Liga Italia Paling Subur di EURO 2020

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Sebanyak 142 gol tercipta pada pagelaran EURO 2020. Di antara semua gol tersebut, Liga Italia menjadi penyumbang terbanyak dengan total 37 gol.

Dalam turnamen terakbar antarnegara Eropa tahun ini, Liga Italia memang paling menyita perhatian. Tak sekadar dipicu keberhasilan timnas Italia menjadi juara, juga dalam hal pencetak gol.

Legenda Fiorentina: Timnas Italia Akan Terus Pancarkan Sinarnya
UEFA.com

Pemain asal Liga Italia menjadi pembuka sekaligus penutup gol-gol yang lahir selama gelaran kali ini. Gol pertama dicetak melalui bunuh diri bek Turki asal Juventus, Merih Demiral, ketika menghadapi Italia pada 11 Juni.

Sementara gol penutup dilesakkan juga oleh pemain asal Juventus, yakni Leonardo Bonucci, ketika menyamakan skor melawan Inggris pada laga final (11/7). Bahkan jika adu penalti dihitung, gol penutup pun dilesakkan pemain asal Juventus, Federico Bernardeschi.

Secara keseluruhan, jika tak termasuk bunuh diri, pemain asal Juventus menyumbang 12 gol. Cristiano Ronaldo menjadi yang terbanyak dengan 5 gol. Sementara, Inter Milan di urutan berikutnya dengan 8 gol dan Romelu Lukaku menyumbang 4 di antaranya.

Cristiano Ronaldo Portugal EURO 2020 Piala Eropa 1 - Twitter @EURO2020
Twitter @EURO2020

Total ada 37 gol yang diciptakan pemain-pemain dari Liga Italia, tersebar di antara 9 klub Serie A. Jumlah itu lebih banyak ketimbang kompetisi kasta teratas Liga Inggris, Premier League, dengan 30 gol, atau Liga Jerman 27 gol. Bahkan, pemain dari Liga Spanyol cuma mendulang 8 gol.

Selain Ronaldo (5 gol), Lukaku (4 gol) dan Alvaro Morata (3 gol), ada tujuh pemain Liga Italia lain yang mencetak lebih dari satu gol. Termasuk empat dari timnas Italia, yakni Federico Chiesa, Matteo Pessina, Manuel Locatelli, Ciro Immobile, dan Lorenzo Insigne.

Ragam 142 Gol pada EURO 2020

Di dalam laman resminya, UEFA juga menyajikan rincian gol-gol yang lahir selama pagelaran Piala Eropa tahun ini. Sebanyak 61 gol lahir menggunakan kaki kanan, 43 dengan kaki kiri, 27 sundulan, dan 11 lewat aksi bunuh diri.

Jumlah gol yang dicetak dari dalam area penalti, termasuk kotak lima meter, pun jauh lebih banyak ketibang gol jarak jauh. Ada 123 gol yang dietak dari dalam kotak penalti berbanding 19 dari luar area.

Hal menarik lain, jumlah gol yang dicetak langsung dari tendangan bebas terbilang minim pada pagelaran tahun ini. Hanya ada satu gol dari tendangan bebas, yakni yang dicetak pemain Denmark, Mikkel Damsgaard, ke gawang Inggris pada babak semifinal.

mikkel damsgaard-EURO2020
UEFA.com

Sementara itu, gol melalui eksekusi penalti (di luar adu penalti) ada 9 kali tercipta. Sisanya sebanyak 132 gol diciptakan melalui skema permainan terbuka.

Persentase keberhasilan gol penalti pun terbilang rendah. Pasalnya, ada 16 hadiah penalti yang diberikan wasit, cuma 9 yang berbuah gol, 5 diselamatkan kiper, dan 2 melenceng dari sasaran.

Inggris, meski berstatus finalis EURO 2020, ternyata produktivitas golnya tak lebih unggul dari tiga negara lain. Inggris dalam tujuh pertandingan total cuma mencetak 11 gol, di bawah Italia dan Spanyol yang sama-sama mengoleksi 13 gol, serta Denmark dengan 12 gol.

Tak ada negara yang gagal mencetak gol dalam turnamen tahun ini. Namun, ada tiga yang produtivitasnya paling minim, yakni Skotlandia, Turki, dan Finlandia, yang sama-sama mencetak sebiji gol.

Rincian Gol di EURO 2020 Berdasarkan Kompetisi

  • Liga Italia: 37 gol
  • Liga Inggris: 30 gol
  • Liga Jerman: 27 gol
  • Liga Spanyol: 8 gol
  • Liga Prancis: 7 gol
  • Lainnya: 33 gol

Rincian Gol di EURO 2020 Berdasarkan Klub di Liga Italia:

  • Juventus (12 gol): Ronaldo 5, Morata 3, Chiesa 2, Ramsey 1, Bonucci 1
  • Inter Milan (8 gol): Lukaku 4, Perisic 2, Skriniar 1, Barella 1
  • Atalanta (7 gol): Pessina 2, Maehle 2, Miranchuk 1, Gosens 1, Pasalic 1
  • Sassuolo (2 gol): Locatelli 2
  • Lazio (2 gol): Immobile 2
  • Napoli (2 gol): Insigne 2
  • Sampdoria (2 gol): Damsgaard 2
  • Genoa (1 gol): Pandev 1
  • Torino (1 gol): Linetty 1

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Markus Babbel: Gareth Southgate Mimpi Punya Mario Basler di Timnya

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gareth Southgate, manajer timnas Inggris, masih dihujani kritik setelah kekalahan timnya dari timnas Italia dalam adu penalti pada final EURO 2020. Kali ini, giliran Markus Babbel. Eks bek Liverpool itu menyoroti putusan Southgate memasukkan Jadon Sancho dan Marcus Rashford pada menit ke-120.

Babbel menilai putusan memasukkan Sancho dan Rashford pada pengujung perpanjangan waktu sebagai sesuatu yang gegabah. Dia bahkan menyindir Southgate tengah bermimpi memiliki Mario Basler di timnas Inggris. Sayangnya, menurut dia, Sancho dan Rashford bukanlah Basler.

Gareth Southgate dinilai Markus Babbel telah melakukan kesalahan dengan memasukkan Jadon Sancho dan Marcus Rahsford hanya untuk adu penalti.
thetimes.co.uk

“Seseorang harus terlahir untuk jadi penendang penalti begitu masuk ke lapangan. Mario Basler? Ya, tak perlu ditanya, dia akan mampu melakukan itu bahkan dengan mata tertutup. Bagaimana dengan Rashford dan Sancho? Mereka tak bisa melakukannya. Ada yang salah di sini,” urai Markus Babbel seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1.

Lebih lanjut, Babbel menganggap Southgate meremehkan adu penalti. Dia mengatakan, mengambil penalti bukan hanya butuh kemampuan teknis dan latihan. “Saya tak menyalahkan Southgate. Dia tahu yang dilakukannya. Timnya sudah berlatih penalti selama berminggu-minggu. Tiga nama yang ditunjuk juga sudah membuktikan sebagai penendang yang bagus. Namun, pada akhirnya, mereka semua gagal,” ujar dia.

Babbel Sudah Baca Gelagat Buruk

Kesalahan Gareth Southgate, dalam pandangan Markus Babbel, adalah mengesampingkan aspek psikologis. Apalagi, adu penalti itu terjadi pada final EURO. Ada beban mahaberat yang mengganduli para eksekutor. Memasukkan pemain hanya untuk menjadi eksekutor bukanlah langkah tepat.

Babbel mengaku tak heran oleh kegagalan timnas Inggris yang diwarnai kegagalaan eksekusi Sancho dan Rashford. “Jujur saja, saya membaca gelagat buruk saat Southgate memasukkan Sancho dan Rashford pada menit ke-120. Ada ketakukan pada wajah mereka. Saya mampu melihat itu,” kata eks pemain Bayern Munich dan Hamburger SV itu.

Markus Babbel membaca ketakutan pada muka Jadon Sancho dan Marcus Rashford saat masuk pada menit ke-120 laga final EURO 2020.
bbc.co.uk

Meskipun tak menyalahkan, Babbel menilai kegagalan timnas Inggris pada adu penalti dalam final EURO 2020 jadi beban tambahan bagi Southgate. “Secara pribadi, itu jadi malapetaka bagi dia. Pasalnya, dia ternyata belum mampu mengatasi trauma dari 1996 dan bertambah dengan kegagalan kali ini,” ucap dia lagi.

Setelah imbang 1-1 dalam 120 menit, timnas Inggris harus mengakui keunggulan timnas Italia pada adu penalti dalam final EURO 2020. The Three Lions kalah 2-3 setelah Rashford, Sancho, dan Bukayo Saka gagal menaklukkan Gianluigi Donnarumma. Hal itu jadi akhir tragis perjalanan apik tim asuhan Southgate yang sempat diwarnai clean sheet dalam 5 laga awal.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Leonardo Bonucci Memang Muak Dengar It’s Coming Home

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Selepas laga Italia vs Inggris yang harus ditentukan lewat adu penalti pada final EURO 2020, bek tengah Leonardo Bonucci sangat emosional. Di depan kamera televisi, dia berteriak, “It’s coming to Rome! It’s coming to Rome!” Hal itu dilakukan karena dia sangat muak mendengat kata-kata it’s coming home dari para suporter Inggris.

Sejak Inggris mengalahkan Denmark pada semifinal dan memastikan bersua Italia pada partai final, suporter dan publik sepak bola Inggris dilanda euforia. Semboyan it’s coming home pun kian kencang mereka gaungkan. Hal itu ternyata diam-diam jadi pemantik semangat bagi para pemain Italia.

Bonucci secara implisit mengakui kejayaan Gli Azzurri di Stadion Wembley adalah berkat para suporter tuan rumah yang terus-menerus menggaungkan slogan yang juga lagu untuk The Three Lions tersebut. Muak mendengar itu, para pemain Italia jadi punya motivasi lebih untuk mengandaskan impian Inggris menjuarai EURO untuk kali pertama.

“Berhari-hari lamanya kami mendengar it’s coming home, bahwa piala akan kembali ke London. Itu memotivasi kami. Maaf untuk mereka karena piala itu akan naik pesawat bagus dan besok akan berada di Roma,” ujar Leonardo Bonucci selepas pertandingan final EURO 2020 seperti dikutip Football5Star.com dari Tuttomercatoweb.

Leonardo Bonucci Ungkap Kunci Sukses Italia

Di samping motivasi tambahan dari slogan it’s coming home yang didengar berhari-hari, tentu saja ada faktor-faktor lain yang membuat timnas Italia mampu menjuarai EURO 2020. Menurut Leonardo Bonucci, salah satunya adalah atmoster tim yang sangat bagus.

“Kami istimewa dalam meyakini akan sukses sejak awal, sejak kami bertemu. Kami memiiki napas berbeda. Sungguh luar biasa kami tak bosan bersama-sama meskipun berhari-hari terus berkumpul. Biasanya, Anda tak sabar menanti sesuatu selesai ketika sudah berjalan demikian lama. Namun, kami justru punya hasras besar untuk terus bersama,” kata Bonucci lagi.

Bek Juventus itu pun tak menampik dukungan dari para tifosi yang tiada henti. Mereka tiada selalu menunjukkan kepercayaan kepada tim asuhan Roberto Mancini untuk berjaya pada pentas EURO 2020. Makanya, dia tak sabar berbagi kegembiraan dengan mereka.

Leonardo Bonucci juga mengungkapkan satu pelajaran penting dari kesuksesan timnas Italia menjuarai EURO 2020 setelah gagal melaju ke putaran final Piala Dunia 2018. Dia mengatakan, Gli Azzurri membuktikan, hanya ada satu cara ketika kita terpuruk. Itu adalah kembali bangkit, dorong diri sendiri untuk berbuat lebih baik dan mencapai puncak lagi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gagal Penalti, Tiga Pemain Timnas Inggris Dihujani Makian Rasial

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Kekalahan timnas Inggris dari timnas Italia pada final EURO 2020 mendatangkan konsekuensi besar bagi Jadon Sancho, Marcus Rashford, dan Bukayo Saka. Gagal mencetak gol pada adu penalti, mereka lantas jadi sasaran amarah publik Inggris. Mereka bahkan dihujani makian rasial.

Pada final EURO 2020, Sancho, Saka, dan Rashford tak masuk susunan sebelas pemain pertama yang diturunkan manajer Gareth Southgate. Saka baru masuk pada menit ke-70, sedangkan Sancho dan Rashford tepat saat perpanjangan waktu hendak berakhir.

Menariknya, mereka masuk dalam 5 penendang pertama Inggris pada adu penalti. Sancho dan Rashford seperti sengaja dimasukkan untuk menjadi algojo, sementara Saka ditugasi jadi penendang kelima yang biasanya diembankan kepada salah satu pemain yang punya reputasi bagus dalam mengeksekusi penalti.

Hasilnya, mereka gagal. Begitu wasit Bjorn Kuipers mengakhiri pertandingan, hujatan pun langsung datang bak air bah kepada tiga pemain itu. Terutama Saka yang jadi penentu kegagalan The Three Lions. Di media sosial, bukan hanya makian rasial, bahkan ada yang meminta dia tak lagi membela Inggris dan pulang ke Nigeria, negeri leluhurnya.

FA Bela Pemain Timnas Inggris yang Dihujat

Menyikapi hal itu, Asoasiasi Sepak Bola Inggris (FA) langsung mengeluarkan pernyataan keras. Intinya, mereka mengutuk keras makian rasial kepada para pemain yang dijadikan kambing hitam kekalahan timnas Inggris dari Italia pada final EURO 2020.

“FA mengutuk keras segala bentuk diskriminasi dan sangat terejut oleh serangan rasial secara online yang telah diarahkan kepada beberapa pemain Inggris di media sosial. Kami tak bisa lebih jelas lagi untuk mengatakan bahwa orang-orang dengan perilaku menjijikan ini tak diterima untuk mengikuti tim ini,” urai FA seperti dikutip Football5Star.com dari akun jubirnya.

Lebih lanjut, dalam pernyataan resminya itu, FA menekankan dua hal. “Kami akan sebisa mungkin melakukan segala upaya untuk memberikan dukungan kepada para pemain yang terdampak. Pada saat uang bersamaan, kami meminta adanya hukuman lebih berat pada para pelaku (rasialisme).

FA tak lupa melontarkan kritik kepada pihak-pihak lain. Mereka meminta pemerintah membuat undang-undang yang memungkinkan pelaku pelecehan rasial mendapat hukuman yang berdampak nyata. Mereka juga memohon kepada perusahaan media sosial membekukan akun dan mengumpulkan bukti untuk langkah hukum.

Inggris Dikalahkan Italia, Begini Reaksi Berkelas Pangeran William

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Pangeran William memberikan reaksi berkelas mengenai hasil final EURO 2020, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Dia secara sportif menyanjung sang juara, timnas Italia, dan memberikan semangat kepada para pemain timnas Inggris.

The Three Lions gagal mewujudkan slogan “it’s coming home” saat menjamu Italia pada final EURO 2020 di Stadion Wembley. Unggul cepat berkat Luke Shaw pada menit ke-2, tim asuhan Gareth Southgate harus gigit jari karena Leonardo Bonucci menyamakan kedudukan pada menit ke-67 dan mereka lantas kalah adu penalti 2-3.

Pangeran William hadir di tribune kehormatan Stadion Wembley saat final EURO 2020.
Getty Images

Pangeran William yang juga menjabat Presiden FA menunjukkan kebesaran hatinya menerima pil pahit tersebut. “Sungguh menyayat hati. Selamat kepada Italia atas kemenangan besar yang telah diraih ini,” kata dia seperti dikutip Football5Star.com dari akun Twitter The Duke and Duchess of Cambridge.

Lebih lanjut, William mengungkapkan, “Timnas Inggris, kalian sudah melaju sedemikian jauh. Sayangnya, ini ternyata bukan hari untuk kita. Kalian tetap dapat menegakkan kepada dan bangga pada diri sendiri. Saya tahu, akan ada lebih banyak lagi (dari kalian) pada masa yang akan datang.”

Pangeran William Ajak Pangeran George

Pada final EURO 2020 yang digelar di Stadion Wembley, Pangeran William jadi saksi mata langsung. Dia bahkan tak datang sendirian. Sang istri, Kate Middleton, dan anak mereka, Pangeran George, juga turut serta. Mereka berbaur dengan sejumlah fan yang diperbolehkan menonton langsung di stadion.

Keluarga kerajaan Inggris itu pun tak jaga image. Ketika Luke Shaw menjebol gawang Gianluigi Donnarumma, mereka meluapkan kegembiraan seperti layaknya suporter sepak bola pada umumnya. Pangeran William bahkan lalu berpelukan dengan Pangeran George.

Menurut petenis Marion Bartoli yang juga hadir pada final itu, William sebetulnya ingin Pangeran George hadir di Stadion Wembley dengan mengenakan jersi timnas Inggris. Namun, hal itu urung dilakukan karena Kate Middleton tak berkenan. Jadilah, mereka datang dengan pakaian formal.

“Kemarin, saya minum teh siang bersama duchess. Pembicaraan kami saat itu terutama soal apakah George akan diizinkan memaki jersi pada malam ini di Wembley atau tidak. William menginginkan itu, tapi Kate tak terlalu setuju,” ujar Bartoli kepada BBC.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Juara EURO 2020, Leonardo Bonucci Ejek Slogan It’s Coming Home

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Bek tengah timnas Italia, Leonardo Bonucci, mengejek Inggris saat merayakan kesuksesan juara EURO 2020, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Dia berteriak di depan kamera televisi dengan mengejek lagu dan slogan yang kerap didegung-degungkan belakangan ini, IT’S COMING HOME.

Beberapa saat setelah Italia memastikan diri juara dengan memenangi adu penalti 3-2, Bonucci berlari ke arah kamera televisi. Bek senior Gli Azzurri itu lantas berteriak, “It’s coming to Rome! It’s coming to Rome!” Itu adalah pelesetan dari It’s coming home yang begitu kencang bergema setelah Inggris melaju terus pada pentas EURO 2020.

Euforia memang melingkupi publik sepak bola Inggris. Bukan hanya para fan, para pengamat dan mantan pemain pun begitu yakin Inggris akan juara. Euforia itu muncul terutama setelah The Three Lions menang 2-0 atas timnas Jerman pada babak 16 besar. Slogan It’s coming home pun mulai bergema dan makin kencang menjelang final.

Inggris seperti akan mewujudkan slogan itu ketika Luke Shaw secara tak terduga menjebol gawang Italia saat pertandingan belum genap dua menit. Keunggulan itu terus dibawa hingga pertengahan babak kedua ketika Bonucci menyeimbangkan skor dengan memanfaatkan kemelut di mulut gawang Jordan Pickford.

It’s Coming Home Dipelesetkan Fan Italia

Gol penyeimbang itulah yang sepertinya membuat Leonardo Bonucci makin puas ketika Italia akhirnya memenangi adu penalti. Teriakan lepas di depan kamera televisi jadi puncak luapan emosinya. Kata-kata it’s coming to Rome sendiri sebetulnya sudah beredar sebelum final dengan merujuk pada kreativitas fan Italia.

Saat semifinal melawan Spanyol, tiga orang fan Italia membentangkan bendera negaranya. Pada bagian berwarna putih, tertera tulisan IT’S COMING HOME TO ROME. Tak dinyana, kata-kata itu melekat di benak Bonucci sehingga diteriakkan begitu Italia menang atas Inggris.

Tiga fan timnas Italia memegang bendera dengan kata-kata yang lantas diteriakkan Leonardo Bonucci.
nytimes.com

Sindiran terhadap slogan yang digaungkan fan Inggris bukan hanya itu. Setelah The Three Lions menyingkirkan Denmark pada semifinal, ada sindiran yang memelesetkan slogan itu jadi IT’S DIVING HOME. gara-garanya, The Three Lions menang 2-1 berkat aksi diving Raheem Sterling yang berbuah penalti.

Slogan dan alunan lagu It’s Coming Home bergaung kencang pada gelaran EURO 2020. Ketepatan taktik Gareth Southgate saat menghadapi semua lawan jadi salah satu faktor yang membuat publik sepak bola Inggris yakin gelar juara akan diraih. Namun, takdir berkata lain. Mereka harus kembali menanti, setidaknya hingga Piala Dunia tahun depan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Harry Kane: Sakit Banget Rasanya Kalah Adu penalti

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Kapten timnas Inggris, Harry Kane, sangat terpukul dengan kekalahan dari Italia pada final EURO 2020, Senin (12/7) WIB. Bagi dia, kalah melalui adu penalti adalah hal yang paling menyakitkan.

Inggris sejatinya bisa unggul cepat pada final yang digelar di Stadion Wembley melalui gol Luke Shaw dalam kurun satu menit dan 57 detik. Namun, Italia bisa membalas berkat gol Leonardo Bonucci pada babak kedua dan memaksa duel ditentukan melalui drama adu penalti.

Luke Shaw Italia vs Inggris final EURO 2020 - Twitter @EURO2020
Twitter @EURO2020

“Aku tidak bisa lagi memberikan lebih. Teman-teman juga tidak bisa memberi lebih. Penalti adalah hal terburuk di dunia ketika anda harus kalah,” kata Kane, dikutip Football5star.com dari BBC.

“Ini bukan malam kami, tetapi ini adalah turnamen yang fantastis dan kami harus mengangkat kepala kami tinggi-tinggi. Tentu saja, rasanya sangat menyakitkan sekarang. Akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu. Tapi kami berada di jalur yang benar dan mudah-mudahan bisa lebih baik lagi ke depannya,” bilang Kane menambahkan.

Harry Kane Enggan Salahkan Rashford, Sancho, dan Saka

Inggris vs Italia - Euro 2020 - uefa. com 3
UEFA.com

Dalam adu penalti, tiga algojo Inggris tak bisa menunaikan tugas dengan sempurna, yakni Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka. Sementara di kubu Italia, cuma dua yang gagal, yaitu Andrea Belotti dan Jorginho.

Kane merasa, kegagalan tiga rekannya dalam adu penalti merupakan hal wajar. “Kalian harus mengangkat kepala. Ini akan memberikan kami motivasi dalam menyambut Piala Dunia tahun depan,” ucapnya.

“Setiap pemain bisa gagal penalti. Kami menang bersama, kalah bersaa. Kami belajar dan berusaha lebih dewasa dari kegagalan ini. Tim sudah berkembang dan kami harus bangga sebagai tim dengan pencapaian ini. Mungkin akan terasa sakit untuk beberapa waktu, bahkan jadi kenangan pahit sepanjang karier. Tapi inilah sepak bola,” sebut Harry Kane memungkasi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Donnarumma: Gol Cepat Inggris Tak Mampu Membunuh Italia

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Gianluigi Donnarumma jadi pahlawan Italia menjuarai EURO 2020 dengan mengalahkan Inggris dalam drama adu penalti di Stadion Wembley, Senin (12/7) WIB. Menurut Donnarumma, mental Gli Azzurri tak runtuh meski ketinggalan lebih dahulu.

Italia memang sempat dikejutkan gol cepat Inggris saat laga baru berumur 1 menit dan 57 detik. Gol yang dicetak Luke Shaw itu sekaligus menjadi rekor tercepat sepanjang sejarah partai final EURO.

Luke Shaw Italia vs Inggris final EURO 2020 - Twitter @EURO2020
Twitter @EURO2020

Selepas gol itu, Italia sempat kesulitan untuk bangkit. Namun, sebelum babak pertama berakhir permainan Gli Azzurri mulai membaik. Italia bisa menyamakan kedudukan berkat gol Leonardo Bonucci pada menit ke-67.

Skor 1-1 yang bertahan selama 120 menit membuat duel dilanjutkan ke babak adu penalti. Donnarumma menjadi pahlawan yang sekaligus membawa Italia menang 3-2 pada drama adu penalti.

Gianluigi Donnarumma Terinspirasi Gianluigi Buffon

“Kami luar biasa, pantang menyerah. Seperti dikatakan (Francesco) Acerbi, kami tinggal berjarak satu centimeter dan kami berhasil. Kalian tahu bagaimana kami memulai semua, jelas kami layak mendapatkannya,” bilang Donnarumma, dikutip Football5star.com dari Football-Italia.

“Gol Inggris bisa saja meruntuhkan kami, tapi itu bukan Italia. Kami tak pernah mudah menyerah. Kalian boleh saja kebobolan lebih dahulu, dan itu tak mudah, terlebih Inggris bertahan dengan baik. Namun, kami spektakuler dan layak meraih gelar ini,” ucap kiper yang dinobatkan sebagai pemain terbaik EURO 2020 itu menambahkan.

Bagi Italia, ini gelar pertama mereka di pentas EURO sejak 1968. Bagi Donnarumma, dia meneruskan prestasi pendahulu sekaligus idolanya, Gianluigi Buffon, yang juga pernah mempersembahkan trofi untuk Gli Azzurri. Pada 2006, Buffon membawa Italia juara Piala Dunia, juga lewat drama adu penalti di final.

“Gigione (panggilan Buffon) adalah pemain terbaik yang pernah ada. Aku mencoba memberikan yang terbaik, membantu tim dan dia masih menjadi nomor 1. Kita lihat nanti apa yang bisa kulakukan dalam karierku,” sebut Donnarumma memungkasi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Deja Vu 2012, Chelsea Juara Liga Champions dan Italia Kalah di Final EURO

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Beragam prediksi bermunculan jelang final EURO 2020, Italia vs Inggris. Bahkan, ada pula yang menggunakan tren metode cocoklogi, dengan membandingkan kejadian tahun ini dengan 2012 silam.

Metode cocoklogi ini memang tengah populer, baik di Indonesia atau dunia. Maksudnya adalah merujuk pada sikap menafsirkan dan menyimpulkan sesuatu dari beberapa hal yang dianggap memiliki kemiripan, tanpa berlandaskan logika ilmiah.

Chelsea juara Liga Champions 2012 - Goal
Goal.com

Nah, menjelang final EURO tahun ini, metode cocoklogi ini digunakan untuk membandingkan dengan kejadian yang mirip pada 2012. Pada waktu itu, Chelsea menjadi juara Liga Champions dengan mengalahkan Bayern Munich di final.

Trofi itu menjadi satu-satunya yang diraih The Blues di pentas Liga Champions, sebelum digandakan pada tahun ini. Mei lalu, tim asal London itu kembali menjadi juara Liga Champions setelah mengalahkan Manchester City pada laga puncak.

Peristiwa 2012 Memicu Asa Tuan Rumah Jelang Italia vs Inggris

Menariknya lagi, kesamaan tahun ini dengan 2012 tak cuma mengacu kepada Chelsea juara Liga Champions. Dalam dua waktu berjarak 9 tahun tersebut, Manchester City juga berstatus juara Premier League dengan mengungguli Manchester United di klasemen akhir.

Italia vs Spanyol final EURO 2012 - Ascom
AS.com

Lalu, apa kaitannya dengan timnas Italia? Dilansir Football5star.com dari Marca, menjadi sebuah kebetulan pula karena pada 2012, Italia lolos ke final EURO menantang Spanyol di Kyiv, Ukraina. Hasilnya, Gli Azzurri takluk dengan skor telak 0-4 dari La Firua Roja.

Apakah teori cocoklogi tersebut benar-benar berlaku pada final Italia vs Inggris tahun ini? Mungkin tidak semua orang akan memercayainya. Namun, untuk publik Inggris hal itu bisa dianggap sebagai pemicu asa untuk melepas dahaga juara di pentas Eropa.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Final EURO 2020: Timnas Inggris Ternyata Baru Sekali Kalahkan Italia di Wembley

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Inggris kini sangat difavoritkan menjuarai EURO 2020. Tim asuhan Gareth Southgate diyakini akan mampu melewati adangan timnas Italia pada laga final, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Salah satu sebabnya, Harry Kane dkk. akan bermain di Stadion Wembley.

Tampil di Wembley memang jadi keuntungan tersendiri. Pertama, Inggris akan mendapatkan dukungan lebih banyak karena Italia hanya akan didukung suporter yang tinggal di negeri Pangeran Charles tersebut. Kedua, mereka belakangan ini punya rekor bagus di sana.

Timnas Inggris menuai satu-satunya kemenangan atas timnas Italia di Stadion Wembley pada 1977.
soccernostaglia.blogspot.com

Kemenangan 2-1 atas Denmark pada semifinal EURO 2020 membuat Inggris kini tak kalah dalam 9 laga terakhir yang berlangsung di Wembley. Kali terakhir mereka takluk pada 14 Oktober 2020. Ketika itu, The Three Lions dikalahkan Denmark lewat gol tunggal dari penalti Christian Eriksen.

Akan tetapi, Inggris tak bisa terlalu berharap pada tuah Wembley saat final nanti. Sebabnya, mereka akan menghadapi Italia. Sepanjang sejarah, The Three Lions ternyata hanya 1 kali menang dalam 6 kesempatan terdahulu menjamu Gli Azzurri di sana. Kemenangan itu diraih pada 16 November 1977. Berkat gol-gol Kevin Keegan dan Trevor Brooking, mereka menang 2-0.

Inggris Sempat 2 Kali Kalah di Wembley

Jumlah kemenangan The Three Lions itu justru kalah dari jumlah kemenangan Italia saat melawat ke Wembley. Dalam enam lawatan terdahulu, Gli Azzurri ternyata sempat membukukan 2 kemenangan. Kedua kemenangan itu dibukukan dengan skor identik, yakni 1-0.

Kemenangan pertama Italia di stadion keramat milik Inggris itu diraih pada 14 November 1973 dalam sebuah laga persahabatan. Gli Azzurri menuai gol pada menit ke-87. Berawal dari tendangan Giorgio Chinaglia yang dimentahkan Peter Shilton, Fabio Capello menceploskan bola ke gawang. Ini kemenangan kedua beruntun bagi Gi Azzurri. Sebelumnya, mereka menang atas The Three Lions di Roma dengan skor 2-0.

Kemenangan berikutnya diraih Italia di kandang keramat Inggris pada 12 Februari 1997 dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 1998. Gli Azzurri lagi-lagi menang 1-0. Kali ini, sang pahlawan adalah Gianfranco Zola yang menjebol gawang Ian Walker saat pertandingan baru berjalan 19 menit.

Satu hal yang membuat Italia bisa lebih percaya diri, Inggris tak pernah mengalahkan mereka di Stadion Wembley dalam tiga kesempatan terakhir. Sebelum dan sesudah kemenangan pada 1997 itu, dua pertemuan Inggris vs Italia di stadion ini selalu imbang. Pada 15 November 1989, skor akhir 0-0, sedangkan pada 27 Maret 2018 berakhir 1-1. Laga pada 2018 juga merupakan kali terakhir The Three Lions menghadapi Gli Azzurri.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Skor dan Pencetak Gol Final EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Final EURO 2020 akan berlangsung di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Timnas Italia dan timnas Inggris akan berebut gelar juara. Ini adalah kali pertama laga final menautkan Gli Azzurri dengan The Three Lions.

Dalam sebuah laga final, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah soal skor akhir dan jumlah gol yang akan tercipta. Apalagi, belakangan ini, banyak final yang hanya berbuah 1 gol. Terbaru, skor 1-0 jugalah yang muncul pada final Copa America 2021 antara Argentina dan Brasil.

Terkait final EURO, berikut ini, Football5Star.com menyuguhkan 5 fakta menarik mengenai skor dan pencetak gol sejak 1960 hingga 2016.

1. Final EURO Didominasi Margin 1 Gol

Ada banyak fakta menarik soal skor dan pencetak gol di final EURO.
Getty Images

Final EURO biasanya berakhir dengan skor ketat. Dalam 16 laga yang tersaji pada 15 final, hanya 6 kali tercipta skor dengan selisih lebih dari 1 gol. Kali terakhir saat Spanyol menang 4-0 atas Italia pada EURO 2012. Sisanya, dalam 10 laga, skor akhir didominasi selisih 1 gol. Rinciannya, 5 kali skor 2-1 dan 3 kali skor 1-0.

Dalam 10 laga, dua kali tercipta hasil imbang. Pertama, pada final Piala Eropa 1968 yang menautkan Italia dengan Yugoslavia. Laga berakhir 1-1. Itu membuat kedua tim harus menjalani laga ulang yang lantas dimenangi Italia dengan skor 2-0. Kedua, pada final Piala Eropa 1976. Laga Cekoslowakia vs Jerman Barat berakhir 2-2. Cekoslowakia lantas menang adu penalti 5-3.

2. Dua Kali Skor 2-0 pada Babak I

Partai final EURO selalu berlangsung ketat. Selain hasil akhir didominasi margin 1 gol, babak pertama pun sangat jarang diwarnai tim yang mampu unggul dengan lebih dari 1 gol. Hingga saat ini, hal itu baru terjadi dua kali, yaitu pada laga ulang final Piala Eropa 1968 dan final EURO 2012.

Pada laga ulang final Piala Eropa 1968, Italia menang 2-0 atas Yugoslavia. Kedua gol dicetak pada babak pertama oleh Luigi Riva dan Pietro Anastasi. Sementara itu, pada final Piala Eropa 2012, Spanyol menang 4-0 dengan didahului keunggulan 2-0 pada babak pertama berkat gol David Silva dan Jordi Alba.

3. Brace di Final Hanya Dibuat Pemain Jerman

Oliver Bierhoff mencetak brace pada final EURO 1996 melawan Rep. Cheska.
cultofcalcio.com

Dari edisi pertama pada 1960 hingga 2016 telah tercipta 39 gol pada laga-laga final EURO. Tercatat ada 34 pemain yang berkontribusi pada 39 gol tersebut. Empat pemain di antaranya mencetak lebih dari satu gol. Gerd Mueller memimpin dengan 3 gol, sementara Horst Hrubesch, Oliver Bierhoff, dan Fernando Torres sama-sama mencetak 2 gol.

Menariknya, hanya tiga pemain yang mencetak brace dan mereka sama-sama pemain Jerman. Mueller mencetak 2 gol saat Jerman Barat menang atas Uni Soviet pada 1972, Hrubesch memborong 2 gol kemenangan 2-1 atas Belgia pada 1980, sedangkan Bierhoff memborong 2 gol kemenangan 2-1 atas Rep. Cheska pada 1996.

4. Hanya 7 Gol Pemain Pengganti

Eder adalah pemain pengganti terakhir yang mencetak gol pada final EURO.
toledoblade.com

Dari 39 gol yang tercipta pada 15 laga final EURO sejak 1960 hingga 2016, hanya 7 buah yang dicetak oleh pemain pengganti. Gol pemain pengganti ini baru hadir pada final Piala Eropa 1996 saat Oliver Bierhoff memborong 2 gol kemenangan Jerman atas Rep. Cheska.

Berikutnya, Sylvain Wiltord dan David Trezeguet mencetak gol setelah bangkit dari bangku cadangan ketika Prancis menaklukkan Italia pada final Piala Eropa 2000. Lalu, Fernando Torres dan Juan Mata pada final Piala Eropa 2012. Terakhir, Eder yang menjadi pahlawan kemenangan Portugal pada final EURO 2016 melawan Prancis.

5. Cuma Ada 2 Gol Penalti

Patrik Berger adalah satu dari hanya dua pencetak gol penalti pada final EURO.
Getty Images

Berapa banyak gol penalti pada final EURO sejak 1960? Ternyata jumlahnya sangat sedikit, yaitu 2 dari 39 gol. Artinya, hanya 5,13% dari total seluruh gol. Kedua gol penalti itu pun sama-sama bersarang di gawang tim yang sama, yakni timnas Jerman yang lantas juara dengan meraup kemenangan 2-1.

Gol penalti pertama pada final Piala Eropa tercipta pada 1980 saat Belgia menghadapi Jerman Barat. Rene Vandereycken memperdaya Harald Schumacher pada menit ke-75. Adapun gol penalti kedua dibuat oleh Patrik Berger ketika Rep. Cheska melawan Die Mannschaft pada final Piala Eropa 1996.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Nasib Tragis Suporter Inggris Sepulang Nonton Semifinal EURO 2020 di Wembley

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Keberhasilan timnas Inggris melaju ke final EURO 2020 harus dibayar mahal oleh salah seorang suporternya. Nina Farooqi, mengalami nasib tragis harus dipecat dari pekerjaannya sepulang menonton langsung kemenangan Inggris atas Denmark pada semifinal.

Farooqi memang terpaksa kehilangan pekerjaan akibat keputusannya menonton langsung duel Inggris vs Denmark di Stadion Wembley, Rabu (7/7) malam waktu setempat. Pasanya, dia ketahuan berbohong untuk bisa datang ke stadion.

Inggris - Khabib Nurmagomedov - News and Star
News and Star

Wanita berusia 37 tahun itu seharusnya memiliki jadwal masuk kerja sebagai Digital Content Coordinator di perusahaan Composite Prime. Namun, mendadak temannya menawari tiket menonton pertandingan semifinal EURO 2020 di stadion.

Tanpa pikir panjang, Farooqi langsung mengiyakan ajakan sang teman. Dia pun terpaksa berbohong kepada perusahaan dengan mengatakan sedang sakit dan tak bisa masuk kerja.

Namun, takdir seolah sudah menggiring Farooqi menghadapi nasib tragis. Ketika Inggris menyamakan kedudukan melalui gol bunuh diri bek Denmark, Simon Kjaer, pada menit ke-39, Farooqi larut dalam kegembiraan bersama ribuan suporter lain.

Tak disangka, kamera televisi yang menyorot ke arah kerumunan suporter di tribune, menangkap gambar Farooqi. Ketika itu, wanita asal Bradford tersebut begitu heboh merayakan gol The Three Lions yang membuat skor menjadi 1-1.

Ketika jeda pertandingan, Farooqi mendapat pesan singkat dari temannya. Sang teman mengatakan bahwa Farooqi terlihat jelas di layar televisi ketika sedang merayakan gol Inggris.

Nina Farooqi suporter timnas Inggris EURO 2020 - Youtube
Tangkapan Layar Youtube

Nina Farooqi Tak Menyesal Dipecat Gegara Nonton Timnas Inggris

Keesokan pagi, dalam perjalanan menuju Leeds, Farooqi mendapat telepon dari atasan di perusahaan tempatnya bekerja. Sang bos mengatakan agar Farooqi tak perlu membuang waktu untuk masuk bekerja lagi. Dengan kata lain, dia dipecat dari pekerjaannya.

“Ada rasa penyesalan, tak ada orang yang mau dipecat. Namun, saya juga akan kecewa jika melewatkan momen penting itu (nonton di stadion). Saya tak akan ragu untuk melakukannya lagi,” bilang Farooqi.

Farooqi memang sangat memimpikan nonton langsung perjuangan Inggris di turnamen selevel EURO, langsung di stadion. Bahkan, dia terkenang momen EURO 1996, ketika Inggris gagal menjadi juara meski bertindak sebagai tuan rumah.

“Momen ini tak pernah datang sejak 1996. Saya samar-samar mengenang ketika menangis di sofa ibu waktu Gareth Southgate gagal mencetak gol melalui penalti. Sisi penggemar sepak bola dalam diri saya tak bisa menerima itu. Sepak bola adalah hidup saya,” bilang dia lagi.

Setelah peristiwa nahas itu, apakah Nina Farooqi masih ingin menonton pertandingan Inggris pada final EURO 2020? Jika melihat kenekatan dia saat semifinal yang berujung hilangnya pekerjaan, agaknya hal sama akan dilakukannya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Sejarah Final Piala Eropa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 akan segera berakhir. Senin (12/7/2021) dini hari WIB, partai final Piala Eropa akan digelar. Timnas Italia akan menghadapi timnas Inggris di Stadion Wembley. Begitu laga usai dan sang juara telah muncul, pentas empat tahunan itu pun berakhir.

Laga Italia vs Inggris di Stadion Wembley adalah final edisi ke-16 sepanjang sejarah Piala Eropa sejak 1960. Dalam 15 final sebelumnya, sudah tertoreh banyak catatan menarik. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik sejarah final Piala Eropa.

1. Jerman Tersering Tampil di Final Piala Eropa

Jerman vs Spanyol pada final Piala Eropa 2008.
zimbio.com

Gelaran EURO 2020 melahirkan finalis baru. Untuk kali pertama, timnas Inggris akan melakoni laga final Piala Eropa. Sebelumnya, prestasi tertinggi The Three Lions adalah semifinalis pada 1996. Sejak 1960, Inggris jadi tim ke-13 yang menembus partai puncak.

Di antara tim-tim finalis, Jerman punya prestasi tersendiri. Die Mannschaft tercatat sebagai tim yang paling sering lolos ke final, yakni sebanyak 6 kali. Mereka melakukannya pada 1972, 1976, 1980, 1992, 1996, dan 2008. Di belakang Jerman ada Spanyol, Uni Soviet/Rusia, dan Italia. Ketiganya sama-sama empat kali berlaga di final Piala Eropa.

2. Sekali Laga Ulang di Partai Puncak

Gelaran EURO 1968 akan terus terpatri dalam sejarah karena satu keunikan. Itu adalah final yang diulang. Timnas Italia dan Yugoslavia harus menjalani dua pertandingan. Gara-garanya, final yang berlangsung pada 8 Juni 1968 berakhir imbang 1-1 dalam 120 menit. Karena adu penalti belum diterapkan, jadilah laga final harus diulang.

Italia dan Yugoslavia kembali bertanding dua hari kemudian, 10 Juni 1968. Hasilnya kini tidak lagi imbang. Gli Azzurri sukses menaklukkan sang lawan dengan skor 2-0. Menariknya lagi, pada semifinal, Italia menyingkirkan Uni Soviet dengan lempar koin setelah imbang tanpa gol dalam 120 menit.

3. Baru Sekali Juara Ditentukan Adu Penalti

Dalam 15 edisi terdahulu, lumayan sering laga final Piala Dunia tak selesai dalam 90 menit. Tercatat, enam kali laga harus dilanjutkan hingga perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu bahkan harus dilakoni final edisi pertama pada 1960 yang menautkan Uni Soviet dengan Yugoslavia.

Meskipun demikian, dari enam kesematan itu hanya sekali sang pemenang harus ditentukan lewat adu penalti. Itu terjadi saat Cekoslowakia bersua Jerman Barat pada final EURO 1976. Imbang 2-2 dalam 120 menit, Cekoslowakia lantas menang adu penalti 5-3 dengan diwarnai eksekusi tak biasa yang dilakukan Antonin Panenka.

4. Dua Laga Final Ditentukan Golden Goal

https://www.youtube.com/watch?v=N5H8KoMPjfk&ab_channel=NIXBLACK

Sudden death karena tercipta golden goal. Itulah yang terjadi pada dua final Piala Eropa beruntun, yakni EURO 1996 dan EURO 2000. Pada EURO 1996, pertandingan berakhir saat perpanjangan waktu berjalan 5 menit. Gara-garanya, Oliver Bierhoff mencetak golden goal yang membawa Die Mannschaft menang 2-1.

Kejadian serupa terulang pada final EURO 2000 yang menautkan Prancis dengan Italia. Skor imbang 1-1 saat babak kedua usai. Alhasil, laga pun dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Kali ini, golden goal baru tercipta pada menit ke-103 melalui sepakan David Trezeguet. Les Bleus menang 2-1 atas Gli Azzurri.

5. Laga Final Hampir Selalu Berbeda

Laga Jerman vs Rep. Cheska pada final EURO 1996 adalah ulangan final Piala Eropa dua dekade sebelumnya,
thesun.co.uk

Dari gelaran EURO 1960 hingga EURO 2020, komposisi tim yang berlaga pada final Piala Eropa hampir selalu berbeda. Italia vs Inggris pada EURO 2020 adalah kombinasi ke-15. Pengulangan hanya terjadi sekali, yaitu saat Jerman bersua Rep. Cheska pada final EURO 1996.

Laga final itu adalah ulangan pada dua dekade sebelumnya, tepatnya pada EURO 1976. Bedanya, ketika itu kedua negara punya nama lain. Jerman masih belum bersatu dan bernama Jerman Barat. Sebaliknya, Rep. Cheska belum pecah dan masih mengusung panji Cekoslowakia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Bjorn Kuipers Wasit Final EURO 2020, Italia Bisa Kalahkan Inggris Lagi?

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – UEFA sudah menunjuk wasit laga Italia vs Inggris pada final EURO 2020 di Stadion Wembley, Senin (12/7) WIB. Dia adalah Bjorn Kuipers, pria asal Belanda yang juga pernah memimpin pertandingan ketika Italia menaklukkan Inggris pada Piala Dunia 2014.

Dalam usia 48 tahun, Kuipers sudah cukup sering memimpin pertandingan di level dunia. Dia menjadi wasit pada pertandingan-pertandingan EURO 2012, 2016, dan 2020, serta Piala Dunia 2014 dan 2018.

Pada EURO 2020, Kuipers memimpin dua pertandingan pada fase grup, Denmark vs Belgia dan Spanyol vs Slovakia. Lalu, dia kembali memimpin pertandingan Denmark pada babak perempat final melawan Republik Cheska.

Pada partai final, Kuipers akan ditemani oleh beberapa partnernya sebagai asisten, ofisial keempat, hingga operator VAR (video assistant referee). Salah satunya adalah Pol van Boekel, yang juga menjadi operator VAR pada laga semifinal, Inggris vs Denmark.

Bjorn Kuipers Italia vs Inggris Piala Dunia 2014 - Zimbio
Zimbio

Timnas Italia sebenarnya punya kenangan manis ketika diwasiti Bjorn Kuipers. Terutama saat bersua Inggris, calon lawan pada final tahun ini. Pada babak grup Piala Dunia 2014 di Brasil, laga Italia vs Inggris juga dipimpin oleh pria Belanda itu.

Ketika itu, Italia bisa memenangi pertandingan dengan skor 2-1 atas Inggris. Dua gol Gli Azzurr dicetak Claudio Marchisio dan Mario Balotelli. Sementara, sebiji gol The Three Lions dilesakkan Daniel Sturridge.

Itulah satu-satunya pertemuan kedua negara yang dipimpin oleh Kuipers. Bahkan, juga satu-satunya kemenangan Italia pada babak grup Piala Dunia 2014. Italia dan Inggris pada akhirna gagal lolos karena hanya menempati peringkat ketiga dan keempat, di bawah Kosta Rika dan Uruguay.

Bjorn Kuipers Italia vs Inggris Piala Dunia 2014 1 - Zimbio
Zimbio

Final EURO 2020 Jadi Kali Kedua Bjorn Kuipers Pimpin Laga Italia vs Inggris

Selepas Piala Dunia 2014, Kuipers juga pernah mewasiti tiga pertandingan lain Italia. Menariknya, setelah kemenangan melawan Inggris, Gli Azzurri tak pernah meraih hasil bagus lagi ketika laganya dipimpin Kuipers.

Lima bulan setelahnya, Kuipers kembali menjadi wasit ketika Italia menghadapi Kroasia pada kualifikasi EURO 2016. Hasilnya, Gli Azzurri hanya bisa bermain imbang 1-1.

Bahkan dua laga setelahnya bersama Kuipers berakhir lebih nahas. Italia kalah 1-3 dari Prancis pada laga persahabatan (1/9/2016), dan dibekuk Spanyol 0-3 pada kualifikasi Piala Dunia 2018 setahun berselang.

Bjorn Kuipers final EURO 2020 Italia vs Inggris - Zimbio
Zimbio

Kebalikan dengan Inggris. Kekalahan dari Italia pada Piala Dunia 2014 justru menjadi satu-satunya hasil buruk bersama Kuipers. Setelah itu, THe Three Lions mampu mencatat dua kemenangan ketika Kuipers berada di tengah lapangan.

Kemenangan pertama adalah ketika unggul 2-0 atas Swedia pada Piala Dunia 2018. Dua tahun berselang, mereka kebali menang bersama Kuipers dengan skor 2-1 atas Polandia pada kualifikasi Piala Dunia 2022, (31/3/2021).

Dengan rekam Bjorn Kuipers tersebut, masih sulit memprediksi siapa yang dintungkan pada laga final. Italia pernah mengalahkan Inggris bersama Kuipers, tapi nahas pada laga-laga lainnya. Kebalikan dengan Inggris, yang justru beruntung bersama Kuipers sejak takluk dari Gli Azzurri.

Rekor Bjorn Kuipers memimpin Italia vs Inggris
Inggris 1-2 Italia – Babak Grup Piala Dunia 2014

Rekor Italia bersama Kuipers: 1 menang, 1 seri, 2 kalah
Rekor Inggris bersama Kuipers: 2 menang, 1 kalah

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Wasit Inggris vs Denmark Sempat Minta Maaf untuk Kesalahan Fatalnya

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Wasit Danny Makkelie menjadi sorotan akibat keputusan kontroversialnya pada laga semifinal EURO 2020, Inggris vs Denmark. Menariknya, beberapa waktu lalu dia sempat meminta maaf setelah melakukan kesalahan fatal di sebuah pertandingan.

Dalam pertandingan Inggris vs Denmark di Stadion Wembley, Kamis (8/7) WIB, Makkelie memang mencuri panggung. Dia dinilai membuat keputusan kontroversial ketika memberi hadiah penalti kepada Inggris pada menit ke-103.

Raheem Sterling Inggris vs Denmark EURO 2020 - Getty Image
Getty Image

Ketika itu, pelanggaran terhadap Raheem Sterling membuatnya menunjuk titik putih. Bahkan, dipertegas setelah berkonsultasi dengan operator VAR (video assistant referee).

Sejumlah pihak menilai, pelanggaran kecil yang dilakukan Joakim Maehle itu tak sepatutnya diganjar penalti. Bahkan, ada pula yang menuding Raheem Sterling melakukan diving untuk mengecoh wasit.

Tak cuma itu. Ketika Sterling melakukan akeselerasi dengan bola sebelum terjadi pelanggaran, Danny Makkelie pun disebut membuat kesalahan. Saat itu ada bola lain yang masuk ke lapangan tak jauh dari posisi Sterling serta para pemain bertahan Denmark.

Inggris vs Denmark The Three Lions Masuk Final Euro Untuk Pertama Kalinya
Twitter @EURO2020

Makkelie membiarkan kejadian itu dengan anggapan kehadiran bola lain tak mengganggu permainan. Keputusan itu juga ikut menjadi perdebatan di kalangan publik. Melalui dua insiden di laga Inggris vs Denmark itu, pengadil asal Belanda tersebut ramai menuai kritik.

Akibat insiden itu, gelandang timnas Denmark, Pierre-Emile Hojbjerg, menuntut agar wasit sepatutnya memberi klarifikasi di depan publik. “Mulai sekarang, kalian pasti menginginkan wasit berbicara di depan kamera,” bilang dia.

Sebelum Inggris vs Denmark, Danny Makkelie Sempat Bikin Cristiano Ronaldo Marah Besar

Menariknya, Danny Makkelie sebelumnya juga sempat disorot akibat melakukan satu kesalahan fatal. Peristiwa itu terjadi dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022, Portugal vs Serbia, pada Maret silam.

Wasit yang juga berprofesi sebagai polisi itu tak mengesahkan gol Cristiano Ronaldo karena dinilai belum melewati garis gawang. Kala itu, tak ada VAR dalam pertandingan. Sementara dalam tayangan ulang, bola terlihat jelas sudah seluruhnya melewati garis gawang.

Danny Makkelie Cristiano Ronaldo Serbia vs Portugal - Daily Mail
Daily Mail

Momen itu membuat Ronaldo begitu berang. Dia sampai membanting ban kaptennya ke rumput dan meninggalkan pertandingan yang menyisakan beberapa menit terakhir.

Sadar dengan kesalahan yang berimbas buruk terhadap Selecao Das Quinas, Makkelie sempat melontarkan permintaan maaf dalam wawancara dengan media Portugal, A Bola.

“Satu-satunya yang bisa saya katakan adalah, saya minta maaf kepada pelatih Portugal, Fernando Santos. Sebagai wasit, kami sudah bekerja keras untuk membuat keputusan yang tepat. Ketika kami berada di tengah sorotan seperti ini, kami tak senang,” ujarnya kala itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jordan Pickford Berhasil Kalahkan Rekor Tak Kebobolan Gordon Banks

gamespool
Jordan Pickford Berhasil Kalahkan Rekor Tak Kebobolan Gordon Banks 60

Football5Star.com, Indonesia – Laga semifinal Euro 2020 yang mempertemukan Inggris vs Denmark berakhir dengan skor 2-1. Ada banyak sekali rekor yang dipecahkan maupun disamakan dalam laga ini, salah satunya rekor kiper legendaris Inggris, Gordon Banks.

Denmark secara mengejutkan unggul terlebih dahulu lewat tendangan bebas Mikkel Damsgard. Inggris menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Simon Kjaer. Dan Harry Kane membuat mereka unggul di babak tambahan dan skor 2-1 bertahan hingga laga berakhir. Berikut data dan fakta menarik laga Inggris vs Denmark

Akhirnya Capai Final

Inggris akhirnya untuk pertama kalinya berhasil masuk ke babak final turnamen Euro setelah dua kali kalah di semifinal (1968 dan 1996). The Three Lions butuh 37 pertandingan di Euro untuk melakukan itu.

Ini juga pertama kalinya mereka masuk ke sebuah final turnamen besar sejak Piala Dunia 1966 dimana mereka menjadi juara.

Jordan Pickford dan Harry Kane

Pickford memang akhirnya kebobolan untuk pertama kalinya di Euro lewat gol fantastis Damsgaard di menit ke-30. Namun dia sudah berhasil memecahkan rekor clean sheet selama 720 menit milik Gordon Banks pada menit ke-25. Banks mencatatkan rekor itu dari Mei-Juli 1966.

Sedangkan Kane yang berhasil mencetak satu gol di laga itu berhasil menyamai rekor 10 gol Gary Lineker di turnamen besar (Euro dan Piala Dunia). Kane hanya butuh satu gol lagi untuk menjadi topskorer Inggris di turnamen besar dan itu bisa dia lakukan di partai final.

Kasper Schmeichel

Penampilan heroik Kasper Schmeichel sayangnya gagal membuat Denmark menang. Total dia berhasil melakukan 9 penyelamatan di laga itu termasuk penalti Kane. Schmeichel menjadi kiper Denmark yang berhasil melakukan penyelamatan terbanyak di satu laga Euro. Rekor sebelumnya dipegang oleh sang ayah, Peter Schmeichel.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Inggris vs Denmark: The Three Lions Masuk Final Euro Untuk Pertama Kalinya

gamespool
Inggris vs Denmark: The Three Lions Masuk Final Euro Untuk Pertama Kalinya 63

Football5Star.com, Indonesia – Pertandingan menarik tersaji di semifinal Euro 2020 yang mempertemukan Inggris vs Denmark. The Three Lions menang 2-1 dan untuk pertama kalinya mereka masuk ke final Euro setelah dua kali gagal di semifinal sebelumnya.

Dalam 25 menit pertama, kedua tim sama-sama memiliki peluang. Inggris lebih dulu lewat Raheem Sterling dan Denmark lewat Pierre-Emile Hoejbjerg, tapi tendangan kedua pemain itu bisa dengan mudah ditanggkap masing-masing kiper.

Denmark cetak gol pada menit ke-29. Lewat tendangan bebas, Mikel Damsgaard melepaskan tembakan keras fantastis ke pojok gawang Jordan Pickford.

Kasper Schmeichel melakukan penyelamatan gemilang pada menit ke-37. Dia menepis tendangan Raheem Sterling yang berada di depan gawang.

Tapi semenit kemudian, Inggris menyamakan kedudukan. Harry Kane memberi umpan terobosan ke Bukayo Saka. Pemain Arsenal itu memberi umpan ke Sterling. Tapi Simon Kjaer memotong bola dan masuk ke gawangnya sendiri.

Babak pertama Inggris vs Denmark berakhir dengan skor 1-1.

Inggris dapat peluang pada menit ke-54. Lewat bola mati, Mason Mount memberi umpan lambung ke Harry Maguire yang bisa menanduk bola, tapi Schmeichel melakukan penyelamatan gemilang.

Schmeichel kembali melakukan penyelamatan pada menit ke-72. Umpan lambung Mount tidak sengaja mengarah berbahaya ke arah gawang dan Schmeichel menepis bola ke atas gawang.

Laga Inggris vs Denmark berakhir dengan skor 1-1. Pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan.

Pada babak tambahan Inggris mencetak gol pada menit ke-104. Sterling jatuh di kotak penalti dan wasit menunjuk titik putih. Penalti Kane mampu ditepis oleh Schmeichel, tapi bola rebound kembali ke kakinya dan dia menendang bola ke gawang yang kosong.

Laga Inggris vs Denmark berakhir dengan skor 2-1. Inggris akan bertemu Italia di babak final, Senin dini hari (12/7/21).

Susunan Pemain Inggris vs Denmark

Inggris (4-2-3-1): 1-Jordan Pickford; 2-Kyle Walker, 5-John Stones, 6-Harry Maguire, 3-Luke Shaw; 14-Kalvin Phillips, 4-Declan Rice (8-Jordan Henderson); 25-Bukayo Saka (7-Jack Grealish (12-Kieran Trippier)), 19-Mason Mount (20-Phil Foden), 10-Raheem Sterling; 9- Harry Kane.

Pelatih: Gareth Southgate.

Denmark (3-4-3): 1-Kasper Schmeichel; 6-Andreas Christensen (2-Joachim Andersen), 4-Simon Kjaer, 3-Jannik Vestergaard (19-Jonas Wind); 17-Styger Larsen (18-Daniel Wass), 23-Pierre-Emile Hoejbjerg, 8-Thomas Delaney (24-Mathias Jensen), 5-Joakim Maehle; 9-Martin Braithwaite, 12-Kasper Dolberg (15-Christian Noergaard), 14-Mikkel Damsgaard (20-Yussuf Poulsen).

Pelatih: Kasper Hjulmand.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Spanyol Tersisih dari EURO 2020, Alvaro Morata Cetak Dua Rekor

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Mimpi timnas Spanyol menjuarai EURO 2020 akhirnya kandas. Tim asuhan Luis Enrique takluk 2-4 dalam adu penalti dari timnas Italia setelah imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Alvaro Morata dipastikan jadi sosok yang paling bersedih meratapi kegagalan tersebut.

Morata hampir saja jadi pahlawan Spanyol. Dia mencetak gol penyeimbang 1-1 saat pertandingan memasuki menit ke-80. Golnya hanya berselang 20 menit dari gol Federico Chiesa yang membawa Italia unggul 1-1. Namun, saat adu penalti, sebagai algojo keempat, dia gagal menaklukkan Gianluigi Donnarumma. La Furia Roja pun takluk 2-4.

Bukan hanya kegagalan penalti itu yang membuat Morata pedih. Malam itu seharusnya sangat indah bagi pemain Juventus tersebut. Dua rekor dicetaknya dalam pertandingan di Stadion Wembley. Itu terkait gol yang dijejalkan ke gawang Donnarumma pada menit ke-80.

Gol saat lawan Italia membuat Morata jadi pemain tersubur timnas Spanyol pada pentas EURO. Itu adalah gol keenamnya. Selain mencetak 3 gol pada EURO 2020, dia juga menciptakan 3 gol pada EURO 2016. Dia melewati Fernando Torres yang mengemas 5 gol saat Spanyol juara pada EURO 2008 dan 2012.

Pil Pahit Alvaro Morata untuk Spanyol

Di samping jadi pemain tersubur timnas Spanyol pada pentas Piala Eropa, Alvaro Morata juga menorehkan rekor lain. Dia menjadi pemain Spanyol pertam yang mencetak gol di Stadion Wembley bersama timnas dan klubnya. Sebelumnya, dia mencetak gol saat Chelsea menang 2-0 atas Southampton pada semifinal Piala FA 2017-18.

Dua rekor pribadi itu tentu saja tetap akan jadi torehan sejarah. Namun, jadi tidak indah lagi bagi Morata karena Spanyol gagal lolos ke final. Sepanjang sejarah, inilah kali pertama La Furia Roja terjegal pada semifinal Piala Eropa. Sebelumnya, pada empat kesempatan terdahulu, mereka selalu mampu lolos ke final bila sudah sampai 4 besar.

Pada empat kesempatan terdahulu lolos dari semifinal, Spanyol tiga kali tampil sebagai juara, yakni pada 1964, 2008, dan 2012. Mereka jadi tim pertama yang juara dua kali secara beruntun. Adapun satu-satunya kegagalan di final dialami pada 1984. Kala itu, La Furia Roja dikalahkan Prancis dengan skor 0-2.

Selain itu, hasil yang diraih Alvaro Morata cs. pada semifinal EURO 2020 kian menegaskan rekor buruk mereka kala menghadapi Italia pada pentas Piala Eropa. Sepanjang sejarah, La Furia Roja hanya sekali menang, yaitu pada final EURO 2012. Sisanya, mereka 4 kali imbang dan 2 kali kalah.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Roberto Mancini: Italia Tak Bermain Seperti Biasanya

gamespool
Roberto Mancini: Italia Tak Bermain Seperti Biasanya 69

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Italia, Roberto Mancini, mengakui bahwa timnya tidak bermain seperti biasanya di laga melawan Spanyol. Tapi menurutnya perjuangan keras yang membuat Italia lolos ke babak final.

Italia berhasil mengalahkan Spanyol di semifinal Euro 2020 lewat babak adu penalti setelah laga berakhir imbang 1-1 selama 120 menit, (7/7/21). Namun Italia benar-benar kesulitan sepanjang pertandingan dengan Spanyol lebih menguasai permainan. Mancini mengakui kejutan Spanyol untuk tidak memainkan Alvaro Morata sejak awal membuat masalah terhadap Italia.

“Penalti itu kejam. mereka adalah tim yang tangguh, Spanyol adalah tim hebat yang bermain sangat baik. Kami tidak bermain seperti biasanya, tetapi berjuang keras dan tahu akan seperti ini,” kata Mancini seperti dikutip Football5Star.com dari Rai Sport.

Italia Hentikan Rekor Kemenangan Spanyol di Semifinal Turnamen Besar
@Azzurri

Mancini melanjutkan, “Mereka menyebabkan masalah bagi kami dengan perubahan ini (tak mainkan Morata), tetapi kemudian kami mendapatkan koordinat yang tepat dan tidak mengambil banyak risiko. Kami tahu sejak awal bahwa Spanyol adalah ahli penguasaan bola, jadi mereka akan membuat kami bermasalah, tetapi kami harus menyesuaikan diri dan berjuang keras.”

Gli Azzurri berhasil masuk ke final Euro 2020 setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018, tapi Mancini mengingatkan bahwa perjuangan belum usai.

“Tim sepak bola menyerang dan bertahan, mereka tidak bisa hanya menyerang. Kami berdua memiliki peluang, ini adalah tim yang hebat, semua tim bertahan, bukan hanya kami,” kata Mancini.

Mantan pelatih Inter itu melanjutkan, “Penghargaan diberikan kepada para pemain, karena mereka percaya pada semua ini tiga tahun lalu, tetapi ini belum berakhir. Kami harus mengumpulkan kekuatan kami, apa yang tersisa, dan bersiap untuk Final.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Italia Hentikan Rekor Kemenangan Spanyol di Semifinal Turnamen Besar

gamespool
Italia Hentikan Rekor Kemenangan Spanyol di Semifinal Turnamen Besar 73

Football5Star.com, Indonesia – Italia berhasil lolos ke final Euro 2020 setelah mengalahkan Spanyol dalam drama adu penalti, (7/7/21). Banyak rekor yang tercipta di laga ini, salah satunya berhentinya rekor kemenangan Spanyol di semifinal.

Laga berjalan dengan sangat ketat dengan Spanyol menguasai penguasaan bola dan Italia mengandalkan serangan balik cepat. Serangan balik itu terbukti jitu ketika Federico Chiesa berhasil mencetak gol lewat serangan yang dimulai dari Gigio Donnarumma pada menit ke-60.

Italia Berhasil Hentikan Rekor Kemenangan Spanyol di Semifinal Turnamen Besar
@brfootball

Tapi Alvaro Morata membalas pada menit ke-80 dan laga dilanjutkan ke babak adu penalti setelah 120 menit laga berakhir imbang 1-1.

Manuel Locatelli merupakan satu-satunya penendang Italia yang gagal, sedangkan Spanyol, Dani Olmo dan Alvaro Morata gagal dan Jorginho berhasil membuat Italia menang 4-2. Berikut beberapa data dan fakta menarik laga Italia vs Spanyol.

Rekor Kemenangan Spanyol Terhenti

Saat Spanyol berhasil masuk ke babak semifinal di sebuah major turnamen (Euro dan Piala Dunia) mereka selalu menang dan lolos ke babak final. Tepatnya lima kali mereka melakukan itu dan terakhir terjadi di Euro 2012. Tapi kini untuk pertama kalinya mereka gagal melakukan itu.

33 Laga dan Babak Tambahan

Ya, hasil ini membuat Gli Azzurri tak terkalahkan di 33 laga terakhirnya di semua kompetisi. Mereka hanya berjarak dua laga lagi untuk bisa menyamai rekor dunia yang dipegang oleh Brasil (1993-96) dan Spanyol (2007-2009).

Hasil ini juga membuat Italia bermain 20 kali di babak tambahan di turnamen besar (Euro dan Piala Dunia). Itu merupakan rekor dan setidaknya 4 kali lebih banyak dari tim yang berada di bawahnya.

Panggung Jorginho

Jorginho berhasil menjadi penentu ketika tendangan penalti hop, skip, jump-nya berhasil mengelabui Unai Simon dan membuat Azzurri menang 4-2. Tapi bukan hanya penalti, pemain Chelsea itu berhasil melakukan 7 intersep. Angka itu bukan hanya terbanyak di laga itu, tapi juga terbanyak dalam satu laga di sepanjang Euro 2020.

Jorginho juga berhasil mencapai semua pertandingan final semenjak dia bergabung ke Chelsea pada 2018. Final Liga Champions, Liga Europa, Piala FA, Piala Liga, dan kini Euro 2020.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Italia vs Spanyol: Drama Adu Penalti Kirim Gli Azzurri ke Final

gamespool
Italia vs Spanyol: Drama Adu Penalti Kirim Gli Azzurri ke Final 76

Football5Star.com, Indonesia – Pertandingan menarik tersaji di babak semifinal Euro 2020 yang mempertemukan Italia vs Spanyol. Gli Azzurri berhasil menang lewat adu penalti setelah laga berakhir imbang 1-1 selama 120 menit.

Perang taktik terjadi selama 25 menit pertama. Spanyol menguasai pertandingan, tapi saat Italia memegang bola, mereka melakukan umpan-umpan cepat dan mencoba mengelabui pertahanan garis tinggi Spanyol.

Peluang bagus baru terjadi pada menit ke-26, tepatnya untuk Spanyol. Dani Olmo lepas dari penjagaan Leonardo Bonucci dan melepaskan tembakan, tapi bisa ditepis Gigio Donnarrumma.

Italia punya peluang bagus pertama tepat di penghujung babak pertama. Lorenzo Insigne memberi umpan terobosan ke Emerson Palmieri yang melakukan overlapp. Emerson melepaskan tembakan dari sudut sempit, tapi membentur mistar gawang.

Babak pertama Italia vs Spanyol berakhir dengan skor 0-0.

Spanyol punya peluang pada menit ke-51. Mikel Oyarzabal memberi umpan ke Sergio Busquets, tapi tendangan pemain Barcelona itu melebar tipis di atas gawang Donnarumma.

Semenit kemudian, gliliran Gli Azzurri yang punya peluang. Nicolo Barella memberi umpan ke Federico Chiesa yang berada di sisi kanan, tapi tendangan Chiesa bisa diamankan Unai Simon.

Italia mencetak gol pada menit ke-60 dan mereka mencetak gol lewat cara klasik mereka, serangan balik. Insigne memberi umpan terobosan ke Ciro Immobile. Umpannya berhasil dipotong oleh bek Spanyol, tapi Chiesa mengambil bola liar, melakukan cut inside dan berhasil memasukkan bola ke gawnag Unai Simon.

Azzuri dapat peluang bagus kembali pada menit ke-67. Chiesa memberi umpan terobosan ke Domenico Berardi, tapi tendangan kaki kannya bisa diblok oleh Simon.

Spanyol menyamakan kedudukan pada menit ke-79. Alvaro Morata memberi umpan ke Dani Olmo yang langsung mengembalikannya lagi ke Morata dan dia berhasil dengan tenang memasukkan bola ke gawang Donnarumma.

Babak kedua berakhir dengan skor 1-1. Laga berlanjut ke babak tambahan.

Babak Tambahan dan Adu Penalti

Pada babak tambahan, Spanyol punya beberapa peluang, salah satunya lewat Morata yang tendangannya berhasil diblok oleh barisan pertahanan Italia. Azzurri punya satu gol yang dianulir offside dari Domenico Berardi. Tapi tak ada tim yang bisa mencetak gol. Laga Italia vs Spanyol dilanjutkan ke babak adu penalti.

Penendang pertama, tendangan Manuel Locatelli berhasil ditepis oleh Unai Simon. Tapi tendangan DanI Olmo melambung ke atas gawang skor masih 0-0.

Penendang kedua, Andrea Belotti berhasil melakukan tugasnya. Dan Gerard Moreno berhasil memasukkan bola ke gawang, 1-1.

Penendang ketiga, Leonardo Bonucci berhasil mengelabui Unai Simon. Tapi Thiago Alcantara juga melakukan hal yang sama terhadap Donnarumma, 2-2.

Penendang keempat, Federico Bernadeschi melakukan tugasnya dengan sempurna dengan memasukkan bola ke pojok kanan gawang. Dan Alvaro Morata gagal melakukan tugasnya, Donnarumma berhasil menepis tendangan, 3-2.

Dan penendang penalti terakhir, Jorginho berhasil dengan sempurna mengeksekusi penalti dengan tendangan ciri khasnya dan menipu Unai Simon, 4-2. Italia berhasil lolos ke babak final dan akan bertemu pemenang antara Inggris vs Denmark.

Susunan Pemain Italia vs Spanyol

Italia (4-3-3): 21-Gigio Donnarumma; 2-Giovanni Di Lorenzo, 19-Leo Bonucci, 3-Giorgio Chiellini, 13-Emerson (25-Rafael Toloi); 18-Nicolo Barella (5-Manuel Locatelli), 8-Jorginho, 6-Marco Verratti (12-Matteo Pessina); 14-Federico Chiesa (20-Federico Bernardeschi), 17-Ciro Immobile (11-Domenico Berardi), 10-Lorenzo Insigne (9-Andrea Belotti).

Pelatih: Roberto Mancini.

Spanyol (4-3-3): 23-Unai Simon; 2-Cesar Azpilicueta (6-Marcos Llorente), 12-Eric Garcia (4-Pau Torres), 24-Aymeric Laporte, 18-Jordi Alba; 8-Koke (16-Rodri), 5-Sergio Busquets (10-Thiago Alcantara), 26-Pedri; 11-Ferran Torres (7-Alvaro Morata), 21-Mikel Oyarzabal (9-Gerard Moreno), 19-Dani Olmo.

Pelatih: Luis Enrique.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Italia vs Spanyol: Wasit Memihak Gli Azzurri

Football5star.com Indonesia – Jelang laga Italia vs Spanyol pada semifinal EURO 2020, ada fakta menarik terkait wasit Felix Brych yang akan memimpin laga. Keberuntungan yang dihadirkan pengadil asal Jerman tersebut terbukti lebih sering memihak kubu Gli Azzurri.

Bagi Brych, ini kali kelima dirinya akan memimpin laga pada EURO 2020. Pada babak grup, dia sempat menjadi wasit laga Belanda vs Ukraina serta Finlandia vs Belgia. Lalu pada 16 besar, dia mengadili duel Belgia vs Portugal.

Felix Brych Belgia vs Portugal EURO 2020 - Zimbio
Zimbio

Sebelum ditunjuk memimpin laga Italia vs Spanyol, dia juga menjadi wasit utama ketika Inggris menghajar Ukraina pada babak perempat final. Total, Brych sudah 8 kali memimpin pertandingan EURO sejak 2016 dan sudah mengeluarkan 16 kartu kuning.

Menariknya, pria bergelar Doktor tersebut sudah pernah 7 kali mewasiti timnas Italia. Keberuntungan Gli Azzurri bersama Brych pun terbilang cukup bagus. Hasil terburuk adalah dua kali imbang, dan sisanya 5 kemenangan.

Italia vs Spanyol Cukup Akrab dengan Brych

Lebih menarik lagi, di antara kemenangan dan hasil imbang timnas Italia bersama Brych, termasuk dua pertandingan melawan Spanyol. Dalam dua laga tersebut, Italia meraih satu kemenangan dan sekali imbang.

Kemenangan 2-1 diraih ketika Italia menjamu Spanyol di Stadion San Nicola, Bari, pada laga persahabatan (10/8/2011). Kala itu, tim asuhan Cesare Prandelli menang berkat gol Riccardo Montolivo dan Alberto Aquilani. Sementara satu gol balasan La Furia Roja dilesakkan Xabi Alonso.

Setelahnya, Brych kembali mengadili partai Italia vs Spanyol pada kualifikasi Piala Dunia 2018 d JUventus Stadium (6/10/2016). Hasil imbang 1-1 mewarnai duel tersebut. Gol pembuka Spanyol melalui Vitolo mampi dibalas Daniele De Rossi delapan menit jelang laga bubar.

Italia vs Spanyol Felix Brych - Zimbio
Zimbio

Berdasarkan rekam jejak tersebut, timnas Italia patut optimistis menyambut laga semifinal pada Rabu (7/7) WIB. Rekor tanpa kekalahan bersama Brych bukan mustahil berlanjut.

Sementara, tren negatif La Furia Roja pun bisa bertambah. Bersama Brych, Spanyol tak pernah menang dalam tiga pertandingan (dua imbang dan satu kekalahan). Selain dua kali melawan Italia, satu laga lain mereka bersama Brych adalah ketika imbang 1-1 lawan Prancis pada Oktober 2012.

Apakah tuah Brych akan berlanjut? Patut dinantikan pada pertandingan nanti malam.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jika Spanyol Kalah, Luis Enrique Bakal Dukung Italia di Final

gamespool
Jika Spanyol Kalah, Luis Enrique Bakal Dukung Italia di Final 83

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Spanyol, Luis Enrique, berharap timnya menang melawan Italia di semifinal Euro 2020. Tapi jika tidak, dia akan mendukung Italia di final jika mereka mengalahkan Spanyol dengan “cara yang benar”.

Spanyol akan melawan Italia di Wembley untuk memperebutkan tiket ke partai final, Rabu (7/7/21). Enrique memuji performa Italia yang bermain mengandalkan penguasaan bola, sama seperti Spanyol.

“Kami adalah salah satu pemimpin dalam penguasaan bola, tetapi mereka juga ingin mendominasi permainan. Ini pertarungan pertama yang dimenangkan di lapangan,” ucap Enrique seperti dikutip Football5Star.com dari Football Italia.

luis enrique-spanyol vs swedia-elchiringuitotv
elchiringuitotv

Mantan pelatih Barcelona itu melanjutkan, “Mereka bagus bahkan tanpa bola, sesuatu yang kami lihat selama turnamen. Dan mereka merasa nyaman dengan bola, jika kami harus memainkan permainan lain, kami bisa beradaptasi, tetapi kami lebih suka memiliki lebih banyak penguasaan bola.”

Enrique sendiri punya sedikit pengalaman di Italia karena dia melatih AS Roma pada musim 2011-12. Dia hanya bertahan satu musim karena mengundurkan diri.

“Saya pergi karena keputusan saya, Roma ingin saya bertahan di klub. Itu keputusan saya, tidak ada balas dendam. Saya sangat menyukai Italia, saya selalu mencoba mengunjunginya. Sangat menyenangkan bermain melawan Italia, kami akan bertemu lagi pada bulan Oktober, di Nations League. Bagi saya, itu selalu menyenangkan,” kata Enrique.

Dia melanjutkan, “Saya berbicara dengan De Rossi dua atau tiga minggu lalu lewat telepon, saya akan senang melihatnya lagi. Kami lebih muda 10 tahun yang lalu, tetapi saya mencoba bermain sepak bola proaktif dulu dan sekarang, itu adalah identitas saya. Jika kami menang besok, itu akan menjadi hal yang hebat bagi kami, tetapi jika Italia melakukannya, dengan cara yang benar, saya akan mendukung Italia di Final.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Prediksi: Italia vs Spanyol

cover Italia vs Spanyol
Prediksi: Italia vs Spanyol 91
Banner Gamespool Football5Star
PREDIKSI HASIL
WhoScored
Italia 2-0 Spanyol
Predictz
 Italia 2-1 Spanyol
Football Predictions
Italia 1-0 Spanyol
FOOTBALL5STAR
Italia 2-1 Spanyol

 

Stadion Wembley, Rabu (7/7/2021) Pukul 02.00 WIB (Mola, RCTI, INews)

Football5Star.com, Indonesia – Pertandingan menarik akan tersaji di babak semifinal Euro 2020 yang mempertemukan dua tim unggulan Italia vs Spanyol. Banyak yang mengunggulkan Italia, namun mereka baru saja kehilangan salah satu pemain terbaik mereka.

Pemain terbaik itu adalah Leonardo Spinazzola. Dia menderita cedera Achilles yang membuatnya harus menepi selama 6 bulan. Emerson Palmieri yang diprediksi akan menggantikannya jarang mendapatkan menit bermain baik di Chelsea maupun di Italia. Roberto Mancini juga harus memikirkan performa Ciro Immobile yang sangat buruk belakangan ini.

Sedangkan Spanyol, mereka bisa kehilangan Pablo Sarabia karena menderita cedera adduktor. Performa penyerang mereka, Alvaro Morata dan Gerard Moreno juga tidak terlalu baik. Lini tengah bakal jadi kunci bagi kedua tim untuk meraih kemenangan. Laga Italia vs Spanyol akan dimainkan di stadion Wembley, London.

REKOR PERTEMUAN
head to head Italia vs Spanyol
Prediksi: Italia vs Spanyol 92
TREN PERFORMA
Lima Laga Terakhir Italia vs Spanyol
Prediksi: Italia vs Spanyol 93
Banner Gamespool Football5Star
STATISTIK MENARIK
  • Italia tak terkalahkan di 14 dari 15 laga terakhir mereka di Euro termasuk kualifikasi.
  • Italia tak terkalahkan di 32 laga terakhir mereka di semua kompetisi.
  • Italia menang di 12 laga terakhirnya di semua kompetisi.
  • Italia mencatatkan 7 clean sheet di 9 laga terakhirnya di Euro termasuk kualifikasi.
  • Spanyol tak terkalahkan di 15 laga terakhirnya di Euro termasuk kualifikasi.
  • Kedua tim sebelumnya selalu bertemu dalam 3 edisi Euro beruntun, 2008, 2012, dan 2016.
  • Dalam 3 edisi itu, mereka bertemu 4 kali, Spanyol menang 2 kali, imbang 1 kali dan Italia menang 1 kali.
PELATIH
  • Kedua pelatih, Luis Enrique dan Roberto Mancini belum pernah bertemu sebelumnya.
  • Mancini belum pernah melawan Spanyol, begitu juga Enrique belum pernah melawan Italia.
WASIT
  • Laga Italia vs Spanyol akan dipimpin oleh wasit berpengalaman asal Jerman, Dr. Felix Brych.
  • Brych sudah memimpin 7 laga Euro sebelumnya sejak 2016 dengan catatan 16 kartu kuning.
  • Rekor Italia saat diwasiti Brych: 7 laga, 5 menang, dan 2 imbang.
  • Rekor Spanyol saat diwasiti Brych: 3 laga, 2 imbang dan 1 kalah.
  • Brych pernah sekali menjadi wasit laga Italia vs Spanyol sebelumnya. Tepatnya pada laga uji coba 2011 lalu. Italia menang 2-1.
PEMAIN KUNCI

Italia

Top Scorer: Ciro Immobile, Manuel Locatelli, Matteo Pessina, Lorenzo Insigne (2 gol)
Top Assist: Nicolo Barella, Marco Verratti (2 assist)
Top Rating: Marco Verratti (7,97)

Spanyol

Top Scorer: Pablo Sarabia, Alvaro Morata, Ferran Torres (2 gol)
Top Assist: Dani Olmo, Gerard Moreno (2 assist)
Top Rating: Sergio Busquets (7,51)

*Statistik di Euro 2020 Berdasarkan WhoScored

BERITA KEDUA TIM

Italia: Lorenzo Pellegrini, Leonardo Spinazzola cedera. Alessandro Florenzi diragukan.
Spanyol: Pablo Sarabia diragukan.

PRAKIRAAN FORMASI
line up Italia vs Spanyol
Prediksi: Italia vs Spanyol 94

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Skor Semifinal EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 telah mencapai semifinal. Timnas Spanyol, Italia, Inggris, dan Denmark akan berebut dua tiket ke final. Adapun dua laga semifinal EURO 2020 akan digelar pada pertengahan pekan nanti.

Dua laga semifinal nanti menjanjikan pertarungan menarik. Apalagi, sejarah membuktikan, laga semifinal EURO sangat jarang berakhir dengan selisih lebih dari 1 gol. Dari 28 pertandingan sejak EURO 1960, hanya ada 8 tim yang lolos ke final dengan keunggulan 2 gol atau lebih.

Soal hasil laga-laga semifinal EURO, masih ada beberapa fakta menarik lain yang terhampar hingga EURO 2016. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik mengenai hal itu.

Skor Tersering di Luar Adu Penalti

Sebanyak 20 dari 28 laga semifinal EURO berakhir dengan skor ketat. Selisih tak lebih dari 1 gol. Lalu, skor manakah yang paling sering muncul? Ternyata itu adalah 2-1. Skor ini telah muncul sebanyak 6 kali. Terakhir pada EURO 2012 saat Italia menang atas Jerman.

Di belakang skor 2-1 ada skor 0-0. Skor ini muncul sebanyak 4 kali. Namun, sudah lama hal itu tak lagi tersaji. Kali terakhir skor itu muncul pada EURO 2000 ketika Italia bersua dengan Belanda yang diwarnai kegagalan penalti Frank de Boer dan Patrick Kluivert pada menit ke-39 dan 62.

Skor Tersering pada Babak Pertama

Satu gol atau tidak ada sama sekali. Begitulah mayoritas pertandingan babak pertama semifinal sejak 1960. Faktanya, dari 28 laga, 21 di antaranya berakhir seperti itu. Dua di antaranya pada semifinal EURO 2016. Pada babak pertama, Portugal vs Wales berakhir 0-0, sedangkan Prancis vs Jerman berujung 1-0.

Bila dibedah lebih jauh, skor 0-0 lebih sering tersaji pada babak pertama semifinal. Skor ini muncul sebanyak 11 kali. Itu hanya 1 kali lebih banyak dari skor 1-0 yang terjadi sebanyak 10 kali. Sisanya, 3 kali skor 1-1 dan masing-masing 2 kali skor 1-1 dan 2-1.

Skor Tersering Saat Adu Penalti

Sepanjang sejarah, hanya 6 kali pada semifinal EURO. Terakhir pada 2012 kala Spanyol bertemu Portugal. Iker Casillas cs. melangkah ke final dengan kemenangan 4-2 pada adu tos-tosan itu. Lalu, apakah itu skor yang paling sering terjadi saat adu penalti?

Ternyata bukan. Skor paling sering dalam adu penalti adalah 6-5. Skor ini menghiasi 3 dari 6 pertandingan semifinal Piala Eropa sejak 1960. Terakhir kali skor ini muncul pada dua semifinal Piala Eropa 1996 saat Jerman vs Inggris dan Rep. Cheska vs Prancis. Selain 4-2, skor lainnya adalah 5-4 dan 3-1.

Skor Semifinal EURO Paling Telak

Dari 8 laga semifinal EURO yang berakhir dengan selisih lebih dari 1 gol, kemenangan paling telak adalah 3-0. Ada dua tim yang lolos ke final dengan skor ini, yaitu Uni Soviet pada EUEO 1960 dan 1964 serta Spanyol pada EURO 2008.

Pada EURO 1960, Uni Soviet menang 3-0 atas Cekoslowakia. Empat tahun kemudian, mereka kembali lolos ke final dengan skor semifinal yang sama. Kali ini mereka menang atas Denmark. Adapun Spanyol pada 2008 justru menang 3-0 atas negeri pecahan Uni Soviet, yakni Rusia.

Skor dengan Jumlah Gol Terbanyak

Skor 3-0 memang jadi kemenangan terbesar pada semifinal EURO. Namun, bukan berarti laga semifinal paling banyak dihiasi 3 gol. Jumlah gol terbanyak dalam satu laga semifinal adalah 9 buah. Laga itu tersaji pada edisi pertama, EURO 1960.

Sembilan gol tercipta ketika Yugoslavia menghadapi Prancis. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, tuan rumah unggul 2-1 pada babak pertama dan 3-1 saat laga berjalan 52 menit. Namun, keadaan berbalik. Saat laga usai, Yugoslavia menang dengan skor 5-4.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Seputar Peserta Semifinal EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Tinggal empat tim tersisa pada gelaran EURO 2020. Timnas Italia, timnas Spanyol, timnas Inggris, dan timnas Denmark akan berjibaku pada semifinal EURO, pertengahan pekan nanti. Mereka akan memperebutkan dua tempat di partai final.

Sejak kali pertama digelar pada 1960, hanya satu edisi EURO yang tak diwarnai laga semifinal. Saat gelaran EURO 1980 di Belgia, dua finalis adalah juara di fase grup. Sementara itu, dua runner-up grup berebut tempat ketiga.

Dari 1960 hingga 2016, sudah ada begitu banyak catatan menarik yang terjadi pada laga-laga semifinal. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik semifinalis EURO sepanjang masa.

Jerman Tersering Lakoni Semifinal EURO

Lawan Prancis pada 2016 jadi kesempatan ke-8 timnas Jerman lakoni laga semifinal EURO.
sport360.com

Tim yang paling sering tampil pada semifinal EURO adalah Jerman, termasuk saat bernama Jerman Barat. Die Mannschaft tercatat 8 kali lolos ke babak ini. Dari jumlah itu, 5 kali mereka menembus final dan 3 kali di antaranya menjadi juara.

Di belakang Jerman, ada Rusia, termasuk Uni Soviet. Mereka enam kali menembus semifinal. Dari jumlah itu, lima kali saat masih bernama Uni Soviet pada 1960, 1964, 1968, 1972, dan 1988. Adapun Rusia pada 2008. Hasilnya, mereka empat kali jadi runner-up.

Belanda Paling Sering Kalah

Timnas Belanda menelan 4 kekalahan dari 5 kali masuk semifinal EURO.
Getty Images

Catatan buruk dimiliki Belanda pada semifinal EURO. Lima kali lolos ke babak ini, De Oranje empat kali kandas. Anomali hanya terjadi pada EURO 1988 saat mereka jadi juara. Terakhir, Belanda kalah 1-2 dari Portugal pada semifinal EURO 2004.

Tim lain yang lumayan sering tersisih pada semifinal adalah Jerman dan Portugal. Keduanya sama-sama sempat tiga kali menelan pil pahit pada babak ini. Bedanya, Jerman 3 kali gagal dari 8 kesempatan, sementara Portugal 3 kali kandas dari 5 semifinal.

Spanyol Tak Pernah Gagal

Dari deretan 17 negara yang pernah sudah mencicipi semifinal EURO sejak 1960, Spanyol punya keistimewaan tersendiri. La Furia Roja adalah satu-satunya yang tak pernah gagal meraih kemenangan. Artinya, setiap menembus ke semifinal, mereka pasti lolos ke final.

Timnas Spanyol lolos ke semifinal EURO pada 1964, 1984, 2008, dan 2012. Pada empat kesempatan itu, mereka mampu menembus final dan tiga kali juara. Catatan ini jadi hal menarik untuk EURO 2020 karena Spanyol akan bertemu dengan tim kuat lain, Italia, pada semifinal.

Sembilan Tim Lakoni Adu Penalti

Portugal vs Spanyol jadi satu dari hanya 5 adu penalti pada semifinal Piala Eropa.
uefa.com

Sepanjang sejarah, dari 28 pertandingan semifinal EURO hanya 6 kali terjadi adu penalti. Enam adu penati itu melibatkan sembilan tim, yaitu Belanda, Denmark, Inggris, Italia, Jerman, Portugal, Prancis, Rep. Cheska dan Spanyol.

Dari kesembilan tim tersebut, Belanda adalah yang terburuk. De Oranje selalu kalah dalam dua kesempatan melakoni adu penalti pada semifinal Piala Eropa. Pada EURO 1992, mereka kalah 4-5 dari Denmark. Sementara itu, pada EURO 2000, mereka takluk 1-3 dari Italia.

Dua Tim Cetak Dua Digit Gol

Antoine Griezmann membuat timnas Prancis mencapai dua digit gol di semifinal EURO saat lawan Jerman pada 2016.
insidethegames.biz

Di antara tim-tim yang menembus semifinal EURO, hanya dua yang sudah mencetak gol dalam jumlah dua digit. Mereka adalah timnas Jerman dan Prancis. Die Mannschaft total mengemas 15 gol, sementara Les Bleus telah membuat 11 gol.

Jerman mencetak 15 gol dalam 8 laga. Die Mannschaft hanya gagal mencetak gol pada semifinal Piala Eropa 2016 saat kalah 0-2 dari Prancis. Adapun Les Bleus mengemas 11 gol dalam 5 laga. Mereka hanya tak mencetak gol pada EURO 1996 saat ditahan 0-0 oleh Rep. Cheska dalam 120 menit.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Inilah Rekor Spanyol, Italia, Inggris, dan Denmark di Semifinal EURO

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 sudah memasuki babak semifinal. Empat tim akan berjibaku memperebutkan dua tiket ke final pada 6 dan 7 Juli mendatang. Keempat tim yang lolos ke semifinal EURO 2020 itu adalah timnas Spanyol, timnas Italia, timnas Denmark, dan timnas Inggris.

Keempat tim tersebut bukan kali ini saja mampu menembus semifinal EURO. Pada gelaran-gelaran sebelumnya, mereka juga sudah pernah berlaga pada babak ini. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan rekor mereka saat menjalani semifinal Piala Eropa sejak 1960.

1. Spanyol di Semifinal EURO

Di antara tim semifinalis EURO 2020, timnas Spanyol adalah salah satu yang paling berpengalaman. La Furia Roja tercatat sudah pernah mencicipi semifinal EURO dalam empat kesempatan. Hasilnya luar biasa. Mereka selalu mampu lolos ke partai final.

Semifinal pertama dijalani Spanyol pada EURO 1964. Ketika itu, mereka menang 2-1 atas Hungaria. Adapun kesempatan kedua didapatkan pada 1984. Kali ini, La Furia Roja menang 5-4 dalam adu penalti atas Denmark setelah imbang 1-1 selama 120 menit.

Berselang tiga windu kemudian, timnas Spanyol kembali mencicipi semifinal pada EURO 2008. Hasilnya, tim asuhan Luis Aragones secara perkasa menggasak Rusia 3-0. Empat tahun berselang, mereka kembali menjalani semifinal dengan menghadapi Portugal. Imbang tanpa gol hingga perpanjangan waktu, La Furia Roja menang 4-2 dalam adu penalti.

2. Italia di Semifinal EURO

Seperti halnya Spanyol, Italia juga sebelum ini pernah empat kali mencicipi semifinal EURO. Bedanya, mereka tak punya hasil sempurna. Dari empat kesempatan, hanya tiga kali mereka lolos ke final. Itu terjadi pada 1968, 2000, dan 2012. Sementara itu, pada 1988, Gli Azzurri kandas.

Pada EURO 1968, Italia berhadapan dengan Uni Soviet. Laga yang berlangsung di Stadion San Paolo itu sebetulnya berakhir imbang. Kedua tim sama-sama gagal mencetak gol. Namun, Gli Azzurri lolos ke final karena menang undian lempar koin. Kala itu, tak diberlakukan adu penalti untuk menentukan sang pemenang.

Timnas Italia kembali lolos ke semifinal EURO pada 1988. Lagi-lagi bersua Uni Soviet. Kali ini mereka harus menelan kekalahan 0-2. Setelah itu, mereka baru kembali ke semifinal pada 2000 dan menang 3-1 atas Belanda lewat adu penalti setelah imbang tanpa gol selama 120 menit.

Langkah gemilang kembali dibuat timnas Italia pada EURO 2012. Bersua timnas Jerman pada semifinal, Gli Azzurri tak tertahan. Mereka lolos ke final untuk menantang Spanyol berkat kemenangan 2-1 yang ditentukan oleh brace Mario Balotelli.

3. Denmark di Semifinal EURO

Meskipun tak termasuk jajaran tim papan atas di pentas sepak bola Eropa dalam beberapa tahun terakhir, timnas Denmark ternyata punya catatan bagus di Piala Eropa. Sepanjang sejarah, laga lawan Inggris akan jadi semifinal EURO keempat bagi Tim Dinamit.

Semifinal pertama dilakoni timnas Denmark pada 1964. Namun, hasilnya mengecewakan. Mereka dihajar tiga gol tanpa balas oleh Uni Soviet dalam laga yang berlangsung di Stadion Camp Nou, Barcelona. Pil pahit kembali ditelan pada EURO 1984. Kali ini, Tim Dinamit kalah 4-5 lewat adu penalti dari Spanyol setelah imbang 1-1.

Kesuksesan akhirnya dituai Denmark pada EURO 1992. Menghadapi timnas Belanda pada semifinal, Brian Laudrup cs. mampu memaksakan pertandingan berlanjut hingga adu penalti. Kedua tim imbang 2-2 dalam 120 menit. Saat adu penalti, Tim Dinamit menang 5-4.

4. Inggris di Semifinal EURO

https://www.youtube.com/watch?v=MRclQ-V06FE&ab_channel=NIXBLACK

Berkebalikan dengan Denmark, timnas Inggris yang dipandang sebagai salah satu tim papan atas Eropa justru tak punya catatan mentereng di Piala Eropa. Sebelum menembus semifinal EURO 2020, The Three Lions hanya dua kali menjejak fase ini. Dua-duanya pun berakhir dengan kepedihan.

Timnas Inggris untuk kali pertama menembus semifinal EURO pada 1968. Lawan mereka adalah Yugoslavia. Hampir mampu memaksakan hasil imbang tanpa gol, The Three Lions akhirnya harus gigit jari. Pasalnya, Dragan Djazic mencetak gol pada menit ke-86. Semenit kemudian, Alan Mullery malah diusir dari lapangan oleh wasit.

The Three Lions harus menunggu 28 tahun untuk kembali lolos ke semifinal. Kali ini saat bertindak sebagai tuan rumah pada 1996. Sempat mencetak gol cepat lewat Alan Shearer pada menit ke-4, tim asuhan Terry Venables dipaksa bermain imbang oleh timnas Jerman. Pada adu penalti, mereka kalah 5-6 gara-gara kegagalan Gareth Southgate.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jadi Tumbal Kemenangan Italia, Leonardo Spinazzola Terancam Absen Lama

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Leonardo Spinazzola jadi tumbal kemenangan 2-1 yang diraih timnas Italia atas timnas Belgia pada perempat final EURO 2020, Sabtu (3/7/2021) dini hari WIB. Bek kiri Gli Azzurri itu mengalami cedera tendon achilles dan diperkirakan tak dapat bermain lagi hingga setahun ke depan.

Spinazzola terkapar di lapangan dan tak dapat melanjutkan pertandingan pada menit ke-77 laga Italia vs Belgia. Dia lantas digantikan Emerson Palmieri. Berdasarkan diagnosis awal, tendon achilles-nya putus. Hal itu membuat pemain AS Roma tersebut dipastikan tak lagi memperkuat Gli Azzurri pada lanjutan EURO 2020.

Leonardo Spinazzola harus ditandu saat meninggalkan lapangan.
Getty Images

Setelah mengamankan Romelu Lukaku, Spinazzola merasakan masalah pada kakinya saat berlari. Dia pun lantas memberikan isyarat ke bangku cadangan untuk ditarik dari lapangan. Kemudian, dia terkapar dan harus ditandu saat keluar dari lapangan di Stadion Allianz Arena.

Cedera parah yang dialami Spinazzola jadi pukulan tersendiri bagi timnas Italia. Dia adalah pemain yang sangat diandalkan Roberto Mancini di sisi kiri pertahanan Gli Azzurri. Bintangnya pun bersinar terang pada EURO 2020. Buktinya, dialah pemain yang didapuk sebagai Star of The Match saat melawan Turki dan Austria.

Dukungan Moral untuk Leonardo Spinazzola

Mancini mengaku sangat terpukul oleh cedera yang dialami Leonardo Spinazzola. “Kami bersedih. Dia tak pantas mengalami cedera ini. Dia adalah salah satu pemain terbaik pada EURO kali ini,” urai sang allenatore seperti dikutip Football5Star.com dari Tuttomercatoweb.

Hal serupa diungkapkan Lorenzo Insigne yang jadi Star of The Match laga lawan Belgia. “Spinazzola? Aku sedih. Aku melihat dia menangis. Aku berharap cederanya tidaklah serius karena dia itu sangat penting bagi kami,” ujar penyerang sayap Napoli yang mencetak gol kedua Italia di gawang Belgia tersebut.

Meskipun jadi pukulan telak, cedera yang dialami Spinazzola justru makin mengikat para pemain timnas Italia. Mereka menunjukkan dukungan bagi sang kolega dengan yel-yel yang digaungkan di bus saat meninggalkan Stadion Allianz Arena. Juga di pesawat ketika terbang dari Jerman ke Italia. “Spina, Spina… Ole.., ole.., ole..!” teriak mereka serempak.

Bisa jadi, Lorenzo Insigne dkk. akan mendedikasikan laga-laga berikutnya pada pentas EURO 2020 bagi Leonardo Spinazzola. Laga pertama, tentu saja melawan timnas Spanyol pada semifinal di Stadion Wembley, Selasa (6/7/2021) dini hari WIB.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Pilih Nikmati Kemenangan, Roberto Mancini Masa Bodoh dengan Spanyol

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia Timnas Italia lolos ke babak semifinal EURO 2020 melalui kemenangan 2-1 atas Belgia, Sabtu (3/7). Pelatih Gli Azzurri, Roberto Mancini, meminta anak asuhnya menikmati kemenangan dan tak perlu memikirkan Spanyol lebih dahulu.

Memang, pada babak semifinal Italia akan menantang Spanyol di Stadion Wembley, London, Inggris, Rabu (7/7). La Furia Roja lebih dahulu memesan tiket semifinal berkat kemenangan adu penalti atas Swiss.

Timnas Italia EURO 2020 - Twitter @Vivo_Azzurri
Twitter @Vivo_Azzurri

Sama seperti Spanyol, Italia juga harus melalui perjuangan berat untuk bisa menyingkirkan Belgia. Hampir sepanjang pertandingan anak asuh Mancini lebih sering mendapat tekanan, terutama jelang akhir laga.

Namun, pertahanan Italia terlalu tangguh untuk dikoyak Belgia. Hanya satu gol yang bersarang di gawang Gianluigi Donnarumma, melalui penalti Romelu Lukaku. Sementara, serangan efektif Gli Azzurri bisa membuahkan dua gol lewat kaki Nicolo Barella dan Lorenzo Insigne.

Roberto Mancini Anggap Timnas Italia Harusnya Bisa Cetak Lebih Banyak Gol

“Kami pantas menang. Permainan anak-anak sangat luar biasa. Memang, kami mendapat tekanan pada 10 menit terakhir karena sudah kelelahan. Namun, sebenarnya kami bisa mencetak lebih banyak gol sejak awal,” bilang Mancini, dikutip Football5star.com dari Football-Italia.

“Saya tak melihat kami kesulitan pada 25 menit awal. Kedua tim sama-sama punya peluang dan pertandingan cukup terbuka. Kami hanya kesulitan pada 10 menit terakhir ketika Belgia mulai memainkan bola daerah,” ucap Mancini menambahkan.

Belgia vs Italia - UEFA.com
UEFA.com

Setelah lolos dari babak perempat final EURO 2020, Italia akan menantang Spanyol di Stadion Wembley, Rabu (7/7). Mancini ogah memusingkan calon lawan atau peluang juara dan memilih menikmati kemenangan lebih dahulu.

“Kami tak punya target minimum. Kami hanya melakukan yang terbaik. Masih ada dua pertandingan lagi, kita lihat apa yang akan terjadi. Mari nikmati kemenangan ini, baru setelahnya kita bisa memikirkan Spanyol. Selamat kepada anak-anak, mereka melakukan tugas dengan baik!” bilang Mancini memungkasi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Hasil Belgia vs Italia: Gli Azzurri Tantang Spanyol di Semifinal

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com Indonesia – Duel sengit tersaji pada perempat final EURO 2020, Belgia vs Italia, di Stadion Allianz Arena, Munich, Sabtu (3/7) WIB. Gli Azzurri secara dramatis berhasil lolos ke semifinal melalui kemenangan tipis 2-1 atas Belgia.

Belgia memulai pertandingan dengan agresif. Kehadiran Kevin De Bruyne di lini tengah usai sembuh dari cedera membuat anak asuh Roberto Martinez mampu mendominasi permainan pada awal laga.

Belgia vs Italia Jeremy Doku vs Nicolo barella - UEFA.com
UEFA.com

Akan tetapi, justru Italia yang bisa membuka gol pada menit ke-13 melalui Leonardo Bonucci. Namun, wasit Slavko Vincic menganulir gol setelah Video Assistant Referee (VAR) menilai Giorgio Chiellini dalam posisi offside sebelum bola disontek Bonucci.

Pada menit ke-22, Belgia nyaris membuka keunggulan. Kevin De Bruyne melepaskan tendangan keras kaki kiri yang masih bisa digagalkan Donnarumma sehingga gawangnya masih aman.

Peluang emas berikutnya Belgia lahir dua menit berselang. Namun, kali ini giliran Romelu Lukaku yang merasakan ketangguhan Gianuigi Donnarumma di bawah mistar. Bola sepakan kaki kiri Lukaku masih bisa ditepis Donnarumma.

Asyik menyerang, Belgia akhirnya kecolongan pada menit ke-31. Menerima umpan Marco Verratti, Nicolo Barella lepas dari kawalan dua pemain belakang Belgia dan langsung menembakkan bola tanpa bisa diantisipasi kiper Thibaut Courtois.

Belgia vs Italia Romelu Lukaku penalti - Twitter @EURO2020
Twitter @EURO2020

Keunggulan itu membuat Gli Azzurri di atas angin. Bahkan, Italia bisa menggandakan keunggulan pada menit ke-44. Gol dicetak Lorenzo Insigne melalui sepakan kaki kanan yang bolanya melesak ke pojok atas gawang Courtois.

Sebelum babak pertama berakhir, Belgia bisa menjaga asa setelah mendapatkan hadiah penalti. wasit menunjuk titik putih setelah Giovanni Di Lorenzo dianggap melakukan pelanggaran terhadap Jeremy Doku.

Romelu Lukaku yang ditunjuk sebagai algojo, kali ini sukses menaklukkan Ganluigi Donnarumma. Gol penalti itu sekaligus menjadi penutup paruh pertama laga Belgia vs Italia dengan skor 1-2.

Hampa Gol pada Babak Kedua Belgia vs Italia

Memasuki paruh kedua, Belgia kembali mengambil inisiatif serangan. Bahkan, kali ini daya gedor tim beralias Rode Duivels itu kerap membuat repot barisan belakang Italia.

Romelu Lukaku beberapa kali mendapat kesempatan emas mencetak gol penyeimbang pada awal-awal babak kedua. Namun, dewi fortuna urung berpihak. Peluang-peluang yang dimiliki selalu terbuang percuma.

Belgia vs Italia - UEFA.com
UEFA.com

Demi menambah variasi serangan, pelatih Roberto Martinez coba memasukkan Dries Mertens dan Nacher Chadli. Akan tetapi, nama terakhir hanya bertahan lima menit di lapangan karena terkena cedera dan digantikan lagi oleh Dennis Praet.

Italia pun mengalami nasib sial yang sama. Pada menit ke-78, bek kiri andalan mereka Leonardo Spinazzola terpaksa digantikan oleh Emerson akibat cedera. Bahkan, Spinazzola sampai tak bisa menahan tangis saat harus keluar lapangan.

Pada sisa babak kedua, Belgia terus berupaya mengurung pertahanan Italia. Akan tetapi, barisan pertahanan tim asuhan Roberto Mancini masih terlalu sulit ditembus. Sampai laga tuntas, skor pertandingan Belgia vs Italia tetap tak berubah.

Italia menang dengan skor 2-1 atas Belgia dan berhak melaju ke babak semifinal. Mereka akan menantang Spanyol yang leboh dahulu melaju setelah menyingkirkan Swiss lewat drama adu penalti.

SUSUNAN PEMAIN BELGIA vs ITALIA

Belgia (3-4-2-1): 1-Thibaut Courtois; 2-Toby Alderweireld, 3-Thomas Vermaelen 6-Jan Vertonghen; 15-Thomas Meunier (Nacer Chadli 69) (Dennis Praet 74), 6-Axel Witsel, 8-Youri Tielemans (Dries Mertens 69), 16-Thorgan Hazard; 7-Kevin De Bruyne, 25-Jeremy Doku; 9-Romelu Lukaku
Pelatih: Roberto Martinez.

Italia (4-3-3): 1-Gianluigi Donnarumma; 2-Giovanni Di Lorenzo, 3-Giorgio Chiellini, 19-Leonardo Bonucci, 4-Leonardo Spinazzola (Emerson 79); 6-Marco Verratti (Bryan Cristante 74), 8-Jorginho, 18-Nicolo Barella; 14-Federico Chiesa (Rafael Toloi 90), 17-Ciro Immobile (Andrea Belotti 74), 10-Lorenzo Insigne
Pelatih: Roberto Mancini.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]