5 Fakta Menarik Skor Semifinal EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 telah mencapai semifinal. Timnas Spanyol, Italia, Inggris, dan Denmark akan berebut dua tiket ke final. Adapun dua laga semifinal EURO 2020 akan digelar pada pertengahan pekan nanti.

Dua laga semifinal nanti menjanjikan pertarungan menarik. Apalagi, sejarah membuktikan, laga semifinal EURO sangat jarang berakhir dengan selisih lebih dari 1 gol. Dari 28 pertandingan sejak EURO 1960, hanya ada 8 tim yang lolos ke final dengan keunggulan 2 gol atau lebih.

Soal hasil laga-laga semifinal EURO, masih ada beberapa fakta menarik lain yang terhampar hingga EURO 2016. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik mengenai hal itu.

Skor Tersering di Luar Adu Penalti

Sebanyak 20 dari 28 laga semifinal EURO berakhir dengan skor ketat. Selisih tak lebih dari 1 gol. Lalu, skor manakah yang paling sering muncul? Ternyata itu adalah 2-1. Skor ini telah muncul sebanyak 6 kali. Terakhir pada EURO 2012 saat Italia menang atas Jerman.

Di belakang skor 2-1 ada skor 0-0. Skor ini muncul sebanyak 4 kali. Namun, sudah lama hal itu tak lagi tersaji. Kali terakhir skor itu muncul pada EURO 2000 ketika Italia bersua dengan Belanda yang diwarnai kegagalan penalti Frank de Boer dan Patrick Kluivert pada menit ke-39 dan 62.

Skor Tersering pada Babak Pertama

Satu gol atau tidak ada sama sekali. Begitulah mayoritas pertandingan babak pertama semifinal sejak 1960. Faktanya, dari 28 laga, 21 di antaranya berakhir seperti itu. Dua di antaranya pada semifinal EURO 2016. Pada babak pertama, Portugal vs Wales berakhir 0-0, sedangkan Prancis vs Jerman berujung 1-0.

Bila dibedah lebih jauh, skor 0-0 lebih sering tersaji pada babak pertama semifinal. Skor ini muncul sebanyak 11 kali. Itu hanya 1 kali lebih banyak dari skor 1-0 yang terjadi sebanyak 10 kali. Sisanya, 3 kali skor 1-1 dan masing-masing 2 kali skor 1-1 dan 2-1.

Skor Tersering Saat Adu Penalti

Sepanjang sejarah, hanya 6 kali pada semifinal EURO. Terakhir pada 2012 kala Spanyol bertemu Portugal. Iker Casillas cs. melangkah ke final dengan kemenangan 4-2 pada adu tos-tosan itu. Lalu, apakah itu skor yang paling sering terjadi saat adu penalti?

Ternyata bukan. Skor paling sering dalam adu penalti adalah 6-5. Skor ini menghiasi 3 dari 6 pertandingan semifinal Piala Eropa sejak 1960. Terakhir kali skor ini muncul pada dua semifinal Piala Eropa 1996 saat Jerman vs Inggris dan Rep. Cheska vs Prancis. Selain 4-2, skor lainnya adalah 5-4 dan 3-1.

Skor Semifinal EURO Paling Telak

Dari 8 laga semifinal EURO yang berakhir dengan selisih lebih dari 1 gol, kemenangan paling telak adalah 3-0. Ada dua tim yang lolos ke final dengan skor ini, yaitu Uni Soviet pada EUEO 1960 dan 1964 serta Spanyol pada EURO 2008.

Pada EURO 1960, Uni Soviet menang 3-0 atas Cekoslowakia. Empat tahun kemudian, mereka kembali lolos ke final dengan skor semifinal yang sama. Kali ini mereka menang atas Denmark. Adapun Spanyol pada 2008 justru menang 3-0 atas negeri pecahan Uni Soviet, yakni Rusia.

Skor dengan Jumlah Gol Terbanyak

Skor 3-0 memang jadi kemenangan terbesar pada semifinal EURO. Namun, bukan berarti laga semifinal paling banyak dihiasi 3 gol. Jumlah gol terbanyak dalam satu laga semifinal adalah 9 buah. Laga itu tersaji pada edisi pertama, EURO 1960.

Sembilan gol tercipta ketika Yugoslavia menghadapi Prancis. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, tuan rumah unggul 2-1 pada babak pertama dan 3-1 saat laga berjalan 52 menit. Namun, keadaan berbalik. Saat laga usai, Yugoslavia menang dengan skor 5-4.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Seputar Peserta Semifinal EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Tinggal empat tim tersisa pada gelaran EURO 2020. Timnas Italia, timnas Spanyol, timnas Inggris, dan timnas Denmark akan berjibaku pada semifinal EURO, pertengahan pekan nanti. Mereka akan memperebutkan dua tempat di partai final.

Sejak kali pertama digelar pada 1960, hanya satu edisi EURO yang tak diwarnai laga semifinal. Saat gelaran EURO 1980 di Belgia, dua finalis adalah juara di fase grup. Sementara itu, dua runner-up grup berebut tempat ketiga.

Dari 1960 hingga 2016, sudah ada begitu banyak catatan menarik yang terjadi pada laga-laga semifinal. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik semifinalis EURO sepanjang masa.

Jerman Tersering Lakoni Semifinal EURO

Lawan Prancis pada 2016 jadi kesempatan ke-8 timnas Jerman lakoni laga semifinal EURO.
sport360.com

Tim yang paling sering tampil pada semifinal EURO adalah Jerman, termasuk saat bernama Jerman Barat. Die Mannschaft tercatat 8 kali lolos ke babak ini. Dari jumlah itu, 5 kali mereka menembus final dan 3 kali di antaranya menjadi juara.

Di belakang Jerman, ada Rusia, termasuk Uni Soviet. Mereka enam kali menembus semifinal. Dari jumlah itu, lima kali saat masih bernama Uni Soviet pada 1960, 1964, 1968, 1972, dan 1988. Adapun Rusia pada 2008. Hasilnya, mereka empat kali jadi runner-up.

Belanda Paling Sering Kalah

Timnas Belanda menelan 4 kekalahan dari 5 kali masuk semifinal EURO.
Getty Images

Catatan buruk dimiliki Belanda pada semifinal EURO. Lima kali lolos ke babak ini, De Oranje empat kali kandas. Anomali hanya terjadi pada EURO 1988 saat mereka jadi juara. Terakhir, Belanda kalah 1-2 dari Portugal pada semifinal EURO 2004.

Tim lain yang lumayan sering tersisih pada semifinal adalah Jerman dan Portugal. Keduanya sama-sama sempat tiga kali menelan pil pahit pada babak ini. Bedanya, Jerman 3 kali gagal dari 8 kesempatan, sementara Portugal 3 kali kandas dari 5 semifinal.

Spanyol Tak Pernah Gagal

Dari deretan 17 negara yang pernah sudah mencicipi semifinal EURO sejak 1960, Spanyol punya keistimewaan tersendiri. La Furia Roja adalah satu-satunya yang tak pernah gagal meraih kemenangan. Artinya, setiap menembus ke semifinal, mereka pasti lolos ke final.

Timnas Spanyol lolos ke semifinal EURO pada 1964, 1984, 2008, dan 2012. Pada empat kesempatan itu, mereka mampu menembus final dan tiga kali juara. Catatan ini jadi hal menarik untuk EURO 2020 karena Spanyol akan bertemu dengan tim kuat lain, Italia, pada semifinal.

Sembilan Tim Lakoni Adu Penalti

Portugal vs Spanyol jadi satu dari hanya 5 adu penalti pada semifinal Piala Eropa.
uefa.com

Sepanjang sejarah, dari 28 pertandingan semifinal EURO hanya 6 kali terjadi adu penalti. Enam adu penati itu melibatkan sembilan tim, yaitu Belanda, Denmark, Inggris, Italia, Jerman, Portugal, Prancis, Rep. Cheska dan Spanyol.

Dari kesembilan tim tersebut, Belanda adalah yang terburuk. De Oranje selalu kalah dalam dua kesempatan melakoni adu penalti pada semifinal Piala Eropa. Pada EURO 1992, mereka kalah 4-5 dari Denmark. Sementara itu, pada EURO 2000, mereka takluk 1-3 dari Italia.

Dua Tim Cetak Dua Digit Gol

Antoine Griezmann membuat timnas Prancis mencapai dua digit gol di semifinal EURO saat lawan Jerman pada 2016.
insidethegames.biz

Di antara tim-tim yang menembus semifinal EURO, hanya dua yang sudah mencetak gol dalam jumlah dua digit. Mereka adalah timnas Jerman dan Prancis. Die Mannschaft total mengemas 15 gol, sementara Les Bleus telah membuat 11 gol.

Jerman mencetak 15 gol dalam 8 laga. Die Mannschaft hanya gagal mencetak gol pada semifinal Piala Eropa 2016 saat kalah 0-2 dari Prancis. Adapun Les Bleus mengemas 11 gol dalam 5 laga. Mereka hanya tak mencetak gol pada EURO 1996 saat ditahan 0-0 oleh Rep. Cheska dalam 120 menit.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Pemain Bersejarah pada Perempat Final EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Pentas EURO 2020 telah memasuki babak 8 besar. Empat laga pada perempat final EURO 2020 dipastikan menyedot perhatian publik sepak bola dunia. Mereka menantikan pertarungan sengit dan seru. Apalagi, sejak 1996, laga-laga perempat final Piala Eropa rata-rata menghasilkan 2,54 gol.

Terkait gol-gol yang tercipta dalam 24 laga perempat final dari 1996 hingga 2016, ada beberapa sosok bersejarah. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 pemain dengan torehan sejarah pada babak perempat final Piala Eropa sepanjang masa.

1. Patrick Kluivert (Hat-trick di Perempat Final EURO)

https://www.youtube.com/watch?v=R_GoO44Q_Is&ab_channel=NIXBLACK

Sosok Patrick Kluivert menyita perhatian saat membawa timnas Belanda menggasak Yugoslavia dengan skor 6-1 pada perempat final EURO 2020. Dia mencetak hat-trick pada laga tersebut. Kluivert membobol gawang Ivica Kralj pada menit ke-24, 38, dan 53. Pada akhir turnamen, dia menjadi top scorer bersama Savo Milosevic dengan 5 gol.

Sepanjang sejarah, Kluivert adalah pemain pertama dan satu-satunya yang mampu mencetak hat-trick pada perempat final Piala Eropa. Para pemain hebat pun gagal menyamai prestasinya hingga saat ini. Di belakang Kluivert pun hanya ada 5 pencetak brace. Mereka adalah Nuno Gomes, Milan Baros, Marc Overmars, Xabi Alonso, dan Olivier Giroud.

2. Robert Lewandowski (Pencetak Gol Tercepat)

Robert Lewandowski mencetak gol saat laga Polandia vs Portugal pada EURO 2016 berjalan 2 menit.
sport360.com

Torehan sejarah dibuat Robert Lewandowski pada perempat final EURO 2016. Menghadapi timas Portugal, striker andalan Polandia itu menjebol gawang Rui Patricio saat pertandingan baru berjalan 2 menit dengan memanfaatkan assist Kamil Grosicki. Itu jadi gol tercepat pada babak ini sepanjang sejarah EURO.

Sebelumnya, rekor gol tercepat pada perempat final Piala Eropa dipegang Michael Owen. Menariknya, gol itu juga dilesakkan di gawang Portugal. Owen Melakukannya saat timnas Inggris melawan Portugal pada EURO 2004. Kala itu, dia menjebol gawang Ricardo pada menit ke-3.

3. Semih Senturk (Pencetak Gol Menit ke-120)

Semih Senturk mencetak gol pada menit ke-120 perempat final EURO 2008 saat Turki menghadapi Kroasia.
abc.net.au

Jika Robert Lewandowski memegang rekor gol tercepat, Semih Senturk justru tercatat sebagai pemain yang mencetak gol pada menit paling ujung. Striker timnas Turki itu mencetak gol pada menit ke-120 saat menghadapi Kroasia di perempat final EURO 2008. Hingga kini, belum ada lagi pemain yang menyamai prestasi istimewa tersebut.

Gol Senturk pada menit terakhir perpanjangan waktu itu membuyarkan keunggulan 1-0 Kroasia berkat gol Ivan Klasnic hanya satu menit sebelumnya. Tak sia-sia, Turki lantas melaju ke semifinal berkat keunggulan 3-1 pada adu penalti. Senturk juga menunaikan tugasnya dengan baik pada adu penalti tersebut.

4. Arif Erdem (Kegagalan Penalti Pertama)

Arif Erdem gagal menaklukkan Vitor Baia pada perempat final EURO 2000.
Getty Images

Selain Semih Senturk, ada pemain Turki lain yang punya catatan khusus pada perempat final EURO. Dialah Arif Erdem. Bedanya, Erdem justru mencatatkan torehan kelam. Pasalnya, dialah pemain pertam dan satu-satunya yang gagal mengeksekusi penalti di luar adu penalti.

Setelah tertinggal 0-1 oleh gol Nuno Gomes pada menit ke-44, timnas Turki langsung mendapatkan penalti karena Fernando Couto menjegal Arif Erdem. Mengambil sendiri eksekusi penalti, Erdem ternyata gagal menaklukkan Vitor Baia. Tendangannya mampu ditahan sang kiper. Pada akhirnya, Turki pun kalah 0-2.

5. Dejan Govedarica (Gol Bunuh Diri Pertama)

Dejan Govedarica dinyatakan mencetak gol bunuh diri saat Yugoslavia dibantai Belanda 1-6 pada perempat final EURO 2000.
Getty Images

Sepanjang sejarah, baru ada satu gol bunuh diri pada perempat final EURO. Itu terjadi dalam gelaran di Belanda dan Belgia pada 2000. Pelakunya adalah pemain Yugoslavia, Dejan Govedarica. Gol bunuh diri itu terjadi dalam laga melawan Belanda di Stadion De Kuip, Rotterdam.

Yugoslavia sudah tertinggal 0-2 saat Belanda melakukan serangan lagi pada menit ke-51. Paul Bosvelt melakukan tusukan dari sisi kanan, lalu melepaskan umpan tarik ke mulut gawang. Coba berusaha mencegah bola disambar Patrick Kluivert, sapuan Dejan Govedarica justru menebus gawang Ivica Kralj.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Perempat Final EURO Sepanjang Sejarah

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Perhelatan EURO 2020 sudah memasuki babak perempat final. Laga Swiss vs Spanyol akan membuka babak perempat final EURO kali ini. Pertandingan tersebut akan dihelat di St. Petersburg, Rusia, pada Jumat (2/7/2021) pukul 23.00 WIB.

Babak perempat final EURO baru dikenal pada 1996 ketika putaran final diikuti 16 tim. Sebelumnya, sejak 1980, fase grup hanya diikuti oleh 8 tim. Tim yang lolos dari fase grup itu lantas menjalani laga semifinal atau bahkan langsung final seperti di Belgia pada 1980.

Sejak EURO 1996, ada beberapa catatan menarik yang tertoreh pada babak 8 besar dengan format gugur. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik perempat final EURO sepanjang masa.

1. Portugal Tersering Main di Perempat Final EURO

Timnas Portugal menjalani perempat final EURO keenam secara beruntun saat lawan Polandia pada 2016.
Getty Images

Dari 1996 hingga 2020, tercatat ada 22 tim yang telah dan akan melakoni laga perempat final EURO. Peserta terbaru adalah timnas Swiss pada edisi sekarang. Adapun tim yang paling sering lolos ke babak ini adalah timnas Portugal yang ironisnya tak lolos pada kesempatan kali ini.

Sebelumnya, sejak 1996 hingga 2016, Portugal tak pernah gagal menembus babak perempat final. Pada 2016, mereka bahkan juara. Di belakang Seleccao das Quinas, ada Italia dan Prancis yang sama-sama lima kali lolos ke babak ini. Italia pada 2000, 2008, 2012, 2016, dan 2020, sedangkan Prancis pada 1996, 2000, 2004, 2012, dan 2016.

2. 37,5 Persen Harus Ditentukan Adu Penalti

Jerman vs Italia termasuk dalam 9 laga perempat final EURO yang berlangsung hingga adu penalti.
Getty Images

Hingga EURO 2016, telah tersaji 24 pertandingan yang berlangsung pada babak perempat final EURO. Dari jumlah itu, ada 9 pertandingan atau 37,5 persen yang pemenangnya harus ditentukan oleh adu penalti. Dari 6 edisi EURO, hanya gelaran di Belanda dan Belgia pada 2000 yang seluruh laga perempat final berakhir dalam 90 menit.

Adapun tim yang tersering menjalani adu penalti adalah Inggris dan Italia. Keduanya sama-sama tiga kali melakoninya. Mereka bahkan saling bunuh lewat tos-tosan pada EURO 2012. Sisanya, The Three Lions kala menghadapi Spanyol (1996) dan Portugal (2004). Adapun Gli Azzurri saat melawan Spanyol (2008) dan Jerman (2016).

3. Hanya Lima Laga Tanpa Gol

Laga Inggris vs Italia pada 2012 jadi satu di antara 5 laga yang tak menghasilkan gol dalam 120 menit di perempat final.
Getty Images

Di antara 24 pertandingan perempat fial EURO dari 1996 hingga 2016, total tercipta 61 gol atau 2,54 gol per laga. Tercatat hanya 5 pertandingan yang berakhir tanpa gol. Dua laga pada EURO 1996, lalu satu laga masing-masing pada 2004, 2008, dan 2012.

Timnas Inggris dan timnas Italia sama-sama telah mengalami 2 pertandingan perempat final EURO yang tak berhias gol dalam 120 menit. Salah satunya saat bersua satu sama lain pada EURO 2012. Sisanya, The Three Lions mengalaminya saat menghadapi Spanyol pada 1996, sedangkan Gli Azzurri ketika melawan Spanyol pada 2008.

4. Timnas Jerman Paling Produktif

Jerman dengan 10 gol adalah tim paling produktif sepanjang sejarah perempat final EURO.
Getty Images

Meskipun gagal lolos ke perempat final EURO 2020, timnas Jerman masih menjadi tim paling produktif pada babak ini. Total, Die Mannschaft telah mengemas 10 gol. Mereka unggul atas Portugal (8 gol), dan Prancis (7 gol). Adapun di antara peserta 8 besar kali ini, tim tersubur adalah Rep. Cheska dengan 4 gol.

Timnas Jerman mengemas 10 gol dalam 4 laga perempat final, yakni pada 1996, 2008, 2012, dan 2016. Koleksi gol Die Mannschaft terbantu oleh kemenangan pada 8 besar EURO 2012 dan 2016. Pada EURO 2008, mereka menang 3-2 atas Portugal, sedangkan pada EURO 2012 menaklukkan Yunani 4-2.

5. Dua Laga Berhias 7 Gol

Dari 24 pertandingan perempat final EURO sejak 1996 hingga 2016, tercatat ada 2 pertandingan yang menghasilkan paling banyak gol. Itu adalah laga Belanda vs Yugoslavia dan Prancis vs Islandia. Kedua pertandingan tersebut sama-sama menghasilkan 7 gol.

Pada perempat final Piala Eropa 2000, Belanda yang jadi salah satu stuan rumah menang telak 6-1 atas Yugoslavia. Mereka bahkan unggul 6-0 sebelum ada gol balasan pada menit ke-90. Adapun Prancis menekuk Islandia 5-2 pada perempat final Piala Eropa 2016 di kandang sendiri.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Kabar Terbaru Karel Poborsky, Raja Assist di Pentas EURO

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Berbicara soal Karel Poborsky di pentas EURO, memori kebanyakan orang pasti tertuju pada gol tendangan lobnya saat Rep. Cheska melawan Portugal pada perempat final EURO 1996. Berkat gol itu, tim asuhan Dusan Uhrin lolos ke semifinal.

Poborsky tak menampik gol itu sangat identik dengan dirinya. Dalam banyak kesempatan, selalu saja orang-orang bertanya kepadanya soal gol indah tersebut. “Saya tak tahu lagi sudah berapa kali menggambarkan gol itu karena pada dasarnya itu jadi bagian dari setiap pembicaraan,” ujar dia seperti dikutip Football5Star.com dari ProcNe.

Kepada laman resmi UEFA, Karel Poborsky menjelaskan gol itu. “Vitor Baia maju terlalu jauh dari gawangnya. Bola melesat tinggi dan agak memantul di rumput, jadi saya tak harus menendangnya. Itu lebih mirip lemparan. Saya mengambilnya dari bawah. Saya memilih penyelesaian yang sudah biasa dilakukan. Saya sudah mencetak dua atau tiga gol seperti itu sebelumnya,” urai dia.

Gol itu memang yang paling diingat orang dari sosok Poborsky di pentas EURO. Sampai-sampai, itu menutupi prestasi terbesarnya di ajang antarnegara terakbar di Eropa tersebut. Hingga saat ini, dia tercatat sebagai raja assist di Piala Eropa. Total, dia membuat 8 assist. Pengancam terdekatnya adalah Cristiano Ronaldo dengan 6 assist.

https://www.youtube.com/watch?v=M4MjBpCUhiE&ab_channel=BenitoGonz%C3%A1lezBenitoGonz%C3%A1lez

Karel Poborsky tampil pada tiga edisi beruntun Piala Eropa. Selain di EURO 1996, dia juga tampil di EURO 2000 dan 2004. Pada tiga gelaran itu, dia tak pernah absen membuat assist. Tiga assist dibuat pada EURO 1996, satu assist pada EURO 2000, dan empat assist pada EURO 2004.

Kiprah apik di Piala Eropa pula yang membuat karier Karel Poborsky kian meroket. Setelah membawa Rep. Cheska ke final EURO 1996, dia direkrut raksasa Inggris, Manchester United. Setelah itu, dia melanglang buana bersama Benfica dan Lazio sebelum pulang kampung ke Sparta Praha pada 2002 dan pensiun di klub pertamanya, SK Dynamo Ceske Budejovice, pada 2007.

Karel Poborsky Tetap Berkutat di Sepak Bola

Setelah gantung sepatu, Karel Poborsky tak lantas meninggalkan sepak bola. Bahkan, enam bulan terakhir kariernya sebagai pemain diisi pula dengan tugas lain di manajemen klub. Dia menjadi pemilik sekaligus direktur umum di SK Dynamo Ceske Budejovice.

“Pada musim terakhir, saya sudah jadi pemilik bersama SK Dynamo. Saya juga menjabat direktur umum dalam 6 bulan terakhir. Itu sebetulnya kehidupan ganda yang tak bermakna. Namun, itu adalah fase transisi dan berjalan baik. Saya mengakhiri musim dan alih fungsi dengan mulus. Saya tak lagi duduk di kantor dengan celana training,” urai Poborsky.

Kiprahnya sekarang adalah Direktur Akademi Sepak Bola FACR, Asoasiasi Sepak Bola Rep. Cheska. Raja assist EURO itu mengaku sangat menikmati perannya yang sekilas terkesan membosankan karena buahnya tak segera terlihat dan dirasakan. Menurut dia, proses itulah yang jadi kenikmatan tersendiri.

Karel Poborsky sudah masuk manajemen SK Dynamo Ceske Budejovice pada 6 bulan terakhir kariernya sebagai pemain.
dynamocb.cz

“Di akademi, kerja kami bukan soal hari ini, tapi berakhir ketika anak berumur 14 tahun bermain sebagai murid. Ada ruang untuk berpikir lebih santai karena tak terbebani lagi pertandingan setiap minggu, setiap musim,” ujar Poborsky menjelaskan kerjanya sebagai Direktur Akademi Sepak Bola FACR.

Lebih jauh, Poborsky menguraikan proses perekrutan murid di akademi. Hal itu, kata dia, diawali pemantauan bakat di semua wilayah setiap dua tahun. Mereka mengumpulkan 250 anak-anak dan melatihnya di regional masing-masing. Dari situ, dilakukan seleksi hingga terpilih 25 anak-anak untuk masuk akademi.

“Namun, mereka tak bergabung dengan kami. Mereka tetap bersama klub masing-masing. Mereka datang pada Senin dan pulang pada Jumat, Mereka akan berlatih di klub dan bermain pada akhir pekan. Setelah itu, mereka kembali lagi ke akademi pada Senin,” kata Karel Poborsky lagi.

Kalah di Pemilihan Presiden FACR

Meskipun menikmati perannya itu, Karel Poborsky tak lantas berpuas diri. Dia pun ikut dalam pemilihan Presiden FACR yang digelar pada awal Juni lalu. Namun, dia gagal menjadi orang nomor satu karena kalah dari Petr Fousek. Dia meraih 91 suara, sedangkan Fousek memperoleh 106 suara.

Meskipun demikian, Poborsky tak sakit hati. Dia justru menunjukkan sportivitas dan kebesaran hati. Begitu dinyatakan kalah, dia langsung mengucapkan selamat kepada sang rival. “Dari awal hingga akhir, itu pertarungan yang adil. Saya menghormati opsi yang dipilih,” kata dia kepada Idnes.

Lebih jauh, Poborsky mengungkapkan, “Sepertinya ini buruk bagi saya. Saya dibesarkan untuk menang, tapi sekarang kalah. Walaupun begitu, secara keseluruhan , ini adalah tantangan dan pengalaman luar biasa bagi saya. Saya bertemu banyak orang baik di pelosok dan wilayah. Saya mendapatkan informasi dan punya pandangan berbeda soal sepak bola.”

Karel Poborsky kalah dalam pemilihan Presiden FACR.
seznamzpravy.cz

Kekalahan itu pun tak membuat Karel Poborsky terbebani. “Saya tak menjanjikan apa pun kepada siapa pun sepanjang kampanye. Jadi, saya tak punya utang sama sekali. Saya tak malu dan dapat menatap mata setiap orang. Hidup terus berjalan,” ujar dia lagi.

Poborsky pun tak mutung. Dia akan tetap loyal dan menghormati kontraknya dengan FACR. Kalah pada pemilihan Presiden FACR tak lantas membuat dia kecewa dan memutus kontrak begitu saja. Dia akan tetap amanah sepanjang diberi kepercayaan.

“Saya akan kembali bekerja seperti biasa. Saat ini, saya punya kontrak dengan FACR, dengan akademi, dengan stakeholder sepak bola usia muda. Jika tak ada perubahan dari pemimpin, saya siap melanjutkannya,” ucap Karel Poborsky.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Laga Pembuka Piala Eropa Sejak 1980

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 akan segera bergulir. Laga Turki vs Italia di Stadio Olimpico, Sabtu (12/6/2021) dini hari WIB akan jadi pembukanya. Bagi timnas Italia, ini merupakan kali kedua mereka menjalani laga pembuka Piala Eropa. Sebelumnya, mereka membuka Piala Eropa 1988 dengan mengimbangi sang tuan rumah, Jerman Barat, 1-1.

Ada banyak catatan yang tertoreh dalam laga pembuka Piala Eropa sejak fase grup diberlalukan pada 1980. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik dari sekian banyak fakta tersebut. Di antaranya menyangkut skor akhir dan hasil yang diperoleh tim yang berstatus tuan rumah.

Hanya Sekali Piala Eropa Dibuka Juara Bertahan

Partai pembuka Piala Eropa hampir selalu dilakoni tim yang berstatus tuan rumah. Tak terkecuali pada EURO 2020 yang digelar dengan banyak tuan rumah. Italia yang akan menghadapi Turki termasuk salah satu tuan rumah. laga nanti akan digelar di Stadion Olimpico yang biasanya menjadi markas AS Roma dan Lazio.

Anomali hanya terjadi sekali, yaitu pada Piala Eropa 1980. Digelar di Italia, bukan Gli Azzurri yang memjalani laga pembuka. Laga perdana justru dilakoni sang juara bertahan, yakni Cekoslowakia. Menariknya, sang lawan adalah Jerman Barat yang dikalahkan pada final EURO 1976.

Tak Pernah Berakhir Tanpa Gol

Michel Platini mencetak gol tunggal pada menit ke-78 laga pembuka Piala Eropa 1984 melawan Denmark.
Getty Images

Bersiaplah menanti gol pada laga Turki vs Italia pada pembukaan EURO 2020 nanti. Pasalnya, sejak 1980, laga pembuka tak pernah berakhir tanpa gol. Setidaknya 1 gol selalu tercipta pada laga-laga tersebut. Total, dalam 10 edisi tercipta 20 gol pada laga pembuka. Artinya, rata-rata tercipta 2 gol. dari 20 gol itu, 15 di antaranya dicetak pada babak kedua.

Dalam 10 edisi Piala Eropa terdahulu, tercatat hanya 3 kali laga pembuka hanya menghasilkan 1 gol. Itu terjadi untuk kali pertama pada 1980 ketika Jerman Barat menang atas Cekoslowakia. Empat tahun berselang, Prancis menang 1-0 atas Denmark. Adapun kali ketiga adalah saat Rep. Cheska menang 1-0 atas Swiss pada EURO 2008.

Selalu Berakhir dengan Skor Ketat

Gol Dimitri Payet pada menit ke-89 membawa timnas Prancis menang 2-1 atas Rumania pada laga pembuka Piala Eropa 2016.
telegraph.co.uk

Menjalani laga pembuka EURO 2020, timnas Italia harus waspada. Meskipun tengah menunjukkan tren sangat bagus bersama pelatih Roberto Mancini, Gli Azzurri tak bisa terlalu berharap untuk menuai kemenangan besar saat menghadapi timnas Turki di Stadion Olimpico nanti.

Itu karena laga-laga pembuka Piala Eropa pada 10 edisi sebelumnya selalu berakhir ketat. Tak ada tim yang menang dengan margin lebih dari 1 gol. Sebanyak 3 laga berkesudahan 2-1, 3 laga berakhir 1-0, dan bahkan 4 laga usai dengan skor imbang 1-1.

Tuan Rumah Hampir Selalu Menang

Timnas Portugal secara mengejutkan kalah 1-2 dari timnas Yunani pada laga pembuka Piala Eropa 2004.
Getty Images

Timnas Italia bisa mengusung optimisme tinggi saat menghadapi Turki pada laga pembuka EURO 2020 nanti. Pasalnya, mereka berstatus tuan rumah. Sejak 1984 ketika tuan rumah menjalani laga perdana Piala Eropa, hasil akhir hampir selalu memihak sang tuan rumah. Rinciannya, 3 menang, 4 seri, dan 2 kalah.

Tuan rumah yang kalah pada laga pembuka EURO adalah Portugal dan Swiss. Pada Piala Eropa 2004, Seleccao das Quinas secara mengejutkan takluk 1-2 dari Yunani. Gol balasan sang tuan rumah pun baru tercipta pada menit terakhir. Empat tahun kemudian, Der Nati mengikuti langkah serupa dengan kalah 0-1 dari Rep. Cheska.

Unggul Lebih Dulu Pasti Tak Kalah

Ada satu fakta menarik yang patut disimak timnas Italia dan timnas Turki yang akan menjalani laga pembuka EURO 2020. Mereka harus berlomba untuk mencetak gol terlebih dahulu. Faktanya, dalam 10 edisi sebelumnya, tim yang unggul lebih dulu selalu terhindar dari kekalahan. Enam di antaranya malah memetik kemenangan.

Anomali hampir tersaji pada laga pembuka Piala Eropa 2012 saat Polandia melawan Yunani. Polandia yang unggul terlebih dahulu nyaris kalah. Kedudukan 1-1 ketika kiper Polandia, Wojciech Szczesny dikartu merah dan Yunani mendapatkan penalti pada menit ke-69. Namun, eksekusi Giorgios Karagounis mampu ditahan Przemyslaw Tyton.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Vardy Kepikiran Arsenal di Piala Eropa 2016

Football Live StarFootball5star.com, Indonesia – Penyerang timnas Inggris, Jamie Vardy, mengungkapkan alasan tak mampu tampil maksimal di Piala Eropa 2016 silam. Ia mengaku ketika itu memikirkan kepindahannya ke Arsenal dari Leicester City.

Ketika itu, Vardy diberikan opsi untuk meninggalkan Leicester dan bergabung bersama Arsenal sebelum turnamen digelar. The Gunners dikabarkan siap menebus Vardy dengan harga 20 juta Poundsterling.

Jamie Vardy - www.old.football5star.com
The Week

“Sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang sangat mengganggu. Tapi, saya cukup sering memikirkannya. Saya sering pergi ke kamar saya dan memikirkan tawaran untuk pindah ke Arsenal. Hal seperti ini bukanlah hal yang dapat dilupakan begitu saja,” ungkap Vardy dilansir London Evening Standard.

“Pada akhirnya, saya membuat keputusan yang tepat. Saya berhasil melanjutkan karier sepak bola saya dan behasil bermain baik untuk klub saya, Itulah penyebab saya dapat berangkat ke Piala Dunia,” lanjut pria 31 tahun itu.

Kali ini, Vardy kembali dirumorkan akan bergabung dengan Atletico Madrid untuk menggantikan posisi dari Antoine Griezmann. Namun, dirinya bersikeras bahwa rumor tersebut tak mengganggunya kali ini. Mantan penyerang Fleetwood Town tersebut saat ini hanya memikirkan Piala Dunia dan membimbing skuat muda Gareth Southgate agar tampil baik.

“Pelatih membawa banyak pemain yang tampil bagus musim ini. Mereka pantas berada di skuat Inggris. Skuat kali ini dipenuhi banyak pemain muda dan apapun dapat terjadi di lapangan. Kami harus selalu siap setiap hari, memastikan berada dalam kondisi prima, dan bekerja sama agar mampu tampil baik,” pungkasnya.

Gagal ke Rusia Jadi Rekor Buruk Belanda Sejak 1986

Football5Star.com, Indonesia – Tim Nasional Belanda gagal lolos ke Piala Dunia Rusia 2018. Hal ini sekaligus melengkapi rekor mereka yang sebelumnya juga tidak ikut Euro 2016. Torehan ini sekaligus menjadi periode terburuk yang di alami De Oranje sejak tahun 1986.

Pada tahun 1984, Belanda gagal lolos ke Euro Prancis. Mereka kalah bersaing dari Spanyol yang jadi pemuncak klasemen kualifikasi Grup 7.

Sedangkan di Piala Dunia 1986, laju Belanda dihadang oleh tetangga dekatnya, Belgia. Mereka dikalahkan Jan Ceulemans dan kawan-kawan di babak play off. Kendati menang 2-1 di kandang, Ruud Gullit cs menelan kekalahan 0-1 saat bertandang ke Belgia.

Sejak saat itu, De Oranje selalu berhasil lolos ke dua turnamen akbar tersebut. Namun, Laju mereka kembali terhenti setelah gagal melaju ke Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Anak asuhan Louis van Gaal kalah bersaing dengan Portugal di Kualifikasi Grup 2.

Namun, mereka berhasil menebus kegagalan 2002 dengan lolos ke Piala Eropa 2004. Sedangkan sekarang, Belanda gagal melaju ke Piala Dunia 2018 setelah sebelumnya juga tidak berlaga di Euro 2016.

Kendati menang 2-0 atas Swedia di laga terakhir, Belanda dipastikan tidak lolos ke Rusia tahun depan karena kalah selisih gol. Catatan ini tentu mengulang rekor kelam negara penemu Total Footbal ini di tahun 1984 dan 1986. Yang mana mereka absen berlaga di dua turnamen besar secara beruntun.

Mourinho Tidak Yakin Portugal Ulang Prestasi 2016

Football5Star.com, Indonesia – Manajer Manchester United, Jose Mourinho, memprediksi Portugal akan kesulitan mengulang kesuksesan di Euro 2016. Kendati masih dihuni pemain yang sama saat menjuarai Piala Eropa tahun lalu, ia menganggap negaranya tidak akan seberuntung dulu.

Meski demikian Mourinho mengatakan Portugal yang akan menghadapi Andorra dan Swiss pada Kualifikasi Piala Dunia 2018 bakal menang dan mantap melangkahkan kaki ke Rusia pada musim panas tahun depan.

“Di level nasional, Portugal adalah juara Eropa namun kesuksesan ini tidak mudah untuk diulang, persis seperti klub-klubnya yang sulit juara lagi di Liga Champions. Meski demikian sepakbola Portugal belakangan ini berhasil mencetak pesepakbola dengan kualitas top.” Sebut Mourinho, Jumat (6/10/2017).

Pelatih yang mengantar Porto menjuarai Liga Champions 2003 ini tak ketinggalan memprediksi nasib negaranya di dua laga kualifikasi terakhir. Dengan yakin ia menjawab Portugal bisa menyapu bersih dua pertandingan tersebut.

“Kami akan menang dan terbang ke Piala Dunia. Portugal memiliki pemain yang bertalenta di semua lini. Lihat bagaimana mereka menjadi andalan di masing-masing klubnya. Para pemain dan pelatih pasti bisa mengatasi itu,” lanjutnya

Portugal sekarang berada di peringkat dua Grup B Kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa. Mereka terpaut tiga poin dari Swiss dari delapan pertandingan. Laga hidup mati pun diprediksi akan terjadi di partai terakhir ketika keduanya bertemu di Lisbon 10 Oktober nanti.

Lima Momen Menarik Rooney Bersama The Three Lions

Football5star.com, Indonesia – Keputusan Wayne Rooney untuk pensiun dari timnas Inggris menyisakan kenangan tersendiri dalam catatan sejarah sepak bola. Sejak 2003 ia memulai debut membela Negeri Ratu Elizabeth itu, banyak momen yang terjadi. Berikut adalah lima momen menarik Rooney saat berbalut seragam The Three Lions.

Debut Untuk Timnas di Usia Muda

Tiada yang menduga ternyata Rooney sempat ditawari untuk membela Timnas Irlandia, ia punya darah Irlandia dari neneknya. Namun, ia memlih untuk membela Timnas Inggris dan menjalani debut saat berumur 17 tahun 111 hari. Laga pertamanya adalah saat Inggris kalah mengejutkan atas Austria, 3-1 di Stadion Upton Park, London, Inggris, 13 Februari 2003. Ia bermain pada babak kedua dalam laga persahabatan itu menggantikan Michael Owen.

Pencetak Gol TimnasTermuda

Gol Rooney ke gawang Makedonia pada babak kualifikasi piala dunia 2004, menjadikannya pemain termuda dalam sejarah Timnas Inggris. Saat itu, ia masih berumur 17 tahun 317 hari. Penyerang kelahiran Liverpool itu mematahkan rekor milik Michael Owen yang mencetak gol bagi Inggris kala berusia 18 tahun 164 hari.

Kartu Merah Melawan Portugal

Bukan hal yang baik-baik saja yang pernah ia dapatkan di timnas. Saat babak perempat final Piala Dunia 2006 di Jerman, Rooney dihadiahi kartu merah karena menendang pemain Portugal, Ricardo Carvalho. Praktis Inggris bermain dengan 10 pemain dan harus kalah melalui babak adu penalti 3-1. Kekalahan itu membuat inggris gugur dari kompetisi tersebut.

Patahkan Rekor Gol Bobby Charlton 

Sekilas, tidak yang istimewa atas gol Rooney ke gawang Swiss pada babak kualifikasi Piala Eropa. Gol tersebut juga hanya tercipta dari titik putih. Namun, ini adalah gol ke-50 Wazza bagi Inggris dan mematahkan rekor milik Bobby Charlton dengan 49 gol.

Gol Terakhir Bagi Timnas Inggris

Pada Piala Eropa 2016 lalu, Inggris harus tersingikir setelah kalah mengejutkan oleh Islandia 2-1 pada babak 16 besar. Rooney mencetak gol penyeimbang melalui tendangan penalti, meskipun akhirnya mereka kembali tertinggal dan kalah. Gol tersebut merupakan yang terakhir baginya selama membela Inggris.

Berita Bola: Penyesalan Pahlawan Portugal di Final Piala Eropa

Ada penyesalan yang dirasakan Eder setelah mencetak gol Portugal ke gawang Prancis pada final Piala Eropa, Juni 2016.

Dia menjadi protagonis untuk negaranya pada masa tambahan waktu. Gol Eder memastikan Portugal juara Piala Eropa untuk pertama kali.

Meski dipuja negaranya, Eder mendapatkan dampak buruk dari kariernya di level klub. Sambutan negatif diberikan publik Prancis kepada striker yang membela Lille itu.

Untuk meredam reaksi itu, Eder pun mengatakan kepada L’Equipe, “Saya sedikit menyesal karena mencetak gol melawan Prancis. Saya memiliki banyak teman di sini dan bermain di Ligue 1.”

“Hanya, saya harus memberikan yang terbaik untuk negara. Saya tidak menyangka bakal ada protes dari publik Perancis dan semoga hal ini lekas mereda,” tutur dia.

Eder sendiri dikenal sebagai striker yang kurang tajam. Dia cuma mencetak empat gol dari 30 laga bersama Portugal. Pada musim ini, dia juga masih nihil gol untuk Lille.

Berita Euro 2012: Portugal Lebih Lemah Dibandingkan Turki

Kroasia menelan kekalahan saat berhadapan dengan Portugal di babak 16 besar Piala Eropa. Kekalahan itu dinili amat menyakitkan oleh Vatreni karena Selecao dinilai lebih lemah dari pada Turki.

Saat melakoni pertandingan di Stade Bollaert-Delelis, Minggu (26/6) dini hari WIB, Kroasia kalah 0-1 saat berhadapan dengan Portugal. Pejuangan mereka sampai ke babak tambahan, sampai akhirnya Ricardo Quaresma membobol gawang Kroasia di menit 117.

Gol itu merupakan hasil dari satu serangan balik cepat. Quaresma menyambut bola liar hasil sepakan Cristiano Ronaldo dari dalam kotak penalti.

Kroasia sebenarnya mampu tampil lebih baik di saat melawan Portugal Mereka mendominasi pertandingan dengan catatan 17 kali percobaan, 14 melenceng, tiga diblok.

Sialnya, Kroasia kebobolan saat Portugal melakukan shot on target yang kedua.

Dengan kekalahan ini, Kroasia belum mampu mengakhiri catatan buruk atas Portugal. Dalam empat pertemuan mereka selalu kalah.

Bek Kroasia, Vedran Corluka, bilang bahwa kekalahan ini amat menyakitkan. Sebabnya Portugal dinilai lebih lemah dibandingankan Turki –tim peringkat tiga Grup D. Turki sukses yang memetik satu kemenangan harus tersingkir.

Sementara Portugal yang meraih tiga kali hasil imbang malah bisa melaju ke babak 16 besar, kini bahkan menjejak ke perempatfinal.

“Portugal lebih lemah dari Turki dan Republik Ceko,” kata Corluka di Soccerway.

“ekalahan mana yang lebih menyakitkan buat saya, melawan Turki di tahun 2008 atau yang ini? Itu merupakan laga di Vienna pada tahun 2008 di babak perempatfinal

Berita Euro 2016: Kenangan Manis Spanyol Melawan Italia 4 Tahun Lalu

Spanyol mempunyai kenangan bagus saat berhadapan dengan Italia di Piala Eropa. La Furia Roja menaklukkan Gli Azzurri untuk menjadi juara dua kali berurutan.

Saat berlaga di Piala Eropa empat tahun lalu, Spanyol memetik kemenangan telak atas Italia. Mereka menang empat gol tanpa balas.

Keempat gol Spanyol itu dicetak oleh empat pemain berbeda. David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata yang mencatatkan namanya di papan skor.

Spanyol akan kembali berhadapan dengan Italia di pertandingan babak 16 besar Piala Eropa 2016. Laga kali ini akan berlangsung di Stade de France pada 27 Juni mendatang.

Kedua tim baru saja menelan kekalahan di pertandingan terakhir. Spanyol kalah dari Kroasia, sementara Italia takluk 0-1 dari Republik Irlandia.

Penggawa lini tengah Spanyol, Cesc Fabregas, bilang bahwa pertandingan melawan Italia memang selalu berat. Hasil akhir pertandingan persahabatan pada bulan Maret lalu menjadi indikatornya.

“Selalu menjadi pertandingan sulit saat melawan Italia. Mereka merupakan tim yang kompetitif dan mempunyai kualitas tinggi. Mereka mempunyai apa yang diperlukan untuk memenangi turnamen,” kata Fabregas di Gazzetta World.

“Bakalan sulit untuk mengalahkan mereka karena pertandingan melawan Azzurri selalu 50-50, kecuali final Piala Eropa 2012 (yang mana dimenangi Spanyol dengan skor 4-0).”

“(Final itu) merupakan 90 menit terbaik yang pernah kami lakoni bersama. Kami sangat menikmati permainan dan itu biasanya tak terjadi di final,” imbuh pemain yang memperkuat Chelsea itu.

 

UEFA Euro 2016: Rooney Berharap Hodgson Tetap Jadi Pelatih Inggris

Kontrak Roy Hodgson bersama tim nasional Inggris akan berakhir usai Piala Eropa 2016. Kapten tim, Wayne Rooney, ingin Hodgson dipertahankan sebagai pelatih The Three Lions.

Bersama dengan Hodgson, Inggris masih belum menunjukkan penampilan yang impresif di dua pertandingan Piala Eropa. Mereka seri saat melawan Rusia di pertandingan pertama. Sementara saat berhadapan dengan Wales, tim Tiga Singa harus menang dengan susah payah.

Soal masa depan Hogdson, petinggi FA, Greg Dyke, bilang bahwa hasil Inggris di Piala Eropa akan menjadi penentunya. Capaian semifinal disebut sudah cukup untuk menjaga Hodgson di posisinya saat ini.

“Itu bergantung pada bosnya, tentu saja sebagai seorang pemain, kami ingin dia bertahan,” tegas Rooney seperti dilansir oleh BBC.

Rooney mempunyai alasan mengapa Hodgson layak untuk dipertahankan. Kesempatan pada pemain muda menkadi alasan utamanya.

“Tak diperhatikan jumlah pemain muda yang dia perkenalkan pada skuat dalam empat tahun terakhir,” tegas Rooney.

“Ada masalah besar dalam hal semua orang bilang bahwa kami tak mempunyai pemain muda di Inggris seperti yang dimiliki negara-negara lain.”

“Seadil-adilnya pada klub-klub Premier League, mereka membawa pemain muda dan Roy sudah memilih mereka,” imbuhnya.

Selama menangani Inggris, Hodgson sudah melalui sebanyak 54 laga. Dia membawa Inggris menang 33 kali, seri 14 kali, dan kalah tujuh kali. Presenntase kemenangannya 61,1 persen.

Catatan itu cuma kalah dari Fabio Capello yang mencatatkan persentase kemenangan sebesar 66,6 persen.

Berita Euro 2016: Sepakan Midas Eder Untuk Italia

Tim nasional Italia memetik kemenangan saat melawan Swedia di laga lanjutan Piala Eropa 2016. Gol kemenangan itu  dicetak oleh Eder. Gli Azzurri pun lolos ke babak 16 besar turnamen antarnegara di Eropa tersebut.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadium de Toulouse, Jumat (17/6), Italia memetik kemenangan dengan skor akhir 1-0. Italia harus bersusah payah untuk meraup tiga angka.

Eder baru mencetak gol di menit ke-88. Gol itu dia ciptakan dengan satu sepakan terarah dari dalam kotak penalti. Eder melakukan penetrasi, mengecoh beberapa pemain Swedia, lalu melepaskan sepakan terarah ke gawang.

Opta mencatat bahwa gol itu merupakan shot on target pertama Eder untuk Italia dalam laga tersebut. Sepanjang pertandingan, Eder cuma melakukan dua percobaan, satu melenceng.

Selama babak pertama, Eder juga dicatat tak mampu menyentuh bola di dalam kotak penalti Swedia di babak pertama.

Kemenangan Italia kali ini juga berbuah beberapa catatan bagus lainnya. Tim Biru Langit mampu mencatatkan clean sheet dalam empat kali secara berurutan dalam empat kali secara berurutan setelah pernah melakukannya di Piala Dunia 2006.

Kemenangan Italia dalam dua pertandingan Piala Eropa 2016 menjadi rentetan hasil positif di turnamen mayor yang pertama sejak ajang yang sama di tahun 2000.

Tak ada tembakan yang mengarah ke gawang Gianluigi Buffon di pertandingan melawan Swedia. Torehan itu menjadi yang pertama di sepanjang keikut sertaannya di ajang Piala Eropa.

Berita Euro 2016: Terim Selamati Spanyol

Tim nasional Turki menelan kekalahan saat berhadapan dengan Spanyol di lanjutan Piala Eropa. Pelatih Turki, Fatih Terim, memberi ucapan selamat kepada La Furia Roka.

Saat melakoni pertandingan di Stade de Nice, Turki kalah tiga gol tanpa balas dari Spanyol. Gol di pertandingan, Sabtu (18/6) dinihari WIB dilesakkan oleh Alvaro Morata (dua gol) dan Nolito.

Di babak pertama, Spanyol sudah unggul dua gol berjat gol Morata di menit 34 dan Nolito tiga menit kemudian. Sementara di babak kedua pemain yang memperkuat Juventus itu mengemas gol di menit 48.

Spanyol memang tampil cukup dominan dalam laga itu. Seperti biasa mereka unggul penguasaan bola, kali ini catatannya sebesar 57 persen.

Soal percobaan, Spanyol membukukan sebanyal 18 attempt, enam mencapai sasaran, delapan melenceng, sisanya diblok. Sementara itu, Turki membukukan delapan percobaan, tak ada yang tepat sasaran, enam melenceng, dua diblok.

Terim menilai bahwa gol-gol Spanyol merupakan akibat kesalahan para pemainnya sendiri. Dia juga menyebut Turki cuma tampil baik selama 30 menit.

“Saya mengucapkan selamat untuk Spanyol. Mereka adalah tim yang sangat penting, tim yang spesial. 30 menit pertama oke-oke saja, tapi setelah itu kami tidak tampil baik,” katanya di situs resmi UEFA.

“Kami kebobolan dua gol dari kesalahan individu, satu di antaranya sulit dipercaya. Ketika Anda mendapatkan peluang saat melawan Spanyol, Anda harus mencetak gol. Jika tidak, tidak ada cara untuk melawan mereka.”

“Setelah gol ketiga kami berantakan. Anda tidak sepatutnya pesimistis setelah kebobolan satu gol dari Spanyol, tapi gol kedua membuat situasinya sangat sulit untuk kami,”

Berita Euro 2016: Portugal Akan Habis-Habisan Lawan Austria

Tim nasional Portugal gagal memetik poin penuh di laga pertama Grup F Piala Eropa. Oleh karena itu, Selecao, akan tampil habis-habisan saat berhadapan dengan Austra di laga kedua.

Saat melakoni pertandingan di Stade Geoffroy-Guichard, pada 15 Juni lalu, Portugal memetik hasil imbang dengan skor akhir 1-1. Mereka unggul lebih dulu berkat gol Nani, tapi bisa disamakan oleh Birkir Bjarnason.

Hasil imbang saat melawan Islandia itu disebut tak berpengaruh pada kepercayaan diri pada pemain besutan Fernando Santos itu.

Portugal akan berhadapan dengan Austria di Parc des Princes, Minggu (19/6) dini hari WIB. Mereka patut waspada menatap pertandingan itu karena dalam lima pertandingan terakhir rekor pertemuan mereka berimbang. Mereka sama-sama sekali menang, tiga laga lainnya berakhir imbang.

Menjelang pertandingan melawan Austria itu, kiper Portugal, Rui Patrico, yakin bahwa kondisi mental para pemain Portugal sedang dalam kondisi yang prima.

“Kepercayaan diri kami selalu ada di atas karena kami berhasil membawa tim sejauh ini dan kami tahu kualitas yang bisa kami tampilkan di lapangan,” ujar Patricio seperti dikutip dari Soccerway.

“Pertandingan melawan Islandia bukan hasil yang kami inginkan, tapi kami hanya bergantung kepada diri sendiri untuk mencapai tujuan kami.”

“Target pertama adalah melewati fase grup. Kepercayaan diri kami tidak terluka. Kami tahu kualitas permainan kami. Kami akan melakukan segalanya untuk menang,” tambahnya.

Berita Euro 2016: Turki Masih Simpan Harapan Lolos Ke Babak 16-Besar

Tim nasional Turki saat ini ada di ujung tanduk. Meski dalam posisi terjepit, mereka masih menyimpan harapan untuk bisa lolos ke babak 16-besar Piala Eropa 2016.

Turki menelan kekalahan dalam dua pertandingan di Piala Eropa. Mereka kalah dari Kroasia di pertandingan pertama. Sementara di laga kedua mereka kalah dari Spanyol dengan skor akhir 0-3.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Allianz Riviera, Nice, Sabtu (18/6), gawang Turki dibobol dua kali oleh Alvaro Morata, dan satu lainnya dicetak oleh Nolito.

Turki saat ini ada di posisi paling bawah Grup D karena belum bisa merngumpulkan poin. Meski demikian, mereka masih bisa lolos ke babak 16 besar dengan jalur peringkat tiga terbaik.

Oleh karena itu, penggawa Turki, Nuri Sahin, belum mau menyerah untuk terus berusaha.

“Kami memulai pertandingan dengan tidak buruk. Pada 20-25 menit awal, kami menetralisir pertandingan tapi kemudian mereka mendominasi dan kami malah kebobolan karena kesalahan kami sendiri,” kata Sahin seperti dikutip situs resmi UEFA.

“Sulit untuk mengubah skor kalau menghadapi Spanyol karena mereka terus menguasai bola sepanjang waktu. Kami merasa sangat buruk karenanya.”

“Jelas kami tidak puas dengan hasil ini. Ya, ini akan menyulitkan langkah kami. Kami masih menyimpan peluang untuk finis di urutan ketiga. Akan sulit tapi kami akan mencoba sebaik mungkin. Kalau kami mempunyai peluang, kami akan mengambilnya,” imbuhnya.

Berita Euro 2016: Nolito Minta Spanyol Terus Konsisten

Tim nasional Spanyol mampu tampil amat bagus dalam dua pertandingan Piala Eropa 2016. La Furia Roja pun diminta agar bisa terus mempertahankan penampilan.

Spanyol berhasil memetik kemenangan dalam dua pertandingan Piala Eropa. Mereka pun melaju ke babak 16-besar.

Lawan pertama yang ditaklukkan adalah Republik Ceko, usai itu Turki. Ceko dikalahkan dengan skor akhir 1-0, sementara Turki tiga gol tanpa balas.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stade de Nice, Sabtu (18/6) dinihari WIN, gol-gol Spanyol dicetak oleh Alvaro Morata (dua gol) dan Nolito.

Bagi Nolito, dia juga mencatatkan satu rekor oke. Dia menjadi pemain Spanyol pertama yang mencetak gol dan assist di paruh pertama pertandingan dalam data yang dilansir oleh MisterChip.

Kendati sudah tampil oke, Spanyol diminta agar tak jemawa. Nolito meminta rekan-rekannya agar segera bersiap untuk pertandingan berikutnya.

Spanyol masih akan berhadapan dengan Kroasia di pertandingan terakhir Grup D. Satu hasil imbang sudah cukup membawa Spanyol menjadi juara grup.

“Saya sangat senang atas semua hal yang sudah terjadi. Saya sangat senang untuk tik dan secara personal. Kami harus terus bermain seperti ini. Kita tunggu saya apa yang akan terjadi di hari Selasa berikutnya, tapi sejak besok, kami harus bersiap untuk laga besok,” kata Nolito di situs UEFA.

“Apa yang memberi saya kesenangan adalah saya mampu membawa kegembiraan untuk orang lain dengan permainan sepak bola saya,” imbuhnya.

Berita Euro 2016: Belgia Ada Di Momen Yang Menentukan

Tim nasional Belgia saat ini sedang berada di momen yang menentukan. Mereka wajib memenangi laga kedua Piala Eropa 2016 agar tidak mengemas koper lebih awal.

Belgia menelan kekalahan di pertandingan pertama Piala Eropa saat melawan Italia. Oleh karena itu, mereka kini ada di posisi paling terakhir Grup E karena belum memumpulkan poin.

Belgia akan menghadapi Republik Irlandia di pertandingan kedua Piala Eropa. Pertandingan itu akan berlangsung di Stade Matmut-Atlantique, Sabtu (18/6) malam WIB.

Bagi The Red Devils, laga itu mendapatkan label wajib dimenangi. Tambahan tiga angka akan menjaga kans Belgia lolos ke babak 16-besar.

Penggawa Belgia, Kevin De Bruyne, sadar betul dengan hal itu. Oleh karena itu, dia bilang bahwa laga melawan Irlandia akan menjadi pertandingan yang menentukan untuk tim yang dibelanya.

“Belgia adalah tim bagus dan dengan pemain-pemain yang siap untuk momen besar,” ujar gelandang serang Belgia, Kevin De Bruyne, seperti dikutip dari Evening Standard.

“Ketika kami melihat grupnya, kami tahu ini akan sulit. Italia, Irlandia, dan Swedia semua adalah rival yang rumit. Tantangan pertama kami adalah lolos dari fase grup dan kami harus bekerja sangat keras untuk melakukannya. Ini tidak akan mudah.”

“Perjalanan kami di kualifikasi bagus sekali, jadi wajar kalau ekspektasinya meningkat, tapi sekarang adalah momen yang menentukan,” ucap pemain yang membela Manhester City itu.

Berita Euro 2016: Pelatih Polandia Tak Khawatir Lewandowski Masih Mandul

Robert Lewandowski belum menunjukkan penampilan yang bagus untuk Polandia di Piala Eropa 2016. Meski demikian, pelatih Polandia, Adam Nawalka, mengaku tak khawatir dengan penampilan striker andalannya itu.

Dalam dua pertandingan Piala Eropa bersama Polandia, Lewandowski belum menyumbangkan gol. Dia juga baru mencatatkan dua kali percobaan dalam dua laga. Itu pun tak ada yang menemui bidang sasaran.

Saat melawan Irlandia Utara, Lewamdowski tak berkutik. Dia sama sekali tak mencatatkan percobaan mencetak gol. Sedangkan saat laga Polandia melawan Jerman, striker yang memperkuat Bayern Munich itu dua kali melepaskan percobaan, tapi tak ada yang menemui bidang.

Hal itu tentu saja berbeda jauh dengan sosok Lewandowksi yang amat tajam saat membela Bayern. Dia membukukan sebanyak 42 gol untuk Die Roten di semua kompetisi pada musim 2015-16.

Kendati Lewandowski masih mandul, Nawalka tak khawatir. Lewandowski dinilai bisa menjalankan peran lain dalam pertandingan-pertandingan yang dilakoni Polandia di Piala Eropa.

Lewandowski menjadi penarik atensi para pemain-pemain lawan untuk menjaganya agar bisa membuka ruang bagi para pemain Polandia lainnya.

“Pemainan Lewandowski salalu vital untuk rencana pertandingan kami. Dia tidak mencetak gol melawan Irlandia Utara atau Jerman malam ini, tapi dia sudah bekerja keras,” kata Nawalka di situs UEFA.

“Dia selalu berpikir mengenai tim dan teah beperan besar dalam menarik para pemain belakang keluar dari posisinya dan menciptakan ruang bagi rekan-rekan setimnya. Dia sedang berada dalam penampilan optimal,” imbuhnya.

Berita Euro 2016: Wales Tak Belajar Dari Banyak Gol Di Menit-Menir Akhir

Di Piala Eropa kali ini, ada banyak gol yang tercipta di menit-menit akhir. Wales dinilai tak belajar dari fakta itu hingga akhirnya menelan kekalahan.

Saat melakoni pertandingan di Stade Bollaert-Delelis, Lens, Kamis (26/6) malam WIB, Wales kalah 1-2 dari Inggris.

Sempat unggul lebih dulu berkat gol yang diciptakan oleh Gareth Bale di babak pertama, Wales takluk usai Jamie Vardy dan Daniel Sturridge membukukan gol di babak kedua.

Gol kemenangan Inggris yang diciptakan oleh Sturridge itu dicetak di menit-menit akhir pertandingan. Hal itu yang membuat kekalahan Wales ini terasa menyesakkan.

Kapten The Dragons, Ashley Williams, bilang bahwa kemenangan ini memang sangat menyakitkan. Kelengahan di menit-menit akhir menjadi sebabnya, tapi Wales disebutnya akan segera bangkit.

“Ini sulit untuk semua orang, tapi kami masih harus melakoni pertandingan lainnya di hari Senin (20/6) dan itu merupakan titik balik yang cepat. Jadi kami takkan terpuruk akibat itu. Itu jelas menyakitkan, kami sudah nyaris mengamankan satu poin, tapi kami tak bisa –tapi kami akan melupakannya saja,” kata Williams seperti dilansir oleh Sports Mole.

“Anda tak berusaha cukup keras sampai peluit akhir. Kami sudah melihat banyak gol di menit-menit akhir di sepanjang turnamen ini, itu bukan berati bahwa kami sudah tak siap bermain, itu hanya karena sautu hal.”

“Ini bakal baik-baik saja. Beberapa dari kami sudah berbincang, manajer sudah bicara, kami akan kembali bersatu dan melupakannya. Dan pada akhirnya, kami mempunyai tiga angka dari dua pertandingan dan kami akan fokus pada pertandingan berikutnya dan lolos dari fase grup,” imbuhnya.

Berita Euro 2016: Jerman Harus Lebih Bagus Saat Menyerang

Jerman gagal mengamankan poin penuh saat menghadapi Polandia di lanjutan Piala Eropa 2016. Die Mannschaft dinilai harus lebih baik lagi saat melakukan serangan.

Saat melakoni pertandingan di Saint-Denis, Jumat (17/6) dini hari WIB. Jerman bermain imbang tanpa gol melawan Polandia.

Dalam pertandingan itu, Jerman tampil dominan. Hal itu tampak dalam penguasaan bola yang mereka lakukan. Tim besutan Joachim Loew itu bisa melakukan ball possession sebanyak 63 persen.

Dengan penguasaan bola itu, Jerman cuma bisa membukukan tiga sepakan on target di sepanjang pertandingan. Penampilan lini depan itu yang membuat Loew agak sedikit kecewa.

Loew pun meminta agar para pemain depan Jerman, Thomas Mueller, Mario Gomez, Mario Goetze, Andre Schuerrle, dan Julian Draxler segera membukukan gol. Dua gol Jerman di laga melawan Ukraina dicetak oleh pemain belakang, Skhodran Mustafi, dan gelandang, Bastian Schweinsteiger.

“Lebih dari apa pun, saya senang dengan performa kami saat bertahan. Kami tidak membiarkan Polandia memanfaatkan kekuatan mereka, yaitu melukai kami lewat serangan baik,” ujar Loew di situs resmi UEFA.

“Terlepas dari peluang (yang didapat Arkadiusz Milik) setelah turun minum, Neuer tidak perlu membuat penyelamatan. Mats tampil luar biasa; sebenarnya kedua bek tengah tampil luar biasa.”

“Permainan kami di sepertiga akhir lapangan tidak cukup cepat. Kami ragu-ragu dan saat sampai di sana tiba-tiba ada sepuluh pemain lawan yang bertahan. Kami harus menyerang dengan lebih baik,” tambahnya.

Berita Euro 2016: Jerman Harus Lebih Baik Lagi Atau Takkan Melaju Jauh Di Prancis

Jerman tak menunjukkan ketajaman di lini depan dalam dua pertandingan terakhir di Piala Eropa. Mereka diminta memperbaiki diri atau diprediksi takkan melaju jauh di Prancis.

Saat melakoni pertandingan di Stad de France, Jumat (17/6) dini hari WIB, Jerman tak bermain impresif. Mereka memang menguasai pertandingan dengan catatan 63 persen penguasaan bola.

Dengan penguasaan bola sebanyak itu, Jerman tak banyak melakukan percobaan yang tepat sasaran. Memang ada 15 attempt yang dilepaskan, tapi cuma tiga yang mencapai sasaran.

Soal penampilan lini depan Jerman, sang pelatih, Joachim Loew, sudah melakukan mewanti-wanti. Mereka dinilai kebingungan saat berada di daerah pertahanan lawan.

Thomas Mueller, Mario Gomez, Mario Goetze, Andre Schuerrle, dan Julian Draxler segera membukukan gol. Dua gol Jerman di laga melawan Ukraina dicetak oleh pemain belakang, Skhodran Mustafi, dan gelandang, Bastian Schweinsteiger.

Oleh karena itu, bek Jerman, Jerome Boateng, menilai bahwa Die Mannschaft takkan melaju jauh andai terus tampil seperti ini.

“Kami tidak memenangi satu pun situasi satu-lawan-satu saat melakukan serangan, kami kurang mobilitas,” kata Boateng di ZDF yang dilansir oleh Soccerway.

“Terkadang kami harus menembak. Kami bermain bagus sampai daerah sepertiga akhir, tapi kami tak bisa melewati pemain lawan dan tak membahayakan.”

“Kami harus meningkatkan penampilan atau takkan melaju jauh,” tehas bek yang memperkuat Bayern Munich itu.

Berita Euro 2016: Kemenangan Atas Wales Jadi Pembuktian Inggris Bisa Tampil Bagus

Tim nasional Inggris memetik kemenangan atas Wales di lanjutan Piala Eropa. Mereka pun membuktikan diri bisa tampil bagus.

Saat melakoni pertandingan di Stade Bollaert-Delelis, Kamis (16/6) malam WIB, Inggris sempat dibayangi hasil buruk. Mereka tertinggal 0-1 saat babak pertama akibat gol Gareth Bale.

Gol Bale itu dicetak di menit 42, lewat sebuah sepakan bebas dari jarak jauh. Bolanya sempat ditepis Joe Hart, tapi tetap masuk ke gawang.

Di babak kedua, Inggris bisa bangkit. Jamie Vardy bisa mencetak gol di menit ke-56 untuk menyamakan kedudukan. Kemenangan Inggris ditentukan oleh Daniel Sturridge yang dikemas di masa injury time.

Penggawa lini tengah Inggris, Adam Lallana, bilang bahwa kemenangan ini menjadi pembuktian Inggris bahwa mereka bisa tampil bagus. Dia pun meyakini bahwa kemenangan ini memberi suntikan untuk bisa membawa mereka memetik kemenangan di pertandingan melawan Slovakia.

“Inggris melawan Wales adalah kesempatan besar, semua orang menyambutnya dengan antusias tapi kami cuma ingin membuktikan bicara kami di lapangan,” ujar gelandang Inggris, Adam Lallana, seperti dikutip dari situs resmi FA.

“Ini masih awal –kami tidak yakin apakah kami lolos dan begitu juga Wales– tapi ini adalah kesempatan besar dan menyenangkan bisa menang.”

“Punya empat poin adalah posisi yang bagus tapi kami masih punya satu pertandingan lagi yang akan berat, tapi sekarang kami penuh percaya diri dan tidak sabar menunggu hari Senin (20/6),” katanya.

Berita Euro 2016: “Timnas Turki Takkan Cuma Menunggu Di Belakang”

Spanyol akan berhadapan dengan Turki di laga kedua Piala Eropa 2016. Turki diyakini tak akan cuma bertahan menumpuk pemain di lini belakang.

Pertandingan antara Turki melawan Spanyol akan berlangsung di Stade de Nice, Sabtu (18/6) dini hari WIB. Dengan status juara bertahan Piala Eropa dan skuat yang mereka miliki, Spanyol jelas menjadi tim unggulan.

Spanyol mempunyai pemain seperti Andres Iniesta, David De Gea, Sergio Ramos, dan Alvaro Morata. Mereka juga sudah membuktikan diri bisa memetik kemenangan di pertandingan pertama.

Pelatih Spanyol, Vicente del Bosque, pernah berkiprah di Liga Turki sebelum menjadi pelatih Spanyol. Dia menangani Galatasaray.

Dengan fakta itu, Del Bosque jelas mengenal sepak bola Turki dengan amat baik. Dia pun bilang bahwa Turki bakal bermain terbuka agar bisa mendapatkan hasil bagus.

“Saya tak berpikir bahwa mereka akan menjadi tim yang menunggu di belakang dan tak mengambil inisiatif, mereka akan mengejar penguasaan bola, mereka mempunyai pemain tangguh, mereka mempunyai pemain yang berani,” kata Del Bosque di situs resmi UEFA.

“Saya tahu bagaimana gaya bermain Turki dengan sangat baik, saya pikir mereka takkan menyerah dengan mudah. Saya yakin mereka tak akan membuat pertandingan menjadi mudah untuk kami,” imbuhnya.

Turki memang butuh kemenangan untuk menjaga kans lolos ke babak selanjutnya. Mereka menelan kekalahan tipis 0-1 saat berduel melawan Kroasia di pertandingan pertama. Gawang mereka dibobol oleh Luka Modric.

Berita Euro 2016: Albania Masih Mencari Gol Pertama

Albania belum bisa mencetak gol dalam dua pertandingan di Piala Eropa 2016. Mereka mengincar gol pertama sembari berusaha terus menjaga kans untuk lolos ke babak 16-besar Piala Eropa.

Dalam dua pertandingan di Piala Eropa, Albania selalu menelan kekalahan. Saat melawan Swiss, mereka mereka kalah dengan skor akhir 0-1.

Sementara itu, saat melawan Prancis di pertandingan yang berlangsung di Stade Velodrome, Kamis (17/6) dini hari WIB, mereka menelan kekalahan dengan skor akhir 0-2.

Albania mampu tampil sangat bagus dalam 89 menit saat melawan Prancis. Mereka sanggup menahan 20 percobaan yang dilakukan oleh para pemain asuhan Didier Deschamps itu.

Sundulan Antoine Griezmann di menit ke-90 menjadi awal kekalahan Albania. Setelah itu, Dimitri Payet mampu menggandakan keunggulan lewat gol sepakan kaki kanannya dari dalam kotak penalti Albania.

Atas penampilan anak asuhnya, pelatih Albania, Gianni De Biasi, bilang bahwa dirinya sudah cukup puas. Kini, mereka mencoba untuk mencari gol pertama di turnamen sat melakoni pertandingan melawan Rumania pada 20 Juni mendatang.

“Kami bisa mengalahkan Rumania untuk lolos ke babak berikutnya. Jika kami bisa mencetak gol, kami belum bisa melakukannya sejauh ini, kami jelas bisa mendapatkan poin yang kami butuhkan agar bisa lolos ke babak berikutnya,” kata De Biasi di situs UEFA.

“Kami sudah menunjukkan bahwa kami merupakan tim yang mapan dan memainkan sepak bola yang bagus,” imbuh pelatih asal Italia itu.

Berita Euro 2016: Laga Yang Emosional Untuk Payet

Pemain Prancis, Dimitri Payet, bilang bahwa dirinya melakoni laga yang emosional saat melawan Albania. Dia memainkan pertandingan di stadion tempatnya biasa mengolah si kulit bundar di masa lalu.

Prancis memetik kemenangan 2-0 saat berhadapan dengan Albania di Stade Veledrome. Gol-gol Prancis dilesakkan oleh Antoine Griezmann dan Payet. Dua gol itu dicetak di menit-menit akhir pertandingan.

Gol Griezmann dicetak di menit ke-90 dengan sundulan kepala. Sementara itu, Payet mencetak gol lewat sepakan kaki kanan yang terarah dari dalam kotak penalti.

Bagi Payet, gol kali ini berarti spesial. Dia pernah membela Marseille di rentang tahun 2013-2015, hingga gol itu juga menjadi suatu nostalgia untuk pemain yang kini sudah memperkuat Tottenham Hotspur itu.

“Saya senang karena sekali lagi kami berusaha lebih keras lagi di babak kedua dan usaha kami terbayar, meski kami tak menjalani pertandingan dengan cara kami sampai akhir,” kata Payet di situs UEFA.

“Saya merasa spesial bisa kembali ke sini. Mencetak gol di stadion tempat biasa saya bermain bersama klub lama saya, sangat emosional buat saya. Mereka bertahan dengan baik. Di babak pertama, kami mencoba untuk melakukan terobosan dari tengah terlalu banyak dan itu membuat menjadi lebih mudah untuk mereka.”

“Lalu di babak kedua, kami mencoba bermain melebar. Kami banyak mengirimkan umpan silang, kami banyak mendapat pemain di kotak penalti dan itulah mengapa kami bisa mencetak gol,” imbuhnya.

Berita Euro 2016: Performa Polandia Cukup Menyenangkan Pelatihnya

Polandia memetik hasil imbang saat melakoni pertandingan melawan Jerman di lanjutan Grup C Piala Eropa 2016. Penampilan Polandia sudah membuat pelatihnya, Adam Nawalka, girang.

Saat menghadapi Jerman di Stade de France, Jumat (17/6) dini hari WIB, Polandia bermain imbang 0-0. Polandia tak banyak melakukan ancaman di pertandingan itu karena bermain labih bertahan.

Situs resmi turnamen melansir data bahwa Polandia cuma melakukan 37 persen penguasaan bola, tujuh kali melepaskan percobaan, empat diblok, tiga lainnya gagal menemui bidang sasaran.

Sementara itu, Jerman bisa 15 kali melakukan percobaan, sembilan melebar, dan tiga di antaranya sukses mencapai gawang.

Kendati Polandia tak begitu tampil baik, Nawalka mengaku bahwa jalannya pertandingan sudah sesuai yang mereka rencanakan.

“Kami mengendalikan pertandingan dengan baik, bahkan saat akhir pertandingan. Ada saatnya ketika Jerman mengambil inisiatif, tapi kami membuat mereka sadar, untuk bisa memberi kami ruang guna memukul mereka lewat serangan balik,” kata Nawalka di situs UEFA.

“Saya sangat senang dengan penampilan tim, terutama kedisiplinan dan kesadaran soal taktik. Semua berjalan seperti rencana.”

“Para pemain bermain dengan segenap hati. Satu-satunya hal yang membuat saya kurang bahagia adalah kegagalan kami untuk mencetak gol, tapi 0-0 merupakan hasil akhir yang adil,” imbuhnya.

Dengan hasil imbang ini, Jerman masih menempati posisi pertama Grup C dengan catatan empat poin. Polandia ada di posisi kedua dengan raihan poin yang sama.

Berita Euro 2016: “Hodgson Tak Berpesan Apapun Saat Jeda Pertandingan”

Inggris bisa melakukan comeback untuk memenangi pertandingan melawan Wales di lanjutan Piala Eropa. Manajer The Three Lions, Roy Hodgson, disebut tak memberi team talk apapun saat jeda pertandingan hingga Inggris bisa bangkit.

Saat melakoni pertandingan di Stade Bollaert-Delelis, Kamis (16/6) malam WIB, Inggris memetik kemenangan dengan skor akhir 2-1. Kemenangan itu didapat dengan susah payah karena dipastikan dengan gol di masa injury time.

Inggris tertinggal lebih dulu sebab gol yang dikemas oleh Gareth Bale di menit 42. Pemain yang memperkuat Real Madrid itu mampu melakukan tendangan bebas keras yang menghujam gawang Inggris yang dikawal Joe Hart.

Usai jeda, Hodgson melakukan pergantian pemain yang di akhir laga menunjukkan kontribusi positif. Harry Kane dan Raheem Sterling digantikan Jamie Vardy dan Daniel Sturridge.

Dua pemain pengganti itu yang akhirnya membukukan gol kemenangan Inggris. Vardy mencetak gol di menit 56, sementara itu Sturridge memastikan kemenangan dengan gol di masa injury time.

Vardy bilang bahwa Hodgson sebenarnya sudah sangat puas dengan penampilan Inggris di babak pertama. Oleh karena itu, dia tak berpesan apa-apa saat turun minum agar Inggris bisa bangkit.

Comeback Inggris kali ini dicatat oleh Opta menjadi yang pertama di sepanjang keikutsertaan Inggirs di turnamen mayor.

“Kami berpikir bahwa kami bermain baik, jadi pesan dari manajer (di saat jeda pertandingan) aldah untuk terus melakukan apa yang kami lakukan dan semoga gol itu akan datang, dan itulah yang sudah kami lakukan,” kata Vardy seperti dilansir Soccerway.