5 Fakta Menarik Skor dan Pencetak Gol Final EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Final EURO 2020 akan berlangsung di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Timnas Italia dan timnas Inggris akan berebut gelar juara. Ini adalah kali pertama laga final menautkan Gli Azzurri dengan The Three Lions.

Dalam sebuah laga final, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah soal skor akhir dan jumlah gol yang akan tercipta. Apalagi, belakangan ini, banyak final yang hanya berbuah 1 gol. Terbaru, skor 1-0 jugalah yang muncul pada final Copa America 2021 antara Argentina dan Brasil.

Terkait final EURO, berikut ini, Football5Star.com menyuguhkan 5 fakta menarik mengenai skor dan pencetak gol sejak 1960 hingga 2016.

1. Final EURO Didominasi Margin 1 Gol

Ada banyak fakta menarik soal skor dan pencetak gol di final EURO.
Getty Images

Final EURO biasanya berakhir dengan skor ketat. Dalam 16 laga yang tersaji pada 15 final, hanya 6 kali tercipta skor dengan selisih lebih dari 1 gol. Kali terakhir saat Spanyol menang 4-0 atas Italia pada EURO 2012. Sisanya, dalam 10 laga, skor akhir didominasi selisih 1 gol. Rinciannya, 5 kali skor 2-1 dan 3 kali skor 1-0.

Dalam 10 laga, dua kali tercipta hasil imbang. Pertama, pada final Piala Eropa 1968 yang menautkan Italia dengan Yugoslavia. Laga berakhir 1-1. Itu membuat kedua tim harus menjalani laga ulang yang lantas dimenangi Italia dengan skor 2-0. Kedua, pada final Piala Eropa 1976. Laga Cekoslowakia vs Jerman Barat berakhir 2-2. Cekoslowakia lantas menang adu penalti 5-3.

2. Dua Kali Skor 2-0 pada Babak I

Partai final EURO selalu berlangsung ketat. Selain hasil akhir didominasi margin 1 gol, babak pertama pun sangat jarang diwarnai tim yang mampu unggul dengan lebih dari 1 gol. Hingga saat ini, hal itu baru terjadi dua kali, yaitu pada laga ulang final Piala Eropa 1968 dan final EURO 2012.

Pada laga ulang final Piala Eropa 1968, Italia menang 2-0 atas Yugoslavia. Kedua gol dicetak pada babak pertama oleh Luigi Riva dan Pietro Anastasi. Sementara itu, pada final Piala Eropa 2012, Spanyol menang 4-0 dengan didahului keunggulan 2-0 pada babak pertama berkat gol David Silva dan Jordi Alba.

3. Brace di Final Hanya Dibuat Pemain Jerman

Oliver Bierhoff mencetak brace pada final EURO 1996 melawan Rep. Cheska.
cultofcalcio.com

Dari edisi pertama pada 1960 hingga 2016 telah tercipta 39 gol pada laga-laga final EURO. Tercatat ada 34 pemain yang berkontribusi pada 39 gol tersebut. Empat pemain di antaranya mencetak lebih dari satu gol. Gerd Mueller memimpin dengan 3 gol, sementara Horst Hrubesch, Oliver Bierhoff, dan Fernando Torres sama-sama mencetak 2 gol.

Menariknya, hanya tiga pemain yang mencetak brace dan mereka sama-sama pemain Jerman. Mueller mencetak 2 gol saat Jerman Barat menang atas Uni Soviet pada 1972, Hrubesch memborong 2 gol kemenangan 2-1 atas Belgia pada 1980, sedangkan Bierhoff memborong 2 gol kemenangan 2-1 atas Rep. Cheska pada 1996.

4. Hanya 7 Gol Pemain Pengganti

Eder adalah pemain pengganti terakhir yang mencetak gol pada final EURO.
toledoblade.com

Dari 39 gol yang tercipta pada 15 laga final EURO sejak 1960 hingga 2016, hanya 7 buah yang dicetak oleh pemain pengganti. Gol pemain pengganti ini baru hadir pada final Piala Eropa 1996 saat Oliver Bierhoff memborong 2 gol kemenangan Jerman atas Rep. Cheska.

Berikutnya, Sylvain Wiltord dan David Trezeguet mencetak gol setelah bangkit dari bangku cadangan ketika Prancis menaklukkan Italia pada final Piala Eropa 2000. Lalu, Fernando Torres dan Juan Mata pada final Piala Eropa 2012. Terakhir, Eder yang menjadi pahlawan kemenangan Portugal pada final EURO 2016 melawan Prancis.

5. Cuma Ada 2 Gol Penalti

Patrik Berger adalah satu dari hanya dua pencetak gol penalti pada final EURO.
Getty Images

Berapa banyak gol penalti pada final EURO sejak 1960? Ternyata jumlahnya sangat sedikit, yaitu 2 dari 39 gol. Artinya, hanya 5,13% dari total seluruh gol. Kedua gol penalti itu pun sama-sama bersarang di gawang tim yang sama, yakni timnas Jerman yang lantas juara dengan meraup kemenangan 2-1.

Gol penalti pertama pada final Piala Eropa tercipta pada 1980 saat Belgia menghadapi Jerman Barat. Rene Vandereycken memperdaya Harald Schumacher pada menit ke-75. Adapun gol penalti kedua dibuat oleh Patrik Berger ketika Rep. Cheska melawan Die Mannschaft pada final Piala Eropa 1996.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Sejarah Final Piala Eropa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 akan segera berakhir. Senin (12/7/2021) dini hari WIB, partai final Piala Eropa akan digelar. Timnas Italia akan menghadapi timnas Inggris di Stadion Wembley. Begitu laga usai dan sang juara telah muncul, pentas empat tahunan itu pun berakhir.

Laga Italia vs Inggris di Stadion Wembley adalah final edisi ke-16 sepanjang sejarah Piala Eropa sejak 1960. Dalam 15 final sebelumnya, sudah tertoreh banyak catatan menarik. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik sejarah final Piala Eropa.

1. Jerman Tersering Tampil di Final Piala Eropa

Jerman vs Spanyol pada final Piala Eropa 2008.
zimbio.com

Gelaran EURO 2020 melahirkan finalis baru. Untuk kali pertama, timnas Inggris akan melakoni laga final Piala Eropa. Sebelumnya, prestasi tertinggi The Three Lions adalah semifinalis pada 1996. Sejak 1960, Inggris jadi tim ke-13 yang menembus partai puncak.

Di antara tim-tim finalis, Jerman punya prestasi tersendiri. Die Mannschaft tercatat sebagai tim yang paling sering lolos ke final, yakni sebanyak 6 kali. Mereka melakukannya pada 1972, 1976, 1980, 1992, 1996, dan 2008. Di belakang Jerman ada Spanyol, Uni Soviet/Rusia, dan Italia. Ketiganya sama-sama empat kali berlaga di final Piala Eropa.

2. Sekali Laga Ulang di Partai Puncak

Gelaran EURO 1968 akan terus terpatri dalam sejarah karena satu keunikan. Itu adalah final yang diulang. Timnas Italia dan Yugoslavia harus menjalani dua pertandingan. Gara-garanya, final yang berlangsung pada 8 Juni 1968 berakhir imbang 1-1 dalam 120 menit. Karena adu penalti belum diterapkan, jadilah laga final harus diulang.

Italia dan Yugoslavia kembali bertanding dua hari kemudian, 10 Juni 1968. Hasilnya kini tidak lagi imbang. Gli Azzurri sukses menaklukkan sang lawan dengan skor 2-0. Menariknya lagi, pada semifinal, Italia menyingkirkan Uni Soviet dengan lempar koin setelah imbang tanpa gol dalam 120 menit.

3. Baru Sekali Juara Ditentukan Adu Penalti

Dalam 15 edisi terdahulu, lumayan sering laga final Piala Dunia tak selesai dalam 90 menit. Tercatat, enam kali laga harus dilanjutkan hingga perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu bahkan harus dilakoni final edisi pertama pada 1960 yang menautkan Uni Soviet dengan Yugoslavia.

Meskipun demikian, dari enam kesematan itu hanya sekali sang pemenang harus ditentukan lewat adu penalti. Itu terjadi saat Cekoslowakia bersua Jerman Barat pada final EURO 1976. Imbang 2-2 dalam 120 menit, Cekoslowakia lantas menang adu penalti 5-3 dengan diwarnai eksekusi tak biasa yang dilakukan Antonin Panenka.

4. Dua Laga Final Ditentukan Golden Goal

https://www.youtube.com/watch?v=N5H8KoMPjfk&ab_channel=NIXBLACK

Sudden death karena tercipta golden goal. Itulah yang terjadi pada dua final Piala Eropa beruntun, yakni EURO 1996 dan EURO 2000. Pada EURO 1996, pertandingan berakhir saat perpanjangan waktu berjalan 5 menit. Gara-garanya, Oliver Bierhoff mencetak golden goal yang membawa Die Mannschaft menang 2-1.

Kejadian serupa terulang pada final EURO 2000 yang menautkan Prancis dengan Italia. Skor imbang 1-1 saat babak kedua usai. Alhasil, laga pun dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Kali ini, golden goal baru tercipta pada menit ke-103 melalui sepakan David Trezeguet. Les Bleus menang 2-1 atas Gli Azzurri.

5. Laga Final Hampir Selalu Berbeda

Laga Jerman vs Rep. Cheska pada final EURO 1996 adalah ulangan final Piala Eropa dua dekade sebelumnya,
thesun.co.uk

Dari gelaran EURO 1960 hingga EURO 2020, komposisi tim yang berlaga pada final Piala Eropa hampir selalu berbeda. Italia vs Inggris pada EURO 2020 adalah kombinasi ke-15. Pengulangan hanya terjadi sekali, yaitu saat Jerman bersua Rep. Cheska pada final EURO 1996.

Laga final itu adalah ulangan pada dua dekade sebelumnya, tepatnya pada EURO 1976. Bedanya, ketika itu kedua negara punya nama lain. Jerman masih belum bersatu dan bernama Jerman Barat. Sebaliknya, Rep. Cheska belum pecah dan masih mengusung panji Cekoslowakia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Skor Semifinal EURO Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 telah mencapai semifinal. Timnas Spanyol, Italia, Inggris, dan Denmark akan berebut dua tiket ke final. Adapun dua laga semifinal EURO 2020 akan digelar pada pertengahan pekan nanti.

Dua laga semifinal nanti menjanjikan pertarungan menarik. Apalagi, sejarah membuktikan, laga semifinal EURO sangat jarang berakhir dengan selisih lebih dari 1 gol. Dari 28 pertandingan sejak EURO 1960, hanya ada 8 tim yang lolos ke final dengan keunggulan 2 gol atau lebih.

Soal hasil laga-laga semifinal EURO, masih ada beberapa fakta menarik lain yang terhampar hingga EURO 2016. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik mengenai hal itu.

Skor Tersering di Luar Adu Penalti

Sebanyak 20 dari 28 laga semifinal EURO berakhir dengan skor ketat. Selisih tak lebih dari 1 gol. Lalu, skor manakah yang paling sering muncul? Ternyata itu adalah 2-1. Skor ini telah muncul sebanyak 6 kali. Terakhir pada EURO 2012 saat Italia menang atas Jerman.

Di belakang skor 2-1 ada skor 0-0. Skor ini muncul sebanyak 4 kali. Namun, sudah lama hal itu tak lagi tersaji. Kali terakhir skor itu muncul pada EURO 2000 ketika Italia bersua dengan Belanda yang diwarnai kegagalan penalti Frank de Boer dan Patrick Kluivert pada menit ke-39 dan 62.

Skor Tersering pada Babak Pertama

Satu gol atau tidak ada sama sekali. Begitulah mayoritas pertandingan babak pertama semifinal sejak 1960. Faktanya, dari 28 laga, 21 di antaranya berakhir seperti itu. Dua di antaranya pada semifinal EURO 2016. Pada babak pertama, Portugal vs Wales berakhir 0-0, sedangkan Prancis vs Jerman berujung 1-0.

Bila dibedah lebih jauh, skor 0-0 lebih sering tersaji pada babak pertama semifinal. Skor ini muncul sebanyak 11 kali. Itu hanya 1 kali lebih banyak dari skor 1-0 yang terjadi sebanyak 10 kali. Sisanya, 3 kali skor 1-1 dan masing-masing 2 kali skor 1-1 dan 2-1.

Skor Tersering Saat Adu Penalti

Sepanjang sejarah, hanya 6 kali pada semifinal EURO. Terakhir pada 2012 kala Spanyol bertemu Portugal. Iker Casillas cs. melangkah ke final dengan kemenangan 4-2 pada adu tos-tosan itu. Lalu, apakah itu skor yang paling sering terjadi saat adu penalti?

Ternyata bukan. Skor paling sering dalam adu penalti adalah 6-5. Skor ini menghiasi 3 dari 6 pertandingan semifinal Piala Eropa sejak 1960. Terakhir kali skor ini muncul pada dua semifinal Piala Eropa 1996 saat Jerman vs Inggris dan Rep. Cheska vs Prancis. Selain 4-2, skor lainnya adalah 5-4 dan 3-1.

Skor Semifinal EURO Paling Telak

Dari 8 laga semifinal EURO yang berakhir dengan selisih lebih dari 1 gol, kemenangan paling telak adalah 3-0. Ada dua tim yang lolos ke final dengan skor ini, yaitu Uni Soviet pada EUEO 1960 dan 1964 serta Spanyol pada EURO 2008.

Pada EURO 1960, Uni Soviet menang 3-0 atas Cekoslowakia. Empat tahun kemudian, mereka kembali lolos ke final dengan skor semifinal yang sama. Kali ini mereka menang atas Denmark. Adapun Spanyol pada 2008 justru menang 3-0 atas negeri pecahan Uni Soviet, yakni Rusia.

Skor dengan Jumlah Gol Terbanyak

Skor 3-0 memang jadi kemenangan terbesar pada semifinal EURO. Namun, bukan berarti laga semifinal paling banyak dihiasi 3 gol. Jumlah gol terbanyak dalam satu laga semifinal adalah 9 buah. Laga itu tersaji pada edisi pertama, EURO 1960.

Sembilan gol tercipta ketika Yugoslavia menghadapi Prancis. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, tuan rumah unggul 2-1 pada babak pertama dan 3-1 saat laga berjalan 52 menit. Namun, keadaan berbalik. Saat laga usai, Yugoslavia menang dengan skor 5-4.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Kabar Terbaru Karel Poborsky, Raja Assist di Pentas EURO

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Berbicara soal Karel Poborsky di pentas EURO, memori kebanyakan orang pasti tertuju pada gol tendangan lobnya saat Rep. Cheska melawan Portugal pada perempat final EURO 1996. Berkat gol itu, tim asuhan Dusan Uhrin lolos ke semifinal.

Poborsky tak menampik gol itu sangat identik dengan dirinya. Dalam banyak kesempatan, selalu saja orang-orang bertanya kepadanya soal gol indah tersebut. “Saya tak tahu lagi sudah berapa kali menggambarkan gol itu karena pada dasarnya itu jadi bagian dari setiap pembicaraan,” ujar dia seperti dikutip Football5Star.com dari ProcNe.

Kepada laman resmi UEFA, Karel Poborsky menjelaskan gol itu. “Vitor Baia maju terlalu jauh dari gawangnya. Bola melesat tinggi dan agak memantul di rumput, jadi saya tak harus menendangnya. Itu lebih mirip lemparan. Saya mengambilnya dari bawah. Saya memilih penyelesaian yang sudah biasa dilakukan. Saya sudah mencetak dua atau tiga gol seperti itu sebelumnya,” urai dia.

Gol itu memang yang paling diingat orang dari sosok Poborsky di pentas EURO. Sampai-sampai, itu menutupi prestasi terbesarnya di ajang antarnegara terakbar di Eropa tersebut. Hingga saat ini, dia tercatat sebagai raja assist di Piala Eropa. Total, dia membuat 8 assist. Pengancam terdekatnya adalah Cristiano Ronaldo dengan 6 assist.

https://www.youtube.com/watch?v=M4MjBpCUhiE&ab_channel=BenitoGonz%C3%A1lezBenitoGonz%C3%A1lez

Karel Poborsky tampil pada tiga edisi beruntun Piala Eropa. Selain di EURO 1996, dia juga tampil di EURO 2000 dan 2004. Pada tiga gelaran itu, dia tak pernah absen membuat assist. Tiga assist dibuat pada EURO 1996, satu assist pada EURO 2000, dan empat assist pada EURO 2004.

Kiprah apik di Piala Eropa pula yang membuat karier Karel Poborsky kian meroket. Setelah membawa Rep. Cheska ke final EURO 1996, dia direkrut raksasa Inggris, Manchester United. Setelah itu, dia melanglang buana bersama Benfica dan Lazio sebelum pulang kampung ke Sparta Praha pada 2002 dan pensiun di klub pertamanya, SK Dynamo Ceske Budejovice, pada 2007.

Karel Poborsky Tetap Berkutat di Sepak Bola

Setelah gantung sepatu, Karel Poborsky tak lantas meninggalkan sepak bola. Bahkan, enam bulan terakhir kariernya sebagai pemain diisi pula dengan tugas lain di manajemen klub. Dia menjadi pemilik sekaligus direktur umum di SK Dynamo Ceske Budejovice.

“Pada musim terakhir, saya sudah jadi pemilik bersama SK Dynamo. Saya juga menjabat direktur umum dalam 6 bulan terakhir. Itu sebetulnya kehidupan ganda yang tak bermakna. Namun, itu adalah fase transisi dan berjalan baik. Saya mengakhiri musim dan alih fungsi dengan mulus. Saya tak lagi duduk di kantor dengan celana training,” urai Poborsky.

Kiprahnya sekarang adalah Direktur Akademi Sepak Bola FACR, Asoasiasi Sepak Bola Rep. Cheska. Raja assist EURO itu mengaku sangat menikmati perannya yang sekilas terkesan membosankan karena buahnya tak segera terlihat dan dirasakan. Menurut dia, proses itulah yang jadi kenikmatan tersendiri.

Karel Poborsky sudah masuk manajemen SK Dynamo Ceske Budejovice pada 6 bulan terakhir kariernya sebagai pemain.
dynamocb.cz

“Di akademi, kerja kami bukan soal hari ini, tapi berakhir ketika anak berumur 14 tahun bermain sebagai murid. Ada ruang untuk berpikir lebih santai karena tak terbebani lagi pertandingan setiap minggu, setiap musim,” ujar Poborsky menjelaskan kerjanya sebagai Direktur Akademi Sepak Bola FACR.

Lebih jauh, Poborsky menguraikan proses perekrutan murid di akademi. Hal itu, kata dia, diawali pemantauan bakat di semua wilayah setiap dua tahun. Mereka mengumpulkan 250 anak-anak dan melatihnya di regional masing-masing. Dari situ, dilakukan seleksi hingga terpilih 25 anak-anak untuk masuk akademi.

“Namun, mereka tak bergabung dengan kami. Mereka tetap bersama klub masing-masing. Mereka datang pada Senin dan pulang pada Jumat, Mereka akan berlatih di klub dan bermain pada akhir pekan. Setelah itu, mereka kembali lagi ke akademi pada Senin,” kata Karel Poborsky lagi.

Kalah di Pemilihan Presiden FACR

Meskipun menikmati perannya itu, Karel Poborsky tak lantas berpuas diri. Dia pun ikut dalam pemilihan Presiden FACR yang digelar pada awal Juni lalu. Namun, dia gagal menjadi orang nomor satu karena kalah dari Petr Fousek. Dia meraih 91 suara, sedangkan Fousek memperoleh 106 suara.

Meskipun demikian, Poborsky tak sakit hati. Dia justru menunjukkan sportivitas dan kebesaran hati. Begitu dinyatakan kalah, dia langsung mengucapkan selamat kepada sang rival. “Dari awal hingga akhir, itu pertarungan yang adil. Saya menghormati opsi yang dipilih,” kata dia kepada Idnes.

Lebih jauh, Poborsky mengungkapkan, “Sepertinya ini buruk bagi saya. Saya dibesarkan untuk menang, tapi sekarang kalah. Walaupun begitu, secara keseluruhan , ini adalah tantangan dan pengalaman luar biasa bagi saya. Saya bertemu banyak orang baik di pelosok dan wilayah. Saya mendapatkan informasi dan punya pandangan berbeda soal sepak bola.”

Karel Poborsky kalah dalam pemilihan Presiden FACR.
seznamzpravy.cz

Kekalahan itu pun tak membuat Karel Poborsky terbebani. “Saya tak menjanjikan apa pun kepada siapa pun sepanjang kampanye. Jadi, saya tak punya utang sama sekali. Saya tak malu dan dapat menatap mata setiap orang. Hidup terus berjalan,” ujar dia lagi.

Poborsky pun tak mutung. Dia akan tetap loyal dan menghormati kontraknya dengan FACR. Kalah pada pemilihan Presiden FACR tak lantas membuat dia kecewa dan memutus kontrak begitu saja. Dia akan tetap amanah sepanjang diberi kepercayaan.

“Saya akan kembali bekerja seperti biasa. Saat ini, saya punya kontrak dengan FACR, dengan akademi, dengan stakeholder sepak bola usia muda. Jika tak ada perubahan dari pemimpin, saya siap melanjutkannya,” ucap Karel Poborsky.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Laga Pembuka Piala Eropa Sejak 1980

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran EURO 2020 akan segera bergulir. Laga Turki vs Italia di Stadio Olimpico, Sabtu (12/6/2021) dini hari WIB akan jadi pembukanya. Bagi timnas Italia, ini merupakan kali kedua mereka menjalani laga pembuka Piala Eropa. Sebelumnya, mereka membuka Piala Eropa 1988 dengan mengimbangi sang tuan rumah, Jerman Barat, 1-1.

Ada banyak catatan yang tertoreh dalam laga pembuka Piala Eropa sejak fase grup diberlalukan pada 1980. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik dari sekian banyak fakta tersebut. Di antaranya menyangkut skor akhir dan hasil yang diperoleh tim yang berstatus tuan rumah.

Hanya Sekali Piala Eropa Dibuka Juara Bertahan

Partai pembuka Piala Eropa hampir selalu dilakoni tim yang berstatus tuan rumah. Tak terkecuali pada EURO 2020 yang digelar dengan banyak tuan rumah. Italia yang akan menghadapi Turki termasuk salah satu tuan rumah. laga nanti akan digelar di Stadion Olimpico yang biasanya menjadi markas AS Roma dan Lazio.

Anomali hanya terjadi sekali, yaitu pada Piala Eropa 1980. Digelar di Italia, bukan Gli Azzurri yang memjalani laga pembuka. Laga perdana justru dilakoni sang juara bertahan, yakni Cekoslowakia. Menariknya, sang lawan adalah Jerman Barat yang dikalahkan pada final EURO 1976.

Tak Pernah Berakhir Tanpa Gol

Michel Platini mencetak gol tunggal pada menit ke-78 laga pembuka Piala Eropa 1984 melawan Denmark.
Getty Images

Bersiaplah menanti gol pada laga Turki vs Italia pada pembukaan EURO 2020 nanti. Pasalnya, sejak 1980, laga pembuka tak pernah berakhir tanpa gol. Setidaknya 1 gol selalu tercipta pada laga-laga tersebut. Total, dalam 10 edisi tercipta 20 gol pada laga pembuka. Artinya, rata-rata tercipta 2 gol. dari 20 gol itu, 15 di antaranya dicetak pada babak kedua.

Dalam 10 edisi Piala Eropa terdahulu, tercatat hanya 3 kali laga pembuka hanya menghasilkan 1 gol. Itu terjadi untuk kali pertama pada 1980 ketika Jerman Barat menang atas Cekoslowakia. Empat tahun berselang, Prancis menang 1-0 atas Denmark. Adapun kali ketiga adalah saat Rep. Cheska menang 1-0 atas Swiss pada EURO 2008.

Selalu Berakhir dengan Skor Ketat

Gol Dimitri Payet pada menit ke-89 membawa timnas Prancis menang 2-1 atas Rumania pada laga pembuka Piala Eropa 2016.
telegraph.co.uk

Menjalani laga pembuka EURO 2020, timnas Italia harus waspada. Meskipun tengah menunjukkan tren sangat bagus bersama pelatih Roberto Mancini, Gli Azzurri tak bisa terlalu berharap untuk menuai kemenangan besar saat menghadapi timnas Turki di Stadion Olimpico nanti.

Itu karena laga-laga pembuka Piala Eropa pada 10 edisi sebelumnya selalu berakhir ketat. Tak ada tim yang menang dengan margin lebih dari 1 gol. Sebanyak 3 laga berkesudahan 2-1, 3 laga berakhir 1-0, dan bahkan 4 laga usai dengan skor imbang 1-1.

Tuan Rumah Hampir Selalu Menang

Timnas Portugal secara mengejutkan kalah 1-2 dari timnas Yunani pada laga pembuka Piala Eropa 2004.
Getty Images

Timnas Italia bisa mengusung optimisme tinggi saat menghadapi Turki pada laga pembuka EURO 2020 nanti. Pasalnya, mereka berstatus tuan rumah. Sejak 1984 ketika tuan rumah menjalani laga perdana Piala Eropa, hasil akhir hampir selalu memihak sang tuan rumah. Rinciannya, 3 menang, 4 seri, dan 2 kalah.

Tuan rumah yang kalah pada laga pembuka EURO adalah Portugal dan Swiss. Pada Piala Eropa 2004, Seleccao das Quinas secara mengejutkan takluk 1-2 dari Yunani. Gol balasan sang tuan rumah pun baru tercipta pada menit terakhir. Empat tahun kemudian, Der Nati mengikuti langkah serupa dengan kalah 0-1 dari Rep. Cheska.

Unggul Lebih Dulu Pasti Tak Kalah

Ada satu fakta menarik yang patut disimak timnas Italia dan timnas Turki yang akan menjalani laga pembuka EURO 2020. Mereka harus berlomba untuk mencetak gol terlebih dahulu. Faktanya, dalam 10 edisi sebelumnya, tim yang unggul lebih dulu selalu terhindar dari kekalahan. Enam di antaranya malah memetik kemenangan.

Anomali hampir tersaji pada laga pembuka Piala Eropa 2012 saat Polandia melawan Yunani. Polandia yang unggul terlebih dahulu nyaris kalah. Kedudukan 1-1 ketika kiper Polandia, Wojciech Szczesny dikartu merah dan Yunani mendapatkan penalti pada menit ke-69. Namun, eksekusi Giorgios Karagounis mampu ditahan Przemyslaw Tyton.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Prajurit Yunani Berpesta di Ibu Kota Portugal

gamespool
Momen Bersejarah EURO: Prajurit Yunani Berpesta di Ibu Kota Portugal 26

Football5star.com, Indonesia – Yunani berhasil mengejutkan para pecinta sepak bola ketika mengalahkan Portugal di Estadio Da Luz, Lisbon, pada partai final Euro 2004. Keberhasilan Yunani merupakan salah satu kisah underdog terhebat dalam sejarah sepak bola modern.

Yunani mengalahkan Portugal di final Euro 2004 dengan skor tipis, 1-0. Gol tunggal Yunani diciptakan oleh Angelos Charisteas di pertengahan babak kedua. Gol Charisteas membuat skuat besutan Otto Rehhagel berhasil mematahkan hati para penduduk Portugal.

Berkali-kali Patahkan Prediksi

Yunani tergabung di grup A Euro 2020 bersama Portugal, Spanyol dan Rusia. Galanolefki mengawali Euro 2004 dengan laga melawan tuan rumah. Mereka pun berhasil menciptakan kejutan.

Tampil sebagai tim underdog, Yunani secara mengejutkan berhasil memetik kemenangan atas Portugal dengan skor 2-1. Sepasang gol kemenangan Galanolefki diciptakan oleh Giorgios Karagounis (7′) dan Angelos Basinas (51′, pen). Sementara, gol hiburan tuan rumah diciptakan oleh eksekusi penalti Cristiano Ronaldo di penghujung pertandingan.

Di pertandingan kedua, Galanolefki kembali membuat kejutan. Mereka mampu menahan tim unggulan, Spanyol, dengan skor 1-1. Petualangan Yunani di babak grup diakhiri dengan kekalahan atas Rusia.

Yunani - Portugal - Euro 2004 - Novasports
Novasports

Meski cuma mampu memetik empat poin, Galanolefki berhak melaju ke babak perempat final. Mereka finis di posisi runner up grup A. Mereka menyingkirkan Spanyol karena memiliki keunggulan gol.

Di perempat final, dongeng skuat Otto Rehhagel kembali berlanjut. Mereka berhasil mengalahkan tim tangguh, Prancis, melalui gol tunggal Angelos Charisteas.

Setelah mengalahkan Prancis, giliran timnas Republik Cheska yang menjadi korban Yunani. Mereka berhasil melaju ke final berkat gol semata wayang Traianos Dellas di babak tambahan.

Kembali Hancurkan Hati Portugal

Keberhasilan menyingkirkan Republik Cheska membuat Yunani berhak menantang Portugal di final Euro 2024. Selecao melaju ke partai final setelah menyingkirkan Inggris dan Belanda.

Status tim ruan rumah plus pemain-pemain beken seperti Luis Figo, Cristiano Ronaldo, Deco serta Ricardo Carvalho membuat banyak pihak mengunggulan Selecao. Akan tetapi, peman-pemain bintang Portugal malah kesulitan membongkar pertahanan rapat Yunani.

Sepanjang babak pertama, Portugal benar-benar mengurung lini pertahanan Yunani. Akan tetapi, kegigihan Galanolefki membuat Cristiano Ronaldo cs gigit jari dan skor 0-0 bertahan hingga turun minum.

Yunani - Portugal - Euro 2004 - Novasports
Seen Sports Images

Di babak kedua, Portugal kembali mengurung lini belakang Galanolefki. Namun, kali ini Yunani mulai bisa keluar dari tekanan Portugal. Pada menit ke-57, Galanolefki berhasil mencuri keunggulan.

Berawal dari sepak pojok Angelos Basinas, Angelos Charisteas berhasil lolos dari pengawalan pemain belakang Portugal. Ia kemudian menanduk umpan Basinas dan sundulan Charisteas gagal dijangkau Ricardo.

Selepas gol Charisteas, Portugal kembali mengunrung lini belakang Yunani. Akan tetapi, usaha Selecao tidak membuahkan hasil dan skor 0-1 bertahan hingga wasit Markus Merk membubarkan pertandingan.

Ronaldo Tak Bisa Tahan Air Mata

Hasil ini menyisakan luka mendalam di kubu Portugal. Maklum saja, mereka kalah di negaranya sendiri. Dari 23 pemain yang kecewa, Cristiano Ronaldo yang paling terpukul.

Bagaimana tidak, pada turnamen besar pertamanya bersama timnas, pemain yang saat itu baru berusia 18 tahun menangis histeris sesaat setelah wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Mulai dari Pedro Pauleta, Rui Costa, hingga Luis Figo, sampai turun tangan untuk menenangkan Ronaldo muda.

Kegagalan di Euro 2004 menjadi pelecut semangat Ronaldo. Ia selalu tampil dengan motivasi berlipat ketika memperkuat timnas Portugal. Kegigihan dan kesabaran Ronaldo akhirnya membuahkan hasil 12 tahun setelah kekalahan di final Euro 2004.

Ronaldo menjadi motor utama Selecao di ajang Euro 2016. Status Ronaldo sebagai kapten serta pemain andalan Fernando Santos menjadi faktor utama di balik keberhasilan Selecao menyabet gelar juara Euro 2016.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Gol Miroslav Klose Hilang dari Layar Kaca

Banner Gamespool Football5Star

Football5star.com, Indonesia – Sial benar Miroslav Klose. Saat timnas Jerman vs Turki pada semifinal EURO 2008, golnya tak tampil di layar kaca pemirsa di hampir seluruh dunia. Gara-garanya, terjadi gangguan satelit yang membuat transmisi audio dan video sempat blackout beberapa menit.

Laga antara Jerman vs Turki berlangsung di Stadion St. Jakob-Park pada 25 Juni 2008. Pada laga yang dipimpin oleh wasit asal Swiss, Massimo Busacca, penonton siaran televisi tak bisa menyaksikan selama kurang lebih 10 menit. Menurut Alexandre Fourtoy dari UEFA, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Salah satunya adalah cuaca buruk.

Hari itu, badai aneh menerjang Vienna. Petir, hujan sangat deras, dan angin dengan kecepatan 87 meter per detik membuat suplai listrik sempat terputus tiga kali. “Ini murni masalah teknis yang sangat kami sesalkan karena perpaduan berbagai hal termasuk cuaca ini lumayan langka,” ujar Fourtoy seperti dikutip Football5Star.com dari BBC.

Gol kedua Jerman saat melawan Turki yang dicetak Miroslav Klose pada semifinal EURO 2008 tak muncul di layar kaca banyak pemirsa.
Getty Images

“Kami mengalami gangguan pada babak kedua Jerman vs Turki berupa tiga kali putus cepat, yakni berlangsung kurang dari satu milidetik. Namun, milidetik ini sudah cukup untuk membuat ruang kontrol utama kami mati total dan perlu beberapa menit untuk pulih kembali. Itu sebabnya sinyal pun terganggu,” urai Fourtoy lagi.

Gangguan itu hampir merata. Menurut Swiss Info, hanya dua stasiun penyiaran yang tak terdampak. Mereka adalah SCB yang berkedudukan di Zurich dan Al-Jazeera. Jadi, hanya penonton yang menyasiksan siaran dari merekalah yang mampu melihat dua gol, yakni gol Miroslav Klose pada menit ke-79 dan Smih Senturk hanya 4 menit jelang pertandingan usai.

Para penonton Euro 2008 di Inggris saat itu menurut laporan BBC terpaksa beralih ke Radio 5 Live yang juga menyiarkan jalannya pertandingan Jerman vs Turki. Gary Lineker yang memandu jalannya pertandingan juga harus meminta maaf karena gangguan tersebut.

“Seluruh dunia kehilangan gambar. Sudah cukup buruk di Inggris, tapi bayangkan para penggemar Turki dan Jerman” kata Lineker saat itu.

Saat itu, menurut Kepala Bagian Pemasaran dan Komunikasi BBC, Louisa Fyans, ada 9 juta orang yang menyaksikan tayangan dari stasiun televisi yang berbasis di Inggris tersebut. Namun, kekecewaan terhadap kendala teknis yang terjadi tidaklah besar. “Kami hanya menerima 168 keluhan. Orang-orang mengerti apa yang terjadi dan tahu hal tersebut di luar kuasa kami,” kata dia.

UEFA Nyaris Digugat

Dampak lebih besar dirasakan stasiun televisi Jerman, ZDF. Maklum saja, kendala terjadi justru saat pertandingan seru yang melibatkan timnas Jerman. “Rating kami hancur. Banyak penonton kecewa. Kami harus berbicara soal itu dengan UEFA,” ujar Pemimpin Redaksi ZDF, Nikolaus Brender dalam pernyataan resminya. Mereka bahkan mengancam akan mencari penyedia layanan lain.

Wacana gugatan hukum terhadap UEFA juga sempat mengemuka. Beberapa pihak sempat mempertimbangkan hal tersebut. ZDF jelas salah satunya. Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Olahraga Dieter Gruschwitz. Namun, dia tak mau membahasnya lebih jauh.

ZDF dibuat kelabakan oleh kejadian yang tak terduga saat Jerman vs Turki itu. Memang hanya 6 menit tayangan hilang, tapi itu sangat menyesakkan. Bahkan, ketika mengambil tayangan dari SBC, gol Miroslav Klose sudah terdengar sebelum videonya muncul.

Akan tetapi, pada akhirnya, meskipun tak sedikit yang kecewa dan merasa dirugikan, tak ada aduan resmi yang diajukan ke meja hijau. Itu tak terlepas dari sikap legawa juga dari beberapa pihak lain. ESPN bahkan sejak awal tak mau bicara soal kemungkinan meminta ganti rugi material kepada UEFA. Terepas dari hal tersebut, insiden gol Miroslav Klose tak tayang di layar kaca tetaplah aib bagi UEFA.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Amuk Akhir Laga Portugal vs Prancis Berbuah Petaka

Banner Gamespool Football5Star

Football5tar.com, Indonesia – Kompetisi Euro selalu hadirkan cerita menarik. Salah satu cerita menarik dari ajang empat tahunan ini ialah pecah rusuh laga babak semifinal Euro 2000 yang mempertemukan Portugal vs Prancis di Stadion King Baudouin, Belgia.

Pada pertandingan yang berlangsung pada 28 Juni 2000 ini, wasit asal Austria Günter Benkö harus mengeluarkan 7 kartu kuning, 2 untuk pemain Prancis dan 5 bagi pemain Portugal. Serta 1 kartu merah untuk pemain Portugal.

MOMEN_Rusuh Portugal vs Prancis di Euro 2000_

Timnas Portugal datang ke Belanda-Belgia 2000 dengan status tim dengan generasi emas. Pelatih Humberto Coelho saat itu membawa nama-nama pemain Portugal yang tengah naik daun seperti Luís Figo, Rui Costa, Sérgio Conceição, hingga striker muda Benfica kala itu, Nuno Gomes.

Berisi pemain muda dan pemain berpengalaman, Portugal yang tergabung di grup neraka, grup A diluar dugaan keluar sebagai juara grup. Bersama tim kuda hitam, Rumania, dua negara ini singkirkan Jerman dan Inggris yang lebih difavortikan.

Prancis pun datang ke Euro 2000 dengan predikat mentereng. Mereka adalah penyandang gelar Piala Dunia 1998. Roger Lemerre yang meneruskan tongkat estafet dari Aimé Jacquet masih mempertahankan mayoritas skuat juara Piala Dunia 1998 plus sejumlah pemain muda seperti Nicolas Anelka, Thierry Henry, dan David Trezeguet.

Prancis lolos ke babak fase grup setelah menjadi runner up grup D di bawah tuan rumah, Belanda. Setelah singkirkan Spanyol di babak perempat final, Prancis jumpa Portugal yang kalahkan Turki.

Petaka Perpanjangan Waktu

Pertemuan Prancis vs Portugal di babak semifinal Euro 2000 hadirkan tontonan menarik. Kedua tim menunjukkan permainan yang terbuka dan cepat. Portugal unggul terlebih dahulu lewat gol Nuno Gomes pada menit ke-19. Keunggulan tim Brasil Eropa itu bertahan hingga akhir babak pertama.

Di babak kedua, tepatnya pada menit ke-51, Henry mampu menyamakan kedudukan. Skor kembali imbang membuat laga semakin menarik dan penuh dengan tensi tinggi. Kedua pemain ogah mengalah demi bisa tampil di partai puncak.

MOMEN_Rusuh Portugal vs Prancis di Euro 2000

Petaka bagi Portugal datang dari menit akhir perpanjangan waktu. Prancis membangun skema serangan balik. David Trezeguet mendapat peluang hingga masuk ke dalam kotak penalti lawannya. Di depannya sudah ada Vitor Baia yang menutup ruang.

Bola jatuh ke kaki Sylvain Wiltord. Ia kemudian menendang bola namun bola mengenai tangan Abel Xavier. Tanpa ragu, wasit Benko langsung menunjuk titik putih. Penalti untuk Prancis. Pemain Portugal meradang.

Dikutip dari The Guardian, butuh waktu hampir tiga menit untuk membuat pemain Portugal bisa menerima keputusan dari Benko. Semua pemain Portugal marah besar karena menganggap Abel Xavier tak melakukan handball. Luis Figo bahkan sampai melepas jersenya di tengah lapangan.

Protes tidak hanya ditujukan pemain Portugal ke wasit tapi juga hakim garis Igor Sramka. Nuno Gomes dan Paulo Bento bahkan harus ditahan karena berusaha menerjang Sramka. Legenda Portugal, Eusebio turun tangan untuk meredakan para juniornya tersebut.

Zidane yang menjadi algojo penalti menuntaskan tugasnya tanpa celah dan membawa Ayam Jantan ke partai final dan menjadi juara setelah mengalahkan Italia lewat golden ball, David Trezeguet.

Buntut Panjang Laga Portugal vs Prancis

Portugal tak hanya tersingkir pada semifinal EURO 2000. Tiga pemainnya mendapat hukuman berat dari UEFA setelah insiden tersebut. Abel Xavier yang mengamuk kepada perangkat pertandingan diskors sembilan bulan. Dia tak bisa menerima hukuman penalti itu karena merasa tak melakukan handball. Dia juga menuding wasit berpihak kepada Prancis.

“Ada momen kebimbangan sekitar 10 detik ketika para pemain Prancis berbicara kepada wasit dan berusaha meyakinkan dia untuk meniup peluit bahwa itu pelanggaran,” kisah Xavier kepada So Foot pada 2020. “Saya katakan kepada dia, dalam keadaan yang sama, jika itu terjadi di wilayah Prancis, dia tak akan meniup peluit penalti. Aku masih berpikir demikian.”

Selain Xavier, dua pemain lain yang terkena sanksi UEFA adalah Nuno Gomes dan Paulo Bento. Gomes dijatuhi larangan main 8 bulan karena ingin melabrak Sramak. Sementara itu, Bento dihukum 6 bulan karena berusaha merebut kartu merah dari tangan Benko.

Tak hanya itu, Asosiasi Sepak Bola Portugal juga ketiban pulung. Aksi brutal para pemain asuhan Humberto Coelho. UEFA menjatuhkan denda 175.000 franc. Laga Portugal vs Prancis di EURO 2000 betul-betul jadi petaka bagi Seleccao das Quinas.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Hooligan Ganggu Laga Inggris vs Belgia

Gamespool new banner

Football5Star.com, Indonesia – Kamis, 12 Juni 1980, tak akan dilupakan oleh para pencinta sepak bola, khususnya di Eropa. Hari itulah laga Inggris vs Belgia tersaji pada perhelatan Piala Eropa 1980. Laga itu dikenang karena ulah hooligan yang membuat kerivuhan dan memaksa pertandingan ditunda.

Jauh sebelum pertandingan, memang sudah tercium suasana panas. Pelatih Belgia saat itu, Guy Thys merasa diremehkan oleh Timnas Inggris saat keduanya bergabung di grup berat bersama Italia dan Spanyol. Dia merasa anak asuhnya sama sekali tak dianggap. Sementara itu, polisi menangkap 36 hooligan Inggris pada malam jelang laga.

“Anda akan sangat konyol meremehkan kami. Orang-orang berbicara seolah-olah Italia dan Inggris adalah satu-satunya tim di grup kami. Tentu saja, saya prihatin dengan mereka. Tapi mereka tidak terlalu mengkhawatirkan saya daripada Jerman Barat atau Belanda,” kata Guy Thys dikutip dari The Guardian.

Para pemain timnas Inggris membasuh muka dengan air untuk menghilangkan efek gas air mata saat laga lawan Belgia di Piala Eropa 1980.
Getty Images

Saat pertandingan Inggris vs Belgia dihelat di Stadio Comunale, Turin, suasana kian panas. Sebab, pendukung tuan rumah, Italia, berpihak kepada Belgia. Awalnya, semua terkendali. Apalagi, skuat The Three Lions sukses mencetak gol via Ray Wilkins usai melewati bek Belgia dan melesakkan bola ke gawang Jean-Marie Pfaff.

Akan tetapi, keunggulan Inggris tak bertahan lama setelah striker Belgia, Jan Ceulemens mencatatkan namanya di papan skor hanya dua menit setelah gol Wilkins. Dari sini, semuanya berubah. Beberapa laporan, seperti dikutip dari The Times, menyebut kerusuhan dipicu dari suporter Italia yang merayakan gol Belgia. Hooligan Inggris pun berulah.

Tembakan Dibalas Lemparan

Polisi Italia langsung menembakkan gas air mata ke tengah kerumunan. Namun, upaya polisi mengurai kerusuhan, justru dibalas dengan lemparan bom asap oleh hooligan Inggris ke arah lapangan. Kiper Inggris, Ray Clemence jadi korban karena sempat pingsan di tengah kericuhan itu.

MOMEN EURO: Inggris vs Belgia Ditunda karena Insiden Bom Asap
fourfourtwo.com

“Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, mata saya mulai berair. Perasaan mengerikan menyelimuti saya dan saya tidak bisa melihat apa-apa. Lalu saya menyadari ada masalah di belakang saya,” kata Ray Clemence.

Pelatih Timnas Inggris, Ron Greenwood, lantas berbincang dengan wasit dan pejabat UEFA agar pertandingan ditunda. Laga pun kemudian sempat ditunda lima menit sambil melihat situasi aman terkendali kembali.

Pertandingan lantas kembali digelar lima menit kemudian. Namun, partai Inggris vs Belgia tetap tak menghasilkan gol tambahan. Inggris sempat mencetak gol via Tony Woodcock. Namun, gol itu dianulir karena sebelumnya Woodcock berada dalam posisi offside.

Akan tetapi, hasil memang bukan jadi pembicaraan utama partai Inggris vs Belgia itu. Semuanya tertuju kepada aksi kurang sepuji sejumlah oknum suporter Inggris. Bahkan, Greenwood mengaku malu dengan ulah oknum suporternya.

MOMEN EURO: Inggris vs Belgia Ditunda karena Insiden Bom Asap
theguardian.com

“Kami malu dengan orang-orang seperti ini. Kami telah melakukan segalanya untuk menciptakan kesan yang benar di sini. Mereka idiot dan kami tidak ingin berurusan dengan mereka. Saya berharap mereka semua akan dimasukkan ke dalam perahu dan dijatuhkan ke laut,” ujar Greenwood geram dikutip dari The Guardian.

UEFA lantas menghukum FA dengan dendam 8 ribu euro karena gangguan suporter. Ketua FA kala itu, Sir Harold Thompson, mengutarakan kekesalan yang sama dengan Greenwood.

“Sungguh memalukan bahwa pekerjaan yang dilakukan Ron Greenwood dapat terancam oleh beberapa orang konyol. Mereka sama sekali bukan penggemar,” kata dia.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Momen Bersejarah EURO: Antonin Panenka, Juara dan Penalti yang Melegenda

gamespool
Momen Bersejarah EURO: Antonin Panenka, Juara dan Penalti yang Melegenda 44

Football5Star.com, Indonesia – Euro 1976, tim kuda hitam Cekoslowakia berhasil lolos ke babak final dan akan bertemu tim raksasa, Jerman Barat. Sejarah tercipta bukan hanya Cekoslowakia berhasil menjadi juara, namun cara mereka memenangkannya lewat pemain bernama Antonin Panenka.

Cekoslowakia sempat berjaya di awal era 60-an dimana mereka berhasil menjadi juara tiga di Euro 1960 dan Runner-up di Piala Dunia 1962. Namun setelah itu, mereka tak pernah lagi masuk Euro dan hanya sekali masuk Piala Dunia pada 1970 itu pun hanya sampai babak grup.

Tapi jelang Euro 1976, Cekoslowakia bermain apik dengan mencatatkan 20 laga tak terkalahkan termasuk pada babak kualifikasi. Mereka lolos ke putaran final setelah mengalahkan Inggris dan Portugal di babak grup kualifikasi dan mengalahkan Uni Soviet di perempat final.

Cekoslowakia ke Final

MOMEN Tendangan Penalti Panenka
Getty Images

Putaran final diisi oleh empat tim. Cekoslowakia, Belanda, Jerman Barat, dan Yugoslavia sebagai tuan rumah. Jerman Barat jelas diunggulkan karena mereka berstatus sebagai juara Euro 1972 dan juara Piala Dunia 1974. Cekoslowakia harus berhadapan dengan Belanda-nya Johann Cruyff pada babak semifinal. Dan secara luar biasa mereka menang 3-1 walaupun butuh babak tambahan.

Di laga lain, Jerman Barat berhasil menang 4-2 melawan Yugoslavia dengan Dieter Mueller mencetak hat-trick. Wajar saja Jerman Barat sangat diunggulkan untuk mempertahankan gelarnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Bermain di markas Crverna Zvezda, Belgrade. Cekoslowakia malah unggul 2-0 dalam 25 menit lewat Jan Svehlik dan tendangan jarak jauh Karol Dobias. Namun Mueller langsung memperkecil kedudukan pada menit ke-28 lewat tendangan voli.

Pada babak kedua Cekoslowakia hanya berjarak beberapa menit saja dari gelar prestisius pertama mereka. Namun pada menit ke-89, Bernd Hielzenbein berhasil mencetak gol setelah menyundul umpan dari tendangan penjuru.

Pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan dan tetap tak ada gol yang tercipta. Laga akhirnya dilanjutkan ke babak adu penalti dan ini pertama kalinya di final dalam sejarah kompetisi.

Semua tiga penendang pertama dari masing-masing tim berhasil melakukan tugasnya. Sampai penendang keempat, Ladislav Jurkemik berhasil mengeksekusi tendangan, tapi tendangan dari Uli Hoeness melambung ke atas gawang.

MOMEN Tendangan Penalti Panenka
FootTheBall

Penentuan ada di penendang kelima, gelandang tengah Cekoslowakia, Antonin Panenka. Berhadapan dengan Sepp Maier, dia melakukan ancang-ancang dengang berlari kencang. Namun saat menendang bola, dia mengayunkan kakinya dan men-chip bola ke tengah. Maier tertipu setelah dia bergerak ke arah kiri. Cekoslowakia menjadi juara untuk pertama kalinya.

Cara menendang penalti itu akhirnya disebut dengan namanya “Panenka” dan masih sering dicoba oleh para pesepak bola saat ini.

Berawal dari Taruhan

Panenka sering sekali melakukan taruhan dengan kiper klubnya Bohemians Praha, Zdenek Hruska. Setelah sesi latihan mereka selalu melakukan latihan penalti sambil bertaruh bir, cokelat, atau uang dan Hruska lebih sering menang. Pada suatu malam, Panenka berpikir bagaimana cara mengalahkan Hruska. Lalu terciptalah ide cara menendang seperti itu.

“Saya tahu bahwa kiper biasanya memilih satu sisi, tetapi jika Anda menendang bola terlalu keras dia bisa menyelamatkannya dengan kakinya. Namun, jika kontak dengan bola lebih ringan, dia tidak bisa kembali ke tengah jika dia sudah memilih satu sisi.” kata Panenka seperti dikutip These Football Times.

Dan itu terbukti efektif. Antonin Panenka lalu memakai teknik ini beberapa kali di laga persahabatan dan liga. Dan salah satunya saat dia berhadapan dengan kiper timnas Cekoslowakia, Ivo Viktor. Tapi teknik penalti Panenka tak pernah diketahui di luar Cekoslowakia.

MOMEN Tendangan Penalti Panenka
Athlet.org

Namun, sebelum final, kiper Ivo Viktor sebenarnya meminta Panenka untuk tidak menggunakan teknik itu. “Dia mengatakan bahwa itu terlalu beresiko dan jika saya melakukannya, dia tidak mengizinkan saya untuk masuk ke ruangannya,” kata Panenka. Namun dia tak memedulikan ancaman Viktor dan akhirnya tetap melakukannya.

“Saat itu, tidak ada yang mengenal gaya penalti seperti ini. Tidak ada yang mengharapkannya, itu yang membuat tingkat keberhasilannya sangat tinggi,” ujar Panenka lagi.

Saat ini teknik tendangan Panenka masih sering dilakukan oleh para pesepak bola. Jika eksekutor berhasil mencetak gol, itu terlihat sangat berkelas, namun jika gagal, itu terlihat sangat konyol.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Momen Bersejarah EURO: Tos Koin Bawa Italia ke Partai Puncak

gamespool
Momen Bersejarah EURO: Tos Koin Bawa Italia ke Partai Puncak 50

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Italia merupakan salah satu tim terkuat di dunia. Tentu saja total 4 gelar Piala Dunia menjadi bukti. Namun, Gli Azzurri hanya mampu menjadi juara Euro satu kali dan itu terjadi 53 tahun lalu. Itu pun mereka dinaungi faktor keberuntungan yang sangat besar.

Euro 1968 merupakan kompetisi yang diadakan ketiga kalinya setelah UEFA membuat kompetisi itu pada 1960 dan edisi kedua pada 1964. Ini juga pertama kalinya Euro berubah nama menjadi “European Championship” setelah sebelumnya “European Nations Cup”.

Berbeda dengan sekarang, sistem kompetisi saat itu sangat jauh berbeda. Euro 2020 nanti diikuti oleh 24 tim di putaran final. Euro 1968 hanya diikuti 4 tim, karena kompetisi sebenarnya dimulai sejak babak kualifikasi yang diadakan sejak 1966.

MOMEN Tos Koin Semifinal Italia vs Uni Soviet
These Football Times

Babak kualifikasi diikuti 31 tim yang dibagi menjadi 8 grup. Masing-masing juara grup akan masuk ke perempat final. Setelah itu, 4 tim baru akan masuk ke putaran final. UEFA baru akan memutuskan siapa yang akan menjadi tuan rumah setelah 4 tim terpilih. Italia, Inggris, Uni Soviet dan Yugoslavia berhasil lolos dan UEFA memilih Italia sebagai tuan rumah.

Italia yang baru melakoni debutnya di Euro harus berhadapan dengan Uni Soviet yang merupakan juara Euro 1960 dan runner-up Euro 1964.

Pertandingan diadakan di Stadion San Paolo, Naples dengan hampir 70 ribu penonton memadati tribun. Pertandingan diadakan saat cuaca buruk membuat permainan menjadi semakin sulit.

Pada era 60-an, cara bermain Catenaccio memang sangat populer, terutama di Italia. Inter Milan bersama pelatih Helenio Herrera berhasil menguasai Eropa dan Dunia dengan cara bermain itu di pertengahan 60-an. Dan banyak pemain atau eks pemain Nerazzurri di dalam skuat Italia, termasuk sang kapten, Giancinto Fachetti.

Pelatih Italia, Ferruccio Valcareggi, yang merupakan mantan asisten Helenio Herrera, menerapkan strategi itu. Namun, Soviet yang dikapteni Albert Shesternyov, tahu mereka rentan terkena serangan balik jika terlalu menyerang, jadi mereka tak mau menaruh banyak pemain di depan saat menyerang. Terciptalah pertandingan yang cenderung membosankan karena kedua tim lebih memilih untuk tidak kebobolan ketimbang mencetak gol.

Tanpa Peluang, Tanpa Gol

Satu-satunya peluang bagus pada pertandingan diciptakan oleh Piero Prati yang tendangannya tipis melebar dari gawang, Itu pun diciptakan lewat eksekusi bola mati. Prati sempat mendapat peluang lagi setelah mendapat umpan dari Sandro Mazzola, tapi tendangan kaki kirinya mudah ditangkap oleh kiper Yuri Pschenichnikov.

MOMEN Tos Koin Semifinal Italia vs Uni Soviet
The Irish Time

Laga akhirnya berakhir dengan skor 0-0 dimana kedua tim sulit untuk menciptakan peluang bagus. Laga dilanjutkan ke babak tambahan dan tetap berakhir dengan skor 0-0. Format kompetisi menyebut jika pada semifinal laga tetap berakhir imbang sampai babak tambahan, pemenang akan ditentukan lewat… coin toss atau lempar koin.

Sebenarnya, mayoritas turnamen sepak bola yang menggunakan sistem gugur pada saat itu akan menggunakan replay match jika laga berakhir imbang. Tapi, untuk alasan tertentu Euro 1968 menggunakan lempar koin, walaupun format ini hanya berlaku di semifinal. Saat partai final, jika laga berakhir imbang akan dilanjutkan ke laga ulang.

Bagaimana dengan adu penalti? International Football Association Board (IFAB) yang membuat dan mengatur Laws of the Game, baru memasukkan adu penalti pada 27 Juni 1970, dua tahun setelah Euro 1968. Walaupun adu penalti sempat diadopsi beberapa kali di turnamen domestik dan minor.

Jadi, setelah laga berakhir, wasit Kurt Tschenscher memanggil kedua kapten, Fachetti dan Shesternyov, ke ruang ganti untuk menentukan takdir timnya. Setelah itu, Fachetti langsung keluar ke stadion mengumumkan bahwa mereka pemenangnya.

MOMEN Tos Koin Semifinal Italia vs Uni Soviet (The Cult of Calcio)
The Cult of Calcio

“Saya pergi dengan kapten Rusia. Kami pergi ke ruang ganti bersama. Wasit mengeluarkan koin tua dan saya memilih ekor,” kata Fachetti seperti dilansir Football5Star.com dari laman resmi UEFA.

Timnas Italia masuk ke final dan akan bertemu Yugoslavia. Dan pertandingan berakhir imbang 1-1, namun kali ini diadakan replay match jika laga berakhir imbang. Pada laga kedua yang diadakan dua hari kemudian, timnas Italia berakhir menang 2-0. Gli Azzuri berhasil menjadi juara Euro untuk pertama kalinya dan satu-satunya sampai saat ini.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

Momen Bersejarah EURO: The Dream Team Spanyol Dijegal Jenderal Franco

Banner Gamespol Baru

Football5star.com, Indonesia – Piala Eropa atau EURO merupakan turnamen terbesar kedua dalam sepak bola. Hegemoni kompetisi antarnegara Eropa hanya kalah dari Piala Dunia.

EURO memang jauh lebih muda dari Piala Dunia. Turnamen paling megah itu sudah dimulai sejak 1930 silam. Sedangkan kejuaraan Eropa baru lahir 30 tahun setelahnya.

Kendati demikian, jangan ragukan tensi tinggi yang dihadirkan turnamen antarnegara Eropa. Tidak hanya di dalam lapangan, di luar lapangan tensi justru bisa lebih mendidih.

spanyol thecultofcalcio
thecultofcalcio.com

Pada edisi pembuka saja telah memunculkan keanehan. Timnas Spanyol yang bertabur bintang dan pantas disebut sebagai The Dream Team batal berangkat ke Uni Soviet yang memiliki kiper terhebat sepanjang masa, Lev Yashin. Seharusnya, mereka berangkat ke Moskow untuk menjalani laga perempat final.

Spanyol sejatinya sudah mempersiapkan semua keperluan. Para talenta terbaik seperti Alfredo Di Stefano, Paco Gento, Luis Suarez, hingga Laszlo Kubala sudah siap tempur di Moskow.

Pelatih Lluis Miro pun telah mengumpulkan seluruh pemain di Madrid pada 24 Mei 1960. Dalam rencana awal, mereka akan terbang ke Moskow tiga hari kemudian dan bertanding pada 29 Mei 1960.

Luis Suarez dan Alfredo Di Stefano jadi bagian skuat Spanyol pada Piala Eropa edisi perdana.
elpais.com

Sayang, pertandingan yang bisa menentukan langkah La Furia Roja ke Prancis tak pernah terjadi. Pemerintah membatalkan keberangkatan secara mendadak.

Tidak ada yang tahu pasti penyebab pembatalan itu. Legenda Barcelona, Luis Suarez, bahkan dengan kesal berkata jika mereka bisa juara EURO edisi perdana jika terbang ke Uni Soviet.

“Kami yakin bisa mengalahkan mereka dan menjadi juara Eropa. Tapi tim memberitahu kami bahwa ada perintah dari atas, dari Jenderal Franco, dan tidak ada yang bisa dilakukan lagi,” kata Luis Suarez seperti dikutip Football5star dari Foot the Ball.

Uni Soviet Juara Edisi Pertama

Satu-satunya alasan yang masuk akal terkait batalnya La Furia Roja berangkat ke Rusia adalah tensi politik kedua negara. Semua tahu mereka saling berseberangan. Jenderal Franco masih ingat peran Uni Soviet dalam perang saudara di negerinya.

Latar belakang berkebalikan inilah yang membuat Franco tidak sudi tim sepak bola negaranya menginjakkan kaki di Moskow. Keputusan Yang sepihak ini pun membuat pemain merana.

Sebagai korban, tidak ada satu pun dari mereka yang mendapat jawaban terkait ihwal pembatalan. Pemain berpengaruh sekelas Alfredo Di Stefano, pun dibuat terus bertanda tanya. Pertemuannya dengan presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) berbuah sia-sia.

“Keputusan telah diambil oleh orang-orang di atas. Kita tidak bisa pergi ke Moskow,” demikian jawaban yang diterima Di Stefano dari presiden RFEF, Benito Pico, seperti dilansir Foot the Ball.

Uniknya, keputusan aneh ini luput dari sorotan media. Menurut laporan El Pais beberapa tahun setelahnya, pemerintah akan memberikan sanksi kepada media lokal yang berani memberitakan penyebab batalnya La Furia Roja bertanding di Rusia.

Pada akhirnya, Spanyol tidak berangkat ke Rusia. Dan pertandingan kedua yang akan berlangsung di Madrid juga urung terlaksana. Sebab UEFA mendiskualifikasi La Furia Roja.

Uni Soviet jadi juara edisi pertama EURO berkat titah Jenderal Franco yang meminta timnas Spanyol tak bertolak ke Moskva.
goal.com

Uni Soviet pun melenggang ke Prancis secara cuma-cuma. Lev Yahsin dkk tampil digdaya. Di semifinal mereka mengalahkan Cekoslowakia tiga gol tanpa balas.

Lalu menjungkalkan Yugoslavia dengan skor 2-1 di final yang berlangsung di Parc des Princes. Anak asuh Gavriil Kachalin akhirnya dinobatkan sebagai juara EURO edisi perdana.

Adapun nasib Spanyol belum sepenuhnya tuntas. Dikeluarkan dari turnamen bukan satu-satunya hukuman yang diberika UEFA. Pada kongres tahunan yang berlangsung 21 Agustus 1960, induk sepak bola Eropa menjatuhkan denda sebesar 2 ribu franc Swiss.

Uniknya, empat tahun berselang kedua negara kembali bersua. Kali ini tanpa drama di luar lapangan, Spanyol dan Uni Soviet bertemu di final EURO 1964. Bertindak sebagai tuan rumah, Tim Matador keluar sebagai juara setelah menang 2-1.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]