FIFA Izinkan Pemain Timnas Brasil Bermain di Premier League Pekan Ini

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – FIFA resmi mengizinkan pemain Brasil dan pemain dari beberapa negara lainnya seperti Cile, Meksiko dan Paraguay unuk bermain di Premier League pekan ini. Pengumuman ini membawa angin segar untuk klub-klub top Premier League.

Sebelumnya pada Rabu (8/9/21) FIFA memberi sanksi larangan bermain untuk beberapa pemain yang menolak untuk bermain di jeda internasional atas permintaan Federasi Sepak Bola Brasil.

FIFA Izinkan Pemain Brasil Bermain di Premier League Pekan Ini - Ederson - Gabriel Jesus (Manchester Evening News)
Manchester Evening News

Permintaan itu muncul setelah klub-klub Premier League dengan suara bulat setuju bulan lalu untuk tidak melepas pemain untuk pertandingan internasional di negara-negara dalam daftar merah Pemerintah Inggris.

Tetapi menurut laporan Football5Star.com dari Sky Sports, setelah pembicaraan ekstensif dengan FIFA, FA, dan Premier League, asosiasi Brasil, Cile, Meksiko, dan Paraguay setuju untuk membatalkan sanksi larangan bermain lima hari otomatis yang dapat mereka terapkan.

Keputusan itu dicapai pada Jumat malam waktu setempat, kurang lebih 12 jam sebelum pertandingan akhir pekan dimulai.

Angin Segar untuk Klub-klub Besar Premier League

FIFA Izinkan Pemain Brasil Bermain di Premier League Pekan Ini (Birmingham Mail)
Birmingham Mail

Tentu saja keputusan ini membuat klub-klub bisa memainkan para pemainnya yang sebelumnya dilarang tampil.

Liverpool memiliki Alisson, Fabinho dan Roberto Firmino yang bisa dimainkan melawan Leeds yang juga bisa memainkan Raphinha.

Lalu Manchester City bisa memainkan Ederson dan Gabriel Jesus di laga melawan Leicester. Chelsea bisa memainkan Thiago Silva lawan Aston Villa, dan Manchester United bisa memainkan Fred lawan Newcastle.

Hasil Brasil vs Peru: Gol Kontroversial Warnai Kemenangan Selecao

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Brasil melanjutkan kedigdayaaan pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022, Jumat (10/9/2021) pagi WIB. Laga Brasil vs Peru yang berlangsung di Arena Pernambucano berakhir 2-0. Dua gol Selecao dibuat Everton Ribeiro dan Neymar pada babak pertama.

Seperti diperkirakan dari awal, Brasil langsung mendominasi permainan. Peluang emas pertama diraih Selecao saat pertandingan memasuki menit ke-10. Melalui serangan balik, Gerson lolos dan melakukan akselerasi ke kotak penalti. Namun, tembakan kerasnya di dalam kotak penalti mampu diblok dengan sangat baik oleh Pedro Gallese.

Empat menit kemudian, Brasil benar-benar mendapatkan gol pertama. Neymar merebut bola dari Anderson Santamaria, lalu menusuk ke kotak penalti dan melepaskan umpan ke mulut gawang. Bola sempat dijangkau Gallese, tapi dapat disambar Everton Ribeiro dengan sepakan keras. Kedudukan Brasil vs Peru berubah jadi 1-0.

Neymar dianggap para pemain Peru telah melanggar Anderson Santamaria sebelum memberikan assist untuk gol Everton Ribeiro yang membuka skor laga Brasil vs Peru.
Getty Images

Gol itu diprotes oleh para pemain Peru. Mereka menilai Neymar melakukan pelanggaran saat merebut bola dari Santamaria. Namun, wasit Wilmar Roldan dari Kolombia tetap bergeming dengan putusannya. Apalagi, pengecakan VAR pun mengonfirmasi tak ada pelanggaran oleh Neymar terhadap Santamaria.

Setelah gol kontroversial itu, tuan rumah kian gencar melakukan tekanan. Neymar dan Gabriel Barbosa yang jadi andalan di lini depan berkali-kali merepotkan pertahanan tim tahun. Meskipun begitu, pertahanan La Blanquirroja lebih sigap dan lugas dalam menghadapinya sehingga gol tambahan sulit didapatkan Brasil.

Gol kedua baru didapatkan Brasil saat pertandingan memasuki menit ke-40. Sebuah serangan bertubi-tubi dilakukan Selecao. Danilo melepaskan umpan ke kotak penalti yang disambar Gabriel Barboca, tapi bola mengenai pemain lawan. Bola muntah diteruskan dengan tendangan keras Ribeiro yang juga mengenai pemain Perul. Namun, bola lantas di-tap in oleh Neymar yang berada di tiang jauh.

Neymar mencetak gol kedua pada laga Brasil vs Peru.
Getty Images

Selecao Masih Sempurna

Memasuki babak kedua, laga Brasil vs Peru tak mengalami perubahan. Tuan rumah lebih menguasai permainan dan lebih sering melakukan tekanan ke pertahanan Peru. Adapun sang tamu hanya sesekali melakukan serangan dan jarang membahayakan gawang Selecao yang dikawal Weverton.

Tim tamu tetap tak sanggup mengimbangi permainan tuan rumah meskipun pelatih Ricardo Gareca melakukan pergantian ganda pada awal babak kedua dan saat laga memasuki menit ke-60. Mereka tetap sulit memberikan ancaman ke gawang Weverton.

Ancaman paling berbahaya baru didapatkan Brasil pada menit ke-72. Marcos Lopez melepaskan tendangan keras dengan kaki kirinya dari luar kotak penalti. Lesatan bola yang begitu keras dan kencang memaksa Weverton terbang dan menepis dengan tangan kirinya.

Timnas Peru kesulitan mengimbangi permainan timnas Brasil.
Getty Images

Pada menit ke-86, Brasil hampir saja mencetak gol ketiga. Hulk yang baru masuk dua menit sebelumnya menggantikan Gabriel Barbosa mampu melewati Gallese. Namun, sepakan keras striker senior tersebut hanya melesat ke atas gawang. Alhasil, kedudukan Brasil vs Peru tetap 2-0. Skor tersebut bertahan hingga wasit menyudahi pertandingan.

Bagi timnas Brasil, kemenangan 2-0 atas Peru ini mempertahankan kesempurnaan pada Kualifikasi Piala Dunia 2022. Mereka kini meraih poin penuh dalam 8 laga. Tim asuhan Adenor Leonardo Bacchi “Tite” juga baru kebobolan 2 gol. Itu adalah jumlah kebobolan terendah di antara semua peserta kualifikasi di Zona Amerika Selatan.

Brasil Lanjutkan Rekor Bagus

Kemenangan ini membuat timnas Brasil meneruskan rekor bagus atas Peru pada gelaran Kualifikasi Piala Dunia. Mereka kini tak pernah kalah dalam 13 pertemuan dengan La Blanquirroja. Rinciannya, Selecao membukukan 9 kali menang dan hanya 4 kali imbang.

Di kandang sendiri, Brasil sangat digdaya. Dari 6 kesempatan menjamu Peru, Selecao meraih 5 kemenangan dan cuma sekali imbang. Satu-satunya hasil imbang di Stadion Morumbi, Sao Paulo, pada 25 April 2001. Ketika itu, tim asuhan Emerson Leao memetik hasil imbang 1-1 setelah gol Romario Faria dibalas Juan Pajuelo.

Gol Pajuelo juga jadi satu-satunya gol La Blanquiroja saat melawat ke kandang Selecao pada ajang Kualifikasi Piala Dunia. Selebihnya, Selecao selalu membukukan clean sheet. Bahkan, dalam 3 kesempatan terakhir, mereka selalu menang dengan mencetak setidaknya 2 gol.

Susunan Pemain Brasil vs Peru

Brasil (4-4-2): 12-Weverton, 2-Danilo (19-Matheus Cunha 63), 22-Lucas Verissimo, 3-Eder Militao, 6-Alex Sandro, 11-Everton Ribeiro (13-Dani Alves 63), 5-Casemiro (8-Bruno Guimaraes 77), 18-Gerson (15-Edenilson 84), 17-Lucas Paqueta, 9-Gabriel Barbosa (20-Hulk 84), 10-Neymar
Pelatih: Adenor Leonardo Bacchi “Tite”

Peru (4-3-3): 1-Pedro Gallese, 17-Luis Advincula, 4-Anderson Santamaria (15-Christian Ramos 46), 22-Alexander Callens, 5-Marcos Lopez, 16-Christopher Gonzales, 13-Renato Tapia (23-Wilder Cartagena 59), 19-Yoshimar Yotun (8-Gabriel Costa 59), 18-Andre Carrillo, 10-Christian Cueva (20-Edison Flores 46), 9-Gianluca Lapadula (11-Raul Ruidiaz 73)
Pelatih: Ricardo Gareca

K. Kuning: Casemiro 44, Paqueta 57, Barbosa 66, Neymar 90 – Santamaria 30, Tapia 35, Yotun 38, Costa 63, Gonzales 65
K. Merah:
Wasit: Wilmar Roldan

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Ini Kata Lionel Messi Soal Laga Brasil vs Argentina yang Ditunda

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Kapten Argentina, Lionel Messi, terlihat kesal saat mengetahui laga Brasil vs Argentina harus ditunda karena diklaim adanya pelanggaran protokol kesehatan dari pemain Argentina. Messi terlihat mempertanyakan sesuatu kepada pihak offisial pertandingan di lapangan.

Seperti yang diketahui, laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Brasil vs Argentina harus berhenti pada menit ke-5 oleh pihak kepolisian Brasil dan otoritas keseahatan, (6/9/21).

Mereka berupaya untuk mendeportasi empat pemain Argentina yang diduga melanggar prokes, empat pemain Argentina itu adalah Emi Martinez, Cristiano Romero, Gio Lo Celso dan Emi Buendia, keempatnya bermain di Premier League.

Ini Kata Lionel Messi Soal Laga Brasil vs Argentina yang Ditunda - Neymar
LatestLY

Mereka dituduh salah mengisi dokumen dan menghindari karantina setibanya di Brasil, mengingat mereka berada di Inggris dalam beberapa hari terakhir.

Messi mempertanyakan mengapa hal itu harus dilakukan di lapangan saat laga sudah berjalan, padahal skuat Argentina sudah berada di Brasil selama tiga hari.

“Kami sudah di sini selama tiga hari. Apakah mereka menunggu pertandingan dimulai? Mengapa tidak memperingatkan tentang ini sebelumnya atau di hotel? ucap Messi ke pihak offisial di lapangan seperti dikutip Football5Star.com dari Marca.

Dia melanjutkan, “Mereka bisa menjelaskan ini dan itu akan diselesaikan. Sekarang, dunia sedang menonton,”

Setuju dengan Lionel Messi, Pelatih Argentina Pertanyakan Maksud Insiden Ini
Brasil vs Argentina Dihentikan karena Pelanggaran Prokes - Empat Pemain Argentina Akan Dideportasi, Scaloni Pasang Badan
Marca

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mengakui dirinya kehabiskan kata-kata dengan insiden ini. Menurutnya, seharusnya laga ini menjadi pesta untuk semua orang.

“Saya sangat sedih. Saya tidak mencari siapa pelakunya. Ini bukan waktunya untuk melakukan hal seperti itu. Laga seharusnya jadi pesta untuk semua orang,” kata Scaloni kepada ESPN.

“Saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan situasi ini. Sebagai pelatih saya harus membela pemain saya. Jika orang datang mengatakan mereka ingin membawa pemain kami pergi atau mendeportasi mereka, kami harus melakukan sesuatu.”

CONMEBOL Serahkan Nasib Brasil vs Argentina kepada FIFA

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Induk sepak bola Amerika Selatan, CONMEBOL, menyerahkan keputusan mengenai laga Brasil vs Argentina ke tangan FIFA. Dalam pernyataan resminya, CONMEBOL mengatakan bawha Kualifikasi Piala Dunia 2022 bukan menjadi tanggung jawab utama pihak federasi.

Seperti yang diketahui, partai Brazil vs Argentina di Corinthians Arena pada Minggu (6/9) dinihari WIB hanya berjalan selama lima menit. Laga tersebut dihentikan karena ada empat penggawa Argentina yang dinyatakan melanggar protokol kesehatan dan terancam dideportasi.

Brasil vs Argentina - Comnebol - Goal
Goal

“Wasit dan panitia pertandingan akan menyerahkan laporan tertulis kepada komisi disiplin FIFA yang kemudian akan menentukan langkah-langkah selanjutnya. Prosedur ini sudah sesuai dengan aturan yang berlaku,” tulis pernyataan CONMEBOL.

“Kualifikasi Piala Dunia 2022 adalah kompetisi resmi di bawah naungan FIFA. Setiap keputusan terkait turnamen tersebut merupakan hak eksklusif FIFA.”

KEPUTUSAN FIFA TERKAIT LAGA BRASIL VS ARGENTINA

FIFA tak butuh waktu lama untuk mengeluarkan pernyataan resminya terkait nasib laga Brazil vs Argentina. Beberapa jam setelah CONMEBOL mengeluarkan pernyataan, FIFA langsung merilis keputusannya.

“FIFA mendukung keputusan wasit yang menunda laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Brasil vs Argentina. Detail mengenai langkah-langkah selanjutnya akan diumumkan dalam waktu dekat,” tulis FIFA.

Sementara itu, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, memastikan bakal membela nasib keempat pemainnya yang terancam dideportasi dari Brasil. Scaloni merasa bahwa membela anak asuhnya dalam situasi apa pun merupakan salah satu tanggung jawab terbesarnya sebagai pelatih timnas Argentina.

“Sebagai pelatih, saya harus membela pemain saya. Jika orang datang mengatakan mereka ingin membawa pemain kami pergi atau mendeportasi mereka, kami harus melakukan sesuatu,”ujar Scaloni dikutip dari ESPN.

Prediksi: Brasil vs Argentina

Prediksi Brasil vs Argentina
Prediksi: Brasil vs Argentina 24
Banner Gamespool Football5Star
PREDIKSI HASIL
Squawka
Brasil 0-0 Argentina
Sport Mole 
 Brasil 1-1 Argentina
Football Predictions
Brasil 1-0 Argentina
FOOTBALL5STAR
Brasil 0-1 Argentina

Arena Corinthians, Senin (6/9/2021) Pukul 02.00 WIB (Mola TV)

Football5Star.com, Indonesia – Pertandingan menarik akan tersaji di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Amerika Selatan yang mempertemukan dua rival abadi, Brasil vs Argentina. Kedua tim sudah akan bertemu lagi setelah bermain di final Copa America 2021.

Brasil berada di posisi pertama klasemen dengan raihan poin sempurna, 21 poin dari 7 laga. Bermain di kandang juga menjadi keuntungan, tetapi, Selecao punya masalah untuk jeda internasional saat ini.

Brasil tidak bisa diperkuat oleh pemain-pemain Premier League karena alasan masuk ke zona merah Covid-19. Jadi, Selecao tidak bisa diperkuat Thiago Silva, Fabinho, Gabriel Jesus, Richarlison dan dua kiper utamanya, Ederson dan Alisson.

Sedangkan Argentina mereka tetap bisa diperkuat oleh pemain-pemain Premier League, dengan begitu Emi Martinez, Cristian Romero dan Gio Lo Celso bisa bermain. Kemenangan di final Copa America 2021 juga bisa menjadi penyemangat.

REKOR PERTEMUAN
Prediksi Brasil vs Argentina (2)
Prediksi: Brasil vs Argentina 25
TREN PERFORMA
Prediksi Brasil vs Argentina (3)
Prediksi: Brasil vs Argentina 26
Banner Gamespool Football5Star
STATISTIK MENARIK
  • Pertemuan kedua tim jarang terjadi banjir gol, 4 dari 5 laga terakhir berakhir dengan skor 1-0.
  • Argentina berhasil menang di kandang Brasil di 2 dari 3 laga terakhir.
  • Brasil menang di 7 laga terakhirnya di Kualifikasi Piala Dunia 2022
  • Argentina tak terkalahkan di 7 laga terakhirnya di Kualifikasi Piala Dunia 2022.
  • Brasil mencatatkan cleansheet di 5 laga terakhirnya di Kualifikasi Piala Dunia 2022.
PELATIH
  • Kedua pelatih, Tite dan Lionel Scaloni bertemu 4 kali sebelumnya.
  • Rekor head to head sangat imbang dengan masing-masing meraih 2 kemenangan.
  • Rekor Tite melawan Argentina: 6 laga, 3 menang dan 3 kalah.
  • Rekor Scaloni melawan Brasil: 4 laga, 2 menang dan 2 kalah.
WASIT
  • Laga ini akan dipimpin oleh wasit asal Venezuela, Jesus Valenzuela.
  • Valenzuela sudah pernah memimpin 4 laga Kualifikasi Piala Dunia dengan catatan 16 kartu kuning dan 1 kartu merah.
  • Rekor Brasil saat diwasiti Valenzuela: 1 laga, 1 imbang.
  • Rekor Argentina saat diwasiti Valenzuela: 4 laga, 3 menang, 1 imbang.
PEMAIN KUNCI

Brasil

Top Scorer: Neymar (5 gol)
Top Assist: Neymar (4 assist)
Top Rating: Neymar (8,64)

Argentina

Top Scorer: Lautaro Martinez (3 gol)
Top Assist: Gio Lo Celso (3 assist)
Top Rating: Lionel Messi(7,64)

*Statistik di Kualifikasi Piala Dunia 2022 menurut Sofascore

BERITA PEMAIN

Brasil: Thiago Silva, Fabinho, Gabriel Jesus, Richarlison, Ederson dan Alisson tidak tersedia.
Argentina: –

PRAKIRAAN FORMASI

Prakiraan Formasi Brasil vs Argentina

Prediksi Brasil vs Argentina (4)
Prediksi: Brasil vs Argentina 27

Nostalgia Hari Ini: Pura-Pura Berdarah Dilempar Suar, Roberto Rojas Bikin Malu Cile

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – 3 September 1989 menjadi salah satu hari buruk bagi sepak bola Cile karena ulah pemainnya, Roberto Rojas. Sebab, saat itu Rojas berpura-pura berdarah usai dilempar suar yang membuatnya dapat hukuman berat.

Saat itu, Cile tengah bertandang ke markas Brasil dalam sebuah pertandingan kualifikasi Piala Dunia di Maracanã, Rio de Janeiro. Brasil memiliki selisih gol yang lebih baik dan bisa lolos dengan hasil imbang, sementara Cile membutuhkan kemenangan untuk melaju ke Piala Dunia di Italia.

Nostalgia Hari Ini: Pura-Pura Berdarah Dilempar Suar, Roberto Rojas Permalukan Cile
Footfair

Namun demikian, peluang mereka agak berat setelah striker Brasil, Careca mencetak gol menit ke-49. Nah, pertandingan disorot ketika masuk menit ke-70. Sebab, seorang pendukung Brasil melemparkan suar ke arah Roberto Rojas. Rojas pun jatuh ke tanah sambil memegangi wajahnya.

Rojas lantas ditandu ke luar lapangan dengan darah mengalir di wajahnya. Banyak yang khawatir dengan keselamatan. Bahkan, timnas Cile keluar dari lapangan dan pertandingan dibatalkan.

Nostalgia Hari Ini: Pura-Pura Berdarah Dilempar Suar, Roberto Rojas Permalukan Cile

Roberto Rojas Ternyata Bersandiwara

Usai situasi itu, pihak terkait lantas mencoba menyelidiki video pertandingan. Dari tayangan ulang, suar itu memang dilemparkan salah satu pendukung Brasil yang bernama Rosemary de Mello.

Namun demikian, yang menarik ternyata lemparan si suporter itu tak pernah mengenai Roberto Rojas. Penyelidik menentukan bahwa cederanya disebabkan oleh dirinya sendiri.

Roberto Rojas ternyata menggunakan pisau cukur yang disembunyikan di salah satu sarung tangannya untuk melukai wajahnya . Mereka juga menyimpulkan bahwa manajer Cile, Orlando Aravena, mengatur cedera pura-pura dengan Rojas dan tim dokter Daniel Rodriguez.

Mereka bersekongkol dalam situasi itu dengan harapan bahwa ofisial akan memberikan kemenangan WO kepada Cile atau, sebagai alternatif, pertandingan ulang.

Akan tetapi yang terjadi sebaliknya. Pertandingan ditentukan dengan kemenangan 2-0 Brasil. Sementara Roberto Rojas, Aravena, dan Rodriguez masing-masing menerima larangan seumur hidup dari FIFA.

Nostalgia Hari Ini: Pura-Pura Berdarah Dilempar Suar, Roberto Rojas Permalukan Cile

Selain itu, kapten tim Fernando Astengo menerima larangan lima tahun karena membawa tim keluar lapangan. Cile pun dilarang berpartisipasi di Piala Dunia 1994. Pada 2001, FIFA mencabut larangan terhadap Rojas, yang bekerja sebagai pelatih di São Paulo pada saat itu.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

Hasil Cile vs Brasil: Cetak 1 Gol, Selecao Masih Sempurna

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Brasil tetap sempurna pada Kualifikasi Piala Dunia 2022. Neymar cs. meraup 7 kemenangan dari 7 laga setelah menaklukkan Cile, Jumat (3/9/2021) pagi WIB. Laga Cile vs Brasil di Santiago berakhir 0-1. Satu-satunya gol Selecao dilesakkan Everton Ribeiro.

Seperti sudah diduga, pertarungan Cile vs Brasil pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 berlangsung seri dan sengit. Meskipun tampil dengan formasi 5-3-2, tuan rumah tidak bermain bertahan. Arturo Vidal cs. berani meladeni permainan terbuka sang tamu.

Laga Cile vs Brasil pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 berlangsung seru dan sengit sejak awal.
Getty Images

Pada babak pertama, La Roja justru lebih menguasai permainan dengan penguasaan bola mencapai 55%. Tim asuhan Martin Lasarte pun mampu melepaskan dua tembakan yang mengarah ke gawang Weverton. Adapun Brasil hanya sekali merepotkan Claudio Bravo.

Saling jual-beli serangan dengan pertarungan ketat di lini tengah membuat kedua tim jarang mendapatkan peluang emas. Alhasil, hingga babak pertama usai, kedua tim sama-sama gagal mencetak gol. Laga Cile vs Brasil pada babak pertama pun berakhir dengan skor 0-0.

Gol Langka Everton Ribeiro

Memasuki babak kedua, pertarungan Cile vs Brasil tetap berlangsung sengit. La Roja tetap mampu merepotkan Brasil dengan pertahanan kokoh dan keberanian melakukan tusukan. Pada menit ke-51, Vidal melepaskan umpan terobosan kepada Charles Aranguiz. Namun, Alex Sandro mampu menyapu bola dengan baik.

Pada akhirnya, gol tercipa saat pertandingan memasuki menit ke-64. Timnas Brasil unggul setelah Everton Ribeiro yang masuk pada awal babak kedua mampu menceploskan bola ke dalam gawang Cile. Dia dengan cepat menyambah bola muntah hasil tendangan Neymar yang diblok Bravo.

Arturo Vidal meladeni permainan Neymar.
Getty Images

Itu gol yang sangat langka. Dalam 12 caps sebelumnya, Everton Ribeiro hanya mencetak 1 gol. Itu terjadi pada fase grup Copa America 2021 saat Brasil menang 4-0 atas Peru. Kala itu pun, dia bersratus pemain cadangan yang masuk pada awal babak kedua.

Setelah gol Ribeiro, timnas Brasil makin intensif melakukan tekanan ke jantung pertahanan Cile. Mereka memanfaatkan momentum lini belakang La Roja yang goyah karena terpukul oleh gol Ribeiro yang cukup tak terduga. Namun, gol tambahan tak terjadi. Termasuk saat Bravo melakukan blunder dengan keluar dari kotak penalti pada injury time.

Susunan Pemain Cile vs Brasil

Cile (5-3-2): 1-Claudio Bravo, 4-Mauricio Isla, 5-Paulo Diaz (21-Carlos Palacios 69), 17-Gary Medel, 3-Guillermo Maripan, 2-Eugenio Mena, 20-Charles Aranguiz (14-Diego Valdes (78), 13-Erick Pulgar, 8-Arturo Vidal, 11-Eduardo Vargas, 7-Ivan Morales (10-Luis Jimenez 83)
Pelatih: Martin Lasarte

Brasil (4-4-2): 12-Weverton, 2-Danilo, 3-Eder Militao, 4-Marquinhos, 6-Alex Sandro, 17-Lucas Paqueta, 8-Bruno Guimaraes (18-Gerson 46), 5-Casemiro, 7-Vinicius Junior (11-Everton Ribeiro 46), 9-Gabriel Barbosa (19-Mateus Cunha 78), 10-Neymar
Pelatih: Adenor Leonardo Bacchi “Tite”

K. Kuning: Morales 79 – Pulgar 82, Maripan 90 – Guimaraes 45, Marquinhos 84, Neymar 90
K. Merah:
Wasit: Diego Mirko Haro

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dilarang Perkuat Timnas Brasil, Alisson Kecewa

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pemain Liverpool, Alisson Becker, kecewa karena dilarang untuk tampil di jeda internasional September nanti. Hal itu karena peraturan yang dibuat oleh pemerintah Inggris.

Pemerintah Inggris mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk mengubah kebijakan tentang kedatangan dari negara-negara zona merah Covid-19 atau memaksa klub Premier League untuk membiarkan pemain melakukan perjalanan untuk pertandingan kualifikasi Piala Dunia di daerah tersebut.

Liverpool Kembali Perpanjang Kontrak Salah Satu Bintangnya - Alisson
@LFC

Presiden FIFA Gianni Infantino telah menulis surat kepada Perdana Menteri Boris Johnson untuk meminta pengecualian bagi pemain untuk bermain di negara-negara zona merah selama jeda internasional mendatang.

Tetapi Pemerintah telah mengatakan bahwa kesehatan masyarakat adalah prioritas utama mereka dan kekhawatiran atas virus varian baru berarti tidak mungkin aturan tersebut dapat dilonggarkan untuk pesepakbola profesional.

Premier League mengumumkan bahwa hampir 60 pemain dari 19 klub dilarang untuk pergi ke kualifikasi Piala Dunia di 26 negara yang masuk ke daftar zona merah Pemerintang Inggris. Kualifikasi Piala Dunia 2022 akan diadakan pada awal sampai pertengahan September.

Alisson: Saya Ingin Bermain untuk Timnas

Dilarang Perkuat Timnas Brasil, Alisson Kecewa
Pinterest

Kiper Liverpool, Alisson salah satu yang terdampak peraturan itu. Mantan kiper AS Roma itu mengakui dirinya tak bisa berbuat banyak.

“Jujur, saya merasa tidak enak, karena saya ingin bermain untuk tim nasional saya, saya ingin bermain untuk Liverpool,” ucap Alisson seperti dikutip Football5Star.com dari Sky Sports.

Dia melanjutkan, “Saya tidak ingin dihukum untuk mengambil keputusan. Tapi, dari apa yang saya tahu, itu bahkan bukan keputusan, dan kami tidak bisa memilih terlalu banyak saat ini.”

RESMI! Atletico Madrid Dapatkan Penyerang Timnas Brasil

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Atletico Madrid mengumumkan bahwa mereka mendapatkan penyerang timnas Brasil, Matheus Cunha dari Hertha Berlin. Cunha diberi kontrak lima tahun.

Atletico Madrid saat ini memang mengincar striker, kemungkinan untuk bisa diduetkan dengan Luis Suarez di lini depan. Sebelumnya, Atletico mengincar penyerang Fiorentina, Dusan Vlahovic, tapi gagal mencapai kesepakatan.

Matheus Cunha - Atletico Madrid - liverpool. com

Juara bertahan La Liga itu akhirnya memilih untuk mendatangkan Cunha dari Hertha Berlin. Menurut laporan Fabrizio Romano, Los Rojiblancos merekrut Cunha dengan harga 26 juta euro dan Atletico juga memberi klausul penjualan 10 persen penjualan di masa depan untuk Hertha.

“Atletico de Madrid dan Hertha BSC telah mencapai kesepakatan atas transfer Matheus Cunha. Pemain Brasil (27 Mei 1999) telah menandatangani kontrak lima tahun. Selamat datang, Matheus Cunha!” tulis pernyataan Atletico seperti dikutip Football5Star.com dari laman resmi klub.

Karier Matheus Cunha

Pemain berusia 22 tahun ini merupakan pemain serba bisa yang bisa bermain di berbagai posisi, sebagai striker, winger, atau bahkan gelandang serang.

Produk dari akademi Coritiba, ia pindah ke Eropa pada 2017 untuk bergabung dengan FC Sion, di mana ia menghasilkan 10 gol dan delapan assist dalam 29 pertandingan.

Matheus Cunha - Atletico Madrid - SportBild
SportBild

Pemain asal Brasil itu kemudian bermain dua musim di RB Leipzig sebelum bergabung dengan Hertha BSC pada 2019. Di klub Bundesliga itu, ia telah mencetak 13 gol dan memberikan 10 assist.

Cunha dipanggil oleh Tim Nasional Brasil untuk menghadapi Bolivia dan Peru pada Oktober 2020. Musim panas ini, ia memenangkan medali emas di Olimpiade Tokyo, di mana ia memainkan peran utama.

Cunha menjadi starter di setiap pertandingan kecuali pertandingan semifinal melawan Mexico, ketika dia cedera, dan mencetak tiga gol.

Raih Medali Emas, Timnas Brasil Malah Dikritik Komite Olimpiade Brasil

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Brasil yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 tampil apik. Dani Alves dkk. meraih medali emas setelah menang 2-1 lewat perpanjangan waktu dari timnas Spanyol. Namun, kesuksesan itu tak disambut gembira oleh sebagian anggota kontingen Brasil lainnya.

Ada satu hal yang membuat anggota kontingen Brasil, bahkan Komite Olimpiade Brasil (COB), melancarkan kritik pedas. Saat pengalungan medali, para pemain timnas Brasil naik podium dengan mengenakan jersi. Padahal, pada cabang-cabang lain, atlet menerima medali dengan mengenakan jaket kontingen.

Timnas Brasil tak mengenakan jaket kontingen saat menerima medali emas Olimpiade Tokyo 2020.
terra.com.br

Penampilan para pemain timnas Brasil di atas podium itu mengejutkan. Lima tahun lalu, saat meraih medali emas dengan mengalahkan Jerman pada final, para pemain naik podium dengan mengenakan jaket kontingen seperti para atlet dari cabang-cabang lain.

Dalam pernyataan resminya, COB menyesalkan ulah timnas Brasil saat menerima medali emas. “Komite Olimpiade Brasil tak menyetujui sikap Asosiasi Sepak Bola Brasil (CBF) dan para pemain sepak bola saat penyerahan medali pada turnamen pria,” ujar COB seperti dikutip Football5Star.com dari Infobae.

Timnas Brasil Bukan Bagian Kontingen

Guna mencegah hal itu terulang pada waktu mendatang, COB akan mengambil langkah tegas. “Begitu olimpiade usai, COB akan mengumumkan aturan-aturan yang akan diberlakukan untuk melindungi hak-hak Gerakan Olimpiade, para atlet lain, dan para sponsor kami,” urai COB lagi.

Kecaman lebih keras datang dari Bruno Fratus, peraih medali perak dari cabang renang 50 m gaya bebas. Tanpa tedeng aling-aling, dia menyebut timnas Brasil bukanlah bagian dari kontingen Brasil di Olimpiade Tokyo 2020. Hal itu diungkapkan secara terbuka kepada publik lewat akun media sosialnya.

Bruno Fratus menuding timnas Brasil bukan bagian dari kontingen Brasil di Olimpiade Tokyo 2020.
Getty Images

“Pesan (dari tim sepak bola) sangat jelas. Mereka bukan bagian dari kontingen dan mereka tak peduli sama sekali. Mereka juga jelas-jelas menyendiri dan terputus dari begitu banyak atlet yang bukan jutawan seperti mereka,” kata Bruno Fratus dengan tegas dan sinis.

Kontingen Brasil mendulang 21 medali pada gelaran Olimpiade Tokyo 2020. Rinciannya, 7 medali emas, 6 medali perak, dan 8 medali perunggu. Salah satu medali emas dipersembahkan dari cabang sepak bola putra dengan menaklukkan Spanyol pada final di Yokohama.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Raih Emas di Olimpiade, Berapa Jumlah Gelar Dani Alves Saat Ini?

gamespool
Raih Emas di Olimpiade, Berapa Jumlah Gelar Dani Alves Saat Ini? 52

Football5Star.com, Indonesia – Brasil yang dikapteni oleh Dani Alves berhasil meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 setelah mengalahkan Spanyol 2-1 di final, (7/8/21). Hasil ini membuat Alves menambah koleksi gelarnya. Tapi sebenarnya berapa jumlah gelar yang didapatkan pemain berusia 38 tahun itu?

Brasil berhasil unggul terlebih dahulu lewat gol dari Matheus Cunha pada pengujung babak pertama. Spanyol membalas lewat gol cantik Mikel Oyarzabal pada menit ke-61 dan memaksa laga berlanjut sampai babak tambahan.

Berhasil Raih Emas di Olimpiade, Berapa Jumlah Gelar Dani Alves
@goal

Selecao berhasil mencetak gol pada menit ke-108 lewat aksi Malcom dan skor berakhir 2-1 hingga akhir pertandingan. Hasil ini membuat Brasil meraih medali emas dalam dua Olimpiade beruntun.

Namun sorotan pada laga ini tertuju pada sang kapten, Dani Alves. Pemain Sao Paolo itu merupakan pemain tersukses dalam sejarah sepak bola dalam hal trofi atau gelar, dan kini dia kembali menambah koleksinya. Tapi berapa jumlah gelar yang didapatkan Alves?

BT Sport dan Bleacher Report menyebut 43 gelar. Betting Odds menyebut 44 gelar. Ada juga yang menyebut 42 gelar. Menurut jurnalis Mirror, Colin Millar, itu semua benar. Millar menyebut total gelar Alves adalah 42. Tapi bisa menjadi 43 jika trofi Copa do Nordeste yang Alves menangkan bersama Bahia pada 2002 terhitung. Trofi itu adalah trofi pertama yang Alves menangkan dalam kariernya.

Tapi bisa menjadi 44 gelar jika gelar Piala Dunia U-20 yang Alves menangkan bersama Brasil pada 2003 dihitung. Mengingat Olimpiade merupakan ajang tim U-23, 44 gelar adalah total gelar yang Alves dapatkan sebenarnya jika dihitung dengan gelarnya di tim usia. Berikut 44 gelar yang Alves menangkan:

  • 6 La Liga
  • 5 Copa del Rey
  • 5 Piala Super Spanyol
  • 4 Piala Super Eropa
  • 3 Liga Champions
  • 3 Piala Dunia Antarklub
  • 2 UEFA Cup
  • 2 Ligue 1
  • 2 Trophee des Champions
  • 2 Copa America
  • 2 Piala Konfederadsi
  • 1 Serie A
  • 1 Coppa Italia
  • 1 Coupe de France
  • 1 Coupe de la Ligue
  • 1 Copa do Nordeste
  • 1 Campeonato Paulista
  • 1 Piala Dunia U-20
  • 1 Olimpiade

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Prediksi: Brasil vs Spanyol

cover brazil vs spanyol
Prediksi: Brasil vs Spanyol 60
Banner Gamespool Football5Star
PREDIKSI HASIL
Sports Mole
Brasil 2-1 Spanyol
Foot The Ball
 Brasil 1-0 Spanyol
Football Predictions
Brasil 1-1 Spanyol
FOOTBALL5STAR
Brasil 1-0 Spanyol

 

Stadion Internasional Yokohama, Sabtu (7/8/2021) Pukul 18.30 WIB (Vidio)

Football5Star.com, Indonesia – Pertandingan menarik akan tersaji di babak final cabang olahraga sepak bola putra Olimpiade Tokyo 2020 yang mempertemukan Brasil vs Spanyol. Kedua tim memang merupakan favorit untuk meraih medali emas.

Kedua tim sama-sama memanggil skuat terbaiknya di ajang Olimpiade ini, seperti Brasil U-23 yang memanggil Dani Alves, Richarlison, Douglaz Luiz dan Gabriel Martinelli. Dan Spanyol U-23 yang memanggil Marco Asensio, Pedri, Dani Olmo, Unai Simon dan Eric Garcia. Wajar saja dengan skuat seperti itu keduanya difavoritkan untuk menjadi juara.

Brasil U-23 yang merupakan juara bertahan sedikit lebih diunggulkan jika melihat dari segi performa di kompetisi ini. Tapi Spanyol tentu saja memiliki skuat yang di atas kertas jauh lebih mentereng. Laga Brasil vs Spanyol ini dimainkan di stadion Internasional Yokohama, stadion dimana Brasil berhasil meraih gelar juara Piala Dunia 2002.

REKOR PERTEMUAN
Head to heat Brazil vs Spanyol
Prediksi: Brasil vs Spanyol 61
TREN PERFORMA
Lima pertandingan terakhir Brazil vs Spanyol
Prediksi: Brasil vs Spanyol 62
Banner Gamespool Football5Star
STATISTIK MENARIK
  • Spanyol U-23 tak terkalahkan di 7 laga terakhirnya di semua kompetisi.
  • Brasil U-23 tak terkalahkan di 6 laga terakhirnya di semua kompetisi.
  • Brasil U-23 catatkan 3 cleansheet dari 4 laga terakhirnya di Olimpiade.
  • Spanyol U-23 catatkan hasil imbang dalam 90 menit di 4 dari 5 laga terakhirnya di Olimpiade
  • Pemain Brasil U-23, Richarlison merupakan topskorer kompetisi ini dengan catatan 5 gol.
  • Pemain Spanyol U-23, Pedri musim ini sudah bermain 72 kali bersama klub dan timnas.
PELATIH
  • Kedua pelatih, Luis de la Fuente dan Andre Jardine belum pernah bertemu sebelumnya.
  • Ini juga pertama kalinya kedua pelatih bertemu masing-masing lawannya.
WASIT
  • Laga Brasil vs Spanyol akan diwasiti oleh wasit asal Australia, Chris Beath.
  • Beath sebelumnya pernah dua kali memimpin laga Olimpiade dengan catatan dua kartu kuning.
  • Beath belum pernah memimpin laga Spanyol U-23.
  • Beath pernah memimpin satu laga Brasil U-23 di Olimpiade, yakni laga lawan Mesir U-23 di perempat final, Brasil U-23 menang 1-0 di laga itu.
PEMAIN KUNCI

Brasil U-23

Top Scorer: Richarlison (5 gol)
Top Assist: Bruno Guimares (2 assist)
Top Rating: Richarlison (7,95)

Spanyol U-23

Top Scorer: Rafa Mir (3 gol)
Top Assist: Mikel Oyarzabal, Dani Olmo (2 assist)
Top Rating: Mikel Oyarzabal, Pau Torres (7,38)

*Statistik di Olimpiade Tokyo 2020 Berdasarkan SofaScore

BERITA KEDUA TIM

Brasil U-23:
Spanyol U-23:

PRAKIRAAN FORMASI
line up Brazil vs Spanyol
Prediksi: Brasil vs Spanyol 63

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dramatis! Brasil Lolos ke Final Olimpiade 2020

gamespool
Dramatis! Brasil Lolos ke Final Olimpiade 2020 67

Football5star.com, Indonesia – Brasil sukses mengamankan tiket berlaga di partai final Olimpiade 2020. Mereka berhak meraih tiket ke babak final setelah menyudahi perlawanan Meksiko melalui drama adu penalti.

Tampil sebagai tim unggulan. Brasil langsung mengambil inisiatif serangan semenjak menit-menit awal. Akan tetapi, Selecao kesulitan menciptakan peluang berarti karena rapatnya lini belakang Meksiko.

Di babak kedua, Selecao kembali mengambil inisitif serangan. Pada menit ke-80, Richarlison nyaris membuka keunggulan Brasil. Akan tetapi, sundulan terukurnya digagalkan tiang gawang Guillermo Ochoa. Skor 0-0 tak berubah hingga waktu normal berakhir.

Olimpiade 2020 - Brasil - @miseleccionmxEN
twitter.com/miseleccionmxEN

Di babak tambahan, Selecao dan Meksiko sama-sama saling jual beli serangan. Akan tetapi, kedua tim tetap gagal membuka keunggulan dan laga harus ditentukan lewat babak adu penalti.

Di babak adu penalti, Brasil berhasil mencetak empat gol lewat Dani Alves, Gabriel Martinelli, Bruno Guimaraes dan Reinier Jesus. Sementara, Meksiko hanya mampu mencetak gol melalui Carlos Rodriguez.

Babak final Olimpiade 2020 rencananya akan digelar di Stadion Nissan, Yokohama, pada 7 Agustus mendatang. Selecao akan menghadapi pemenang laga Jepang vs Spanyol.

SUSUNAN PEMAIN MEKSIKO VS BRASIL:

Meksiko: 13-Guillermo Ochoa; 6-Vladimir Lorona, 3-Cesar Montes, 5-Johan Vasquez, 4-Jesus Angulo; 7-Luis Romo; 16-Jose Jaoquin Esquivel (Carlos Rodriguez 46′), 17-Sebastian Cordova (Jesus Angulo 78′, Eduardo Aguirre 98′); 15-Ariel Antuna (Diego Lainez 62′), 9-Henry Martin (Adrian Mora 98′), 11-Alexis Vega (Roberto Alvarado 90′)

Pelatih: Jaime Lozano

Brazil: 1-Santos; 13-Dani Alves, 15-Nino, 3-Diego Carlos, 6-Guilherme Arana; 5-Douglas Luiz (Mattheus Henrique 115′), 8-Bruno Guimaraes; 7-Paulinho (Gabriel Martinelli 67′), 20-Claudinho (Reinier Jesus 73′), 10-Richarlison; 11-Antony (Malcom 91′)

Pelatih: Andre Jardine

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jejak Tim Undangan pada Semifinal Piala Emas

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Qatar membuat kejutan besar pada Piala Emas 2021. Datang sebagai tim undangan, Al-Annabi mampu menembus semifinal setelah mengalahkan El Salvador pada perempat final dengan skor 3-2. Selain lolos ke semifinal Piala Emas, tim asuhan Felix Sanchez juga tampi mengesankan.

Meskipun demikian, kelolosan Qatar ke semifinal bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tim undangan menembus 4 besar bukanlah hal baru. Sebelumnya, beberapa tim berstatus undangan juga mampu melakukan hal serupa. Bahkan, bisa dikatakan, lolos ke semifinal adalah tradisi bagi tim-tim dengan status itu.

Duel semifinal sesama tim undangan terjadi pada Piala Emas 2000 ketika Peru melawan Kolombia.
Getty Images

Sebelum Qatar pada edisi kali ini, sudah ada enam tim undangan yang meramaikan pentas Piala Emas. Mereka adalah Brasil, Kolombia, Peru, Korea Selatan, Ekuador, dan Afrika Selatan. Dari keenam tim itu, hanya Ekuador dan Afrika Selatan yang gagal menembus semifinal. Brasil malah tiga kali lolos ke babak 4 besar Piala Emas.

Lalu, bagaimana rekam jejak tim undangan saat berlaga pada semifinal? Ternyata tidak bagus. Dari empat tim, hanya Brasil dan Kolombia yang mampu lolos ke final. Dua tim lainnya, yaitu Peru dan Korsel, kandas pada babak ini. Pada Piala Emas 2000, Peru disingkirkan Kolombia, sedangkan Korsel disisihkan Kosta Rika pada 2002.

Brasil Tim Undangan Tersukses

Dari tim-tim undangan yang pernah mewarnai Piala Emas, Brasil adalah yang tersukses. Tiga kali berpartisipasi pada 1996, 1998, dan 2003, Selecao selalu mampu lolos ke semifinal. Dari tiga kesempatan itu, mereka juga dua kali lolos ke final. Hanya pada 1998 mereka gagal karena dikalahkan Amerika Serikat.

Berbeda dengan Brasil, Kolombia hanya dua kali lolos ke semifinal Piala Emas dalam tiga partisipasi. Mereka melakukannya pada 2000 dan 2005. Adapun pada 2003, Los Cafeteros tersisih pada perempat final setelah dikalahkan Brasil. Dari dua kesempatan lolos ke final, Los Cafeteros hanya melaju ke final pada 2000 dengan mengalahkan Peru.

Timnas Brasil selalu masuk semifinal Piala Emas dalam 3 kesempatan jadi tim undangan.
Getty Images

Meskipun demikian, tak satu pun dari Brasil dan Kolombia yang kemudian tampil sebagai juara. Pada Piala Emas 1996, Brasil takluk 0-2 dari Meksiko. Empat tahun berselang, Kolombia kalah dengan skor yang sama dari Kanada. Adapun Brasil pada 2003 kembali takluk dari Meksiko. Kali ini dengan skor 1-0 lewat golden goal Daniel Osorno.

Ini tentu saja jadi tantangan tersendiri bagi timnas Qatar yang lolos ke semifinal Piala Emas 2021. Mereka dituntut bisa menyamai atau bahkan melebihi jejak Brasil dan Kolombia. Namun, misi itu dipastikan sulit karena Al-Annabi harus menghadapi timnas AS yang sepanjang sejarah hanya sekali kalah pada babak 4 besar.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Roberto Carlos: Timnas Brasil Kehilangan Pemain Seperti Jorginho

gamespool
Roberto Carlos: Timnas Brasil Kehilangan Pemain Seperti Jorginho 75

Football5Star.com, Indonesia – Legenda Brasil, Roberto Carlos, memuji penampilan pemain timnas Italia, Jorginho, di Euro 2020. Carlos menyebut bahwa timnas Brasil kehilangan pemain seperti Jorginho, yang mana dia juga sebenarnya lahir di Brasil.

Jorginho digadang-gadang menjadi kandidat kuat untuk bisa meraih Ballon d’Or tahun ini. Dia berhasil menjadi juara Euro 2020 bersama Italia dan Liga Champions bersama Chelsea. Carlos memuji permainan pemain kelahiran Imbituba, Brasil itu.

“Setiap tim top akan merindukan Jorginho, termasuk Brasil. Dia memiliki teknik, visi, dan ketenangan sedingin es. Dia selalu tahu hal terbaik untuk dilakukan,” ucap Carlos seperti dikutip Football5Star.com dari La Repubblica.

Roberto Carlos Timnas Brasil Kehilangan Pemain Seperti Jorginho
VBet

Dia dilanjutkan, “Ditambah lagi dia juga fantastis dalam memenangkan kembali bola, posisinya luar biasa dalam hal itu. Jorginho sangat menentukan untuk Italia, dan untuk Chelsea. Setelah dia membantu mereka memenangkan Liga Europa dan kemudian Liga Champions, para fans Inggris harus membangun patung dirinya.”

Roberto Carlos memberikan prediksinya di Piala Dunia 2022. Mantan pemain Real Madrid itu tetap menyebut Prancis punya keuntungan terlepas kegagalan mereka di Euro 2020.

“Seperti halnya Italia, saya pikir Prancis. Belgia dan Jerman akan memiliki suara mereka juga (di Piala Dunia 2022), tetapi Didier Deschamps memiliki skuad yang lebih lengkap, lebih berbakat secara teknis dan ambisius,” kata Carlos.

Dia melanjutkan, “Untuk Spanyol, butuh waktu untuk melihat mereka mencapai level dalam satu dekade terakhir. Ada bakat di sana, tetapi Anda tidak mendapatkan banyak pemain seperti Xavi dan Andres Iniesta.”

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Olimpiade 2020: Brasil Berpesta, Tiga Tim Unggulan Merana

gamespool
Olimpiade 2020: Brasil Berpesta, Tiga Tim Unggulan Merana 78

Football5star.com, Indonesia – Brasil sukses mengawali kiprahnya di Olimpiade 2020 dengan gemilang. Pada Kamis (22/7) malam WIB, Selecao memetik kemenangan 4-2 atas tim tangguh, Jerman.

Empat gol Selecao diciptakan oleh Richarlison (7′, 22′, 30′) dan Paulinho 90+4′. Sementara, sepasang gol Jerman dicetak oleh Nadiem Amiri (57′) serta Ragnar Ache (83′)

Nasib serupa tak dialami oleh tiga tim unggulan lainnya. Spanyol, Prancis dan Argentina. Spanyol hanya mampu memetik satu poin karena ditahan tanpa gol oleh Mesir. Sementara, Prancis dan Argentina menelan kekalahan mengejutkan atas lawannya masing-masing.

Pertandingan pekan kedua rencananya akan digelar pada Minggu (25/7) mendatang. Seluruh pertandingan bisa disaksikan lewat kanal televisi Indosiar maupun secara daring di laman serta aplikasi vidio.com.

HASIL PEKAN PERTAMA OLIMPIADE 2020:

Grup A:

  • Meksiko 4-1 Prancis (Ernesto Vega 47′, Francisco Cordova 55′, Carlos Antuna 80′, Eduardo Aguirre 90+1′ – Andre-Pierre Gignac 69′ [p])
  • Jepang 1-0 Afrika Selatan (Takefusa Kubo 71′)

Grup B:

  • Selandia Baru 1-0 Korea Selatan (Chris Wood 70′)
  • Honduras 0-1 Rumania (Elvin Oliva 45+1′ [bd])

Grup C:

  • Mesir 0-0 Spanyol
  • Argentina 0-2 Australia (Lachlan Wales 14′, Marco Tilio 80′)

Grup D: 

  • Pantai Gading 2-1 Arab Saudi (Abdulelah Al Amri 39′ [bd], Franck Kessie 66′ – Salem Al-Dawsari 44′)
  • Brasil 4-2 Jerman (Richarlison 7′, 22′, 30′, Paulinho 90+4′ – Nadiem Amiri 57′, Ragnar Ache 83′)
KLASEMEN FASE GRUP OLIMPIADE 2020:
Grup A:
Posisi Tim Selisih Gol Poin
1 Meksiko 3 3
2 Jepang 1 3
3 Afrika Selatan -1 0
4 Prancis -3 0

Grup B:

Posisi Tim Selisih Gol Poin
1 Selandia Baru 1 3
2 Rumania 1 3
3 Honduras -1 0
4 Korea Selatan -1 0

Grup C:

Posisi Tim Selisih Gol Poin
1 Australia 2 3
2 Mesir 0 1
3 Spanyol 0 1
4 Argentina -2 0

Grup D:

Posisi Tim Selisih Gol Poin
1 Brasil 2 3
2 Pantai Gading 2 3
3 Arab Saudi -1 0
4 Jerman -2 0

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Jelang Brasil vs Jerman: Selecao Dinilai Kuntz Punya 2 Keuntungan

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Matchday I penyisihan grup Olimpiade Tokyo 2020 akan diwarnai laga besar Brasil vs Jerman, Kamis (22/7/2021) pukul 18.30 WIB. Ini adalah ulangan partai final Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Jelang laga itu, Stefan Kuntz, pelatih Die Mannschaft, menilai lawan punya dua keuntungan.

Dibanding Jerman, Brasil dinilai Kuntz jauh lebih siap untuk berlaga di olimpiade kali ini. Dia mengakui tim lawan punya dua kelebihan. “Brasil punya kualitas individual tinggi. Lalu, kami, tim-tim Eropa, tak punya tim U-23. Ini jadi keuntungan tersendiri bagi Brasil karena mereka sudah lebih sering main bersama,” urai dia seperti dikutip Football5Star.com dari laman resmi DFB.

Stefan Kuntz menghadapi PR besar pada laga Brasil vs Jerman.
dfb.de

Tak punya tim U-23 membuat Kuntz harus berjuang keras membantuk tim baru untuk berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. Dia harus meramu pemain-pemain dari tim U-21 ditambah beberapa pemain lain yang masuk kategori. Sulitnya, dia mendapat penolakan dari klub-klub karena olimpiade digelar bertepatan dengan masa persiapan musim baru.

Meskipun demikian, Kuntz tidak melempar handuk sebelum bertanding. Dia sudah tahu hal yang harus dilakukan pada laga Brasil vs Jerman nanti. “Sejauh ini, kami hanya mengurusi diri sendiri. Namun, malam ini (sebelum laga), kami akan menyampaikan taktik kepada para pemain sehingga mereka bersiap dengan baik,” kata dia lagi.

Amiri Tak Sabar Jalani Laga Brasil vs Jerman

Salah satu modal yang dimiliki Stefan Kuntz untuk laga Brasil vs Jerman nanti adalah antusiasme para pemain. Max Kruse cs. sangat bersemangat melakoni laga-laga di olimpiade. Apalagi melawan Brasil yang mengalahkan Jerman pada perebutan medali emas lima tahun lalu.

“Aku sangat bersemangat. Seluruh anggota tim begitu antusias menatap laga pertama, terutama karena kami akan menghadapi Brasil,” kata Nadiem Amiri, satu dari tiga pemain senior yang dibawa Kuntz ke skuat timnas Jerman untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Nadiem Amiri tak sabar bersua Paulinho pada laga Brasil vs Jerman di Olimpiade Tokyo 2020.
dfb.de

Menurut Amiri, ketegangan di antara kedua kubu sudah meningkat. Hal itu terasa dari komunikasi dengan rekan sklubnya yang ada di skuat Brasil, Paulinho. “Pembicaraan kami tak sesantai biasanya. Aku sangat menantikan bertemu dia pada esok hari. Aku juga ingin mengalahkan dia dengan tim ini,” ujar Amiri.

Laga Brasil vs Jerman baru terjadi empat kali sepanjang sejarah olimpiade. Dari empat laga itu, hanya sekali mereka bersua pada penyisihan grup, yakni pada Olimpiade Los Angeles 1984. Kala itu, Selecao menang atas Die Mannschaft berkat gol Gilmar Popoca hanya 4 menit sebelum pertandingan usai.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Sejarah Pertemuan Brasil vs Jerman di Olimpiade

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Cabang sepak bola putra di Olimpiade Tokyo 2020 akan memulai fase grup pada Kamis (22/7/2021). Dari 8 laga di 4 grup, sorotan utama tentu saja pertarungan Brasil vs Jerman di Grup D. Laga itu rencananya digelar pada pukul 18.30 WIB dan akan ditayangkan televisi nasional di Indonesia.

Pertemuan timnas Brasil dengan Jerman memang istimewa. Pasalnya dua negara kuat dari benua berbeda itu sangat jarang bertemu pada ajang resmi. Di Piala Dunia, mereka baru dua kali bertemu. Di Piala Konfederasi pun baru dua kali bersua. Lalu, di olimpiade, laga nanti adalah yang kelima sepanjang sejarah.

Laga Brasil vs Jerman untuk kali pertama terjadi pada peempat final limpiade Helsinki 1952.
Getty Images

Laga Brasil vs Jerman untuk kali pertama tersaji pada Olimpiade Helsinki 1952. Kedua tim kala itu bersua pada babak perempat final. Die Mannschaft tampil sebagai pemenang. Tim asuhan Sepp Herberger menang 4-2 lewat perpanjangan waktu.

Pada laga itu, Brasil unggul terlebih dahulu melalu Larry pada menit ke-12 dan Zozimo saat laga memasuki menit ke-74. Semenit dari gol kedua Selecao, Jerman membalas lewat Willi Schoeder. Lalu, semenit jelang usai, Karl Klug menyeimbangkan keadaan jadi 2-2. Pada perpanjangan waktu, Schroeder dan Hans Zeitler memastikan Jerman menang 4-2.

Brasil vs Jerman Akhirnya Tersaji di Final

Partai Brasil vs Jerman berikutnya di Olimpiade Los Angeles 1984. Kali ini, kedua tim bersua pada penyisihan grup. Hasilnya pahit bagi Die Mannschaft. Andreas Brehme dkk. takluk 0-1 oleh gol Gilmar Popoca saat laga tinggal bersisa 4 menit. Meskipun demikian, mereka mampu lolos ke perempat final dengan finis sebagai runner-up grup.

Brasil dan Jerman kembali bersua pada edisi Olimpiade Seoul 1988. Laga akbar ini tersaji pada semifinal. Holger Fach membawa Jerman unggul 1-0 pada menit ke-50, tapi disamakan Romario Faria pada menit ke-79. Imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, laga harus dilanjutkan dengan adu penalti. Selecao berjaya, menang 3-2 setelah 3 eksekutor pertama Die Mannschaft gagal. Salah satunya adalah sang bintang, Juergen Klinsmann.

Pada akhirnya, laga Brasil vs Jerman tersaji pada final alias perebutan medali emas. Itu terjadi di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Seperti pada semifinal Olimpiade 1988, laga imbang 1-1 dalam 120 menit. Gol Neymar pada menit ke-26 dibalas Max Meyer pada menit ke-59. Pada adu penalti, Brasil menang 5-4 setelah Weverton menahan eksekusi penendang terakhir Jerman, Nils Petersen.

Menilik empat pertemuan terdahulu, laga Brasil vs Jerman selalu berjalan ketat. Bahkan, tiga pertandingan tak selesai dalam 90 menit. Hal ini jadi salah satu sebab pertemuan kedua tim pada penyisihan Grup D Olimpiade Tokyo 2020 sangat dinantikan walaupun skuat Selecao jauh lebih berkualitas dibanding Die Mannschaft.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Laga Brasil vs Jerman di Olimpiade Tokyo Tayang di Televisi Nasional

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Cabang olahraga sepak bola pada ajang Olimpiade Tokyo 2020 akan mulai digulirkan pada Kamis (22/7/2021). Salah satu laga menarik adalah pertemuan Brasil vs Jerman. Laga ini adalah ulangan final Olimpiade Rio de Janeiro. Ketika itu, Selecao menang adu penalti 5-4 setelah imbang 1-1.

Partai menarik tersebut dipastikan dapat disaksikan para pencinta sepak bola di Indonesia. Menurut rencana, TVRI akan menayangkan langsung pertarungan tim asuhan Andre Jardine dengan tim arahan Stefan Kuntz itu pada Kamis (22/7/2021) pukul 18.00 WIB.

Pertarungan Brasil vs Jerman terbilang langka pada pentas olimpiade. Laga di Yokohama nanti adalah yang kelima. Sebelumnya, kedua tim sama-sama meraih 1 kemenangan dan dua laga berakhir imbang. Namun, dua laga yang imbang tersebut akhirnya dimenangi Selecao lewat adu penalti.

Dua laga yang berlanjut hingga adu penalti itu terjadi pada dua pertemuan terakhir. Selain pada final Olimpiade Rio de Janeiro 2016, kedua tim harus melakoni adu penalti pada semifinal Olimpiade Seoul 1988. kala itu pun, mereka imbang 1-1. Bedanya, pada adu penalti, Selecao menang 3-2, bukan 5-4.

Brasil vs Jerman Tak Seimbang

Meskipun cenderung seimbang dan laga selalu berlangsung ketat, pertemuan Brasil vs Jerman pada Olimpiade Tokyo 2020 bisa jadi berbeda. Salah satu sebabnya, kekuatan tim yang tak seimbang. Brasil turun dengan kekuatan yang lebih baik. Mereka diperkuat Dani Alves, Richarlison, Matheus Cunha, Gabriel Martinelli, hingga Reinier.

Itu sungguh kontras dengan skuat Jerman. Kuntz bahkan hanya diperkuat 18 pemain. Padahal, panitia memperbolehkan setiap tim diperkuat 22 pemain. Gara-garanya, banyak klub tak mau melepas pemain untuk ikut olimpiade. Kabarnya, Kuntz telah menelepon 100 pemain dan akhirnya hanya mendapatkan 18 pemain.

Stefan Kuntz hanya membawa 18 pemain ke skuat Jerman untuk berlaga di Olimpiade Tokyo 2020.
dfb.de

Kesulitan itu membuat Kuntz sampai tak dapat membawa para pemain terbaik yang membawa Die Mannschaft juara EURO U-21. Tak ada nama Florian Wirtz, Ridle Baku atau Lukas Nmecha. Bahkan, pemain senior Lars Stindl yang tadinya siap bergabung pun mengurungkan niatnya demi menjalani persiapan bersama pelatih baru di klubnya.

Hingga jelang berangkat ke Jepang, tim Jerman masih mengalami perubahan. Di antaranya karena ada pemain yang harus mundur karena harus mengurusi perpindahan klub. Sebut saja Niklas Dorsch dan Ismail Jakobs. Alhasil, Die Mannschaft betul-betul compang-camping di Olimpiade Tokyo 2020 ini.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Dani Alves Kapten yang Sempurna untuk Brasil di Olimpiade

gamespool
Dani Alves Kapten yang Sempurna untuk Brasil di Olimpiade 92

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas U-24 Brasil, Andre Jardine, yakin pemanggilan Dani Alves ke dalam skuat untuk Olimpiade merupakan keputusan yang baik. Jardine menyebut bahwa Alves adalah kapten yang sempurna untuk Brasil.

Brasil masuk ke dalam Grup D di Olimpiade Tokyo 2020 dan berada satu grup dengan Jerman, Pantai Gading dan Arab Saudi. Di Olimpiade masing-masing tim boleh memanggil maksimal 3 pemain di atas usia 24 tahun, dan Brasil memanggil pemain Sao Paolo, Dani Alves yang sudah berusia 38 tahun.

Alves sebelumnya sudah bermain di dua Piala Dunia, empat Copa America dan dua Piala Konfederasi bersama Selecao. Alves juga merupakan pemain tersukses sepanjang sejarah sepak bola dalam hal gelar, dengan total 42 gelar juara dalam 20 musim. Tentu saja Alves bisa menambah koleksi medalinya jika berhasil membawa Brasil juara di Olimpiade ini.

Dani Alves merengkuh gelar juara ke-40 berkat keberhasilan timnas Brasil juara Copa America 2019.
tn.com.ar

Menurut pelatih Andre Jardine, pemanggilan Alves ke dalam skuat adalah untuk menjadi pemimpin dan menurutnya Alves sangat sempurna untuk menjadi kapten para pemain muda Selecao.

“Dia adalah seorang pemimpin, dia adalah seorang pemenang, dia memiliki banyak karisma dan dia sangat dihormati oleh semua pemain Brasil,” ucap Jardine seperti dikutip Football5Star.com dari Marca.

Jardine melanjutkan, “Dia adalah contoh yang bagus untuk generasi pemain yang kami miliki. Anehnya, dia tidak pernah berkompetisi di Olimpiade. Dia akan menjadi contoh bagi skuad dan pemimpin di lapangan permainan. Jika kita memikirkan seorang pemain siapa yang ingin menjadi juara … dia memiliki rekor penuh gelar karena suatu alasan.”

Dua pemain senior lainnya yang dipanggil oleh Jardine adalah kiper, Santos yang berusia 31 tahun dan bek Diego Carlos yang berusia 28 tahun. Beberapa pemain muda Brasil yang akan menjadi sorotan adalah Richarlison, Gabriel Martinelli, Douglas Luiz, Reinier, dan Matheus Cunha.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Muller Sebut Neymar sebagai Pemain yang Overrated

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Sebuah kritik pedas didapatkan Neymar setelah gagal mengantar timnas Brasil menjuarai Copa America 2021. Dia disebut sebagai pemain yang overrated oleh eks penyerang Selecao era 1990-an, Luiz Antonio Correa da Costa “Muller”.

Muller terang-terangan menyebut juniornya itu sebagai pemain yang tidak sebanding antara kemampuan dan harganya. Menurut dia, Paris Saint-Germain sudah berlaku bodoh mengeluarkan uang 222 juta untuk merekrut sang pemain dari Barcelona.

Luiz Antonio Correa da Costa Muller menilai Neymar tak sebanding dengan harganya saat diboyong PSG.
academic.com

“Saya kira dia itu overrated, tidak sesuai dengan uang yang dikeluarkan oleh Paris Saint-Germain. Selain itu, dia juga belum pernah meraih Ballon d’Or,” ucap Luiz Antonio Correa da Costa seperti dikutip Football5Star.com dari Tuttomercatoweb.

Lebih lanjut, Muller mengatakan, “Dia memang pemain bagus. Namun, dalam pandangan saya, pemain hebat bisa dihitung dengan jari satu tangan. Cristiano Ronaldo sudah membuktikan itu di lapangan. Neymar lebih berharga di luar lapangan ketimbang di dalam lapangan.”

Neymar Belum Raih Gelar Besar bersama Brasil

Kecaman Luiz Antonio Correa da Costa tidaklah berlebihan. Hingga saat ini, Neymar tetap berada di bawah bayang-bayang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Di PSG, dia belum bisa memberikan kontribusi luar biasa, terutama di Liga Champions. Prestasi terbaiknya hanya runner-up pada 2019-20.

Kontribusi Neymar juga belum terlihat di timnas Brasil. Dia belum mampu membawa Selecao menjuarai turnamen besar. Terakhir, di Copa America 2021, dia tak mampu membawa timnya menaklukkan Argentina meskipun laga dilangsungkan di kandang sendiri, Stadion Maracana.

Luiz Antonio Correa da Costa Muller adalah bagian timnas Brasil saat juara Piala Dunia 1994.
Twitter @OfficialWands

Di timnas Brasil, pemain jebolan Santos itu baru meraih satu gelar. Itu adalah juara Piala Konfederasi 2013. Saat Selecao juara Copa America 2019, pemain andalan PSG tersebut tak masuk skuat asuhan Adenor Leonardo Bacchi “Tite” karena mengalami cedera pergelangan kaki.

Soal prestasi di timnas, Neymar kalah dari Muller. Meskipun namanya kalah tenar dari Romario Faria, Bebeto atau Antonio Careca, dia adalah bagian tim saat juara Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Di level klub, dia sempat dua kali juara Copa Libertadores dan Piala Interkontinental bersama Sao Paulo.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Thiago Silva Kecam Orang Brasil yang Mendukung Argentina di Final

gamespool
Thiago Silva Kecam Orang Brasil yang Mendukung Argentina di Final 100

Football5Star.com, Indonesia – Pemain timnas Brasil, Thiago Silva, memberi kecaman kepada para orang Brasil yang mendukung Argentina di Copa America 2021. Silva kecewa mengapa ada orang yang bisa melakukan hal itu.

Pemain Chelsea itu mengunggah foto di akun Instagramnya dengan memberi caption kecaman kepada beberapa orang Brasil yang tidak mendukung negaranya.

Beberapa masyarakat Brasil tidak setuju dengan Brasil yang tiba-tiba menjadi tuan rumah Copa America 2021, terutama dengan adanya pandemi Covid-19 yang masih belum bisa diatasi di negara itu.

Thiago Silva - Chelsea - 40 tahun
Ace Football

Seperti yang diketahui, awalnya Copa America 2021 diselenggarakan di Argentina dan Kolombia, namun dengan berbagai alasan Brasil diputuskan untuk menjadi tuan rumah menggantikannya. Karena hal itu, beberapa masyarakat menyuarakan aksi protes dengan tidak mendukung Brasil di Copa America 2021, dan itu membuat Silva geram.

“Sekarang saatnya untuk mengisi ulang baterai kita dan kembali lebih kuat. Bagi mereka yang melawan kami, saya harap Anda senang!” ucap Silva seperti dikutip Football5Star.com dari akun Instagramnya.

Mantan pemain AC Milan itu melanjutkan, “Tapi jangan datang berpura-pura menjadi teman mencari sesuatu, seperti wawancara, tiket untuk anak-anak dan teman-teman Anda, jersey atau foto.”

Skuad Brasil sendiri awalnya menentang penyelenggaraan turnamen di negara mereka dan bahkan ada pembicaraan tentang boikot. Mereka akhirnya memutuskan untuk bermain tetapi merilis pernyataan yang mengkritik organisasi turnamen. Brasil sendiri akhirnya kalah oleh Argentina di babak final 1-0.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Ada Messi dan Neymar, Ini Best XI Copa America 2021

gamespool
Ada Messi dan Neymar, Ini Best XI Copa America 2021 104

Football5Star.com, Indonesia – CONMEBOL resmi merilis Copa America 2021 Team of the Tournament, Selasa (13/7/21). Pemain Brasil dan Argentina mendominasi daftar itu.

Copa America 2021 ditutup dengan laga klasik yang mempertemukan Brasil vs Argentina di babak final. Argentina keluar menjadi juara untuk pertama kalinya sejak 1993 dengan menang 1-0 dan itu adalah gelar ke-15 bagi mereka, terbanyak sepanjang sejarah Copa America bersama Uruguay. Gelar ini juga merupakan yang pertama untuk Messi bersama tim senior Argentina.

Sebagai juara, wajar saja Argentina menyumbang pemain terbanyak di daftar Copa America 2021 Team of the Tournament dengan total 4 pemain dan tentu saja Lionel Messi masuk ke dalam daftar. Brasil sebagai runner-up menyumbang 3 pemain dengan Neymar menjadi salah satunya.

Copa America 2021 - Lionel Messi
Goal

Lalu Cile, Ekuador, Peru, dan Kolombia masing-masing menyumbang satu pemain. Tak ada satu pun pemain Uruguay yang berhasil masuk. Berikut daftar lengkapnya:

(4-3-3): Emi Martinez (Argentina); Mauricio Isla (Cile), Cristian Romero (Argentina), Marquinhos (Brasil), Pervis Estupinan (Ekuador); Rodrigo De Paul (Argentina), Casemiro (Brasil), Yoshimar Yotun (Peru); Lionel Messi (Argentina), Neymar (Brasil), Luis Diaz (Kolombia).

Penghargaan Lain

Messi berhasil mendapatkan penghargaan Pemain Terbaik Turnamen dan juga top skorer bersama Luis Diaz dengan masing-masing mencetak 4 gol.

Penghargaan Kiper Terbaik jatuh ke kiper Argentina, Emi Martinez dengan performa impresifnya, terutama di laga melawan Kolombia. Penghargaan Fair Play diberikan kepada Brasil.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Hasil Argentina vs Brasil: Di Maria Bantu Lionel Messi Akhiri Penantian

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Penantian Lionel Messi untuk meraih trofi bersama timnas Argentina akhirnya usai. Di Stadion Maracana, Minggu (11/7/2021) pagi WIB, La Albiceleste meraih kemenangan pada final Copa America 2021. Laga Argentina vs Brasil berakhir 1-0 berkat gol tunggal Angel Di Maria. Setelah 16 tahun berlalu dari debutnya dan mencapai caps ke-151, La Pulga akhirnya mengangkat trofi bersama La Albiceleste.

Final impian antara Argentina dan Brasil dimulai dengan kehati-hatian. Kedua tim sama-sama tak bermain terbuka. Adu pressing terjadi di semua lini. Benturan antarpemain juga juga berkali-kali tersaji. Alhasil, peluang emas jadi sesuatu yang sangat langka.

Pada akhirnya, gol tercipta pada menit ke-22. Sebuah umpan terobosan dari Rodrigo De Paul ke sebelah kiri pertahanan Brasil gagal dihalau Renan Lodi. Bola pun mampu dijangkau Angel Di Maria yang lantas masuk ke kotak penalti dan mengirimkan tendangan lob dengan kaki kirinya melewati kiper Ederson Moraes.

Tertinggal satu gol, Brasil coba meningkatkan intensitas serangan. Namun, pertahanan kokoh Argentina membuat mereka kesulitan menciptakan peluang. Berkali-kali aliran bola, terutama umpan-umpan akhir ke kotak penalti mentah karena mampu diblok oleh Cristian Romero cs. Alhasil, hingga babak pertama usai, kedudukan tetap 1-0.

Akhir Tradisi Apik Brasil

Memasuki babak kedua Argentina vs Brasil, Tite coba mengubah lini serang Brasil dengan memasukkan Roberto Firmino. Namun, justru Richarlison yang unjuk gigi. Pada menit ke-51, dia berhasil mencetak gol tapi dianulir gara-gara offside. Dua menit kemudian, tendangan kerasnya di dalam kotak penalti masih mampu diblok Emiliano Martinez.

Di tengah gempuran habis-habisan yeng dilakukan Brasil, Argentina yang justru mendapatkan peluang emas pada menit ke-88. De Paul melepaskan umpan terobosan ke kotak penalti dan mengarah tepat ke posisi Lionel Messi. Namun, dalam posisi satu lawan satu, La Pulga gagal menguasai bola yang coba digocek yang lantas ditangkap Ederson Moraes.

Meskipun demikian, takdir juara sudah digariskan untuk Lionel Messi dan timnas Argentina di Copa America 2021. Injury time sebanyak 5 menit tak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Brasil. Alhasil, kedudukan akhir Argentina vs Brasil pada final Copa America 2021 pun tetap 1-0.

Hasil laga Argentina vs Brasil pada final Copa America 2021 ini memutus tradisi apik Selecao di kandang sendiri. Sebelumnya, dalam lima kesempatan menjadi tuan rumah Copa America, Selecao selalu juara. Mereka selalu jaid yang terbaik pada 1919, 1922, 1949, 1989, dan 2019.

Adapun bagi Argentina, ini mengakhiri penantian selama 28 tahun. Kali terakhir mereka juara Copa America yang digelar di Ekuador pada 1993. Ketika itu, Gabriel Batistuta cs. menang 2-1 atas Meksiko pada laga final. Setelah itu, La Albiceleste hanya jadi runner-up pada 2004, 2007, 2015, dan 2016.

Susunan Pemain Argentina vs Brasil

Argentina (4-4-2): 23-Emiliano Martinez, 4-Gonzalo Montiel, 13-Cristian Romero (6-German Pezzella 79), 19-Nicolas Otamendi, 8-Marcos Acuna, 11-Angel Di Maria (14-Exequiel Palacios 79), 7-Rodrigo De Paul, 5-Leandro Paredes (18-Guido Rodriguez 54), 20-Giovani Lo Celso (3-Nicolas Tagliafico 63), 10-Lionel Messi, 22-Lautaro Martinez (15-Nicolas Gonzalez 80)
Pelatih: Lionel Scaloni

Brasil (4-3-3): 23-Ederson Moraes, 2-Danilo, 4-Marquinhos, 3-Thiago Silva, 16-Renan Lodi (13-Emerson 76), 17-Lucas Paqueta (21-Gabriel Barbosa 76), 5-Casemiro, 8-Fred (20-Roberto Firmino 46), 19-Everton (18-Vinicius Junior 63), 10-Neymar, 7-Richarlison
Pelatih: Adenor Leonardo Bacchi “Tite”

K. Kuning: Paredes 22, Lo Celso 51, Otamendi 81, Montiel 89 – Fred 3, Lodi 70, Paqueta 72, Marquinhos 82
K. Merah:
Wasit: Esteban Ostojich

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Menguak Rekor Lionel Messi vs Brasil dan Neymar vs Argentina

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Argentina akan bertarung melawan timnas Brasil dalam perebutan gelar juara Copa America 2021 di Stadion Maracana, Minggu (11/7/2021) pagi WIB. Pertarungan Lionel Messi dengan Neymar dipastikan jadi sorotan utama pada laga Argentina vs Brasil tersebut.

Pertemuan Messi dengan Neymar pada pentas internasional pun terbilang jarang. Sebelum laga nanti, kedua bintang tersebut baru saling berhadapan sebanyak 4 kali. Rinciannya, tiga kali pada laga persahabatan dan sekali pada Kualifikasi Piala Dunia.

Lionel Messi dan neymar bersua di lapangan untuk kali pertama pada 17 November 2010.
Getty Images

Hasil yang diraih Messi dan Ney juga seimbang. Mereka sama-sama meraup dua kemenangan. Sang megabintang Barcelona membawa Argentina menang atas Brasil dalam pertemuan pada 17 November 2010 dan 9 Juni 2012. Sementara itu, Ney membawa Brasil memecundangi Argentina dalam laga pada 11 Oktober 2014 dan 11 November 2016.

Akan tetapi, kontribusi Messi pada empat pertemuan dengan Neymar tersebut lebih menonjol. Buktinya, dia mampu mendulang 4 gol. Dari jumlah itu, 3 gol dilesakkan saat LA Albiceleste menang 4-3 atas Selecao pada 9 Juni 2012. Adapun Neymar hanya mencetak 1 gol dan 2 assist dalam empat pertemuan tersebut.

Rekor Lionel Messi vs Brasil

Sepanjang kariernya, Lionel Messi sudah cukup sering menghadapi timnas Brasil. Dia tercatat telah 11 kali membela timnas Argentina menghadapi seteru utama di Amerika Selatan tersebut. Hasilnya, tidaklah menggembirakan. La Albiceleste hanya meraup 4 kemenangan. Sisanya, 1 kali imbang dan 6 kali kalah.

Dalam 10 pertemuan itu, La Pulga tercatat membukukan 5 gol. Menariknya, La Albiceleste selalu merengkuh kemenangan bila sang megabintang mencetak gol. Pada 17 November 2010 dan 15 Oktober 2019, gol tunggal La Pulga membawa La Albiceleste menang 1-0.

Performa terbaik Messi saat menghadapi Brasil tentu saja saat bersua pada laga persahabatan yang berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat. Dia membuat hat-trick pada laga tersebut dan mengantar Argentina menang 4-3. Golnya pada menit ke-85 jadi penentu kemenangan La Albiceleste atas Selecao.

Mencetak hat-trick pada laga superclasico Argentina vs Brasil adalah prestasi tersendiri. Messi adalah pemain terakhir yang mampu melakukannya. Sebelum dia pun hanya ada 8 pemain yang membukukan prestasi tersebut. Mereka adalah Manuel Seoane, Carlos Peucelle, Norberto Mendez, Jose Sanfilippo, Pele, Ze Roberto, Rivaldo, dan Ronaldo.

Rekor Neymar vs Argentina

Jika Messi sudah 11 kali melawan Brasil, Neymar telah 10 kali melawan Argentina. Namun, berbeda dengan La Pulga, rekornya lebih baik. Pasalnya, dia mampu membawa Selecao membukukan 5 kemenangan, 2 kali imbang, dan 3 kali kalah. Artinya, persentase kemenangannya adalah 50%.

Soal kontribusi, pemain yang kini jadi andalan Paris Saint-Germain tersebut juga tak kalah dari La Pulga. Dalam 10 pertandingan melawan La Albiceleste, dia berkontribusi dalam 7 gol Selecao. Rinciannya, dia mencetak 3 gol dan 4 assist. Soal koleksi gol, dia kalah dari La Pulga, tapi justru unggul telah dalam torehan assist.

Seperti halnya Messi, gol-gol Neymar juga bertuah bagi Brasil saat melawan Argentina. Buktinya, setiap dia mencetak gol, Selecao selalu meraih kemenangan. Adapun performa terbaiknya adalah saat Selecao menghadapi La Albiceleste pada 20 September 2012.

Pada laga persahabatan di Goias itu, Neymar jadi sosok sentral. Dia mencetak 1 gol dan 1 assist yang membuat Brasil menang 2-1 atas Argentina. Dia pula sang penentu kemenangan lewat eksekusi penalti pada pengujung laga setelah Leandro Desabato melakukan handball di kotak terlarang.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Laga Bersejarah Argentina vs Brasil Sepanjang Masa

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Final impian sudah terwujud pada gelaran Copa America 2021. Timnas Argentina akan bersua timnas Brasil. Laga Argentina vs Brasil dijadwalkan berlangsung di Stadion Maracana, Minggu (11/7/2021) pagi WIB. Ini adalah kali ketiga kedua tim bersua pada laga puncak sejak partai final diberlakukan pada perhelatan Copa America.

Berdasarkan catatan yang ada, laga di Stadion Maracana nanti akan jadi pertemuan ke-112 La Albiceleste dengan Selecao. Tentu saja, para pencinta sepak bola mengharapkan laga nanti menyuguhkan pertarungan menarik. Selain karena rivalitas panjang yang sudah terbentuk sejak 1914, kedua tim juga tengah dalam tren apik.

Dalam beberapa edisi, pertemuan Argentina vs Brasil memang fenomenal dan lekat pada ingatan banyak penggila sepak bola. Berikut ini, Football5Star.com menyuguhkan 5 laga bersejarah La Albiceleste vs Selecao dari 1914 hingga saat ini.

1. Pembantaian di Buenos Aires

Sepanjang sejarah, skor kemenangan terbesar laga Argentina vs Brasil adalah 6-1. Kemenangan it dibukukan La Albiceleste pada laga pertama Copa Roca 1940 di Buenos Aires. Sebelumnya, kemenangan terbesar adalah 5-1 yang dibuat Argentina di Rio de Janeiro pada 1939 dalam ajang yang sama.

Dalam laga yang berlangsung pada 5 Maret 1940, Argentina benar-benar terlalu perkasa bagi Brasil. Baru 2 menit laga berjalan, Herminio Masantonio sudah menjebol gawang Aymore Moreira. Berikutnya, Carlos Peucelle secara beruntun mencetak gol pada menit ke-31 dan 50. Sempat dibalas Jair pada ke-73, Peucelle dan Emilio Baldonedo bergantian menjebol gawang Selecao pada menit ke-76 dan 78. Pesta gol lantas ditutup Masantonio hanya 5 menit jelang laga usai.

2. Skandal “Air Suci” di Italia

Argentina bersua Brasil pada babak 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia. Dalam laga di Stadion Delle Alpi, Turin, La Albiceleste menang 1-0 berkat gol tunggal Claudio Cannigia pada menit ke-80. Menerima umpan manis Diego Maradona, sang striker menaklukkan Claudio Taffarel. Itu jadi kemenangan pertama La Albiceleste atas Selecao pada ajang Piala Dunia. Sebelumnya, mereka menelan 2 kekalahan dan sekali imbang.

Kemenangan itu pun diwarnai tuduhan tak mengenakkan. Bek kiri Brasil, Claudio Branco, menuding Argentina berlaku curang. Dia menyebut ofisial La Albiceleste memberi dia air minum yang sudah dibubuhi obat penenang saat merawat pemain yang cedera. Tuduhan itu tentu saja dibantah kubu Argentina. Di antaranya oleh Maradona dan pelatih Carlos Bilardo.

3. The Battle of Santiago

Salah satu pertarungan tersengit Argentina vs Brasil tersaji pada putaran grup 4 besar Copa America 1991. Bersua di Estadio Nacional, Santiago, La Albiceleste menang 3-2. Tiga gol Argentina semuanya berasal dari sundulan. Dua dari Dario Franco dan satu dari Gabriel Batistuta. Ketiga gol itu pun berasal dari assist Leonardo Rodriguez.

Akan tetapi, bukan statistik itu yang paling diingat, melainkan 5 kartu merah yang mewarnai laga tersebut. Pada menit ke-31, Mazinho dan Claudio Cannigia diusir wasit Carlos Maciel karena kontak fisik menyusul tekel dalam perebutan bola. Setengah jam kemudian, giliran Carlos Enrique dan Marcio Bittencourt yang dikartu merah. Lalu, 10 menit jelang usai, giliran Careca Bianchezi yang menerima kartu merah.

4. “Tangan Setan” Tulio

Pertarungan Argentina vs Brasil pada perempat final Copa America 1995 termasuk duel yang bersejarah dan paling diingat karena satu insiden. Itu adalah “tangan setan” Tulio Maravilha yang lantas berbuah gol penyama kedudukan 2-2 dan memaksa pertandingan ditentukan lewat adu penalti.

Pada laga itu, Argentina dua kali unggul yang membuat kedudukan 2-1 saat babak pertama usai. Kedudukan itu bertahan hingga insiden kontroversial terjadi hanya 9 menit jelang pertandingan berakhir. Menerima umpan lambung Jorginho, Tulio mengontrol bola dengan tangannya, lalu menaklukkan kiper Rolando Cristante. Pada adu penalti, La Albiceleste lantas kalah 2-4.

5. Final Dramatis Copa America 2004

Untuk kali pertama, laga Superclasico berlangsung pada final Copa America. Itu tersaji di Peru 2004. Laga di Estadio Nacional, Lima, itu sangat menyesakkan bagi La Albiceleste asuhan Alfio Basile. Dua kali unggul, mereka justru harus menerima pil pahit dan gagal juara.

Laga baru berjalan 21 menit, Argentina unggul berkat penalti Kily Gonzalez. Namun, pada menit akhir babak pertama, sundulan Luisao membuat kedudukan imbang 1-1. Hanya 3 menit jelang laga usai, La Albiceleste kembali unggul berkat sepakan Carlos Delgado. Namun, lagi-lagi Selecao menyamakan kedudukan pada menit akhir. Kali ini lewat Adriano. Pada adu penalti, La Abiceleste takluk 2-4.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Teco Prediksi Timnas Brasil akan Bikin Lionel Messi Gigit Jari

Banner Gamespool Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih Bali United, Stefano Cugurra Teco, turut memprediksi laga final Copa America 2021 antara Timnas Brasil vs Argentina. Dia sangat yakin negaranya bakal bikin Lionel Messi cs gigit jari dalam partai yang berlangsung Minggu (11/7) pagi WIB.

Seperti diketahui, partai final Copa America 2021 memang menyajikan pertandingan klasik dua negara dengan sejarah panjang di Amerika Selatan dan dunia. Keduanya bersua setelah Brasil lebih dahulu lolos usai menyingkirkan Peru di semifinal.

Lalu, keesokan harinya gantian Argentina yang menunjukkan kelasnya. Lionel Messi dan rekan-rekan menang 3-2 atas Kolombia via adu penalti setelah main imbang 1-1 pada waktu normal.

Neymar menyindir orang Brasil yang mendukung timnas Argentina pada final Copa America 2021. Teco Prediksi Timnas Brasil akan Bikin Lionel Messi Gigit Jari

Teco pun mengakui kalau partai nanti akan berjalan sengit. Tapi, dia sangat yakin Brasil akan menunjukkan kelasnya dalam laga final nanti. “Saya pikir Brasil akan berhasil memenangkan laga final Copa America nanti. Brasil punya semangat tinggi buat lawan Argentina,” ujar mantan pelatih Persija Jakarta itu dalam laman resmi Bali United.

Dalam sejarah pertemuan, Brasil sudah 34 kali melawan Argentina sejak 1975. Tim Samba mendominasi dengan meraih 19 kemenangan berbanding 8 milik La Albiceleste, sedang tujuh lainnya berakhir imbang.

Sedang, pada Copa America sejak 1995, Brasil pun selalu menang atas Argentina, meski dua di antaranya melalui adu penalti. Brasil dan Argentina pun sudah dua kali bertemu di final Copa America, yakni ediisi 2004 dan 2007. Keduanya sukses dimenangi oleh Brasil.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

5 Fakta Menarik Sejarah Pertemuan Argentina vs Brasil

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Final Copa America 2021 memunculkan laga superclassico. Timnas Argentina berjumpa dengan timnas Brasil. Laga Argentina vs Brasil itu akan berlangsung di Stadion Maracana pada Minggu (11/7/2021) pagi WIB. Pada semifinal La Albiceleste menang adu penalti atas Kolombia, sedangkan Selecao menaklukkan Peru.

Pertandingan Argentina vs Brasil pada final nanti sangat dinantikan oleh para pencinta sepak bola dunia. Bukan apa-apa, kedua tim ini jarang saling bunuh pada turnamen besar. Apalagi, laga nanti diwarnai kesumat dendam La Albiceleste yang dikalahkan Selecao pada semifinal Copa America 2019.

Terlepas dari hal itu, ada begitu banyak fakta menarik dalam sejarah pertemuan Argentina vs Brasil sepanjang masa. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta di antaranya.

1. Brasil Unggul Tipis atas Argentina

Timnas Brasil lebih unggul dalam rekor pertemuan dengan timnas Argentina.
Getty Images

Sepanjang sejarah, pertemuan Argentina vs Brasil telah berlangsung 111 kali. Dari jumlah itu, timnas Brasil mereguk 46 kemenangan. Selecao unggul tipis dari timnas Argentina yang membukukan 40 kemenangan. Adapun 25 pertemuan kedua tim ini berakhir imbang.

Dari total 111 pertemuan itu, lebih dari setengahnya adalah laga persahabatan, termasuk pada turnamen lokal. Tercatat ada 65 edisi pertemuan La Albiceleste vs Selecao yang berlangsung dengan tajuk ini. Sisanya, 33 kali di Copa America, 4 kali di Piala Dunia, 8 kali di Kualifikasi Piala Dunia, dan 1 kali di Piala Konfederasi.

2. Argentina Unggul di Copa America

Pertemuan Argentina vs Brasil pada ajang Copa America lebih sering dimenangi La Albiceleste.
Getty Images

Meskipun secara total kalah dari timnas Brasil, timnas Argentina justru unggul pada pertemuan di Copa America. Dalam 33 pertandingan, La Albiceleste memetik 15 kemenangan. Mereka unggul 5 kemenangan atas Selecao. Sementara itu, 8 pertemuan pada ajang internasional terakbar di Amerika Selatan tersebut berakhir imbang.

Menariknya, Argentina justru inferior saat bersua Brasil pada fase gugur Copa America. Dari 6 edisi Argentina vs Brasil, hanya sekali La Albiceleste lolos ke babak berikutnya. Itu terjadi pada perempat final Copa America 1993. La Albiceleste menang 6-5 lewat adu penalti setelah imbang 1-1.

3. Javier Zanetti Tersering Tampil

Javier Zanetti tampil dalam 16 laga Argentina vs Brasil pada berbagai ajang.
Getty Images

Di antara sekian banyak pemain yang pernah terlibat dalam perseteruan timnas Argentina vs timnas Brasil, Javier Zanetti punya catatan tersendiri. Pria yang kini jadi Wakil Presiden Inter Milan itu adalah pemain yang paling sering tampil dalam laga La Albiceleste vs Selecao.

Sepanjang kariernya bersama timnas Argentina dari 1994 hingga 2011, Zanetti tercatat 16 kali menghadapi Brasil. Dia hanya absen sekali, yakni dalam laga pada 2 September 2006. Dari 16 laga melawan Selecao, dia hanya memetik 5 kemenangan. Sisanya, 8 kali kalah dan 3 kali imbang. Dari 3 kali imbang, 2 kali Argentina lantas kalah lewat adu penalti.

4. Argentina vs Brasil pada Partai Final

Dari sekian banyak pertemuan yang telah dilakoni, laga Argentina vs Brasil jarang tersaji pada partai final. Laga Minggu pagi WIB nanti adalah kesempatan keempat. Dua final terdahulu dijalani pada Copa America, sedangkan satu final lainnya pada ajang Piala Konfederasi. Pada tiga final itu, Selecao selalu unggul.

Argentina dan Brasil secara beruntun bertemu pada final Copa America 2004 dan 2007. Pada dua kesempatan itu, Selecao selalu juara. Di Peru 2004, mereka menang adu penalti 4-2 setelah imbang 2-2. Adapun Di Venezuela 2007, Selecao menang 3-0. Sementara itu, pertemuan di final Piala Konfederasi 2013 berakhir 4-1 bagi Brasil.

5. Pele Tertajam pada Laga Argentina vs Brasil

Total, dalam 111 edisi pertemuan Argentina vs Brasil sejak 1914 telah tercipta 330 gol. Pemain yang jadi pencetak gol terbanyak adalah sang legenda, Pele. Pria berjuluk Perola Negra itu mengemas 8 gol dalam 10 kesempatan bersua La Albiceleste. Dia unggul atas Leonidas da Silva dan Emilio Baldonedo dengan 7 gol masing-masing.

Dari 8 gol yang dicetak Pele saat melawan Argentina, 3 di antaranya dilesakkan dalam satu laga. Itu terjadi pada 16 April 1963 ketika Selecao menang 5-2 atas La Albiceleste. Perola Negra adalah pemain Brasil pertama yang mampu membuat hat-trick di gawang Argentina.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

Final Copa America 2021: Neymar Sindir Orang Brasil yang Dukung Argentina

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Argentina vs Brasil adalah laga superclassico. Menilik rivalitas yang terjalin sedemikian lama, seharusnya orang Brasil hanya akan mendukung Selecao dan orang Argentina hanya mendukung La Albiceleste. Namun, faktanya, ada orang Brasil yang justru mendukung Argentina. Hal itu membuat Neymar sangat kesal.

Jelang laga Argentina vs Brasil pada final Copa America 2021 di Stadion Maracana, Minggu (11/7/2021) pagi WIB, Neymar melontarkan sindiran kepada orang-orang Brasil yang tak mendukung Selecao. Dia mengaku heran bukan kepalang terhadap mereka yang justru berharap La Albiceleste yang berjaya.

Bagi eks rekan Lionel Messi di Barcelona itu, orang Brasil harus mendukung wakil negaranya di kompetisi apa pun. Bukan hanya Selecao di Copa America atau ajang lain, melainkan juga atlet-atlet, para musisi, sineas, dan orang-orang lain yang berkompetisi di pentas internasional.

Neymar mengecam orang Brasil yang justru mendukung timnas Argentina.
Instagram @neymarjr

“Aku adalah orang Brasil yang sangat bangga dan cinta. Impianku selalu membela timnas dan mendengarkan orang-orang bernyanyi. Aku tak pernah dan tak akan pernah menyerang orang Brasil yang melakukan sesuatu. Pada olahraga apa pun, kontes model, Oscar,” ujar Neymar seperti dikutip Football5Star.com dari akun Instagram-nya.

Bintang timnas Brasil yang kini membela Paris Saint-Germain tersebut lebih lanjut mengungkapkan sindiran pedasnya kepada orang Brasil yang malah mendukung lawan. “Bagaimana jika ada orang Brasil yang melakukan hal berkebalikan? Oke, aku akan menaruk respek, tapi pergilah ke ..,” kata dia.

Neymar Baru Sekali Juara bersama Selecao

Tak jelas betul kepada siapa sindiran dan kecaman itu dilontarkan oleh eks bintang Santos itu. Namun, satu hal yang pasti, ada orang Brasil yang begitu fanatik kepada Lionel Messi sampai-sampai merajah tubuhnya dengan gambar La Pulga. Dia mengejar sang idola dan meminta membubuhkan tanda tangan di atas kulitnya.

Keberadaan fan asal Brasil itu sampai membuat Messi terkejut bukan kepalang. Dia sangat mungkin tak mengira ada orang Brasil yang sangat mengidolakannya. “Aku kehabisan kata-kata. Ini sungguh luar biasa,” kata La Pulga saat berjumpa dengan fan beratnya itu.

Kejadian itu diyakini jadi salah satu yang membuat Neymar geram dan lantas menuangkannya dalam unggahan jelang final Copa America 2021. Dia ingin seluruh rakyat Brasil bersatu padu mendukung Selecao menghadapi timnas Argentina. Apalagi, laga nanti digelar di Stadion Maracana nan agung.

Secara pribadi, seperti halnya Messi, Neymar juga sangat ingin menjuarai Copa America 2021. Ini akan jadi gelar besar pertamanya bersama timnas Brasil. Sebelumnya, dia hanya pernah juara Piala Konfederasi 2013. Adapun pada Copa America 2019, dia absen gara-gara mengalami cedera pergelangan kaki.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]

5 Fakta Menarik Sejarah Final Copa America

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Gelaran Copa America 2021 telah mencapai final. Minggu (11/7/2021) pagi WIB, timnas Brasil akan bersua dengan timnas Argentina pada laga penentuan juara di Stadion Maracana. Final Copa America kali ini adalah final idaman, final impian, dan final ideal karena Selecao dan La Albiceleste adalah yang terkuat di Amerika Selatan.

Bagi timnas Brasil, ini adalah final kedua secara beruntun di kandang sendiri. Pada 2019, Selecao juga melaju ke partai puncak dan mengalahkan Peru. Adapun untuk timnas Argentina, ini jadi final kelima dalam tujuh edisi terakhir Copa America. Ironisnya, mereka selalu gagal juara pada empat kesempatan terdahulu.

Terlepas dari catatan kedua finalis Copa America 2021 itu, ada banyak catatan lain mengenai final Copa America dari masa ke masa. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik menyangkut laga puncak kompetisi antarnegara tertua di dunia tersebut.

1. Final Single Match Ke-13

Cile vs Uruguay pada 1987 jadi final Copa America pertama dengan sistem single match.
Getty Images

Meskipun sudah digelar sejak 1916 dan memasuki edisi ke-48, gelaran Copa America baru akan menjalani final ke-13 dengan sistem single match ‘laga tunggal’. Itu karena format kompetisi pada ajang ini selalu berubah-ubah. Awalnya, semua tim melakukan kompetisi penuh, bertemu secara kandang dan tandang. Pemuncak klasemen akan juara. Bila dua tim teratas punya poin sama, digelar laga play-off untuk menentukan sang juara.

Mulai 1975, diberlakukan sistem grup dengan disusul fase gugur. Namun, karena penyelenggaraan belum terpusat di satu tuan rumah, fase gugur dilakoni dengan sistem kandang dan tandang. Tak terkecuali partai final. Adapun final dengan laga tunggal baru diterapkan pada 1987. Itu pun sempat diganti pada 1989 dan 1991 dengan sistem grup untuk 4 besar. Baru pada 1993 final Copa America selalu dilakukan dengan laga tunggal.

2. Empat Kali Adu Penalti

Sejak sistem laga tunggal untuk final diberlakukan pada Copa America 1978, empat kali sang juara ditentukan lewat drama adu penalti. Itu terjadi pada gelaran Copa America 1995, 2004, dan 2015, serta Copa America Centenario 2016. Tiga di antaranya melibatkan timnas Argentina.

Pada 1995, Uruguay menang 5-3 atas Brasil setelah imbang 1-1 dalam 90 menit. Sembilan tahun kemudian, adu penalti kembali dilakoni Selecao pada final Copa America. Kali ini, mereka menang 4-2 atas Argentina setelah imbang 2-2 dalam 90 menit. Adapun pada 2015 dan 2016, Argentina takluk 1-4 dan 2-4 dari Cile setelah skor 0-0 selama 120 menit.

3. Brasil Tersering Lakoni Final Copa America

Sejak perubahan sistem dan nama kompetisi pada 1975, timnas Brasil jadi yang tersering melaju ke partai final Copa America. Laga lawan Argentina, Minggu (11/7/2020) pagi WIB adalah final ke-8 yang dilakoni Selecao. Pada dua final awal, mereka selalu kalah dari Uruguay. Kemudian, mereka selalu menang pada 5 final berikutnya dengan dua kali mengalahkan Argentina dan sekali menaklukkan Bolivia, Uruguay, dan Peru.

Di belakang Brasil, sudah bisa diterka, tim yang paling sering lolos ke final adalah timnas Argentina. Sebelum gelaran tahun ini, La Albiceleste telah 5 kali mencicipi laga final. Namun, mereka hanya menang pada kesempatan pertama, yakni di Copa America 1993 dengan mengalahkan Meksiko. Pada empat final berikutnya, La Albiceleste dua kali dikalahkan Brasil dan dua kali ditaklukkan Cile. Tiga dari empat kekalahan itu dialami lewat adu penalti.

4. Paling Banyak 4 Gol

Dari 16 final Copa America sejak 1975, torehan gol terbanyak pada satu laga adalah 4 gol. Itu terjadi pada 1997, 2004, dan 2019. Semuanya melibatkan timnas Brasil. Pada 1997 dan 2019, Selecao menang 3-1 atas Bolivia dan Peru. Sementara itu, pada 2004, mereka dipaksa imbang 2-2 dalam 90 menit oleh Argentina.

Laga final Peru 2004 berlangsung dramatis. Kily Gonzalez membawa Argentina unggul lewat eksekusi penalti pada menit ke-20. Tepat pada pengujung babak pertama, Luisao menyamakan skor jadi 1-1. Hanya 3 menit jelang menit ke-90, Juan Sorin kembali membawa La Albiceleste unggul. Namun, kedudukan jadi 2-2 setelah Adriano mencetak gol pada menit ke-3 injury time. Selecao lantas juara setelah menang adu penalti 4-2.

5. Dua Final dengan Tiga Laga

Paraguay juara Copa America 1979 dengan kemenangan agregat 3-1 atas Cile pada partai final.
canchachica.com

Pada 1975 hingga 1983, final Copa America dihelat dalam format kandang dan tandang. Dari tiga final, dua di antaranya harus dilakoni dengan tiga pertandingan. Pasalnya, pada dua laga kandang dan tandang, kedua finalis saling mengalahkan. Alhasil, digelar laga penentuan di tempat netral.

Pada 1975, Peru menjadi juara setelah menang 1-0 atas Kolombia pada laga play-off di Caracas, Venezuela. Sebelumnya, mereka kalah 0-1 di Bogota dan menang 2-0 di Lima. Hal itu terulang pada 1979 ketika Paraguay menghadapi Cile. Di Asuncion, La Albirroja menang 3-0, tapi kemudian kalah 0-1 di Santiago. Laga play-off di Buenos Aires, Argentina, berakhir 0-0. Paraguay jadi pemenang dengan keunggulan agregat 3-1.

[better-ads type=’banner’ banner=’156437′ ]