Unggah Foto Berbau Rasial, Juventus Minta Maaf

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Juventus telah meminta maaf setelah tweet dengan foto yang berisi gerakan rasial muncul di akun resmi tim wanita mereka. Juventus menegaskan bahwa mereka melawan rasisme.

Tweet yang menyertakan gambar pemain wanita yang melakukan gerakan ofensif dengan menarik mata yang jelas menghina orang Asia, menerima ribuan balasan dalam 20 menit di media sosial sebelum akhirnya dihapus.

Beberapa saat setelah dihapus, Juventus Women memposting pernyataan di Twitter bahwa mereka meminta maaf atas unggahan itu

Unggah Foto Berbau Rasial, Juventus Minta Maaf
Sports Bible

“Kami dengan tulus meminta maaf bahwa tweet kami, yang tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kontroversi atau memiliki nada rasial, mungkin telah menyinggung siapa pun. Juventus selalu menentang rasisme dan diskriminasi,” tulis pernyataan Juventus Women seperti dikutip Football5Star.com dari akun resmi Twitternya.

Foto itu diambil saat sesi latihan Juventus Women di Barcelona. Foto itu masih terlihat sebagai bagian dari galeri di situs resmi klub selama satu jam, sebelum akhirnya dihapus.

Juventus Women yang bersatus juara Serie A Women saat ini sedang berada di Barcelona untuk bermain melawan juara Liga Champions Wanita, Barcelona Femeni di Trofeo Joan Gamper, 8 Agustus mendatang.

Laga itu akan diadakan sebelum laga tim pria Juventus melawan Barcelona dalam laga dengan tajuk yang sama. Ini pertama kalinya Trofeo Joan Gamper akan dimainkan dengan bukan hanya oleh tim pria saja, tapi juga tim wanita.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Puluhan Orang Ditangkap karena Serangan Rasial kepada Pemain Inggris

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Pihak kepolisian Inggris menangkap sebelas orang yang melakukan aksi serangan rasial kepada pemain timnas Inggris saat perhelatan EURO 2020.

Dikutip Football5star.com dari Daily Mail, Kamis (5/8/2021), para pelaku ini yang melakukan serangan rasial kepada Marcus Rasfhord, Jadon Sancho dan Bukayo Saka setelah gagal mengeksekusi penalti di final EURO 2020.

Puluhan Orang Ditangkap karena Serangan Rasial kepada Pemain Inggris

Menurut pihak kepolisian, unit khusus yang dibentuk untuk menginvestigasi masalah ini telah menerima 600 laporan dari individu terkait serangan rasila ini. Dari 600 laporan, 207 akun diidentifikasi bersifat kriminal dan 34 akun berada di Inggris.

Unit khusus ini kemudian meminta data ke perusahaan sosial media terkait identitas akun. Dari informasi ini, sebanyak 11 orang telah ditangkap karena melakukan sejumlah pelanggaran hukum Inggris, utamanya pelanggaran pasal 127 Communications Act 2003.

Tidak hanya 11 orang yang berada di Inggris. Pihak kepolisian juga mengidentifikasi 207 unggahan media sosial yang bersifat kriminal dari 123 akun yang berada di luar Inggris. Pihak kepolisian Inggris kemudian meneruskan laporan ke negara terkait.

Menurut Mark Roberts, kepala polisi Nasional Inggris, tindakan tegas ini diambil untuk menimbulkan efek jera dan juga untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa bersembunyi dari profil media sosial untuk melakukan ujaran kebencian.

“Ada banyak orang di luar sana yang percaya bisa bersembunyi di balik profil media sosial. Mereka harus berpikir lagi, kami memiliki penyelidik yang secara proaktif mencari komentar dan unggahan kasar saat pertandingan berlangsung,” ucap Roberts.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Tiga Perempuan Hijab Bikin Petisi Melawan Tindakan Rasial di Sepak Bola Inggris

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Kekalahan timnas Inggris di final EURO 2020 atas Italia di babak adu penalti menyisakan kekecewaan bagi publik Inggris. Mereka yang tak terima dengan kekalahan itu kemudian membuat petisi agar partai final EURO 2020 diulang.

Dibanding membuat petisi tersebut, tiga perempuan hijab, Huda Jawad, Amna Abdullatif, dan Shaista Aziz membuat petisi yang lebih penting. Petisi tersebut menyerukan tindakan rasial harus segera dihapuskan dari sepak bola Inggris.

Mural Marcus Rashford di Manchester Dirusak

Tiga perempuan hijab ini membuat petisi sebagai tanggapan atas tindakan rasial yang ditujukan kepada tiga eksekutor pemain timnas Inggris yang gagal tendangan penalti, Marcus Rashford, Bukayo Saka dan Jadon Sancho.

Dikutip Football5star.com dari The Guardian, Rabu (14/7/2021), tiga perempuan hijab ini meminta federasi sepak bola Inggris, FA dan pemerintah untuk bekerja sama melarang orang melakukan tindakan rasial secara online ataupun offline.

“Semua orang yang telah melakukan pelecehan rasial secara online atau offline dari semua pertandingan sepak bola Inggris harus dihukum seumur hidup,” tulis tiga perempuan ini dalam petisinya.

Petisi yang dilakukan tiga perempuan yang menyebut mereka The Three Hijabi ini menjadi viral dan kabarnya telah ditandatangani sebanyak 980.000 pada Selasa (13/7) waktu setempat.

Targetnya petisi ini ditandatangani oleh satu juta orang. Menurut Huda Jawad, petisi itu harus bisa menjadi bentuk perlawanan yang nyata untuk tindakan rasial di sepak bola.

“Kami merasa divalidasi dalam perlawanan kami terhadap rasisme dalam sepak bola dan bahwa apa yang dapat kami ungkapkan adalah sentimen yang dipegang secara nasional.” kata Huda Jawad.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Gagal Penalti, Tiga Pemain Timnas Inggris Dihujani Makian Rasial

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Kekalahan timnas Inggris dari timnas Italia pada final EURO 2020 mendatangkan konsekuensi besar bagi Jadon Sancho, Marcus Rashford, dan Bukayo Saka. Gagal mencetak gol pada adu penalti, mereka lantas jadi sasaran amarah publik Inggris. Mereka bahkan dihujani makian rasial.

Pada final EURO 2020, Sancho, Saka, dan Rashford tak masuk susunan sebelas pemain pertama yang diturunkan manajer Gareth Southgate. Saka baru masuk pada menit ke-70, sedangkan Sancho dan Rashford tepat saat perpanjangan waktu hendak berakhir.

Menariknya, mereka masuk dalam 5 penendang pertama Inggris pada adu penalti. Sancho dan Rashford seperti sengaja dimasukkan untuk menjadi algojo, sementara Saka ditugasi jadi penendang kelima yang biasanya diembankan kepada salah satu pemain yang punya reputasi bagus dalam mengeksekusi penalti.

Hasilnya, mereka gagal. Begitu wasit Bjorn Kuipers mengakhiri pertandingan, hujatan pun langsung datang bak air bah kepada tiga pemain itu. Terutama Saka yang jadi penentu kegagalan The Three Lions. Di media sosial, bukan hanya makian rasial, bahkan ada yang meminta dia tak lagi membela Inggris dan pulang ke Nigeria, negeri leluhurnya.

FA Bela Pemain Timnas Inggris yang Dihujat

Menyikapi hal itu, Asoasiasi Sepak Bola Inggris (FA) langsung mengeluarkan pernyataan keras. Intinya, mereka mengutuk keras makian rasial kepada para pemain yang dijadikan kambing hitam kekalahan timnas Inggris dari Italia pada final EURO 2020.

“FA mengutuk keras segala bentuk diskriminasi dan sangat terejut oleh serangan rasial secara online yang telah diarahkan kepada beberapa pemain Inggris di media sosial. Kami tak bisa lebih jelas lagi untuk mengatakan bahwa orang-orang dengan perilaku menjijikan ini tak diterima untuk mengikuti tim ini,” urai FA seperti dikutip Football5Star.com dari akun jubirnya.

Lebih lanjut, dalam pernyataan resminya itu, FA menekankan dua hal. “Kami akan sebisa mungkin melakukan segala upaya untuk memberikan dukungan kepada para pemain yang terdampak. Pada saat uang bersamaan, kami meminta adanya hukuman lebih berat pada para pelaku (rasialisme).

FA tak lupa melontarkan kritik kepada pihak-pihak lain. Mereka meminta pemerintah membuat undang-undang yang memungkinkan pelaku pelecehan rasial mendapat hukuman yang berdampak nyata. Mereka juga memohon kepada perusahaan media sosial membekukan akun dan mengumpulkan bukti untuk langkah hukum.

Gareth Southgate Sesali Cemooh Fan kepada Pemain Inggris

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Gareth Southgate mengaku kesal dengan cemooh fan kepada pemain Inggris saat laga uji coba melawan Rumania di Riverside Stadium. Cemooh dilontarkan sejumlah fan Inggris atas aksi anti rasial yang dilakukan pemain seperti Marcus Rashford.

Dikutip dari laporan The Athletic seperti dikutip Football5star.com, Senin (7/6/2021), sejumlah fan mencemooh saat Rashford berlutut sebagai bentuk penolakan atas tindakan rasial. Hal yang sama juga diberikan fan Inggris saat laga melawan Austria pada tengah pekan lalu.

Inggris vs Rumania - Marcus Rashford - uefa. com 2
uefa.com

Pada saat cemooh itu dilakukan di laga melawan Austria skuat Inggris memang memutuskan akan tetap melakukan sikap anti rasial di setiap pertandingan internasional. Meski sikap itu mendapat cemooh dari fan sendiri.

“Saya sedih dengan apa yang terjadi. Kami telah menerima itu sebagai sebuah tim. Hal itu tidak akan menghentikan apa yang kami lakukan dan apa yang kami yakini. Tentu saja itu tidak akan menghentikan dukungan saya untuk para pemain dan staf,” kata Gareth Southgate.

“Kondisi ini saya sesali. Kita harus hidup dengan itu. Kami telah mengatakan apa yang akan kami katakan sekarang dan ke depan, tidak ada gunanya untuk menjelaskan sikap kami,” tambah Gareth Southgate.

Sementara itu, Marcus Rasford menyebut bahwa apa yang dilakukan fan Inggris adalah sesuatu yang tidak bisa kendalikan. Meski begitu, sama seperti Gareth Southgate, striker Manchester United itu juga tidak akan mundur untuk terus bersuara anti rasial.

Itu adalah sesuatu yang tidak dapat kami kendalikan dan bagi kami, kami percaya itu adalah yang benar untuk dilakukan sehingga kami akan terus melakukannya,” ucap Rashford.

Suara penolakan terkait tindakan anti rasial yang dilakukan pemain Inggris tidak hanya berasal dari kalangan fan. Salah satu politisi dari Partai Konservatif, Lee Anderson bahkan sampai mengancam akan memboikot laga Inggris jika aksi itu terus dilakukan pemain.

Hal sama juga diutarakan oleh politis partai Konservatif lainnya, Brendan Clarke-Smith.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Marcus Rashford Dapat Perlakuan Rasial dari Seorang Guru Matematika

gamespool
Marcus Rashford Dapat Perlakuan Rasial dari Seorang Guru Matematika 17

Football5Star.com, Indonesia – Penyerang Manchester United, Marcus Rashford, lagi-lagi mendapatkan perlakuan rasial lewat media sosial setelah final Liga Europa. Rashford menjelaskan bahwa salah satu pelakunya adalah seorang guru matematika.

Manchester United harus takluk dari Villarreal lewat adu penalti setelah laga berakhir imbang 1-1 selama 120 menit, (27/5/21). Rashford memang tak tampil baik pada laga itu dimana dia sempat membuang peluang emas pada babak kedua.

Pemain jebolan akademi Manchester United mengatakan bahwa ada setidaknya 70 penghinaan rasial yang masuk ke media sosialnya pasca pertandingan. Dan salah satunya dari seorang guru matematika.

“Setidaknya 70 penghinaan rasial di akun sosial saya hitung sejauh ini. Bagi mereka yang bekerja untuk membuat saya merasa lebih buruk dari yang sudah saya lakukan, semoga berhasil,” kicau Rashford seperti dilansir Football5Star.com dari akun Twitternya,

Marcus Rashford melanjutkan, “Saya lebih marah karena salah satu pelaku yang memberi banyak emoji monyet di DM saya adalah seorang guru matematika dengan profil terbuka. Dia mengajari anak-anak!! Dan tahu bahwa dia dapat dengan bebas melakukan pelecehan rasial tanpa konsekuensi.”

Manchester United juga langsung bereaksi di media sosial dengan meminta para warganet untuk melaporkan jika melihat aksi rasial di media sosial.

“Setelah final Liga Europa, para pemain kami menjadi sasaran pelecehan rasial yang memalukan. Jika Anda melihat segala bentuk pelecehan atau diskriminasi, tindak dan laporkan,” tulis United di akun Twitternya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Dimaafkan Dennis Aogo, Jens Lehmann Tetap Dihujani Sanksi Sosial

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Jens Lehmann akhirnya meminta maaf atas ujaran berbau rasial kepada Dennis Aogo. Dia mengaku tak bermaksud melecehkan. Namun, karena pesan negatif itu berasal dari telepon genggamnya, dia tetap bertanggung jawab.

Lehmann menjadi sorotan setelah Aogo menunjukkan kepada publik pesan bernada rasial darinya. Dalam pesan itu, sang eks kiper menyebut koleganya di Sky tersebut hanya memenuhi kuota orang hitam. Gara-gara itu, dia pun langsung didepak dari dewan pengawas Hertha Berlin.

Berada dalam tekanan, Lehmann lantas menelepon Aogo dan meminta maaf. Permintaan maafnya pun diterima oleh eks pemain Hamburg tersebut. Meskipun tersinggung dan sakit hati, juara Piala Eropa U-21 2009 tersebut menunjukkan kelapangan hati.

Dennis Aogo memaafkan Jens Lehmann meskipun tersinggung oleh pesan bernada rasial darinya.
Instagram @dennisaogo

“Saya ingin sedikit mengomentari insiden dengan Jens Lehmann kemarin,” kata Dennis Aogo dalam pesan melalui akun Instagram-nya seperti dikutip Football5Star.com dari Sport1. “Saya sudah berbicara dengan dia lewat telepon, dua kali pada hari ini. Di sini, saya ingin mengatakan secara resmi lagi: Saya menerima permintaan maafnya.”

Lebih lanjut, Aogo mengungkapkan, “Saya tak menyukai hal yang ditulisnya. Saya tak suka kata-katanya. Saya juga merasa agak terhina karena dia tak seharusnya menulis seperti itu kepa asiapa pun. Namun, saya ingin mengatakan, semua orang membuat kesalahan dan pantas mendapatkan kesempatan kedua.”

Lehmann Kadung Tuai Hukuman

Dalam bagian lain pernyataannya, Dennis Aogo menilai publik tak perlu menghukum Jens Lehmann secara berlebihan. Namun, hal tersebut tak lantas membuat eks kiper Arsenal tersebut benar-benar dimaafkan oleh publik Jerman.

Lehmann tetap saja menuai hukuman berat dari ujaran bernada rasial yang dilontarkan kepada Aogo. Selain didepak Hertha Berlin, dia juga disingkirkan oleh Sky dan Sport1. Kedua stasiun televisi itu tak akan lagi menggunakan jasanya sebagai narasumber sepak bola.

Lehmann juga diberhentikan dari posisinya sebagai duta Laureus. “Laureus didirikan dengan keyakinan fundamental bahwa olahraga dapat mengatasi diskriminasi dan melawan semua bentuk rasialisme. Terkait komentar yang tersiar luas, kami telah menginformasikan Jens Lehman bahwa dia telah diberhentikan dari perannya sebagai duta Laureus,” kata Sean Fitzpatrick, Ketua Laureus World Sports Academy.

Hukuman juga dijatuhkan eks klub Lehmann, Heisinger SV. Tak tanggung-tanggung, mereka menutup pintu bagi kiper timnas Jerman pada Piala Dunia 2006 itu untuk masa 50 tahun. Mereka menilai sang eks pemain telah mencederai nilai-nilai yang diusung klub itu.

“Heisinger SV terbuka untuk siapa pun. Kami ingin menjaga tolernasi dan kebersamaan. Terkait ini, Jens Lehmann harus membaca ini: Walaupun Anda hanya terlihat tiga kali dalam 40 tahun dan Anda mungkin tak peduli sama sekali, Anda dilarang datang ke klub ini lagi!” ujar Peter Peter Kuepperfahrenberg, chairman klub itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Pesan Rasial Jens Lehmann kepada Dennis Aogo Berujung Pemecatan

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Kasus rasialisme kembali terjadi. Kali ini dilakukan eks Arsenal dan timnas Jerman, Jens Lehmann.

Jens Lehmann melakukan tindak rasial kepada mantan rekannya di timnas Jerman, Dennis Aogo. Hal ini terlihat dari unggahan Aogo yang menunjukkan isi pesan sang mantan kiper di WhatsApp.

Dalam pesan itu pria yang terakhir menjabat sebagai salah satu direksi Hertha Berlin menyebut “Apakah Dennis sebenarnya hanya untuk memenuhi kuota orang hitam?,”.

Kuota yang dimaksud Lehmann terkait pekerjaan Dennis Aogo sekarang. Untuk diketahui, mantan pemain Hamburg SV bertugas sebagai komentator di Sky Sport Germany.

Masalah ini pun berbuntut panjang. Sang mantan kiper langsung dipecat sebagai anggota board supervisor Hertha Berlin.

“Kontrak dengan Lehmann telah dihentikan. Pernyataan seperti itu sama sekali tidak sesuai dengan nilai-nilai yang Hertha pegang,” demikian pernyataan resmi presiden klub, Werner Gegenbauer di laman resmi klub, Rabu (5/5/2021).

“Kami selalu menjauhkan diri dari segala bentuk rasialisme. Oleh karena itu kami mengambil keputusan ini,” ia menambahkan.

Apa yang menimpa Jens Lehmann dan Dennis Aogo sangat mengejutkan. Mereka adalah mantan rekan satu tim di timnas Jerman dan masih berteman baik.

Akan tetapi, ucapan kiper Der Panzer di Piala Dunia 2006 telah menyakiti hati Aogo. “Melihat suami saya seperti ini sangat mengecewakan. Dia sangat kecewa dengan orang itu. Saya sangat kecewa dan menyesal,” tulis istri Aogo, Ina, di Instagram.

Seedorf Minta Wasit Beri Hukuman kepada Pemain yang Menutup Mulut Saat Berbicara

gamespool
Seedorf Minta Wasit Beri Hukuman kepada Pemain yang Menutup Mulut Saat Berbicara 26

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain AC Milan dan Real Madrid, Clarence Seedorf mengusulkan agar wasit memberikan hukuman kartu kuning kepada pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawanya di lapangan.

Hal itu menurut Seedorf sebagai bentuk pencegahan tindakan rasial yang akhir-akhir ini kembali marak dilakukan pesepak bola.

Clarence Seedorf pernah membela Inter Milan tapi lama memperkuat AC Milan.

“Kita tidak bisa menutupi mulut ketika berbicara dengan pemain lawan. Jika itu dilakukan, harusnya wasit mengeluarkan kartu kuning,” kata Seedorf seperti dikutip Football5star.com dari Marca, Sabtu (17/4/2021).

“Ada pemain yang berbicara satu sama lain dan kami telah melihat banyak situasi rasis dalam beberapa pekan terakhir. Kita bisa melawannya dengan melarang mereka menutup mulut saat berbicara,” tambah pemain asal Belanda tersebut.

Tidak hanya Seedorf yang memberikan usulan untuk otoritas sepak bola melakukan terobosan terkait pencegahan tindakan rasial. Menteri Olahraga Prancis, Roxana Maracineanu juga memberikan dukungan untuk gagasan memberikan mikrofon kecil kepada wasit seperti pada olahraga rugby.

Semenara itu, Michele Uva, Director of Football and Social Responsibility UEFA mengatakan bahwa peran pendidikan juga penting untuk menghapuskan tindakan rasial di sepak bola.

“Rasisme dan ujaran kebencian sudah mengakar kuar di masyarakat kami. Pendidikan adalah alat fundamental untuk kita semua berperang melawan hal tersebut,” kata Uva.

Dalam beberapa pekan terakhir, kasus rasial kembali jadi sorotan di kompetisi Eropa. Bek Valencia, Mouctar Diakhaby mengaku sempat menjadi tindakan rasis dari pemain Cadiz. Namun kasus ini dengan keputusan bahwa tidak ada tindakan rasis yang dikatakan oleh pemain Cadiz kepada Diakhaby.

Baru-baru ini UEFA juga menghukum pemain Slavia Praha, Ondrej Kudela, dihukuman larangan main 10 laga. Kudela melakukan tindakan rasial kepada pemain Rangers Glen Kamara. Sambil menutupi mulutnya, ia mengatakan sesuatu yang menyulut emosi Kamara.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dianggap Bukan Korban Rasial, Mouctar Diakhaby Beri Reaksi Tak Terduga

gamespool
Dianggap Bukan Korban Rasial, Mouctar Diakhaby Beri Reaksi Tak Terduga 30

Football5star.com, Indonesia- Presiden LaLiga, Javier Tebas menganggap kasus dugaan tindakan rasial yang dilakukan bek Cadiz, Juan Cala kepada pemain Valencia, Mouctar Diakhaby hanya salah paham semata. Otoritas Liga Spanyol sendiri memutuskan bahwa Cala tidak terbukti melakukan tindakan rasial kepada Diakhaby.

“Diakhaby pasti salah paham tentang Cala,” kata Tebas seperti dikutip Foobtball5star.com dari Marca, Sabtu (10/4/2021).

Tolak Dicap Pelaku Rasis, Cala Tudik Balik Diakhaby

“Saya percaya apa yang dia katakan, tapi dia pasti salah paham, seperti yang sering terjadi dalam hidup. Pendapatku adalah Diakhaby tidak membuat tuduhan palsu, tapi dia salah dengar Cala,” tambah Javier Tebas.

Pernyataan dari Tebas ini pun dibalas oleh Diakhaby dengan senyuman. Lewat akun Insgtagram miliknya, pemain Valencia itu mengunggah potongan layar pernyataan Tebas itu dan memberikan dengan emoji tertawa.

Keputusan dari otoritas Liga Spanyol menyebutkan Juan Cala tidak terbukti melakukan tindakan rasial kepada Diakhaby. Meskipun para ahli pembaca bibir dan file audio telah diperiksa, pihak LaLiga tidak dapat menemukan bukti yang cukup tindakan rasial

Menurut para ahli tersebut, tak terdengar ucapan ‘orang hitam sialan’ saat Cala berbicara pada Diakhaby. Para ahli itu mengungkapkan, kemungkinan yang diucapkan Cala adalah ‘sialan’, ‘tinggalkan aku sendiri’, dan ‘jangan marah’.

Sementara itu, menurut sumber dekat Valancia, Mouctar Diakhaby telah menerima keputusan LaLiga tersebut dengan tenang. Meskipun dirinya masih yakin dengan kejadian rasial yang dialaminya.

Meski demikian, kasus ini tak sepenuhnya ditutup. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) masih terus menginvestigasi kasus ini, dan belum mengumumkan hasilnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Valencia Murka Juan Cala Dinyatakan Tidak Melakukan Rasial

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Valencia tidak terima dengan keputusan LaLiga yang menyatakan pemain Cadiz, Juan Cala, tidak rasial terhadap Mouctar Diakhaby. Menurut mereka investigasi yang dilakukan tidak lengkap.

LaLiga baru saja merilis hasil investigasi mereka. Dari penyelidikan yang dilakukan otoritas liga tidak menemukan unsur rasial yang dilakukan Juan Cala.

Keputusan ini pun ditanggapi Valencia. Menurutnya, hasil penyelidikan tersebut tidak bisa menutupi apa yang telah terjadi di lapangan.

Tolak Dicap Pelaku Rasis, Cala Tudik Balik Diakhaby

“Menurut video dan tes suara yang tersedia, investigasi tidak bisa mengonfirmasi semua kata-kata yang didengar Diakhaby pada menit ke-28 dari pertandingan Cadiz vs Valencia yang dimainkan minggu lalu,” demikian pernyataan resmi El Che, Sabtu (10/4/2021).

“Bahwa tidak ada bukti yang ditemukan bukan berarti hal ini tidak terjadi. Kami ingin menyoroti bahwa LaLiga melakukan penyelidikannya sendiri tapi klub tidak pernah mengubah pendapat tentang apa yang terjadi selama pertandingan,” sambungnya.

Lebih lanjut, klub yang bermarkas di Mestalla berikrar akan terus mendukung pemainnya, Mouctar Diakhaby. Mereka juga akan terus berjuang melawan rasialisme dan ingin melakukan perubahan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Kami akan terus mendukung penuh Diakhaby. Tujuan kami adalah untuk melihat perubahan, melihat respons yang tepat untuk insiden yang sangat serius ini,” lanjut pernyataan tersebut.

“Kami ingin melakukan gerakan untuk mengubah peraturan dan sikap dalam menangani jenis masalah ini setiap kali muncul. Terlepas dari fakta yang diselidiki tidak bisa sepenuhnya dikonfirmasi karena tidak lengkapnya rekaman, LaLiga telag mengklarifikasi apa yang terjadi,” sambung Valencia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Sikut Ondrej Kudela, Gareth Bale Banjir Sanjungan dari Warganet

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah insiden menarik terjadi saat timnas Wales menang 1-0 atas Rep. Cheska pada matchday III Kualifikasi Piala Dunia 2022. Dalam sebuah duel udara, sikut Gareth Bale dengan telak mendarat di wajah Ondrej Kudela.

Menariknya, insiden tersebut tak lantas membuat Bale dihujat. Winger Wales itu justru malah dibanjiri sanjungan dan dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap rasialisme. Pasalnya, Kudela sebelumnya dituding Glenn Kamara, pemain Rangers FC, melontarkan hinaan rasial pada laga Liga Europa.

Beberapa warganet terang-terangan berterima kasih kepada Bale. Salah satunya Robbie Logan, seorang fan fanatik Rangers. “Harus mengatakan terima kasih banyak kepada Gareth Bale karena telah menyikut si rasis kotor Andrij (Ondrej) Kudela,” cuit dia di akun Twitter-nya.

Logan menambahkan, “Tak ada orang yang lebih pantas disikut mukanya ketimbang binatang menjijikkan itu. Entah disengaja atau tidak, terima kasih banyak dari keluarga Rangers atas hal itu.”

Tak sedikit pula warganet yang menganggap Bale sebagai pahlawan. Ya, tentu saja pahlawan dalam memerangi rasialisme dan para rasialis di muka bumi. Sikutan di wajah Kudela adalah simbol kepahlawanan pemain yang kini membela Tottenham Hotspur tersebut.

“Gareth Bale bukanlah pahlawan yang pantas kami dapatkan. Namun, dialah pahlawan yang kami butuhkan,” cuit Ian Leslie dalam quote tweet terhadap cuitan Ranger55pares yang menampilkan video sikutan sang winger ke wajah Kudela.

Bale cs. Kampanye Antirasialisme

Sanjungan kepada Gareth Bale dan sikutannya ke wajah Ondrej Duda juga tak lepas dari kampanye yang dilakukan timnas Wales. Saat memasuki stadion, para pemain Wales mengenakan kaus merah dengan tulisan mengutuk rasialisme.

Pada bagian depan kaus yang dikenakan Bale cs. tertera tulisan “SHOW RACISM THE RED CARD”. Adapun pada bagian belakang ada kutipan terkenal dari Angela Davis yang berbunyi, “Pada masyarakat rasialis, tidak cukup untuk nonrasialis. Kita harus jadi antirasialis.”

Insiden Gareth Bale dengan Ondrej Kudela kemudian dipandang sebagian warganet sebagai wujud nyata dari kampanye antirasialisme itu. Kudela yang melontarkan hinaan rasial kepada Glenn Kamara dianggap sebagai simbol dari rasialisme yang belakangan begitu merebak dan sangat meresahkan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Kecewa Rasialisme Marak, Thierry Henry Hapus Akun Media Sosial

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Rasialisme kini mulai marak terjadi di media sosial. Dalam beberapa pekan terakhir saja sudah banyak kasus rasial terhadap pesepak bola yang berasal dari media sosial.

Kejadian tak pantas ini pun mengusik legenda hidup Arsenal, Thierry Henry. Sebagai bentuk protes, ia langsung menutup semua platform akun media sosialnya.

“Mulai besok pagi saya akan menghapus smua media sosial saja sampai orang-orang yang punya kekuatan bisa membuat regulasi di setiap platformnya,” tulis Thierry Henry di Twitter.

“Banyaknya rasialisme, penindasan, dan penyiksaan mental yang diakibatkan oleh orang-orang terlalu beracun untuk diabaikan. Harus ada kejelasan atas semua ini,” ia menambahkan.

Yang menjadi kegelisahan Thierry Henry bukan hanya para pelaku rasial. Tapi juga peraturan media sosial yang tidak ketat. Menurutnya, ini jadi salah satu penyebab banyaknya ujaran kebencian di dunia maya.

“Membuat akun sangatlah mudah, menggunakannya untuk menindas dan melecehkan tanpa konsekuensi dan hukuman dan tetap anonim,” lanjutnya.

Dalam beberapa pekan terakhir setidaknya ada tiga kasus rasil yang berawal dari media sosial. Salah satunya dialami bintang muda timnas Inggris, Jude Bellingham, beberapa waktu lalu.

Fenomena serupa baru-baru ini terjadi di sepak bola Indonesia. Yang menjadi korbannya adalah bintang PSM Makassar, Patrick Wanggai. Usai membawa PSM Makassar menang atas Persija Jakarta, Wanggai mengalami pelecehan rasial di Instagram.

Crotone Beri Gelar Kehormatan Usai Anak Pemain Jadi Korban Rasial

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Rasialisme kembali terjadi di Italia. Kali ini menimpa pemain Crotone, Nwankwo Simy. Simy dikejutkan oleh komentar diskriminasi terkait anak laki-lakinya

Anak Nwakwo Simy yang masih bayi menjadi korban rasial di media sosial. Dalam kolom komentar yang diunggah sang bomber, terdapat komentar rasial berbunyi “Bayimu akan meninggal karena kanker karena kanker pankreas,”.

Komentar diskriminatif ini menjadi buah bibir di Italia. Adapun pemerintah kota Crotone tidak tinggal diam. Sang wali kota, Vincenzo Voce, menunjukkan rasa simpatiknya pada Nwankwo Simy. Bahkan ia memberi gelar kehormatan kota pada sang pemain dengan anaknya.

nwankwo simy ansa
ansa.it

“Crotone mencintaimu dan memberikan pelukan. Kami dekat denganmu dan terima kasih karena secara terbuka mencela insiden yang tidak bisa diterima ini. Kamu memberi contoh yang sangat penting,” kata Vincenzo Voce seperti dilansir Football Italia, Sabtu (27/3/2021).

“Kita harus memanggil semua orang karena hanya dengan menyadari beratnya tindakan ini kita bisa memerangi intoleransi, kekerasan verbal, fisik, dan rasialisme. Seluruh masyarakat memelukmu dan putramu. Dia akan tumbuh dengan nilai-nilai nyata karena dia punya ayah yang hebat di sisinya,” sambung sang wali kota.

Adapun Simy yang mendapat gelar kehormatan warga Crotone terharu. Ia berterima kasih kepada suporter dan warga setempat yang telah mendukungnya.

“Saya merasa bahwa saya berasal dari sini karena saya sudah lima tahun di sini dan merasakan kehangatan orang-orang. Saya berterima kasih atas dukungan semuanya,” tulis Nwankwo Simy.

Jelang Old Firm Derby, Rangers dan Celtic Bersatu Perangi Rasialisme

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Pertandingan paling bergengsi di Liga Skotlandia, Old Firm Derby akan tersaji akhir pekan ini. Kali ini Celtic akan menjadi tuan rumah kala berhadapan dengan Rangers.

Ada yang menarik dari Old Firm Derby kali ini. Kedua tim menunjukkan persatuan yang sukar terjadi sebelumnya. Persatuan ini berawal dari kasus rasialisme yang menimpa pemain Rangers, Glen Kamara.

Untuk diketahui, Glen Kamara jadi korban rasialisme pada laga Rangers vs Slavia Praha di leg kedua 16 besar Liga Europa. Dia diejek pemain Slavia, Ondrej Kudela, dengan sebutan ‘monyet’.

Apa yang dilontarkan Ondrej Kudela mendapat reaksi keras. Di lapangan para pemain Rangers tak terima dengan ucapan rasial tersebut dan membuat mereka terlibat cekcok.

Apa yang dialami Glenn Kamara merambah ke media sosial. Terlebih ketika dia membuat pernyataan sikap terkait kejadian tersebut.

Kamara kemudian mendapat dukungan dari banyak pihak. Salah satunya rival abadi Rangers, Celtic. Lewat Twitter mereka menunjukkan dukungan untuk Kamara dan siapa saja yang menjadi korban rasial.

“Kami berdiri tegap melawan semua bentuk rasialisme dan fanatisme berlebihan,” tulis mereka dengan menunjukkan foto kapten tim, Scott Brown, sedang memegang kartu merah yang ditujukan pada pelaku rasial.

Dukungan tersebut mendapat sambutan positif dari Rangers. “Old Firm United,” tulis mereka saat membalas cuitan sang rival. Gestur positif ini sedikit menghangatkan tensi tinggi pada Old Firm Derby yang akan berlangsung di Celtic Park, Sabtu (21/3/2021).

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Alex Jankewitz Jadi Korban Serangan Rasial, Southampton Tempuh Jalur Hukum

gamespool
Alex Jankewitz Jadi Korban Serangan Rasial, Southampton Tempuh Jalur Hukum 46

Football5star.com, Indonesia – Pemain muda Southampton, Alex Jankewitz menjadi korban rasial pasca kekalahan telak 0-9 dari Manchester United. Pemain berusia 19 tahun itu mendapat serangan rasial di sosial media.

Dikutip Football5star.com dari Daily Mail, Kamis (4/2/2021), Southampton telah mengindentifikasi pelaku serangan rasial kepada Alex Jankewitz. Selanjutnya Soton akan menyerahkan temuan mereka itu ke pihak kepolisian.

Alex Jankewitz Jadi Korban Serangan Rasial, Southampton Tempuh Jalur Hukum2
Daily Mail

“Southampton Football Club dapat mengonfirmasi bahwa para pelaku telah diidentifikasi yang mengarahkan pelecehan rasial kepada gelandang kami yang berusia 19 tahun, Alex Jankewitz usai pertandingan melawan Manchester United,” bunyi pernyataan resmi Southampton.

“Penyalahgunaan dalam bentuk apapun tidak akan pernah ditoleransi di Southampton,”

“Klub kami bangga akan sifat para penggemar kami yang lain. Mereka satu suara dengan penolakan kami terhadap perilaku menjijikan itu. Hal seperti itu tak diterima di manapun termasuk di sepak bola,”

“Klub telah menyamapikan semau temuan kami kepada Polisi Hampshire dan berharap mereka dapat secara permanen menghapus orang-orang ini dari komunitas sepak bola kami,”

Southampton dihancurkan Manchester United dengan skor telak sembilan gol tanpa balas. Kemenangan besar United tak lepas dari kartu merah cepat yang diterima oleh pemain muda Soton, Alexandre Jankewitz di menit ke-2. Kartu merah itu disorot oleh manajer Ralph Hasenhuettl.

Pemain berusia 19 tahun itu mendapat kartu merah dari wasit setelah lakukan tekel berbahaya kepada Scott McTominay. Menurut Hasenhuettl, apa yang dilakukan oleh Jankewitz adalah pelanggaran bodoh.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Rasialisme Tetap Marak, Abramovich Siapkan Langkah Strategis

gamespool
Rasialisme Tetap Marak, Abramovich Siapkan Langkah Strategis 50

Football5star.com, Indonesia – Pemilik Chelsea, Roman Abramovich sangat marah dengan tindakan rasial yang marak terjadi belakangan ini di Liga Inggris. Bek Chelsea, Reece James, dan tiga pemain Manchester United jadi korban rasis di sosial media.

“Saya terkejut dengan pelecehan rasial yang ditargetkan kepada Reece James di media sosial,” kata Abramovich seperti dikutip Football5star.com dari Daily Mail, Selasa (2/2/2021).

Reece James - Paulo Ferreira - Chelsea - Chelsea Independent

“Rasisme tidak memiliki tempat di klub kami maupun di masyarakat kami. Klub kami berkomitmen untuk memerangi rasisme, anti semit, dan semua bentuk diskriminasi,”

“Kami tidak dapat membiarkan ini terus berlanjut. Oleh karena itu, saya telah mengarahkan dewan untuk lebih meningkatkan upaya klub di hal tersebut dan saya secara pribadi akan mengarahkan lebih banyak dana untuk pekerjaan penting ini,”

Kata Abramovic, Chelsea harus bisa berbuat lebih banyak untuk menantang bentuk diskriminasi di lapangan hijau. Sementara itu, pemeritah Inggris lewat Sekretaris Kebudayaan, Oliver Dowden mengatakan bahwa akan ada peraturan hukum baru yang bisa menjerat pelaku rasis di sosial media.

“Pengalaman para pemain yang jadi korban rasial membuat saya akan membawa RUU ini melalui jalur parlemen,” kata Dowden.

Dalam aturan hukum tersebut, pemerintah Inggris bisa memberikan denda besar kepada perusahaan sosial media yang tidak bisa mencegah tindakan rasial.

Pihak Manchester United pun sangat berang dengan tindakan rasial yang dialami Marcus Rashford, Anthony Martial dan Axel Tuanzebe.

“Semua orang di Manchester United sangat muak dengan pelecehan rasial yang diterima para pemain,”

“Kami sangat mengutuknya dan sangat menggembirakan melihat fans lain juga mengutuk seragan rasial itu di media sosial,”

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Marcus Rashford: Saya Bangga Jadi Orang Kulit Hitam!

gamespool
Marcus Rashford: Saya Bangga Jadi Orang Kulit Hitam! 54

Football5star.com, Indonesia – Serangan rasial kembali diterima pemain Manchester United. Setelah pekan lalu usia laga melawan Sheff United, Axel Tuanzebe dan Anthony Martial yang jadi korban. Pekan ini giliran Marcus Rashford jadi korbannya.

Rashford mendapat serangan rasial usai laga Arsenal vs Manchester United di Emirates Stadium, Minggu (31/1/2021). Seperti serangan kepada dua rekannya yang lain, Rashford juga mendapat serangan rasial lewat platform Twitter. Namun Rashford menolak untuk mempublikasikan screenshot pesan rasial tersebut.

Manchester United Muak dengan Serangan Rasial yang Masih Terjadi

Menurut Rashford, ia sengaja tidak mempublikasikan pesan rasial itu karena merasa tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal itu. Dalam pernyataan yang ia unggah di akun Twitter pribadinya, Rashford dengan tegas mengatakan bahwa sebagai orang kulit hitam, ia sangat bangga.

“Kemanusiaan dan media sosial saat ini dalam kondisi terburuk. Ya, saya adalah orang kulit hitam dan saya hidup dengan bangga itu setiap harinya. Tidak ada atau tidak seorang pun yang berkomentar, yang akan membuat saya berbeda. Maaf jika Anda hanya sedang mencari publikasi, Anda tidak akan mendapatkannya di sini,” tulis Rashford.

“Saya tidak akan membagikan tangkapan layar pesan itu. Tidaklah bertanggung jawab untuk melakukannya dan seperti yang dapat Anda bayangkan, saya memiliki anak-anak cantik dari semua warna yang mengikuti saya dan mereka tidak mempersalahkan itu. Warna-warna indah seharusnya hanya untuk dirayakan,”

Tidak hanya Marcus Rashford dan dua pemain United, dalam beberapa pekan ini sejumlah pemain lain juga mengalami serangan rasial. Bek Chelsea, Reece James dan pemain West Brom, Romaine Sawyers juga menjadi korban serangan rasial di media sosial.

Pihak federasi sepak bola Inggris, FA pun langsung merespon kondisi ini. Pihak FA lewat akun Twitter resmi mereka menyampaikan bahwa tindakan rasial akan selalu menjadi musuh bagi insan sepak bola.

“Kami bersatu dengan semua sepak bola dalam kebencian kami terhadap pelecehan rasial. Ini tidak dapat diterima di bagian masyarakat mana pun,” tulis FA.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Manchester United Muak dengan Serangan Rasial yang Masih Terjadi

gamespool
Manchester United Muak dengan Serangan Rasial yang Masih Terjadi 58

Football5star.com, Indonesia – Serangan rasial ditujukan kepada dua pemain Manchester United, Anthony Martial dan Axel Tuanzebe usai kekalahan 1-2 dari Sheff United beberapa waktu lalu. Serangan rasial ditujukan kepada dua pemain itu di platform media sosial.

Pihak Manchester United lewat laman resmi mereka, Sabtu (30/1/2021) mengaku muak dengan serangan rasial yang masih terjadi di sepak bola. “Semua orang di Manchester United sangat muak dengan pelecehan rasial yang diterima para pemain,”

Kritikan yang Ditujukan kepada Martial Berlebihan

“Kami sangat mengutuknya dan sangat menggembirakan melihat fans lain juga mengutuk seragan rasial itu di media sosial,”

“Manchester United tidak memiliki toleransi terhadap segala bentuk rasisme dan diskriminasi. Dan itu adalah komitmen jangka panjang untuk terus mengkampanyekannya melalui inisiatif All Red All Equal,”

“Mengidentifikasi idiot tak berotak tanpa nama itu tetap bermasalah. Kami mendesak platform media sosial dan otoritas regulasi untuk memperkuat langkah-langkah untuk mencegah perilaku ini terulang kembali,”

Sementara itu, pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer meyakini bahwa para pelaku serangan rasial kepada dua pemainnya bukan berasal dari fan United.

“Sungguh luar biasa kami masih menyaksikan pemandangan seperti ini, pelecehan semacam itu di 2021. Kami telah berkampanye lama dengan Premier League dan saya pikir itu berhasil, tapi masih ada saja beberapa orang yang belum memahaminya,” kata Solskjaer seperti dikutip Football5star.com dari The Sun.

“Mereka bersembunyi di balik media sosial, menjadi anonim, itu tidak dapat diterima dan ini jelas menjijikan. Mereka bukan fans Man United saat itu terjadi, anda mestinya merasa kasihan kepada orang-orang tersebut,” tambah pelatih asal Norwegia tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Nadiem Amiri Maafkan Perkataan Rasial Pemain Union Berlin

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Momen tak terpuji mewarnai pertandingan Union Berlin vs Bayer Leverkusen, Sabtu (16/1/2021) dinihari WIB. Bintang tim tamu, Nadiem Amiri, mendapat serangan rasial dari pemain tuan rumah, Florian Hubner.

Menurut berbagai laporan di Jerman, Florian Hubner melontarkan kata “shitty Afghan” yang mengacu pada asal usul Nadiem Amiri yang memiliki darah Afganistan. Ungkapan tersebut mendapat reaksi keras dari bintang Leverkusen hingga menyebabkan perselisihan di lapangan.

Beruntung, masalah mereka sudah selesai. Usai pertandingan pemain Union Berlin itu menghampiri Amiri di ruang ganti dan meminta maaf. Permintaan maaf itu pun disambut baik pemain 24 tahun.

nadiem amiri bayer leverkusen Sp Bundesliga
@Sp_Bundesliga

“Dia datang ke ruang ganti kami setelah pertandingan. Kata-kata tidak menyenangkan dia ucapkan di lapangan karena dia sangat emosi dan dia menyesal atas perbuatannya,” kata Amiri seperti dikutip Footballstar dari Sport 1, Sabtu (16/1/2021).

“Dia telah memberi saya jaminan yang bisa dipercaya dan itulah mengapa masalah itu sekarang sudah berakhir bagi saya,” ia menambahkan.

Apa yang terjadi di lapangan dinihari tadi dibenarkan bek Bayer Leverkusen, Jonathan Tah. Ia menyebut penggawa Union Berlin terdengar menghina asal-usul Nadiem Amiri.

“Asal-usul Nadiem dihina. Itu tidak pantas dilakukan di sini. Itu adalah momen yang sangat menyedihkan yang terjadi sepanjang pertandingan,” ungkap Jonathan Tah kepada DAZN.

Untuk diketahui, kedua orang tua Amiri memang berasal dari Afganistan. Tapi dia lahir dan besar di Jerman.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Indonesia Masuk 10 Besar Negara yang Soroti Kasus Rasial Pierre Webo

gamespool
Indonesia Masuk 10 Besar Negara yang Soroti Kasus Rasial Pierre Webo 65

Football5star.com, Indonesia – Kasus rasial yang menimpa asisten pelatih Istanbul Basaksehir, Pierre Webo di laga Liga Champions melawan PSG beberapa waktu lalu jadi sorotan publik dunia. Tindakan rasial wasit keempat Sebastian Coltescu kepada Webo mendapat kecaman di sosial media.

Media Turki, NTV Spor, Rabu (16/12/2020) seperti dikutip Football5star.com menyebut para pengguna media sosial beraksi secara kolektif untuk mengecam apa yang dilakukan wasit asal Rumania itu kepada Webo.

Indonesia Masuk 10 Besar Negara yang Soroti Kasus Rasial Pierre Webo
NTV Spor

Menariknya berdasarkan laporan media Turki tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak menyoroti kasus ini di laman sosial media. Berdasarkan riset media digital Adba Analytics, Indonesia masuk 10 besar negara yang mengangkat kasus rasial ini.

Indonesia tercatat membagikan kasus rasial ini di platform sosial media sebanyak 12.278 kali, di atas Portugal dan Afrika Selatan. Di atas Indonesia, Spanyol dan Jerman juga menjadi negara yang paling banyak membagikan masalah rasial ini.

Selain itu, riset tersebut juga menyebutkan informasi mengenai kasus rasial Webo dibagikan ke laman sosial media dengan menggunakan bahasa Indonesia sebanyak 36.814 kali. Angka ini melewati Jerman, Italia, serta Belanda.

Kasus rasial yang menimba Webo di laga Basaksehir melawan PSG memang jadi sorotan warganet Indonesia di laman Twitter serta Instagram. Publik Indonesia mengencam tindakan Coltescu yang menyebut negro kepada Webo.

Aksi rasial Coltescu kepada Webo memang mengundang kemarahan banyak pihak. Presiden Turki, Recep Erdogan bahkan sampai mengutuk tindakan Coltescu dan meminta UEFA untuk mengusut kasus ini.

“Saya mengutuk keras pernyataan rasis terhadap Pierre Webo dari tim teknis Basaksehir dan saya yakin UEFA akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” ucap Erdogan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156436′ ]

Panaskan Kasus Neymar, Presiden FFF Sebut Tak Ada Rasialisme di Sepak Bola

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Sepak bola Prancis saat ini tengah diguncang kasus rasialisme yang dituduhkan Neymar kepada Alvaro Gonzalez. Di tengah kegaduhan dari kedua kubu, Presiden Federatioan Francaise de Football (FFF), Noel Le Graet, membuat pernyataan kontroversial.

Mengomentari insiden kericuhan pada pengujung laga Le Classique antara Paris Saint-Germain dan Olympique Marseille, Noel Le Graet menyinggung isu rasialisme yang diklaim Neymar. Secara terang-terangan, dia menyebut hal itu sebagai sesuatu yang mengada-ada saja.

“Fenomena rasialisme di olahraga, terutama di sepak bola, tidak ada sama sekali atau sangat jarang sekali,” kata Noel Le Graet seperti dikutip Football5Star.com dari wawancara dengan RMC Sports.

Le Graet lebih lanjut mengungkapkan, rasialisme bukan masalah di sepak bola Prancis. “Saat ini, masalah rasialisme kurang dari 1 persen. Ketika seorang pemain berkulit hitam mencetak gol, seluruh stadion berdiri (merayakannya),” ucap dia.

Saat ditanya soal kemungkinan pengaduan Neymar benar adanya, Le Graet menghindar. “Saya tak tahu. Saya tak mendengarnya,” kata dia.

Terlepas dari hal itu, Le Graet menyesalkan insiden yang terjadi pada Le Classique. Dia menilai perilaku para pemain PSG dan Marseille pada pengujung laga sangat buruk dan jadi contoh buruk.

“Itu pertandingan yang dinanti-nantikan seluruh Prancis dan kemudian berlangsung buruk. Perilaku para pemain tidak patut dicontoh. Itu sungguh memalukan. Mereka tak dapat menahan emosi atau menunjukkan hal yang kita harapkan,” ujar Noel Le Graet.

Le Graet Buat Neymar Tersudut

Sementara itu, kasus pelecehan rasial yang dituduhkan Neymar kepada Alvaro Gonzalez dan dikomentari oleh Le Graet terus bergulir. Terbaru, Andre Villas-Boas, pelatih Marseille, memperingatkan bintang Brasil itu untuk tak bersandiwara. Dia lantas mengingatkan, konsekuensinya akan besar bila tuduhan itu ternyata palsu.

“Kami berada di belakang pemain kami. Alvaro bukan seorang rasialis. Saya tak ragu soal itu. Kami akan bantu mencari kebenaran. Neymar sudah pernah mengalami tuduhan palsu. Dia tahu persis dampak yang dapat ditimbulkan,” ujar Andre Villas-Boas.

Neymar mengklaim telah mendapatkan pelecehan rasial dari Alvaro Gonzalez saat PSG melawan Marseille.
Getty Images

Pembelaan bagi Alvaro Gonzalez juga datang dari keluarganya. Paman Gonzalez, Manuel Soberon, mengatakan justru Neymar yang terus melakukan provokasi sepanjang pertandingan. Dia pun menyanggah sang keponakan mengata-ngatai Neymar dengan sebutan mono ‘monyet’.

“Kata yang dilontarkan kepada Neymar adalah bobo ‘bodoh’. Neymar tak henti menghina dia sepanjang laga. Dia mengatakan Alvaro hanya mendapatkan 4 euro, sementara dia mendapatkan jutaan euro per tahun,” ujar Soberon kepada Cuatro.

Ditambah pernyataan Noel Le Graet, sepertinya Neymar tak dalam posisi yang baik meskipun beberapa pihak juga memberikan dukungan. Sebut saja Jesse Lingard dan Kevin-Prince Boateng melalui unggahan di akun Instagram masing-masing.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Siapa Wasit Kulit Hitam Terakhir di Liga Inggris?

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Masalah rasialisme yang menimpa George Floyd di Amerika Serikat memantik semua pihak angkat suara terkait diskriminasi terhadap orang kulit hitam di semua sendi kehidupan, termasuk di sepak bola.

Di Inggris, mantan wasit kulit hitam, Uriah Rennie menegaskan bahwa seharusnya publik sepak bola Inggris tidak aneh jika melihat pertandingan dipimpin oleh wasit berkulit hitam. Ia pun menegaskan bahwa sejak dirinya pensiun, tak ada lagi wasit kulit hitam di kompetisi Premier League.

Meskipun di Inggris ada desakan terkait BAME, namun faktanya di lapangan kata Rennie, hal tersebut tak terbukti.

Siapa Wasit Kulit Hitam Terakhir di Liga Inggris
getty images

“Kita perlu memastikan bahwa kata-kata bisa dibuktika dengan aksi nyata sehingga kami bisa melihat lebih banyak orang dengan latar belakang berbeda ada di sepak bola. Seharusnya tidak aneh melihat wasit wanita atau wasit kulit hitam, bahkan wasit disabilitas,” ucap Rennie seperti dikutip Football5star.com dari Sportsmail, Kamis (11/6/2020).

Apa yang diutarkan Rennie memang sesuai fakta. Sejak ia pensiun sebagai wasit pada 2008, tidak ada lagi wasit kulit hitam yang dipromosikan untuk memimpin laga di Premier League.

Faktanya dari 79 wasit yang terdaftar di Premier League musim ini, tidak ada satu pun berlatarbelakang kulit hitam atau kulit berwarna lainnya.

“Saya ingin mendobrak hambatan untuk memberikan persamaan kesempatan bagi semua kelompok yang kurang beruntung, yang saat ini tidak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi mereka,” kata Rennie.

“Sejujurnya saya sangat ingin semua orang memiliki kesempatan yang sama dengan saya. Tetapi yang lebih penting bahwa setiap orang memiliki kesempatan sama tidak harus melihat warna kulitnya,” tutupnya.

Wasit kulit hitam lainnya, Phil Prosser juga sempat melontarkan kritik keras dengan menyebut bahwa wasit kulit hitam tidak pernah ada di Liga Champions.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Suporter Tottenham Diduga Lecehkan Gerakan Black Lives Matter

dinasti
Suporter Tottenham Diduga Lecehkan Gerakan Black Lives Matter 75

Football5star.com, Indonesia – Seorang oknum suporter Tottenham Hotspur diduga melakukan pelecehan terhadap gerakan Black Lives Matter saat aksi unjuk rasa di kawasan Hoddesdon, Inggris pada Senin (8/6/2020).

Sebuah video yang viral di sosial media menunjukkan sekelompok pria mengolok-olok para pendemo gerakan Black Lives Matter. Satu orang pria dari kelompok tersebut terlihat mengenakkan jaket Tottenham.

Marcus Rashford dan Paul Pogba Dukung Gerakan Black Lives Matter

Kubu Spurs sendiri seperti dikutip Football5star.com dari Daily Mail, Rabu (9/6) dikabarkan langsung melakukan investigasi terhadap kasus ini. Pihak klub akan menyelidiki apakah sosok pria dengan jaket Spurs itu terdaftar sebagai suporter klub.

Otoritas Liga Inggris sendiri resmi memberikan dukungan kepada klub dan pemain yang menyuarakan gerakan Black Lives Matter.

FA dan otoritas Liga Inggris sebetulnya melarang pergerakan apapun itu yang berbau politik dan SARA. Namun, menggemanya gerakan Black Lives Matter membuat mereka sedikit melunak.

Sebelumnya, Presiden FIFA, Gianni Infantino, awal Juni ini mengatakan bahwa apa yang dilakukan Jadon Sancho, Marcus Thuram, dan Weston McKennie ketika memberikan penghormatan kepada George Floyd saat pertandingan Bundesliga layak diapresiasi, bukan dihukum.

Karena FIFA telah memberi ‘restu’, Bundesliga dan Premier League pun mengikuti langkah sama. “Premier League mendukung siapapun yang melawan segala bentuk diskriminasi.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Pesan Ibu yang Berdarah Indonesia Buat Eks Chelsea Tentang Tindakan Rasial

dinasti
Pesan Ibu yang Berdarah Indonesia Buat Eks Chelsea Tentang Tindakan Rasial 79

Football5star.com, Indonesia – Tindakan rasial yang terjadi di Amerika Serikat dan menewaskan warga Afrika Amerika, George Floyd menimbulkan gelombang protes dan kemarahan dari semua pihak.

Eks Chelsea, Patrick van Aanholt mengaku bahwa dirinya pernah juga mendapat tindakan rasial saat berada di Amerika Serikat. Saat itu ia tengah menjalani tur timnya untuk melawan LA Galaxy.

“Saat itu saya diberhentikan oleh seorang polisi karena membawa kendaraan tanpa surat-surat. Saya sudah jelaskan bahwa saya datang ke sini untuk melawan LA Galaxy. Polisi itu mengatakan, ‘Kamu beruntung aku bukan polisi kulit putih, kalau tidak, kamu mungkin ditembak di kaki atau lutut,” cerita van Aanholt

Pesan Sang Ibu yang Berdarah Indonesia Buat Eks Chelsea Tentang Tindakan Rasial
cpfc.co.uk

“Beberapa orang saat saya datang ke Marina del Rey, dekat Santa Monica memandang saya seolah-olah saya monyet dari kebun bintang. Hal itu tentu sangat tidak mengenakkan,” ucap van Aanholt seperti dikutip Football5star.com dari media Belanda, Selasa (9/6/2020).

Karenanya van Aanholt mengaku sangat menentang adanya tindakan rasial di semua sendi kehidupan termasuk di lingkungan sepak bola. Ia pun mengatakan bahwa dirinya berasal dari keluarga berlatar belakang beragam.

Van Aanholt lahir di Sneek, Friesland dan dibesarkan di Bolsward. Ayahnya ialah seorang warga negara Ghana, sedangkan ibunya memiliki darah Indonesia dan Belanda. Ia pun mengaku banyak mendapat pelajaran untuk saling menghargai antar sesama manusia terlepas warna kulitnya.

“Bagi saya sesesorang adalah seseorang, terlepas dari warna kulit atau penampilannya. Tentu saja aneh bahwa Anda dihakimi berdasarkan warna kulit dan di Amerika orang kulit hitam selalu mendapat tindakan brutal,’ ucap pemain yang saat ini membela Crystal Palace tersebut.

“Mengapa warna kulit menjadi penting? Seharusnya tidak ada bedanya. Sangat mengerikan bahwa orang harus mati sebelum masyarakat bergerak menyadari arti penting hidup bersama,” tutup bek timnas Belanda tersebut.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Tindakan Terkutuk Istri Pemain LA Galaxy di Tengah Isu Rasial

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Istri dari pemain LA Galaxy, Aleksandar Katai, Tea Katai jadi sorotan publik Amerika Serikat. Tea Katai di akun Instagram pribadinya mengumbar ujaran kebencian berbau rasial.

Dikutip Football5star.com dari marca, Jumat (5/6/2020) Tea Katai meminta para polisi di Amerika Serikat untuk menembak mati para pendemo. Selain itu, dia juga mengunggah foto ejekan rasial.

https://www.instagram.com/p/BhL3zgFHgS2/

Unggahan foto tersebut ialah ilustrasi perampok dengan kota sepatu Nike dan bertuliskan caption, ‘Black Nikes Matter’. Sontak saja hal ini memicu kemarahan publik Amerika Serikat yang saat ini masih melakukan aksi unjuk rasa dengan tajuk ‘Black Lives Matter’

Pihak LA Galaxy sendiri sampai harus turun tangan akibat unggahan istri pemainnya tersebut. Pihak klub menyebut bahwa ungguhan tersebut sangat tidak etis dan mengutuk tindakan Tea Katai.

“LA Galaxy dibuat sadar dengan serangkain postingan berbau rasial dan kekerasan yang dilakukan Tea Katai, istri dari gelandang kami,”

“LA Galaxy sangat mengutuk ungghan tersebut dan memita agar segera dihapus. Klub berdiri bersama melawan tindakan rasial di semua sendi kehidupan,” bunyi pernyataan resmi klub.

Pihak klub juga menginformasikan bakal ada pertemuan dengan Aleksandar Katai dan sang istri terkait unggahan tersebut. Terkait sanksi yang bakal diberikan, pihak klub akan memutuskan setelah pertemuan tersebut.

“LA Galaxy akan segara melakukan pertemuan dengan Katai dan akan segera menentukan langkah selanjutnya,”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jerome Boateng: Lawan Rasialisme, Jangan Cuma Ramai di Media Sosial!

dinasti

Football5Star.com, Indonesia – Gelombang demonstrasi besar-besar di Amerika Serikat terkait tindakan berbau rasialisme polisi terhadap George Floyd mendapat perhatian dari Jerome Boateng. Bek Bayern Munich itu mengaku terkejut dan prihatin melihat reaksi yang timbul saat ini.

“Gambar-gambar yang ada sungguh mengejutkanku. Aku melihat di media sosial ada beberapa kebrutalan. Sungguh disayangkan, gelombang protes juga berubah ke bentuk yang buruk,” kata Jerome Boateng seperti dikutip Football5Star.com dari Deutsche Welle.

Dalam pandangan Boateng, rasialisme memang fenomena serbahadir di mana pun dan di Amerika Serikat sungguh buruk. Menurut dia, kasus kematian George Floyd adalah bukti betapa rasialisme terhadap orang-orang kulit hitam begitu menyebar luas.

Oleh karena itu, dia memahami sepenuhnya gelombang protes yang terjadi. Dia pun mengapresiasi bentuk protes yang dilakukan Weston McKennie cs. pada laga-laga Bundesliga 1 yang baru lalu. Begitu pula dengan kampanye masif di media sosial. Namun, dia menegaskan hal itu tidaklah cukup.

“Suara kami (pesepak bola) didengar. Kami punya panggung dan jangkauan luas. Namun, kupikir sangat penting untuk tak terbatas di media sosial. Insiatif seperti Black Out Tuesday itu bagus, tapi kita butuh sesuatu yang lebih nyata,” urai Jerome Boateng yang berdarah Ghana tapi lahir dan besar di Jerman.

Bagi Boateng, ada banyak program yang dapat dilakukan secara nyata di tengah-tengah masayarakat untuk meredam rasialisme. Dia lantas menyebut pendidikan untuk anak-anak dan dukungan terhadap program-program integrasi.

Secara khusus, dia menekankan soal pendidikan. “Semua bermula dari pendidikan terhadap anak-anak. Itu adalah hal terpenting. Tak ada anak yang lahir ke dunia ini sebagai rasis. Itu tergantung kepada orang tua dan hal yang mereka katakan kepada anak-anak itu,” ucap Boateng lagi.

Menurut Jerome Boateng, pendidikan mengenai rasialisme seharusnya masuk kurikulum sekolah. Sangat penting menanamkan kepada anak-anak bahwa rasialisme adalah hal yang tak dapat diterima. Mereka juga harus dididik untuk melawan tindakan rasial. “Hanya dengan cara itulah kita bisa membuat kemajuan,” kata dia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156435′ ]

Tidak Hanya Pemain Kulit Hitam, Tindakan Rasial Juga Pernah Dialami Striker Asing PSS

Tidak Hanya Pemain Kulit Hitam, Tindakan Rasial Juga Pernah Dialami Striker Asing PSS 87

Football5star.com, Indonesia – Tindakan rasial di sepak bola acapkali dirasakan oleh pemain dengan kulit hitam. Namun aksi tak terpuji ini juga pernah dirasakan oleh striker PSS Sleman, Yevhen Bokhashvili.

Dilansir dari media Ukraina, Senin (1/6/2020) Bokhashvili menceritakan bahwa sebelum bermain di PSS, ia sempat hampir bergabung ke klub asal Latvia, FC Riga. Namun latar belakangnya sebagai pemain Ukraina membuat ia gagal bermain di sana.

Ini Alasan Yevhen Bokhashvili Pilih PSS Dibanding Klub Eropa

“Saya pergi ke Latvia dan saya memiliki nasib buruk. Saya menonton FC Riga dan mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka tertarik kepada saya,” kata Yevhen Bokhashvili.

“Namun sayangnya, presiden klub tidak cukup positif tentang Ukraina dan dia berpikir awalnya saya orang Georgia karena nama belakang saya. Dia tidak memiliki kepercayaan kepada orang Ukraina,”

“Saya tidak bisa mengerti kenapa hal seperti itu bisa terjadi di sepak bola,” tambahnya.

Striker 27 tahun tersebut pun cukup bersyukur bisa bermain di Indonesia. Ia mengatakan bahwa Indonesia adalah negara gila bola.

“Di Indonesia, sepak bola adalah olahraga yang populer. Orang-orang di sini sangat menyukai menonton pertandingan. Namun sayangnya kompetisi di sini masih memiliki sejumlah masalah,” ucapnya.

Bokhashvili pun berharap bahwa pandemi corona segara berakhir dan kompetisi sepak bola di Indonesia bisa berlangsung lagi.

“Tidak berlangsungnya kompetisi sangat mempengaruhi saya. Sekarang tidak mungkin untuk melakukan ini dan itu, hal tersebut mempengaruhi hati saya,” tutupnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Jadi Korban Rasialisme, Moussa Marega Minta Ditarik Keluar

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Rasialisme kembali merusak pertandingan sepak bola. Kali ini bomber FC Porto, Moussa Marega, yang menjadi korbannya. Tidak tahan dengan ejekan suporter Vitoria Guimares, ia pun meminta untuk diganti.

Momen ini terjadi saat FC Porto tandang ke markas Vitoria Guimares dalam lanjutan Liga Portugal. Ketika laga memasuki menit ke-68 Moussa Marega menolak melanjutkan pertandingan karena teriakan rasial dari para suporter tuan rumah.

Kejadian ini sempat menghentikan laga beberapa saat. Pasalnya keputusan Marega untuk keluar ditahan oleh rekan-rekan setimnya. Tapi sang bomber tetap bergeming dan bersikeras untuk keluar lapangan.

Pelatih Porto, Sergio Concecao bahkan harus menenangkan bomber andalannya tersebut. Dia juga terlihat meminta kepada wasit untuk menghentikan laga sejenak guna menghentikan sikap tak terpuji suporter.

Akan tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Tidak lama kemudian, Sergio Concecao terlihat meluapkan amarahnya ke arah tribun. Terlihat jelas bagaimana raut kekecewaannya atas apa yang menimpa Moussa Marega.

Setelah pemain asal Mali bersikeras tidak ingin melanjutkan pertandingan, posisinya kemudian digantikan oleh Wilson Manafa. Adapun Marega meninggalkan lapangan dengan mimik muka marah pada suporter yang tidak dewasa.

Saat memasuki lorong pemain, ia menunjukkan gestur dua jempol ke bawah sebagai bentuk perlawanannya terhadap rasialisme.

Adapun pertandingan berhasil dimenangkan Porto dengan skor 2-1. Hebatnya lagi, satu gol raksasa Portugal dicetak oleh Moussa Marega pada menit ke-60.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Larangan ke Stadion Seumur Hidup untuk Fan Cagliari yang Rasial

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Cagliari akhirnya bertindak tegas atas ulah fan mereka yang rasial. Tidak tanggung-tanggung, pihak klub melarang tiga penggemarnya menyaksikan pertandingan ke stadion seumur hidup.

Dalam dua musim terakhir penggemar Cagliari mencoreng sepak bola Italia dengan tindakan rasial mereka pada pemain lain. Blaise Matuidi, Moise Kean, dan Romelu Lukaku adalah korban dari tindakan tak terpuji tersebut.

Walau kejadian sudah berlangsung beberapa bulan lalu, pihak klub ternyata tidak tinggal diam. Mereka tetap bekerja mencari oknum suporternya hingga akhirnya menetapkan tiga orang.

Milan Skriniar - Inter Milan - Football5star - Lukaku
squawka

“Cagliari telah mengumumkan bahwa tiga tindakan diskualifikasi telah dikeluarkan dan ditujukan untuk banyak orang yang telah diakui dan dilaporkan telah menyampaikan kata-kata diskriminatif dan rasial kepada pemain lawan selama laga kandang beberapa bulan terakhir,” demikian pernyataan resmi klub, Jumat (14/2/2020).

“Kami mengidentifikasi tiga orang, pemegang tiket terusan di sudut Distinti dan Tirbuna. Orang-orang yang bersalah atas tindakan menyedihkan ini dilarang memasuki Sardegna Arena selama seumur hidup,” lanjut pernyataan tersebut.

Keputusan ini bisa dikatakan sebagai gebrakan baru dari pihak klub. Pasalnya selama ini mereka kerap acuh atas tindakan suporternya yang kerap melakukan tindakan rasial pada pemain lawan.

Sikap itu pula yang membuat rasialisme tetap terjadi di sepak bola Italia. Tak ayal, langkah Cagliari ini bisa jadi pertanda baik untuk sepak bola Italia memberantas rasialisme.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]