Laga Gila di El Monumental Jadikan Enzo Perez Idola Baru River Plate

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah momen bisa mengubah segalanya. Hal itu pula yang dialami Enzo Perez saat River Plate menjamu Independiente Santa Fe, Kamis (20/5/20201). Kesediaan menjadi kiper darurat dan mempersembahkan kemenangan membuat dia jadi idola baru para fan Los Millonarios.

Dalam laga di Stadion El Monumental itu, River Plate dilanda krisis. Ada 20 kasus COVID-19 dan beberapa pemain cedera. Tinggal tersisa 11 pemain yang fit, tapi tak satu pun yang berposisi penjaga gawang. Setelah upaya mendaftarkan kiper baru ditolak Conmebol, jadilah Enzo Perez tampil di bawah mistar gawang. Hasilnya, Los Millonarios menang 2-1.

Perez sebetulnya tidaklah tampil luar biasa pada laga itu. Dia tak menghadapi berondongan tembakan lawan yang berposisi juru kunci di grup. Namun, dia jadi simbol tekad baja dan pengabdian penuh untuk River Plate. Itulah yang sangat diapresiasi para fan Los Millonarios.

Sehari setelah laga itu, para fan mengungkapkan rasa terima kasih kepada sang idola baru. Di antaranya dengan membubuhkan tulisan di kostum milik Enzo Perez yang berada di toko resmi klub. Mereka rata-rata mengungkapkan kekaguman dan rasa syukur.

Ada pula yang secara bombastis menyejajarkan Perez dengan kiper-kiper legendaris River Plate. “Amadeo (Carrizo), Ubaldo (Fillol), Angel (Comizzo), German (Lux), Marcelo (Barovero), Franco (Armani), Enzo (Perez). Gracias,” tulis salah seorang fan Los Millonarios.

Perez Tak Sok Pahlawan

Itu di luar perkiraan Enzo Perez. Sejak awal, dia tak ingin dielu-elukan secara berlebihan. Dia mengajukan diri sebagai kiper darurat bukan untuk dianggap sebagai pahlawan. Dia hanya ingin berkorban bagi River Plate dengan segenap kemampuan.

Kepastian Perez tampil sebagai kiper saat menjamu Idependiente juga tak terlepas dari putusan pelatih Marcelo Gallardo. Menurut dia, Perez mengalami cedera sehingga tak akan maksimal bila bermain sebagai gelandang. Atas pertimbangan itu, dia pun menyetujui sang pemain jadi kiper.

Enzo Perez yang lahir di Maipu pada 22 Februari 1986 memang sangat mencintai River Plate. Sejak kecil, impiannya adalah berkostum Los Millonarios. Tak heran bila dia langsung meminta dilepas Valencia saat Gallardo dan Enzo Francescoli mengajaknya bergabung pada 2017. Dia berdalih, itu adalah impian dirinya dan keluarganya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Heroik! River Plate Menang Meski Tanpa Kiper dan Pemain Cadangan

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – River Plate sungguh luar biasa. Kamis (20/5/2021), klub raksasa Argentina itu melakukan hal yang mustahil saat menghadapi klub Kolombia, Independiente Santa Fe, di Copa Libertadores. Klub asuhan Marcelo Gallardo itu tetap mampu memetik kemenangan meskipun tampil tanpa kiper dan pemain cadangan.

River Plate mnghadapi lanjutan fase grup Copa Libertadores dengan krisis hebat. Sebanyak 20 pemain terpapar COVID-19. Sialnya, ada beberapa pemain yang negatif tapi harus absen karena cedera. Pada akhirnya, hanya ada 11 pemain yang dapat tampil pada laga lawan Independiente tersebut.

Masalah tak berhenti di sana. Di antara 11 pemain yang fit itu, tak satu pun yang berposisi penjaga gawang. Empat kiper yang didaftarkan untuk Copa Libertadores ternyata positif COVID-19. Los Millonarios pun harus gigit jari karena Conmebol tak mengizinkan pendaftaran kiper ke-5 dan 6.

Pada akhirnya, solusi datang dari gelandang Enzo Perez. Dia bersedia tampil sebagai penjaga gawang River Plate pada laga lawan Independiente tersebut. Hasilnya, mereka ternyata masih terlalu tangguh bagi sang lawan. Tim asuhan Marcelo Gallardo menang 2-1.

“Ketika pelatih bertanya siapa yang ingin menjaga gawang, aku mengangkat tangan. Aku sebetulnya tak begitu fit, tapi aku ingin membantu dan coba melewati momen ini sebaik-baiknya,” kata Enzo Perez selepas pertandingan seperti dikutip Football5Star.com dari TyC Sports.

Tampil sebagai kiper darurat tentu saja tak mengenakkan. Perez mengakui hal itu. “Bohong besar jika aku mengatakan sangat menikmati peranku di lapangan tadi. Aku tak pernah setegang ini,” ucap pemain berumur 35 tahun itu.

Tak Ingin Jadi Pahlawan River Plate

Marcelo Gallardo berterima kasih kepada Enzo Perez yang mau jadi kiper darurat River Plate.
tycsports.com

Enzo Perez menegaskan, kerelaan bermain sebagai kiper saat lawan Independiente Santa Fe tak didasari keinginan jadi populer atau sok pahlawan. Dia hanya menekankan satu hal, yaitu kecintaan kepada River Plate yang telah terpatri dalam dirinya.

“Semua orang tahu kecintaanku kepada klub ini. Aku hanya ingin mengenakan jersi River,” ujar Perez. “Aku tak ingin jadi idola, panutan atau semacamnya. Semuanya terjadi begitu saja dan aku tak pernah mencari perhatian. Aku selalu mencari kenikmatan dengan memakai jersi River.”

Kerelaan Enzo Perez tampil sebagai penjaga gawang diapresiasi penuh oleh pelatih River Plate, Marcelo Gallardo. “Dia menunjukkan keberanian luar biasa. Sama sekali tak mudah bermain di posisi yang tak dia tahu,” kata eks gelandang timnas Argentina itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Pelatih River Plate Akan Gantikan Posisi Zinedine Zidane

gamespool
Pelatih River Plate Akan Gantikan Posisi Zinedine Zidane 9

Football5star.com, Indonesia – Kekalahan memalukan Real Madrid atas tim divisi tiga, Alyocano, pada Kamis (22/1) dinihari membuat posisi Zinedine Zidane semakin terancam. Kabarnya, Los Blancos menjadikan pelatih River Plate, Marcelo Gallardo, sebagai calon pengganti Zidane.

Rumor ini pertama kali dilaporkan oleh ESPN Argentina. Dalam laporannya, mereke menyebut Real Madrid sudah menghubungi River Plate dan Gallardo.

Gallardo merupakan pelatih muda yang namanya mencuat setelah berhasil membawa River Plate merengkug gelar Copa Libertadores pada 2015 dan 2018. Ia pun sempat masuk radar sejumlah tim beken seperti Barcelona dan timnas Argentina.

Marcelo Gallardo - Real Madrid - River Plate - Zinedine Zidane - The San Diego Union
The San Diego Union

Tak cuma itu, Gallardo juga sempat memberikan kode bakal hengkang dari Buenos Aires. Ia mengaku bakal membahas nasibnya dengan manajemen River Plate selepas ajang Piala Dunia Antarklub.

“Saya akan melakukan evaluasi setelah perjalanan di Copa Libertadores selesai. Analisis tersebut akan menentukan apakah saya lanjut di sini atau berhenti. Ketika Piala Dunia Antarklub usai, saya baru akan membciarakan hal ini kepada manajemen klub,” kata Marcelo Gallardo pekan lalu.

Zidane sendiri merasa pasrah andai posisinya digantikan oleh Gallardo. Pada sesi jumpa pers selepas laga melawan Alcoyano, ia mengaku siap mempertanggungjawabkan kekalahan memalulkan tersebut.

“Saya merupakan sosok yang paling bersalah atas kekalahan ini. Apa yang akan terjadi nanti, psati akan terjadi. Kita lihat saja dalam waktu beberapa hari atau pekan ke depan,” ujar Zinedine Zidane.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Daniel Passarella: Kapten Juara Piala Dunia yang Benci Maradona

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Bukan suatu hal baru jika seorang bek punya keahlian dalam mencetak gol. Saat ini sudah sangat banyak bek-bek yang membuktikan agresifitasnya di gawang lawan.

Banyak yang beranggapan bahwa pemain zaman sekarang memang dituntut lebih untuk berkontribusi dalam tim, baik ketika bertahan, menyerang, dan bahkan mencetak gol. Hal ini juga dialami para bek modern.

Kondisi ini pula yang membuat banyak pemain belakang memberi sumbangsih berupa gol. Maka tak heran jika muncul nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerald Pique, Leonardo Bonucci, hingga Vincent Kompany yang kerap mencetak gol.

daniel passarella0wikimedia commons
Wikimedia Commons

Akan tetapi, sebelum keberadaan mereka, ada satu bek lawas yang cukup disegani pada era 70-an hingga 80-an. Ia disegani bukan hanya karena tidak kompromi dalam menjegal lawan, tapi karena kepiawannya dalam membobol gawang lawan. Dia adalah Daniel Passarella.

Berbicara soal Daniel Passarella sama seperti berbicara tentang timnas Argentina dan juga River Plate. Dia adalah legenda River dan kapten yang membawa Albiceleste juara Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Walau dikenal sebagai legenda River Plate, dia adalah penggemar Boca Junior semasa kecil. Hampir seluruh keluarganya menggilai Boca yang notabene musuh bebuyutan River.

Passarella bahkan pernah berikrar pada neneknya bahwa suatu saat dia akan menjinakkan La Bombonera.  Namun, kenyataannya dia justru melegenda bersama El Monumental dan dimusuhi seisi La Bombonera.

Bek Paling Subur dan Kapten Pertama Argentina yang Juara Dunia

Pemain kelahiran Chacabuco, Argentina, sama sekali tidak berniat untuk berseragam Merah-Putih River. Tapi ketika itu dia tidak mampu menolak ajakan Nestor Rossi. Dan bisa dibilang Nestor Rossi berjudi mendatangkannya ke klub ibu kota.

Anggapan tersebut muncul karena faktor dari mana dia berasal. Sebelumnya ia hanya bermain untuk klub divisi tiga, Atletico Sarmiento. Dia belum punya pengalaman berlaga di kasta tertinggi, pun dengan usianya saat itu yang belum genap 20 tahun.

Namun, Nestor Rossi punya penilaian pribadi untuk sang pemain. Ia terkesima dengan insting golnya yang sangat tinggi. Saat memperkuat Atletico Sarmiento, Passarella memboyong sembilan gol dari 36 pertandingan. Sebuah catatan apik untuk seorang pemain belakang.

Romantika Daniel Passarella dengan River Plate kian sempurna pada 1975. Tapi kali ini dia tidak lagi bekerja untuk Rossi. Klub ibu kota menunjuk top skorer sepanjang masanya, Angel Labruna, sebagai nakhoda.

Bersama Roberto Perfumo, Reinaldo Merlo, dan Ubaldo Fillol, Passarella membuar River Plate disegani di Argentina. Mereka sukses membawa klubnya juara untuk pertama kali setelah 18 tahun puasa gelar.

Sukses besar bersama River membuat Daniel Passarella kian diandalkan timnas Argentina. Lebih membanggakan lagi, pelatih Cesar Luis Menotti menunjuknya sebagai kapten tim pada Piala Dunia 1978.

daniel passarella getty
Getty Images

Memang, sepanjang turnamen yang diselenggarakan di negaranya sendiri, Passarella hanya mencetak satu gol. Tapi perannya sebagai bek benar-benar membuat tim lawan sulit menembus pertahanan Albiceleste.

Argentina keluar sebagai juara dunia setelah mempecundangi Belanda 3-1 di final. Dan Daniel Passarella menjadi kapten pertama yang mampu mengangkat trofi prestisius itu untuk negaranya. Sejak kesuksesan tersebut ia mendapat julukan baru, yaitu El Gran Capitan.

Capaian luar biasanya itu membuat pemain berpostur 170 cm laris manis di bursa transfer. Dan dari sekian banyak klub, pinangan Fiorentina pada 1982 silamlah yang diterima. Empat tahun di Firenze bersama legenda Brasil, Socrates, sang kapten pindah ke Inter Milan dan bertahan selama dua musim.

Setelah itu Passarella mendengar kata hatinya untuk pulang ke River Plate dan mengakhiri karier di sana. Lebih dari 10 tahun berkarier di sepak bola ia telah mencatatkan 451 pertandingan. Dan hebatnya, 134 gol mampu diciptakan hingga menjadikannya sebagai bek tersubur di dunia.

Saling Benci Diego Maradona dan Daniel Passarella

Banyak pihak yang percaya jika Daniel Passarella akan menjabat ban kapten Argentina dalam waktu yang lama. Namun, ketika Cesar Luis Menotti mengundurkan diri sebagai pelatih, semuanya berubah untuk sang bek.

Pelatih pengganti Carlos Bilardo membawa visi baru dalam tim. Dia ingin menjadikan Diego Maradona simbol baru di tim. Dan tentu saja ini menandakan ban kapten pindah ke bintang Boca Juniors.

Semua orang tahu bagaimana sifat Diego Maradona. Dia sosok tempramental . Tapi untuk urusan di lapangan, dia tahu segalanya. Di sisi lain, Passarella adalah panutan dan pemimpin tim.

daniel passarella maradona infobae
Infobae

Perbedaan karakter ini pula yang membuat hubungan keduanya merenggang setelah Bilardo memutuskan El Diego sebagai kapten yang baru. Passarella tidak nyaman dengan situasi ini, terlebih dirinya mulai tidak dihargai oleh bintang yang notabene lebih muda darinya.

Perseteruan dua sosok penting membuat timnas terpecah dalam dua kubu. Sebagai sosok panutan, Passarella mendapat dukungan dari pemain berpengalaman lainnya seperti Jorge Valdano dan Ricardo Bochini.

Passarella memanfaatkan momen untuk menjatuhkan Maradona. Dalam sebuah rapat yang dilakukan skuat Argentina, pemain yang pernah mencetak gol dengan tangan itu datang terlambat 15 menit.

Hal tersebut langsung membuat sang mantan kapten naik pitam. Ia menilai Maradona sebagai pemain yang tidak bertanggung jawab dan mempertanyakan kenapa seorang kapten bisa datang terlambat.

Mendapat perlakuan tidak hormat, sang kapten melihat ini sebagai upaya Passarella untuk menjatuhkannya di depan skuat. Apalagi itu bukan satu-satunya kritik pedas kepada bomber andalan Albiceleste.

Diego Maradona kemudian mengungkit masalah pribadi Passarella. Ia pernah menuduh mantan kaptennya itu sering bepergian ke Monako untuk berkencan dengan istri salah satu rekannya di tim nasional.

Mantan pemain Barcelona juga mengklaim bahwa pemilik 70 caps bersama Albiceleste tidak membayar tagihan telepon sebesar 2 ribu Peso. Perseteruan dua talenta besar ini terus belanjut hingga mereka pensiun.

Sampai sekarang hubungan mereka tak pernah benar-benar baik kendati tidak berseteru seperti dulu.

Coret Batistuta dan Redondo karena Gondrong

Daniel Passarella tak butuh waktu lama untuk menjadi pelatih. Setahun setelah menyatakan pensiun, ia kembali dipanggil River Plate. Kali ini klub memintanya sebagai pelatih untuk menggantikan Reinaldo Merlo yang mengundurkan diri.

Walau kurang pengalaman, dia mampu melatih tim dengan gaya kepemimpinan yang khas. Dan bersamanya pula River mengawali era kesuksesan baru. Capaiannya itu kemudian membuat Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) menunjuknya sebagai pelatih kepala pada 1994.

daniel passarella batistuta marca
Marca

Dan di sini lah Passarella menerapkan peraturan-peraturan aneh. Dia tidak sudi melihat pemainnya memakai anting di telinga dan berambut gondrong. Sialnya, para pemain terbaik mereka lah yang menjadi korban.

Fernando Redondo dan Gabriel Batistuta dicoret karena berambut gondrong. Pun dengan Claudio Caniggia yang juga gondrong dan memakai anting. Sejatinya, pria yang kini berusia 67 tahun tetap membuka pintu kembali untuk para pemainnya itu. Asalkan mereka bersedia memotong rambutnya.

Butuh waktu 10 bulan untuk Batistuta memotong pendek rambutnya demi berseragam Albiceleste lagi. Tapi Redondo dan Caniggia tetap bergeming. Mereka bersikukuh takkan memotong pendek rambutnya dan takkan kembali ke tim nasional jika masih Daniel Passarella pelatihnya.

Walau menerapkan peraturan tak masuk akal, Passarella mampu bertahan selama lima tahun sebagai pelatih Argentina. Kendati tidak mampu meraih satu pun gelar, ia tetap dianggap sebagai pelatih berkarakter.

Mengenal Axel Encinas, Pemain Belia dengan Klausul Pelepasan Rp279 Miliar

dinasti

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah langkah menarik dibuat River Plate pada awal pekan ini. Klub berjuluk Millonarios itu memberikan kontrak profesional pertama kepada Axel Encinas yang baru berumur 16 tahun. Hal yang mengejutkan, dia dipagari klausul pelepasan 20 juta dolar AS (sekitar Rp279 miliar)!

Klausul itu memang terlihat “receh” bila dibandingkan dengan yang ada di kontrak para pemain Spanyol. Namun, nilai klausul Axel Encinas tersebut ternyata sama dengan beberapa bintang River Plate. Sebut saja Franco Armani, Lucas Martinez Quarta, Nicolas De La Cruz, dan Jorge Carrascal.

Saat ini, karena pandemi Virus Corona, kontrak Encinas belum diumumkan secara resmi. Pemain berumur 16 tahun itu belum membubuhkan tanda tangannya. Namun, begitu AFA kembali membuka kantornya, semua berkas administratif itu akan dirampungkan Millonarios.

Bukan tanpa alasan klausul sebesar itu dicantumkan dalam kontrak Encinas. Dia dianggap sebagai salah satu permata milik River Plate dan belakangan terus dipantau pelatih Marcelo Gallardo. Di Argentina, dia sudah direkrut ke timnas Argentina U-15 asuhan Diego Placente dan belakangan, Pablo Aimar sudah siap menariknya ke timnas U-17.

Nama Axel Encinas pun sudah mencuri perhatian di Eropa. Tahun lalu, dia tampil ciamik saat memperkuat tim U-16 River Plate pada turnamen U-16 yang digelar Premier League. Pada ajang itu, timnya memang hanya finis di posisi ketiga, tapi secara individual, dia gemilang.

Pada turnamen tersebut, Axel Encinas membuat dua gol. Satu gol saat kalah 1-2 dari Tottenham Hotspur dan satu lagi ketika menang 3-0 atas Fulham. Dia pun lantas dinobatkan sebagai pemain terbaik. Hal inilah yang sepertinya membuat manajemen River Plate berani memasang klausul pelepasan Rp279 miliar bagi pemain yang berulang tahun pada 24 Mei itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Gonzalo Higuain Beri Jawaban Soal Ketertarikan River Plate

dinasti
Gonzalo Higuain Beri Jawaban Soal Ketertarikan River Plate 21

Football5star.com, Indonesia – Eks bomber timnas Argentina, Gonzalo Higuain, mengaku memiliki utang budi yang cukup besar kepada mantan klubnya, River Plate. Namun, Higuain mengaku masih ingin bermain di Juventus musim depan.

Saat ini, Higuain masih terikat kontrak bersama Juventus hingga 2021 mendatang. Rivers pun menjadi salah satu klub yang siap menampung Higuain ketika kontraknya di Juventus usai.

“River Plate adalah klub yang sudah memberikan segalanya untuk saya. Mulai dari mengembangkan bakat saya hingga bisa dibeli Real Madrid,” ungkap Gonzalo Higuain seperti dikutip www.old.football5star.com dari laman Football Italia.

River Plate - Argentina - Gonzalo Higuain - Fox Sports
Fox Sports

“Untuk saat ini, saya masih belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, pikiran saya masih fokus untuk membela Juventus,” sambung Higuain menambahkan.

Lebih lanjut, Higuain juga mengutarakan kekagumannya terhadap gaya bermain Los Millonarios di bawah asuhan Marcelo Gallardo. Dalam pandangan Higuain, Gallardo berhasil membuat River Plate memiliki gaya bermain atraktif.

“Ketika menyaksikan pertandingan River, penyerang mereka selalu berhasil mendapat banyak kesempatan. Tentu saja seluruh mantan pemain River akan senang melihat penampilan mereka di bawah arahan Gallardo.”

“Gallardo sudah berhasil mencuri perhatian banyak orang di dunia sepak bola. Saya rasa, dia memang pantas mendapatkannya,” tandas Higuain.

Gallardo sudah melatih Los Millonarios semenjak 2014 silam. Selama enam tahun, Gallardo sukses membawa River meraih satu gelar Piala Argentina, satu Copa Sudamericana, serta dua Copa Libertadores.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Pelatih River Plate Ingin Hancurkan Dominasi Barcelona-Madrid di La Liga

terassd
Pelatih River Plate Ingin Hancurkan Dominasi Barcelona-Madrid di La Liga 25

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih River Plate, Marcelo Gallardo, dikabarkan ingin melatih Sevilla dan akan mengakhiri dominasi Barcelona dan Real Madrid di Spanyol. Gallardo sendiri kontraknya akan habis dengan River Plate musim depan.

Marcelo Gallardo saat ini bisa dibilang merupakan pelatih tersukses Argentina saat ini. Dia melatih River Plate sejak 2014 dan memberi 11 gelar termasuk dua Copa Libertadores dan satu Copa Sudamericana.

Marcelo Gallardo Ingin Hancurkan Dominasi Barcelona-Madrid di La Liga
Reuters

Menurut laporan Football5Star.com dari muchodeporte.com, Gallardo sudah siap untuk melatih klub-klub raksasa eropa. Tapi menurut mantan asistennya, Rodrigo Sbroglia, mengatakan kepada TNT Sports bahwa Gallardo “adalah seorang ahli taktik yang mampu membawa Sevilla mengalahkan Barcelona dan Real Madrid.”

Kemampuan melatih Gallardo juga diakui oleh pelatih Manchester City, Pep Guardiola. Tetapi Pep kesal karena tidak banyak orang di Eropa yang memperhatikannya.

“Yang dilakukan Gallardo bersama River sangat luar biasa. Setiap tahun ada tiga pelatih yang masuk nominasi terbaik di dunia, dan dia tidak pernah masuk. Saya tidak pernah mengerti. Orang-orang hanya memperhatikan sepak bola Eropa,” ucap Guardiola kepada TNT Sports.

Gallardo memang tidak begitu dikenal di Eropa sebagai pelatih. Tapi sebagai pemain dia sempat bermain di Eropa bersama AS Monaco dan memenangkan Ligue 1 di musim 1999-2000. Dan di Paris Saint-Germain dimana dia memenangkan Piala Liga di tahun 2008. Dia mendapatkan 44 caps bersama timnas Argentina.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Tak Jelas di Juventus, Gonzalo Higuain Ditawar Raksasa Argentina

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Direktur River Plate, Enzo Francescoli, mengaku akan berusaha untuk mendaratkan bomber Juventus, Gonzalo Higuain, dalam waktu dekat. Menurut Francescoli, Higuain merupakan sosok yang sangat penting untuk River.

“Pada akhirnya, keputusan ada di tangan Higuain. Saat ini, dia memang masih menghormati kontraknya bersama Juventus. Tapi, kami akan berusaha mendatangkannya di masa depan,” kata Enzo Francescoli dikutip dari Football Italia.

Menurut Francescoli, Higuain memiliki arti yang penting untuk para suporter River. Pasalnya, River merupakan klub dimana Higuain mengawali kariernya. Selain itu, ayah dari Higuain juga sempat bermain untuk Los Milionaros.

Gonzalo Higuain - Juventus - River Plate - @ChampionsLeague
twitter.com/ChampionsLeague

“Tentu saja kembalinya pemain sekaliber Higuain memiliki arti yang sangat penting untuk kami semua. Kami akan menunggu kesempatan untuk bicara dengan Higuain melalui jalur resmi.”

“Saya selalu senang jika ada pemain idola suporter River yang kembali ke sini. Bagi kami, Higuain adalah pemain yang sangat penting. Karena, dia besar di sini dan ayahnya juga sempat bermain untuk kami,” tandas Francescoli.

Gonzalo Higuain bermain untuk River Plate pada periode 2004 hingga 2007. Selama tiga tahun bermain di Stadio El Monumental, Higuain sukses mengemas 15 gol dari 33 penampilan di semua kompetisi.

Setelah bersinar bersama River, Higuain memutuskan untuk merantau ke Eropa. Di benua biru, Higuain sempat bermain untuk Real Madrid, Napoli, AC Milan, Chelsea dan kini Juventus.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Ayah Gonzalo Higuain Konfirmasi Anaknya Tak akan Tinggalkan Juventus

Banner LFS Baru

Football5Star.com, Indonesia – Ayah dari pemain Juventus, Gonzalo Higuain, mengkonfirmasi bahwa anaknya akan menghormati kontraknya bersama Juventus. Higuain masih punya 1,5 tahun sisa kontraknya dengan Bianconeri.

Tuttosport melaporkan bahwa musim panas nanti Higuain akan kembali ke Argentina dan bermain untuk mantan klubnya, River Plate. Tapi sang ayah, Jorge Higuain mengatakan bahwa itu tidak benar.

“Semua yang dikatakan tentang Gonzalo (Higuain) tidak benar. Saya bisa memberi tahu anda satu hal: Gonzalo akan tetap di Juventus karena dia masih punya 1,5 tahun sisa kontrak dan dia menghormatinya,” ucap Jorge Higuain seperti dilansir Football5Star.com dari LM Nequen.

Gonzalo Higuain - Juventus - Argentina - Diario AS
Diario AS

Nantinya dalam 18 bulan kedepan, Higuain sendiri yang akan menentukan karirnya selanjutnya.

“Dalam 18 bulan, Gonzalo akan putuskan apa yang akan dia lakukan karena dia akan menentukan takdirnya sendiri. Ini adalah kenyataan dan apa yang akan terjadi dalam karier Higuain, kecuali hal-hal tak terduga lain terjadi,” kata sang ayah.

Jorge melanjutkan “tapi saya bisa menjamin, di pikiran Higuain, tidak ada keinginan untuk meninggalkan Juve, di mana dia sangat dicintai oleh para fans, sama seperti dia mencintai Bianconeri, kostum dan para suporter.”

Gonzalo Higuain dibeli oleh Juve dari Napoli seharga 90 juta euro pada tahun 2016. Dia sempat dipinjamkan ke AC Milan dan Chelsea pada musim 2018-19, sebelum kembali lagi ke Turin.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Ayah: Gonzalo Higuain Tidak Mungkin Kembali ke River Plate

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Gonzalo Higuain pernah berujar dirinya ingin kembali dan pensiun di River Plate. Tapi kemungkinan tersebut sepertinya tidak dikehendaki sang ayah, Jorge Higuain.

Saat ini Gonzalo Higuain masih berstatus sebagai pemain Juventus. Dia juga masih terikat kontrak di Stadion Allianz hingga 2021 mendatang.

Faktor inilah yang membuat Jorge menegaskan bahwa sang anak takkan kembali ke River Plate dalam waktu dekat. “Untuk saat ini dia tidak bisa kembali ke River,” katanya seperti dikutip Football5star dari Football Italia, Sabtu (4/4/2020).

gonzalo higuain-jorge higuain-el espanol
El Espanol

“Sangat tidak mungkin untuk Gonzalo kembali dalam waktu dekat. Dia masih terikat kontrak di Juventus tahun ini dan juga tahun depan,” sambungnya.

Sebagai informasi, pemain 32 tahun jebolan akademi River Plate.  Setelah tiga tahun membela tim raksasa Argentina, ia hengkang ke Real Madrid. Namanya pun kian berkibar saat menginjakkan kaki di Italia untuk memperkuat Napoli dan Juventus.

Musim 2019-2020 bisa dikatakan sebagai musim kebangkitan untuk striker Argentina. Bagaimana tidak, nasibnya musim lalu terkatung-katung saat dipinjamkan ke AC Milan dan Chelsea.

Posisinya di awal musim ini bersama Juventus pun sempat tidak jelas. Apalagi masih ada Cristiano Ronaldo di sana.

Akan tetapi, sejak Juve melepas Mario Mandzukic, Higuain kembali mendapat kepercayaan dari pelatih kesayangannya, Maurizio Sarri. Dia telah mengoleksi 34 pertandingan di semua kompetisi. Dirinya juga turut menyumbang delapan dan delapan assist.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Fakta Amadeo Carrizo, Kiper Revolusioner Argentina

Banner LFS Baru

Football5Star.com, Indonesia – Akhir pekan lalu, River Plate dilanda duka. Kiper legendaris klub Argentina itu, Amadeo Carrizo, meninggal dunia pada Jumat (20/3/2020). Carrizo tutup usai dalam umur 93 tahun setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit.

Amadeo Carrizo mungkin kurang akrab di telinga para pencinta sepak bola sekarang. Padahal, dialah sosok kiper luar biasa pada masanya dan diakui sebagai pionir kiper modern yang tak hanya fokus menghalau tembakan pemain lawan.

Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta istimewa tentang Carrizo yang kamu pasti gak tahu.

Tersering Main untuk River Plate

Amadeo Carrizo adalah pemain dengan jumlah penampilan terbanyak di River Plate.
vanguardia.com.mx

Hingga meninggal dunia, ada satu rekor yang masih dipegang Amadeo Carrizo. Itu adalah jumlah penampilan terbanyak bersama River Plate. Total, dari 1945 hingga 1968, dia tampil dalam 520 laga. Dia unggul lima laga atas striker Angel Labruna yang memperkuat Los Millonarios pada 1939 hingga 1959.

Carrizo menjalani trial di River Plate saat berumur 16 tahun. Saat itu, dia harus menempuh perjalanan 15 jam dengan bus dari kampung halamannya, Rufino. Begitu selesai trial, dia diminta tak pulang. “Katakan kepada seseorang untuk menyampaikan kepada ayahmu bahwa kamu tetap tinggal di sini,” kisah Carrizo kepada El Grafico seperti dikutip Football5Star.com dari Toda Noticias.

Pionir Kiper Bersarung Tangan

Carrizo jadi kiper Argentina pertama yang mengenakan sarung tangan.
clarin.com

Pada zaman dahulu, menjadi kiper adalah tantangan berat. Pasalnya, dia harus menghalau bola yang meluncur ke gawangnya dengan tangan telanjang. Amadeo Carrizo melakukan revolusi dengan tampil bersarung tangan. Di Argentina, dialah sang pionir ketika melakukannya pada 1957.

Tentu saja sarung tangan yang dipakai Carrizo saat itu sangat berbeda dari zaman sekarang. Bukan sarung tangan lateks dengan teknologi tinggi, melainkan sarung tangan kain biasa. Namun, setidaknya, itu mengurangi rasa sakit ketika harus menepis bola yang meluncur keras.

Bantu Serangan dari Awal

Amadeo Carrizo dikenal sebagai kiper yang tak melulu fokus menahan serangan lawan.
pinterest.com

Manuel Neuer, Pascal Olmeta, hingga Rene Higuita dikenal sebagai kiper yang tak ortodoks. Mereka berani memainkan bola dan menggiringnya di luar kotak penalti. Namun, mereka bukanlah yang pertama melakukan hal itu. Amadeo Carrizo lebih dulu tampil sebagai kiper modern.

Carrizo dikenal sebagai kiper yang gemar menggiring bola keluar dari kotak penaltinya. Itu dilakukan karena dia tak suka melempar bola jauh-jauh. “Saya tak suka melemparkan bola. Untungnya, tak ada yang mampu merebut saat saya menggiring bola,” kata dia.

Berdiri di Pagar Betis

Carrizo lebih suka berada di pagar betis ketimbang di gawangnya saat tendangan bebas.
clarin.com

Selain tak suka melemparkan bola, ada hal “gila” lain yang dilakukan Amadeo Carrizo. Saat menghadapi tendangan bebas lawan di luar kotak penalti, dia justru meninggalkan gawangnya. Dia lebih memilih berada di pagar betis.

Mengenai hal itu, Carrizo berdalih, “Jika tetap berada di belakang, saya itu idiot. Di sana, Anda tak akan bisa melihat apa pun (karena terhalang pagar betis pemain).”

Hari Kiper Nasional Argentina

Selain piawai menangkap bola, Amadeo Carrizo juga pandai mendribelnya.
elcancha.cl

Kehebatan Amadeo Carrizo diakui oleh banyak pihak. IFFHS menobatkan dia debagai kiper terbaik Amerika Selatan pada abad ke-20. Di negerinya, dia pun mendapatkan penghormatan khusus. Hari lahirnya dijadikan salah satu hari nasional.

Sejak 2011, di Argentina dikenal adanya Hari Kiper Nasional. Hari itu diperingati setiap 12 Juni. Sudah dapat diterka, tanggal itu adalah hari ulang tahun Carrizo. Tepatnya, kiper revolusioner itu lahir pada 12 Juni 1926.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Menolak untuk Tanding karena Virus Corona, River Plate Terancam Sanksi

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Klub kasta tertinggi Liga Argentina, River Plate menolak untuk bertanding melawan Atletico Tucuman di lanjutan Piala Liga Argentina. River menolak untuk bertanding karena mengantisipasi wabah virus corona.

Dikutip Football5star.com dari Toda Pasion, Minggu (15/3/2020) pihak River menolak untuk membuka Stadion Monumental untuk klub Atletico Tucuman dan perangkat wasit yang sudah hadir di kota Buenos Aires.

Sontak saja keputusan ini mendapat kritik dari pihak Atletico Tucuman. Pihak klub menyebut bahwa keputusan River Plate sangat sepihak tanpa berkoordinasi dengan klub lawan.

Menolak untuk Tanding karena Virus Corona, River Plate Terancam Sanksi
getty images

“Kami melakukan perjalanan sejauh 1300 km dan tidak ada otoritas setempat yang memberi tahu kami bahwa pertandingan tidak dimainkan. Itu sebabnya kami ada di sini,” kata wakil presiden Atletico Tucuman, Enrique Salvatierra.

Kritikan juga disampaikan oleh wasit yang akan memimpin pertandingan tersebut, German Delfino. Menurut Delfino, hal ini barus ia rasakan selama kariernya sebagai seorang wasit.

“Saya tidak merasakan kondisi ini sebelumnya. Kami tampil di waktu resmi tetapi pintu klub stadion tidak dibukakan untuk kami. Kami akan membuat laporan dan mengirimkan ke pihak federasi sepak bola Argentina,” kata Delfino.

“Biarlah semua kondisi ini nantinya akan diputuskan oleh komite displin yang merupakan otoritas mereka untuk memutuskan hal seperti ini,” tambahnya.

Menurut media lokal Argentina, River Plate melanggar kode etik displin yakni pasal 109 mengenai peraturan pertandingan. Akibat pelanggaran pasal 109, River terancam mendapat sanksi berupa pengurang poin.

Pihak River Plate sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini. Namun anak asuh Marcello Gallardo tersebut memutuskan untuk tidak tanding karena takut pemain mereka terpapar virus corona.

Pemerintah Argentina sendiri beberapa hari lalu sudah memutuskan untuk pertandingan olahraga, termasuk sepak bola berlangsung tanpa penonton.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Carlos Tevez Bawa Boca Juniors Curi Gelar dari Hadapan River Plate

Banner LFS Baru

Football5Star.com, Indonesia – Boca Juniors secara dramatis menjuarai Superliga Argentina 2019-20, Minggu (8/3/2020). Carlos Tevez menjadi penentu kesuksesan Xeneizes lewat gol tunggalnya ke gawang Gimnasia La Plata asuhan Diego Maradona di Stadion La Bombonera.

Boca Juniors memasuki pekan terakhir Superliga Argentina dengan tertinggal satu poin dari River Plate. Namun, mereka mampu mencuri gelar juara yang sudah berada di depan mata sang rival sejati. Selain berkat gol tunggal Carlos Tevez, Xeneizes juga harus berterima kasih kepada Atletico Tucuman yang menahan 1-1 Los Millonarios.

https://twitter.com/superliga/status/1236475587625091072

Laga Boca Juniors vs Gimnasia La Plata dan Deportivo Tucuman vs River Plate berlangsung bersamaan. Memasuki menit ke-19, Tucumas unggul berkat gol Javier Toledo. Namun, tim asuhan Marcelo Gallardo membalas lewat gol Matias Suarez pada menit ke-35.

Hasil itu membuat River Plate tetap berada di puncak klasemen. Pasalnya, di La Bombonera, Xeneizes tak juga dapat menjebol gawang Gimnasia La Plata. Namun, keadaan berbalik berkat tendangan keras Carlos Tevez yang merobek jala gawang lawan pada menit ke-72.

Hingga pertandingan di kedua tempat berakhir, skor tak berubah. River Plate imbang 1-1 dengan Tucuman, sementara Xeneizes menang 1-0 atas Gimnasia La Plata. Hasil itu membuat Carlos Tevez dkk. juara dengan koleksi 48 poin. Mereka balik unggul satu poin atas Los Millonarios.

Bagi Boca Juniors, ini adalah gelar keempat dalam enam musim terakhir. Sebelumnya, mereka juga menjuarai Superliga Argentina 2015, 2016-17, dan 2017-18.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Agen Buka Peluang Otamendi Gabung River Plate

Banner LFS Baru

Football5star.com, Indonesia – Bek Manchester City, Nicolas Otamendi, punya impian untuk mudik ke Argentina dan pensiun bersama River Plate. Hal itu diungkapkan oleh agennya, Martin Sendoa.

Nicolas Otamendi memulau kariernya bersama Velez Sarsfield, sebelum pindah ke Porto. Ia juga sempat membela Valencia dan Atletico Mineiro, sebelum berlabuh di City pada 2015.

Musim ini, Otamendi bukanlah pilihan utama Manajer Pep Guardiola. Ia kerap kena rotasi dan baru mencatatkan 18 penampilan di Liga Inggris.

Hal itu menimbulkan spekulasi Nicolas Otamendi ingin meninggalkan City. Klub yang dihubungkan dengan dirinya adalah River Plate.

Nicolas Otamendi - Manchester CIty - Premier League - @Notamendi30
@Notamendi30

“Keinginan Otamendi adalah untuk pensiun di River, dia sangat ingin bermain di sana. Dia baik-baik saja di Manchester City, dia bermain lebih banyak dari tahun lalu. Tetapi jika River memanggilnya dan meyakinkannya, pada bulan Juni itu mungkin terjadi,” kata Sendoa kepada TyC Sports.

“Tidak ada pemimpin River yang menghubungi saya, mereka masih belum bergerak. Otamendi tidak akan menawarkan diri, dia harus mendapat telepon dari pelatih River, Marcelo Gallardo. Tetapi satu panggilan akan mengubah segalanya.”

Sendoa mengatakan, hal yang paling realistis bagi Nicolas Otamendi untuk pindah adalah pada 2022 ketika kontraknya habis. Sebab, River tak mungkin bisa membayar transfernya saat ini.

“Harus diakui, sangat sulit bagi klub Argentina untuk membayar kontraknya. Otamendi adalah pemain top dan bermain di liga terbaik di dunia,” Sendoa menambahkan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

Final Copa Libertadores: Brace Gabigol Bawa Flamengo Juara

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Sempat tenggelam bersama Inter Milan, nama Gabigol kini benar-benar bersinar bersama Flamengo. Hal ini dibuktikan dengan kesuksesannya membawa klub Brasil itu juara Copa Libertadores setelah mengalahkan River Plate 2-1, Minggu (24/11/2019).

Final Copa Libertadores kali ini menganut sistem baru. Jika di edisi sebelumnya partai final selalu berlangsung dua leg, tahun ini dilangsungkan satu leg saja di tempat netral.

Dan tahun ini Stadion Monumental di Cile jadi tempat dihelatnya final Copa Libertadores. Selaku juara bertahan, River Plate mampu mengawali pertandingan dengan baik.

gabigol flamengo vs river plate marca
Marca

Mereka langsung membuka keunggula pada menit ke-14 lewat sontekan Rafael Borre. Skor 1-0 sekaligus menutup babak pertama.

Pada babak kedua, Flamengo mencoba menggebrak dengan menerapkan permainan terbuka. Gelombang serangan yang dilancarkan raksasa Brasil itu akhirnya membuahkan hasil jelang laga usai.

Gabigol mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-89 setelah memanfaatkan umpan Giorgian de Arrascaeta. Tidak hanya satu gol, mantan pemain Inter Milan menjadi penentu juara Flamengo lewat gol kemenangan yang dibuat di masa injury time.

Sial bagi sang bomber. Performa menawannya tercoreng jelang wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Ia mendapat kartu merah dari sang pengadil akibat ulahnya.

Sementara itu, gelar Copa Libertadores ini sangat berarti untuk klub besutan Jorge Jesus. Pasalnya ini gelar pertama mereka sejak terakhir kali meraihnya pada 1981 silam.

Susunan Pemain:

River Plate (4-4-2): 1-Franco Armani; 20-Milton Casco (Paulo Diaz 77′), 22-Javier Pinola, 28-Lucas Martinez, 29-Gonzalo Montiel; 26-Ignacio Fernandez (Julian Alvarez 69′), 24-Enzo Perez, 15-Exequiel Palacios, 11-Nicolas De la Cruz; 7-Matias Suarez, 18-Rafael Borre (Lucas Pratto 75′)
Pelatih: Marcelo Gallardo

Flamengo (4-2-3-1): 1-Diego Alves; 18-Rafinha, 3-Rodrigo Caio, 24-Pablo Mari, 21-Felipe Luis; 15-Gerson (Diego 66′), 5-Willian Arao (vitinho 86′); 7-Everton Ribeiro, 14-Giorgian De Arrascaeta, 27-Bruno Henrique; 9-Gabigol
Pelatih: Jorge Jesus

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Rafael Marquez Sarankan Barcelona Rekrut Pelatih River Plate

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Mantan pemain Barcelona, Rafael Marquez, ikut kecewa melihat Barca musim ini. Ia pun menyarankan pihak klub menggaet pelatih River Plate, Marcelo Gallardo sebagai pengganti Ernesto Valverde.

Saat ini Barcelona sedang menjalani pekan suram. Di LaLiga mereka dikalahkan Levante 1-3. Sementara di Liga Champions Lionel Messi dkk ditahan imbang klub asal Republik Ceko, Slavia Praha, di Camp Nou.

Tidak ingin melihat mantan klubnya makin terpuruk, Rafael Marquez meminta pihak klub langsung mengontak Marcelo Gallardo. Ia yakin, jika sang pelatih merupakan sosok yang tepat mengembalikan Azulgrana ke puncak kejayaan.

Menjuarai Copa Libertadores sebagai pelatih River Plate tambah kepantasan Gallardo tangani timnas Argentina.
Depor

“Saya percaya Marcelo punya pengalaman luar biasa dan tahu apa yang harus dilakukan di Barcelona. Dia orang yang tahu membaca permainan dan bisa mencegah kegaduhan di lapangan,” kata pria asal Meksiko itu seperti dikutip Football5star dari TNT Sports, Jumat (8/11/2019).

Adapun Gallardo saat ini masih terikat kontrak bersama River Plate. Namun, kontraknya di ibu kota Argentina akan berakhir Desember mendatang.

River Plate sejatinya masih menginginkan pelatih 43 tahun menangani Ezequiel Palacios dkk hingga musim depan. Hal ini tak lepas dari kesuksesan pria Argentina membawa klub ibu kota juara Copa Libertadores musim lalu.

Apalagi musim ini Marcelo Gallardo berkesempatan membuat River Plate juara back to back Copa Libertadores. Ya, ia sukses membawa anak asuhnya tampil di final setelah mengalahkan Boca Juniors. Di final nanti mereka sudah ditunggu raksasa Brasil Flamengo.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Enzo Francescoli: Legenda Sederhana yang Bikin Zidane Terpana

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Uruguay, sebuah negara yang cukup makmur di Amerika Selatan pernah merajai sepak bola dunia. Untuk urusan trofi, mereka memang kalah dari Argentina atau Brasil. Untuk urusan pemain hebat pun, mereka tetap kalah dari dua negara tersebut.

Melihat gelar Piala Dunia, Uruguay harus mengakui keunggulan Brasil yang sudah menang lima kali, atau Argentina yang juara tiga kali. Negara beribukotakan Montevideo baru bisa berbangga di kompetisi regional. Ya, mereka memimpin perolehan trofi Copa Amerika dengan 14 piala.

Dari sisi pemain pun, tidak ada pemain Uruguay yang benar-benar dielukan seantero bumi layaknya Pele dan Ronaldo milik Brasil, maupun Diego Maradona serta Lionel Messi kepunyaan Argentina. Namun, bukan berarti Uruguay tidak punya legenda yang jadi panutan di semua zaman.

enzo francescoli uruguay Sports Mole
Sportsmole

Adalah Enzo Francescoli yang namanya abadi sebagai bintang La Celeste. Memang, dia tidak pernah memenangi Piala Dunia, tidak pernah pula dia merengkuh trofi pemain terbaik dunia. Tapi jangan pernah ragukan pengaruhnya untuk dunia sepak bola.

Berbeda dari empat pemain di atas, Enzo Francescoli adalah pemain yang mempertontonkan kesederhanaan. Namun, dari kesederhanaan itulah dia menghadirkan seni dalam permainan.

Francescoli pula yang memodernisasi peran fantasista di dunia sepak bola. Sebagai informasi, fantasista merupakan peran yang diemban pemain untuk mengubah permainan tim dan melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan pemain lain.

Harus pemain-pemain yang punya visi luar biasa, keterampilan mumpuni, dan teknik sempurna untuk menjadi fantasista. Jika Brasil punya Zico, Argentina punya Maradona, dan Kolombia punya Valderrama, maka Uruguay memiliki Enzo Francescoli.

Awal Kekaguman Zidane pada Francescoli

Penulis asal Prancis, Antoine de Saint-Exupery, dalam buku Le Petit Prince menuliskan “Hanya dengan hati orang bisa melihat dengan benar dan apa yang esensial tidak terlihat oleh mata”. Ungkapan ini tercermin jelas dalam gaya permainan Francescoli yang selalu bermain dengan cara yang benar, dengan gaya yang lemah lembut dan penuh keanggunan.

Hanya orang-orang yang mengerti sepak bola yang paham betapa hebatnya Francescoli di lapangan. Hal ini pun diamini remaja imigran Aljazair menetap di pesisir selatan Prancis, Zinedine Zidane. Dia jatuh hati pada pria Uruguay sampai memantapkan diri meneruskan kehebatan sang bintang di lapangan.

zidane enzo francescoli
FIFA

Kekaguman Zidane bermula dari keputusan Francescoli pindah ke raksasa Prancis, Marseille 1989 silam. Marseille merupakan kota kelahiran pelatih Real Madrid itu. Meihat skill yang dimiliki pemain flamboyan itu pula Zidane remaja tertarik menjadi seorang playmaker.

“Dia adalah pemain favorit saya. Saya sering mencari waktu demi bisa melihatnya latihan. Pertama kali melihatnya bermain, saya ingin jadi seperti dia. Enzo adalah pemain yang paling saya kagumi di Marseille,” kata Zidane seperti dikutip Football5star.com dari These Football Times.

“Setelah masa-masa itu, saya mendapat kehormatan bermain satu lapangan dengannya saat saya memperkuat Juventus. Enzo benar-benar seperti dewa,” sambung legenda Prancis itu. Tidak cukup sampai di situ, Pria yang akrab Zizou itu kemudian mengabadikan nama sang idola pada anak pertamanya, Enzo Zidane.

Setelah habis era Enzo Francescoli, tongkat estafet permainan indah dilanjutkan oleh Zidane. Dan seperti halnya Francescoli pula, Zidane jadi sosok tak tergantikan di Juventus, Real Madrid, sampai timnas Prancis.

Asing Pertama yang Menaklukkan Argentina

Sebelum namanya harum di Eropa, Francescoli lebih dulu menggebrak Argentina. Ia memutuskan pindah dari klub kampung halamannya, Montevideo Wanderers ke River Plate pada 1983 silam. Di sana, kariernya benar-benar melejit sampai diagung-agungkan para penggemar.

Kendati berperan sebagai fantasista, pria yang kini berusia 57 tahun menasbihkan diri sebagai top skorer Liga Argentina sebanyak tiga kali. Predikat itu pertama kali disabet pada 1983-1984 dengan menceploskan 29 gol ke gawang lawan. Gelar yang sama ia ulang pada 1985-1986 dan 1993-1994.

Puncak kejayaannya bersama River Plate tercipta pada  1984-1985. Masih bersama River Plate, ia menyabet penghargaan pemain terbaik. Gelar ini sekaligus menjadikannya pemain non-Argentina pertama yang jadi terbaik di Negeri Tango.

enzo francescoli river plate trofi @VarskySports
@VarskySports

Bisa dibilang, masa-masa indah Enzo Francescoli memang terjadi di Argentina. Selain gelar individu, ia juga berjasa mengantar klub asal Buenos Aires itu memenangkan lima trofi Liga Argentina dan satu gelar Copa Libertadores.

Walau memberi kebahagiaan dan gelar, siapa sangka jika pemain kelahiran Montevideo itu pernah menolak pinangan River Plate. Cerita bermula dari kegemilangannya di akademi Montevideo Wanderers.

Cara bermainnya mengundang minat pencari bakat River Plate pada 1977. Tawaran datang dan Montevideo tak kuasa menolaknya. Tapi justru Francescoli yang menolak pindah dan bermain di kompetisi yang lebih kompetitif.

Alasannya menolak saat itu pun sangat sederhana. Ia masih ingin menyelesaikan sekolah SMA-nya di Uruguay. “Saat itu saya hanya memikirkan sekolah, bukan yang lain. Jadi tidak ada alasan saya pergi,” ungkap Francescoli seperti dilansir The Guardian.

Kendati demikian, keputusan mantan pemain Torino justru membuktikan kematangan dan kedewasaannya. Di usia yang masih sangat muda, ia tidak egois dengan gelimang ketenaran yang sudah ada di depan mata.

Sempat pergi ke Eropa untuk memperkuat beberapa klub seperti Racing Paris, Marseille, Cagliari, dan Torino, Francescoli akhirnya kembali ke River Plate 1994 silam. Di era keduanya ini ia bertahan sampai empat musim lamanya.

Penghujung karier menjadi bukti sahih betapa agungnya seorang Enzo Francescoli. Stadion El Monumental jadi saksi laga perpisahan pemain berjuluk El Principe itu. Menariknya, laga yang disaksikan 85 ribu pasang mata ini juga dihadiri presiden dua negara, Uruguay dan Argentina. Kedua kepala negara ini datang memberi penghormatan terakhir untuk pemilik 73 caps bersama timnas Uruguay.

Mencintai sepak bola berarti mencintai pemain seperti Francescoli. Seorang sederhana yang mengajarkan kesetiaan dan tahu di mana tempat dia harus pulang. Pemain yang juga perokok berat ini membuat kita rela meninggalkan statistik yang ada demi melihat permainan apa adanya yang ia warisi untuk generasi setelahnya. Tidak percaya? Silakan tanya ke Zinedine Zidane.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Berkat VAR, River Plate Pecundangi Boca Juniors

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pertandingan bertajuk Superclásico antara River Plate vs Boca Juniors di leg pertama babak semifinal Piala Libertadores berhasil dimenangkan oleh Los Millonarios dengan skor 2-0, Rabu (2/10/2019) di Stadion Monumental.

Teknologi video assistant referee (VAR) membantu kemenangan tim besutan Marcelo Gallardo tersebut. Bermain di markas sendiri, River Plate bermain menekan sejak menit awal babak pertama. Boca Juniors pun tak mau kalah, jual beli serangan langsung tersaji di menit awal babak pertama.

Dikutip Football5star.com dari The Guardian, gol River Plate pada menit ke-7 dicetak oleh Rafael Santos Borre lewat eksekusi penalti. Wasit memberi hadiah penalti kepada River setelah melihat VAR karena ada insiden antara pemain Boca dengan pemain River di area penalti.

river plate boca juniors
cbssports.com

Keputusan wasit ini sempat menimbulkan protes dari kubu Boca Juniors. Namun wasit tetap bersikukuh pada keputusanya. River Plate baru bisa menambah keunggulannya pada pertengah babak kedua tepatnya menit ke-70 lewat aksi Ignacio Fernandez.

Laga Superclasico edisi kali ini dianggap berjalan relatif lebih aman dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya. Pada tahun lalu, laga kedua tim harus dipindahkan ke Madrid, Spanyol karena ancaman kekerasan antara kedua suporter.

Leg kedua babak semifinal Piala Libertadores akan berlangsung pada 22 Oktober di markas Boca Juniors, Stadion Alberto J. Armando. Nantinya pemenang laga ini akan menghadapi pemenang antara Gremio vs Flamengo. Final Piala Libertadores sendiri akan berlangsung di Santiago Chile pada 23 November 2019.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Polisi Sita Tiga Pistol dan Senjata Tajam dari Suporter River Plate

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Pihak kepolisian Buenos Aires menangkap 86 suporter River Plate. Dari penangkapan tersebut, polisi menemukan tiga pistol dan sejumlah senjata tajam. Para suporter yang ditangkap ini diduga akan melakukan aksi kekerasan kepada suproter lain.

Dikutip Football5star.com dari Daily Mail, Jumat (20/9/2019), dari penangkapan tersebut, polisi menyita tiga pistol, masing-masing berkaliber 0.44, 9 mm, dan 0.380. Serta sejumlah senjatan tajam dan beberapa botol alkohol.

“Kami melakukan pencegahan untuk terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan pada suporter ini. Kami puas dengan cara kerja ini untuk bisa menekan kekerasan di sepak bola,” kata Juan Manuel Lugones, direktur pencegahan kekerasan olahraga Argentina.

River Plate
daily mail

Pihak kepolisian dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa para suporter yang ditangkap ini diduga akan menyerang kelompok pendukung River Plate lain yakni West Band.

Surat kabar setempat mengatakan bahwa 51 dari 86 para pendukung River Plate yang ditangkap tersebut, terindikasi merupakann bagian dari kelompok Budge. Kelompok ultras River Plate yang beberapa waktu lalu terlibat bentrok dengan pihak kepolisian.

Reputasi kelompok Budge di mata pihak kepolisian sudah sangat mengkhawatirkan. Beberapa wktu lalu, kelompok ini menyerang seseorang dengan senjata api tak jauh dari Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti.

Pengamat sepak bola Argentina, Gonzalo Maidana juga sempat menjadi korban keberingasan kelompok ini. Ia mendapat tembakan di bagian kaki saat akan memasuki stadion.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jelang Superclasico, Legenda River Plate Ejek De Rossi

Banner live dan podcast baru

Football5star.com, Indonesia – Babak semifinal Piala Libertadores akan mempertemukan dua musuh bebuyutan River Plate vs Boca Juniors dalam tajuk laga Superclasico, Minggu (1/9/2019). Pertemuan kedua tim ini selalu hadirkan sisi menarik baik di dalam ataupun di luar pertandingan.

Sebelum kick off laga kedua tim dimulai, legenda River Plate Norberto Alonso melemparkan kritik kepada pemain Boca Juniors Daniel De Rossi. Menurut Alonso, De Rossi bukan pemain besar.

“Media membuat bocah ini sangat terkenal. Aku benar-benar tidak mengenalnya. Saya tidak suka dengan gaya permainannya. Saya suka pemain yang benar-benar bermain sepak bola,” kata Alonso seperti dikutip dari El Intransigente.

Daniele De Rossi mengaku sangat mengidolakan Juan Riquelme yang juga legenda Boca Juniors.

“De Rossi bukan tipikal gelandang yang mampu membuat tim tampil maksimal di lini tengah. Ia sepertinya tidak banyak belajar di Italial,”

Pemain yang membela River Plate di era 80-an ini mengatakan bahwa laga superclasico bakal hadirkan tontonan yang menarik bagi suporter kedua tim.

Terkait soal rivalitas kedua tim, Alonso menyebut bahwa suporter Boca Junior yang selalu mencari masalah dengan suporter River Plate. Menurut Alonso, beberapa kali pihak Boca selalu menganggap kami sebagai biang onar.

“Mereka berteriak lewat mikrofon bahwa kami pembunuh dan biang onar. Padahal mereka melempar kami dengan es balok,” ucap Alonso.

“Meski begitu kami akan tetap meraih kemenangan. Sekarnag River Plate berada di kondisi yang lebih baik dibanding dengan Boca. Saat ini semuanya sudah berubah dan River Plate lebih kuat,”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Belum Resmi ke Madrid, Gelandang Berbakat Argentina Berpeluang Gabung Inter

Banner Football Live Star

Football5star.com, Indonesia – Renato Corsi, agen gelandang River Plate, Exequiel Palacios, menegaskan belum mencapai kesepakatan transfer dengan Real Madrid. Selain itu, Corsi mengakui ada ketertarikan dari Inter Milan kepada Palacios.

Madrid tertarik untuk mendatangkan Palacios pada musim panas mendatang. Akan tetapi, Los Blancos menghentikan proses negosiasi dengan Corsi lantaran Palacios mengalami cedera beberapa waktu lalu.

“Kami belum mencapai kesepakatan resmi dengan Real Madrid. Kami telah berulang kali bertemu dengan mereka, tetapi negosiasi belum berakhir,” tutur Renato Corsi, seperti dikutip Football5star dari Football Italia.

“Kami hampir menyelesaikannya, tetapi hanya karena dia (Exequiel Palacios) mengalami cedera, transfer tidak terjadi. Saat ini, perbincangan sedikit mandek. Kita lihat saja,” katanya.

Inter Milan menunjukkan ketertarikan serius kepada Palacios. Corsi menyatakan bahwa direktur sekaligus legenda I Nerazzurri secara langsung menghubungi dirinya.

“Pada waktu yang bersamaan, saya bisa mengatakan kepada Anda dengan pasti bahwa manajemen Inter tertarik kepada dia,” ujar agen gelandang berkebangsaan Argentina tersebut.

“Pupi (panggilan Zanetti) menghubungi saat saya bernegosiasi dengan Real Madrid untuk transfer Palacios. Saya sangat gembira. Saya mengatakan kepada Zanetti bahwa Exequiel akan bangga memiliki kemungkinan bergabung dengan Inter Milan,” tutur Corsi.

Exequiel Palacios - River Plate - Real Madrid- Inter Milan - Twitter InterDyLimao
Exequiel Palacios (Foto: Twitter @InterDyLimao)

Palacios melakoni debut profesional bersama River Plate pada November 2015. Pemain berusia 20 tahun tersebut masih terikat kontrak dengan klubnya hingga musim panas 2021.

Selama berseragam River, Exequiel Palacios telah mencatatkan 47 penampilan dengan koleksi empat gol dan tujuh assist. Gelandang yang menjadi incaran Inter Milan dan Real Madrid itu membawa klubnya meraih trofi Copa Libertadores 2018.

Pertandingan Sepak Bola Diganggu Aksi Nekat Wanita Tanpa Busana

Banner Football Live Star

Foootball5star.com, Indonesia – Pertandingan sepak bola di Divisi Primera Liga Argentina harus terhenti karena gangguan seorang wanita. Menariknya, wanita itu berlarian di tengah lapangan tanpa sehelai benang membalut tubuhnya, alias telanjang.

Aksi nekat itu muncul di tengah pertandingan antara Rosario Central vs River Plate di Rosario’s Estadio Gigante de Arroyito, Santa Fe, Jumat (16/2). Saat laga tengah berjalan, tiba-tiba seorang wanita menyelinap masuk ke dalam lapangan.

Semula, wanita itu masih berpakaian lengkap. Namun, setelah masuk ke lapangan, dia melepas seluruh kain yang menutupi tubuhnya. Meski begitu, wanita yang tak diketahui identitasnya itu ternyata sudah mempersipkan diri dalam melakukan aksinya.

Dia sengaja melukis tubuhnya dari mulai bahu sampai paha. Coretan di tubuh seksinya pun bukan tanpa makna. Dia memadukan warna khas beberapa klub Liga Argentina: Rosario Central, Newell’s Old Boys, River Plate, dan Boca Juniors, dalam lukisan di tubuhnya. Selain itu, ada juga tulisan berisi pesan toleransi dalam bahasa Spanyol.

Pertandingan Liga Argentina Diganggu Penyusup Wanita Tanpa Busana

Usut punya usut, wanita itu sengaja menyusup sebagai bentuk protes terhadap kekerasaan yang sering terjadi di sepak bola. Sepak bola Argentina memang banyak diwarnai kekerasan dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya pada final Copa Libertadores 2018 antara River Plate dan Boca Juniors. Laga panas antara dua seteru abadi itu bahkan sampai harus menelan korban jiwa.

Aksi wanita itu sontak membuat tim keamanan pertandingan kerepotan. Pasalnya, mereka harus menangkap seorang wanita yang nyaris telanjang di tengah sorotan ribuan mata di stadion. Setelah penyusup itu diamankan, pertandingan kembali dilanjutkan.

Pertandingan Liga Argentina Diganggu Penyusup Wanita Tanpa Busana

Rosario Central dan River Plate akhirnya harus puas berbagi skor imbang 1-1 sampai laga tuntas. River Plate membuka keunggulan melalui gol Fernando Quintero. Namun, tuan rumah mampu membalas berkat gol Agustin Allione.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Nahas, Fan River Plate Kehilangan Kostum Kenangan di Rumah Sakit

Football5Star.com, Indonesia – Mendapatkan kostum kenangan dari pemain pujaan adalah hal luar biasa bagi seorang fan. Ketika hilang dicuri, tentu saja mengesalkan. Itulah yang kini dialami fan River Plate, Alan Guevara.

Nasib nahas dialami Alan Guevara. Dia kehilangan kostum kenangan dari Leonardo Ponzio. Hal yang menyesakkan, itu dialami di rumah sakit tempat fans River Plate itu menjalani perawatan intensif karena kerusakan syaraf akibat kecelakaan lalu lintas. Maling rupanya benar-benar tak punya belas kasihan.

https://www.instagram.com/p/Bsy7tOaHqgO/

“Seseorang telah mencurinya dari lemari di kamarnya. Kami sangat bersedih, terpukul, dan kecewa karena hal seperti itu terjadi di rumah sakit,” tulis keluarga Alan Guevara di Instagram @todosporalann.

Kostum yang hilang itu bukan kostum sembarangan. Kostum itu diserahkan secara pribadi oleh Leonardo Ponzio saat menanti laga leg II final Copa Libertadores, Desember lalu. Sang pemain diam-diam datang ke rumah sakit dan memberikan kostum yang sudah dibubuhi tanda tangan itu.

Leonardo Ponzio datang setelah mengetahui ada fan River Plate yang sakit parah dan memerlukan biaya banyak hingga melakukan penggalangan dana. Dia datang sebagai bentuk simpati dan memberikan semangat. “Kamu harus terus berjuang demi kebaikan kamu sendiri,” kata dia seperti dikutip Faootball5Star.com dari Clarin.

Keluarga fan River Plate yang malang itu sadar, sangat mungkin sang pencuri akan menjual kostum kenangan tersebut. Untuk itu, mereka berharap siapa pun yang mengetahuinya agar membantu memulangkan kostum itu kepada Alan Guevara.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Pelatih River Plate Bantah Tolak Tangani Timnas Argentina

Football5Star.com, Indonesia – Marcelo Gallardo, pelatih River Plate, geram bukan kepalang oleh kabar yang menyatakan dirinya menolak pinangan timnas Argentina. Dia mengaku sudah gerah oleh hal itu dan menegaskan kabar tersebut salah besar.

“Saya tak pernah menolak timnas Argentina karena memang mereka tak pernah menawari saya posisi apa pun,” ucap Gallardo seperti dikutip Football5Star.com dari Mundo Albiceleste.

Pelatih berumur 42 itu menambahkan, “Saya sudah muak dikatakan menolak pekerjaan. Siapa sih pelatih yang tak ingin menangani timnas Argentina?”

Menjuarai Copa Libertadores sebagai pelatih River Plate tambah kepantasan Gallardo tangani timnas Argentina.
depor.com

Terlepas dari hal itu, Gallardo menandaskan bahwa dirinya masih menjunjung tinggi komitmen bersama River Plate. Dia merasa masih punya utang kepada klub yang baru menjuarai Copa Libertadores tersebut.

“Saya suka berada di tempat saya sekarang. Saya sepenuhnya berkomitmen kepada River Pate,” jelas mantan gelandang AS Monaco dan Paris Saint-Germain itu. “Saya sekarang punya banyak utang kepada River Plate. Saya juga punya komitmen besar kepada mereka.”

Meskipun belum diberi tawaran oleh Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), Gallardo sesungguhnya tak miskin dukungan. Wakil Presiden AFA yang juga Presiden Boca Juniors, Daniel Angelici, adalah salah satunya. Dia terang-terangan meminta AFA memberikan proposal kepada sang pelatih.

“AFA tengah mempersiapkan sebuah proyek serius. Saya kira AF seharusnya mengontak Gallardo dan membuat proposal bagi dia,” ungkap Angelici kepada Clarin. “Sepak bola adalah soal hasil, cara main, dan proyeksi ke depan. Saya kira dia memiliki semuanya.”

Satu hal yang pasti, jikapun diberi tawaran, Gallardo tak akan langsung menangani timnas Argentina. Seperti sudah diputuskan, Lionel Scaloni akan tetap memimpin Tim Tango hingga Copa America 2019. Kini, selain dibantu Walter Samuel, dia didampingi asisten baru, Roberto Ayala.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Palacios: Saya Selangkah Lagi Gabung ke Real Madrid

Football5star.com, Indonesia – Bintang muda River Plate, Exequiel Palacios, mengatakan bahwa dirinya sudah selangkah lagi akan meresmikan kepindahannya ke Real Madrid. Namun, ia tak mengungkapkan kapan dirinya akan resmi menjadi penggawa Los Blancos.

Palacios merupakan salah satu pemain muda terbaik di Argentina di tahun 2018. Ia berhasil membawa River Plate keluar sebagai jawara Copa Libertadores setelah mengalahkan Boca Junior di partai final yang digelar di Santiago Bernabeu.

“Agak sulit rasanya untuk tak memikirkan pandangan orang-orang di sosial media yang mengatakan bahwa saya akan pindah ke Madrid. Saat ini, saya berusaha untuk tetap tenang dan terus menunjukkan performa terbaik bersama River Plate,” ujar Palacios dikutip dari Diario Sport.

Exequiel Palacios - River Plate - Real Madrid - Mundo Albiceleste
Mundo Albiceleste

“Saya sudah mulai membayangkan seberapa besarnya Real Madrid di dunia sepak bola. Karena saya memiliki kesempatan besar untuk pindah ke sana dalam waktu dekat,” imbuh pria 20 tahun itu.

Saat ini, pihak Los Blancos dan manajemen River dikabarkan sedang berada di tahapan negosiasi mengenai transfer Palacios. Bahkan sang agen mengatakan bahwa kedua klub sudah mencapai kesepakatan untuk kepindahan Palacios dalam beberapa hari ke depan.

Di bursa transfer musim dingin ini, El Real sudah resmi mendapatkan jasa penyerang muda Manchester City, Brahim Diaz. Emilio Butragueno sudah mengatakan bahwa Real Madrid tak akan lagi mendatangkan pemain anyar di bursa transfer musim dingin.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Agen Pastikan Palacios Selangkah Lagi Gabung Madrid

Banner Football Live Star

Football5star.com, Indonesia – Gelandang River Plate, Exequiel Palacios, semakin dekat dengan Real Madrid. Hal itu diutarakan oleh agen Palacios, Renato Corsi.

“Para pemimpin River bertemu pemimpin Real Madrid di Abu Dhabi. Dalam beberapa hari ke depan, tawaran resmi akan diberikan. Kesepakatan ini pada tahap yang cukup maju,” kata Corsi di Soccerway.

Sejak musim panas kemarin, Madrid tengah mencari gelandang baru. Mereka mempersiapkan pengganti Luka Modric yang dirumorkan ingin hengkang ke Italia tahun depan.

Salah satu nama yang dikabarkan diamati oleh Madrid adalah Palacios. Jebolan akademi River ini dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga ia diperkirakan bisa menjadi salah satu gelandang terbaik di masa depan.

Dilansir Marca, Madrid benar-benar serius mengejar sang pemain. Pemain asal Argentina itu bahkan disebut akan merapat ke Santiago Bernabeu pada akhir musim nanti.

Exequiel Palacios real madrid
Getty Images

“Palacios, keluarganya dan saya ingin dia pergi pada bulan Juni. Madrid tidak punya masalah dengan dia tinggal di River untuk saat ini. Semuanya sedikit tertunda dengan Final Copa Libertadores.”

“Tentu saja jika final dimainkan seperti seharusnya, maka kesepakatan akan lebih cepat selesai. Madrid menginginkannya dan River akan menjual. Mereka setuju, jadi antara Senin dan Selasa proposal resmi akan diajukan,” ucap Corsi.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]

Marcelo Gallardo: River Plate Harus Teruskan Pesta

Banner Football Live Star

Football5star.com, Indonesia – Hasil mengejutkan dituai River Plate pada semifinal Piala Dunia Antarklub 2018. Menghadapi Al Ain yang tak diunggulkan, anak-anak asuh Marcelo Gallardo tersingkir lewat adu penalti. Meskipun demikian, sang pelatih mengingatkan bahwa kekalahan tersebut tak seharusnya membuat Los Millonarios murung.

Di mata Marcelo Gallardo, kekalahan dari Al Ain tak sebanding dengan kemenangan yang diraih di Copa Libertadores, sepuluh hari lalu. Untuk itu, tak sepatutnya kesedihan di Piala Dunia Antarklub memupus begitu saja kegemilangan di Copa Libertadores.

Marcelo Gallardo tak terlalu kecewa River Plate gagal lolos ke final Piala Dunia Antarklub 2018.
esporte.uol.com.br

“Pesta harus terus berlanjut karena pencapaian kami pekan lalu adalah sesuatu yang bersejarah,” ungkap Marcelo Gallardo seperti dikutip Football5Star.com dari Todo Noticias. “Pencapaian kami melawan Boca (Juniors) tak boleh terkikis begitu saja oleh kekalahan ini.”

Meskipun demikian, bukan berarti mantan gelandang timnas Argentina itu tak kecewa oleh kegagalan lolos ke final Piala Dunia Antarkub 2018. Dia mengaku terpukul juga. Namun, menurut dia, lawan memang lebih pantas lolos ke partai puncak.

“Kami kekurangan determinasi. Pertandingan dimenangi oleh tim yang bermain lebih baik, mencetak lebih banyak gol, dan punya determinasi berbeda,” urai pelatih berumur 42 tahun itu. “Kami tak mampu menyelesaikan peluang-peluang dengan baik, lalu ceroboh sehingga lawan menyeimbangkan kedudukan.”

Marcelo Gallardo menegaskan, dirinya sudah berusaha meracik taktik dan strategi untuk laga melawan Al Ain. Oleh sebab itu, dia tak terlalu menyesalkan kekalahan tersebut. Dia berharap, kegagalan lolos ke final Piala Dunia Antarklub 2018 menjadi pelajaran berharga bagi River Plate.

[better-ads type=”banner” banner=”156437″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Zoran Mamic Bangga Bawa Al Ain ke Final Piala Dunia Antarklub

Banner Football Live Star

Football5star.com, Indonesia – Zoran Mamic, pelatih Al Ain, sangat bangga mampu mengantarkan timnya lolos ke final Piala Dunia Antarklub 2018 dengan menyingkirkan River Plate pada semifinal. Dia menilai kemenangan lewat drama adu penalti itu sebagai lanjutan keajaiban yang diperoleh anak-anak asuhnya sepanjang tahun ini.

“Saya bangga menjadi bagian dari kesuksesan ini. Musim lalu, untuk kali pertama sepanjang sejarah, kami meraih dua gelar. Sekarang, kami berada di final Piala Dunia Antarklub,” ucap Zoran Mamic selepas pertandingan seperti dikutip Football5Star.com dari Sport360.

Dia melanjutkan, “Bagi semuanya, ketika kita bicara soal olahraga, ini haruslah menjadi hal terbesar yang pernah terjadi. Saya sangat bahagia dan bangga. Hal yang terjadi malam ini sungguh luar biasa.”

Al Ain yang ditangani Zoran Mamic lolos ke final Piala Dunia Antarklub dengan mengalahkan River Plate.
rsi.ch

Perjuangan Ail Ain yang tampil di Piala Dunia Antarklub 2018 sebagai wakil tuan rumah itu memang tak ringan. Mereka harus melakoni laga dari putaran pertama. Sebelum menghadapi River Plate, anak-anak asuh Zoran Mamic terlebih dahulu menyingkirkan Team Wellington dan Esperance de Tunis.

“Dalam 15 hari, pertandingan malam ini adalah yang kelima. Sungguh luar biasa hal yang telah dilakukan para pemain saya malam ini. Betapa banyak energi, betapa banyak kecintaan kepada sepak bola, beta abanyak semangat, dukungan untuk satu sama lain. Ini sungguh sukar dipercaya,” lanjut pelatiha sal Kroasia itu.

Meskipun demikian, Zoran Mamic menegaskan, perjuangan belum usai. Mereka tak akan terlena oleh keberhasilan menyingkirkan River Plate. Bersiap diri menghadapi final Piala Dunia Antarklub melawan Kashima Antlers atau Real Madrid adalah prioritas saat ini.

“Mereka pantas merayakan momen ini. Namun, itu hanya untuk malam ini. Besok, mereka harus kembali berlatih. kami punya waktu empat hari untuk memulihkan diri,” tegas Zoran Mamic lagi.

[better-ads type=”banner” banner=”156437″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Bek Al Ain Tak Gentar Lawan Siapa pun di Final Piala Dunia Antarklub

Banner Football Live Star

Football5star.com, Indonesia – Bek Al Ain, Ismail Ahmed, percaya diri menatap final Piala Dunia Antarklub. Dia tak takut menghadapi siapa pun pemenang semifinal kedua yang mempertemukan Real Madrid dengan Kashima Antlers. Ahmed optimistis dapat mengimbangi lawan di final nanti.

Hal itu diungkapkan Ismail Ahmed sesaat setelah Al Ain mengandaskan River Plate lewat drama adu penalti, Rabu (19/12/2018) dini hari WIB. Pemenang harus ditentukan lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2-2 selama 120 menit. Dalam adu penalti, anak-anak asuh Zoran Mamic menang 5-4.

Ismail Ahmed percaya diri di Piala Dunia Antarklub setelah Al Ain singkirkan River Plate.
fifa.com

“Di final, atmosfer akan berbeda, lawan yang dihadapi pun berbeda. Kami akan bersiap dengan sebaik-baiknya untuk itu dan mengerahkan segenap kemampuan untuk memenangi pertandingan,” terang Ismail Ahmed seperti dikutip Football5Star.com dari situs resmi FIFA. “Entah melawan Real Madrid atau Kashima di final, itu akan tetap 11 lawan 11

Dia menambahkan, “Pada level ini, tak ada tim besar dan kecil. Hanya permainan yang akan menjadi faktor penentu, juga moral para pemain juga sangat penting. Secara pribadi, aku berterima kasih kepada rekan-rekanku atas kerja keras mereka selama 120 menit (pada laga melawan River Plate).”

Keberhasilan menyingkirkan River Plate jadi catatan bersejarah bagi Al Ain. Inilah kali pertama mereka mencapai final Piala Dunia Antarklub. Mereka juga merupakan wakil kedua dari Asia yang mampu mencapai partai puncak di ajang ini. Sebelumnya, Kashima melakukan hal tersebut pada 2016.

[better-ads type=”banner” banner=”156437″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Palacios Cocok Gabung Real Madrid

Banner Football Live Star

Football5star.com, Indonesia – Kapten River Plate, Leonardo Ponzio, menilai rekannya Exequiel Palacios cocok untuk merapat ke Real Madrid. Di matanya, Palacios adalah pemain yang bagus.

Sejak musim panas kemarin, Real Madrid tengah mencari gelandang baru. Mereka mempersiapkan pengganti Luka Modric yang dirumorkan ingin hengkang ke Italia tahun depan.

Salah satu nama yang dikabarkan diamati oleh Real Madrid adalah Palacios. Jebolan akademi River ini dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga ia diperkirakan bisa menjadi salah satu gelandang terbaik di masa depan.

Dilansir Marca, Real Madrid benar-benar serius kepada Palacios. Sang pemain disebut akan merapat ke Bernabeu pada akhir musim nanti.

Exequiel Palacios - Real Madrid - Santiago Solari - Football5star
Getty Images

“Palacios telah bersama kami selama hampir 2,5 tahun. Dia telah menjadi pemain hebat di River, di sepak bola Argentina,” kata Ponzio kepada AS.

“Madrid? Aku percaya pada kemampuan yang dimiliki Palacios. Tentu saja, Anda tidak bisa memintanya untuk menjadi sama dengan Luka Modric. Palacios baru berusia 20 tahun. Dia pergi ke benua lain, ke jenis sepak bola lain.”

“Tetapi, dia bakal tumbuh. Dia sangat menyukai Madrid. Secara teknis dia bagus, dia punya pijakan yang bagus, secara individual dia bagus. Tapi dia harus tetap menjaga kepalanya. Dia harus tenang karena dia akan membuat lompatan setiap saat,” Ponzio menambahkan.

Palacios sendiri sudah membela River Plate dalam delapan pertandingan Primera División musim ini. Ia menyumbangkan satu gol dan dua assist.

[better-ads type=’banner’ banner=’156434′ ]