Parker kepada ESPNFC, Selasa (12/11/2017).

“Saya tidak berpikir saat ini bahwa penggemar Manchester United bisa mengatakan ‘hebat untuk mendapatkan dia kembali’. Jika dia datang untuk menggantikan Romelu Lukaku,” imbuhnya.

Sejak mengalami cedera ligamen pada April lalu, Ibrahimovic menepi selama tujuh bulan lamanya. Eks penyerang Paris Saint-Germain tersebut baru bisa diturunkan pada pekan ke-12 Liga Inggris saat menghadapi Newcastle United di Old Trafford.

Total musim ini Ibrahimovic baru bermain dalam lima laga dan keseluruhnya sebagai pemain pengganti. Ia juga belum menyumbangkan gol dan assist musim ini.

Jose Mourinho Buat Manchester United Kembali Menakutkan

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain Manchester United, Paul Parker, memuji kinerja Jose Mourinho dalam menangani Setan Merah dua musim belakangan. Menurutnya, The Special One berhasil membuat United kembali menjadi tim yang menakutkan.

Sejak ditinggal Sir Alex Ferguson, klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut seakan kehilangan sentuhannya sebagai tim papan atas. Mereka sempat dua kali ganti pelatih sebelum Mourinho datang awal musim lalu.

“Ada perbedaan mencolok antara tim musim ini, dibandingkan dengan musim lalu ketika kami lebih sering meraih hasil imbang. Mereka adalah tim pembunuh sekarang. United bisa saja puas dengan keunggulan satu gol tapi itu tidak terjadi. Tim ini kembali lapar akan kemenangan,” ungkap Parker.

Parker yang mempersembahkan dua gelar Premier League di bawah kepemimpinan Sir Alex optimistis United bisa sukses musim ini. Musim ini, Setan Merah menghadapi empat turnamen utama. Salah satunya adalah Liga Champions.

“United kembali ditakuti dan Jose (Mourinho) bisa mewujudkan itu dengan cepat. Aku pikir mereka bisa lebih kuat di Liga Champions. Jika mereka berhasil lolos grup dan Zlatan Ibrahimovic kembali dari cedera, mereka akan bisa berbuat lebih di fase gugur,” tambah Parker.

The Red Devils memulai Liga Champions musim ini dengan meyakinkan. Romelu Lukaku dkk berhasil mengandaskan perlawanan Basel di Old Trafford dengan skor 3-0. Salah satu aktor kemenangan malam itu adalah pemain anyar mereka, Romelu Lukaku.

MU Lebih Butuh Mata Ketimbang Matic dan Pogba

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah analisis menarik dibuat mantan bek kanan Manchester United (MU), Paul Parker, terkait lini tengah Red Devils. Menurut dia, bukan Paul Pogba ataupun si anak baru, Nemanja Matic, justru Juan Mata yang akan jadi sosok terpenting. Hal itu diutarakannya di Eurosport, Selasa (1/8/2017).

Kehadiran Matic yang diboyong dari Chelsea dengan harga 44,7 juta euro membuat lini tengah MU disesaki banyak pemain jangkung. Matic, Marouane Fellaini, Paul Pogba, dan Michael Carrick bertinggi lebih dari 188 cm. Parker menilai manajer Jose Mourinho telah salah orientasi dengan membangun tim berisi pemain-pemain berbadan tinggi.

“Saya tidak melihat kebutuhan sebuah tim dengan pemain-pemain besar karena dia tim paling dominan di sepak boal dalam beberapa tahun terakhir, Barcelona dan Real Madrid, tidak berorientasi tinggi badan. Hal yang lebih penting adalah kualitas individual. Memiliki tim ‘tertinggi’ bukan jaminan untuk jadi yang terbaik di Premier League,” kecam Parker.

Dalam pandangan eks penggawa timnas Inggris itu, Mourinho tak boleh mengesampingkan pemain-pemain kreatif bertubuh mungil. Secara khusus, dia menyebut nama Juan Mata.

“Saya tidak tahu dari mana kreativitas akan datang bila tak ada Juan Mata di tim. Dan Mata bukanlah pemain yang berada dalam susunan sebelas pemain ideal Mourinho,” tambah dia.

Lebih jauh, Parker menyebut eks pemain Valencia dan Chelsea itu sebagai pemain kunci dalam membongkar pertahanan lawan. Mata, kata dia, adalah sosok yang sangat diperlukan Romelu Lukaku dan Marcus Rashford untuk mencetak gol.

“Jika ingin mencetak gol melawan klub-klub besar dan lebih unggul dalam permainan, Mourinho butuh seseorang yang mampu menciptakan sesuatu,” pungkas pria berumur 53 tahun tersebut.

Liga Inggris: Matteo Darmian Dianjurkan Mudik ke Italia

Football5star.com, Indonesia – Matteo Darmian mulai jarang mendapat kesempatan bermain di Manchester United. Dia pun disarankan mudik ke Italia demi masa depannya.

Musim ini, Darmian tak mudah menembus skuat utama Manchester United dan acap menjadi pemain rotasi. Manajer Jose Mourinho memang acap merotasinya bersama Daley Blind, Marcos Rojo, atau Luke Shaw di sektor kiri, atau menjadi alternatif Antonio Valencia di kanan.

Darmian hanya bermain sembilan kali sebagai starter di Premier League musim 2016-2017. Tak ayal, legenda klub, Paul Parker, meyakini sang pemain bakal hengkang dari Old Trafford dan menyarankannya mudik ke Italia.

“Melihat cara dia bermain dan jarangnya kesempatan yang didapati, saya cukup yakin Darmian tak akan ada di Man United musim depan,” jelasnya kepada 888sport.

“Dia harus move-on karena seorang winger mengambil posisinya di bek kanan dan Daley Blind jelas jadi prioritas di bek kiri ketimbang dia. Dia adalah pemain timnas Italia dan harus meneruskan tampil di negaranya untuk mengembangkan kualitas kembali. Saya yakin dia masih bisa berkembang di tempat yang tepat,” pungkas dia.

Darmian memang harus membuat keputusa berani jika tak mau statusnya sebagai penggawa Timnas Italia menguap. Apalagi, tahun depan dia berhasrat bisa tampil bersama Gli Azzurri pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Mantan Bek Manchester United Kecam Sikap Paul Pogba

Mantan bek Manchester United, Paul Parker, menganggap Paul Pogba belum menunjukkan kualitasnya sebagai pemain termahal dunia saat ini.

Pogba memecahkan rekor transfer termahal pada musim panas 2016. Man. United merekrut gelandang timnas Prancis itu dari Juventus dengan banderol 89 juta pounds.

Akan tetapi, Parker menilai, Pogba masih minim kontribusi bagi Man. United. Menurutnya, pemain berusia 23 tahun tersebut kurang menghargai rekan-rekan setim dan terlalu banyak melakukan aksi sia-sia saat menguasai bola.

“Tidak mungkin Pogba membuktikan dirinya pantas dihargai semahal itu kecuali mencetak 15 gol dan 25 assist dalam semusim,” kata Parker, seperti dilansir Mirror.

“Masalahnya, dia tidak bermain dengan para pemain yang kalibernya sama dengan Juventus sehingga terlalu banyak melakukan aksi dan lama memegang bola,” imbuhnya.

“Dia tidak pernah mengolah bola di Juventus karena mungkin merasa kini tidak ada rekan-rekan setim yang perlu dihormatinya,” ujar Paker.

“Mungkin, jika bermain lebih simpel dan mulai menghormati rekan-rekan setimnya, dia bisa lebih baik. Dia bicara mengenai betapa sering tendangannya mengenai mistar gawang, namun saya cukup yakin Opta menghitung itu sebagai tendangan melenceng,” paparnya.

Bersama Manchester United, Paul Pogba baru menyumbangkan tujuh gol dan lima assist dari 35 penampilan sepanjang musim 2016-17.

Liga Inggris: Arsenal Tak Akan Juara Lagi Selama Masih Dilatih Wenger

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain Manchester United, Paul Parker, menganggap Arsenal akan sulit juara Premier League lagi selama masih dilatih Arsene Wenger.

Pria berusia 52 tahun ini pun menilai, Wenger sudah waktunya meninggalkan kursi manajer Arsenal. Pasalanya, untuk bisa menjad juara, The Gunners butuh perubahan.

“Saya tidak berpikir mereka akan menjuarai liga untuk sementara waktu. Apakah mereka memainkan sepak bola yang indah untuk ditonton? Ya. Namun apakah mereka bisa membangun tim yang lebih baik untuk beradaptasi dengan gaya permainan yang bisa membuat mereka juara, jika Wenger masih di sana? jawabannya adalah: Tidak,” ujar Parker seperti dilansir Goal.

“Secara pribadi saya menghormati Wenger. Dia membawa etos kerja yang berbeda. Namun sekarang permainan sudah banyak berubah dan dia tidak bisa beradaptasi dengan situasi saat ini. Sekali lagi Arsenal, ini telah berlangsung selama 10 tahun. Arsenal adalah klub besar di Inggris dan ini tidak boleh terjadi,” sambungnya.

Saat ini Arsenal berada di peringkat keempat pada klasemen sementara pada klasemen sementara Premier League dengan mengoleksi 34 poin dari total 17 pertandingan yang sudah dijalani.

“Dengan situasi seperti saat ini, Arsenal tidak dapat bersaing untuk dapat menjuarai Premier League, mereka terlalu banyak berbicara soal hal tersebut, namun mereka tidak dapat bersaing,” tutup Parker.

Berita Terkini: Di Piala Eropa 2016, Cristiano Ronaldo Bermain Seperti Andy Carroll

Kapten Portugal, Cristiano Ronaldo, memang gagal bermain konsisten selama Piala Eropa 2016. Atas dasar itu, mantan bek Manchester United, Paul Parker, menyamakan permainan Ronaldo dengan striker jangkung Inggris, Andy Carroll.

Bersama Portugal, peran yang didapat Ronaldo memang berbeda dengan ketika membela Real Madrid. Jika bersama Madrid dia bisa bergerak leluasa, di skuat Seleccao Das Quinas, pemain berjuluk CR7 itu dipercaya sebagai ujung tombak utama.

Karenanya, Parker menganggap Ronaldo bermain seperti Carroll di level timnas. Dia melihat peran Ronaldo justru semakin tak terlihat dengan hanya menunggu bola ketimbang berlari-lari di setiap sisi lapangan seperti beberapa tahun lalu.

“Lihat gaya bermain Portugal yang sangat keras. Ronaldo bermain seperti Andy Carroll. Ini bukan Ronaldo tiga tahun lalu,” tuturnya kepada Mirror.

“Apa yang saya lihat ketika Portugal melawan Wales adalah dia seperti Carroll yang hanya mau menunggu dan menanduk bola, tidak berlari,” tambah dia.

Tak hanya itu, Parker juga menyamakan Portugal dengan gaya bermain tim League One, ketika seorang striker bertubuh besar mencoba mencungkil bola. Ronaldo pun terlihat jarang memperlihatkan trik spesial laiknya yang kerap ditunjukkan.

“Sangat memalukan melihat Ronaldo bermain seperti itu. Anda tak akan pernah melihat Lionel Messi bermain seperti itu. Ronaldo tak pernah melakukan trik khusus. Semua triknya berhubungan dengan daya pegas saja,” pungkas dia.

Van Gaal Keras Kepala

Mantan defender Manchester United, Paul Parker, mengkritik cara Louis Van Gaal menangani para pemain Setan Merah. Parker mencap Van Gaal sebagai sosok yang keras kepala dan egois.

Menurut Parker, Van Gaal memang pelatih yang genius, tapi dia sangat lemah dalam hal man-management. Parker menilai Van Gaal telah membuat para pemain Man.United ketakutan dan gagal menikmati permainan.

“Van Gaal meletakkan rasa takut akan Tuhan kepada pemainnya. Itulah cara dia. Dia mengatur tim dengan egois dan tak ada yang senang. Dia mungkin manajer yang sukses, tapi dia harus belajar walaupun di usianya sekarang, untuk mengerti man-management,” kata Parker.

“Saat ini, kita bisa bilang bahwa dia tak melakukan man-management di timnya. Para pemain itu bukan pemain yang buruk dan mereka tak pernah memainkan sepak bola negatif dalam hidup mereka,” lanjut dia.

“Van Gaal luar biasa keras kepala. Pemain mana pun yang tak melakukan apa yang dia inginkan akan tergusur. Dia melihat pemain yang melakukan kesalahan, lalu tidak memainkan mereka di pertandingan selanjutnya,” tambah Parker.

Parker juga menyebut tiga pemain yang menjadi korban Van Gaal, yaitu Anthony Martial, Memphis Depay, dan Ander Herrera.

“Martial tampak seperti orang yang tak bisa tersenyum lagi. Depay mungkin merasa dirinya adalah kambing hitam. Herrera disukai fans, tapi jarang main. Mereka butuh kebebasan dan perlu menikmati permainan,” tutup dia.

Komentar Mourinho Soal Le Saux Dicap Murahan

Komentar Jose Mourinho yang membawa-bawa nama Graeme Le Saux, mantan pemain Chelsea, dikritik oleh Paul Parker. Parker merupakan mantan full back Chelsea dan timnas Inggris.

Sebelumnya, Le Saux sangat kritis kepada Mourinho terkait perlakuannya kepada dokter klub Eva Carneiro. Kritik Le Saux pun dibalas Mourinho pada konferensi pers jelang laga tandang Chelsea ke Israel untuk menghadapi Maccabi Tel Aviv di Liga Champions.

“Saya tak punya masalah dalam tim. Saya tak punya Graeme Le Saux. Saya punya semua pemain tanpa rasa takut,” kata Mourinho.

Pasalnya pada tahun 2001, Le Saux bersama lima pemain Chelsea lain sempat menolak pergi ke Israel untuk menghadapi Hapoel Tel Aviv di Piala UEFA. Laga itu berlangsung satu bulan setelah serangan terorisme 11 September di Amerika Serikat.

Parker pun menganggap murahan komentar Mourinho yang membawa-bawa kejadian 14 tahun lalu.

“Mourinho tak bisa menolong dirinya sendiri. Le Saux membuat kritik yang valid tentang Chelsea setelah start terburuk klub selama 20 tahun. Dan, Mourinho merasa harus meresponsnya,” ujar Parker.

“Fakta bahwa dia merespons dengan olok-olok murahan tentang Le Saux yang takut pergi ke laga tandang di Israel lebih dari satu dekade lalu mengatakan segalanya. Hal itu sangat buruk untuk didengar,” lanjut dia.

“Sebenarnya, Mourinho agak menyingkir dari sorotan beberapa pekan terakhir. Sebagian diri saya bertanya apakah dia akhirnya sadar bahwa diam adalah emas dan dia bisa berperilaku dengan bermartabat. Tentu saja, itu hanya mimpi di siang bolong,” tutup Parker.